Di Muslim Fashion Festival 2018, Zoya Hadirkan Sejumlah Selebritis

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Zoya sebagai brand busana muslim terbesar di Indonesia kembali berpartisipasi dalam gelaran acara busana Muslim bertajuk Muslim Fashion Festival (MUFFEST). Agenda tahunan yang mengumpulkan para pelaku dan pengamat fashion Muslim ini diselenggarakan pada 19-22 April 2018 di Jakarta Convention Centre.

Tak hanya menjadi Sponsor utama untuk ajang Modest Young Designer Competition (MYDC) yang tak lain menjadi salah satu acara penting MUFFEST 2018, Zoya juga ikut memamerkan koleksi teranyar dengan menggandeng empat muse sebagai kolaborator.

Keempat kolaborator yang terdiri dari Eksanti, Medina Zein, Fatin Shidqia serta pemenang MYDC 2017 yaitu Ray Anjas bergantian menarik perhatian pengunjung dengan kegiatan belanja bareng di area booth Zoya. Selain para kolaborator, Zoya pun mengundang beberapa selebritis lndonesia seperti Chacha Frederica, Nina Zatulini, Melody Prima, Vebby Palwinta dan selebgram cantik Hamidah untuk sharing bersama Zoya dan pengunjung lainnya.

“Zoya punya banyak koleksi busana yang sesuai dengan kebutuhan wanita Indonesia. Bukan hanya dibuat dengan bahan yang berkualitas, namun Zova juga menyajikan model yang santun tapi tetap stylish,” ungkap Melody Prima saat mengunjungi booth Zoya.

Senada dengan Vebby, Chacha Frederica yang baru saja mulai berhijab mengatakan bahwa Zoya menjadi salah satu brand hijab yang cocok menjadi pilihan wanita Indonesia. ”Memulai berhijab tidak bisa dikatakan mudah, namun dengan memilih hijab berkualitas baik seperti Zoya bikin aku lebih nyaman. Jadi pas banget kalau wanita lndonesia pilih Zoya.”

Sebagai puncaknya, di penghujung MUFFEST 2018 Zoya memamerkan koleksi teranyar yang masing-masing diwakili oleh para kolaborator. Fatin Shidqia mewakili koleksi Rengganis (puteri jelita), Medina Zein untuk koleksi Campernik (kecil dan menarik), Eksanti dengan keanggunanya mewakili koleksi Lana (abadi) sedangkan Ray Anjas mewakili koleksi Hapa (hampa) sebagai wujud keseimbangan dalam kehidupan.

Dengan partisipasinya kali ini, Zoya berharap dapat membuka pintu karir para desainer muda sekaligus membuka peluang usaha baru di dunia fashion lndonesia bahkan dunia. Selain itu, koleksi baru yang dihadirkan juga diharapkan dapat memberikan pilihan yang makin beragam untuk kebutuhan wanita Indonesia.

Semua koleksi terbaru Zoya bisa langsung didapatkan di Muffest dan juga belana online di zoya.co.id yang menawarkan belanja cepat, aman dan nyaman. []

OJK Dorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di kalangan masyarakat.

Kepala Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat, Novianto Utomo mengatakan masyarakat mulai menyadari akan pentingnya ekonomi syariah. Hal itu terbukti dengan maraknya keberadaan wisata halal.

“Pertumbuhan perkembangan syariah terus membaik bahkan berpotensi untuk terus dikembangkan,” katanya kepada wartawan di Bandung, Jumat (20/4/2018) dilansir Wartaekonomi.com.

Novianto menyebutkan diperlukan pemahaman yang lebih jauh khususnya bagi generasi muda. Pasalnya, perbankan syariah bukan hanya dikembangkan di negara muslim saja melainkan juga negara-negara non muslim.

OJK akan terus mensosialisasikan potensi ekonomi syariahbdi kalanganasyarakat. Salah satunya bagi generasi milenial yang ada di perguruan tinggi.

“Kita mensosialisasikannya bukan hanya di dunia kampus saja melainkan sudah ke seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.

Adapun, Rektor Universitas Sanggabhuana (USB) YPKP, Asep Effendi mengatakan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi syariah di Jawa Barat, pihaknya sudah menggulirkan studi ekonomi Islam.

Salah satunya studi D3 Keuangan Perbankan atau konsentrasi keuangan perbankan syariah. Namun belum berbentuk program studi.

“Ke depannya dari sisi akademik kita melihat peluang pasar yang begitu terbuka artinya lapangan kerja bagi lulusannya dibutuhkan begitu banyak,” ungkapnya. (mr/wartaekonomi)

Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja, Bisnis Feysen Muslim Ditargetkan Tumbuh 10 Persen

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Busana muslim merupakan salah satu andalan komoditas industri fashion nasional. Tahun ini ekspor produk busana muslim ditargetkan meningkat 10% dan berkontribusi positif terhadap total ekspor produk fashion nasional.

Tahun lalu, ekspor produk fashion nasional tercatat sebesar US$ 13,29 miliar, naik 8,7% seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dunia.

Industri busana muslim pun terus menggliat. Pertumbuhan industri dalam negeri merangkak naik seiring semakin luasnya pasar komoditas fashion muslim dan meningkatnya jumlah penduduk muslim di dunia.

“Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartato dalam keterangan tertulis, Kamis (19/4) dilansir Katadata.co.id.

Indonesia ditargetkan menjadi kiblat fashion muslim dunia pada 2020. Hal ini cukup beralasan karena saat ini Indonesia menempati peringkat lima besar dalam negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sekaligus pengekspor produk fashion muslim terbesar di dunia, setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan.

Global Islamic Economy memprediksi pertumbuhan pasar fashion muslim dunia pada 2020 akan mencapai US$ 327 miliar. “Karenanya, kami terus mendorong para pelaku industri fashion muslim dan para desainer di Indonesia untuk terus berinovasi dan meningkatkan produktivitasnya serta memperkuat brand-nya sehingga mampu menembus pasar ekspor,” ujar Airlangga.

Industri busana muslim di Indonesia diharapkan bisa semakin berkembang sehingga mampu berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Saat ini, industri busana muslim diproyeksi menyerap sekitar 1,1 juta orang tenaga kerja dari total jumlah pekerja di industri fashion sebesar 3,8 juta orang.

Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih menuturkan, pihaknya tengah menyusun peta jalan dan rencana aksi yang terintegrasi dari sektor hulu sampai hilir untuk mengembangkan industri fesyen muslim nasional.

Beberapa waktu lalu, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan para desainer, asosisasi, pelaku usaha industri fashion muslim serta akademisi untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mewujudkan visi ke depan.

Sejalan dengan upaya tersebut, Kemenperin akan memfasilitasi kemitraan desainer dengan IKM fashion muslim dalam membangun brand nasional. “Kami juga akan mengadakan kompetisi fashion muslim dan memfasilitasi desainer dan industri fashion muslim pada berbagai event pameran dan fashion show di dalam dan luar negeri sehingga visi Indonesia untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia pada tahun 2020 bisa terealisasi,” ungkap Gati. (mz/katadata)

 

Menuju Indonesia Kiblat Busana Muslim Dunia 2020

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadi kiblat fesyen Muslim di dunia.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma yang mengatakan,” Tahun 2020, kami mempunyai target untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblatnya fesyen Muslim di dunia.”

Tetapi, menurut Ali kemajuan tren busana Muslim tidak sebesar mayoritas agama Islam di Indonesia. Oleh karena itu, untuk melindungi pasar Indonesia perlu adanya strategi.

“Untuk melindungi pasar Indonesia, yaitu perlu adanya strategi kekuatan budaya kita yang orang luar tidak punya. Lalu menjaga lingkungan hidup, inovasi branding, serta memperkuat strategi bisnis,” jelas Ali dalam pembukaan Muslim Fashion Festival (Muffest) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (19/4/2018) dilansir Industry.co.id.

Untuk itu, Ia menghimbau agar industri busana Muslim bisa menguasai pasar Indonesia sendiri.

“Kami berkomitmen untuk memajukan pasar fesyen di Indonesia dan tentunya memerlukan dukungan pemerintah,” ujar Ali.

Presiden Joko Widodo yang turut hadir dalam pembukaan Muffest 2018 memberikan semangat bagi para pelaku industri busana Muslim yang berada di sana.

“Ini merupakan hari bersejarah bagi industri mode di Indonesia, mendengar Bapak Presiden akan hadir, Saya langsung girang dan bahagia mendegarnya. Ini membuktikan bahwa industri mode tidak dipandang sebelah mata tetapi, sudah sejajar dengan profesi lainnya,” imbuh Ali. (mz/industry.co.id)

Parpol Diharapkan Munculkan Calon Pemimpin Alternatif

SOLO (Jurnalislam.com) – Wacana pemunculan satu kandidat petahana Presiden melawan kotak kosong kembali mencuat. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyarankan agar jangan sampai wacana tersebut benar-benar terjadi.

“Bagi yang punya alternatif kandidat, sekarang ajukan anti tesis terhadap apa yang dilakukan incumbent (petahana), sehingga rakyat punya pilihan yang beragam dan itu lebih disukai oleh rakyat,”kata Fahri pada acara ‘Netizen #NongkrongbarengFahri’ di Wedangan Omah Kayu Solo, Ahad (15/4/2018).

Semakin banyak calon presiden, menurut Fahri hal tersebut akan membuat Indonesia dapat semakin memunculkan banyak pemimpin baru Indonesia.

“…Bahwa negara kita ini nggak maju, statnan negara kita ini lho. Karena itu ada yang mengusulkan dua, kalau nggak diganti, kita butuh ke arah baru dan itu dua duanya butuh orang baru,” pungkas Fahri.

Soal Pemimpin, Fahri : Jangan Cengar Cengir Tiap Hari Tapi Masalah Nggak Selesai

SOLO (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali menggelar ‘Netizen #NongkrongbarengFahri’ di Wedangan Omah Kayu Solo, Ahad (15/4/2018).

Dalam helatan ini, Fahri membahas ihwal masalah kebangsaan seperti pilkada 2019, presidential threshold hingga politik Islam di Indonesia.

Menurut Fahri, dalam politik Islam, diperlukan pemimpin yang memiliki sifat seperti Rasulullah yaitu tabligh, amanah, fathonah, dan shidiq. Hal itu menurutnya yang perlu menjadi acuan.

“Kadang kadang orang Islam ini nggak mau orang orang yang jago vokal itu, ah itu dianggap kurang berakhlak dan kurang sopan,” kata Fahri. Seharusnya, menurut Fahri, pemimpin itu harus bisa menyelesaikan masalah bangsa.

Jangan sampai katanya, pemimpin dirasa sopan tapi tidak bisa menyelsaikan masalah.

“Nyari orang yang menyelesaikan masalah dong, jangan yang cengar cengir tiap hari tapi masalah nggak selesai,” pungkasnya.

Fahri Sebut Petahana Tak Penuhi Janjinya Bisa Kena Delik Kebohongan Publik

SOLO (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali menggelar ‘Netizen #NongkrongbarengFahri’ di Wedangan Omah Kayu Solo, Ahad (15/4/2018). Acara ini juga dihadiri politisi Partai Gerindra Fadli Zon.

Dalam helatan ini, Fahri membahas ihwal masalah kebangsaan seperti pilkada 2019, presidential treshold hingga politik Islam di Indonesia. Tentang pilkada 2019 misalnya, Fahri menyoroti kandidat nanti, khususnya petahana (incumbent) harus bisa merealisasikan janjinya dulu.

“Lebih baik untuk harus segera menjawab pertanyaan rakyat, incumbent itu me jawab pertanyaan seperti ini, “dulu anda janji begini apa yang sudah direalisasikan,” katanya di Solo, Ahad (15/4/2018).

Jangan sampai, kata Fahri, calon pemimpin malah merealisasikan apa yang dulu tidak dijanjikan.

“Karena janji itu sumpah juga kan artinya, dan dalam UUD tentang delik kebohongan publik, politisi yang berjanji dan tak memenuhi janjinya itu bisa kena delik kebohongan publik,” pungkasnya.

Laporkan Sukmawati, GUIB Banyuwangi : Penista Agama Tetap Harus Dihukum!

Banyuwangi (Jurnalislam.com) – Gabungan Umat Islam Bersatu Banyuwangi (GUIBB) mendatangi Polres Banyuwangi guna melaporkan Sukmawati Soekarnoputri atas puisinya yang berjudul ” Ibu Indonesia” yang dinilai telah menistakan agama Islam. Jum’at (13/4/2018) .

“Alhamdulillah laporan kami sudah diterima Wakapolres dengan bukti lapor nomor 01/GUIBB/IV/2018 atas nama pelapor Gabungan Umat Islam Bersatu Banyuwangi (GUIBB),” kata Ketua GUIBB H. Agus Iskandar kepada Jurnalislam.com.

Ia menegaskan bahwa setiap penista agama harus diproses hukum walaupun sudah meminta maaf tapi proses hukum harus tetap berjalan.

Lanjutnya, seandainya setiap penista itu tidak dihukum akan merusak generasi bangsa Indonesia ini yang mayoritas umat Islam.

“Sekelas Tokoh seperti Sukmawati Soekarnoputri menista agama lalu tidak ada proses hukum, nanti generasi muda bangsa ini pasti akan mencontohnya jika tak ada ketegasan hukum di Indonesia ini” pungkasnya.

Turut hadir dalam pelaporan ke Mapolres Banyuwangi sejumlah ormas Islam diantaranya Jamaah Ansharusy Syariah, FPI, Ikatan Keluarga Madura National.

Kontributor: Jacki

Bisakah Pers Netral?

Oleh: Beggy Rizkiyansyah*

Bisakah pers netral? Pertanyaan itu mungkin menggelayuti benak masyarakat hingga saat ini. Kita saat ini memang dipertontonkan keberpihakan yang telanjang tanpa malu-malu dari banyak media saat ini. Musim politik semakin menyuburkan praktek keberpihakan media hingga bukan saja terkesan partisan, tapi tanpa sungkan berpolitik praktis menjadi juru propaganda dalam pilkada atau pilpres.

Fenomena ini jika ditelisik lebih jauh menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Di satu sisi pers seringkali mengklaim independen, netral atau objektif. Tetapi keberpihakan pada satu kelompok atau partai dilakukan semakin telanjang. Jika demikian, apakah pers bisa netral?

Media massa atau tepatnya perusahaan pers sesungguhnya adalah kumpulan manusia dengan jurnalis sebagai ujung tombaknya. Ketika bersentuhan dengan fakta di lapangan, ia bukanlah perekam pasif, tetapi terjadi interaksi antara dirinya dengan realitas. Para jurnalis ini tentu saja bukan robot yang tak memiliki seperangkat nilai, kepercayaan, pandangan hidup atau ideologi dalam dirinya. Malah disadari atau tidak, hal-hal tadi turut membentuk dirinya menilai sebuah realitas.

Fakta dilapangan kemudian dibawa ke ruang redaksi yang terdiri dari sekumpulan manusia yang memiliki nilai-nilai pula. Menurut Mark Fisherman, “News story, if they reflect anything, reflect the practice of the workers in the organizations that produce news.” (Eriyanto: 2012)

Di dalam perusahaan pers, jurnalis hidup dalam institusi media dengan seperangkat aturan dan nilai-nilai tertentu. Hal itu memungkinkan bagi sebuah media mengontrol wartawan untuk melihat peristiwa dalam kemasan tertentu. Bahkan dapat dikatakan di ruang redaksi media condong menjadi kediktatoran, dalam arti seseorang yang berada dalam komando teratas yang membuat keputusan terakhir (Bill Kovach & Tom Rosenstiel: 2004)

Eriyanto, dalam Analisis Framing (2012) menyebutkan bahwa berita yang dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi diproduksi oleh ideologi tertentu. Begitu besarnya pengaruh ideologi dalam media massa sehingga ideologi berperan menampilkan pesan dan realitas hasil konstruksi tampak seperti nyata, alami dan benar. Melalui bahasa dan kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami oleh khalayak. (Eriyanto: 2012)

News, Discourse and Ideology (2008) yang ditulis Teun A. Van Dijk dalam The Handbook of Journalism Studies, menyebutkan ideologi yang rasialis misalnya, memberikan dampak pada produksi berita. Mulai dari pemilihan sumber daya jurnalis (hiring), pemilihan sumber (beats and sources), nilai berita (news values), penempatan berita (salience), hingga pilihan kata (rhetoric).

Jika demikian maka netralitas bukanlah sifat yang dapat diberikan pada pers. Bahkan Kovach dan Rosesnstiel tidak menempatkan ketidakberatsebelahan (fairness) dan keseimbangan (balance) dalam sembilan elemen jurnalisme mereka.

Ketidakberatsebelahan dan keseimbangan bukanlah tujuan, tetapi metode. Keseimbangan bukanlah semacam kesan matematis pada porsi berita yang disajikan. Begitu pula ketidakberpihakan. Bukanlah soal apakah berita terkesan berat sebelah? Seharusnya ketidakberpihakan dimaknai sebagai sikap jurnalis yang berlaku adil terhadap fakta dan pemahaman warga atas fakta-fakta tersebut. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Satu hal yang dapat dituntut dari jurnalis adalah objektivitas. “Objektivitas Meminta wartawan mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji informasi –pendekatan transparan menuju bukti-bukti-dengan tepat sehingga bias personal dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka,” demikian menurut Kovach dan Rosenstiel. (2004)

Maka objektif yang dapat dituntut bukanlah pada sosok jurnalis itu sendiri, namun metode yang dipakai oleh jurnalis untuk memperoleh berita. Metode ini merupakan pencerminan dari disiplin verifikasi informasi yang harus dilakukan setiap jurnalis.

Seperangkat konsep inti dalam disiplin verifikasi yang ditawarkan Kovach dan Rosenstiel adalah; jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada, jangan pernah menipu audiens, berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi anda; andalkan reportase anda sendiri; dan bersikaplah rendah hati. Seperangkat prinsip tersebut dapat membantu jurnalis untuk menjadi objektif. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Objektivitas tersebut yang dapat diharapkan. Bukan netralitas atau ketidakberpihakan. Oleh sebab itu bukanlah persoalan jika jurnalis memiliki ideologi, pandangan hidup atau nilai-nilai tertentu. Meminjam kalimat jurnalis Maggie Gallagher, “Ada perbedaan antara jurnalis dengan juru propaganda. Saya mencari berita tidak untuk memanipulasi audiens saya. Saya mencari untuk mengungkap dan menyampaikan kepada mereka dunia sebagaimana saya melihatnya.” (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Seorang jurnalis muslim sudah seharusnya memiliki Islam sebagai pandangan hidupnya dalam situasi apa pun. Termasuk ketika ia menjadi jurnalis (meliput). Pandangan hidupnya tak dapat dilepaskan dari dirinya. Nilai-nilai Islam sebagai seorang muslim akan memandu dirinya dan menjadi kacamata dalam melihat realitas. Islam memiliki cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013) Disaat yang bersamaan, sebagai jurnalis, ia tetap berpijak pada fakta dan disipilin verifikasi dalam menulis berita. Termasuk berlaku adil menyikapi fakta.

Adalah menggelikan jika ada yang mengatakan, ketika jurnalis sedang meliput berarti harus menanggalkan sementara identitas agamanya agar tetap independen. Tidak ada manusia yang bebas dari nilai dan pandangan hidup. Pemahaman menanggalkan agama ketika meliput justru sebenarnya adalah bentuk lain dari pandangan hidup barat moderen yang mengusung sekularisme. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013)

Baik seorang jurnalis muslim, ataupun pers Islam tak perlu ragu untuk menerapkan dan mengungkapkan pandangan hidup Islam dalam dirinya. Justru keterbukaan atas pendirian dan sikap tersebut menjadi bagian dari kejujuran dalam menulis berita yang tetap bersandar pada fakta. Persoalannya betapa banyak saat ini media atau pers yang menepuk dadanya sebagai netral dan tidak berpihak, seakan bebas nilai, padahal hal tersebut adalah mustahil.

Lebih parah lagi betapa banyak saat ini pers yang menyokong satu kelompok, figur atau partai politik, namun mendapuk dirinya tak berpihak. Kekonyolan loyalitas semacam ini adalah manipulatif. Loyalitasnya pada partai atau faksi hendak ditutupi oleh jubah dengan slogan independensi. Jurnalis dan pers ketika meliput dan memproduksi berita seharusnya loyal pada tujuan, bukan pada faksi atau partai.

Kenyataannya, di Indonesia saat ini media arus utama begitu telanjang menunjukkan keberpihakan pada kelompok, partai atau figur. Misalnya, Kelompok Media MNC jelas dimiliki oleh pendiri partai Perindo. Metro TV didirikan oleh pendiri partai Nasdem.

Fenomena menyedihkan seperti ini terus melaju semakin kencang dan massif. Namun jurnalis muslim dan pers Islam tak perlu terseret arus yang sama. Tak perlu menceburkan diri dalam politik praktis dan partisan. Cukuplah Islam sebagai pandangan hidup yang menjadi panduan tanpa menjadi media partisan. Karena pandangan hidup yang bersemayam dalam jurnalis muslim dan disiplin verifikasi (objektivitas) adalah dua hal yang dapat hidup berdampingan dalam diri seorang jurnalis muslim.

Penulis adalah anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU). Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Wujudkan RS Ibu dan Anak Gratis, Sinergi Foundation Ajak Masyarakat Berwakaf

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Tingginya angka kematian ibu dan anak mendorong Sinergi Foundation sebagai lembaga filantropi untuk terus bergerak menyelamatkan generasi.

Maka, berawal dari Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) yang menjadi saksi kelahiran lebih dari 7.500 bayi, kini Sinergi Foundation siap mewujudkan Rumah Sakit Ibu dan Anak berbasis wakaf.

Ima pun mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi dalam pembangunan aset layanan kesehatan ini. Yang tentu, katanya, hasilnya berimbas untuk masyarakat luas, dan terkhusus kaum dhuafa.

“Mengapa wakaf? Sebab jika menilik sejarah peradaban Islam, wakaf memiliki tempat yang sangat strategis. Tentu kita pernah mendengar kisah rekening sahabat Nabi Utsman bin Affan yang masih ada hingga kini, dan itu berawal dari wakaf sumur air di Madinah,” jelas Ima dalan rilis yang diterima Jurnalislam.com.

Pun di masa-masa berikutnya, wakaf terus menjadi salah satu tonggak peradaban Islam. Termasuk, Ima menerangkan, perwakafan memiliki peran signifikan dalam bidang kesehatan. Salah satunya, rumah sakit wakaf Al Adhadi di masa pemerintahan Al Buwaihi di Baghdad tahun 976 H.

 

“Dalam Rumah Sakit Al Adhadi ini terdapat banyak perwakafan, di antaranya: pengobatan gratis bagi seluruh warga, makanan bergizi, obat-obatan dan vitamin, dan biaya perjalanan pulang bagi pasien setelah sembuh,” kisah Ima.

Dahulu, ia melanjutkan, pengaruh wakaf bisa begitu dahsyatnya untuk aspek kesehatan.

Dan kini, tegas Ima, Sinergi Foundation hendak berikhtiar mengulang kegemilangan itu melalui pembangunan Rumah Sakit Wakaf Ibu dan Anak (RSWIA) RBC. Ia berharap RSWIA menjadi wasilah agar Sinergi Foundation dan segenap donatur bisa meneruskan dedikasi untuk ibu dan generasi.

“Komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, berkhidmat, dan menebar manfaat pada sesama, terutama pada dhuafa,” katanya.

Ia pun melanjutkan, “Mari bersama mewujudkan kembali kegemilangan wakaf kesehatan, dimulai dari Rumah Sakit Wakaf Ibu dan Anak (RSWIA) RBC,” []