Rakyat Gaza Sambut Gembira Kemenangan Erdogan

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kemenangan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pemilihan presiden hari Ahad telah memicu kegembiraan rakyat Palestina di Jalur Gaza yang diblokade.

“Kami mengucapkan selamat kepada Presiden Erdogan, partainya dan warga Turki yang agung untuk kemenangan ini,” Zakaria al-Shorbaji, 22, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Kami meminta Erdogan untuk terus memberikan lebih banyak dukungan kepada rakyat Palestina dan perjuangan mereka,” tambahnya.

Erdogan memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilihan presiden Turki pada hari Ahad (25/6/2018), menurut Dewan Pemilihan Tertinggi negara (YSK).

Dengan 99,2 persen suara yang dihitung, Erdogan memenangkan 52,5 persen suara sementara saingan utamanya Muharrem Ince tertinggal di belakang dengan 30,6 persen suara.

Petinggi LSM Muslim AS: Erdogan Bukan Pejabat Partai tapi Pemimpin Seluruh Negeri

“Kami sangat senang dengan kemenangan Erdogan dan partainya,” kata Inas Musabbah, 33 tahun.

Dia memuji pemimpin Turki itu untuk perjuangannya membela isu-isu negara Arab dan Islam dan untuk dukungannya kepada rakyat Palestina.

“Kami mengatakan kepada seluruh dunia bahwa kami mendukung Presiden Erdogan dan kami meminta dia untuk melanjutkan dukungannya untuk perjuangan kami,” kata Musabbah.

“Saya pribadi suka karakternya [Erdogan] terutama saat dia berdiri di sisi kami,” katanya.

“Erdogan adalah sosok yang hebat, kami mencintainya dan saya bangga padanya karena dia adalah presiden yang hebat.”

Eslam al-Amour, 22, juga gembira.

“Kami mengucapkan selamat kepada Erdogan dan orang-orang Turki yang agung untuk kemenangan pemilu,” katanya.

Turki telah menjadi pendukung setia rakyat Palestina dan telah menyediakan jutaan dolar bantuan untuk mendukung Jalur Gaza yang diblokir penjajah Israel.

Khususnya, banyak warga Palestina di Gaza memberi nama anak-anak mereka dengan nama pemimpin Turki tersebut sebagai cara untuk menunjukkan penghargaan atas dukungannya bagi daerah pantai itu.

Baru-baru ini, Turki telah menerima sejumlah warga Gaza, yang terluka oleh tembakan tentara penjajah Israel selama protes anti-pendudukan, untuk dirawat di rumah sakit Turki.

Petinggi LSM Muslim AS: Erdogan Bukan Pejabat Partai tapi Pemimpin Negeri

CHICAGO (Jurnalislam.com) – Kepala Dewan Hubungan Amerika-Islam, Nihad Awad, mengucapkan selamat kepada negara Turki untuk pemilihan yang sukses, mengatakan bahwa jumlah pemilih yang tinggi menandai pemungutan suara tahun ini, World Bulletin melaporkan, Senin (25/6/2018).

Oussama Jamal, sekretaris jenderal Dewan Organisasi Muslim AS, mengatakan pemilihan Turki diselenggarakan dalam kedewasaan demokratis dan mengirim pesan ke dunia.

Direktur eksekutif yayasan amal zakat yang berbasis di Chicago, Halil Demir juga mengatakan Presiden Erdogan membuktikan bahwa dia bukan presiden dari Partai AK yang berkuasa, tetapi seluruh negeri.

Moulana Shabbier Ahmed Saloojee, rektor Darul Uloom Zakariyya – universitas Islam terbesar di Afrika Selatan – mengucapkan selamat kepada Presiden Erdogan dalam sebuah pesan.

“Semua Muslim di dunia akan terus mengambil manfaat dari kepemimpinan Presiden Erdogan, bersama dengan bangsa Turki,” katanya.

Pemimpin-pemimpin Agama Non Muslim Turki Dukung Kemenangan Erdogan

Vladimir Potapenko, wakil sekretaris jenderal Organisasi Kerjasama Shanghai – salah satu organisasi pengamat untuk pemilihan Turki – mengatakan dalam konferensi pers: “Pemilihan dilakukan sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Turki, kami mengkonfirmasi bahwa semua kondisi yang diperlukan disediakan untuk pemilihan itu.”

Dia menambahkan bahwa misi mereka menyebut pemilu Turki Ahad kemarin sebagai “transparan, tidak memihak dan demokratis.”

Pada Senin pagi, Dewan Pemilihan Tertinggi Turki (YSK) mengumumkan bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilihan presiden setelah 97,7 persen kotak suara dibuka.

Kepala YSK Sadi Guven juga mengatakan Partai Keadilan dan Pembangunan (Justice and Development Party-AK), Partai Rakyat Republik (Republican People’s Party-CHP), Partai Gerakan Nasionalis (Nationalist Movement Party-MHP), Partai Rakyat Demokrat (Peoples’ Democratic Party-HDP) dan Partai Baik (Good Party-IYI) melampaui ambang 10 persen dalam pemilihan parlemen.

Erdogan Kembali Menangkan Pemilihan Presiden, Ini Kata Sekjen NATO

BERLIN (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada hari Senin (25/6/2018) memberi selamat kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atas kemenangannya dalam pemilihan presiden dan parlemen hari Ahad.

“Saya akan memberi selamat kepada Presiden Erdogan atas terpilihnya kembali sebagai presiden. Saya juga akan memberi selamat kepada rakyat Turki dengan jumlah pemilih yang tinggi dalam pemilihan,” kata Stoltenberg kepada wartawan, menjelang pertemuan dengan menteri pertahanan Uni Eropa di Luksemburg, lansir Anadolu Agency.

Dia menggarisbawahi pentingnya Turki bagi aliansi beranggotakan 29 negara ini.

Menhan AS: Turki adalah Negara Garis Depan NATO

“Turki adalah sekutu kunci bagi NATO untuk banyak alasan, paling tidak karena lokasi geografisnya yang strategis, berbatasan dengan Rusia di Laut Hitam juga juga Irak dan Suriah di selatan,” katanya.

“Dan Turki sangat penting dalam perang melawan ISIS, melawan terorisme,” tambahnya.

Erdogan mutlak memenangkan mayoritas suara dalam pemilihan presiden dengan 52,5 persen suara pada hari Ahad, menurut Dewan Pemilihan Tertinggi.

Dalam pemilihan parlemen hari Ahad, Aliansi Rakyat – sebuah koalisi antara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang digawangi Erdogan dan Partai Gerakan Nasionalis – memenangkan 53,6 persen suara, dengan 99,9 persen kotak suara yang telah dibuka.

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Rezim Syiah Assad telah meluncurkan serangan di barat daya Suriah, sebuah zona yang berada di bawah gencatan senjata Rusia-Amerika. Meskipun pasukan Iran yang bersekutu dilaporkan setuju untuk mundur dari zona penyangga di dekat perbatasan Yordania dan Israel tersebut, ancaman ekspansi Iran masih tetap tinggi.

Tentara rezim Suriah telah meluncurkan operasi serangan terhadap timur laut Deraa, provinsi paling tenggara di Suriah yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan dan Yordania. Serangan udara rezim membombardir kota-kota Al Harak dan Busra al Harir yang dipegang oposisi, padahal kedua kota tersebut dalam batas-batas zona gencatan senjata.

Rezim dilaporkan telah mengunakan “senjata-senjata menengah dan acak” termasuk bom barel. Suhail al-Hassan, komandan the Tiger Forces, dilaporkan hadir di provinsi ini, mengindikasikan keterlibatan Rusia. Masih harus dilihat apakah kekuatan udara Rusia dan pasukan darat yang didukung Iran akan berpartisipasi dalam serangan dan, jika tidak, bagaimana rezim akan berjalan tanpa keterlibatan mereka, lansir Long War Journal, Ahad (24/6/2018).

Rezim Syiah Suriah Mulai Serang Posisi HTS di Idlib, 16 Warga Tewas

Secara teori, Rusia harus mencegah eskalasi di daerah ini. Pasukan Rusia secara eksklusif bertanggung jawab untuk memantau dan menegakkan zona gencatan senjata di barat daya Suriah, yang dinegosiasikan oleh AS, Rusia, dan Yordania pada musim panas lalu. Pada bulan Juli 2017, Rusia mengerahkan empat batalyon polisi militer untuk memantau sepasang zona aman di Suriah, termasuk zona Deraa.

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Iran dilaporkan telah setuju untuk mundur dari zona perbatasan barat daya. Pasukan Iran dan milisi Syiah Hizbullah Libanon setuju untuk mundur 40 km dari Dataran Tinggi Golan dan perbatasan Yordania, menurut Pengawasan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observancy for Human Rights-SOHR), sebuah organisasi pemantau.

Bahkan jika pasukan Iran menghormati perjanjian penarikan, kehadiran awal mereka di zona itu mencerminkan buruknya keinginan dan kemampuan Rusia untuk menahan Iran. Menurut media Turki Anadolu Agency, Pasukan Pengawal Garda Revolusi Syiah Iran, Syiah Hizbullah Lebanon, dan milisi Syiah Internasional lainnya (Brigade Zainebiyoun dan Brigade Fatemiyoun), sebenarnya beroperasi di Deraa pada hari Selasa. Media Kuwait Al Rai juga melaporkan bahwa pasukan khusus Hizbullah dikerahkan ke Deraa untuk membantu dalam serangan itu.

Milisi Syiah Hizbullah dan Iran Tetap Berada di Suriah Sampai Terbebas dari Jihadis

Namun Syiah Hizbullah belum mengkonfirmasi keterlibatannya. Selain itu, video yang menunjukkan Brigade Fatemiyoun berada di Deraa selama beberapa hari terakhir ternyata adalah video lama.

Sumber-sumber oposisi juga melaporkan jet Rusia membom posisi mereka di Busra al Harir pada hari ini (24/6/2018). SOHR juga mengulangi laporan ini, menambahkan bahwa Rusia menjatuhkan sedikitnya 25 bom di beberapa kota di Deraa.

Runtuhnya gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia meningkatkan risiko infiltrasi Iran di dekat perbatasan Israel dan Yordania. Satu milisi yang dikontrol IRGC sudah mengisyaratkan niatnya untuk merebut kembali Golan dari Israel tahun lalu.

“Jika pemerintah Suriah membuat permintaan, kami siap untuk berpartisipasi dalam pembebasan Golan dengan sekutu kami,” kata juru bicara dari Harakat al Nujaba.

Selain dekat dengan wilayah jajahan Israel, kehadiran Iran mungkin dimaksudkan untuk mempengaruhi AS. Iran dilaporkan menolak menarik pasukannya di barat daya sampai AS mengevakuasi pangkalannya di Tanf, di perbatasan Suriah-Irak. Area Tanf telah menjadi ajang uji coba bagi pasukan yang didukung Iran untuk melihat sejauh mana mereka dapat mendorong AS. Tahun lalu, serangan udara AS menargetkan milisi yang dikendalikan IRGC Kata’ib Sayyid al Shuhada karena terlalu dekat dengan pasukan AS di Tanf.

Menhan AS: Kami akan Lanjutkan Pertempuran di Suriah Meski Tanpa Donald Trump

AS belum mengisyaratkan bahwa mereka akan mengganggu ekspansi Iran di perbatasan. AS telah memperingatkan Rusia dan rezim Assad bahwa pelanggaran akan menghasilkan “dampak serius.” Namun, AS belum menentukan dampak tersebut atau mengisyaratkan rencana sebuah serangan untuk mengganggu ekspansi Iran di perbatasan.

Israel bekerja sama dengan Rusia untuk mengurangi risiko keamanan, pendekatan yang berpotensi berisiko. Pada hari Senin (25/6/2018), penasihat keamanan nasional zionis melakukan perjalanan ke Moskow untuk membahas keberadaan pasukan Iran di Suriah, yang mungkin telah menghasilkan zona penyangga sejauh 40 km. Tetapi mengingat kelalaian baru-baru ini (atau ketidaktahuan yang disengaja) dalam mencegah ekspansi Iran di zona ini dan penyelarasan yang lebih luas dengan Iran selama perang, Moskow tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan dilema keamanan Israel.

Oposisi arus utama di wilayah ini terkoordinasi dan memiliki dukungan eksternal. Dalam menghadapi serangan rezim Syiah Nushairiyah Assad, ruang operasi oposisi utama di bawah payung Front Selatan bergabung awal pekan ini untuk berkoordinasi lebih efektif dalam serangan melawan rezim Assad.

AS Berusaha Gulingkan Presiden Palestina Melalui Perjanjian Damai

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Seorang juru runding senior Palestina mengatakan Amerika Serikat berusaha menggulingkan pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas, bersikeras bahwa Washington telah mendiskualifikasi diri mereka sendiri dari peran apa pun dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

Komentar Saeb Erekat pada hari Ahad (24/6/2018) tersebut muncul setelah Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Presiden AS Donald Trump, dan utusan Gedung Putih Jason Greenblatt mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Israel, Yordania, Qatar, Mesir dan Arab Saudi selama perjalanan mereka selama sepekan di sekitar Timur Tengah, lansir Aljazeera.

Saeb Erekat
Saeb Erekat

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan dalam surat kabar berbahasa Arab al-Quds pada hari Ahad, Kushner mengatakan pemerintah AS akan segera menyajikan rencana perdamaian Israel-Palestina, dengan atau tanpa masukan dari Abbas sekaligus mempertanyakan kemampuan presiden Otorita Palestina tersebut dalam membuat kesepakatan.

“Wawancara Mr. Kushner lebih lanjut menjelaskan bahwa pemerintahan Amerika Serikat Presiden Trump telah benar-benar pindah dari kotak negosiasi ke kotak pendiktean. Mereka bertekad untuk mendikte solusi,” kata Erekat wartawan di Ramallah.

Serang Kedaulatan Palestina, Abbas: Inilah Kebrutalan Israel dalam Satu Hari Paling Biadab

“Mereka bekerja dan berusaha bekerja keras merubah pemerintahan, karena kepemimpinan Palestina di bawah kepemimpinan Presiden Abbas menginginkan perdamaian sejati, abadi, komprehensif, berdasarkan hukum internasional,” tambah Erekat.

Abbas memutus komunikasi dengan pemerintahan Trump setelah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Kepemimpinan Palestina melihat Yerusalem Timur sebagai ibukota masa depan mereka, menegaskan bahwa status kota yang disengketakan adalah masalah yang harus dinegosiasikan antara mereka dan orang Israel.

Pemimpin-pemimpin Agama Non Muslim Turki Dukung Kemenangan Erdogan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pemimpin agama dari komunitas non-Muslim di Turki mengucapkan selamat kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan atas keberhasilannya dalam pemilihan presiden dan parlemen pada hari Ahad (24/6/2018), lansir Anadolu Agency.

Uskup Agung Katolik Armenia, Levon Zekiyan, Vikaris Patriark Armenia Turki Aram Ateshian, kepala Komunitas Yahudi Turki Ishak Ibrahimzadeh, Vikaris Patriarkal Gereja Katolik Suriah Turki Orhan Canli, kepala Serikat Yayasan Armenia, Bedros Sirinoglu, kepala rabbi dari komunitas Yahudi di Turki Ishak Haleva adalah beberapa pemimpin agama yang mengucapkan selamat kepada Erdogan.

Para Pemimpin Dunia Ucapkan Selamat atas Kemenangan Erdogan

Menurut hasil tidak resmi, dengan 96,31 persen suara yang sudah dihitung, Erdogan menerima 52,68 persen suara.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa dan Aliansi Rakyat – aliansi antara Partai AK dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP) – juga memperoleh mayoritas parlemen dengan suara gabungan 53,69 persen.

Para Pemimpin Dunia Ucapkan Selamat atas Kemenangan Erdogan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Saat suara masih terus dihitung dalam pemilihan presiden dan parlemen Turki hari Ahad (24/6/2018), para pemimpin dunia mengucapkan selamat kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan atas kemenangan pemilihannya.

Ucapan selamat pertama dari negara Uni Eropa datang dari Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban, menurut sumber-sumber presiden, Anadolu Agency melaporkan.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev juga mengucapkan selamat kepada Erdogan atas “keberhasilan besar” -nya dalam pemilihan presiden, menurut pernyataan presiden Azerbaijan.

Dalam percakapan telepon, Aliyev mengatakan Turki telah tumbuh di bawah kepemimpinan Erdogan, menambahkan bahwa ekonomi Turki mencetak sukses besar dan Ankara berhasil mengokohkan posisinya secara internasional.

Erdogan: Turki Tidak akan Menyerah dalam Memperjuangkan Yerusalem

Erdogan berterima kasih kepada Aliyev.

Selama percakapan, para pemimpin juga menyatakan keyakinan mereka terhadap kemajuan hubungan persaudaraan antara Turki dan Azerbaijan di semua bidang.

Pernyataan itu juga mengatakan Aliyev mengundang Erdogan untuk melakukan kunjungan resmi ke Azerbaijan, dan Erdogan menerima undangan tersebut.

Republik Turki Siprus Utara (TRNC) Presiden Mustafa Akinci dan Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borissov juga menjadi salah satu pemimpin yang mengucapkan selamat atas kesuksesan presiden Turki itu.

3 Kali Diberitakan Tewas oleh AS, Mokhtar Belmokhtar Ternyata Masih Hidup

ALJAZAIR (Jurnalislam.com) – Mengutip sumber informasi intelijen Libya dari kelompok Islam bersenjata, majalah Saudi yang berbasis di London El Majalaa melaporkan bahwa Mokhtar Belmokhtar – seorang amir yang berafiliasi dengan al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM), yang kematiannya diumumkan oleh Amerika Serikat pada 2013, 2015 dan 2016 – sebenarnya masih hidup, Middle East Eye melaporkan Rabu (13/6/2018).

Saat tiga Islamis bersenjata dalam kontak dengan sumber-sumber Libya meyakinkan bahwa Belmokhtar – juga dikenal sebagai ‘Le Borgne’ atau ‘One-Eyed’ setelah kehilangan sebelah mata di Afghanistan – dibunuh oleh serangan Amerika di Derna Libya, pada tahun 2015, dua pemimpin Islam menegaskan bahwa ia berhasil keluar hidup-hidup, dan saat ini berada di suatu tempat antara perbatasan Chad, Niger dan Mali.

Al Qaeda di Maghreb Islam : Syeikh Mokhtar Belmokhtar Masih “Hidup dan Sehat”

Sebuah sumber di dinas intelijen Aljazair mengatakan tidak tahu apakah Belmokhtar masih hidup atau tewas, namun menambahkan, bahwa jika dia memang telah tewas, berita itu akan menyebar di antara suku-suku di wilayah tersebut.

Sumber itu juga mengatakan, pihaknya yakin ada kemungkinan bahwa ia terluka parah selama serangan dan saat ini kondisinya sangat lemah, yang dapat menjelaskan dia diungsikan ke dalam al-Mourabitoun, yang berafiliasi dengan AQIM dan menjadi milik koalisi beberapa kelompok jihad di Sahel sejak Februari 2017.

Pasukan Libya Klaim Rebut Timur Derna dari Mujahidin Dewan Shura

LIBYA (Jurnalislam.com) – Tentara Nasional Libya (The Libyan National Army-LNA) mengklaim telah merebut sebagian besar kota pesisir timur Derna dari kelompok bersenjata yang telah mengendalikannya selama bertahun-tahun, kata seorang juru bicara, di tengah pertempuran sengit sejak akhir April, Alarabiya melaporkan, Rabu (13/6/2018).

Kemajuan mereka berlanjut, dengan pasukan mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka sebagian besar telah membersihkan daerah Ambekh, lingkungan perumahan terbesar di Derna, dari pejuang.

Pasukan LNA menggunakan banyak senjata ringan, sedang dan berat, di tengah pertempuran sengit di jalan-jalan kota, untuk mendapatkan kembali kendali atas Derna dari cengkeraman Dewan Shura Mujahidin, kata mereka.

Tentara mengatakan bahwa pembebasan Dada sepenuhnya sangat dekat, dan bahwa operasi militer terus berlanjut di pelabuhan dan wilayah pusat kota dan distrik Shaiha.

Pesawat Tempur Libya Ditembak Jatuh Dewan Shura Mujahidin di Derna

Field Marshal Khalifa Haftar, yang memimpin LNA, mengumumkan pada Mei bahwa pasukannya melancarkan operasi militer yang bertujuan untuk “membebaskan” Derna dari kelompok-kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Angkatan Perlindungan Derna, sebuah aliansi pejuang Islamis dan anti-Hifter.

Pasukan Haftar telah mengepung kota berpenduduk 150.000 orang tersebut selama bertahun-tahun.

Kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyuarakan keprihatinan pada hari Jumat atas meningkatnya risiko terhadap penduduk di Derna.

Libya jatuh ke dalam kekacauan menyusul pemberontakan 2011 yang menggulingkan dan kemudian menewaskan penguasa lama Muammar Gaddhafi.

Negara ini sekarang terbelah antara pemerintah-pemerintah yang bersaing di timur dan barat, masing-masing didukung oleh sejumlah milisi.

Haftar bersekutu dengan administrasi yang berpusat di timur yang bertentangan dengan pemerintah dukungan PBB yang bermarkas di ibu kota, Tripoli.

Saudi dan UEA Lakukan Serangan Terbesar atas Posisi Syiah Houthi yang Didukung Iran

YAMAN (Jurnalislam.com) – Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah melancarkan serangan ke kota pelabuhan Yaman, Hudaida, dalam pertempuran terbesar dari selama perang tiga tahun antara koalisi dukungan Saudi dan pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran.

Serangan udara pada Rabu (13/6/2018) pagi yang menargetkan posisi Syiah Houthi tersebut didukung operasi darat pasukan Yaman di selatan pelabuhan Laut Merah, pemerintah Yaman-di-pengasingan yang diakui secara internasional mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Yaman yang diasingkan “telah menghabiskan semua cara damai dan politik untuk menyingkirkan milisi Houthi dari pelabuhan Hudaida,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Pembebasan pelabuhan Hudaida merupakan titik balik dalam perjuangan kami untuk merebut kembali Yaman dari milisi yang membajaknya untuk melayani agenda asing,” tambah pernyataan itu.

“Pembebasan pelabuhan adalah awal jatuhnya milisi Houthi dan akan mengamankan pengiriman melalui laut di Selat Bab al-Mandab dan memotong tangan Iran, yang telah lama menenggelamkan Yaman dengan senjata yang menumpahkan darah warga Yaman yang berharga.”

Rudal Syiah Yaman Hantam Arab Saudi, Sejumlah Warga Tewas

Pelabuhan Laut Merah adalah satu-satunya pelabuhan di bawah kendali Houthi, yang terletak sekitar 150km barat daya ibu kota, Sanaa.

Menurut Al Arabiya yang berbasis di Dubai, pasukan Yaman telah menguasai distrik selatan kota Nekheila.

Pelabuhan Hudaida sangat penting untuk aliran pasokan makanan ke negara yang berada di ambang kelaparan tersebut.

Jolien Veldwijk, direktur Care International di Yaman, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pelabuhan Hudaida sangat penting bagi lembaga bantuan untuk dapat melakukan pekerjaan mereka.

“Lebih dari dua pertiga penduduk Yaman mengandalkan makanan yang diimpor melalui pelabuhan Hudaida,” kata Veldwijk.

“Bahkan sebelum serangan di Hudaida dimulai, sudah 8 juta orang Yaman beresiko kelaparan dan kami benar-benar memperkirakan jumlah ini meningkat pesat, bahkan jika pelabuhan ditutup untuk satu hari.”

“Ada cara lain [untuk mengimpor makanan ke dalam negeri] tetapi pelabuhan-pelabuhan yang lain itu tidak memiliki ukuran besar untuk menampung banyaknya impor yang dibutuhkan guna memberi makan penduduk Yaman … pelabuhan-pelabuhan tersebut ukurannya lebih kecil dan mereka hanya bisa menangani 30 persen dari yang dibutuhkan.”

Riyadh dan Abu Dhabi mempertahankan bahwa pelabuhan tersebut digunakan untuk menyelundupkan senjata.

Arab Saudi dan Uni Emirat Setuju Yaman Dipecah Jadi Dua

Serangan itu terjadi setelah berakhirnya batas waktu yang ditetapkan oleh UEA bagi Houthi, yang menahan Sanaa, untuk menyerahkan pelabuhan yang telah berada di bawah kendali mereka selama bertahun-tahun.

Dengan dukungan logistik dari AS, koalisi pimpinan Saudi telah melakukan serangan di Yaman sejak Maret 2015, menewaskan sedikitnya 10.000 orang, dalam upaya untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abu-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Selama beberapa pekan terakhir, PBB telah berusaha menengahi sebuah kesepakatan untuk mencegah serangan itu, yang dikhawatirkan akan semakin menghambat akses Yamen terhadap makanan, bahan bakar, dan obat-obatan – memperburuk krisis kemanusiaan terbesar di dunia itu.

PBB dan Barat menyalahkan Iran, mengatakan mereka telah memasok senjata senapan serbu hingga rudal balistik bagi Syiah Houthi yang mereka gunakan untuk menembak ke Arab Saudi, termasuk ibukota, Riyadh, pada bulan-bulan sebelumnya.

Sekitar 600.000 orang tinggal di dan sekitar Hudaida, dan “sebanyak 250.000 orang mungkin kehilangan segalanya – bahkan hidup mereka” dalam serangan itu, menurut PBB.

Ia juga mengatakan Hudaida memiliki jumlah terbesar orang sakit di Yaman dengan lebih dari 70 persen penduduknya, terutama anak-anak, berisiko kekurangan gizi.

Perang di Yaman telah membuat 2 juta orang terlantar dan membantu menelurkan epidemi kolera