Taliban Tunjukan Kekuatan Militernya di Farah

FARAH (Jurnalislam.com) – Ratusan mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di provinsi Farah barat mengarak kendaraan tempur mereka dan kemudian berbaris dalam formasi untuk jangka waktu yang panjang, tanpa takut menjadi sasaran serangan udara pasukan Afghanistan atau Koalisi AS (NATO), untuk mendengarkan seorang tokoh Taliban memberikan pidato baru-baru ini. Taliban terus beroperasi secara terbuka di hampir semua wilayah di negara ini, Long War Journal melaporkan, Senin (30/10/2017).

Taliban menunjukkan kekuatan militer mereka di distrik Bakwa yang diperebutkan dalam sebuah video yang baru dirilis berjudul Dari Garis Depan Farah (From the Fronts of Farah.). Video yang dirilis di situs Taliban, Voice of Jihad, “didedikasikan untuk situasi Jihad di provinsi Farah yang menunjukkan kekuatan, kontrol dan kemajuan mujahidin Imarah Islam,” menurut sebuah pernyataan yang menyertainya.

Video tersebut tampaknya difilmkan di pusat kabupaten Bakwa atau sebuah desa besar di distrik tersebut. Dalam video itu, sejumlah kendaraan Taliban, termasuk truk pickup dan minivan Toyota Hilux baru, serta truk pickup HUMVEES dan Ford Ranger yang telah direbut dari tentara Afghanistan dan unit polisi, diarak oleh Taliban. Bendera Taliban berkibar dimana-mana, dan banyak kendaraan menampilkan bendera putih tersebut.

Dalam 2 Hari 7 Pasukan AS Tewas oleh Taliban

Setelah kendaraan diparkir, ratusan pejuang Taliban bersenjata berat berbaris dan berdiri dalam formasi untuk mendengarkan sebuah pidato dari para ulama dan pejabat Taliban. Sekali lagi, bendera Taliban menonjol dipamerkan saat para pemimpin Taliban memanggil formasi tersebut.

Kabupaten Bakwa dinilai oleh Long War Journal FDD sebagai wilayah yang diperebutkan. Taliban telah menguasai pangkalan militer di sana di masa lalu, dan tahun lalu mampu membunuh delapan polisi saat melakukan serangan ke markas besar kepolisian distrik.

Video From the Fronts of Farah adalah yang terbaru dari serangkaian film Taliban yang menyoroti operasi Taliban. Sebuah video serupa, dari provinsi tetangga Nimroz, dirilis oleh Taliban awal bulan ini. Seperti pada video sebelumnya, Taliban menunjukkan bahwa mereka dapat dengan mudah mengatur pasukannya untuk menyerang basis dan pusat distrik dan melakukan serangan dalam waktu lama, atau mengatur tentaranya berparade di tempat terbuka, tanpa takut ditargetkan dari udara oleh Afghanistan atau pasukan koalisi. Taliban telah memanfaatkan kontrol daerah pedesaan untuk mengerahkan kekuatannya.

Tidak Mampu Hadapi Taliban, AS Desak NATO Kirim Lebih Banyak Lagi Pasukannya

Taliban tetap melakukan serangan terhadap pasukan Afghanistan meskipun pemerintah AS memodifikasi strategi dan taktik yang dirancang untuk mengembalikan keuntungan Taliban dan mengalahkan mereka di medan perang namun tetap gagal memukul kekuatan Taliban.

Desak Pemerintah Trump Peduli Rohingya, Muslim AS Unjuk Rasa di Depan Gedung Putih

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Ratusan orang berkumpul di depan Gedung Putih pada hari Ahad (29/10/2017) untuk memprotes pembantaian oleh militer Myanmar yang sedang berlangsung yang menargetkan minoritas Muslim Rohingya di Myanmar, World Bulletin melaporkan.

Organisasi hak asasi manusia dan advokasi Muslim terbesar di negara itu, Council on American-Islamic Relations (CAIR), Masyarakat Islam Amerika Utara (Islamic Society of North America-ISNA), Masyarakat Muslim Amerika (Muslim American Society-MAS) dan banyak lainnya membawa keluhan mereka ke ibukota negara.

Perwakilan masyarakat sipil dari berbagai latar belakang itu meminta pihak berwenang Myanmar untuk mengakhiri pertumpahan darah dan mendesak pemerintah Trump untuk bertindak lebih efektif dalam penganiayaan di negara bagian Rakhine serta menggunakan pengaruhnya terhadap pemerintah Myanmar.

Sejak 25 Agustus, 603.000 Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Senator AS: Ribuan Anak Dibantai dan Ribuan Wanita Diperkosa di Rohingya, Donald Trump Bisu

Para pengungsi melarikan diri dari operasi militer Budha Myanmar dan gerombolan Buddhis yang membunuhi pria, wanita dan anak-anak, memperkosa, menyiksa, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.

“Jika ini bukan genosida, saya tidak tahu apa itu,” kata Oussama Jammal, Sekretaris Jenderal Dewan Organisasi Muslim AS (the US Council of Muslim Organizations-USCMO), mengingat definisi genosida PBB.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – mutilasi, pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Presiden Pusat ADAMS, Seyid Mukher menekankan bahwa Muslim Amerika harus mendesak pemerintah A.S. untuk bertindak melawan kekerasan tersebut.

“Genosida ini terjadi di Negara Bagian Rakhine kemarin, juga terjadi hari ini tapi tidak boleh terjadi lagi besok,” tambahnya, berkomentar bahwa penganiayaan terhadap muslim Rohingya telah berlangsung selama beberapa dekade.

Para pendemo meneriakkan protes terhadap otoritas Myanmar, membawa spanduk bertuliskan “Hentikan genosida di Rakhine sekarang” dan “Selamatkan saudara dan saudari kita di Myanmar”. Acara berakhir tanpa konflik.

Sebagai tambahan, Deparment of State pada hari Ahad mengatakan bahwa delegasi AS yang dipimpin oleh Asisten Sekretaris Menteri Luar Negeri, Simon Henshaw akan mengadakan pertemuan baik di Burma (Myanmar) maupun Bangladesh untuk membahas kekerasan yang sedang berlangsung di Negara Bagian Rakhine dan untuk memperbaiki penyampaian bantuan kemanusiaan bagi pengungsi di Burma, Bangladesh, dan wilayah sekitar.

Pertemuan akan diadakan antara 29 Oktober dan 4 November. “Delegasi akan bertemu dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tanggapan AS dan internasional terhadap krisis yang sedang berlangsung dan untuk mengeksplorasi solusi yang tahan lama,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Mujahidin Taliban di Kunduz: ‘In Syaa Allah Besok Kita Rebut Gedung Putih’

Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras Myanmar.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak ratusan orang tewas dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Perundingan Damai Suriah ke-7 Kembali Digelar di Astana

ASTANA (Jurnalislam.com) – Putaran ketujuh perundingan perdamaian untuk mengakhiri konflik Suriah dimulai Senin (30/10/2017) di ibukota Kazakhstan, Astana, Anadolu Agency melaporkan.

Perundingan tersebut, yang akan fokus pada penguatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 30 Desember, ditengahi oleh Turki, yang mendukung oposisi anti-Assad, dan Rusia dan Iran, yang mendukung rezim Syiah Bashar al-Assad.

Pertemuan dua hari tersebut juga akan membahas pembebasan tahanan dan sandera, dan tindakan kemanusiaan terhadap ladang ranjau darat.

Putaran ke Enam Perundingan Astana Setujui Batas Zona de Eskalasi Suriah

Delegasi Turki akan diketuai oleh wakil menteri luar negeri Kementerian Luar Negeri Sedat Onal, sementara Utusan Khusus untuk Suriah Alexander Lavrentiev akan memimpin tim Rusia dan Wakil Menteri Luar Negeri Hossein Jaberi Ansari akan memimpin delegasi Iran.

Perwakilan rezim Suriah, kelompok oposisi bersenjata, serta delegasi dari PBB, Yordania, dan AS akan menghadiri perundingan tersebut

Perundingan bilateral dan multilateral hari Senin tersebut akan berlangsung tertutup, dan sebuah rapat pleno dijadwalkan pada hari Selasa.

Dalam pembicaraan, para peserta juga akan membahas perluasan jumlah negara pengamat dalam proses Astana, untuk memasukkan negara-negara seperti Irak dan China.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya mengatakan bahwa dia yakin bahwa memperluas jumlah negara pengamat akan bermanfaat.

Menurut sumber oposisi Suriah, sebuah delegasi yang dipimpin oleh Ahmet Barri, seorang komandan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA), akan mengajukan empat dokumen ke PBB mengenai pelanggaran gencatan senjata, situasi sandera, pembantaian oleh rezim Assad dan milisi Syiah yang didukung oleh Iran, dan pembentukan kembali susunan etnis Suriah oleh Iran dan teroris PKK/PYD.

Delegasi Rusia akan mengangkat isu pembentukan “komite rekonsiliasi nasional” di antara warga Suriah.Setelah perundingan hari Senin, Lavrentiev mengatakan pada sebuah konferensi pers bahwa Moskow ingin mengadakan sebuah pertemuan “dialog nasional” antara warga Suriah di negara ini atau di Rusia.

Inilah Pernyataan Sikap Hayat Tahrir Sham atas Kesepakatan Astana

Dia menambahkan bahwa Turki, Rusia, dan Iran bekerja dalam koordinasi untuk mengurangi ketegangan di provinsi Suriah utara, Idlib.

“Kami mendirikan sekitar 10 pos pengamatan di Idlib satu setengah bulan yang lalu,” kata Lavrentiev kepada wartawan.

Lavrentiev mengatakan bahwa untuk “sementara” mereka memutuskan menutup pos tersebut untuk memastikan keamanan mereka.

“Kami sedang membicarakan proses pembentukan pos kembali,” tambahnya.

Selama pertemuan sebelumnya di bulan September, para pihak di Astana menyetujui batas-batas zona de-eskalasi akhir di Idlib.

Dr Ayman al Zawahiri Peringatkan Adanya Agenda ‘Nasionalis’ di Suriah

Pada pertemuan keempat di ibukota Kazakhstan pada tanggal 4 Mei, ketiga negara penjamin pertama kali menandatangani kesepakatan untuk menetapkan zona tersebut.

Suriah telah dikurung dalam perang global yang kejam sejak tahun 2011, ketika rezim Nushairiyyah Assad menindak aksi demonstrasi rakyatnya dengan keganasan yang tak terduga. Sejak saat itu, ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik tersebut, menurut PBB.

7 Warga Palestina Tewas Dibom oleh Serangan Udara Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tujuh warga Palestina terbunuh setelah pasukan zionis Yahudi menargetkan sebuah terowongan di sebuah kota di selatan Jalur Gaza yang diblokade Israel, menurut pejabat Palestina.

Ashraf al-Qidra, juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza, mengatakan bahwa sembilan warga Palestina lainnya juga terluka dalam serangan di kota Khan Younis dan dibawa ke Rumah Sakit Al-Aqsa di dekatnya untuk perawatan.

Kementerian tersebut secara resmi mengidentifikasi lima dari mereka yang terbunuh sebagai anggota Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam: Panglima Brigade Arafat Marshood, Wakil Komandan Hasan Abu Hasanein, Ahmad Khalil Abu Armaneh, 25, Omar Nassar Al-Falit, 27 dan Jihad al-Samiri, lansir Aljazeera.

Militer Mesir Malah Hancurkan Enam Terowongan Gaza Milik Palestina

Dua orang lainnya yang tewas diidentifikasi sebagai Masbah Shbeer 30 tahun dan Mohammed al-Agha, 22, keduanya anggota Brigade Izzuddin al-Qassam Hamas.

“Kami menegaskan hak kami untuk membalas agresi pasukan penjajah hari ini,” Gerakan Jihad Islam mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (30/10/2017).

“Pemerintah penjajah harus sadar bahwa kami akan terus berupaya memperkuat kemampuan untuk melindungi rakyat kami,” tambahnya.

Hamas, yang menguasai Gaza, mengatakan dalam sebuah posting di Twitter bahwa serangan tersebut merupakan “perang baru melawan warga Gaza”.

Media Palestina melaporkan bahwa terowongan tersebut diserang angkatan udara Israel. Pejabat penjajah Israel mengatakan bahwa terowongan yang terletak di dekat dinding perbatasan, yang sedang dalam proses dibangun, diledakkan setelah dipantau beberapa lama.

Israel Kembali Berulah, Gelar Serangan ke Gaza Utara

Sejak 2008, Israel telah meluncurkan tiga operasi militer di Jalur Gaza.

Yang terbaru, diberi kode bernama Operation Protective Edge, berlangsung pada musim panas 2014 dan mengakibatkan kematian lebih dari 2.200 warga Palestina oleh serangan udara brutal zionis.

Enam puluh enam tentara Israel dan tujuh pejuang non-kombatan Israel terbunuh pada periode yang sama.

Blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang diduduki, dalam bentuknya saat ini, telah ada sejak Juni 2007, ketika Israel memberlakukan blokade darat, laut dan udara di daerah tersebut.

Zionis Yahudi Israel menguasai wilayah udara dan perairan teritorial Gaza, serta dua dari tiga titik persimpangan; persimpangan yang ketiga dikendalikan oleh Mesir.

Menlu Arab Terkejut, Lihat Makar Hizbullah atas Saudi Dibiarkan Pemerintah Libanon

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Saudi untuk Urusan Teluk Thamer al-Sabhan menyuarakan keterkejutannya bahwa pemerintah dan warga Lebanon terdiam atas praktik makar Syiah Hizbullah Libanon terhadap Saudi.

“Tidak ada yang aneh jika milisi teroris (Hizbullah) berpartisipasi dalam perang melawan kerajaan sesuai arahan dari penguasa terorisme global tapi yang aneh adalah keheningan pemerintah dan masyarakat Lebanon,” katanya di Twitter, lansir Al Arabiya, Ahad (29/10/2017).

Kalah oleh Mujahidin, Hizbullah Libanon Kirim Lebih Banyak Pasukannya ke Suriah

Sabhan telah berulang kali menyerukan untuk menghadapi Syiah Hizbullah. Pada hari Kamis, dia menyuarakan pentingnya melawan dan mengendalikan Hizbullah.

“Untuk mengekang milisi teroris (Hizbullah), mereka yang mendukung dan bekerja sama dengan Hizbullah di bidang politik, ekonomi dan media harus dihukum. Harus ada upaya serius untuk menahan mereka di tingkat domestik dan asing dan untuk menghadapi mereka dengan penuh paksaan,” tambahnya di Twitter.

Semakin Terjepit di Markas Terakhir di Anbar, Pasukan Irak Desak IS Menyerah

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Tentara Irak telah meminta militan IS untuk menyerah di tengah operasi militer yang sedang berlangsung untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) tersebut dari markas terakhir mereka di provinsi Anbar barat.

Pesawat-pesawat Irak menjatuhkan ribuan selebaran di daerah IS di Anbar, meminta militan untuk meletakkan senjata mereka dan menyerah kepada pasukan Irak, kata Kementerian Pertahanan dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad (29/10/2017), lansir Anadolu Agency.

Pada hari Kamis, tentara Irak memulai sebuah operasi militer berskala luas untuk membebaskan kota Rawa, sebuah kota di al-Qaim di Anbar, yang merupakan kantong terakhir kelompok tersebut di Irak.

Brigadir Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan (Joint Operations Command-JOC) Angkatan Darat Irak, sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Irak telah membunuh 75 gerilyawan IS dalam operasi di Anbar dalam 72 jam terakhir.

Pasukan Irak Kuasai Perbatasan dengan Suriah setelah Milisi Dukungan AS Mundur

Sementara itu, Abu Ali al-Kufi, seorang komandan milisi Syiah Hashd al-Shaabi yang pro-pemerintah, mengatakan IS telah menanam jebakan dan alat peledak di jalan dan menyeberang ke al-Qaim.

Dia mengatakan tim pembuangan bom telah berhasil meredakan bahan peledak dan membuat rute yang aman untuk pasukan tersebut.

“Pasukan kita menunggu datangnya zero hour untuk menyerang IS di tempat persembunyian terakhir mereka,” katanya.Bulan lalu, pasukan keamanan dan suku Irak merebut kota Anah di Anbar dari IS sementara kelompok tersebut telah mengendalikan Rawa dan al-Qaim sejak pertengahan 2014.

Terungkap Pasukannya Lakukan Pembunuhan Massal, Haftar Perintahkan Penyelidikan

TRIPOLI (Jurnalislam.com) – Khalifa Haftar, yang menguasai Libya timur, telah memerintahkan penyelidikan setelah 36 mayat tak dikenal ditemukan di daerah sebelah timur Benghazi. Mayat-mayat tersebut menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan luka peluru di kepala.

Saksi mata mengatakan bahwa para korban tersebut ditangkap beberapa bulan yang lalu oleh Tentara Nasional Haftar Libya dan sumbernya mengatakan kepada Al Jazeera, Ahad (29/10/2017), bahwa mereka yang hilang termasuk lawan Haftar dan pembangkang militer yang tidak setuju dengan operasinya.

Eksekusi 18 Tahanan dengan Cara IS, Jenderal Pemberontak Libya Dituntut PBB dan HRW

Misi PBB di Libya mengutuk “kejahatan keji” yang mengakibatkan “pembunuhan” sedikitnya 36 orang.

Di Tripoli, Pemerintah Nasional (Government of National Accord-GNA) yang diakui secara internasional menyerukan kecaman yang sama dan menyebut pembunuhan tersebut sebagai “tindakan mengerikan”.

GNA juga mengatakan akan meluncurkan sebuah penyelidikan.

Kekacauan dan konflik terus mengganggu Libya sepanjang enam tahun setelah pemimpin lama Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh oleh sebuah pemberontakan yang didukung oleh NATO.

Pasukan Haftar telah dituduh melakukan banyak kekejaman sejak jenderal mereka meluncurkan Operation Dignity pada tahun 2014.

Pesawat Tempur Libya Ditembak Jatuh Dewan Shura Mujahidin di Derna

 

Jutaan Orang Rayakan HUT ke-94 Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Jutaan orang Turki di dalam dan luar negeri merayakan ulang tahun ke 94 proklamasi Republik Turki pada hari Ahad (29/10/2017), Anadolu Agency melaporkan.

Presiden Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Binali Yildirim dan pejabat tinggi tingkat tinggi lainnya mengunjungi mausoleum pendiri Turki modern, Ghazi Mustafa Kemal Ataturk. Mausoleum itu juga dikenal sebagai Anitkabir.

Dalam sambutan yang tercatat dalam buku memorial resmi Anitkabir, Erdogan mengatakan semangat yang membawa kemenangan dalam Perang Pembebasan Turki dan memberi kehidupan kepada republik ini masih hidup sampai sekarang sejak 94 tahun yang lalu.

Mengacu pada upaya kudeta tahun lalu, presiden menambahkan: “Resistensi yang masuk ke dalam sejarah sebagai peristiwa epik 15 Juli adalah perwujudan semangat dan kehendak ini.”

Presiden Turki: Operasi di Idlib telah Selesai, Selanjutnya Afrin Ada di Depan Kita

Organisasi Teroris Fetullah dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, melakukan kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 di Turki, yang menyebabkan 250 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang lainnya terluka.

Perayaan yang terkait dengan Hari Republik tetap berlangsung di beberapa kota di Turki.

Google juga menandai Hari Republik Turki di berandanya, dengan menampilkan bendera Turki dan logo Google berwarna merah, yang merupakan warna bendera negara tersebut.

Di ibukota Ankara, ribuan orang Turki berbaris di depan parlemen Turki.

Polisi telah melakukan tindakan pengamanan ketat di daerah tersebut; beberapa jalan ditutup untuk lalu lintas; Polisi anti huru hara juga ditempatkan di sepanjang rute parade tersebut.

Tentara Turki veteran serta siswa sekolah membawa bendera Turki dan poster Ataturk terlihat dalam pawai tersebut.

Di kota terbesar di Turki, Istanbul, sebuah parade besar diselenggarakan. Sebuah pesan perayaan dari Presiden Erdogan, yang dikirim untuk Gubernur Istanbul Vasip Sahin, juga dibacakan.

Di hadapan kerumunan warga, Sahin mengatakan bahwa rakyat Turki menunjukkan kepada dunia pertarungan epik untuk keselamatan selama masa pendirian republik ini.

“Republik ini adalah kata terakhir bagi negara kita, yang membela dan memuji persaudaraan melawan separatisme,” tambahnya.

Warga Istanbul membawa bendera Turki saat menyaksikan parade tersebut dan memberi tepuk tangan atas demonstrasi militer dan polisi.

Tindakan pengamanan ketat juga dilakukan di Istanbul dan orang-orang memasuki area parade setelah pemeriksaan pakaian.

Hari Republik juga ditandai dengan representasi Turki di luar negeri.

Bom Meledak Dekat Istana, Kabinet Somalia Pecat Kepala Intelijen Negara Mendadak

MOGADISHU (Jurnalislam.com) – Kabinet memecat kepala badan intelijen nasional dan polisi menyusul ledakan bom mematikan hari Sabtu (28/10/2017) di ibukota Mogadishu yang menewaskan sedikitnya 27 orang dan puluhan lainnya luka-luka, menurut seorang menteri.

Dalam serangan hari Sabtu tersebut sekelompok orang bersenjata menyerbu hotel Nasa-hablood di dekat istana kepresidenan diawali dua ledakan bom mobil.

Kelompok bersenjata Al-Shabaab telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang terjadi hanya dua pekan setelah serangan mematikan dalam sejarah negara tersebut, juga di Mogadishu, yang menewaskan lebih dari 358 orang yang hingga kini belum diketahui kelompok mana pelakunya.

Kabinet memutuskan untuk memecat kepala Badan Intelijen Nasional Cabdullahi Mohamed Sambaloshe dan kepala polisi Abdihakin Dahir Saed Sa’id setelah sebuah pertemuan darurat di ibukota tersebut, Menteri Penerangan Abdirahman Omar Osman Yarsisow men-tweet, lansir Anadolu Agency.

Serangan Bom Hantam Hotel Presiden Somalia, Puluhan Tewas

“Menteri kabinet pemerintah Somalia memecat kepala badan intelijen dan keamanan nasional dan komandan polisi nasional,” Osman Yarsisow mengatakan dalam postingannya di Twitter.

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Keamanan Dalam Negeri Mohamed Abukar Islow mengatakan jumlah korban tewas akibat ledakan ganda hari Sabtu telah mencapai 27 orang.

Sebelumnya, media lokal dan negara bagian melaporkan bahwa mantan anggota parlemen Abdinasir Garane, Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Madobe Nunow dan mantan komisaris polisi distrik Daynile termasuk di antara korban tewas.

Islow juga mengatakan pasukan keamanan telah menahan tiga tersangka penyerang.

Kementerian Luar Negeri Turki telah mengecam keras serangan Al-Shabaab tersebut, dengan mengatakan: “Turki akan terus berdiri bersama rakyat Somalia dan pemerintahnya dalam perang melawan Al-Shabaab.”

Pemimpin Kurdi Irak Tidak Ikut Serta dalam Pemilihan Presiden, Ini Alasannya

ERBIL (Jurnalislam.com) – Presiden Kurdi (Kurdish Regional Government-KRG) Masoud Barzani mengumumkan pada hari Ahad (29/10/2017) bahwa dia tidak akan berpartisipasi dalam pemilihan presiden 1 November mendatang.

Dalam sebuah surat yang dibacakan selama sesi parlemen pemerintah daerah, Barzani mengatakan: “Sebagai seorang Peshmerga, saya akan terus melayani rakyat kami, saya menolak untuk mendapatkan perpanjangan dan tidak akan melanjutkan jabatan ini; hukum tidak seharusnya diubah untuk saya.”

Kemudian, disepakati untuk mengalihkan tugas kepresidenan Masoud Barzani ke parlemen dan Dewan Kehakiman setelah proses pemungutan suara, Aydin Maruf, anggota parlemen dari Frontistan-Turkmen Front, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Erdogan: Kurdi Sama dengan Turkmen dan Arab

Maruf selanjutnya mengatakan bahwa Dewan Presiden KRG juga telah dihapuskan.

Sebelumnya pada Sabtu malam, asisten senior Barzani, Hemin Hawrami, tweeted: “Presiden Barzani menyerukan pemilihan Parlemen / Presiden 12/7 untuk diadakan pada 1 November. Parlemen memperpanjang pekerjaannya selama dua musim.”

Setelah pemungutan suara, sekelompok orang menyerbu gedung parlemen daerah, melepaskan tembakan di udara saat mereka berhasil masuk ke dalam.

PM Irak: Tentara Irak Tidak akan Serang Rakyat Kurdi

Kelompok tersebut, yang mengaku sebagai Partai Demokratik Kurdistan (Kurdistan Democratic Party-KDP) meneriakkan slogan-slogan yang mendukung Barzani dan melemparkan batu ke gedung parlemen.

Pasukan keamanan di tempat kejadian membubarkan kelompok tersebut dan memaksa mereka keluar dari gedung parlemen.

Berbicara kepada Anadolu Agency tentang kejadian tersebut, Maruf mengatakan bahwa anggota PPK berusaha menenangkan para pemrotes.