Israel Tawarkan $ 50 Juta Bagi Negara yang Dukung Pengakuan Trump atas Yerusalem

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu telah menyiapkan dana $ 50 juta untuk membantu pembangunan di negara-negara miskin demi mendapatkan dukungan diplomatik negara-negara tersebut, terkait pengakuan Trump atas Yerusalem.

Jika laporan Channel 2 Israel dan gerai media lainnya dikonfirmasi, rencana tersebut muncul hanya sepekan setelah Majelis Umum PBB memilih untuk menolak keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Hanya delapan negara yang memilih melawan resolusi tersebut bersama Israel. 35 negara lainnya abstain dan 128 negara memilih resolusi yang ditulis oleh Turki dan Yaman tersebut.

Dana tersebut akan memanfaatkan keahlian Israel dalam bidang pertanian, pengembangan kepemimpinan, dan teknologi, Times of Israel melaporkan, lansir Aljazeera, Kamis (28/1/2017).

Kawasan yang ditargetkan dalam upaya diplomatik termasuk Eropa Timur, Asia, dan Afrika.

Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Pemerintah zionis tersebut telah berusaha untuk memperkuat hubungannya dengan negara-negara Afrika dalam beberapa tahun terakhir dimana Netanyahu melakukan tur ke Afrika Timur pada tahun 2016 dan bagian barat benua itu pada tahun berikutnya.

Berbicara di ibukota Liberia, Monrovia, pada bulan Juli, pemimpin Israel tersebut mengatakan: “Saya percaya Afrika, saya percaya pada potensinya – sekarang dan masa depan. Ini adalah benua yang sedang naik daun.”

Memperkuat hubungan Israel dengan benua itu menjadi prioritas utama, Netanyahu menambahkan.

Apakah Israel berhasil mengubah bantuan ekonomi menjadi dukungan diplomatik yang sebenarnya masih harus dilihat, karena beberapa negara Afrika yang memilih resolusi PBB, seperti Kenya dan Ethiopia, menikmati hubungan dekat dengan Tel Aviv.

Selain Israel dan AS, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Negara Federasi Mikronesia, Nauru, Palau dan Togo juga menolak resolusi itu.

Pada hari Senin, Wakil Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Hotovely mengatakan bahwa 10 negara mempertimbangkan keputusan Presiden AS Donald Trump dengan memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem.

Setelah 128 Negara Tolak Veto AS, Erdogan, Jerman, Palestina Bahas Yerusalem Lebih Lanjut

Dia tidak menyebutkan negara-negara tersebut namun mengatakan “beberapa” dari mereka “terletak di Eropa.”

Pada hari Ahad, Guatemala mengumumkan bahwa mereka akan memindahkan kedutaannya ke Kota Suci, wilayah di sisi timur yang secara internasional diakui sebagai wilayah Palestina yang secara ilegal diduduki oleh Israel.

Israel mencaplok Jerusalem Timur setelah perang 1967, sebuah langkah yang ditolak oleh PBB dan masyarakat internasional.

PM Turki ke Arab Saudi: Kita adalah Negara Kunci untuk Yerusalem

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi dan Turki adalah negara-negara kunci untuk perdamaian dan stabilitas abadi di kawasan Yerusalem, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan pada hari Rabu (27/12/2017), lansir Anadolu Agency.

Berbicara kepada wartawan di Riyadh, Yildirim mengatakan: “Kerjasama antara kedua negara di setiap bidang sangat penting tidak hanya bagi Turki dan Arab Saudi, tapi juga untuk perdamaian regional dan global.”

Ucapan Yildirim mengikuti ceramahnya dengan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota serta Menteri Pertahanan Mohammed bin Salman Al Saud.

Yildirim dan Salman membahas pentingnya status Yerusalem dalam rapat tertutup satu jam, menurut sumber Perdana Menteri pada hari Rabu.

Keduanya juga sepakat bahwa negara-negara Muslim harus mengambil sikap bersama dalam melindungi hak-hak warga Palestina.

Setelah 128 Negara Tolak Veto AS, Erdogan, Jerman, Palestina Bahas Yerusalem Lebih Lanjut

Pada 6 Desember, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya – meski mendapat tentangan di seluruh dunia – untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan Washington dari Tel Aviv ke kota suci tersebut.

Pekan lalu, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang didukung mayoritas Negara anggotanya menolak langkah Trump.

Selama pembicaraan dengan pejabat Saudi, Yildirim mengatakan bahwa mereka juga membahas pengembangan perdagangan bilateral dan proyek industry pertahanan gabungan.

Turki dan Arab Saudi memiliki kesamaan sekitar 90 persen dalam hal pendirian dan pandangan mengenai kemungkinan solusi, tambahnya.

Yildirim menyebut kunjungannya ke Saudi “singkat tapi cukup menghasilkan.”

Selama pembicaraannya dengan Raja Salman dan Mohammed bin Salman Al Saud, Yildirim mengatakan bahwa mereka berfokus pada perkembangan regional, termasuk Palestina, Israel, Irak, Suriah, Yaman, dan Libya.

Mengungkapkan harapan bahwa kunjungannya akan “produktif”, Yildirim mengatakan bahwa putra mahkota Saudi tersebut akan segera mengunjungi Turki.

Remaja Palestina yang Fotonya Viral di Dunia Akhirnya Dibebaskan Militer Israel

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Pengadilan militer Israel pada hari Rabu (27/12/2017) memutuskan untuk membebaskan Fawzi al-Juniidi yang berusia 16 tahun dengan jaminan, menurut sebuah sumber hukum.

Pengadilan menetapkan jaminan al-Juniidi berjumlah 10.000 shekel Israel (kira-kira $ 2.860) setelah jaksa mengajukan banding atas pembebasan remaja tersebut, pengacara Arwa Hilehel mengatakan kepada Anadolu Agency.

Al-Juniidi ditangkap pada 7 Desember di kota Hebron, Tepi Barat (Al-Khalil) setelah diseret sambil ditutup matanya oleh tentara Israel bersenjata berat.

Peneliti: Inilah Tempat Paling Sering Dihujani Gas Air Mata di Dunia

Sebuah foto yang menjadi viral di media internasional, pemuda yang ditutup matanya sejak itu menjadi simbol demonstrasi Palestina dan terus berlanjut yang dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Menurut Masyarakat Tahanan Palestina, sebuah LSM, sekitar 300 anak-anak saat ini ditahan di fasilitas penahanan di seluruh Israel.

Keputusan nyeleneh Trump pada 6 Desember memicu gelombang kecaman di seluruh dunia Arab dan kaum Muslim dan demonstrasi kemarahan di seluruh wilayah Palestina dan dunia.

Supermarket di Rusia Dihantam Bom

RUSIA (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan menghantam sebuah supermarket di St Petersburg Rusia pada Rabu malam (27/12/2017), melukai setidaknya 10 pembeli, kata beberapa penyidik, Anadolu Agency melaporkan.

Ledakan tersebut disebabkan oleh sebuah bom buatan sendiri yang dikemas dengan potongan-potongan logam dengan kekuatan setara dengan 200 gram TNT, kata mereka. Mereka telah membuka kasus pidana atas dasar percobaan pembunuhan.

Tidak ada yang terbunuh dalam ledakan tersebut, dan tidak jelas apa motifnya.

Stasiun Kereta Rusia di Saint Petersburg Dibom, Sedikitnya 10 Tewas dan 50 Terluka

Laporan media Rusia mengatakan bahwa bom tersebut telah disembunyikan di loker tempat pembeli meninggalkan barang-barang mereka di cabang jaringan supermarket Perekrestok.

“Semua versi yang mungkin dari apa yang telah terjadi sedang dikerjakan,” Alexander Klaus, kepala komite investigasi St Petersburg, mengatakan kepada Reuters.

“Sampai sekarang, sudah ditetapkan bahwa 10 orang dibawa ke rumah sakit kota dengan luka-luka. Saat ini, nyawa orang-orang yang terluka tidak terancam.”

Erdogan: Bashar Assad Teroris, Masa Depan Suriah Tidak Bisa Berlanjut Dengannya

TUNISIA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu (27/12/2017) menyebut Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai seorang teroris dan mengatakan bahwa upaya perdamaian Suriah tidak mungkin berlanjut dengan adanya Assad.

Erdogan mengeluarkan komentarnya tersebut saat berada di Tunis untuk menandatangani perjanjian utama bersama dengan 10 menteri pemerintah dan lebih dari 150 pengusaha dalam perjalanan baru-baru ini yang juga membawanya ke Chad dan Sudan.

Kementerian luar negeri Suriah dengan cepat menanggapi dengan menuduh Erdogan sendiri mendukung kelompok-kelompok oposisi yang memerangi Assad dalam perang Suriah.

Pada awal perang, Turki menuntut penggulingan Assad dari kekuasaan dan mendukung oposisi yang berjuang untuk menggulingkan Assad. Namun Turki telah mengurangi tuntutannya sejak mulai bekerja dengan sekutu Assad, Rusia dan Iran, untuk sebuah resolusi politik.

“Assad jelas merupakan teroris yang telah melakukan terorisme negara,” kata Erdogan dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi bersama rekannya dari Tunisia Beji Caid Essebsi di Tunis, lansir Middle East Eye.

“Tidak mungkin untuk maju bersama Assad. Bagaimana kita bisa merangkul masa depan dengan seorang presiden Suriah yang telah membunuh hampir satu juta warganya?” katanya, dalam beberapa komentar terberatnya selama berpekan-pekan.

Meskipun Turki telah lama menuntut penghapusan Assad, saat ini perhatian Turki atas Suriah lebih terfokus pada ancaman dari pasukan Kurdi yang mereka anggap sebagai sekutu Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang mereka katakan telah membentuk “koridor teror” di wilayah perbatasan selatan Turki.

Rezim Syiah Assad Bunuh 20.919 Perempuan dari 24.700 Wanita yang Tewas di Suriah

Turki mengatakan milisi YPG Kurdi Suriah, yang dinilai Ankara sebagai perpanjangan kelompok terlarang PKK yang telah beroperasi di Turki tenggara sejak tahun 80an, tidak dapat diundang ke perundingan damai Suriah di ibukota Kazakhstan, Astana.

YPG adalah elemen utama dalam sebuah kekuatan yang telah dibantu Washington dengan pelatihan, senjata, dukungan udara dan bantuan penasihat lapangan dalam pertempuran melawan kelompok Islamic State (IS). Dukungan AS telah membuat marah Ankara, sekutu NATO Washington.

Meskipun memiliki perbedaan dengan Rusia dan Iran, Turki telah bekerja dengan dua kekuatan tersebut dalam mencari solusi politik di Suriah.

Tiga kekuatan tersebut memperantarai kesepakatan untuk mengatur dan memantau “zona de-eskalasi” untuk mengurangi pertempuran antara kelompok oposisi dan pasukan rezim Suriah di provinsi Idlib yang dikuasai faksi-faksi jihad Suriah.

“Kami tidak dapat mengatakan bahwa Assad akan menangani hal ini. Tidak mungkin Turki menerima ini. Suriah Utara telah diserahkan sebagai koridor teror. Tidak ada perdamaian di Suriah dan perdamaian tidak akan datang bersama Assad,” kata Erdogan.

Kantor berita rezim Syiah Suriah SANA mengutip sebuah sumber kementerian luar negeri mengatakan bahwa Erdogan “terus menyesatkan opini publik Turki dengan bualan yang biasa ia katakan dalam usaha untuk membebaskan dirinya dari kejahatan yang telah dilakukannya terhadap warga Suriah melalui dukungan yang terus berlanjut kepada berbagai kelompok oposisi di Suriah.”

Selama kunjungannya ke Tunis, Erdogan juga menandatangani kesepakatan mengenai pertahanan, investasi dan lingkungan.

Bahas Yerusalem dengan Erdogan di Turki, Putin Perintahkan Pasukan Rusia Mundur dari Suriah

“Kami menegaskan keinginan kedua negara untuk memperkuat kerjasama … dengan mempertimbangkan keadaan yang mempengaruhi Tunisia,” kata Essebsi.

Pemimpin Tunisia itu kemudian memuji “pemahaman yang ditunjukkan oleh presiden Turki mengenai keadaan ini.”

Ketidakseimbangan perdagangan Tunisia telah meningkat pesat, mencapai $ 649 juta dalam 10 bulan pertama tahun 2017, dan negara tersebut telah mengembalikan bea cukai pada produk tertentu yang diimpor dari Turki.

Awal bulan ini, dalam sebuah langkah yang mengejutkan dan membuat marah banyak politisi Tunisia, Uni Eropa mencantumkan negara tersebut sebagai surga pajak.

“Turki mendukung Tunisia di masa-masa sulit,” kata Erdogan. “Perkembangan Tunisia adalah pengembangan Turki.”

Peneliti: Inilah Tempat Paling Sering Dihujani Gas Air Mata di Dunia

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Kamp pengungsi Aida, sebuah kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat yang diduduki kemungkinan merupakan tempat yang paling sering diserang dengan gas airmata di dunia, menurut seorang penulis penelitian baru.

Pusat Hak Asasi Manusia Universitas California di Berkeley baru-baru ini melaporkan bahwa pasukan militer Israel telah menggunakan “gas airmata” secara meluas, “sering” dan “membabi buta” terhadap warga Palestina di kamp pengungsi Aida dekat Bethlehem.

Laporan tersebut – yang dikatakan sebagai laporan pertama untuk menganalisis dampak gas air mata di Tepi Barat – menemukan bahwa 100 persen dari lebih 200 warga Palestina yang disurvei di kamp Aida terkena gas air mata selama setahun terakhir.

Laporan tersebut, No Safe Space: Konsekuensi Kesehatan akibat Terpapar Gas Air Mata di antara warga Palestina, mengumpulkan kesaksian pada musim panas lalu di Aida dan kamp pengungsi Dheisheh di dekatnya.

Perlawanan di Tepi Barat Tetap Berkobar Meski Hadapi Peluru Tajam Zionis

“Kami menemukan bahwa penggunaan gas air mata yang konstan dan tak terduga di kamp-kamp pengungsi Palestina memiliki dampak buruk pada kesehatan mental dan fisik penduduk,” kata rekan penulis laporan tersebut, Dr Rohini Haar, seorang peneliti di pusat UC Berkeley dan seorang Dokter di Physicians for Human Rights (Dokter untuk Hak Asasi Manusia).

Efeknya, Haar mengatakan kepada Al Jazeera, Selasa (26/12/2017) sangat berbahaya bagi “warga yang paling rentan, termasuk wanita hamil, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang sudah dalam keadaan sakit”.

Laporan tersebut mensurvei 236 warga Aida, yang semuanya mengatakan bahwa mereka terkena gas air mata tahun lalu.

Dari jumlah tersebut, 84 persen orang mengatakan bahwa mereka terpapar saat berada di rumah mereka.

Sesuai namanya, gas air mata dimaksudkan untuk menyebabkan mata seseorang berair dan kulit mereka terbakar.

Warga juga mengatakan kepada penulis laporan tersebut bahwa penggunaan gas air mata tentara Israel “seringkali tidak beralasan.”

Tentara zionis tidak menanggapi permintaan Al Jazeera untuk mengomentari temuan penelitian tersebut.

Kamp pengungsian termasuk yang paling rentan terhadap paparan gas air mata di wilayah Palestina yang diduduki, kata laporan tersebut.

Sebagai rumah bagi sekitar 6.400 pengungsi Palestina, Aida hanya mencakup 0,017 kilometer persegi, menjadikannya tempat yang paling padat penduduknya di dunia.

Bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina di kamp Aida sering terjadi, dengan badan PBB untuk pengungsi Palestina (the UN agency for Palestinian refugees UNRWA) memperkirakan bahwa sedikitnya 376 konfrontasi terjadi sejak Januari 2014 hingga 15 Desember tahun ini, kata laporan tersebut.

“Kehidupan kita di kamp di sini dipenuhi dengan gas air mata, dipenuhi granat setrum, dipenuhi air kotor,” kata Sabreen berusia 30 tahun, ibu dari seorang tahanan Palestina, mengacu pada cairan berbau busuk yang sering disemprotkan oleh tentara penjajah Israel ke arah pemrotes Palestina dan rumah-rumah di Tepi Barat.

“Ini adalah kehidupan pengungsi. Apa yang bisa kita lakukan?” tambah Sabreen, yang tidak memberi tahu nama belakangnya kepada Al Jazeera.

Dua tahun yang lalu, seorang tentara Israel difilmkan untuk memberi peringatan pada penduduk kamp tersebut: “Orang-orang di kamp pengungsi Aida, kita adalah pasukan pendudukan. Anda melempar batu, dan kita akan menyerang Anda dengan gas sampai Anda semua mati. Anak-anak, pemuda, orang tua – Anda semua akan mati.”

Gaza Kembali Menyambut Syuhada dalam Bentrokan Terbaru dengan Pasukan Zionis

Pembakaran gas air mata di dekat rumah melanggar Kode Etik PBB dan Prinsip-prinsip Dasar PBB tentang Penggunaan Angkatan perang dan senjata api oleh tentara terhadap warga sipil, demikian laporan tersebut menyatakan.

Laporan ini juga menjelaskan bahwa rumah dan sekolah tidak dirancang untuk berlindung menghadapi serangan gas air mata, sehingga penduduk hanya memiliki sedikit pilihan untuk menghindari serangan atau mengurangi dampaknya.

Jumat lalu, Al Jazeera melihat tentara zionis menembakkan ratusan tabung gas air mata ke kerumunan kecil pemrotes di daerah yang berbatasan dengan kamp Aida. Bentrokan terbatas juga menyebar ke kamp tersebut, dimana tentara Israel menanggapi dengan lebih banyak gas air mata.

“Saya pulang dari pesta pernikahan, dan saya menemukan 25 tabung gas di dekat rumah saya,” kata Sana, seorang penduduk kamp, ​​yang juga tidak memberi nama terakhir kepada Al Jazeera.

Banyak penduduk kamp mengenakan masker gas untuk melindungi diri mereka sendiri, meski masker tersebut sulit didapat dan harganya mahal.

Menurut Dr Haar, paparan reguler terhadap gas air mata dapat mempengaruhi “semua sistem [tubuh].

Dalam laporan tersebut, warga menggambarkan berbagai efek fisik akibat paparan gas air mata yang sering dirasakan, termasuk kehilangan kesadaran, keguguran, masalah pernapasan, asma, batuk, pusing, ruam, sakit parah, alergi dermatitis, sakit kepala, iritabilitas neurologis dan bahkan trauma memar akibat dipukul oleh tabung gas air mata.

“Sistem tubuh semua orang terpengaruh oleh ini,” kata Dr Haar.

Penggunaan gas air mata tentara Israel yang berulang juga membuat penduduk memiliki bekas luka psikologis.

Karena sifat acak serangan Israel, warga kamp Aida menemukan fakta bahwa mereka semua “terus-menerus berada di tepian, takut akan serangan berikutnya,” menurut laporan tersebut.

Amal Manasra, 27, warga Aida, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa anak perempuannya baru-baru ini terkena gas air mata setelah sebuah tabung yang dilempar oleh tentara Israel mendarat di dekat pintu rumahnya.

“Tingkat oksigennya nol … Dia tercekik … Kami membawanya ke rumah sakit … Dia dirawat tujuh hari di sana,” kata Amal.

“Kami berada di daerah yang terkena penembakan setiap hari, mencium bau gas air mata tiap hari. Aku punya anak. Gas tersebut bocor ke dalam rumah melalui jendela dan dari bawah pintu,” katanya.

Dr Haar melaporkan kepada Al Jazeera bahwa, “Tidak ada orang lain yang terpapar tingkat gas air mata setinggi ini.”

Protes terhadap pengakuan nyeleneh Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengenai Yerusalem sebagai ibukota Israel telah meningkatkan serangan gas air mata terhadap warga Palestina, studi tersebut menemukan.

Sementara itu, warga Palestina juga melaporkan bahwa komposisi gas tersebut semakin kuat.

“Ini bukan gas air mata; Ini adalah racun,” kata Thaer, seorang penduduk kamp Aida lainnya, kepada Al Jazeera.

Gas air mata biasanya terdiri dari campuran gas sintetis atau alami, termasuk semprotan merica, “Namun bahan kimia spesifik yang digunakan oleh [pasukan Israel] beberapa tahun ini tidak diketahui,” menurut laporan tersebut.

Menurut Dr Haar, “Israel berkewajiban untuk mengungkapkan komposisi gas air mata yang mereka gunakan sehingga para profesional medis dapat mengobati gejala akibat bahan kimia tersebut.”

Sementara itu, Chris Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan, “Laporan tersebut menyadarkan kekhawatiran serius tentang penggunaan gas air mata di area yang sangat padat seperti kamp pengungsian di Bethlehem.”

“Penggunaan gas air mata yang meluas, sembarangan dan sering terhadap para pengungsi termasuk staf kita sendiri meningkatkan risiko kesehatan, namun pada tahap ini, para profesional kesehatan tidak mungkin menilai risiko ini sepenuhnya juga dampak jangka panjang akibat kontaminasi yang berkepanjangan dan reguler,” Gunness mengatakan kepada Al Jazeera.

“Jelas bahwa dampak psikologis pada remaja yang disurvei itu signifikan dan prospek pengembangan dan pendidikan anak-anak juga terpengaruhi.”

Rencana Ikuti Jejak AS ke Yerusalem, Guatemala Dikecam Keras Yordania dan Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Qatar dan Yordania pada hari Selasa (26/12/2017) mengecam keras keputusan Guatemala baru-baru ini yang ingin memindahkan kedutaannya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Keputusan Guatemala bertentangan dengan konsensus internasional yang diwujudkan oleh penolakan Majelis Tinggi PBB baru-baru ini untuk menolak pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel [oleh AS] dan seruan majelis tersebut untuk menahan diri tidak mendirikan misi diplomatik di sana,” demikian bunyi sebuah pernyataan pada hari Selasa oleh Kementerian Luar Negeri Qatar, lansir Anadolu Agency.

“Kami menganggap keputusan ini [oleh Guatemala] batal demi hukum dan tidak memiliki makna hukum,” tambahnya, melanjutkan dengan berharap bahwa Guatemala akan mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

Turki akan Terus Perjuangkan Palestina di Forum Internasional

Jordan, sementara itu, menggambarkan keputusan Guatemala sebagai “tindakan provokatif” dan “pelanggaran resolusi internasional.”

“Kami menolak keputusan Guatemala untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem,” tweeted Menteri Luar Negeri Yordania Ayman al-Safadi Senin malam.

“Yerusalem yang diduduki Israel adalah ibu kota negara Palestina, yang pendiriannya – berdasar perbatasan pra-1967 – tetap merupakan prasyarat untuk mencapai perdamaian di wilayah ini,” tambahnya.

Pada hari Ahad, setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, Presiden Guatemala Jimmy Morales mengumumkan bahwa negaranya – yang mengikuti jejak Washington – akan memindahkan kedutaan Israelnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keesokan harinya, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras tindakan tersebut sebagai “tindakan kurang ajar yang tidak terhormat … kepada aliansi dan kelompok internasional dimana Guatemala merupakan anggotanya.”

Pernyataan Morales muncul sekitar tiga pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusan nyelenehnya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel – sebuah langkah yang telah menarik kutukan dan protes dari seluruh dunia Arab dan Muslim.

Adakah Pengaruhnya 128 Negara Tolak Veto AS? Ini Kata Para Aktivis Palestina

Pekan lalu, 193 anggota Majelis Umum PBB mengadopsi sebuah resolusi yang meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

Sebanyak 128 negara anggota memilih untuk mendukung mosi tersebut, sembilan Negara menentangnya – Guatemala di antara mereka – dan 35 abstain. Dua puluh satu anggota negara tidak memberikan suara.

Tidak seperti resolusi yang diadopsi oleh 15 anggota Dewan Keamanan PBB, resolusi Majelis Umum PBB dianggap tidak mengikat.

Pasar Pemberontak Syiah Houthi Dibom Koalisi Arab, 20 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 20 orang dilaporkan terbunuh dan puluhan lainnya terluka dalam serangkaian serangan udara pimpinan Saudi di sebuah pasar di barat daya Yaman.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pada hari Selasa (26/12/2017) koalisi Arab menyerang Souk al-Shahra, sebuah pasar yang populer di daerah pemberontak Syiah Houthi di provinsi Taiz, sekitar 200km barat daya ibukota, Sanaa.

Sedikitnya 13 warga sipil tewas dan 17 lainnya cedera, satu sumber mengatakan, menambahkan bahwa sedikitnya 10 pasukan pemberontak Houthi juga termasuk di antara korban tewas.

83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

Sumber lain mengatakan bahwa beberapa potongan tubuh terlempar ratusan meter dari lokasi ledakan.

Kerabat beberapa korban tidak dapat mengidentifikasi sisa-sisa tubuh hangus mereka.

Al Masirah, sebuah jaringan TV yang dijalankan oleh pimpinan pemberontak Houthi, menempatkan jumlah korban lebih dari 50 orang, dan menambahkan bahwa jumlah tersebut masih bisa bertambah.

Al Masirah menerbitkan foto di situsnya yang menunjukkan sepeda motor dan toko yang dibom, dan gambar yang mereka klaim sebagai sisa-sisa tubuh penduduk sipil yang terpotong-potong.

Al Jazeera tidak dapat secara independen memverifikasi klaim tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi telah melakukan serangan udara reguler di daerah yang dikuasai Houthi sebagai bagian dari operasi untuk memulihkan pemerintah Yaman yang diakui PBB.

Anak Mantan Presiden Yaman yang Dibunuh Houthi Serukan Balas Dendam

Serangan hari Selasa terjadi saat pasukan Yaman yang didukung oleh koalisi berusaha untuk menguasai desa terdekat al-Haima.

Seorang penduduk mengatakan kepada Al Jazeera bahwa puluhan orang telah mengungsi akibat pertempuran tersebut, dengan sejumlah penduduk yang terjebak dalam kondisi mengerikan.

AS Tawarkan Daerah Ini sebagai Pengganti Ibukota Palestina, Ini Kata Hamas

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniya mengatakan bahwa AS menawarkan Abu Dis, sebuah daerah pinggiran Yerusalem, kepada pemerintah Otoritas Palestina sebagai alternatif menggantikan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina.

Berbicara dalam sebuah pertemuan dengan para pemimpin klan Palestina di Jalur Gaza pada hari Selasa (26/12/2017), Haniya memberi label keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sebagai sebuah tipuan untuk menghapus Palestina sesuai dengan kesepakatan fenomenal abad ini.

Hamas: Deklarasi Balfour Jembatan Kolonial Isreal ke Palestina

“AS masih menawarkan kesepakatan dan terus membujuk pihak Otoritas Palestina (PA) dengan cara apa pun, untuk memberi mereka ibukota atau entitas di daerah Abu Dis, jauh dari Yerusalem, dengan jembatan penghubung ke Masjid al-Aqsha untuk kebebasan melakukan sholat,” katanya.

 Ismail Haniya
Ismail Haniya

Haniya mengatakan beberapa pasukan regional berusaha untuk membagi Tepi Barat menjadi tiga bagian, selain menciptakan entitas politik di Jalur Gaza dengan kekuatan pengendaliannya sendiri.

Reporter Al Jazeera Wael al-Dahdouh, melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan bahwa Haniya telah memperingatkan pemain lokal, regional dan internasional untuk tidak melaksanakan rencana perdamaian AS untuk Timur Tengah, yang belum dipublikasikan.

Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat White Houser, telah mempelopori upaya untuk mengukur kemungkinan melanjutkan proses perdamaian Israel-Palestina.

“Haniya mengirim peringatan keras kepada semua pihak yang terlibat dalam ‘kesepakatan abad ini dengan AS’, apakah mereka orang Palestina, Arab atau kaum Muslim, atau masyarakat internasional,” kata Dahdouh.

“Ada juga tanda-tanda bahwa Israel akan mengambil keuntungan dari kesepakatan ini untuk menerapkan fakta versi mereka di lapangan, seperti RUU Judaisasi Yerusalem yang akan dipilih pada hari esok.”

Haniya mengatakan keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menciptakan konflik baru yang dapat mempengaruhi sifat hubungan antara Palestina dan Yordania.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Dia mengutip laporan diskusi mengenai sebuah alternatif tanah air untuk warga Palestina dan sebuah konfederasi antara Yordania dan Palestina.

Haniya mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Raja Abdullah dari Yordania tentang apa yang dia lihat sebagai bahaya yang timbul dari keputusan atas Yerusalem, proyek pemukiman illegal yahudi dan alternatif tanah air.

Dia juga meminta warga Palestina untuk melanjutkan “perjuangan” mereka menentang semua keputusan Trump, dan menyerukan kepada gerakan populer di Negara-negara Arab dan Muslim untuk melakukan perlawanan mereka.

Menghadapi proses rekonsiliasi yang sedang berlangsung antara dua kelompok utama Palestina, Fatah dan Hamas, Haniya mengatakan bahwa masalah politik internal perlu ditangani dengan cepat agar pemerintah yang bersatu dapat mencurahkan perhatiannya pada isu-isu utama Palestina.

Dia juga mengeluarkan sebuah peringatan mengenai konsekuensi “munculnya kuburan” yang potensial akibat lambannya pelaksanaan perjanjian rekonsiliasi yang ditengahi Mesir, yang ditandatangani pada bulan Oktober di Kairo oleh perwakilan Fatah dan Hamas.

Sementara itu, Yahya Sinwar, perdana menteri pemerintah Hamas, yang berbicara pada pertemuan hari Selasa di Gaza, menyerukan upaya untuk mendukung upaya rekonsiliasi untuk “mempersatukan dalam pertempuran dalam upaya merebut Yerusalem.”

Dia juga menuntut agar pimpinan Palestina “membentuk kerangka kepemimpinan terpadu Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di hadapan seluruh warga Palestina.”

Rezim Syiah Assad: Hayat Tahrir al Sham Tembak Jatuh Jet Tempur Suriah di Hama

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan bersenjata rezim Syiah Suriah mengatakan pejuang oposisi menjatuhkan sebuah jet militer miliknya di provinsi Hama utara pada hari Selasa (26/12/2017), dan membunuh pilot.

Faksi jihad Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpin Jabhat Fath al Sham sebuah kekuatan tempur yang didominasi oleh bekas afiliasi al-Qaeda di Suriah – mengatakan bahwa HTS berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur kami.

Kantor berita resmi rezim Suriah SANA melaporkan bahwa pilot pesawat itu ditembak oleh pejuang Hayat Tahrir al-Sham yang berada di pedesaan Hama, lansir Middle East eye.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Ia menambahkan bahwa militer Rusia melakukan “operasi terkonsentrasi” terhadap para pejuang di provinsi Hama, setelah jatuhnya pesawat tersebut.

Seorang sumber mengatakan bahwa para pejuang sedang mencari pilot lain yang mereka percaya selamat dari kecelakaan itu.

Angkatan udara dan tentara rezim Syiah Nushairiyah Assad, yang didukung oleh agresor Rusia dan milisi Syiah Internasional yang didukung Iran, telah meningkatkan serangan di Hama dalam beberapa pekan terakhir, mendorong ke utara menuju benteng pertahanan mujahidin Suriah di Idlib.

Hayat Tahrir al Sham Tembak Jatuh Drone Syiah Hizbullah di Qalamoun

Tentara rezim Suriah mengklaim bahwa mereka merebut kota Tal al-Aswad, sebelah selatan provinsi Idlib, pada hari Selasa.

Anggota bantuan medis dan saksi mata mengatakan puluhan warga sipil juga terbunuh di kota-kota dan desa-desa yang jauh dari garis depan pertempuran akibat pemboman udara rezim Assad dan militer Rusia.

Hayat Tahrir al Sham dan Oposisi Lancarkan Serangan Besar pada Posisi Rezim Assad di Hama