Giliran Qatar Beli Sistem Rudal S-400 pada Rusia

QATAR (Jurnalislam.com) – Qatar sedang menyelesaikan kesepakatan untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia, kata duta besar Qatar untuk Moskow, Kamis (25/1/2018).

“Negosiasi ini berada dalam stadium lanjut,” kata Fahad bin Mohammed Al-Attiyah kepada kantor berita negara Rusia TASS, World Bulletin melaporkan.

Pembicaraan juga terus berlanjut untuk pembelian “teknologi ground force,” tambahnya.

Turki Lanjutkan Beli Rudal S-400 Rusia, NATO Ketar-ketir

Dipimpin oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar Juni lalu dengan tuduhan Doha memiliki hubungan dengan ekstremis Islam dan Syiah Iran .

Qatar membantah tuduhan tersebut. Negara Teluk yang terisolasi tersebut telah meningkatkan upaya diplomatik dan perdagangan di tempat lain untuk melawan isolasi regionalnya.

Bulan lalu, Rusia mengumumkan telah menyelesaikan negosiasi dengan Turki untuk penjualan sistem rudal pertahanan S-400, mengejutkan mitra mereka di NATO.

Gelar Operasi Militer di Suriah, Sekjen NATO: Turki Memiliki Hak

MADRID (Jurnalislam.com) – Turki memiliki hak untuk membela diri seperti semua negara lain, sekretaris jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan saat Turki terus menargetkan posisi militer PYD/YPG di Suriah utara.

Berbicara pada sebuah konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy di Madrid pada hari Kamis (25/1/2018), Stoltenberg mengatakan: “Turki paling menderita akibat serangan teroris selama bertahun-tahun di negaranya,” lansir Anadolu Agency.

“Dan Turki, seperti semua negara lainnya, memiliki hak untuk membela diri,” katanya.

Stoltenberg menyoroti bahwa ini perlu dilakukan “secara proporsional dan terukur.”

“Itulah pesan yang saya sampaikan setiap kali saya membahas masalah ini dengan para pemimpin NATO termasuk kepemimpinan politik di Turki.”

Saat Pertempuran Berlangsung di Suriah, Erdogan Kunjungi Pusat Komando Militer

Turki pada hari Sabtu meluncurkan Operation Olive Branch untuk menyingkirkan teroris PYD/PKK dan IS dari kota Afrin.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Moskow: Pentagon Persenjatai Milisi PYD dengan Senjata Canggih

Militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” untuk tidak membahayakan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Syiah Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror dengan cuma-cuma.

Stoltenberg mengingat percakapan teleponnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pekan lalu dan mendesak “kontak langsung” antara Turki dan Amerika Serikat untuk menemukan cara terbaik demi mengatasi polemik di Suriah utara.

AS Bentuk 30.000 Pasukan Teror di Suriah, Erdogan: Tenggelamkan!

AS mendukung PYD/PKK, yang dianggap oleh Ankara sebagai cabang Suriah dari organisasi teror PKK yang telah berperang lebih dari 30 tahun melawan negara Turki. Serangan teror telah mengakibatkan puluhan ribu kematian, termasuk perempuan dan anak-anak.

Dukungan Amerika untuk kelompok teror tersebut telah lama menjengkelkan Ankara saat Washington melihat kelompok payung PYD/PKK, SDF, sebagai “mitra terpercaya” dalam menyediakan senjata dan peralatan tempur walaupun Turki keberatan.

Saat Pertempuran Berlangsung di Suriah, Erdogan Kunjungi Pusat Komando Militer

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengunjungi sebuah pusat komando militer di provinsi selatan Hatay pada hari Kamis (25/1/2018) saat operasi yang sedang berlangsung di Suriah utara memasuki hari keenam, menurut sumber presiden.

Erdogan didampingi oleh Menteri Pertahanan Nasional Nurettin Canikli, Kepala Staf Umum Jenderal Hulusi Akar, Komandan Komando Angkatan Darat Kedua Letnan Jenderal Ismail Metin Temel, Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag dan Gubernur Hatay Erdal Ata, kata sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena pembatasan berbicara dengan media, lansir Anadolu Agency.

Pusat komando ditugaskan menjalankan Operation Olive Branch.

Erdogan memperoleh perkembangan terbaru mengenai kemajuan operasi oleh komandan militer melalui konferensi video dengan pusat operasi lainnya dari lapangan, sumber tersebut menambahkan.

Erdogan kepada Trump: Tarik Pasukan AS dari Manbij

Dalam sambutannya kepada tentara di markas, Erdogan mengulangi bahwa operasi akan berlanjut sampai mereka mendapatkan hasilnya.

Dia juga mengulangi bahwa Turki tidak mengincar tanah negara lain, dan Afrin akan diserahkan ke pemilik aslinya segera setelah dibebaskan dari serangan teroris, kata sumber tersebut.

Turki pada hari Sabtu mulai meluncurkan Operation Olive Branch untuk menghapus teroris PYD/PKK dan IS dari Afrin.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Ini Alasan Erdogan Gelar Operasi Militer di Suriah

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” untuk tidak membahayakan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror dengan cuma-cuma.

Serangan Udara Koalisi Arab Hantam Markas Syiah Houthi di Taiz

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pesawat tempur koalisi Arab meluncurkan beberapa serangan yang menargetkan lokasi milisi Syiah Houthi di sisi utara dan barat kota Taiz, Al Arabiya melaporkan, Kamis (25/1/2018)

Saksi mata mengkonfirmasi bahwa pemboman tersebut menargetkan markas milisi Houthi di pintu masuk barat kota, di jalan antara Taiz, Hodeidah, daerah Madarat dan pabrik sabun dan sebuah kamp pertahanan udara.

Begini Laporan PBB Tentang Pelanggaran HAM Koalisi Arab dan Houthi dalam Perang Yaman

Tentara Yaman mengkonfirmasi pada hari Rabu tentang kematian seorang pemimpin Houthi dan penangkapan seorang pemimpin lainnya di Direktorat Razih, kubu utama Houthi, di provinsi Saada di bagian utara negara tersebut.

Erdogan kepada Trump: Tarik Pasukan AS dari Manbij

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump dalam sebuah percakapan telepon pada hari Rabu (24/1/2018) bahwa tentara AS harus menarik diri dari wilayah Manbij di Suriah utara, kata menteri luar negeri Turki, Kamis (25/1/2018).

Pada hari Rabu, sebelum teleponnya dengan Trump, Erdogan mengatakan bahwa Turki akan memperluas operasi militernya di Suriah ke kota Manbij, sebuah langkah yang berpotensi membawa pasukan Turki ke dalam konfrontasi terbuka dengan pihak sekutu NATO mereka, Amerika Serikat.

Seorang pejabat Turki mengatakan bahwa siapa pun yang mendukung milisi YPG akan menjadi “target”, sebuah peringatan yang cenderung membuat Amerika Serikat marah karena pasukannya bekerja sama dengan kelompok bersenjata Kurdi di wilayah Suriah utara, lansir Aljazeera.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Komentar Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag pada hari Kamis muncul setelah Turki mengancam untuk menyerang kota Manbij, sekitar 100 km timur Afrin, sebagai bagian dari operasi lintas perbatasan melawan wilayah Afrin, yang dikendalikan oleh pasukan Kurdi dukungan AS.

AS memiliki sekitar 2.000 tentaranya yang bermarkas di Manbij, yang bekerja bersama YPG dalam memerangi Islamic State (IS).

Jika AS ingin “menghindari konfrontasi dengan Turki – yang tidak mereka atau Turki inginkan – jalan untuk ini jelas: mereka harus mengurangi dukungan yang diberikan kepada teroris YPG/PYD”, Bozdag mengatakan kepada penyiar Turki A Haber.

“Mereka yang mendukung organisasi teroris akan menjadi sasaran dalam pertempuran ini. Amerika Serikat perlu meninjau kembali tentaranya serta elemen yang memberi dukungan kepada teroris di lapangan sedemikian rupa untuk menghindari konfrontasi dengan Turki,” katanya.

Tidak ada tanggapan langsung dari AS atas komentar Bozdag pada hari Kamis.

Koalisi militer AS yang beroperasi di Manbij pada hari Rabu mengatakan tentara Amerika di sana memiliki hak untuk membela diri dari serangan apapun.

“Pasukan koalisi yang berada di daerah itu memiliki hak yang melekat untuk membela diri dan akan melakukannya jika perlu,” kata juru bicara Kolonel Ryan Dillon.

Juru bicara Pentagon Dana White mengatakan pada hari Kamis bahwa dia telah melihat laporan media tentang Turki mendesak AS untuk memindahkan pasukan dari Manbij, namun dia tidak tahu apakah itu sedang dipertimbangkan.

Ini Alasan Erdogan Gelar Operasi Militer di Suriah

Turki melancarkan serangannya melawan YPG di Afrin sepekan yang lalu. Militer mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “menetralisir” lebih dari 300 pasukan di Suriah utara sejak operasi dimulai.

Turki menganggap YPG – yang dilatih, dipersenjatai dan didukung oleh AS untuk berperang melawan IS – sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan teror berdarah selama bertahun-tahun di negara Turki.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg membela tindakan militer Turki namun mendesak agar berhati-hati.

“Turki adalah salah satu negara NATO yang paling menderita akibat serangan terorisme,” kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.

“Semua negara memiliki hak untuk membela diri, tapi ini harus dilakukan dengan cara yang proporsional dan terukur.”

Sementara itu, administrasi Afrin yang dipimpin Kurdi meminta rezim Syiah Assad Suriah untuk mempertahankan wilayah tersebut melawan serangan Turki.

“Kami meminta negara Suriah untuk melaksanakan kewajiban negaranya terhadap Afrin dan melindungi perbatasannya dengan Turki dari serangan pasukan Turki … dan mengerahkan angkatan bersenjata Suriah untuk mengamankan perbatasan wilayah Afrin,” katanya dalam sebuah pernyataan di situsnya.

Tokoh Utama Partai Anti Islam Jerman Mengundurkan Diri dan Masuk Islam

JERMAN (Jurnalislam.com) – Seorang politisi terkemuka dari partai Alternative for Germany (AfD) telah masuk Islam dan mengundurkan diri dari jabatannya di partai anti-Muslim itu, partai tersebut mengkonfirmasi.

Arthur Wagner, seorang anggota terkemuka partai sayap kanan di negara bagian Jerman timur di Brandenburg, telah memeluk agama Islam dan mengundurkan diri dari AfD karena “alasan pribadi”, juru bicara partai mengkonfirmasi, menurut media nasional Deutsche Welle, lansir Aljazeera, Rabu (24/1/2018).

Wagner, yang telah menjadi anggota partai sejak tahun 2015, menolak berkomentar kepada Tagesspiegel, surat kabar harian yang pertama kali mengabarkan kabar pertobatannya.

Baca juga: 

“Itu urusan pribadi saya,” katanya pada harian itu.

Di komite negara bagian Brandenburg, Wagner fokus pada gereja dan komunitas religi, menurut Deutsche Welle.

AfD telah berkampanye melawan pengungsi dan migran dan membuat sejarah ketika memenangkan 12,6 persen suara dalam pemilihan federal pada bulan September 2017, memasuki Bundestag untuk pertama kalinya.

AfD menjadi partai terbesar ketiga di Bundestag. Berita tersebut memicu cemoohan pada media sosial. Banyak pengguna Twitter yang menunjuk pada ironi Wagner untuk masuk Islam setelah menjadi anggota partai berpangkat tinggi yang mencerca kehadiran Muslim di Jerman.

Baca juga: 

Emily Dische-Becker mengatakan: “Sharia meningkatkan kecepatannya saat politisi dari islamophobic Jerman, AfD, masuk Islam.”

Mark Berry berkata, “Saya benar-benar tidak mengerti Nazi.”

AfD telah lama berusaha membantah tuduhan bahwa mereka adalah Islamofobia.

Awalnya didirikan pada tahun 2013 sebagai partai Eurosceptic, AfD memimpin sebagai suara anti-pengungsi paling agresif di negara ini sementara hampir satu juta pencari suaka tiba di Jerman pada tahun 2015.

Dalam RUU pertama partai sejak keberhasilan pemilihan pada bulan September, AfD mengusulkan untuk mengubah Undang-undang Tempat Tinggal Jerman dengan melarang pengungsi membawa kerabat mereka dari negara-negara yang dilanda perang.

Baca juga: Sebarkan Kebencian di Medsos, Politisi Jerman Anti Islam Ini Hadapi Denda $ 50 Juta

Awal bulan ini, Beatrix von Storch, wakil pemimpin kelompok parlemen AfD, diblokir dari Facebook dan Twitter setelah menerbitkan tulisan-tulisan Islamofobik yang mengkritik polisi karena mengirim update berbahasa Arab pada Malam Tahun Baru.

Dia menulis: “Apa yang terjadi di negara ini? Mengapa situs polisi resmi men-tweet dalam bahasa Arab? Menurut Anda apakah ini untuk menyenangkan kaum Muslim?”

Partai tersebut juga berusaha melarang pembangunan masjid di Jerman. Pada bulan Maret 2016, cabang Bavaria partai tersebut menerbitkan sebuah pernyataan kebijakan yang menyerukan diakhirinya “pembangunan dan operasi” masjid-masjid di wilayah tersebut, Deutsche Welle melaporkan pada saat itu.

Pada bulan Februari tahun itu, pemimpin partai Petry Frauke memicu kemarahan saat dia menyatakan bahwa penjaga perbatasan Jerman harus “menggunakan senjata api jika perlu” untuk mencegah “penyeberangan perbatasan ilegal” oleh para pengungsi dan migran.

Baca juga: Islamic Council: Islamophobia di Jerman Meningkat, Sudah 91 Masjid di Serang

Pada bulan April 2016, Alexander Gauland dari AfD menyatakan bahwa Jerman harus tetap menjadi “negara Kristen” dan “Islam adalah entitas asing.”

Meningkatnya retorika anti-Muslim juga bertepatan dengan lonjakan kekerasan terhadap pencari suaka.

Kementerian dalam negeri Jerman mendokumentasikan 3.533 serangan terhadap pengungsi Muslim dan akomodasi bagi mereka – hampir 10 serangan per hari – sejak 2016.

Ini Alasan Erdogan Gelar Operasi Militer di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Dalam operasi militernya di Suriah barat laut, Turki ingin mencari keadilan, bukan mengambil alih wilayah, kata presiden Turki, Rabu (24/1/2018).

Menghadapi pejabat lokal di kompleks kepresidenan, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa dalam operasi di Afrin, Suriah, di sepanjang perbatasan Turki, Angkatan Bersenjata Turki yang didukung oleh pejuang Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) mengendalikan wilayah ini.

“Perhatian kami adalah pembentukan keadilan, bukan merebut tanah,” kata Erdogan, lansir Anadolu Agency.

Turki pertama-tama akan menghancurkan para teroris dan, setelah Operation Olive Branch (Operasi Ranting Zaitun) berakhir, mengupayakan 3,5 juta pengungsi Suriah di Turki untuk kembali ke rumah mereka dengan selamat, tambahnya.

Dalam pidatonya, Erdogan mencatat bahwa 268 milisi telah dinetralkan, sementara tentara Turki dan pasukan FSA menderita delapan pasukan yang martir selama empat hari terakhir.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Militer umumnya menggunakan istilah “menetralkan” untuk menandakan bahwa target telah dibunuh.

“Turki mencoba untuk mengalahkan sebuah organisasi [teror] yang memposting foto anak-anak berusia 13 atau 15 tahun serta wanita tua yang tidak berdosa dengan senjata ditaruh di tangan mereka dan memaksa mereka yang membutuhkan roti untuk membayarnya dengan sejumlah uang.”

Erdogan menambahkan bahwa kelompok teror PYD/PKK telah membebaskan semua tahanan militer pasukan Islamic State (IS) dengan syarat mereka akan berperang melawan tentara Turki dan FSA di wilayah Afrin, Suriah.

“Organisasi teror ini [PYD, PKK, IS, YPG, kiri jauh DHKP-C] semuanya sama… Ini adalah kelompok teroris yang memiliki tujuan yang sama dalam skenario yang sama dengan peran yang berbeda.”

Presiden juga mengecam orang-orang yang, katanya, salah mengartikan operasi tersebut sebagai “melawan saudara laki-laki Kurdi kita, namun jelas bahwa operasi ini menargetkan beberapa organisasi teror”.

Erdogan mengingat tuduhan yang sama dilemparkan melawan Turki selama Operasi Perisai Euphrates.

“Turki telah menetralkan lebih dari 3.000 pasukan IS dan ratusan milisi PYD YPG dalam Operasi Perisai Euphrates, katanya, menambahkan bahwa Turki telah mengupayakan hampir ribuan warga Suriah untuk kembali ke rumah mereka dengan aman.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

“Saya ingin tahu apakah mereka yang menyerang Suriah tidak memperhatikannya?”

Presiden Turki mengatakan operasi tersebut akan berlangsung sampai teroris terakhir tewas.

Turki meluncurkan operasi tersebut pada hari Sabtu lalu untuk menghapus kekuatan bersenjata PYD / PKK dan IS dari Afrin.

Staf Umum Turki mengatakan operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta melindungi penduduk Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Dikatakan operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional.

Pihak militer juga mengatakan bahwa hanya target teroris yang dihancurkan, dan “sangat ditekankan” untuk menghindari kerusakan bagi penduduk sipil.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Syiah Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror dengan Cuma-cuma.

Masjid di Turki Dihantam Roket dari Suriah

KILIS (Jurnalislam.com) – Sedikitnya dua warga sipil terbunuh dan enam lainnya terluka saat sebuah roket yang ditembakkan oleh milisi PYD/PKK dari Suriah menghantam sebuah Masjid di provinsi Kilis, Turki, Rabu (24/1/2018), menurut gubernur provinsi tersebut.

Serangan roket itu terjadi setelah Turki melancarkan operasi di Afrin Suriah melawan kelompok PKK/KCK/ PYD-YPG dan IS pada hari Sabtu.

Sebuah roket menghantam Masjid Calik di Kilis sekitar pukul 6.10 malam (1510GMT), Gubernur Kilis Mehmet Tekinaslan mengatakan kepada Anadolu Agency.

Tekinaslan mengkonfirmasi korban tewas pertama, mengatakan seorang warga sipil, yang terluka parah, telah meninggal di rumah sakit. Sebuah pernyataan pers yang dikeluarkan dari kantor gubernur pada hari Rabu mengatakan bahwa seorang warga sipil kedua juga menderita luka.

“Roket dari Suriah menghantam Masjid Calik saat sholat Isya,” kata gubernur tersebut.

Sementara itu, roket lain menabrak sebuah rumah, di mana lima orang, termasuk empat anak, menderita akibat asapnya dan dilarikan ke rumah sakit, tambahnya.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

Pasukan Angkatan Bersenjata Turki, yang ditempatkan di perbatasan, membalas serangan tersebut, menurut sebuah sumber militer.

Sumber tersebut mengatakan bahwa target penyerang terdeteksi oleh radar.

Turki pada hari Sabtu meluncurkan Operation Olive Branch untuk membersihkan teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah barat laut.

Menurut militer, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah, katanya.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

Militer juga mengatakan bahwa hanya target pasukan PYD/PKK yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” agar tidak merugikan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi milisi PYD/PKK sejak Juli 2012, ketika rezim Syiah Assad menyerahkan kota itu ke kelompok teror dengan cuma-cuma.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Lebih dari 200 warga sipil terbunuh dalam serangan rezim Assad di distrik Ghouta Timur yang dikepung sejak 29 Desember, menurut laporan badan pertahanan sipil White Helmets (Helm Putih), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan Rabu (24/1/2018), White Helmets mengatakan bahwa serangan mortir dan roket rezim Syiah Assad di daerah Kafr Batna, Beit Sawa dan Irbin telah menyebabkan sedikitnya 216 orang tewas, termasuk 35 wanita dan 53 anak-anak.

PBB Kecam Pembantaian Warga Sipil Ghouta Timur oleh Rezim Assad dan Rusia

Dalam sebuah laporan tahunan yang baru dirilis, Helm Putih meaporkan bahwa sebanyak 1.337 warga sipil telah terbunuh di Ghouta Timur pada tahun 2017 karena serangan yang terus berlanjut oleh pasukan rezim.

Rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, Ghouta Timur, di pinggiran kota Damaskus, tetap berada di bawah pengepungan dan blokade rezim Nushairiyah Assad yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Milisi Kurdi yang didukung penuh militer AS telah menempatkan pasukannya ke garis depan kota Manbij Suriah untuk memerangi pergerakan militer Turki setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan menuju Manbij setelah meluncurkan operasi lintas batas di Afrin, lansir Aljazeera Rabu (24/1/2018).

Manbij berjarak sekitar 100km di timur Afrin dimana Amerika Serikat menempatkan personil tempurnya dalam perang melawan Islamic State (IS), sehingga pasukan dari dua Negara sekutu NATO tersebut dapat berhadapan langsung di medan perang.

Koalisi militer AS yang beroperasi di Manbij mengatakan bahwa tentara di sana memiliki hak untuk mempertahankan diri dari serangan apapun, dan tidak akan ragu untuk melakukannya.

Digempur Turki, Pentagon: Amerika akan Tarik Dukungan Jika Pasukan YPG Meninggalkan Operasi

“Jelas kita sangat waspada terhadap apa yang terjadi, khususnya di wilayah Manbij karena di situlah basis utama kekuatan koalisi kita berada,” kata juru bicara Kolonel Ryan Dillon kepada kantor berita Reuters. “Kekuatan koalisi yang berada di daerah itu memiliki hak yang melekat untuk membela diri dan akan melakukannya jika diperlukan.”

Sharfan Darwish dari Dewan Militer Manbij – sebuah unit milisi YPG Suriah-Kurdi yang saat ini diserang oleh Turki di Afrin – mengatakan pasukannya bersiap untuk menghadapi tentara Turki.

“Kami siap siaga untuk menanggapi serangan apapun. Tentu koordinasi kita dengan koalisi internasional terus berlanjut sehubungan dengan perlindungan Manbij,” kata Darwish.

Situasi intensif di Suriah utara menyebabkan sebuah panggilan telepon antara Erdogan dan Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu.

Trump mengungkapkan keprihatinannya tentang “retorika destruktif dan palsu” Turki atas situasi tersebut dan mendesak agar pasukan AS dan Turki tidak terlibat dalam pertempuran.

“Dia mendesak Turki untuk melakukan deescalate, membatasi tindakan militernya, dan menghindari korban sipil dan pengungsi,” kata sebuah pernyataan dari Gedung Putih.

“Dia mendesak Turki untuk berhati-hati dan menghindari tindakan yang mungkin menimbulkan risiko konflik antara pasukan Turki dan Amerika.”

Turki Perluas Operasi Militernya di Suriah

Erdogan Rabu sebelumnya mengancam akan memperpanjang dan memperluas serangan Afrin ke kota Manbij untuk “membersihkan wilayah kita dari masalah ini sepenuhnya”.

Turki melihat YPG, yang dilatih, dipersenjatai dan didukung oleh Amerika Serikat untuk berperang melawan IS, merupakan perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah berperang dalam pemberontakan berdarah selama bertahun-tahun di Turki.

Erdogan menunjukkan satu tujuan operasi anti-YPG adalah menciptakan zona aman dimana sekitar lebih dari tiga juta warga Suriah yang melarikan diri ke Turki dalam perang sipil dapat kembali.

“Pertama, kita akan memusnahkan teroris YPG/PYD, maka kita akan membuat kawasan ini dapat ditinggali. Untuk siapa? Untuk 3,5 juta tamu Suriah di tanah kita,” kata Erdogan.

Pemerintah Turki menyerang “propaganda” yang melawan tindakan lintas batasnya. Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin, mendesak media dan masyarakat untuk waspada terhadap berita palsu, distortif dan provokatif.