Ketika Hubungan AS dan Turki pada Titik Kritis

ANKARA (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri AS mengakui bahwa hubungan negaranya dengan Turki berada “pada titik kritis,” karena rekannya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, menuntut agar Amerika Serikat “mengubah kata-kata menjadi tindakan” untuk menyelesaikan perbedaan mereka dalam berurusan dengan krisis Suriah.

Pada konferensi pers bersama di Ankara pada hari Jumat (16/02/2018), Rex Tillerson mengatakan bahwa aliansi AS-Turki “terlalu berharga” bagi kedua negara untuk tidak melakukan tindakan bersama, terutama mengenai perselisihan mereka mengenai dukungan militer AS terhadap milisi YPG Kurdi Suriah bersenjata, yang dianggap sebagai sebuah “kelompok teroris” oleh pemerintah Turki.

Berharap Turki Melunak dalam Operasi MIliter di Suriah, Sekneg AS Temui Erdogan di Ankara

“Kami bukan aliansi kenyamanan atau kepentingan sementara. Ini adalah aliansi teruji yang dibangun berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati,” kata Tillerson.

Berdiri di sebelah Tillerson, Cavusoglu mengatakan bahwa hubungan Turki dengan AS “berada pada tahap kritis”, dan kedua sekutu perlu memutuskan apakah “memperbaiki pagar, atau pergi ke arah yang berbeda.”

Cavusoglu mengatakan “beberapa janji” yang dibuat AS “tidak ditepati,” menyinggung tuntutan Turki agar YPG yang didukung AS meninggalkan kota Manbij di Suriah dan bergerak ke timur Sungai Efrat.

Sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan AS-Turki, Cavusoglu mengumumkan bahwa kedua negara telah sepakat membentuk “mekanisme bersama” untuk menangani perselisihan dan untuk mengambil “tanggapan bersama.”

Tapi baik Cavusoglu maupun Tillerson tidak memberikan rincian tentang rencananya.

Perang kata-kata antara Turki dan AS meningkat sejak Turki melancarkan serangan militer ke wilayah Afrin di Suriah utara pada bulan Januari, dalam upaya untuk membasmi YPG.

Turki juga bereaksi dengan marah terhadap laporan bahwa AS ingin mempersenjatai sebanyak 30.000 tentara Kurdi di Manbij Suriah.

AS Bentuk 30.000 Pasukan Teror di Suriah, Erdogan: Tenggelamkan!

Operasi yang sedang berlangsung telah menyebabkan sedikitnya 30 tentara Turki dan lebih dari seribu pasukan YPG terbunuh, menurut laporan.

Awal pekan ini, Turki menuntut agar AS mengusir YPG dari koalisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Pemerintah Turki memandang YPG sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, yang telah melakukan perang selama puluhan tahun melawan Turki.

Awal bulan ini, Erdogan mengatakan AS mengirim timbunan ribuan senjata ke YPG di Suriah, sebuah laporan yang ditolak Tillerson pada hari Kamis.

Erdogan kemudian mengancam akan memberikan “tamparan Ottoman” – sebuah taktik yang digunakan oleh pasukan Ottoman di abad ke-17 yang, menurut legenda, bisa berakibat fatal – jika AS tidak menyingkir.

Lawan Pasukan AS di Manbij, Turki akan Gunakan Jurus Pasukan Elit Ottoman

Berbicara kepada Al Jazeera, Ibrahim Fraihat, seorang analis Timur Tengah di Institut Doha untuk Studi Pascasarjana, mengatakan bahwa Turki “sangat marah” atas kebijakan AS di Suriah.

Merefleksikan kemarahan Turki terhadap AS, ratusan demonstran bergerak melalui jalan-jalan di Ankara pada hari Jumat untuk memprotes kunjungan Tillerson dan menuntut agar AS memutuskan hubungan dengan YPG.

Jamal Elshayyal dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Ankara, mengatakan bahwa “sangat sulit untuk melihat” bagaimana kedua negara dapat mengatasi perbedaan mereka atas perselisihan YPG.

Sentimen Turki terhadap AS juga meningkat. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini menemukan bahwa 79 persen warga Turki tidak menyukai pemerintah AS, dengan hanya 18 persen yang memiliki pandangan baik/menyukai.

Bahkan mengenai hubungan antar pribadi (people-to-people) 67 persen warga Turki memiliki pandangan bahwa orang Amerika adalah buruk.

Zionis Tambah Masa Tahanan Pemimpin Gerakan Islam Palestina 6 Bulan di Penjara Isolasi

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pengadilan Sentral penjajah Israel di kota selatan Beersheba pada hari Kamis (15/2/2018) menyerang ikon perlawanan Palestina Syeikh Raed Salah dengan enam bulan tambahan masa tahanan penjara isolasi, menurut pengacara Salah, World Bulletin melaporkan.

Salah, pemimpin Islamic Movement yang dilarang penjajah Israel, telah menjalani enam bulan dalam isolasi.

“Pengadilan … hari ini menyetujui permintaan Otoritas Penjara Israel untuk memperpanjang kurungan isolasi Sheikh Salah selama enam bulan lagi,” pengacara Khaled Zbarqa mengatakan.

“Kami tidak melihat pembenaran atau alasan untuk memperpanjang kurungan isolasi kecuali untuk balas dendam, untuk menghukumnya karena kritiknya terhadap kebijakan Israel atas Yerusalem dan Al-Aqsha,” kata Zbarqa.

Pemimpin Gerakan Islam Palestina Dijebloskan ke Penjara Zionis

Menurut pengacara tersebut, Syeikh Salah – yang dilarang mengeluarkan pernyataan pers – mendengar keputusan pengadilan tersebut dengan senyum sinis.

Taleb Abu Arar, seorang anggota Arab dari Knesset (parlemen Israel) mengutuk keputusan pengadilan tersebut.

“Penangkapan dan pengurungan isolasi Salah secara keseluruhan bersifat politis,” kata Abu Arar dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.

Ujug-ujug Aparat Zionis Tangkap Tokoh Utama LSM Arab di Palestina

Musim panas yang lalu, polisi zionis Yahudi menangkap Salah dari rumahnya di kota Umm al-Fahm di Israel utara sebelum mengadili dia dengan tuduhan “menghasut kekerasan”.

Zionis secara resmi melarang Islamic Movement pada tahun 2015 karena diduga terlibat dalam “kegiatan anti-Israel.”

Dengan Senjata Otomatis, Koboy Sekolah AS Ini Terkena 17 Tuduhan Pembunuhan

FLORIDA (Jurnalislam.com) – Polisi negara bagian Florida AS menetapkan seorang remaja berusia 19 tahun yang dicurigai menembak siswa dan orang dewasa di bekas sekolahnya dengan 17 tuduhan pembunuhan berencana.

Remaja pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Nikolas Cruz, pada hari Kamis (15/02/2018) dituduh melepaskan tembakan pada hari Rabu di sebuah sekolah menengah di kota Parkland, yang merupakan salah satu penembakan massal paling mematikan dalam sejarah modern AS.

Pihak berwenang pada Rabu malam memperingatkan bahwa jumlah korban tewas dapat meningkat, karena beberapa dari 15 orang yang terluka dalam kondisi kritis dan menjalani operasi.

Polisi mengatakan Cruz dikeluarkan dari Marjory Stoneman Douglas High School karena masalah disipliner. Pada hari Kamis, pemimpin kelompok supremasi kulit putih di Florida mengkonfirmasi bahwa Cruz telah menjadi anggota.

Aksi Koboy Sekolah Kembali Terjadi di AS

Remaja berusia 19 tahun itu ditahan sesaat setelah penembakan tersebut.

Pejabat mengatakan dia mulai menembak di luar sekolah sekitar pukul 02:40 waktu setempat (19:40 GMT) pada hari Rabu. Beberapa siswa mengira bahwa latihan kebakaran sedang berlangsung.

Penyerang tersebut, yang bersenjatakan senapan AR-15 semiautomatic, masker gas, granat asap dan beberapa tempat peluru penuh amunisi, memasuki sekolah dan melanjutkan amukannya.

Video yang beredar di media sosial jelas memperdengarkan orang-orang di dalam sekolah berteriak “Oh Tuhan!” saat tembakan terjadi.

Seorang siswa mengatakan kepada media lokal bahwa dia harus menunggu di dalam lemari saat sekolah dikunci dalam status “kode merah.”

“Saya benar-benar tidak percaya, saya mengirim SMS kepada teman dan keluarga saya,” kata siswa tersebut kepada WPTV-TV, sebuah afiliasi NBC di West Palm Beach, Florida, setelah dievakuasi dari sekolah tersebut.

“Saya tidak percaya itu benar-benar terjadi,” katanya.

Pria bersenjata tersebut kemudian melarikan diri dari tempat kejadian dan ditahan sekitar satu jam kemudian di sebuah kota tetangga, kata beberapa pejabat.

“Ini adalah situasi yang mengerikan,” kata pengawas sekolah umum Broward County, Robert Runcie kepada The Associated Press. “Ini adalah hari yang mengerikan bagi kami,” tambahnya.

Sheriff Scott menyebut penembakan tersebut “bencana”, dengan mengatakan bahwa “tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya.”

“Doa dan bela sungkawa saya kepada keluarga korban penembakan Florida yang mengerikan,” kata Presiden AS, Donald Trump. “Tidak boleh ada anak, guru atau orang lain yang merasa tidak aman di sekolah Amerika,” tambahnya.

Everytown for Gun Safety Support Fund, sebuah organisasi yang mengadvokasi kontrol senjata, telah mencatat 17 penembakan di sekolah sebelum insiden hari Rabu di Florida untuk tahun ini saja (yang baru berjalan 2 bulan).

Everytown mendefinisikan penembakan di sekolah adalah “kapanpun senjata api dilepaskan di dalam gedung atau lapangan sekolah atau kampus.”

Sedikitnya dua dari 17 penembakan tersebut diklasifikasikan sebagai percobaan atau usaha bunuh diri tanpa niat untuk menyakiti orang lain. Sedikitnya satu penembakan terjadi saat pistol meletus secara tidak sengaja.

Pada bulan Januari, seorang siswa laki-laki berusia 15 tahun diduga menembaki sebuah sekolah menengah di Benton, Kentucky, menewaskan satu orang dan melukai lebih dari selusin lainnya.

Hampir 300 penembakan di sekolah telah dilaporkan sejak 2013 di seluruh AS, kata Everytown.

Penembakan Rabu kemarin adalah di antara 10 penembakan massal yang paling mematikan dalam sejarah AS modern.

Penembakan ini memperbarui perdebatan seputar kontrol senjata di AS.

Tahun lalu, seorang pria bersenjata menembaki sebuah gereja di Texas, menewaskan 26 orang. Sekitar sebulan sebelumnya, penyerang lainnya membunuh sedikitnya 58 orang di sebuah konser di Las Vegas, Nevada.

Pelaku Pembantaian Massal di Gereja AS Seorang Kristen, Trump: Itu Gangguan Mental

Berharap Turki Melunak dalam Operasi MIliter di Suriah, Sekneg AS Temui Erdogan di Ankara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sekretaris negara AS telah memulai kunjungan dua hari ke Turki, di mana Rex Tillerson berharap dapat mengurangi ketegangan antara pejabat AS dan Turki mengenai konflik di Suriah.

Sebuah perang kata-kata antara kedua Negara sekutu NATO tersebut meningkat sejak Turki melancarkan operasi militer ke wilayah Afrin di Suriah utara bulan lalu untuk membasmi pasukan YPG Kurdi, yang menjadi tokoh di antara koalisi kelompok bersenjata dukungan AS.

Pada kunjungan ke Kuwait, Yordania dan Lebanon, Tillerson tiba di ibukota Turki, Ankara, pada hari Kamis (15/02/2018) di mana dia bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan, lansir Aljazeera.

Sekneg AS Ajak Turki Bersatu Lawan IS, Erdogan: Sandiwara IS Sudah Berakhir

Awal pekan ini, Turki menuntut agar AS mengusir YPG dari koalisi the Syrian Democratic Forces (SDF), yang telah memerangi Islamic State (IS) di Suriah dengan dukungan dari AS.

“Kami menuntut hubungan ini berakhir,” kata Nurettin Canikli, menteri pertahanan Turki, kepada wartawan dalam sebuah briefing di Brussels pada hari Kamis.

Pemerintah Turki memandang YPG sebagai perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan serangan selama puluhan tahun melawan Ankara.

“Kami ingin mereka [AS] mengakhiri semua dukungan yang diberikan kepada kelompok PKK Suriah, YPG,” kata Canikli, seperti dilansir kantor berita Reuters.

Awal bulan ini, Erdogan mengatakan AS mengirim ribuan senjata ke YPG di Suriah, sebuah klaim yang ditolak Tillerson pada hari Kamis.

AS “tidak pernah memberikan senjata berat” kepada YPG dan, oleh karena itu, tidak ada yang perlu diambil kembali, kata Tillerson.

Turki juga menuntut agar tentara AS meninggalkan Manjib, sebuah kota Suriah di sebelah timur Afrin yang dipegang oleh milisi Kurdi, atau menghadapi konfrontasi.

Sebagai tanggapan, Paul Funk, komandan pasukan AS di Suriah dan Irak, mengatakan AS dan mitranya di Suriah akan membalas jika diserang.

“Anda menyerang kami, kami akan merespon dengan agresif, kami akan membela diri,” kata Funk, saat berkunjung ke Manjib bulan ini.

Presiden Turki kemudian mengancam akan memberikan “tamparan Ottoman” – sebuah taktik yang digunakan oleh pasukan Ottoman di abad ke-17 yang, menurut legenda, bisa berakibat fatal – jika AS tidak menyingkir.

Saat Tillerson mengeluarkan pernyataan lebih damai dengan mengatakan pekan ini bahwa AS “sangat sadar akan masalah keamanan yang dikhawatirkan Turki,” para pejabat di Ankara lebih blak-blakan tanpa basa-basi.

“Hubungan kami telah mencapai tahap yang sangat kritis,” kata Mevlut Cavusoglu, menteri luar negeri Turki, pada 12 Februari, media setempat melaporkan.

“Walaupun kita memperbaiki hubungan, mereka tetap akan memperburuk sepenuhnya.”

Realitas politik yang semakin kompleks di Suriah sesuai dengan gambaran Staffan de Mistura, utusan khusus PBB untuk Suriah, yaitu situasi “paling kejam, berbahaya dan mengkhawatirkan” yang pernah dia saksikan sejak dia menyelesaikan jabatannya empat tahun lalu.

“Apa yang kita lihat di Suriah hari ini tidak hanya membahayakan pengaturan de-eskalasi dan stabilitas regional, namun juga merongrong upaya untuk solusi politik,” kata Mistura pada hari Rabu.

31 Pasukan Turki dan 1.369 Milisi Tewas dalam Operasi Militer di Suriah

Namun Suriah bukanlah satu-satunya penyebab hubungan tegang antara Washington dan Ankara.

Tahun lalu, kedua negara menunda sementara layanan visa non-imigran di kedutaan masing-masing karena penangkapan beberapa anggota staf di konsulat AS di Istanbul.

Pejabat Turki melaporkan anggota staf memiliki hubungan dengan Fethullah Gulen, yang dituduh Ankara bertanggung jawab atas kudeta mematikan yang gagal pada tahun 2016.

Walaupun Gulen, yang mengasingkan diri sendiri di AS, membantah tuduhan tersebut, pemerintah Turki memberikan tekanan kepada Washington untuk mengekstradisi Gulen dalam menghadapi tuduhan atas usaha kudeta.

Amerika Serikat sejauh ini menolak untuk mengekstradisi Gulen.

Kini Giliran Bocah-bocah Muslim Rohingya dapat Dukungan Cristiano Ronaldo

PORTUGAL (Jurnalislam.com) – Bintang Real Madrid asal Portugal, Cristiano Ronaldo pada hari Kamis (15/02/2018) berbagi foto di Twitter untuk mendukung anak-anak Rohingya.

“Satu dunia di mana kita semua mencintai anak-anak kita. Tolong bantu #Rohingya #Refugee,” tulisnya, menambahkan tautan ke halaman nirlaba Save the Children di mana orang dapat memberikan sumbangan online untuk tujuan tersebut,lansir World Bulletin.

Gambar tersebut menunjukkan seorang ayah dan anak di sebuah klinik kesehatan yang dikelola oleh badan amal di sebuah kamp pengungsi di Bangladesh.

Dukungan Ronaldo untuk Anak-anak Suriah yang Diunggah di Youtube Menjadi Viral

The Rohingya Crisis Children’s Relief Fund (Dana Bantuan Kemanusiaan Anak-anak Rohingya) akan membantu supply air, makanan dan tempat tinggal bagi anak-anak dan keluarga pengungsi.

Selain itu, ia memasang foto dirinya dengan keempat anaknya.

Ronaldo bekerja dengan badan hak anak. Sebelumnya, dia telah menyumbangkan makanan, pakaian dan bantuan medis kepada keluarga yang terkena dampak konflik di Suriah.

Cristiano Ronaldo Gandeng Bocah Pengungsi Suriah ke Lapangan Sebelum Bertanding

Sejak 25 Agustus, lebih dari 656.000 warga Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari sebuah operasi militer di mana pasukan Buddhis Myanmar dan gerombolan masyarakat Buddhis membunuh pria, wanita dan anak-anak, memutilasi, memperkosa, menyiksa, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.

200 Lebih Masjid di Inggris Gelar “Open House” Bagi Masyarakat Non Muslim

LONDON (Jurnalislam.com) – Acara tahunan yang menyambut warga di Masjid-masjid di seluruh Inggris dibuka pada hari Kamis (15/02/2018) dengan tujuan memulai dialog antar agama, lansir Anadolu Agency.

Visit My Mosque (Kunjungi Masjid Saya), yang digagas the Muslim Council of Britain-MCB (Dewan Muslim Inggris), kelompok terbesar yang mewakili masyarakat di Inggris, dimulai pada tahun 2015.

Upacara pembukaan di the Muslim Cultural Heritage Centre (Pusat Warisan Budaya Muslim) di London tengah melibatkan penonton dalam sesi tanya jawab.

Panel pembicara termasuk Sekretaris Jenderal MCB, Harun Khan, anggota parlemen Buruh, Emma Dent dan anggota dewan Gerard Hargreaves dari the Royal Borough of Kensington and Chelsea.

“Dimulai dengan 20 masjid pada tahun 2015, prakarsa ini berkembang dalam popularitas, meningkat menjadi 80 dan kemudian 150 masjid ikut ambil bagian dalam tahun-tahun berikutnya,” kata Khan.

150 Masjid di Inggris Gelar Acara “Kunjungi Masjid Kami”

“Februari lalu, dengan larangan Presiden AS Donald Trump bagi Muslim, puluhan ribu warga Inggris berbondong-bondong ke masjid terdekat mereka untuk menunjukkan dukungan dan solidaritas mereka,” tambahnya.

Dengan lebih dari 200 masjid di seluruh Inggris berpartisipasi dalam acara akhir pekan ini, sejumlah masjid terbesar akan membuka pintu mereka bagi anggota masyarakat non Muslim di tahun 2018 ini, dengan tema ‘Open Doors, Open Mosques, Open Communities.

Dent mengatakan: “Hari ini adalah hari Pembukaan dan hari Ahad adalah hari untuk merayakannya. Bukalah pintu Anda dan berteriaklah dengan lantang tentang Islam, dan biarkan tetangga Anda masuk. Anda sebagai sebuah komunitas telah mengajarkan saya banyak hal tentang agama Anda dan kemanusiaan serta tentang melawan stereotip.”

Khan mengungkapkan hasil jajak pendapat yang mengejutkan. Hampir 70 persen orang Inggris tidak pernah berada di tempat ibadah lain, dan hampir 90 persen tidak pernah berada di dalam sebuah masjid, dalam beberapa tahun terakhir.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov tersebut ditugaskan oleh MCB.

Penting untuk dicatat bahwa 18 Februari bukan satu-satunya hari dimana masyarakat Inggris bisa mengunjungi masjid. Masjid-masjid di seluruh Inggris terbuka untuk umum sepanjang tahun.

Aksi Koboy Sekolah Kembali Terjadi di AS

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Beberapa korban dirawat karena luka-luka saat terjadi penembakan pada hari Rabu (14/2/2018) di Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida.

Media lokal melaporkan sebanyak 20 orang kemungkinan terluka.

Deputi berada di tempat kejadian dan penembak tetap pada umumnya, kantor Sheriff Broward mengatakan di Twitter, lansir Anadolu Agency.

Karena Pelakunya Bukan Muslim, Trump dan Gedung Putih Tolak Sebut Teroris Domestik

Orang-orang disarankan untuk menghindari area tersebut.

Rekaman adegan menggambarkan siswa dikawal keluar dari sekolah dalam kelompok kecil di tengah banyaknya polisi yang berjaga.

Donald Trump telah menyadari situasi tersebut, kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Anggota kongres Florida Frederica Wilson menyebut penembakan tersebut “memilukan” di Twitter, mengirimkan perhatian dan doanya kepada para korban.

Pelaku Pembantaian Massal di Gereja AS Seorang Kristen, Trump: Itu Gangguan Mental

“Sungguh menyedihkan bahwa insiden bersenjata ini terus terjadi di sekolah-sekolah, tempat di mana anak-anak kita seharusnya merasa dan menjadi yang paling aman!” dia menambahkan.

Berita ini masih berkembang.

Sekneg AS Ajak Turki Bersatu Lawan IS, Erdogan: Sandiwara IS Sudah Berakhir

KUWAIT (Jurnalisam.com) – AS percaya bahwa pergerakan militer Turki ke Suriah utara mengacaukan perang besar AS melawan kelompok Islamic State (IS).

Sekretaris Negara AS Rex Tillerson meminta sekutu mereka Turki untuk bersatu dalam perang melawan IS dan mengkritik operasi Turki di Afrin.

“Akhir operasi tempur utama tidak berarti kita telah mengalahkan IS seutuhnya,” kata Tillerson pada hari Selasa dalam pertemuan di Kuwait, lansir Aljazeera Rabu (14/2/2018).

“Operasi Turki mengurangi pertarungan kita untuk mengalahkan IS di Suriah timur … Pasukan dialihkan dari sana ke Afrin,” katanya.

Namun Erdogan mengatakan bahwa AS tidak dapat lagi menggunakan pertarungan IS sebagai alasan, karena kelompok tersebut – menurut presiden – telah banyak dikalahkan di Suriah.

“Mulai sekarang, tidak ada yang punya hak untuk menggunakan IS sebagai alasan. Sandiwara IS telah berakhir,” katanya.

Lawan Pasukan AS di Manbij, Turki akan Gunakan Jurus Pasukan Elit Ottoman

AS telah lama mendukung SDF sebagai “sekutu yang andal” dalam pertempurannya melawan IS, meskipun Ankara sangat keberatan. Ankara melihat YPG, yang memimpin koalisi SDF, sebagai cabang Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang.

Sekitar 40.000 orang telah terbunuh di Turki sejak PKK melancarkan perangnya melawan negara Turki pada 1980-an, demi mencari lebih banyak otonomi bagi warga Kurdi.

Tillerson diperkirakan akan berkunjung ke Turki pada hari Kamis.

Kunjungan Tillerson yang direncanakan ke Turki menunjukkan betapa “seriusnya masalah ini,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert pada hari Selasa, mengacu pada perbedaan mencolok antara kepentingan Turki dan AS di Suriah dalam sebuah briefing harian.

“Ini adalah salah satu bidang keprihatinan yang sangat, sangat mendalam dari pihak pemerintah,” kata Nauert kepada wartawan di Washington.

“Kami tentu tidak ingin melihat kekerasan meningkat lebih lanjut,” tutup Nauert.

Lama Dinanti-nanti Akhirnya Bantuan Kemanusian Tiba di Ghouta Timur yang Terkepung

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Sebuah konvoi bantuan internasional berhasil mengirimkan bantuan pangan dan kemanusiaan ke daerah oposisi yang dikepung pasukan rezim Syiah Suriah di dekat Damaskus, sebagai bantuan yang pertama kali didistribusikan untuk mencapai Ghouta Timur Suriah sejak akhir November.

Konvoi tersebut mengirimkan pasokan bagi “lebih dari 7.000 warga sipil untuk sebulan” di kota Nashabiyah, sekitar 19km timur Damaskus, pada hari Rabu (14/02/2018), kata Jakob Kern, direktur Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah kepada Aljazeera.

“Kami membutuhkan lebih banyak konvoi seperti itu. Pertarungan harus berhenti untuk memberikan bantuan bagi semua warga sipil yang membutuhkan,” kata Kern di Twitter.

Sembilan truk bantuan mengirimkan paket makanan, tepung, obat-obatan, bantuan nutrisi dan obat-obatan, kata Bulan Sabit Merah Suriah, yang membantu mengorganisir konvoi tersebut.

Biadab, Rezim Syiah Assad Hujani Warga Ghouta Timur dengan Artileri

Sekitar 400.000 orang telah tinggal di bawah pengepungan yang diberlakukan rezim Syiah Assad di Ghouta Timur, wilayah yang dikuasai oposisi di sebelah timur ibukota Suriah, sejak 2013.

Penduduk setempat, setengah dari mereka adalah anak-anak, menderita kekurangan makanan, obat-obatan dan persediaan medis, karena lumpuhnya rumah sakit setempat.

Walaupun wilayah tersebut merupakan satu dari segelintir “zona de-eskalasi” (zona larangan agresi militer) namu banyak warga sipil telah terbunuh di Ghouta Timur pada bulan Februari oleh serangan pemboman berat agresor Rusia dan rezim Suriah.

Zona de-eskalasi adalah wilayah dimana pasukan oposisi dan rezim besepakat untuk membatasi pertempuran di bawah kesepakatan yang ditengahi internasional tahun lalu.

Namun lebih dari 200 warga tewas di Ghouta Timur dan provinsi Idlib di utara utara hanya dalam empat hari awal bulan ini.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

James Bays dari Al Jazeera, yang melaporkan dari markas besar PBB di New York, mengatakan, walaupun konvoi tersebut telah mengirimkan “bantuan yang sangat dibutuhkan”, penduduk Ghouta Timur “masih memerlukan lebih dari satu konvoi karena wilayah tersebut telah lama terkepung.”

“Pasokan bantuan ke daerah-daerah yang terkepung di Suriah menjadi masalah yang terus berlanjut [untuk] PBB yang mencoba untuk mendistribusikan bantuan tersebut. Seringkali, ketika ada truk bantuan yang diijinkan masuk, pasokan diambil dari truk oleh pemerintah Suriah,” kata Bays.

Secara pribadi, beberapa diplomat internasional mempertanyakan waktu pengiriman bantuan tersebut, Bays melaporkan. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai tindakan pihak rezim Suriah yang “sangat sinis,” yang berusaha mengurangi tekanan menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB.

“Kami telah melihat pola ini sebelumnya, yaitu mengizinkan masuknya sejumlah kecil bantuan, untuk mengurangi tekanan di seputar meja perundingan dewan,” kata Bays.

DK PBB bertemu pada hari Rabu untuk membahas perang yang sedang berlangsung di Suriah dan situasi politik saat ini di negara tersebut yang semakin rumit.

PBB Akhirnya Selidiki Serangan Gas Beracun Rezim Assad di Idlib dan Ghouta Timur

Staffan de Mistura, utusan PBB untuk Suriah, mengatakan bahwa situasi di Suriah adalah yang paling “kejam, berbahaya dan mengkhawatirkan” yang telah dia lihat selama empat tahun terakhir.

Pada bulan Januari, Turki melancarkan serangan militer di Afrin, sebuah wilayah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara, untuk membasmi pasukan YPG Kurdi dari daerah perbatasan.

Walaupun Turki memandang YPG sebagai cabang dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan perang selama puluhan tahun dengan Ankara, YPG telah menjadi sekutu Amerika Serikat dengan alasan perang melawan Kelompok Islamic State (IS).

Hal itu menyebabkan hubungan antara AS dan Turki semakin menegang.

Lawan Pasukan AS di Manbij, Turki akan Gunakan Jurus Pasukan Elit Ottoman

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam dukungan AS untuk pasukan YPG Kurdi di Suriah utara, memperingatkan bahwa langkah Washington mendanai kelompok tersebut akan mempengaruhi keputusan masa depan Ankara terhadap sekutu NATO-nya itu.

“Keputusan AS untuk memberikan dukungan finansial kepada YPG, pasti akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil Turki,” kata Erdogan pada hari Selasa (14/2/2018), lansir Aljazeera.

“Akan lebih baik bagi mereka untuk tidak berdiri bersama teroris yang mereka dukung hari ini. Saya memanggil rakyat Amerika Serikat – uang ini keluar dari anggaran AS, itu keluar dari kantong rakyat Amerika,” Erdogan berkata.

Komentar Erdogan itu adalah tanggapan terhadap anggaran pertahanan Pentagon yang baru yang mengalokasikan $ 550 juta untuk kegiatan militer di Suriah.

Departemen pertahanan AS meminta $ 300 juta untuk “melatih dan melancarkan kegiatan” di Suriah dan $ 250 juta untuk “persyaratan keamanan perbatasan yang terkait dengan misi IS,” menurut salinan anggaran tersebut.

Turki bulan lalu memulai serangan militer, yang dijuluki “Operation Olive Branch”, ke wilayah Afrin yang dikuasai Kurdi di Suriah barat laut untuk menyapu pasukan YPG Kurdi dari perbatasannya di sana.

Pejabat tinggi Turki mengancam akan memperpanjang serangan ke kota Manbij di Suriah, yang berada di bawah kendali Pasukan Demokratik (SDF) pimpinan YPG dan memperingatkan agar tentara AS yang ditempatkan di sana tidak menghalangi jalannya.

Pertempuran Turki vs Amerika di Ambang Pintu Kota Manbij, Suriah

AS telah menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk menarik tentaranya dari Manbij.

Paul Funk, komandan pasukan AS di Suriah dan Irak, melakukan kunjungan baru-baru ini ke Manbij dan mengatakan bahwa AS dan mitranya di Suriah akan membalas jika diserang Turki.

“Anda memukul kami, kami akan merespon dengan agresif, kami akan membela diri,” kata Funk.

Erdogan membidik hal itu, mengatakan: “Jelas sekali bahwa mereka yang mengatakan akan ‘memberikan balasan yang tajam’ jika terkena pukulan, belum pernah merasakan tamparan Ottoman.”

“Tamparan Ottoman” adalah teknik bela diri yang berpotensi fatal yang digunakan oleh infanteri elit Kekaisaran Ottoman di abad ke-17.

Tamparan itu digunakan ketika seorang tentara kehilangan atau menjatuhkan senjatanya dalam pertempuran dan tamparan itu diduga cukup mematikan karena bisa menimbulkan gegar otak atau bahkan mematahkan leher musuh.