Solusi Permasalahan Dunia Islam, Amien Rais: Jadikan Al Quran sebagai Landasan Utama

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan ketua MPR, Amien Rais menilai, saat ini dunia Islam sedang dilanda permasalahan ekonomi, politik, keamanan serta kemerosotan moral. Selain itu, konflik internal sesama Muslim juga dinilainya menjadi salah satu penyebabnya.

Semua kesulitan yang multikompleks tersebut, kata Amien, disebabkan yang pertama karena sebagian besar para pemimpin di dunia Islam tersebut telah jadi antek-antek kekuatan asing.

Untuk mengatasi hal itu, menurut pakar politik Timur Tengah UGM tersebut, masyarakat dunia Islam harus melakukan langkah-langkah kongkrit.

“Yang pertama adalah menjadikan Al Quran sebagai landasan utama pengelolaan kehidupan manusia,” ujar Amien di tengah Kuliah Umum Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan Timur Tengah yang digelar di SD Budi Mulia Dua, Yogyakarta, Senin (18/9/2017).

Ustaz Irfan Awwas: Dunia Marah Ketika Orangutan Dibunuh, Tapi Bungkam Saat Muslim Rohingya Dibantai

Dengan berlandaskan Al Quran, maka para pemimpin, ulama, dan umat Islam pada umumnya harus bisa mandiri sesuai dengan yang diajarkan oleh Islam. Kemudian, masyarakat dunia Islam harus bersatu serta menjaga alam sebagai wujud menunaikan amanah manusia sebagai pemakmur bumi.

“Saya yakin kalau para pemimpin dunia Islam masih membaca dan mengamalkan Al Quran maka mereka tidak akan tertipu dan menjadi bodoh. Sebaliknya, Al Quran mampu membuat kita cerdas dan berpikir waspada,” jelas tokoh reformasi itu.

Ia juga mengungkapkan, seandainya manusia bersahabat dengan Al Quran maka ia akan dekat dengan pertolongan Allah SWT.

Yang kedua, lanjut Amien, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus menghentikan memberikan berbagai macam sumber daya kepada asing.

“Kita tidak boleh lagi membiarkan asing menggotong sumber daya kita secara semena-mena sehingga kebutuhan rakyat kita sendiri terlupakan,” ujarnya.

ECR Salurkan 44 Ton Beras kepada Pengungsi Rohingya

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Salah satu NGO lokal dari Surakarta, Emergency and Crisis Response (ECR) pada Kamis (13/9/2017) memberikan bantuan 44 ton beras kepada pengungsi Rohingya yang berada di perbatasan Banglades-Myanmar.

Beras tersebut dibeli di gudang beras Cox’s Bazar Bangladesh yang berjarak kurang lebih 40 KM dari perbatasan. Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana melalui aksi solidaritas #saverohingya di beberapa daerah di Soloraya.

Forum Me-DAN Berhasil Salurkan Bantuan ke Kamp Pengungsian Terisolasi di Sittwe, Rakhine

Selain menyalurkan beras, relawan ECR juga melakukan pendataan kesehatan dan kebutuhan logistik pengungsi. Hasilnya, saat ini pengungsi membutuhkan WC dan air bersih.

“Kebutuhan yang mendesak disini pagi para pengungsi adalah WC dan Sumur untuk Sumber air bersih,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Sabtu (18/9/2017).

“Saya menyarankan untuk segera membangun Klinik-klinik kecil bagi para pengungsi, karena sangat dibutuhkan, jangan cuma memberikan barang saja,” tambahnya.

7 Pelaku Pembakaran Pusat Tahfiz Kuala Lumpur Ditangkap

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Kepolisian Kuala Lumpur berhasil menangkap tujuh orang remaja pelaku pembakaran Pusat Tahfiz Darul Quran Ittifaqiyah di Jalan Keramat Ujung, Kuala Lumpur, Kamis (14/9/2017) dini hari. Kebakaran tersebut merenggut nyawa 23 orang.

Kepala Kepolisian Kuala Lumpur Kombes Dato Amar Singh mengemukakan hal itu dalam jumpa pers di Kuala Lumpur, Sabtu (16/9/2017) malam. “Kepolisian Kuala Lumpur telah menangkap sebanyak tujuh orang laki-laki bangsa melayu usia sebelas hingga delapan belas tahun di sekitar Kuala Lumpur pada 15 September pukul 06.00 dan pada 02.15 dini hari pada 16 September. Semua pelaku tidak sekolah,” katanya.

Dia mengatakan semua pelaku yang ditangkap sudah menjalani uji air kencing dan enam orang pelaku didapati positif menggunakan narkoba jenis ganja “Semua pelaku sudah dibawa ke Mahkamah Majistret untuk mendapatkan tahanan selama tujuh hari atau masa reman mulai 16 hingga 22 September 2017,” katanya.

Dia mengatakan motif kejadian karena selisih paham dan saling ejek di antara pelaku beberapa hari sebelum peristiwa. Sebanyak 23 orang terdiri 22 pelajar dan dua orang guru meninggal dunia dalam sebuah kebakaran di Pusat Tahfiz Darul Quran Ittifaqiyah di Jalan Keramat Ujung, Kuala Lumpur, Kamis dini hari.

Menurut informasi Jabatan Bomba dan Penyelamat Kuala Lumpur atau Kantor Pemadam Kebakaran Kuala Lumpur, kebakaran diduga terjadi pada pukul 05.10 pagi dari tingkat atas bangunan. Salah satu dari korban anak-anak yang meninggal dunia adalah Ahmad Taufik, anak dari staf lokal KBRI Kuala Lumpur, Rien Herlina.

Tekan Riba, Muslimah Bima Peduli Berikan Pinjaman Modal Tanpa Bunga untuk Pedagang Kecil

BIMA (Jurnalislam.com) – Untuk menekan praktek riba di tengah-tengah masyarakat, Muslimah Bima Peduli (MBP) memberikan bantuan dan pinjaman modal tanpa bunga kepada pedagang-pedagang kecil di Kelurahan Dara, Kecamatan Rasana’e Barat, Kota Bima, Jum’at (15/9/2017).

Koordinator MBP, Parmila mengatakan, bantuan dan pinjaman modal tersebut diberikan kepada para pedagang yang kesulitan mengembangkan usahanya. Para penerima bantuan modal sebelumnya disurvei dan diwawancarai, jika lolos mereka direkomendasikan untuk menerima bantuan modal usaha.

“Bantuan dan peminjaman modal tanpa bunga ini juga kami berikan untuk menekan angka riba, karena rata-rata mereka sangat kesulitan ketika harus meminta pinjaman modal ke tempat-tempat lain,” papar Parmila.

Muslimah Bima Peduli Kembali Salurkan Bantuan untuk Warga Palestina

Bantuan modal diberikan secara cuma-cuma dengan melihat tingkat kemampuan serta finansialnya.

“Apabila dia benar-benar tidak mampu dan memiliki kemauan untuk berusaha maka kami berikan bantuan untuk modal usahanya. Tetapi dari keuntungannya nanti kita minta untuk berinfak bagi saudara kita yang membutuhkan,” katanya.

Sedangkan untuk pinjaman modal diberikan tanpa bunga, untuk memudahkan mereka dalam pengembalian meskipun dicicil.

“Dengan adanya bantuan dan pinjaman modal ini paling tidak minimal mereka bisa bebas dari jeratan bunga lebih-lebih terbebas dari praktek riba,” ujar Parmila.

Parmila berharap bantuan dan pinjaman modal tersebut dapat membantu masyarakat yang sedang kesulitan, sehingga mereka bisa terus mengembangkan usahanya.

Ustaz Irfan Awwas: Dunia Marah Ketika Orangutan Dibunuh, Tapi Bungkam Saat Muslim Rohingya Dibantai

PONOROGO (Jurnalislam.com) – Ratusan umat Islam Ponorogo menggelar Aksi Damai dan Doa Solidaritas Rohingya di depan Gedung DPRD Ponorogo, Jalan Alun-Alun Timur No. 29, Mangkujayan, Ponorogo, Jum’at (15/9/2017).

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin (MM) Ustaz Irfan S. Awwas yang hadir dalam aksi tersebut mengatakan, kebiadaban militer Myanmar terhadap muslim Rohingya melebihi perilaku binatang.

FKUIB Ponorogo dan AMIPROK Desak Pemerintah Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Myanmar

“Saudara-saudara kita Muslim Rohingya mereka dibantai, diusir dari negerinya sendiri, mereka diperkosa, mereka dibunuh, dan ini membuka mata kita dan bertanya, ternyata ada manusia yang kejamnya melebihi binatang, dan mereka mengaku beragama Budha,” kata Ustadz Irfan dalam orasinya.

Ustaz Irfan mempertanyakan sikap diam PBB dan aktifis HAM dunia terkati tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar. Ia menilai, PBB lebih peduli atas perburuan illegal binatang-binatang yang dilindungi daripada manusia yang dianiaya.

Majelis Mujahidin: Pemerintah Semakin Mesra dengan Komunis

“Ketika harimau dibunuh dan dikuliti dunia marah, ketika orangutan dibunuh dunia marah, ketika ikan hiu diambil dunia marah. Tapi ketika umat Islam Rohingya dibantai, dibunuh, diperkosa dunia bungkam. Apakah bangsa-bangsa yang terhimpun dalam PBB telah berubah menjadi bangsa hewan, kenapa mereka tidak menolong?” tandasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Irfan mendesak Presiden Jokowi untuk menjadi negara yang terdepan dalam pembelaannya terhadap muslim Rohingya sebagaimana amanat UUD 1945.

“Pemerintah Indonesia berada di paling depan melakukan pembelaan, karena konsekusi dari pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” pungkasnya.

 

 

Baru Tiga Hari Beroperasi, Cloud Nine Cafe Disegel Polisi

JEMBER (Jurnalislam.com) – Kasat Reskrim Kepolisian Resort Jember, AKP. Ach. Denny Wahyudi memimpin penggerebekan Cloud Nine Café di Jalan Sumatera Sumbersari, Jember, Jumat (15/9/2017) malam. Kafe yang baru beroperasi selama tiga hari itu kedapatan menjual minuman beralkohol berbagai merek tanpa izin.

“Beberapa jenis minuman beralkohol yang kami sita malam ini, beberapa jenis diantaranya golongan A, sebagian lagi golongan B,” terang Denny Wahyudi kepada wartawan.

Halal bi Halal Laskar Islam Jember Soroti Pentingnya Peran Media dalam Bernahi Munkar

Sayangnya saat penggrebekan berlangsung, Pemilik Kafe tidak berada di tempat. “Pemilik tidak ada di tempat, kali ini hanya manajernya saja, selanjutnya kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai siapa pemilik dari usaha ini,” tambahnya.

Usai melakukan penyitaan, lalu Kepolisian menyegel kafe ini dengan memasang garis polisi.

“Upaya ini untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan menciptakan situasi harkamtibmas yang diinginkan masyarakat,” tukas Deni.

Kepolisian lalu membawa seorang manajer dan 10 karyawan ke Mapolres setempat untuk dimintai keterangan.

FPI dan NU Bersatu Gelar Aksi Sweeping Miras

Menanggapi Penyegelan Cafe tersebut, Ketua Laskar Islam Jember (LIJ), Nanang Santoso mengapresiasi tindakan petugas merespon aduan masyarakat terkait kafe tersebut. Namun, ia meminta agar aparat dan pemerintah lebih selektif dalam mengeluarkan izin tempat hiburan malam.

“Info ini sebenarnya sudah beredar di media sosial. Harusnya para petugas dan dinas terkait bisa mengantisipasi dengan lebih memperketat ijin tempat hiburan malam. Jangan sampai kecolongan dan membuat para warga jember yang relijius ini marah dan ikut turun sweeping,” tegas saat dihubungi Jurnalislam.com, Jumat (15/9/2017)

“Kita harap penggerebekan ini bisa memberikan efek jera kepada café-café lain yang saat ini nekat berjualan miras,” kata Nanang.

Petugas menyita barang bukti
petugas menyita barang bukti’
Lambang piramida freemasonry dipajang di CLoud9 Cafe

 

Presiden ke Solo, Aksi Solidaritas Rohingya PKS Ditunda Pekan Depan

SOLO (Jurnalislam.com) – Aksi solidaritas Rohingya yang akan digelar DPD PKS Kota Surakarta ditunda hingga 22 September mendatang. Hal itu disampaikan Ketua DPD PKS Kota Surakarta, Abdul Ghofar Ismail dalam siaran pers di WM Sederhana Jalan Slamet Riyadi, Jumat (15/9/2017).

Abdul Ghofar menjelaskan, kepolisian tidak mengeluarkan izin aksi tersebut karena persiapan pengamanan presiden Joko Widodo yang akan berkunjung ke Surakarta pekan ini.

“Pihak keamanan pada hari ini sampai hari ahad ada kegiatan gladi bersih karena presiden akan hadir di Surakarta, kita diminta untuk menunda dan demi ketertiban dan keamanan kita akan menunda,” terangnya.

DPR Desak PBB Segera Kirimkan Pasukan Perdamaian ke Myanmar

“Meskipun kita juga kecewa diundur, semoga hikmahnya, menjadi ada waktu lebih panjang lagi untuk kita menggalang dana,” sambungnya.

Abdul Ghofar menjelaskan, dalam aksi tersebut peserta akan longmarch dimulai dari Kota Barat menuju ke Bundaran Gladak dan melakukan penggalangan dana. Ia menargetkan 1000 peserta akan mengikuti aksi tersebut.

“Insya Allah akan dilaksanakan tanggal 22 september 2017. Tragedi Rohingya sangat memprihatinkan. Apapun alasannya sebagai manusia sangat meyayangkan, maka kita akan melakukan aksi solidaritas,” paparnya.

Aksi tersebut, lanjut Abdul Ghofar, sebagai tindak lanjut seruan presiden PKS kepada seluruh struktur untuk melakukan aksi solidaritas dan penggalangan dana.

“Target kita 50 juta, syukur lebih, dan nantinya akan disampaikan melalui Crisis Center for Rohingya (CC4R) di tingkat pusat,” tandasnya.

Dalam aksi solidaritas tersebut, aksi akan diisi dengan orasi oleh pengurus PKS kota Surakarta dan perwakilan kota Surakarta, seperti ketua MUI surakarta, DSKS, Ormas Mega Bintang dan turut mengundang tokoh lintas agama yang ada di kota Surakarta.

FKUIB Ponorogo dan AMIPROK Desak Pemerintah Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Myanmar

PONOROGO (Jurnalislam.com) – Forum Komunikasi Umat Islam Bersatu (FKUIB) Ponorogo dan Aliansi Masyarakat Indonesia Peduli Rohingya dan Kemanusiaan (AMIPROK ) mengutuk keras kekejaman pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar. Pernyataan itu disampaikan dalam aksi damai peduli Rohingya di depan Gedung DPRD Ponorogo, Jum’at Siang (15/9/2017).

Peduli Rohingya, Kiai Azaim Pimpin Doa untuk Rohingya di Bondowoso

FKUIB Ponorogo juga mendesak PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada pemerintah Myanmar atas kejahatan HAM yang dilakukan terhadap Muslim Rohingya. Berikut pernyataan sikap FKUIB dan AMIPROK selengkapnya,

  1. Mengutuk keras tindakan biadab rezim Myanmar yang telah membantai anak-anak, kaum perempuan, dan orang tua muslim Rohingya. Berikut selengkapnya.
  2. Mendesak PBB melalui pemerintah untuk menjatuhkan sanksi atas kejahatan HAM rezim militer Myanmar.
  3. Mengembalikan hak kewarganegaraan kepada warga Rohingya yang pernah diberikan pada tahun 1951 oleh P.M Myanmar U Nu.
  4. Mendorong pemerintah Indonesia supaya menggunakan kekuatan ekonomi, politik dan militer untuk menolong warga muslim Rohingya dan memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar.
  5. Mendorong pemerintah Indonesia beserta anggota ASEAN untuk mengeluarkan Myanmar dari keanggotaan atas pelanggaran HAM berat kepada muslim Rohingya.

DPR Desak PBB Segera Kirimkan Pasukan Perdamaian ke Myanmar

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menempatkan pasukan perdamaian di Myanmar. Menurutnya, tindak kejahatan yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya di Rakhine State tidak bisa ditolerir lagi.

“Kita mendesak PBB dengan melakukan protes, sehingga disana harus ditempatkan pasukan perdamaian, karena kita tidak bisa mengirimkan militer kecuali melalui pasukan perdamaian PBB,” terangnya kepada wartawan di WM Sederhana Jalan Slamet Riyadi Jum’at (15/9/2017).

Peduli Rohingya, Kiai Azaim Pimpin Doa untuk Rohingya di Bondowoso

Ia juga mengimbau kepada negara-negara lainnya turut serta mendesak PBB untuk segera mengirimkan pasukan militernya ke Myanmar.

“Untuk ikut memperhatikan kejahatan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap muslim Rohingya. Selama belum ditetapkan oleh PBB, kita belum bisa ikut mengirimkan pasukan militer perdamaian,”tandasnya

Abdul Kharis juga menilai, tokoh Myanmar, Aung San Suu Kyi tidak pantas menerima nobel perdamaian, karena Suu Kyi telah membiarkan terjadinya tindak kejahatan kemanusian dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer Myanmar kepada etnis Rohingya.

“Ini kontradiktif, seorang pemenang nobel perdamaian namun membiarkan pembantaian terhadap umat Islam, terjadinya tindak kejahatan kemanusiaan yang oleh bangsa manapun ditentang namun ini terjadi,” paparnya.

Umat Islam Karanganyar Gelar Doa Bersama dan Shalat Ghaib Peduli Rohingya

Ia juga menegaskan, pemerintah Indonesia siap membantu mengatasi krisis kemanusiaan di Myanmar jika PBB meminta. “Dan Indonesia siap mengirimkan pasukan perdamaian PBB kesana,”pungkasnya. (Arie Ristyan)

Forum Me-DAN Berhasil Salurkan Bantuan ke Kamp Pengungsian Terisolasi di Sittwe, Rakhine

SITTWE (Jurnalislam.com) – Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) berhasil menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di salah satu distrik terisolasi di Sittwe, Ibukota Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Rabu (13/9/2017). Kamp pengungsian di distrik ini belum teregister pemerintah Myanmar, sehingga bantuan tidak bisa masuk.

Pada periode ketiga ini Forum Me-DAN menyalurkan bantuan bahan makanan pokok berupa beras, minyak, telur dan sebagainya kepada lebih dari 100 KK yang tidak kurang dari 1000 jiwa.

Forum Me-Dan Berbagi Kisah di Myanmar dan Pesan Muslim Rohingya pada Pelajar Jember

Sekjen Forum Me-DAN, Sunaryo menyampaikan, masyarakat muslim Rohingya di Sittwe sangat berterimakasih kepada masyrakat Indonesia atas bantuan tersebut.

”Tolong jangan jadikan ini sebagai bantuan terakhir bagi kami, dan jangan lupakan kami dalam do’a kalian, bukankah kami ini saudaramu,” kata Sunaryo mengutip ungkapan salah seorang warga Rohingya di kamp pengungsian.

Sunaryo mengungkapkan, masih banyak warga muslim Rohingya yang hidup di kamp isolasi yang tidak teregister dan sangat membutuhkan bantuan.

“Masih ada sekitar 25 ribu jiwa di kamp isolasi non-register yang belum menerima bantuan, jangan lupakan mereka,” jelas Sunaryo.

“Kami Forum Me-DAN siap mendistibusikan bantuan itu,” tambahnya.

Forum Me-DAN Nusra Salurkan Beras untuk Warga Kurang Mampu

Sebelumnya, Forum Me-DAN menyalurkan bantuan periode pertama dan kedua pada bulan Januari dan Juni lalu. Forum Me-DAN telah berhasil masuk kamp-kamp isolasi di daerah Sittwe untuk memberikan donasi dari kaum muslimin Indonesia berupa bahan makanan pokok, pembangunan musholah dan madrasah.

Sekjen forum Me-DAN Sunaryo, menjelaskan bahwa di daerah isolasi ini para muslim Rohingya sangat menderita.

”Mereka sangat kekurangan, bisa dibayangkan, mereka hanya makan dengan lauk minyak dan garam saja, dan air bersih pun tidak ada. Bahkan untuk sekolah pun mereka tidak bisa, hanya ada madrasah diniyah saja disana dan itu pun hanya untuk anak kecil,” ungkap Sunaryo.