SURIAH (jurnalislam.com)– Utusan Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan bahwa peran Pasukan Demokratik Suriah (SDF) sebagai kekuatan utama anti-ISIS di lapangan “sebagian besar telah kedaluwarsa.”
“Tujuan asli SDF sebagai kekuatan anti-ISIS utama di lapangan sebagian besar telah berakhir, karena Damaskus kini bersedia dan siap mengambil alih tanggung jawab keamanan, termasuk kendali atas fasilitas dan kamp penahanan ISIS,” kata Barrack dalam pernyataannya.
Di kota Hassakeh pada Selasa pagi (20/01/2026), seorang koresponden AFP melaporkan pemandangan warga Kurdi termasuk perempuan dan lansia membawa senjata api untuk mendukung SDF. Mereka terlihat berpatroli dan menjaga pos-pos pemeriksaan di kota tersebut, meskipun mayoritas penduduk Hassakeh merupakan warga Arab.
Seorang pejuang SDF bernama Shahine Baz mengatakan kepada AFP, “Kami berjanji kepada rakyat kami untuk melindungi mereka sampai akhir.”
Situasi serupa juga terlihat di kota Qamishli di Suriah timur laut. Seorang warga Kurdi, Hasina Hammo (55), tampak memegang senapan Kalashnikov dan menyatakan, “Kami tidak akan menyerah.”
Sebelumnya pada hari yang sama, SDF mengumumkan bahwa pasukannya “terpaksa mundur dari Kamp Al-Hol dan melakukan penempatan ulang” di sekitar kota-kota Suriah utara yang mereka nilai menghadapi peningkatan risiko dan ancaman.
Kamp dan penjara yang dikelola otoritas Kurdi di Suriah timur laut saat ini menahan puluhan ribu orang, sebagian besar diduga memiliki keterkaitan dengan ISIS, hampir tujuh tahun setelah kekalahan teritorial kelompok tersebut. Kamp Al-Hol merupakan kamp terbesar di antara fasilitas-fasilitas tersebut.
Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan pihaknya siap mengambil alih tanggung jawab penuh atas Kamp Al-Hol “dan seluruh tahanan ISIS” sebagai bagian dari upaya negara memulihkan kedaulatan dan kendali keamanan nasional.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menyatakan dukungannya terhadap Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, menyebutnya sebagai “orang yang tangguh.” Namun, Trump menambahkan, “Anda tidak akan menempatkan anak baik-baik di sana dan menyelesaikan pekerjaan itu,” tanpa merinci lebih lanjut maksud pernyataannya.
Trump juga mengatakan bahwa dirinya “menyukai” orang Kurdi, tetapi menuduh mereka telah menerima “sejumlah besar uang dan minyak” serta bertindak “lebih untuk kepentingan mereka sendiri” dibandingkan untuk kepentingan Amerika Serikat.
Pernyataan-pernyataan ini semakin memperkuat kesan bahwa Washington kini menggeser sikapnya terhadap SDF, seiring menguatnya peran pemerintah Suriah pasca-perubahan kekuasaan di Damaskus dan menurunnya nilai strategis SDF di mata Amerika Serikat. (Bahry)
Sumber: TNA