Oleh: Cak Arip
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar, mendapat amanah baru. Dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, ia terpilih sebagai presiden pertama The International Assembly of Mosque Imams (IAMI).
Konferensi tersebut diikuti sekitar 70 delegasi dari puluhan negara. IAMI dibentuk sebagai wadah permanen bagi para imam dan pemimpin agama untuk bertukar pengetahuan, memperkuat kerja sama, serta merespons persoalan kemanusiaan, lingkungan dan perdamaian.
Kedudukan sekretariat permanen IAMI ditetapkan di Jakarta. Nasaruddin Umar akan memimpin organisasi tersebut selama tiga tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.
Terpilihnya tokoh Indonesia untuk memimpin jaringan imam internasional tentu layak disambut dengan rasa syukur. Namun keberhasilan ini tidak cukup diukur dari jumlah delegasi, kemeriahan konferensi, atau jabatan internasional yang berhasil dibawa pulang. Ukuran sesungguhnya akan terlihat setelah seremoni selesai.
Amanah yang Tidak Ringan
Presiden IAMI bertugas mewakili organisasi di tingkat internasional, memimpin Dewan Tertinggi, menjalankan keterlibatan diplomatik dan keagamaan, serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga keagamaan dunia.
Organisasi ini juga dirancang memiliki kantor wilayah di Kuala Lumpur, Kairo, Nairobi, London, New York, Rio de Janeiro dan Canberra. Pertemuan virtual para imam besar direncanakan berlangsung setiap bulan.
Rancangan tersebut menunjukkan bahwa IAMI ingin bekerja sebagai organisasi, bukan sekadar forum pertemuan. Karena itu, tata kelolanya harus segera diperjelas.
Publik perlu mengetahui bagaimana keanggotaan dan kepengurusan IAMI ditentukan, siapa yang duduk dalam Dewan Tertinggi, dari mana pembiayaan organisasi berasal, serta bagaimana setiap keputusan diterjemahkan menjadi program. Hubungan antara IAMI, Kementerian Agama, Masjid Istiqlal dan Ikatan Persaudaraan Imam Masjid juga perlu dijelaskan secara terbuka.
Pertanyaan ini bukan bentuk kecurigaan terhadap Nasaruddin Umar. Organisasi internasional yang dibangun di atas ketokohan tetap membutuhkan fondasi kelembagaan agar mampu bertahan melewati pergantian pejabat dan perubahan politik.
Diplomasi keagamaan memang membutuhkan figur yang dipercaya. Kelangsungannya tetap bergantung pada tata kerja yang dapat diperiksa.
Jakarta Understanding Sudah Ada
IGIC 2026 juga menghasilkan Jakarta Understanding, dokumen kesepahaman yang memuat tujuh seruan kepada para imam dunia. Dokumen tersebut mendorong para imam untuk menjalankan peran sebagai mediator konflik, memperkuat literasi digital, melindungi kelompok rentan, mengembangkan dialog lintas agama, menolak ekstremisme dan ujaran kebencian, membangun kesadaran lingkungan, serta mendukung hak rakyat Palestina.
Arah moralnya cukup jelas. Namun naskah yang dipublikasikan masih berbentuk deklarasi. Di dalamnya belum ditemukan indikator keberhasilan, pembagian tanggung jawab, jadwal pelaksanaan, sumber pembiayaan, atau mekanisme evaluasi.
Keadaan tersebut tidak membuat deklarasi kehilangan arti. Sebuah kesepahaman memang berfungsi menetapkan arah bersama. Tugas IAMI berikutnya adalah menerjemahkan arah tersebut menjadi panduan kerja yang dapat digunakan para imam.
Kebutuhan itu sebenarnya sudah muncul dalam pembahasan konferensi. Sejumlah delegasi meminta agar Jakarta Understanding dibuat operasional dan aplikatif. Mereka mengusulkan pelatihan berkelanjutan bagi imam untuk menghadapi Islamofobia, kekerasan, persoalan keluarga, kesehatan mental, media digital, kecerdasan buatan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan. Masukan tersebut tidak boleh hilang setelah konferensi ditutup.
Jika imam diminta menghadapi hoaks dan ujaran kebencian, mereka membutuhkan modul literasi digital dan saluran klarifikasi yang mudah digunakan. Jika masjid diminta menjadi pelopor kesadaran lingkungan, perlu ada contoh program yang dapat dijalankan dengan sumber daya terbatas. Jika perlindungan anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan masuk dalam komitmen, pengurus masjid memerlukan panduan pelayanan yang nyata.
Tanpa kerja lanjutan, tujuh seruan dalam Jakarta Understanding akan tetap menjadi bahasa konferensi.
Pembuktian Dimulai dari Masjid Indonesia
Indonesia tidak perlu menunggu program besar lintas negara untuk memulai pembuktian. IAMI berkedudukan di Jakarta dan dipimpin oleh Menteri Agama Indonesia. Masjid-masjid di negeri ini semestinya menjadi tempat pertama untuk menguji gagasan yang dibicarakan dalam IGIC.
Nasaruddin Umar sendiri mengatakan bahwa selama ini umat memberdayakan masjid, sedangkan ke depan masjid harus mampu memberdayakan umat. Gagasan tersebut membutuhkan bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan.
Pengurus masjid di kota kecil dan desa tidak membutuhkan istilah diplomasi yang rumit. Mereka membutuhkan bahan khutbah yang dapat dipertanggungjawabkan, pelatihan menghadapi disinformasi, panduan mengelola perbedaan di tengah masyarakat, dan contoh kegiatan lingkungan yang sesuai dengan kemampuan jamaah.
Kemandirian masjid juga harus dijaga. Panduan yang disusun di Jakarta tidak boleh berubah menjadi penyeragaman mimbar. Keadaan sosial, tradisi, bahasa dan persoalan setiap wilayah berbeda. IAMI seharusnya menyediakan pengetahuan dan jaringan, sementara imam tetap mempunyai ruang untuk menjawab kebutuhan umat di tempatnya bertugas.
Di sinilah tanggung jawab Nasaruddin Umar menjadi lebih besar. Ia tidak hanya membawa nama Indonesia ke forum global, tetapi juga perlu memastikan bahwa diplomasi tersebut memberi manfaat bagi ekosistem masjid di dalam negeri.
Indonesia boleh bangga karena seorang tokohnya dipercaya memimpin IAMI. Namun tidak perlu tergesa-gesa menyebut Jakarta sebagai pusat baru kepemimpinan Islam dunia sebelum organisasi ini menunjukkan hasil kerjanya.
Dalam satu tahun ke depan, publik patut menunggu struktur organisasi yang terbuka, program yang dapat diperiksa, panduan pelaksanaan Jakarta Understanding, serta proyek percontohan yang menyentuh imam dan pengurus masjid di lapangan.
Jakarta telah menerima kehormatan. Kini pembuktiannya harus dapat ditemukan di masjid-masjid yang selama ini bekerja jauh dari panggung konferensi.
Penulis: Cak Arip adalah seorang aktifis dan pemerhati isu-isu Islam kontemporer, media sosial, serta dinamika dakwah digital.