GAZA (jurnalislam.com)— Setahun setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel belum sepenuhnya berhenti. Penarikan pasukan yang dijanjikan belum terlaksana sebagaimana direncanakan, sementara bantuan kemanusiaan dan pembangunan kembali Gaza masih menghadapi berbagai hambatan.
Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat itu memang mengurangi intensitas perang dan membuka akses bantuan lebih luas dibandingkan masa sebelumnya. Namun, berkurangnya pertempuran belum berarti warga Palestina dapat hidup dengan aman.
Laporan Kementerian Kesehatan Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lembaga pemantau ketahanan pangan IPC, serta sejumlah organisasi kemanusiaan memperlihatkan kesenjangan antara kesepakatan gencatan senjata dan pelaksanaannya.
Lima angka berikut menunjukkan kondisi Gaza setelah satu tahun gencatan senjata.
1. Sebanyak 1.471 Warga Palestina Tewas
Sejak gencatan senjata diberlakukan hingga 8 Oktober 2026, sedikitnya 1.471 warga Palestina dilaporkan tewas dan 5.189 lainnya terluka.
Angka tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza. Jika dirata-ratakan, sekitar empat orang kehilangan nyawa setiap hari sepanjang hampir satu tahun gencatan senjata.
Laporan kementerian tersebut juga mencatat 836 jenazah ditemukan dan dievakuasi dari reruntuhan dalam periode yang sama. Jumlah ini dilaporkan terpisah dari korban yang tewas sejak gencatan senjata berlaku.
Serangan Israel masih terjadi di sejumlah wilayah Gaza, termasuk melalui serangan udara dan operasi militer. Israel menyatakan operasi tersebut ditujukan terhadap Hamas dan menuding kelompok itu melanggar kesepakatan.
Namun, berlanjutnya korban jiwa menunjukkan bahwa gencatan senjata belum memberikan jaminan keselamatan bagi penduduk Gaza.
2. Sekitar Dua Pertiga Gaza Masih Dikuasai Israel
Penarikan pasukan Israel merupakan salah satu ketentuan penting dalam kesepakatan gencatan senjata. Pelaksanaannya hingga kini masih terhambat.
Reuters pada 6 Oktober 2026 melaporkan bahwa Israel masih menguasai sekitar dua pertiga wilayah Jalur Gaza. Angka tersebut merupakan perkiraan yang dapat berbeda menurut tanggal dan metode pemetaan.
Pada tahap awal kesepakatan, pasukan Israel seharusnya mundur ke batas yang dikenal sebagai Garis Kuning (Yellow Line). Namun, sejumlah organisasi kemanusiaan melaporkan pembatasan akses penduduk di sekitar garis pemisah tersebut.
Penguasaan wilayah ini berdampak terhadap kehidupan sehari-hari warga Gaza. Banyak penduduk belum dapat kembali ke tempat tinggalnya, sementara akses menuju lahan pertanian dan sejumlah fasilitas penting masih terbatas.
Dengan luas wilayah sekitar 365 kilometer persegi dan penduduk sekitar 2,1 juta jiwa, penyempitan ruang yang dapat dihuni semakin mempersulit kehidupan masyarakat yang telah berulang kali mengungsi selama perang.
Perundingan mengenai penarikan pasukan belum menghasilkan penyelesaian. Israel tetap menuntut pelucutan senjata Hamas, sedangkan persoalan keamanan, pemerintahan, dan penguasaan wilayah masih menjadi hambatan pelaksanaan tahapan berikutnya.
3. Target 600 Truk Bantuan Setiap Hari Belum Terpenuhi
Masuknya bantuan kemanusiaan merupakan salah satu ketentuan penting dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza.
Kesepakatan itu menetapkan patokan 600 truk per hari. Namun, jumlah bantuan yang masuk belum mencapai target tersebut secara konsisten.
Dokumen penilaian kemanusiaan Gaza yang tersedia melalui PBB mencatat bahwa sepanjang 11 Oktober 2025 hingga 1 April 2026, rata-rata kurang dari 100 truk bantuan yang dikoordinasikan PBB masuk setiap hari melalui mekanisme Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2720.
Angka tersebut tidak mencakup seluruh barang komersial dan bantuan melalui jalur lain. Karena itu, jumlah itu tidak dapat dibandingkan langsung dengan seluruh truk yang melewati perbatasan.
Sementara itu, Associated Press pada Desember 2025 melaporkan bahwa berdasarkan data otoritas Israel, rata-rata sekitar 459 truk per hari masuk ke Gaza selama periode pengamatan sejak Oktober. Jumlah tersebut masih di bawah patokan yang disepakati.
Perbedaan angka antara Israel dan lembaga kemanusiaan antara lain berkaitan dengan metode penghitungan. Truk yang membawa barang dagangan tidak selalu dapat disamakan dengan truk bantuan yang disalurkan kepada masyarakat tanpa biaya.
Persoalannya tidak berhenti pada jumlah truk yang melintasi perbatasan. Banyak keluarga Gaza telah kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan. Barang yang tersedia di pasar pun belum tentu dapat mereka beli.
Karena itu, keberhasilan penyaluran bantuan perlu dilihat dari pasokan yang benar-benar diterima penduduk, bukan hanya kendaraan yang diizinkan masuk ke Gaza.
4. Sebanyak 1,4 Juta Orang Diproyeksikan Menghadapi Krisis Pangan
Gencatan senjata sempat memperbaiki situasi pangan Gaza. Namun, perbaikan tersebut belum bertahan dengan kuat.
Dalam laporan yang diterbitkan pada 23 Juli 2026, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) memperkirakan lebih dari 1,4 juta penduduk Gaza, atau sekitar 67 persen populasi, akan menghadapi kerawanan pangan akut tingkat krisis atau lebih buruk sepanjang Juli hingga Desember 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 212.000 orang diproyeksikan berada pada tingkat darurat atau IPC Fase 4.
Pada akhir 2025, sekitar 1,6 juta penduduk Gaza menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis atau lebih buruk. Jumlahnya kemudian turun menjadi sekitar 1,2 juta orang pada periode pertengahan April hingga Juni 2026.
IPC mengaitkan perbaikan tersebut dengan meningkatnya bantuan kemanusiaan setelah gencatan senjata. Namun, berkurangnya bantuan, terbatasnya akses lahan pertanian, dan lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat membuat perbaikan itu mudah berbalik.
IPC memperingatkan bahwa penghentian permusuhan secara permanen dan akses bantuan yang berkelanjutan diperlukan agar kondisi pangan tidak kembali memburuk.
5. Rencana US$2,45 Miliar di Tengah
Kebutuhan Pemulihan US$71,4 Miliar
Hampir satu tahun setelah gencatan senjata berlaku, pembangunan kembali Gaza masih berjalan sangat terbatas.
Pada 23 September 2026, Board of Peace, badan yang didukung Amerika Serikat untuk mengawal pelaksanaan rencana perdamaian Gaza, mengumumkan rancangan pemulihan tahap awal senilai US$2,45 miliar.
Rencana enam bulan tersebut mencakup 66 proyek, antara lain pemulihan infrastruktur, layanan dasar, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan tempat tinggal.
Nilainya jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan kebutuhan pemulihan Gaza selama sepuluh tahun yang mencapai US$71,4 miliar.
Kedua angka tersebut memiliki cakupan berbeda. US$2,45 miliar merupakan nilai program pemulihan tahap awal yang diusulkan, sedangkan US$71,4 miliar menggambarkan kebutuhan jangka panjang. Pengumuman program juga tidak berarti seluruh dananya telah tersedia atau proyeknya sudah dilaksanakan.
Pelaksanaan pembangunan kembali masih terhambat oleh perbedaan sikap Israel dan Hamas mengenai penarikan pasukan, pelucutan senjata, serta pengaturan pemerintahan Gaza.
Sementara perundingan terus berlangsung, banyak penduduk masih tinggal di bangunan rusak, tempat pengungsian, atau tenda-tenda sementara.
Setahun Berlalu, Gaza Tak Kunjung Pulih
Lima angka tersebut memperlihatkan bahwa gencatan senjata belum mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Serangan masih menimbulkan korban, sebagian besar wilayah tetap dikuasai militer Israel, dan bantuan kemanusiaan belum mampu menjawab seluruh kebutuhan penduduk.
Gencatan senjata memang mengurangi intensitas perang. Namun, berkurangnya serangan saja tidak cukup. Rakyat Palestina membutuhkan jaminan keselamatan, kebebasan bergerak, akses bantuan yang memadai, dan kesempatan membangun kembali kehidupan mereka.
Setahun telah berlalu sejak kesepakatan itu diberlakukan. Israel masih menguasai sebagian besar wilayah Gaza, sementara jutaan penduduknya hidup di tengah kerusakan dan keterbatasan.
Bagi rakyat Palestina, ukuran keberhasilan gencatan senjata bukanlah berapa lama kesepakatan itu bertahan di atas kertas, melainkan apakah mereka benar-benar dapat hidup aman, kembali ke rumah, dan memperoleh hak-hak yang selama ini dirampas.