3 Tahun Perang di Yaman, Akhirnya Syiah Houthi dan Arab Saudi Ingin Perundingan Damai

3 Tahun Perang di Yaman, Akhirnya Syiah Houthi dan Arab Saudi Ingin Perundingan Damai

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pihak-pihak yang berseteru di Yaman telah mengindikasikan bahwa mereka akan menghadiri pembicaraan perdamaian yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa di Swedia pekan depan sebagai upaya yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah mendorong jutaan orang ke tepi jurang kelaparan.

Delegasi pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan UEA akan tiba di kota Stockholm untuk KTT pekan depan setelah Houthi muncul lebih dahulu, saluran televisi Al-Arabiya milik Saudi melaporkan pada hari Kamis (29/11/2018).

Laporan Al-Arabiya muncul beberapa jam setelah duta besar Inggris untuk Yaman, Michael Aron, mengatakan faksi-faksi yang bertikai akan menghadiri KTT di Stockholm menyusul diskusi dengan perwakilan masing-masing.

“Konsultasi di Swedia yang dipimpin oleh utusan PBB [Martin Griffiths] akan dilakukan pekan depan … solusi politik adalah cara untuk bergerak maju,” kata Aron di Twitter.

Harapan untuk KTT, yang akan menjadi yang pertama sejak tahun 2016, tampaknya didukung oleh kepala komite revolusioner tertinggi Houthi, yang mengatakan pada hari Kamis bahwa delegasi kelompok dapat menghadiri pembicaraan jika pintu keluar dan kembali bagi mereka terjamin dengan aman.

“Saya pikir delegasi nasional [Houthi] akan berada di Swedia pada tanggal 3 Desember jika ada jaminan bahwa mereka dapat pergi dan kembali,” kata Mohammed Ali al-Huthi di Twitter.

Baca juga:

Houthi juga menyerukan “indikasi positif tentang pentingnya perdamaian dari sisi lain”.

Perkembangan hari Kamis tersebut terjadi dua bulan setelah upaya sebelumnya untuk mengamankan pembicaraan damai gagal pada bulan September, ketika perwakilan Houthi menolak menghadiri pertemuan puncak yang diselenggarakan di kota Jenewa, Swiss, mengatakan PBB telah gagal memenuhi permintaan kelompok tersebut.

Sejak itu, konflik di Yaman terus berlanjut, dengan Arab Saudi dan pasukan yang dipimpin UEA meluncurkan serangan terhadap kota pantai Laut Merah Hodeidah, yang saat ini di bawah kendali Houthi.

Kelompok-kelompok bantuan telah memperingatkan bahwa kota itu, yang berfungsi sebagai titik masuk untuk sebagian besar impor komersial Yaman dan pasokan bantuan penting, beresiko “musnah” di tengah pertempuran yang sedang berlangsung.

PBB telah menyatakan keprihatinan bahwa serangan habis-habisan terhadap Hodeidah dapat menyebabkan bencana di Yaman, di mana diperkirakan 8,4 juta orang terancam kelaparan.

Pemberontak Syiah Houthi telah setuju untuk menyerahkan pengelolaan pelabuhan itu kepada PBB, tetapi pihak-pihak yang bertikai masih mempertentangkan siapa yang harus mengendalikan kota.

Konflik yang sedang berlangsung di Yaman, negara termiskin di dunia Arab dan juga merupakan rumah bagi sekitar 28 juta orang, dimulai dengan pengambilalihan ibukota Sanaa pada tahun 2014, oleh pemberontak Syiah Houthi, yang menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Prihatin dengan munculnya Syiah Houthi yang diyakini didukung oleh Iran, koalisi militer Saudi-UAE yang didukung AS meluncurkan intervensi pada tahun 2015 melalui serangan udara besar-besaran yang bertujuan untuk menginstal ulang pemerintah Hadi.

Menurut PBB, sedikitnya 10.000 orang telah tewas sejak koalisi memasuki konflik. Jumlah korban tewas belum diperbarui dalam beberapa tahun, dan kemungkinan akan jauh lebih tinggi.

Bagikan

3 thoughts on “3 Tahun Perang di Yaman, Akhirnya Syiah Houthi dan Arab Saudi Ingin Perundingan Damai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.