Warga Solo Antusias Nontong Bareng Film ‘Toedjoeh Kata’ di Masjid MUI

21 Agustus 2017
Warga Solo Antusias Nontong Bareng Film ‘Toedjoeh Kata’ di Masjid MUI

SOLO(Jurnalislam.com)-Ratusan kaum muslimin Solo dan sekitarnya hadiri pemutaran film dokumenter drama ‘Toedjoeh Kata’ besutan Muhammadiyah Multimedia Kine Klub (MMKK)  Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bertempat di Masjid MUI Semanggi Surakarta, Sabtu (20/8/2017).

Film Toedjoeh Kata ini bercerita tentang penghapusan tujuh kata ‘Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya’ pada sila pertama diganti dengan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ dengan tokoh utama Ketua PP Muhammadiyah tahun 1945, Ki Bagus Hadikusumo.

Acara ini menghadirkan  perwakilan MMKK UMY Dimas Widiarto dan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustaz Mas’ud Izzul Mujahid. Dalam film tersebut, diulas bahwa sudah terjadi kesepakatan seluruh pendiri bangsa tentang rumusan dasar negara yaitu Pancasila dengan sila pertama kewajiban menjalankan syariat Islam bagi umat Islam.

Namun, pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadi peristiwa yang digambarkan dalam film sebagai raibnya tujuh kata tentang syariat dalam waktu sangat cepat melanggar kesepakatan bangsa pada rapat BPUPKI 2 bulan sebelumnya.

Dimas Widiarto mengatakan bahwa saat itu, tokoh-tokoh Islam khususnya Ki Bagus Hadikusumo dengan kebesaran jiwanya menerima hal tersebut, dengan ketentuan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah, dengan konsep tauhid dan juga mereka memegang teguh janji Soekarno yang akan mengembalikan konstitusi jika kondisi negara sudah aman.

Bahkan Perdana Menteri NKRI pertama, Mohammad Natsir mengatakan bahwa menyambut 17 Agustus umat Islam mengucapkan tahmid, 18 Agustus mengucapkan istigfar dan umat Islam tidak akan pernah lupa.

Adegan yang paling monumental dalam film ini adalah  saat sosok muda Muhammadiyah, Kasman singodemejo yang diminta dan dijanjikan Soekarno untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo yang kukuh mempertahankan gentlemen agreement.

Adegan ini menjadi sangat tragis karena sampai 30 tahun kemudian air mata Kasman selalu menetes setiap mengingat kesalahannya merelakan 7 kata itu terhapus dan membujuk Ki Bagus.

Dimas Widiarto berharap dengan adanya film ini masyarakat memahami pengorbanan besar ummat Islam untuk bangsa.”Kami berharap masyarakat paham akan pengorbanan ummat Islam,dan sudah dilakukuan seperti itu masih dianggap intoleran,” pungkasnya.

Reporter : Ridho Asfari