Urgensi Berkisah dalam Membetuk Generasi Terbaik

Urgensi Berkisah dalam Membetuk Generasi Terbaik

Oleh: Jumiyanti S

 

Mendengarkan kisah, cerita, dongeng, legenda atau sejenisnya adalah sesuatu yang mengasyikkan bagi sebagian besar orang, dari zaman dahulu hingga sekarang, dari anak-anak hingga dewasa.

 

Dahulu, belum ada media audio visual yang banyak menyajikan cerita-cerita kehidupan baik itu fiksi maupun non fiksi. Baru ada media audio seperti radio, dan salah satu program yang dinanti-nanti masyarakat adalah drama tentang kisah-kisah, baik itu kisah fiksi maupun non fiksi. Sebelum hadir media audio pun, cerita-cerita rakyat seperti legenda sudah sangat digemari. Legenda atau cerita rakyat bukan hanya dimiliki oleh Indonesia, melainkan Eropa, Timur Tengah dan belahan dunia lainnya pun memiliki cerita rakyat. Seperti halnya Kisah Kurcaci adalah cerita rakyat dari Eropa dan kisah Seribu Satu Malam berasal dari Timur Tengah, ini membuktikan banyak orang di belahan dunia menyukai kisah atau cerita.

 

Mengapa banyak orang menyukai kisah, cerita, dongeng atau sejenisnya?

 

Kisah atau cerita mau tidak mau melibatkan perasaan atau emotional orang-orang yang mendengarnya dan seolah mereka berada didalamnya. Karakter-karakter yang dimiliki oleh pemeran-pemeran dalam kisah mampu mempengaruhi perasaan pendengarnya. Perjalanan demi perjalanan yang diceritakan dalam kisah mampu  mencampur adukkan perasaan orang-orang yang mendengarnya. Inilah salah satu yang menjadi penyebab banyak orang menyukai kisah, dari kalangan anak-anak hingga dewasa, karena kisah atau cerita mampu melibatkan emosi para pendengarnya.

 

Dari pengaruhnya yang mampu melibatkan hati para pendengar atau pembacanya, rupanya kisah pun memiliki pengaruh memberi model kepada para pendengar atau pembacanya. Karakter pemeran-pemeran dalam sebuah kisah dan bagaimana pemeran kisah menjalankan kehidupannya rupanya mampu menjadi model atau acuan bagi para pendengar dalam menghadapi kehidupan terutama ketika menghadapi sesuatu hal yang sama. Memori seseorang seketika mampu teringat sebuah kisah yang pernah didengar tatkala menghadapi sesuatu hal yang sama/mirip dengan kisah tersebut, kemudian ia bisa memilih melakukan hal yang sama dengan pemeran dalam kisah.

 

Contoh terdekatnya, bisa jadi Anda sendiri. Mungkin Anda pernah dihadapkan dengan sesuatu persoalan, misalkan dikecewakan oleh rekan kerja. Saat dikecewakan, Anda berpikir apa sebaiknya yang harus Anda lakukan, kemudian Anda teringat sebuah kisah yang pernah Anda dengar dengan persoalan yang hampir sama, kemudian Anda memilih meniru apa yang dilakukan oleh pemeran dalam kisah itu dalam menghadapi rekan kerja yang mengecewakan. Seperti itulah contoh sederhana pengaruh sebuah kisah, ia mampu mempengaruhi sikap dan karakter seseorang.

 

Berangkat dari pengaruh berkisah pada diri seseorang yang mampu melibatkan emosi dan mampu menjadi model bagi seseorang dalam bersikap tentu ini sangat baik untuk dijadikan salah satu metode pendidikan.

 

Allah Al-Alim pun telah memberi signal dan contoh dalam mendidik hamba-hamba Nya. Dalam kitab suci Nya Al-Quran banyak mengandung kisah-kisah. Maha Suci Allah dengan kesempurnaan ilmu Nya, Yang Maha Mengetahui yang dibutuhkan oleh hamba-hamba Nya dan Maha Mengetahui yang mudah diterima oleh hamba-hamba Nya. Ya,  berkisah. Allah pun mendidik hamba-hamba Nya dengan berkisah.

 

Ustadz Asep Sobari Lc, seorang yang konsen dalam bidang siroh mengatakan dalam ceramahnya bahwa Agama Islam berisi syari’ah dalam bentuk ilmu-ilmu, pengamalan ilmu-ilmu itu memerlukan contoh untuk bagaimana mengamalkannya, tentu dari Rasulullah serta orang-orang yang bersama Rasulullah lah contoh yang paling tepat, dan untuk mendapatkan contoh-contoh itu tentu dengan mengetahui kisah-kisah mereka.

 

Berbicara tentang generasi terbaik tentu tidak bisa dibantah lagi bahwa generasi terbaik di dunia ini hingga akhir zaman adalah generasi saat Rasulullah dan para sahabat. Namun, tidak menutup kemungkinan, setelahnya pun bisa mencapai generasi yang mendekati kejayaan masa generasi Rasulullah. Bukankah sudah banyak bukti pernah lahir generasi-generasi terbaik setelah Rasulullah. Seperti generasi Shalahuddin Al-Ayubi, generasi Al-Fatih, generasi Sultan Sulaiman yang mampu menghentikan tarian erotis di Perancis selama 100 tahun dan generasi terbaik lainnya, tentu generasi-generasi terbaik ini pun mempelajari kisah kejayaan generasi masa Rasulullah, yaa dari kisah-kisah.

 

Berkisah sangat memegang peranan penting dalam membentuk generasi terbaik.  Generasi terbaik tentulah generasi yang cukup akan kasih sayang,  dan manfaat berkisah lainnya adalah menjalin bonding atau kedekatan antara orangtua dan anak,  tentu yang dimaksud adalah orangtua yang sering berkisah pada anak-anaknya.

 

Generasi terbaik pun membutuhkan generasi yang cerdas. Dengan merutinkan berkisah pada anak-anak khususnya pada waktu sebelum tidur berarti orangtua telah melakukan stimulus pada perkembangan otak anak, hal ini disampaikan oleh G. Reid Lyon, Ph. D yang memimpin penelitian saraf di National Institute of Child Health and Human Development.

 

Berkisah mampu membentuk generasi terbaik, tentulah yang di maksud adalah berkisah tentang generasi terbaik bukan berkisah tentang legenda kurcaci atau seribu satu malam.

 

Sampai disini, semoga ayah bunda tidak menyepelekan berkisah kepada anak-anaknya yaa.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X