Psikomassa dan Bagaimana Umat Bersikap

Psikomassa dan Bagaimana Umat Bersikap

JURNALISLAM.COM – Media massa dalam penyajiannya sangat memicu perubahan dan membawa pengaruh besar kepada masyarakat, khususnya umat Islam.

Salah satu media untuk menggali informasi ini dapat menunjukan seseorang melihat pribadinya dan cara ia berinteraksi dengan lingkungannya, serta membawa efek negatif dan positif.

Media massa sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku seseorang. Arus informasi yang terus menerpa kehidupan kita akan menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan jiwa, bahkan cara pandang atau opini masyarakat.

Dalam perkembangan zaman yang begitu cepat hingga kita memasuki era zaman industri 4.0. Maka hal ini dimanfaatkan oleh musuh Islam sebagai senjata mutakhir agar umat semakin jauh dari ajarannya, bahkan sikap islamphobia terus mengintai.

Inilah yang disebut dengan Psikomassa (Psikologi Massa) dimana media mempengaruhi dan menggiring masyarakat atau kelompok tertentu baik dari cara pandang (opini) maupun perilaku.

Dapat kita saksikan bersama, banyak sekali fenomena-fenomena yang terjadi hingga saat ini, bahkan krisis kemanusiaan dibelahan dunia yang dilakukan oleh etnis yang tidak senang dengan umat Islam, tidak diperlihatkan oleh dunia pers Internasional. Hanya segelintir saja.

Muslim Uighur

Pers Internasional melakukan framing (pembingkaian) media bahwa kejadian tersebut adalah bagian pencegahan Radikalisme dan Terorisme. Sehingga memberikan pengaruh bagi sebagian publik bahkan umat Islam sendiri termakan dengan agenda setting musuh-musuh Islam.

Selain itu, dalam startegi Psikomassa media sekuler terus menerus mengangkat serta mendiskriminasi ajaran Islam. Memberikan pandangan opini negatif dari semua sisi ajaran Islam, dan kita telah ketahui stigma terhadap kaum muslim yang menajalankan syariat itu.

Sebagai contoh diantaranya berjenggot, celana diatas mata kaki, salat berjamaah di masjid selalu disandingkan dengan paham Radikal dan Teroris, sehingga sebagian umat ikut terbawa oleh framing ini serta menolak dan muncul rasa takut untuk menjalankan sunnah Nabi ini.

Dalam analisisnya Noam Chomsky, seorang jurnalis keturunan Yahudi mengatakan: “Washington setiap tahunya menghabiskan dana 1 Miliar Dolar untuk Propaganda dengan tujuan mengontrol opini umum. Amerika mendorong tiap media massa untuk melakukan merger hingga dapat membentuk media massa raksasa.”

Ini adalah bukti bahwa mereka (musuh Islam) begitu serius dalam melakukan propaganda media.

Inilah yang saat ini terjadi, dampak dari gencarnya propaganda media sekuler dalam memainkan framing Psikomassa dalam setiap agenda settingnya. Sehingga, sebagian masyarakat membenci ajaranya sendiri, bahkan hingga seseorang bisa bertindak dengan buta mata dan hati.

Sebagai salah satu contoh kasus yang paling fenomenal adalah pembakaran bendera tauhid pada Hari Santri Nasional 22/10/2018 di Garut, Jawa Barat oleh salah satu ormas. Hasilnya adalah politik belah bambu atau adu domba di tubuh umat pun terjadi dan membuat momentum persatuan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar konferensi pers untuk menanggapi pembakaran bendera kalimat tauhid, Jakarta, Selasa (23/10/2018). Foto: Tomi/Jurnis

Dari semua dampak Psikomassa yang terjadi saat ini, tentu umat Islam harus sadar dari semua propaganda media yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam, dengan mengcounter informasi yang selalu mendiskriditkan Islam dengan stigma negatif, serta memahami informasi tersebut bagian dari nilai dakwah dan jihad.

Karena “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala.” (Syaikh Sayyid Quthb)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X