Politik Minyak di Balik Perebutan Suriah

Politik Minyak di Balik Perebutan Suriah

Oleh: Habibah Auni

Isu Suriah seolah tidak pernah berhenti menggema. Senin, 30 Desember 2019 terdengar Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara di Irak dan Suriah. AS berdalih, bahwa tindakan yang dilakukannya adalah sebagai bentuk pembalasan atas serangan oleh kolompok syiah  Kata’ib Hizbullah (KH).

Tidak hanya dari kisah ini saja, sebenarnya cobaan yang dihadapi Suriah sudah ratusan tahun lamanya. Suriah bagaikan permata yang diperebutkan oleh bajak laut. Siapa yang berhasil mendapatkannya, dialah pemenangnya. Ya, keindahan Suriah bukanlah sekedar omongan saja.

Suriah, sebuah negara yang memegang posisi geopolitik historis satu-satunya di dunia. Negara yang dijuluki sebagai cradle of civilization atau tempat lahirnya peradaban ini, diagung-agungkan sebagai ibu dari semua budaya yang beradab. Andre Parrot, sejarawan Prancis, bahkan sampai bilang, “all cultural men belong to two nations his own and Syria”.

Suriah memiliki kekayaan alam berupa minyak dan gas bumi yang jumlahnya sangat berlimpah. Posisi geografisnya sebagai geopolitic of pipeline telah menempatkan Suriah sebagai pipa penyalur minyak minyak dan gas di Suriah, lintas negara bahkan lintas benua.

Suriah sebagai geopolitic leverage juga menjadi kunci untuk menguasai dunia. Suriah atau “Titik Simpul”, membentangkan jalur sutera dari Shinjiang di Timur Tengah, hingga ke benua Eropa. Jalur inilah yang menjadi lintasan ekonomi dan militer di dunia. Jalur yang strategis dan vital bagi kaum kapitalis global.

Pantaslah Suriah menjadi sarapan sehari-hari bagi mereka yang haus akan kendali kekuasaan. Negara-negara telah berperang untuk menaklukkan ladang minyak Suriah. Selama 100 tahun terakhir, minyak selalu menjadi alasan pecahnya perang di Suriah.

Suriah, ia memiliki cadangan minyak sebanyak 2,5 milyar barel. Minyak memiliki jatah ekspor terbesar di Suriah. Dua pertiga pemasukan devisa Suriah bersumber dari sektor minyak. Kini cadangan minyak di Suriah kian menipis. Menurut British Petroleum Statistical Review of World Energy 2019 Suriah hanya mampu memproduksi 406.000 barel per hari (bph) pada tahun 2008. Produksi minyak pada tahun 2011 mencapai angka 353.000 bph, dan terus merosot hingga 24.000 bph pada tahun 2018.

Wajar saja jika angka produksi selalu menurun tiap tahun. Kondisi tersebut diperburuk dengan perang yang dimulai pada tahun 2011. Perang tersebut menyebabkan kerusakan besar bagi perekonomian Suriah. Belum lagi investasi yang turun, devisit negara perdagangan meningkat dan sumur minyak yang diambil alih negara lain.

Seperti yang kita tahu, pemerintahan Suriah di bawah rezim Bashar Al-Assad bertolak belakang dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Memang Dibawah kekuasaan Bashar Al-Assad, Suriah mengalami kemajuan ekonomi. Namun kemakmuran hanya dirasakan oleh elit-elit politik yang korup. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Alhasil, warga Suriah mengalami kesulitan ekonomi. Mulailah muncul gelombang demonstrasi besar-besaran.

Pemerintah Suriah kemudian merespon dengan tindak militer yang rerpesif. Dunia mulai mengecam penyerangan yang dilakukan otoritas Suriah sebagai kejahatan yang harus dihentikan. AS dan Uni Eropa pun meminta Bashar Al-Assad turun dari jabatannya. Terhitung hingga saat ini, sekutu negara Barat meningkatkan sanksi terhadap Suriah dengan aturan melarang impor minyak dari negara itu. Tujuan dari sanksi tersebut tidak lain untuk menyulitkan pemerintahan Presiden al-Assad.

Dalih penumpasan Presiden al-Assad untuk menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diprakarsai AS, tidak setulus yang kita bayangkan. Ya, AS mendukung oposisi Suriah agar tercipta kedamaian. Namun, apa yang diinginkan negeri Paman Sam itu adalah minyak (Lubis & Dewi, 2016). Karena konflik domestik yang berkepanjangan akan mengganggu suplai minyak untuk internal AS. Sampai-sampai AS rela mencuri minyak Suriah, yang menghasilkan keuntungan sebesar 30 juta US Dolar per bulan (Maulana, 2019).

Melihat langkah AS, Cina tidak mau kalah. Kedua kubu ini saling berebut hegemoni. China yang menjadi pesaing terkuat AS, saling berlomba-lomba untuk bisa menguasai seluruh sektor ekonomi yang ada di dunia. Cina terus berusaha untuk mencapai ambisi pribadinya, yakni menjadi raksasa ekonomi dunia.

Cina tidak ingin Suriah dikuasai oleh Barat terutama Amerika Serikat. Suriah bagi Cina adalah ladang eksplorasi minyak. Bagaimana tidak? Suriah merupakan negara pemasok utama kebutuhan minyak Cina (A., 2013). Kebutuhan minyak nasional Cina sangat bergantung pada runtuh tidaknya rezim Presiden al-Assad, sebab rezim ini menentang AS.

Jika saja pemerintah Suriah jatuh di tangan oposisi, makan hegemoni AS akan mengambil kendali dan menjadi raja ekonomi dunia. Kerja sama ekonomi yang dijalani Cina dengan Suriah selama 50 tahun akan musnah begitu saja (Irdayanti, 2012). Cina akan mengalami kerugian minyak yang begitu dahsyat.

Ada sebuah teori bernama Balance of Power atau mengimbangi kekuatan negara lain. Teori ini berkata bahwa untuk menghindar ancaman dari negara lain, maka negara tersebut harus meningkatkan pengaruhnya terhadap negara lainnya. Disinilah Cina berperan, ia menaikkan pengaruhnya kepada Suriah untuk menangkal ancaman dari AS. Lalu Cina mencoba membuat ancaman baru, dengan cara menguasai dunia, melalui jalur sutera yang terbentang di Suriah

Cina tercatat hingga saat ini, berani menggunakan 14 hak veto-nya di PBB untuk melindungi pemerintah Suriah dari intervensi AS (Republika, 2019). Bisa disimpulkan bukan? Baik itu forum bilateral maupun forum multilateral, terdeteksi adanya tarik ulur kepentingan antara negara-negara yang berbeda kubu dalam menyelesaikan sengketa Suriah saat ini. Suriah saat ini hanya menjadi minyak yang dilelang, tanpa dipedulikan solusi untuk atas masalah yang kini dihadapinya.

Daftar pustaka:

A., M. A., 2013. Kepentingan Cina dalam Konflik Suriah. Makassar.

Irdayanti, 2012. Kebijakan Penolakan Rusia terhadap Strategi Barat di Suriah. Jurnal Pemikiran Islam, 37(2), pp. 154-161.

Lubis, D. W. & Dewi, Y., 2016. Irak dan Suriah Sebelum Kemunculan ISIS. The Journal of Islamic Studies and International Relations, 1(2), pp. 91-115.

Maulana, V., 2019. Suriah Berencana Gugat AS atas Pencurian Minyak. [Online]
Available at: https://international.sindonews.com/read/1480471/43/suriah-berencana-gugat-as-atas-pencurian-minyak-1577349487
[Accessed 1 Januari 2020].

Republika, 2019. Rusia Kembali Veto Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Suriah. [Online]
Available at: https://m.republika.co.id/amp/q2uk50459
[Accessed 1 Januari 2020].

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X