Perpindahan Ribuan Warga Sipil dan Pasukan JFS dari Perbatasan ke Idlib akan Digelar Hari Ini

Perpindahan Ribuan Warga Sipil dan Pasukan JFS dari Perbatasan ke Idlib akan Digelar Hari Ini

SURIAH (Jurnalislam.com) – Perpindahan ribuan pengungsi dan pejuang Suriah dari wilayah perbatasan Lebanon ke wilayah benteng mujahidin di Idlib dengan pertukaran sejumlah tahanan milisi Syiah Hizbullah akan dilaksanakan hari ini, Selasa (1/8/2017), lansir Aljazeera.

Sebuah unit media militer Syiah Hizbullah mengatakan bahwa penundaan pertukaran tersebut adalah untuk memungkinkan “tindakan logistik”, termasuk kedatangan semua bus yang digunakan untuk transportasi di bawah kesepakatan gencatan senjata lokal.

Di bawah kesepakatan antara pejuang oposisi dan Hizbullah, sekitar 9.000 warga sipil Suriah, pejuang dan saudara-saudara mereka berpindah ke daerah yang dikendalikan oposisi di Suriah dengan imbalan delapan pasukan Syiah Hizbullah yang ditahan oleh Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah diserahkan.

Langkah pertama gencatan senjata, yang ditengahi oleh badan keamanan internal Lebanon, dibuka pada hari Ahad saat kedua belah pihak saling menukar jenazah pasukannya yang terbunuh.

Kesepakatan tersebut mencakup keberangkatan semua mujahidin Jabhat Fath al-Sham dari wilayah perbatasan Lebanon di sekitar kota Arsal, bersama dengan warga sipil di kamp-kamp pengungsi terdekat yang ingin pergi.

Kesepakatan tersebut mengikuti kesepakatan yang terjadi di Suriah dimana Damaskus telah menyerang pejuang oposisi dan mujahidin serta warga sipil ke provinsi Idlib dan pada wilayah oposisi lainnya.

Berbicara dari Labweh, sebuah kota Lebanon di dekat perbatasan, Imtiaz Tyab, Al Jazeera menyebut kesepakatan terakhir tersebut “belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Ini adalah pertama kalinya kami melihat sebuah kesepakatan dimana sejumlah besar pengungsi dan pejuang Suriah yang menentang rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad, dan telah melakukan konflik terbuka dengan pasukan Syiah Hizbullah dan Lebanon, keluar dari

daerah mereka dan pergi ke daerah lain di Suriah,” katanya.

Milisi Syiah Hizbullah Libanon telah memainkan peran penting bagi rezim dalam memerangi mujahidin di sepanjang perbatasan selama perang enam tahun Suriah, dengan mengirim ribuan pasukan untuk mendukung pemerintahan Syiah Assad.

Tentara regular Lebanon, yang mendapat banyak dukungan militer AS dan Inggris, tidak mengambil bagian aktif dalam operasi tersebut, dan membentuk posisi defensif di sekitar Arsal.

Badan pengungsi PBB, yang tidak terlibat dalam kesepakatan tersebut, berusaha menjangkau pengungsi di wilayah Arsal untuk menilai apakah pengembalian tersebut bersifat sukarela, juru bicara Lisa Abou Khaled mengatakan.

“UNHCR percaya bahwa belum ada kondisi di Suriah dimana pengungsi kembali dengan aman dan bermartabat,” katanya, dengan perang berlanjut melintasi petak-petak besar di negara tersebut.

Konflik Suriah multi-sisi telah menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan sedikitnya 11 juta penduduk mengungsi dari rumah mereka – sekitar setengah dari populasi pra-perang Suriah.

Hampir 1,5 juta pengungsi telah dibawa ke Lebanon dan mereka sekarang membentuk sekitar seperempat dari populasi negara tersebut. Kamp-kamp darurat di sebelah timur Arsal adalah yang paling menderita dalam kehidupan yang sangat sulit dan beberapa ribu orang tinggal di sana.

Bagikan
Close X