Syariat Islam Dorong Aceh Kembangkan Wisata Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Aceh menyatakan Syariat Islam sama sekali bukan merupakan hambatan pariwisata di Tanah Rencong. Karena saat ini pariwisata memiliki tema masing-masing sesuai daerahnya.

“Seperti Banyuwangi menobatkan sebagai negeri festival, Aceh pun menobatkan sebagai negeri syariah,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah kepada Jurnalislam.com, Sabtu (21/12/2019) di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Jakarta Pusat.

Nova menjelaskan, saat Aceh menobatkan sebagai negeri Syariah, maka pariwisatanya bertema wisata halal dan wisatawan otomatis akan menyesuaikan pakaian sesuai syariat yang berlaku.

“Karena brand yang tercipta di Aceh wisata halal, jadi wisatawan lokal dan asing akan berpakaian dengan sopan dan selama ini tidak masalah,” ujarnya.

Tagar  #China_is_terroris Puncaki Trending Topik Dunia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Negara China terus menjadi perhatian publik dunia paska terbongkarnya dugaan adanya pembersihan etnis yang dilakukan pemerintah Cina kepada muslim Uighur di Xinjiang, China.

Masyarakat Indonesia pun ikut melakukan aksi solidaritas dengan melakukan aksi turun ke jalan di sejumlah daerah. Di media sosial, perbincangan terkait derita muslim Uighur juga menjadi salah satu trending topik.

Hastag #China_is_terrorist menempati urutan pertama trending topik di twitter pada Ahad (22/12/2019).

Pada ahad dinihari pukul 02.25 wib sebanyak 508 ribu tagar #China_is_terrorist telah di tweetkan oleh pengguna twitter di Indonesia.

Salah satu pengguna twitter dengan akun @Ariel71906065 mengajak warga Indonesia untuk ikut peduli dengan permasalahan yang terjadi terhadap muslim Uighur.

“Army minta tolong bantuan kalian buat bantu saudara kita di China yang diperlakun dengan tidak manusiawi,” katanya.

“Aku tau agama kita itu beda beda, tapi satu yang pasti sama semua agama ngajarin kita buat menghargai agama lain dan mengajarkan kebaikan, #China_is_terrorist,” imbuhnya.

Sementara @BangSjahrir meminta pengguna twitter untuk terus menyuarakan tentang Uighur di media sosial, ia juga mengkritisi sikap pemerintah soal permasalahan Uighur yang dianggapnya belum tegas.

“Jangan pernah lelah untuk sampaikan pada dunia, fakta genosida muslim Uighur oleh China,” ungkapnya.

“Ini urusan iman dan ukhuwah Islamiyah, puluhan negara sudah mengecam China komunis teroris radikal, gara gara hutang berkedok investasi, mulut jadi bungkam,” sambungnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintahan China diduga melakukan aksi genosida terhadap muslim Uighur di Xinjiang, PP Muhammadiyah sebelumnya yang melakukan kunjungan ke Xinjiang juga menemukan fakta bahwa tidak ada kebebasan beragama untuk Uighur.

Setelah Ozil, Giliran Khabib Dukung Muslim Uighur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juara dunia kelas ringan UFC Khabib Nurmagomedov jejak Mesut Ozil dengan memberi dukungan untuk etnis minoritas muslim Uighur.

Dukungan untuk muslim Uighur diungkapkan Khabib melalui Instagram. Petarung asal Rusia itu mengunggah sebuah video berdurasi 6 menit 53 detik mengenai sejarah muslim Uighur.

Pada bagian bawah video Khabib menulis dukungan untuk muslim Uighur yang dikabarkan menjadi korban persekusi di wilayah Xinjiang, China.

“Ya Allah, berilah kemudahan untuk para saudara kami, Uighur,” tulis Khabib melalui Insta-story.

Khabib dikenal sebagai petarung muslim pertama yang mampu merebut gelar juara dunia UFC ketika mengalahkan Al Iaquinta, 7 April 2018.

Khabib dijadwalkan mempertahankan gelar juara dunia kelas ringan UFC melawan Tony Ferguson pada UFC 249 di New York, Amerika Serikat, 18 April 2020.

Khabib bukan atlet besar pertama yang mengungkapkan dukungan untuk muslim Uighur. Sebelumnya ada bintang Arsenal Mesut Ozil yang memberi dukungan melalui Instagram, pekan lalu. Mantan pemain Real Madrid itu menyebut Xinjiang sebagai Turkistan Timur.

Sumber: cnnindonesia.com

Terkait Uighur, Parlemen Eropa Serukan Agar Cina Diberi Sanksi

BRUSSEL (Jurnalislam.com) – Dugaan persekusi dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah Cina pada etnis Muslim Uighur di Xinjiang semakin melebar.

Kali ini, Parlemen Eropa menyerukan adanya sanksi terhadap pejabat China.

Apalagi, apa yang dilakukan Uni Eropa (UE) selama ini dianggap belum bisa menyelesaikan masalah Uighur.

“Parlemen Eropa menyerukan Dewan Eropa untuk memberi sanksi yang ditargetkan dan membekukan aset, jika dianggap tepat dan efektif, terhadap pejabat China yang bertanggung jawab atas represi berat hak-hak di Xinjiang,” kata Parlemen Eropa dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip AFP.

“Parlemen Eropa juga mendesak pemerintah China untuk segera mengakhiri penahanan sewenang-wenang, karena pelanggaran pidana. Menyerukan untuk segera dan tanpa syarat membebaskan semua orang yang ditahan.”

Isu dugaan penganiayaan terhadap Muslim Uighur di negara ini telah beredar cukup lama. Sebelumnya, foto-foto satelit telah mengungkapkan bahwa puluhan kuburan di wilayah barat laut China telah dihancurkan, dan pembongkaran situs-situs keagamaan Islam telah dilakukan dalam dua tahun terakhir.

PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia dunia memperkirakan ada sekitar 1 juta sampai 2 juta orang yang ditahan dalam kam re-edukasi muslim Uighur.

Sumber: cnbc

Uighur di Antara Kepentingan Cina dan Amerika

Oleh: Ainul Mizan*

JURNALISLAM.COM – Kaum muslim Uighur saat ini menjadi isu yang seksi untuk ditarik sesuai kepentingan masing – masing.

Kaum muslim Uighur yang tinggal di daerah China menjadi bahan perang proxy antara USA dengan China. China yang ingin menjadi raksasa ekonomi di kawasan. Sedangkan USA melihat China sebagai ancaman serius bagi hegemoninya terutama di kawasan laut China selatan.

USA menyatakan bahwa penganiayaan China atas Uighur termasuk terkait penahanan 1 juta etnis Uighur merupakan catatan kelam HAM di abad ini. Sebuah dokumen yang berisi kebijakan China atas Uighur telah bocor ke ruang publik. The New York Times melansir isi dokumen tersebut.

China telah menyediakan kamp konsentrasi bagi etnis Uighur dan beberapa etnis lain di Xinjiang.

Kamp tersebut dituliskan sebagai kamp re-edukasi terhadap etnis Uighur. Di samping itu, dokumen memberikan panduan cara memburu seseorang.

Kamp re-edukasi yang dimaksud merupakan kamp guna mendidik etnis Uighur agar bisa membaur dengan etnis mayoritas Hans di China. Penanaman nasionalisme China ditekankan. Salah satu wujudnya dengan adanya menyanyi bersama memakai bahasa mandarin. Di samping itu isu mengendalikan ekstremisme dan radikalisme menjadi alibi. Hal ini dilakukan dengan menekankan kesetiaan kepada ideologi Komunisme.

Reaksi China seperti kebakaran jenggot. Abduweli Ayup melaporkan bahwa aparat China telah menahan orang tua, kerabat hingga ipar istrinya. Penahanan terhadap mereka karena dianggap ikut andil membocorkan dokumen tersebut. Juga pengakuan Asiye Abdulaheb, perempuan Uighur di Belanda. Kepada surat kabar De Volksrant, ia mengakui ikut menyebarkan dokumen. Akibatnya ia mendapat ancaman kematian dari agen mata-mata China.

Associated Press di Xinjiang memberitakan bahwa China melakukan pengetatan kendali informasi di wilayah itu sejak oktober lalu. Pejabat setempat telah menghapus dengan cara dibakar semua data tentang orang – orang Uighur yang ditangkap (www.cnnindonesia.com, 16/12/2019).

Baru – baru ini Wall Street Journal juga menurunkan berita bahwa China telah meminta sejumlah ormas Islam di Indonesia untuk bungkam soal Uighur. Termasuk di dalamnya ada NU dan Muhammadiyah.

Tentunya hal demikian patut untuk dicermati. PBNU melalui Said Aqil Siradj memberi jaminan tidak ada persekusi terhadap Uighur di China (cnnindonesia, 17/07/2019). Hal ini mengkonfirmasi kebenaran laporan Wall Street Journal tersebut.

Adapun reaksi dunia terkait kamp re-edukasi Uighur membelah menjadi 2 kubu, yakni sebagian mengecam dan sebagian membela. Yang mengecam ada 22 negara yang sebagiannya dari Uni Eropa. Australia, Selandia Baru, Jepang dan Kanada termasuk yang mengecam.

Sebagian yang membela China, seperti yang dilaporkan Channel News Asia, 13 Juli 2019, di antaranya Rusia, Arab Saudi, Nigeria, Korea, Al jazair, dan Korea Utara.

Mereka memberikan catatan akan kemajuan penanganan ekstremisme dan radikalisme di China. Radikalisme itu telah banyak menyebabkan kerusakan pada keseluruhan etnis di Xinjiang.

Alasan demikian sejalan dengan kepentingan China. China menggunakan narasi guna memerangi radikalisme di Xinjiang. Hal tersebut digunakannya untuk melegitimasi adanya kamp khusus re-Erika’s I yang dilakukannya. Sejak pasca 11 september 2001, China menggunakan alibi radikalisme. Menurutnya banyak etnis di Xinjiang yang berafiliasi dengan jaringan ISIS dan al Qaeda.

Sebenarnya alasan China tidak hanya itu. Sebagaimana yang dilangsir oleh Republika bahwa telah ditemukan ladang gas besar di wilayah Xinjiang, tentunya menjadi aset berharga dalam memenangkan perang dagang dunia. Mulai Nopember segera petrochina mengelolanya.

Dari sini bisa dipahami bahwa Xinjiang menjadi wilayah yang potensial bagi ambisi China menjadi raksasa ekonomi di kawasan. Walaupun notabenenya Xinjiang itu wilayah otonomi, tapi China tidak akan melepaskannya. Isu radikalisme maupun ekstremisme dihembuskan sebagai legitimasi dalam hal ini.

Dalam sejarah, tidak bisa dipungkiri bahwa China mempunyai trauma terhadap Islam dengan keKhilafahannya.

Kaisar China pada abad 18 pernah meminta berunding kepada panglima Islam, Qutaibah bin Muslim.

Hal demikian dilakukannya karena Kaisar China merasa tidak akan mampu membendung ekspansi Islam ke wilayahnya. Pertimbangannya, dengan berunding, ekspansi Islam tidak akan memasuki wilayahnya.

Jejak ketakutan China terhadap Khilafah Islam juga diikuti oleh Lenin dan Stalin. Lenin sangat anti terhadap gerakan Pan Islamisme, yang menurutnya merupakan gelombang Islam melawan kolonialisme dunia Islam. Kebijakan Lenin ini pernah ditentang Tan Malaka. Alasannya kebijakan Lenin yang anti Islam menyebabkan Sarekat Islam pecah menjadi 2 kubu yakni kubu Islam dan kubu Komunis. Padahal menurut Tan Malaka, adanya Pan Islamisme justru menguntungkan. Hematnya bisa digunakan untuk membendung pengaruh barat dengan Kapitalismenya.

Terlihat jelas bahwa baik USA maupun China tidak menjadikan kepentingan umat Islam sebagai prioritas kebijakannya.

Keduanya hanya mengedepankan kepentingan hegemoninya. Kaum muslimin berusaha untuk ditarik ikut bermain dalam pusaran proxy yang mereka jalankan.

Hasilnya umat Islam terbelah. Dengan demikian, umat Islam menjadi lemah dan nasibnya tetap berada di dalam cengkeraman penjajahan baik oleh Kapitalisme maupun Komunisme.

Mengenai cuitan Mesut Ozil tentang Uighur yang membuat China berang, itu adalah reaksi dari seorang muslim yang peduli dengan nasib saudaranya. Atas dasar iman, Ozil melakukan kecaman terhadap kekejaman China dan diamnya penguasa muslim.

Mestinya keberanian iman dari Ozil beresonansi kepada seluruh pemuda Islam dan dunia Islam secara umum.

Sudah semestinya dunia Islam berdiri pada kakinya sendiri. Mereka berkumpul dan bangkit untuk melenyapkan kerusakan dunia akibat penjajahan Kapitalisme maupun Komunisme.

Umat ini mempunyai potensi besar membuat gentar China untuk kedua kalinya. Termasuk membuat gentar negara adikuasa, USA. Tentunya dengan KeKhilafahannya, hal tersebut bisa dilakukan.

 

*Penulis tinggal di Malang

Pemerintah Aceh Gencar Bangun Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Aceh saat ini gencar mengembangkan pembangunan sektor pariwisata bersama pengembangan usaha kreatif masyarakat. Sebab ada banyak sekali daya tarik wisata yang dimiliki Aceh, baik itu wisata alam, wisata budaya, wisata buatan, cagar budaya, dan sebagainya.

“Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengidentifikasi, setidaknya ada 797 objek wisata serta 774 situs dan cagar budaya yang tersebar di 23 Kabupaten/kota di seluruh Aceh,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT saat membuka kegiatan Forum Silaturahmi Aceh Meusapat II, di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Jakarta Pusat, Sabtu (21/12/2019).

Nova menjelaskan, selain pariwisata, Aceh juga memiliki beragam seni budaya yang unik, seperti tarian, adat istiadat, sastra, seni lukis, maupun kegiatan spiritual yang begitu menarik bagi masyarakat dunia. Semua keindahan itu, ujarnya sangat mudah untuk dinikmati, karena aksesibilitas menuju tempat-tempat wisata di Aceh sangat mudah.

“Semua lokasi tujuan wisata itu dapat dikunjungi melalui jalur darat, laut, dan udara. Tersedia pula penerbangan internasional ke Aceh, seperti dari Penang, Kuala lumpur, dan juga Jeddah. Sekarang sedang dibahas rencana pembukaan jalur penerbangan baru dari Aceh ke India (Port Blair), serta rute Sabang–Phuket– Langkawi,” jelasnya.

Dengan semua kemudahan itu, maka tidak heran jika jumlah wisatawan yang berkunjung ke Aceh terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018, misalnya,kunjungan wisatawan ke Aceh mencapai 2,5 juta orang atau naik sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya. Untuk tahun 2019 ini, kunjungan itu diperkirakan mencapai 3 juta orang.

“Terpilihnya Aceh sebagai ‘World’s Best Halal Cultural Destination’ kian mendorong kami untuk lebih bersemangat membenahi berbagai fasilitas wisata itu. Dengan demikian, wisata Aceh mampu meraih Peringkat terbaik pada Global Muslim Travel Index (GMTI) 2020,” kata dia.

Berdasarkan data Aceh Dalam Angka, sektor pariwisata rata-rata setiap tahun telah mampu memberikan kontribusi berkisar 5 % kepada PDRB Aceh. Dibanding sektor usaha lainnya, memang kontribusi pariwisata ini masih berada pada urutan ke 8 (delapan). Dengan meningkatnya perkembangan tersebut, Pemerintah Aceh yakin bahwa kontribusi sektor pariwisata bisa naik hingga ke posisi 4 (empat) besar.

Karena itu, pihaknya begitu optimis bahwa sektor pariwisata bisa menjadi salah satu penyangga perekonomian Aceh di masa depan.

“Oleh sebab itu, upaya untuk pengembangan sektor pariwisata ini harus segera ditingkatkan. Selain terus melakukan promosi dan perbaikan di berbagai bidang, tentu saja kami juga siap belajar dari pengalaman berbagai daerah yang sudah berhasil dalam mengembangkan usaha pariwisata ini,” jelas dia.

Rumah Dua Ustaz di Klaten Dirusak Orang Tak Dikenal

KLATEN (Jurnalislam.com) – Rumah Ketua Majelis Mujahidin (MM) Klaten Ustaz Bony Azwar di Dukuh Menden, Mayungan, Ngawen.

Selain itu, rumah ketua Barisan Muda Klaten (BMK) ustaz Nanang Nuryanto di Dusun Dukuh, Bonyokan, Jatinom dirusak sejumlah orang tak dikenal pada Jum’at (20/12/2019) dini hari.

Sebelumnya, Ustadz Boni mengaku bahwa dia bersama elemen umat Islam Klaten menangkap tangan pelaku perjudian kemudian melaporkan kepada pihak berwajib.

“Kejadiannya masih ada hubungannya atau tidak tapi kemarin malam sekitar jam 8 kita gerebek judi, diamankan 2 tersangka dengan permainan judinya, 1 cap jie kia atau nomor, yang satunya lagi ding dong dan diamankan 2 orang dan barang bukti berupa uang dan rekapan semua lengkap,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com.

Kemudian, kata ustaz Bony, ada yang datang mengaku bahwa ini milik salah satu yang membakingi, kemudian untuk antisipasi teman teman sampai jam 2 dan kita komunikasi terus dengan polres, dan jam 2 pada pulang dan itu kejadiannya sekitar jam 3.

“Jadi indikasinya mereka itu baru ketempat saya, dan jumlah mereka menurut saksi lebih kurang 20 orang, dan kita tidak melihat karena kita didalam, mereka mecahin kaca dan suaranya seperti hujan gemuruh itu, akhirnya keluarga takbir dan masyarakat bersuara lalu mereka pergi,” ungkapnya.

Pelaku Bersenjata Tajam

Ustaz Bony melanjutkan, menurut keterangan warga, pelaku mengenakan penutup wajah dan datang dengan motor dan mobil kemudian melakukan pengrusakan dengan benda tajam yang diduga pedang.

“Kalau kata masyarakat menggunakan benda tajam sejenis pedang, pelaku bertopeng dan menggunakan mobil dan motor,” ujarnya.

“Dari Kapolres menyampaikan kita bahwa ini menjadi perhatian betul dari beliau, kemudian di backup oleh Polda jadi semua pelaku ini sedang dicari,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dengan adanya kejadian tersebut ustaz Bony meyakini bahwa ada pihak pihak yang melindungi perjudian di wilayah Klaten, ia juga mengaku tidak akan gentar untuk terus melakukan nahi munkar terhadap penyakit masyarakat di wilayah Klaten dan sekitarnya.

“Jadi intinya dengan adanya kejadian ini bahwa judi di klaten ada yang backup, kemudian mereka tidak senang bahwa tempat judinya itu diganggu kemudian mereka melakukan teror,” paparnya.

“Semoga adanya kejadian ini membuat aparat  semangat untuk menghilangkan pekat, terutama miras dan judi di kabupaten Klaten karena kita tahu bahwa efek miras dan judi itu tidak baik kedepan,” pungkasnya.

Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara Kutuk Pelanggaran HAM terhadap Uighur

(Jurnalislam.com)–Organisasi Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT) mengutuk perbuatan pemerintah Cina terhadap muslim Uighur.

Hal tersebut juga didukung oleh organisasi pelajar Asia Tenggara seperti Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM), Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Pelajar Patani, hingga  Thai Muslim Students Association.

Perwakilan (PEPIAT) Ahmad Farhan Rosli mengatakan bahwa umat Islam sedunia harus bertindak mengatasi pelanggaran HAM berat ini.

Ia menyerukan pemimpin dunia Islama agar memboikot acara olahraga olimpiade 2020 di Cina.

“Kami mendesak semua negara dunia terutama negara Islam menolak sebarang usaha normalisasi oleh Kerajaan China dalam mempromosikan “kedamaian” di Wilayah Xinjiang,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (20/12/2019).

Ia juga menyeru semua pihak agar mencontoh tindakan berani pemain bola sepak Arsenal, Mesut Ozil yang secara terbuka mendukung muslim Uighur.

Pemerintah Dinilai Tak Berdaya Sikapi Pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Umum FPI KH Sobri Lubis meminta pemerintah proaktif membantu penyelesaian dugaan pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur di Xinjiang, Cina. Menurut dia, hal yang terjadi di Xinjiang adalah pelanggaran HAM berat.

“Kita sebagai umat Islam terbesar di dunia, berkewajiban menjaga ketertiban dunia,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Bukan justeru sebaliknya, pemerintah enggan menerima perwakilan masyarakat Uighur yang ingin datang ke pemerintah Indonesia. Selain itu, dia menilai pemerintah juga lamban merespons persoalan Uighur.

“Pemerintah sangat-sangat lemah dalam menangani kasus pelanggaran hak berat umat muslim di Xinjiang,” kata dia.

Selain itu, dia meminta kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghentikan segala bentuk arogansi pemerintah Cina di Xinjiang. PBB harus segera turun tangan.

Dengan adanya pelanggaran HAM seperti itu, ujarnya, PBB juga harus mengecek langsung kondisi kamp yang disebut penjara raksasa di Cina dan melakukan investigasi yang jelas.

“Turun ke masyarakat, tanya ke masyarakat ada apa disana, apa yang mereka alami disana,” ujarnya.

Namun, dia melihat PBB juga kurang semangat menangani persoalan Uighur.

“Oleh karena itu, kami bersama-sama akan turun untuk menjalankan misi mulia dalam menghapus penjajahan di muka bumi,” katanya.

FPI: Cina Berdalih Lawan Radikalisme, Tapi Hak Asasi Uighur Dirampas

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Sejumlah tokoh, ulama dan habaib membentuk solidaritas untuk muslim Uighur di Xinjiang Cina.

Mereka akan menggelar Aksi Nasional Bela Uighur Jumat 27 Desember 2019.

Ketua FPI KH Shabri Lubis mengaku mendapat informasi bahwa muslim Uighur dilarang memiliki dan membaca AIquran serta dipaksa wajib mengikuti kamp re-edukasi.

Dia mengatakan ini adalah penahanan semena-mena tanpa proses hukum yang adil sesuai standar internasional.

“Juga ketika Ielaki saudara Uighur kita mendekam dalam kamp tersebut, di saat yang sama mereka dipaksa menerima orang asing non muhrim untuk tinggal satu atap dengan keluarga atau istri mereka yang ditinggalkan,” kata Ketua Umum FPI, KH Sobri Lubis dalam jumpa pers, Jumat (20/12/2019).

Ironisnya, jika menolak, mereka akan dituduh sebagai ekstrimis radikal dan dijebloskan ke dalam kamp re-edukasi, dimana menurut beberapa laporan LSM HAM Internasional justru tempat dimana banyak penyiksaan serta pelecehan seksual terjadi.

“Perampasan hak-hak asasi manusia umat Islam Uighur di wilayah otonomi khusus Xinjiang sudah sangat keterlaluan. Lewat Undang-undang de-ekstremifikasi serta dalih melawan radikalisme, hak asasi manusia saudara muslim Uighur kita dicabik dan dirampas hak beribadahnya, hak ekonominya, hak sosialnya. hak politiknya sampai hak budayanya,” pungkasnya,” pungkasnya.