Peran Penting Kaum Muslimah Membangun Peradaban di Era Dakwah Milenial

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyebut muslimah dapat memberikan kontribusi yang besar dalam kebangkitan Islam, hal itu ia katakan saat memberikan materi dalam tabligh akbar di Masjid Baitussalam komplek Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

Dalam tabligh akbar bertajuk ‘Citra Diri Wanita di Era Konspirasi Dunia’ itu, ia menjelaskan tentang pentingnya muslimah bagi dakwah di era digital seperti saat ini.

“Ketika mereka berdakwah di era milenial karena muslimah itu mengambil peran yang sangat besar di era milenial,” katanya di hadapan ribuan muslimah Soloraya yang ikut dalam tabligh akbar tersebut.

“Kalau muslimah muslimah ini bisa mumpuni, bisa memberikan kontribusi besar maka saya yakin dari muslimah inilah muncul kebangkitan Islam, saya yakin karena dari data data seperti itu,” imbuhnya.

Untuk itu, ia berpesan kepada para muslimah agar senantiasa membekali diri dengan ilmu agama yang cukup agar dapat menyiapkan generasi terbaik untuk kembali membawa kejayaan Islam di dunia.

“Mereka adalah rahim peradaban, terutama zaman sekarang, maka yang mereka perlukan adalah mendidik dirinya sendiri dan persiapan untuk generasi generasi kedepan,” ujarnya.

“Karena tanpa dididik muslimah tidak akan muncul dari umat ini generasi terbaik yang nanti akan menegakan Islam,” pungkasnya.

Ustaz Felix Sayangkan Adanya Upaya Politisasi Banjir Jakarta

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyayangkan adanya sejumlah pihak di antara warganet yang melakukan politisasi musibah atas bencana banjir yang melanda Jabodetabek di awal tahun 2020 saat ini.

“Saya sangat menyayangkan bahwa musibah itu dipolitisasi untuk menyerang orang yang tidak disukai ataupun tokoh yang dianggap bertanggungjawab,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

Padahal, katanya, mungkin sejatinya adalah ini semacam seperti dendam, karena ada ketidaksukaan mereka akan pendukung satu orang tertentu kemudian lengser.

“Lantas ini disalahkan semua umat muslim, dan seolah olah yang menjadi target tembak orang tertentu, atau yang sekarang misalnya diserahkan pengelolaan daripada jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, sebagai sesama anak bangsa, ia meminta kepada semua pihak untuk bisa memberikan bantuan kepada korban musibah banjir dan bencana lainnya.

“Padahal kalau kita melihat bisa jadi memang ada salah pengelolaan, tapi kita tidak mau untuk mempolitisir dengan kayak efek efek negatif dari musibah ini,” paparnya

“Maka kita harus hentikan yang semacam ini kalau mampu bantu ya bantu, kalau tidak mampu ya doakan tapi jangan memperkeruh suasana,” pungkas Ustaz Felix.

Soal Banjir Jabodetabek, Ini Kata Ustaz Felix Siauw

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Da’i muda keturunan Thionghoa, Ustaz Felix Siauw ikut berbelasungkawa atas terjadinya bencana banjir yang melanda wilayah Jabodetabek dan sejumlah daerah di Indonesia.

Menurutnya, sebagai umat Islam, kita wajib untuk memberikan semangat dan motivasi kepada mereka yang sedang mendapatkan ujian dari Allah tersebut.

“Pertama kita berbelasungkawa karena bagaimanapun juga orang yang tertimpa musibah itu, harus kita semangati, harus kita berikan harapan, harus kita naikan kemudian,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

“Kita memohon ampun kepada Allah, beristigfar kepada Allah karena dalam pandangan Islam itu musibah bukan hanya sebuah kesalahan manusia tapi bagian daripada ujian daripada Allah terhadap manusia itu sendiri,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menghimbau kepada semua pihak untuk introspeksi dan muhasabah diri atas ujian yang diberikan Allah tersebut, kemudian, katanya, melakukan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan di masa lalu.

“Yang kedua kita melihat apa pola pola hidup kita, ataupun pengelolaan pengelolaan yang bisa diperbaiki dari bencana itu,” ujarnya.

Dan yang berikutnya, katanya, adalah tentu adalah setiap ujian itu bukan permasalahan ujiannya, tapi permasalahan jawabannya dari ujian itu.

“Maka jawaban yang paling tepat dari ujian itu adalah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’tala,” pungkasnya.

Anwar Abbas: Buya Yunahar Adalah Ulama yang Rendah Hati

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, mengenang kedekatannya dengan sosok Buya Yunahar Ilyas. Buya Anwar menuturkan, Buya Yunahar adalah ulama yang rendah hati.

“Beliau adalah seorang ulama yang berpengetahuan luas sehingga beliau sering dipanggil oleh teman-teman dan murid serta jamaahnya dengan ‘buya’,” katanya, Jumat (3/1/2020).

Selain itu, ceramah-ceramah Buya Yunahar selalu menarik karena di setiap tausiahnya ada saja sesuatu yang baru, menggelitik hati, dan pikiran jamaah yang dia selipkan. Dengan begitu, setiap pengajian yang dihadiri selalu hidup dan ramai jamaahnya.

“Bidang keahlian beliau (Yunahar) yang menonjol adalah dalam ilmu tafsir yaitu suatu cabang keilmuan dalam Islam yang sangat sarat dengan perbedaan pendapat,” ujarnya.

Menurut Anwar, ini tampaknya juga telah membentuk sikap dan cara pandang Buya Yunahar. Dengan begitu, dalam hidup bermasyarakat dan berorganisasi yang terkadang sangat tinggi dinamika dan perbedaan pendapat yang dihadapi, Yunahar tampak tidak mengalami banyak kesulitan karena sudah terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dan melihat suatu masalah dari berbagai perspektif.

“Beliau oleh teman-teman di PP Muhammadiyah dipercaya dalam dua periode kepemimpinan ini untuk membidangi masalah tarjih dan dakwah, dua bidang yang memang sangat beliau kuasai,” ucapnya.

Sementara di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Yunahar juga pernah menjadi ketua yang membidangi masalah pengkajian dalam periode 2010-2015.

“Terakhir, dalam Munas MUI Tahun 2015 di Surabaya ditunjuk oleh Munas (Musyawarah Nasional) menjadi salah seorang wakil ketua umum MUI mendampingi KH Maruf Amin sebagai ketua umum MUI untuk periode 2015-2020,” katanya.

MUI Imbau Pemerintah Pusat dan Daerah Duduk Bersama Bahas Solusi Banjir

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Awal tahun 2020, sejumlah wilayah di Jadetabek terkena banjir akibat curah hujan yang tinggi sejak 31 Desember 2019 siang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau warga untuk tak saling menyalahkan terkait banjir ini.

MUI juga mengimbau pemerintah segera mencari solusi atas permasalahan banjir yang melanda sejumlah wilayah, sehingga diharapkan di masa mendatang banjir tak lagi terjadi.

“MUI mengimbau kepada pihak yang terkait, terutama pemerintah Jabar, Banten, dan DKI Jakarta serta pemerintah pusat untuk bisa duduk bersama mencari solusi yang lebih baik sehingga di tahun-tahun mendatang, meskipun hujan turun dengan deras, banjir tidak seperti yang ada sekarang,”kata Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangannya, Kamis (02/01/2020).

Lebih lanjut MUI mengimbau masyarakat bergotong royong membantu korban banjir. Selain itu, MUI berharap warga yang menjadi korban dapat tabah dan sabar menghadapi banjir.

“Dan kepada masyarakat diimbau untuk bisa mengulurkan tangan serta membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan agar beban material dan kejiwaan yang mereka pikul menjadi lebih ringan,” pungkas Anwar.

MUI: Jangan Saling Menyalahkan Jika Terjadi Bencana

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Awal tahun 2020, sejumlah wilayah di Jabodetabek terkena banjir akibat curah hujan yang tinggi sejak 31 Desember 2019 siang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau warga untuk tak saling menyalahkan terkait banjir ini.

“MUI mengimbau agar dalam menghadapi masalah dan musibah ini kita jangan saling menggugat dan atau saling menyalahkan atau hanya menyalahkan kepada salah satu pihak karena masalah ini sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan yang holistik dan kerja sama dari banyak pihak,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangannya, Kamis (02/01/2020).

MUI juga mengimbau pemerintah segera mencari solusi atas permasalahan banjir yang melanda sejumlah wilayah, sehingga diharapkan di masa mendatang banjir tak lagi terjadi.

“MUI mengimbau kepada pihak yang terkait, terutama pemerintah Jabar, Banten, dan DKI Jakarta serta pemerintah pusat untuk bisa duduk bersama mencari solusi yang lebih baik sehingga di tahun-tahun mendatang, meskipun hujan turun dengan deras, banjir tidak seperti yang ada sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut MUI mengimbau masyarakat bergotong royong membantu korban banjir. Selain itu, MUI berharap warga yang menjadi korban dapat tabah dan sabar menghadapi banjir.

“Banjir tahun ini benar-benar dahsyat, sehingga mendatangkan kerugian yang cukup besar. MUI mengimbau masyarakat yang ditimpa oleh musibah supaya tetap tabah dan sabar dalam menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan dengan demikian Allah SWT akan mengganti semua kerugian yang didapat dengan yang lebih baik lagi,” kata Anwar.

“Dan kepada masyarakat diimbau untuk bisa mengulurkan tangan serta membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan agar beban material dan kejiwaan yang mereka pikul menjadi lebih ringan,” pungkas Anwar.

ACT Respons Tanggap Darurat dan Dirikan Posko Banjir Jabodetabek

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Hujan mengguyur DKI Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi lebih dari 12 jam sejak Selasa (31/12/2019) sore. Curah hujan ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Januari hingga Maret 2020.

Tingginya intensitas pada awal tahun 2020 berdampak pada banjir yang merendam sebagian besar wilayah Jabodetabek. Menurut data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), per 1 Januari 2020, lebih dari 31 ribu orang mengungsi dari rumahnya dan 16 orang meninggal.

Merespons besarnya dampak banjir di Jabodetabek, Aksi Cepat Tanggap telah melakukan penanganan di fase tanggap darurat ini. Presiden ACT Ibnu Khajar menyampaikan, penanganan fase tanggap darurat tersebut antara lain evakuasi, pemberian layanan medis, pendirian posko kemanusiaan dan dapur umum, hingga pendistribusian logistik.

“Untuk penanganan banjir besar di Jabodetabek, kami menerapkan total disaster management, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan. Di fase tanggap darurat ini, tim kami sudah siaga sejak Selasa (1/1) kemarin dan tersebar di titik-titik yang terdampak banjir paling parah. Evakuasi warga kami utamakan, simultan dengan pendistribusian bantuan melalui armada-armada kemanusiaan kami,” jelas Ibnu.

Di fase tanggap darurat, Aksi Cepat Tanggap telah menurunkan 5 regu penyelamat ke wilayah-wilayah terdampak banjir.

“Fase pertama yang dilakukan adalah proses evakuasi warga yang terjebak banjir di rumahnya. Saat ini evakuasi warga terus berlangsung di titik-titik yang terdampak parah, seperti Pondok Gede Permai (Kota Bekasi), Ciledug (Kota Tangerang), Bidara Cina (Jakarta Timur), dan lainnya,” terang Ibnu, Kamis (2/1).

Ambulans Pre-Hospital mengiringi proses evakuasi korban banjir di Jabodetabek. Kamis (2/1), armada yang dilengkapi peralatan medis untuk pertolongan pertama bagi pasien ini mengevakuasi lansia di wilayah Pondok Gede Permai, Bekasi. Lansia tersebut mengalami luka saat berusaha menyelamatkan diri dari banjir.

Selain evakuasi dan layanan medis, ACT turut mendirikan puluhan posko kemanusiaan di Jabodetabek.

“Kami sedang proses pendirian puluhan Induk Posko Wilayah dan Daerah di Jabodetabek. Saat ini sudah ada yang telah aktif dan melayani warga terdampak banjir. Misalnya saja ada di Ciputat, Pondok Gede, Petamburan, dan lainnya,” ujar Wahyu Novyan selaku Direktur Program ACT.

Selama sepekan ke depan, ACT akan mendirikan 14 Induk Posko Wilayah yang masing-masing membawahi 3 Induk Posko Daerah. Posko-posko tersebut di antaranya 5 posko di Jakarta, 3 posko di Tangerang, 2 posko di Bekasi, 2 posko di Bogor, 1 posko di Depok, dan 1 posko di Karawang. Sehingga, ACT mendirikan 56 posko sepekan ke depan.

Dapur umum juga tengah didirikan untuk menyediakan makanan siap santap bagi korban banjir, baik yang bertahan di rumah mereka maupun yang mengungsi. Simultan dengan itu, ACT mendistribusikan air bersih dan logistik seperti selimut dan pakaian untuk warga terdampak banjir.

 

“Armada kemanusiaan juga akan diturunkan untuk mendistribusikan bantuan ke posko pengungsian seperti Humanity Food Truck, Humanity Water Truck, dan Ambulance Pre-Hospital. Air Minum Wakaf dari Global Wakaf juga akan didistribusikan bagi warga Jakarta yang terdampak banjir,” tutup Wahyu. []

Innalillahi, Waketum MUI Prof. Yunahar Ilyas Meninggal Dunia

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Innalilahi wainna ilaihi rajiun, telah meninggal dunia Prof. Dr. KH. Yunahar Ilyas,Lc Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah  dan Wakil Ketua Umum MUI, pada tanggal 2 Januari pukul 23.47 di RS. Sarjito Yogyakarta.‬

Selain menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, Prof Yunahar juga merupakan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr Agus Taufiqurrahman mengatakan, sosok Prof Yunahar merupakan ulama besar yang sangat tinggi dedikasi terhadap dakwah islam.

“Bahkan dalam kondisi kurang sehatpun beliau masih aktif berdakwah. Kajian dan karya-karya beliau selalu menginspirasi kami generasi di bawah beliau,” kenang Agus Taufiqurrahman ketika dihubungi pada Jum’at (3/1).

dr Agus Taufiqurrahman yang selama ini turut mendampingi Prof Yunahar menjelaskan, setelah dirawat di RS Sarjito, Prof Yunahar semula dalam rangka persiapan cangkok ginjal.

“Namun karena kondisi prof Yun menurun kemudian dirawat di ICU,” jelas Agus Taufiqurrahman.

Sekadar diketahui, Prof Yunahar merupakan putra Bukittinggi kelahiran 22 September 1956 ini menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1986.

Menamatkan pendidikan dasar di Padang, dua gelar S1 diperoleh di Fak. Usluhuddin Universitas Ibnu Riyadh (1983) dan Fak. Tarbuyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984. S2 dan S3 diselesaikan di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1996 dan 2004.

Selama bermuhammadiyah, pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Diluar muhammadiyah, tercatat sebagai salah satu unsur ketua di Majelis Ulama Indonesia Pusat. Sehari-hari, bekerja sebagai Dosen/Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 1987.

sumber: Muhammadiyah

Penanganan Banjir Jabodetabek di Bawah Koordinasi BNPB

JAKARTA(Jurnalislam.com)  – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan penanganan banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akan dilakukan secara terintegrasi di bawah koordinasi BNPB.

Alhamdulillah mulai siang kemarin hingga hari ini, semua pihak memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Mudah-mudahan masyarakat yang tertimpa musibah bisa tertolong secara cepat dengan cara-cara yang baik,” kata Doni seusai rapat koordinasi kementerian/lembaga di Jakarta, Kamis (2/1)

Doni mengakui proses penanganan banjir sejak Rabu (1/1) relatif lambat karena keterbatasan personel di lapangan.

Namun, mulai Kamis, akan ada bantuan tambahan personel dari Markas Besar TNI baik di Jabodetabek maupun di Jawa Barat dan Banten.

Doni mengatakan rapat koordinasi tersebut menyepakati para wali kota dan bupati yang daerahnya terdampak banjir akan menjadi komandan satuan tegas.

Di bawah wali kota dan bupati akan ada unsur TNI/Polri di tingkat distrik militer dan kepolisian resor serta Kantor Pencarian dan Penyelamatan (SAR).

“Semua terintegrasi sampai tingkat yang paling rendah, yaitu titik. Tadi juga diusulkan ada komandan titik, artinya semua daerah bencana perlu ada tim gabungan sehingga seluruh bantuan bisa terintegrasi baik evakuasi, medis, logistik maupun lainnya,” tuturnya.

Kepada relawan dari berbagai lembaga, Doni juga meminta berkoordinasi dengan pos komando agar penanganan banjir lebih terintegrasi.

“Jadi relawan membantu apa juga harus seimbang, supaya tidak menumpuk di satu tempat. Nanti unsur-unsur yang ada di posko akan menginformasikan apa yang kurang, kalau ada kelebihan akan disalurkan ke posko lain,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Waspadai Penyakit Pasca Banjir: ISPA hingga Pencernaan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kepala Suku Dinas Kesehatan (Kasudinkes) Jakarta Timur Indra Setiawan mengatakan, para pengungsi korban banjir Cipinang Melayu mulai terserang penyakit pascabanjir. Mereka masih menghuni lokasi pengungsian Universitas Borobudur.

“Kasus terbanyak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), lalu dermatitis kulit, dan masalah lambung,” kata Indra saat ditemui di lokasi pengungsian yang berada di Universitas Borobudur, Jakarta, Kamis.

Menurut Indra, sejak Kamis pagi, pihaknya telah melakukan screening terhadap 926 jiwa. Hal itu ditempuh untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi.

Indra mengatakan, berdasarkan data posko kesehatan, terdapat 265 kepala keluarga korban banjir Cipinang Melayu yang mengungsi di Universitas Borobudur. Total pengungsi laki-laki 467 jiwa, dan perempuannya 259 jiwa.

Sementara itu, Indra mengatakan ada sebanyak 51 lansia, 114 balita, dan delapan ibu hamil yang ditampung di lokasi pengungsian yang berada di Universitas Borobudur. Pihaknya masih berusaha memetakan pasien berisiko tinggi.

“Kalau memang ada penyakit berisiko tinggi yang perlu dipantau jadi kita tidak sulit memantaunya,” kata dia.

Untuk persediaan obat, menurut Indra, pihaknya sudah menyiapkan segala keperluan untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi terkait kondisi kesehatan pengungsi.

Sumber: republika.co.id