Inilah Tiga Kemungkinan Alasan Seseorang Masuk Syiah Menurut KH Athian Ali

BEKASI (Jurnalislam) – Dalam orasi Pengukuhan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Bekasi Raya, Ketua ANNAS Pusat KH Athian Ali M Dai menyampaikan tiga kemungkinan alasan seseorang masuk Syiah.

Pertama, orang tersebut tidak paham Islam. “Terutama tidak mengenal fungsi Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia,” katanya di Islamic Center Bekasi, Ahad (21/2/2016).

Kedua, orang tersebut tidak mengenal Syiah. “Kalau ada yang meragukan kesesatan Syiah, ternyata ia tidak mengenal Syiah,” lanjutnya.

Dan kemungkinan yang ketiga adalah orang tersebut tertipu oleh taqiyah orang Syiah. “Karena kerjanya orang-orang Syiah adalah berbohong,” terangnya.

Taqiyah adalah salah satu ajaran Syiah yang membolehkan penganutnya berbohong, khususnya kepada umat Islam.

“Saya setuju tidak perlu berdialog dengan orang-orang pembohong,” tegasnya.

Reporter: Zul, Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

Syiah adalah Kaum Takfiri Penghina Sahabat, Rasul, Bahkan Allah SWT

BEKASI (Jurnalislam) – Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat KH Athian Ali M Dai mengatakan, Syiah adalah kelompok takfiri. Sebab, Syiah-lah yang gemar mengkafirkan para Sahabat Rasulullah SAW yang sudah dijamin oleh Allah sebagai ahli surga.

“Mereka (Syiah-red) mengatakan barang siapa yang mengkafirkan Syiah adalah kelompok takfiri. Padahal yang mengkafirkan Syiah adalah Allah, Allah yang mengkafirkan Syiah. Jadi yang mereka alamatkan kelompok takfir sedang mereka alamatkan kepada Allah,” ungkapnya pada acara Tabligh Akbar dan pengukuhan pengurus ANNAS Bekasi di Islamic Center Bekasi, Ahad (21/2/2016).

Kyai Athian menegaskan, penganut Syiah tidak hanya menghina, mengkafirkan dan melaknat para Sahabat dan istri Rasulullah SAW. “Bahkan hinaan itu juga diarahkan kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam,” tegasnya seraya mengutip pernyataan Khomeini (ulama Syiah) yang menyatakan bahwa sepeninggal Rasulullah semuanya murtad, kecuali Ali dan keluarganya serta ketiga Sahabat asal Persia.

“Ini penghinaan terhadap Rasulullah, artinya Rasullah telah gagal membawa risalah Islam, hanya tiga yang berhasil diIslamkan, selebihnya kafir semua, menurut orang syiah,” sambungnya.

Lebih lanjut Kyai Athian memaparkan bahwa Syiah juga telah menghina Allah SWT. Pernyataan tersebut mengacu pada keyakinan penganut Syiah yang menyatakan bahwa kitab Suci Al-Quran sudah tidak asli lagi.

“Kami turunkan Al-Qur’an dan Allah kata Allah kami yang akan menjaganya,” tuturnya mengutip surat Al-Hijr ayat 9.

“Artinya, Allah menjamin sampai Kiamat Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya. Orang Syiah menyatakan Allah gagal menjaga Al-Qur’an karena menurut Syiah Al-Qur’an yang ada di tangan kita bukan Kitab Suci, ini penghinaan terhadap Allah,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Kyai Athian mengajak umat Islam untuk membuktikan keimanannya dengan tidak tinggal diam terhadap kesesatan kelompok Syiah yang telah menghina nilai-nilai mulia dalam Islam.

“Ini saatnya kita buktikan keimanan kita kepada Allah, Allah dan Rasul dihina mereka, para Sahabat dan istri Rasul mereka laknat, mana bukti keimanan kita,” tegasnya disambut gema takbir dari ratusan jamaah.

Reporter: Zul, Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

Keyakinan Syiah Mengkafirkan Para Sahabat Rasul adalah Pemicu Konflik

BEKASI (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Habib Achmad Zein Alkaff memandang, konflik Syiah dengan Islam di Timur Tengah bisa menjalar ke Nusantara. Hal tersebut bisa terjadi jika para ulama dan pemerintah bersikap acuh terhadap ajaran sesat Syiah yang dinilainya kian subur di negeri ini.

“Kami khawatir apa yang terjadi di Timur Tengah, di Suriah, Iraq, Bahrain, Libanon, dan Yaman, akan terjadi di Indonesia,” terangnya saat berorasi dalam pelantikan Pengurus Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Bekasi di Islamic Center Bekasi, Ahad (21/2/2016).

Habib Zein juga menilai penganut Syiah kerap melakukan provokasi yang menjadi pemicu terjadinya konflik di berbagai daerah di Indonesia.

“Meraka tanpa sungkan dan terang-terangan mencaci pemimpin-pemimpin yang kita hormati, para Sahabat mereka murtadkan, istri-istri Rasul meraka tuduh yang tidak-tidak, Umul Mukminin mereka tuduh berbuat serong. Inilah yang berakibat terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,dan ini akan terus terjadi jika aparat tidak mengambil sikap tegas terhadap Syiah,” ungkapnya.

Pengurus MUI Jawa Timur itu juga menyatakan bahwa Indonesia ini adalah bumi Ahlussunnah walaupun terpecah dalam beberapa organisasi keagamaan.

“Ada Nahdhatul Ulama, ada Muhammadiyah, ada Al Irsyad, dan lain-lain, namun mereka keluarga besar Ahlussunnah Wal jamaah. Sangat menghormati pemimpin-pemimpin Islam, para sahabat, para Istri-Istri Rasul kita hormati. Sikap kami tegas, kami siap berkorban apa saja, baik harta benda maupun jiwa raga kami untuk membela mereka,” tegasnya.

Terakhir, Habib meminta kepada para aktivis Islam untuk semakin gencar beramar maruf nahi munkar menghadang pergerakan Syiah di Indonesia dengan tidak mengesampingkan hukum negara.

“Apabila syiah membuat acara semisal Idul Ghodir, Assyuro dan lainnya, kita datangi aparat, ungkap bahwa ini berbahaya, ini penghinaan terhadap Islam, ini penghinaan terhadap aparat pemerintah, kita beri tahu sampai mereka (aparat-red) mengambil sikap tegas terhadap mereka (Syiah-red), namun apa bila sudah tiga kali kita beritahu aparat tidak mengambil sikap, maka kewajiban kita sebagai mukmin untuk melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,” tegasnya.

Reporter: Zul, Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Sebelum Dilepas, FPI Soloraya Sampaikan Pembelaan untuk 35 Anggota Ansharusyariah

TEMANGUNG (Jurnalislam.com) – Sebelum 35 anggota Jamaah Ansharusy Syariah dilepas pada, Sabtu (20/2/2016) malam, rombongan Front Pembela Islam (FPI) Soloraya mendatangi Polres Temanggung untuk menyampaikan pembelaannya.

Ketua tim advokasi FPI Jateng, Zainal Petir mengaku risih dengan tindakan aparat kepolisian yang dengan mudah menuding kegiatan Jamaah Ansharusy Syariah di lereng Gunung Sumbing itu sebagai kegiatan terorisme.

“Saya kesini bukan apa-apa tapi saya mendengar berita itu risih pak, sitik-sitik teroris sitik-sitik teroris, yang di Papua (OPM) podo gowo senjata laras panjang malah tidak disebut teroris, unsur-unsur terorisnya ini tidak ada," tegas Zainal kepada Kapolres Temanggung AKBP Wahyu.

Zainal juga membantah barang bukti yang dikumpulkan aparat kepolisian berupa senapan angin dan bendera tauhid.

"Iki ono senjata koyo ngene, bendera koyo ngene inikan bendera rosullullah, kaitannya buku-buku jihad, ini kan buku-buku biasa," tandasnya.

Senada dengan itu, Ketua DPW FPI Soloraya Ustadz Khoirul juga membantah kegiatan Diklat Tanggap Bencana Jamaah Ansharusy Syariah itu berkaitan dengan terorisme. Dia juga meminta kepolisian untuk membebaskan semua peserta diklat dalam waktu 24 jam.

“Pokoknya mas, ini semua tidak ada yang mengarah terorisme, kalo hanya senapan angin, laskar sak Solo diklumpukne tiga kontainer, Pokoknya saya 24 jam akan bebas ya," tegasnya.

35 anggota Jamaah Ansharusy Syariah yang hendak melakukan kegiatan Diklat Tanggap Bencana ditangkap aparat gabungan Densus 88 dan Kepolisian Resort Temanggung di lereng Gunung Sumbing pada Jumat (19/2/2016). Mereka dituding melakukan pelatihan militer. Namun karena tidak cukup bukti, 35 peserta diklat akhirnya dilepas.

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Tak Cukup Bukti, 35 Anggota Jamaah Ansharusy Syariah Dibebaskan

TEMANGGUNG (Jurnalislam.com) – 35 anggota Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Tengah yang ditangkap aparat gabungan Densus 88 dan Polres Temangung di lereng Gunung Sumbing,  Jumat (19/2/2016) telah dibebaskan hari ini, Sabtu (20/2/2016) sekitar pukul 20.45 WIB.

Humas Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Tengah, Endro Sudarsono mengatakan bahwa kepolisian tidak cukup bukti untuk menangkap 35 orang yang hendak mengikuti Diklat Tanggap Bencana di lereng Gunung Sumbing itu.

“Alhamdulilah sudah pulang semuanya tanpa terkecuali, diizinkan pulang karena belum cukup bukti, disampaikan oleh Kapolres Temanggung. Tapi untuk barang-barang hari Selasa baru boleh diambil,” kata Endro kepada Jurnalislam.

Endro menuturkan, Kapolres Temanggung meminta kepada Jamaah Ansharusy Syariah untuk membuat pemberitahuan terlebih dahulu jika akan mengadakan kegiatan-kegiatan seperti itu.

“Kapolres menyampaikan, untuk selanjutnya supaya kalau ada kegiatan selanjutnya supaya ada pemberitahuan kepada perangkat desa atau kepolisian,” kata Endro mengutip pernyataan Kapolres Temanggung, AKBP Wahyu.

Ketika dihubungi Jurnalislam, AKBP Wahyu membenarkan kabar tersebut. “Ya, sudah dibebaskan semua karena tidak cukup bukti, lebih lengkapnya nanti hari Senin kita pers rilis ya,” jawabnya singkat.

Selain itu, Endro juga membantah pemberitaan media-media nasional yang dinilainya sepihak. Endro meminta supaya media mengedepankan fakta dan sumber yang valid.

“Yang di media-media itu keliru semua. Kita minta kepada media-media nasional untuk mengedepankan fakta dan sumber-sumber berita yang valid, tidak menganalisa sendiri, tidak memberikan satu justifikasi tanpa ada sumber yang tepat,” tegasnya.

Terakhir Endro menegaskan bahwa kegiatan Jamaah Ansharusy Syariah di lereng Gunung Sumbing itu bukan pelatihan militer dan tidak ada kaitannya dengan terorisme.

“Kesimpulan kita adalah tidak pelatihan militer ataupun kegiatan yang mengarah pada terorisme di Gunung Sumbing Temanggung,” pungkasnya.

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

Dauroh Dua Hari RMI Banyuwangi untuk Sadarkan Umat Akan Peran Penting Pesantren

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Banyuwangi mengadakan Dauroh bertajuk "Tantangan Medeologi Ahlussunah Wal Jamaah Di Indonesia" di Aula Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (18/2/2016).

Acara yang digelar selama dua (17-18/2/2016) itu menghadirkan ulama dari Yaman, yaitu Habib Abdullah bin Muhammad Baharun sebagai pembicara dan diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Rektor Universitas Al Ahgaff, Hadramaut, Yaman itu membahas berbagai masalah yang menjadi tantangan umat Islam, khususnya dunia pesantren dan Ahlusunah Wal jamaah.

Dikutip situs pcnubnyuwangi, Habib Abdurahman menjelaskan tentang perkembangan dunia pendidikan yang saat ini mulai bergeser dari apa yang terjadi di dunia Islam sebelumnya. Seperti penggunaan teknologi dan model kelas yang berubah dari duduk bersila ke model bangku.

Menyikapi persoalan seperti ini, dia menegaskan, semua perubahan itu harus dialami. Yang menjadi perhatian bukan pada bagaimana siswa itu duduk di bangku atau lantai, tapi nilai keikhlasan dan spirit yang ada di dalamnya. “Mau duduk di kursi, mau duduk di pesawat, yang penting ikhlas,” ucapnya.

Ditanya mengenai alasan menghadirkan ulama Yaman, Ketua Penyelenggara mengatakan, selama ini dunia dan Yaman memiliki keterkaitan hubungan yang baik sejak zaman dulu, ditandai banyaknya ulama kelahiran Hadramaut yang menetap dan menyebarkan Islam di tanah air.

“Islam di Indonesia ulamanya banyak yang berasal dari Yaman, dan negara yang masih kuat ahlusunnahnya adalah Yaman,” kata Ahmad Munib Syafaat kepada Jurnalislam, Jum’at (19/2/2016).

Dia melanjutkan, kegiatan yang diselenggarakan dengan melibatkan RMI (Rabithah Ma’ahidil Islamiyah) ini penting agar masyarakat semakin tahu bahwa pesantren Indonesia memiliki peranan dan kontribusi yang penting bagi dunia Islam di Indonesia dan dunia.

“Masyarakat biar sadar dan semakin mengerti peran dunia pesantren dalam kemajuan silam,” jelasnya.

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah RMI Banyuwangi ini juga menuturkan, kegiatan tersebut diselenggarakan bertepatan dengan momen Haul pendiri pesantren Darussalam. Pihaknya juga telah membuat rencana kerja untuk menyelenggarakan acara serupa dalam waktu dekat namun denan tema yang lain.

“RMI ke depan akan menyelenggarakan kegiatan seperti ini dengan tema dan konsep yang berbeda,” pungkasnya.

Reporter: Findra | Editor: Ally | Jurnalislam

Keluarga Terduga Teroris Bima: Yang Teroris Itu yang Menembak Fajar

BIMA (Jurnalislam.com) – Keluarga Fajar, terduga teroris yang dibunuh Densus 88 dalam penggerebekan, Senin (15/2/2016) lalu mengatakan, Densus 88 seharusnya menangkap hidup-hidup para terduga teroris dan melakukan pendekatan asas praduga tak bersalah.

“Densus ini memakai hukum rimba, kebenaran apapun tidak pernah mereka terima. Harusnya kan ditangkap hidup-hidup siapapun yang menjadi terduga tidak boleh main tembak begitu saja,” kata Abdul Samad, perwakilan keluarga korban kepada sejumlah wartawan usai proses pemakaman Fajar, Sabtu (20/2/2016).

“Bagaimana kita mau tahu kesalahan seseorang kalau langsung dibunuh, ini kan banyak timbul fitnah,” sambungnya.

Samad yang mengetahui sosok Fajar sejak kecil menolak anggota keluarganya itu disebut teroris.

“Beliau merupakan anak yang baik, yang teroris itu bukan Fajar, tapi orang yang menembaknya itu,” tandasnya. “Kedzaliman mereka akan dibalas dengan kedzaliman pula oleh Allah SWT.”

Samad juga membantah adanya baku tembak dalam penggerebekan tersebut. “Mereka begitu datang langsung mendobrak pintu dan menembak sekitar enam sampai tujuh kali kata orang tuanya. Tidak ada satu pun yang melihat kejadian persisnya kecuali mereka sendiri,” ucapnya.

Berdasarkan pengakuan Abdul Samad, Fajar ditembak di bagian dada kiri dan lengan.

Staf ahli Anggota Komite I DPD RI, Hj Rabiatul Adawiyah pada Selasa (16/2/2016) lalu mengatakan bahwa pihak keluarga telah meminta Densus 88 untuk menangkap Fajar hidup-hidup. (Baca: Terduga Teroris Bima Ditembak Mati, DPD RI Akan Ajukan Nota Keberatan)

“Jauh sebelumnya, pihak kepolisian telah melakukan pendekatan dengan keluarga, pada kesempatan itu pihak keluarga meminta agar anaknya ditangkap hidup-hidup, tetapi gak tau bagaimana prosedur yang terjadi hingga almarhum ditembak,” kata Mukhtar.

Dalam penggerebekan itu, Densus 88 menangkap tiga orang lainnya. Fajar merupakan satu-satunya korban meninggal dalam penggerebekan itu.

Reporter: Sirath | Editor: Ally | Jurnalislam

Jenazah Terduga Teroris Bima Dimakamkan

BIMA (Jurnalislam.com) – Jenazah Muhammad Fajar, terduga teroris yang ditembak mati oleh Densus 88 di Penato'I, Kota Bima, Senin (15/2/2016) lalu, hari ini dimakamkan.

Jenazah dijemput oleh pihak keluarga dari Rumah Sakit Bhayangkhara Mataram dan tiba di rumah duka pada sabtu Pukul 02.30 dini hari.

Jenazah korban kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) RT 06 RW 02 Penato'i, Kelurahan Penato'i, Kecamatan Mpunda, Kota Bima pada pukul 10.00 dan dihadiri oleh ratusan pelayat.

Perwakilan keluarga korban, Abdul Samad berharap ke depannya tidak ada lagi umat Islam yang diperlakukan seperti ini.

“Saya berharap ke depannya tidak ada lagi saudara-saudara kita umat Islam yang ditembak mati kayak begini,” kata Samad kepada sejumlah wartawan di lokasi pemakaman.

Samad juga berterimakasih kepada semua pihak yang membantu proses pemakaman anggota keluarganya itu.

“Kami atas nama keluarga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang ikut serta dalam pemakaman ini. Semoga beliau diampuni dosanya dan ditempatkan dalam Jannah (surga),” tuturnya.

Fajar merupakan satu-satunya korban tewas dalam penggerebekan pada Senin (15/2/2016) itu. Sementara tiga lainnya ditangkap. 

Bantah Lakukan Pelatihan Militer, Ansharusyariah: Ini Hanya Diklat Tanggap Bencana

TEMANGGUNG (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 40 anggota Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Tengah yang hendak mengadakan pelatian tanggap bencana di lereng Gunung Sumbing diamankan Polres Temanggung, Jumat (19/2/2016). Mereka dituduh melakukan kegiatan pelatihan militer.

Namun Humas Ansharusyariah Jawa Tengah, Endro Sudarsono membantah tudingan tersebut.

“Rencananya Jamaah Ansyarus Syariah mengadakan Diklat Tanggap Bencana di Gunung Sumbing Temanggung Jateng mulai Jumat-Ahad, 19-21 Februari 2016. Diklat ini bertujuan membekali anggota JAS untuk mengantisipasi berbagai bencana alam di Jateng, dengan berbagai keterampilan seperti P3K, Survival, dan PBB,” jelas Endro kepada Jurnalislam, Sabtu (20/2/2016) pagi.

Namun, lanjut Endro, Diklat yang diikuti peserta dari Solo, Semarang, Sukoharjo, Kendal, Karanganyar dan Klaten ini terpaksa batal setelah Polres Temanggung menyita beberapa senapan angin dan beberapa jenis pisau dari salah satu warga di kaki Gunung Sumbing.

“Sehingga panitia berinisiatif menarik peserta diklat dari kawasan puncak Gunung Sumbing dan memberi klarifikasi kepada Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Harjanto,” kata Endro.

Endro menegaskan, puluhan peserta Diklat tersebut naik ke gunung Sumbing pada hari Jumat pukul 10.00 dan tanpa membawa senapan dan senjata tajam jenis apapun.

“Polres Boyolali mengamankan berbagai senapan dan pisau ketika sore hari sesudah dikumandangkan adzan Ashar,” lanjutnya.

“Jadi tidak ada pelatihan militer sebagaimana disebut di media-media. Yang terjadi justru Diklat Tanggap Bencana dibatalkan karena ada pertimbangan menghormati langkah Polres Temanggung yang telah mengamankan barang bukti dirumah salah satu warga,” tandasnya.

Ansharusyariah Jateng menyayangkan langkah Polres Temanggung yang juga mengamankan anak beruumur 15 tahun bernama Miftah sejak Jumat (19/2/2016) sore.

“Dan hingga Sabtu subuh Miftah di Mapilres Temanggung. Ia masih dibawah umur. Ia adalah keponakan dari Parlan salah satu panitia Diklat Tanggap Bencana,” jelasnya.

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

Seragam Diklat Tanggap Bencana

Miftah, 15 tahun 

 

Remaja Palestina Tikam 2 Pemukim Yahudi, 1 Tewas

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Dua remaja Palestina terluka parah kemarin Kamis (18/02/2016) ditembak warga pemukim Yahudi setelah keduanya melakukan aksi penikaman dengan pisau yang menewaskan seorang warga Israel dan melukai seorang lainnya dekat Ramallah, Tepi Barat, lansir Infopalestina, Jumat (19/02/2016).

Kementerian kesehatan Palestina menegaskan dalam keterangannya bahwa dua remaja Palestina Aiman Bassam Ibrahim Shabah (14) dan Salim Mahmud Thaha (14) terluka oleh tembakan warga yahudi di timur Ramallah.

Sementara itu, sumber-sumberzionis  menegaskan tewasnya soerang warga mereka akibat luka tikam dengan pisau di bagian lehernya. Seorang warga Yahudi lainnya yang menjadi korban penikaman mengalami luka sedang di bagian dadanya.

Pihak pengawas resmi Israel malam hari kemarin membolehkan untuk melansir identitas korban penikaman yang terjadi di minimarket dekat Ramallah yang merupakan serdadu brigade di militer Israel.

Juru bicara militer zionis menyebutkan, korban berpangkat sersan Thubiah Fishman (21) di brigade Nahal.

Menurut TV2 Israel dua remaja Palestina itu masuk ke minimarket Rami Leivi jaringan riteil pemukiman ilegal yahudi di salah jalan simpang timur Ramallah dan keduanya langsung menikam dua warga Israel itu dengan pisau sebelum ditangkap oleh satpman dan ditembaknya.

Kedua pelaku terluka dilarikan ke RS Hadasah di Al-Quds dengan luka parah.

Pasukan Israel kemudian menutup jalan-jalan menuju Al-Quds usai terjadi operasi serangan dan menyebabkan lumpuhnya lalu lintas penuh.

Usai kejadian, Israel menahan sekitar 50 pekerja Palestina yang bekerja di toko retail Rami Leivi di ruang tertutup dan diinvestigasi.

Rami Leivi (lahir 1995) adalah pemilik jaringan super market dengan merek namanya dan terdaftar di bursa efek Tel Aviv. Ia juga anggota di Dewan Pemerintah zionis Daerah Jerusalem pendudukan Israel.

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam