Panitia Sesalkan Pembubaran Aksi Massa di Museum Fatahillah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Panitia acara Musyawarah Bersama Warga Jakarta, Edi Mulyadi menyesalkan pembubaran aksi “Bersatu Selamatkan Ibukota” di Museum Fatahillah pagi tadi, Ahad (18/2016).

“Padahal semua permintaan aparat yang bertugas sudah kami turuti, tapi pembubaran paksa tetap dilakukan. Tapi kami tidak berhenti disini,” kata Edi Mulyadi saat di temui Jurniscom di Masjid Istiqlal, Ahad (18/9/2016) siang.‎

Tokoh Korps Mubaligh itu menegaskan akan mengadakan konsolidasi yang lebih baik kedepannya.

“Kedepan kita tetap mengadakan konsolidasi yang lebih baik dan tetap mengusung isu ini kepada warga Jakarta, hingga warga Jakarta menolak pemimpin kafir memimpin Jakarta, dan ini agenda utama kita,” tegasnya.

Sementara Ustadz Alfian Tanjung mengaku tidak heran tentang pembubaran itu. Menurutnya, pembubaran itu merupakan wujud ketakutan musuh Islam akan bersatunya umat Islam.

“Ini jelas terlihat mereka begitu takutnya ketika umat bersatu dan hal ini harus di gagalkan,” tegas Ketua Taruna Muslim yang juga sebagai pembicara pada Silaturahmi Akbar di Masjid Istiqlal.

 

Reporter: Deddy

Tidak Kondusif, Aksi ‘Bersatu Selamatkan Ibukota’ di Museum Fatahillah Ditunda

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi massa bertajuk “Mari Bersatu Selamatkan Ibukota” di Museum Fatahillah, Jakarta Pusat pagi ini, Ahad (18/9/2016) terpaksa ditunda karena situasi yang tidak kondusif.

“Situasi di lapangan tidak kondusif walaupun informasi terkait aksi di Museum Fatahillah sudah disampaikan dan mendapat ijin Polda Metro Jaya,” kata salah satu tokoh Betawi, ustadz Harits Amir Falah kepada Jurniscom di lokasi.

Selain itu, ustadz yang akrab disapa Babeh Harits itu menjelaskan, pihak keamanan keberatan aksi digelar di kawasan wisata yang padat pengunjung.

“Alasan kami membubarkan acara karena lokasi yang kita jadikan titik kumpul adalah tempat wisata dan aparat Pemda belum mengeluarkan ijin dan petugas yang berjaga bersikeras menanyakan itu,” lanjutnya.

Namun demikian, ustadz Harits menegaskan pihaknya akan tetap menyusun agenda-agenda lain untuk mewujudkan misinya yakni menyadarkan umat Islam Ibukota untuk tidak memilih pemimpin non-muslim.

“Aksi kita hari ini tertunda bukan berarti stop sampai disini, kita tetap menyusun agenda-agenda ke depan di tempat dan waktu yang berbeda, hingga tujuan kita tercapai, yaitu masyarakat muslim Jakarta sadar tentang larangan memilih pemimpin kafir,” terangnya.

Reporter: Deddy

Sejumlah Ulama dan Tokoh Nasional Hadiri Silaturahim Akbar ‘Doa Untuk Kepempimpinan Ibukota’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru Bicara Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) IWel Sastra mengatakan hari ini, Ahad (18/9/2016) sejumlah ulama, tokoh nasional dan umat Islam akan menyelenggarakan Silaturahim Akbar dengan tema Doa Untuk Kepemimpinan Ibukota.

Prof Dr Amien Rais, Dr Hidayat Nur Wahid, KH. Didin Hafidhuddin, KH Bachtiar Nasir, KH, Zaitun Rasmin deretan ulama dan tokoh nasional yang dijadwalkan memberikan tausiah.

“Jumat 16 September 2016 mendadak secara sepihak pengurus Masjid Istiqlal melalui HM Sukiman Azmy Wakil Sekretaris Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal membatalkan acara tersebut dengan alasan acara tidak sesuai ijin,” kata Iwel dilansir Republika, Sabtu (17/9/2016).

Lalu, tambah Iwel, Ustaz Bachtiar Nasir dan KH Zaitun menyambangi pengurus Masjid Istiqlal untuk menanyakan di mana letak perbedaan antara ijin dan rencana acara. Namun pihak pengelola Masjid Istiqlal tidak bisa menjelaskan.

“Mereka mengatakan itu adalah keputusan pimpinan. Tidak dijelaskan pimpinan yang dimaksud apakah Menteri Agama atau Gubernur DKI Jakarta yang merupakan bagian dari pimpinan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal,” kata Iwel.

Untuk menjaga ukhuwah antar umat Islam, lanjut Iwel, para ulama dan tokoh nasional yang terlibat dalam acara ini tidak memperpanjang masalah.

Antusias yang begitu besar dari umat Islam terhadap Silaturahim Akbar ini, format acara diganti menjadi shalat zuhur berjamaah dan doa untuk ibu kota yang akan diikuti puluhan ribu jamaah dari bebagai wilayah di Jakarta.

“Ulama karismatik Prof Dr KH Didin Hafidhuddin sudah menghubungi Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar untuk ikut hadir dalam shalat zuhur berjamaah yang dilaksanakan Ahad,” ungkap Iwel menjelaskan.

Pejuang Suriah Pukul Mundur Serangan Pasukan Assad di Distrik Jobar

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Pertempuran dan penembakan masih terus berlangsung dalam waktu lama di wilayah seputar Damaskus pada hari Jumat, yang oleh para aktivis dan warga disebut sebagai bentrokan terberat di ibukota Suriah dalam beberapa pekan terakhir, lansir Aljazeera Jumat (16/09/2016).

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris, pertempuran antara pasukan rezim dan para pejuang Suriah terkonsentrasi di distrik Jobar, di samping Qaboun, dimana faksi oposisi telah menguasai wilayah selama bertahun-tahun.

Mazen al-Shami, seorang aktivis oposisi di dekat Damaskus, mengatakan pasukan rezim Nushairiyah Assad berusaha menyerbu Jobar tetapi dipukul mundur oleh para pejuang Suriah.

“Ini adalah salah satu pelanggaran gencatan senjata paling serius,” kata al-Shami kepada kantor berita Associated Press melalui Skype.

“Terjadi pelanggaran, tetapi terlihat sangat jelas bahwa AS dan Rusia telah memperkirakannya,” kata reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari Kilis di perbatasan sisi Turki.

“Tingkat pertempuran yang meningkat tidak memungkinkan mencabut gencatan senjata.”

Meskipun “terjadi pengurangan nyata dalam jumlah perang”, lanjut Dekker, PBB mengatakan bahwa mereka “sangat frustasi” karena tidak mampu mendapatkan izin pemerintah Suriah yang diperlukan untuk membawa bantuan ke Suriah.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Castello Road yang strategis menuju Aleppo Timur yang dikuasai mujahidin Suriah dimaksudkan menjadi daerah bebas militer agar bantuan dapat masuk.

PBB berharap bahwa 40 truk makanan akan tiba di sana sebagai bagian dari gencatan senjata.

“Tampaknya ada sedikit kemunduran dari kedua belah pihak rezim Suriah dan oposisi di jalan itu untuk memasukkan bantuan,” reporter Al Jazeera Charles Stratford, melaporkan dari Gazientep di perbatasan Turki dengan Suriah.

Kemudian pada hari Jumat, Dewan Keamanan PBB membatalkan pertemuan darurat untuk membahas kesepakatan gencatan senjata Suriah atas permintaan AS dan Rusia, menurut para diplomat.

Pertemuan diadakan untuk memungkinkan utusan AS dan Rusia menyajikan rincian kesepakatan bersama, termasuk pengiriman bantuan dan operasi militer gabungan.

Laporan sebelumnya yang dikutip Duta Besar Rusia Vitaly Churkin pada hari Kamis mengatakan bahwa ia berharap dewan akan mengadopsi resolusi mendukung kesepakatan gencatan senjata pekan depan di depan Majelis Umum tingkat tinggi.

Dalam perkembangan terpisah, serangan udara pada Jumat dilaporkan menewaskan 23 warga sipil dan melukai 20 lainnya di dekat Deir Az Zor, sebuah kota timur yang dikendalikan oleh IS. Serangan di al-Mayadin menimpa sekolah yang menjadi rumah bagi para pengungsi, menurut Observatorium.

Kelompok pengawasan mengatakan sedikitnya setengah dari mereka yang tewas adalah perempuan dan anak-anak, menambahkan bahwa tidak jelas siapa yang melakukan serangan, apakah rezim Assad atau agresor Rusia.

 

Konvoi Bantuan ke Aleppo Tertahan oleh Pertempuran saat Gencatan Senjata Masih Berlangsung

SURIAH (Jurnalislam.com) – Iring-iringan konvoi bantuan kemanusiaan ke kota Aleppo yang terkepung tertahan lagi, saat pertempuran antara pasukan rezim Suriah Assad dan pejuang Suriah di luar Damaskus masih bergolak dan meningkatkan kekhawatiran apakah gencatan senjata yang rapuh akan mampu bertahan, Aljazeera melaporkan, Jumat (16/09/2016).

Pertempuran Jumat kemarin digambarkan sebagai yang paling serius sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada hari Senin, dimana pihak rezim melalukan lebih dari 28 pelanggaran dalam waktu 2 hari dan pejuang oposisi membalas atas serangan rezim di wilayahnya.

Melihat tanda-tanda meningkatnya ketegangan semakin berlanjut, Washington mengatakan kepada Moskow pada hari Jumat bahwa kerjasama militer potensial di Suriah tidak akan terjadi kecuali menekan rezim Suriah untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke wilayah yang terkepung.

Washington dan Moskow pekan lalu sepakat untuk membentuk sebuah komite yang akan bersama-sama menargetkan Jabhat Fath al-Syam dan kelompok Islamic State (IS) di Suriah, jika gencatan senjata bertahan selama tujuh hari dan bantuan kemanusiaan diizinkan mengalir ke negara itu.

Namun bantuan untuk Aleppo terjebak di perbatasan Turki selama lima hari hingga sekarang, sehingga PBB menyerukan pemerintah Suriah untuk “segera” memungkinkan pasokan menyelamatkan penduduk di daerah yang dikuasai pejuang Suriah di kota itu, di mana sekitar 300.000 orang hidup di bawah pengepungan.

Dalam panggilan telepon pada hari Jumat untuk rekan Rusia-nya Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengecam “penundaan bantuan kemanusiaan yang terus berulang dan tidak dapat diterima,” menurut juru bicara Departemen Luar Negeri.

Kerry mengatakan kepada Lavrov bahwa Washington “berharap Rusia menggunakan pengaruhnya terhadap rezim Assad untuk memungkinkan konvoi kemanusiaan PBB mencapai Aleppo dan daerah lain yang membutuhkan,” John Kirby mengatakan.

Kedua negara mendukung sisi yang berlawanan dalam konflik, dimana Moskow mendukung rezim Bashar al-Assad sedangkan AS berada di balik koalisi kelompok oposisi moderat.

Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, dikecualikan dari gencatan senjata.

AS dan Rusia sepakat akan pentingnya memperpanjang penghentian pertempuran, meskipun beberapa kekerasan terus berlanjut, kata Kirby.

Rusia pada Jumat mengatakan bahwa hanya sekutunya, rezim Assad, yang menghormati gencatan senjata, namun menyarankan bahwa gencatan senjata diperpanjang lebih dari 72 jam.

Kremlin juga mengatakan telah menggunakan pengaruhnya untuk mencoba memastikan tentara rezim Suriah sepenuhnya melaksanakan perjanjian gencatan senjata dan bahwa pihaknya berharap AS juga menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok pejuang oposisi moderat.

Taliban Rebut 2 Basis Militer dan 32 Pos Pemeriksaan dalam serangan di Shawalikot

KANDAHAR (Jurnalislam.com) – Di tengah berlangsungnya ‘Operasi Omari’, mujahidin Imarah Islam (Taliban) melakukan serangan terkoordinasi terhadap posisi pasukan Afghanistan di sekitar kabupaten Shawalikot Kamis malam, Al Emarah News melaporkan Jumat (16/09/2016).

Serangan senjata berat dan ringan ke arah 2 basis militer dan 32 pos pemeriksaan memaksa musuh melarikan diri setelah menderita korban jiwa berat.

Menurut rincian, sekitar 5 pos pemeriksaan telah diserang di daerah Bakhto Nawa. 5 sepeda motor dan semua peralatan disita. Demikian, 2 basis ANA (Afghanistan National Army) dan 27 pos pemeriksaan di sepanjang jalan Tarinkot juga diserbu setelah perlawanan singkat. Sebuah APC, 2 kendaraan rangers dan sejumlah besar amunisi disita.

Pasukan ANA kabur meninggalkan Shalwaikot dan sejumlah area yang luas, termasuk jalan Tarknot, berada di bawah kendali mujahidin Taliban.

Komandan Pemberontak Yaman Tewas dalam Serangan Koalisi Arab di Suhar

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang pemimpin militer yang loyal kepada Presiden terguling Yaman Ali Abdullah Saleh beserta orang-orang yang sedang bersamanya tewas dalam serangan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menargetkan konvoi kendaraannya di Suhar, sebuah distrik pusat di provinsi Saada, Al Arabiya News Channel melaporkan pada Jumat (16/09/2016).

Terbunuhnya Abdullah Yahya al-Sana’ani, yang bertanggung jawab sebagai motivator para milisi anti-pemerintah Yaman, adalah kerugian terbaru yang diderita pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran dan sekutunya, loyalis Saleh, yang memaksa pemerintah Yaman, Abedrabbu Hadi Mansour yang diakui secara internasional, mengungsi ke pengasingan setelah kudeta pada akhir September 2014.

Sementara itu tentara Yaman yang didukung Koalisi Arab, telah maju di distrik Hayfan di provinsi barat daya Taiz dan mengepung milisi di desa al-Anawir.

Selain itu, sedikitnya 12 milisi Syiah Houthi juga tewas dalam penyergapan dieksekusi di distrik Thi Na’im di gubernuran barat daya al-Bayda.

Krisis Yaman dimulai pada September 2014 ketika pemberontak Syiah Houthi merebut ibukota Sanaa. Aliansi yang dipimpin Arab Saudi ikut campur dalam mendukung pemerintah Hadi yang diakui secara internasional. Negosiasi yang disponsori PBB untuk mengakhiri pertempuran runtuh bulan lalu.

Pembicaraan damai kandas setelah Syiah Houthi dan sekutunya, partai Kongres Rakyat Umum (General People’s Congress-GPC) – yang dipimpin oleh Saleh – mengumumkan pembentukan sebuah dewan gubernur dengan 10-anggota pada 6 Agustus, mengabaikan peringatan PBB bahwa langkah tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan mengenai penyelesaian konflik.

Sementara itu, seorang diplomat senior AS telah menyajikan proposal gencatan senjata luas di Yaman untuk pemberontak Houthi yang mendominasi negara pada pertemuan di Oman, Reuters melaporkan pernyataan anggota tim negosiasi Houthi pada hari Kamis.

Negosiator akan kembali ke Sana’a yang dikuasai pemberontak Syiah Houthi pada hari Jumat membawa rencana yang ditawarkan oleh Wakil Menlu AS untuk Urusan Politik Thomas Shannon dalam pembicaraan di Muscat, katanya.

Shannon bertemu tim Houthi, pejabat GPC dan mediator Oman di Muscat pada 8 dan 9 September untuk membahas cara mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan membuat lebih dari 3 juta lainnya mengungsi.

Di Washington, para pejabat AS mengatakan rencana itu merupakan “perpanjangan dari upaya Sekretaris Negara John Kerry yang dimulai di Jeddah.”

Kerry mengatakan bahwa pada 25 Agustus di Arab Saudi dia menyepakati dalam pembicaraan dengan negara-negara Teluk Arab dan PBB mengenai rencana untuk memulai kembali perundingan perdamaian di Yaman dengan tujuan membentuk pemerintah persatuan.

Polisi Zionis Tembak 1 Warga Yordania dan 2 Palestina di Tepi Barat, 2 Tewas

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Seorang warga Yordania ditembak mati setelah dituduh mencoba menusuk polisi zionis di Yerusalem. Dua warga Palestina juga ditembak setelah mereka menabrakkan kendaraan mereka ke halte bus di Tepi Barat yang melukai tiga warga yahudi Israel, polisi dan militer zionis mengatakan, lansir Al Arabiya News Channel Jumat (16/09/2016).

Dalam insiden pertama, seorang pria keluar dari Kota Tua Yerusalem yang dikelilingi tembok sambil mengacungkan pisau di kedua tangannya, kata juru bicara polisi Luba Samri. Dia kemudian mengacungkan pisaunya di udara dan berteriak “Allahu akbar” sambil bergegas menghampiri petugas. Petugas melepaskan tembakan dan membunuhnya, kata Samri. Pria itu memiliki identitas Yordania dan Palestina, katanya.

Tak lama kemudian, dua warga Palestina di Tepi Barat menabrakkan mobil mereka ke halte bus, melukai tiga warga yahudi Israel, kata militer. Pasukan zionis di tempat kejadian melepaskan tembakan, membunuh salah satu warga Palestina tersebut dan melukai yang lainnya.

Konflik itu merupakan yang terakhir dalam gelombang perlawanan Palestina selama setahun terhadap pemukim yahudi dan pasukan penjajah Israel yang menewaskan 34 warga yahudi Israel dan dua warga Amerika. 212 orang Palestina juga terbunuh oleh kebiadaban pasukan Israel.

Serangan-serangan itu terjadi setiap hari tapi baru-baru ini berkurang intensitasnya.

Palestina mengatakan perlawanan itu berakar akibat beberapa dekade hidup di bawah penjajahan militer zionis.

AS Tidak akan Rilis Teks Kesepakatan Gencatan Senjata Suriah dengan Rusia

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS tidak akan merilis teks lengkap kesepakatan baru dengan Rusia mengenai gencatan senjata di Suriah, Departemen Luar Negeri, Kamis, lansir World Bulletin Jumat (16/09/2016).

“Kesepakatan baru berhasil dicapai setelah pengaturan bilateral AS-Russia,” menurut juru bicara Mark Toner. “Kesepakatn itu menangani isu-isu sensitif yang kami percaya, jika dipublikasikan, bisa berpotensi disalahgunakan untuk disalahartikan atau digunakan oleh… pihak yang saya tahu pernah dibicarakan oleh Sekretaris John Kerry.”

Toner menambahkan bahwa mempublikasikan teks juga dapat menempatkan kelompok oposisi beresiko, menyiratkan bahwa mungkin nama dan lokasi mereka ditentukan dalam teks.

Yang diketahui tentang kesepakatan itu adalah bahwa kelompok-kelompok oposisi Suriah moderat dan rezim Suriah akan memiliki tujuh hari kasasi pertempuran dan semua pihak di Suriah akan memungkinkan akses bantuan kemanusiaan menjangkau daerah-daerah yang terkepung.

Meskipun para pejabat AS mengatakan perjanjian telah dicapai, mereka mengakui bahwa bantuan kemanusiaan belum berhasil menjangkau daerah-daerah yang terkepung dan menyalahkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas keterlambatan.

“Meskipun kita akan melihat kemajuan yang berkaitan dengan situasi keamanan di tanah di Suriah, kami belum melihat perbaikan yang sesuai dalam aliran bantuan kemanusiaan. Dan hambatan utama adalah rezim Assad,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest.

Dia menuduh Rusia gagal menggunakan pengaruhnya atas Assad untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan bergerak ke daerah-daerah yang terkepung.

“Ada ratusan ribu, jika tidak bisa disebut jutaan, warga Suriah, yang berada dalam situasi putus asa. Dan sekarang, truk yang bisa membawa mereka menyelamatkan nyawa berhenti di sisi perbatasan yang salah,” tambahnya.

Menurut pejabat AS, jika Rusia dan rezim memenuhi kewajiban mereka berdasarkan pengaturan, Washington dan Moskow akan mengadakan pembicaraan bilateral tentang kerja sama militer potensial terhadap Jabhat Fath al-Syam dan kelompok Islamic State (IS).

Toner mengatakan bahwa pemerintahan AS telah melakukan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan mitra dan media sehubungan dengan kesepakatan.

Pejabat AS dan Kelompok Internasional Pendukung Suriah (the International Syria Support Group) akan merinci kesepakatan pekan depan di sela-sela pertemuan tahunan Sidang Umum PBB, tambahnya.

The International Syria Support Group termasuk Turki, Arab Saudi, Cina, Jerman, Prancis, Iran, serta beberapa negara Eropa dan Arab, dan Liga Arab dan Uni Eropa.

 

Taliban TTP Umumkan Komandan Baru dan Bantah Klaim Militer Pakistan Kalahkan Jihadis

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Gerakan Taliban di Pakistan (Tehrik-e-Taliban Pakistan atau TTP) menyoroti operasinya di Waziristan Utara, dan menampilkan komandan baru untuk institusi suku Pakistan baru-baru ini. TTP membantah klaim militer Pakistan bahwa Operasi Zarb-e-Azb telah berhasil mengalahkan jihadis dari semua wilayah di Waziristan Utara, lansir The Long War Journal, Kamis (15/09/2016).

Akhtar Muhammad Khalil, amir TTP untuk Waziristan Utara, muncul dalam sebuah video yang dirilis hari Kamis untuk menunjukkan bahwa mujahidin Taliban beroperasi secara terbuka di kantor suku yang diperebutkan. Video ini dirilis oleh Umar Media, media resmi TTP.

Empat menit pertama video menayangkan para pejuang TTP menembakkan mortir, roket, senapan recoilless, dan senapan mesin ke arah tentara Pakistan di daerah pegunungan terpencil. Selain itu, tiga petugas keamanan Pakistan yang ditangkap juga diperlihatkan.

Dua-pertiga bagian terakhir dari video tersebut ditujukan untuk pidato Idul Adha yang diberikan oleh Akhtar Muhammad Khalil, yang duduk di atas tanah dan diapit oleh dua komandannya. Selain itu, dua orang bertopeng dan pejuang bersenjata berat berdiri di belakang Khalil saat ia berbicara.

Akhtar Muhammad Khalil ditunjuk untuk memimpin pasukan TTP di Waziristan Utara musim semi lalu. Pada tanggal 16 Mei 2016, faksi jihad ini merilis pernyataan resmi di Umar Media mencatat bahwa Akhtar Muhammad Khalil berjanji setia kepada amir TTP Mullah Fazlullah, dan mengatakan bahwa TTP menerima sumpahnya dan menunjuk dia menjadi komandan pasukan di wilayah yang bergolak.

Sebagai amir untuk Waziristan Utara, Akhtar Muhammad Khalil bertugas menghadang Operasi Zarb-e-Azb, serangan militer Pakistan di daerah suku Waziristan Utara yang dimulai pada bulan Juni 2014.

“Mengingat medan yang kasar di Waziristan Utara, melaksanakan operasi di daerah itu adalah tugas yang menantang, angkatan bersenjata membersihkan semua tempat persembunyian, gua-gua dan terowongan,” klaim Bajwa, di Express Tribune.

Selain itu, ia juga mengklaim bahwa Shawal Valley, yang merupakan surga bagi berbagai kelompok mujahidin, termasuk TTP, al Qaeda, dan faksi Taliban Pakistan independen seperti Kelompok Hafiz Gul Bahadar dan Jaringan Haqqani, “telah berubah menjadi Swiss (netral – red).”

Bajwa dan militer Pakistan mengklaim bahwa di bawah operasi Zarb-e-Azb, mereka telah menargetkan semua kelompok jihad di Waziristan Utara, termasuk Jaringan Haqqani dan Kelompok Hafiz Gul Bahadar.

Namun, militer Pakistan telah terang-terangan mengabaikan kelompok Haqqani dan Bahadar, yang dianggap sebagai “good Taliban (Taliban yang baik)” seperti yang didukung oleh militer dan intelijen. Selama operasi Zarb-e-Azb, militer hanya menargetkan TTP, Gerakan Islam Uzbekistan, dan al Qaeda, atau “bad Taliban (Taliban yang buruk),” karena kelompok-kelompok ini mendukung penggulingan pemerintah Pakistan.

Good Taliban” adalah darah kehidupan bagi “bad Taliban.” Mereka menyediakan tempat tinggal, tempat yang aman, logistik, tenaga kerja, keuangan, dan berbagai fasilitas kunci lainnya yang memungkinkan jaringan untuk bertahan hidup selama serangan militer seperti Zarb-e-Azb. Faksi-faksi seperti TTP bisa membaur ke masyarakat sementara barisan belakang TTP mengalahkan pasukan Pakistan, dan menetapkan atau memperkuat operasi militer di daerah lain Pakistan.