Aktivis Anti Riba Banyuwangi: ‘Cegah Praktek Rentenir dengan Sistem Ekonomi Syariat’

Jurnalislam.com) – Menanggapi wacana Perda Pelarangan Rentenir oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, praktisi bisnis syari’ah dan Aktifis Masyarakat Anti Riba Banyuwangi, Sunaryo, SH mengatakan, dengan perda tersebut setidaknya masyarakat bisa selamat dari terkaman sistem riba.

Rentenir yang merajalela khususnya di Kabupaten Banyuwangi, menurut Sunaryo disebabkan sistem ekonomi yang tidak syar’i yang membuat kemiskinan menjadi penyakit turunan.

“Menjauhnya pemerintah dan masyarakat dari penggunaan sistem ekonomi yang syar’i membuat kemiskinan jadi penyakit turunan,” katanya kepada Jurniscom, Selasa (26/9/2016).

Sekjen Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) itu menambahkan, praktek rentenir adalah bukti nyata akan bahayanya sistem riba. Dia pun mengingatkan ancaman Allah bagi pelaku riba.

“Riba itu ada 73 pintu dosa. Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri,” ujarnya mengutip sebuah hadits.

“Solusi mencegah praktik rentenir saat ini adalah penerapan Syariat Islam di semua bidang dan sendi kehidupan,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah mengajukan Rencangan Peraturan Daerah tentang Pelarangan Praktik Rentenir kepada DPRD yang diharapkan menjadi “jangkar” melindungi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Senin (26/9/2016) mengatakan, Raperda yang kini dibahas bersama dengan DPRD Banyuwangi tersebut diharapkan bisa segera disahkan dalam waktu dekat.

 

Pakistan: Pidato PM India adalah Kebohongan yang Mendistorsi Sejarah

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Menyampaikan pesan kepada Majelis Umum PBB pada hari Senin, Menteri Luar Negeri India Sushma Swaraj mengatakan: “Pakistan tetap menyangkal. Mereka tetap dalam keyakinan bahwa serangan tersebut akan memungkinkan mereka mendapatkan wilayah yang mereka inginkan,” lansir World Bulletin, Selasa (27/09/2016).

“Saran tegas saya untuk Pakistan adalah: tinggalkan mimpi ini. Izinkan saya menyatakan dengan tegas bahwa Jammu dan Kashmir adalah bagian integral dari India dan akan selalu tetap begitu.”

Kashmir telah terbagi antara India dan Pakistan sejak akhir pemerintahan Inggris pada tahun 1947. Kedua Negara mengklaim wilayah Himalaya yang disengketakan secara keseluruhan dan telah berjuang dalam dua perang untuk memperebutkannya.

Tentara India menyalahkan serangan terbaru, yang menewaskan 18 pasukannya oleh pejuang Islam yang berbasis di Pakistan, mujahidin Jaish-e-Mohammad.

Kelompok jihad ini juga terlibat dalam serangan berani pada bulan Januari menargetkan basis angkatan udara India di Pathankot di negara bagian utara Punjab, yang menewaskan tujuh tentara India.

Pakistan merespon dengan menyebut pidato Swaraj ini sebagai sebuah “kebohongan” yang mendistorsi sejarah, dan membantah pasukannya telah membantu serangan pangkalan militer.

“Tuduhan ini dirancang terutama untuk mengalihkan perhatian dunia dari kebrutalan yang dilakukan oleh pasukan India melalui lebih dari setengah juta kekuatan pendudukan terhadap warga muslim Kashmir yang tak bersalah dan tak bersenjata, anak-anak, perempuan dan laki-laki,” kata pernyataan kantor asing yang dirilis Senin.

“Jammu dan Kashmir tidak pernah dan tidak akan pernah dapat menjadi bagian integral dari India. Ini adalah wilayah yang disengketakan, status akhirnya belum ditentukan sesuai dengan beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB.”

Lebih dari 80 orang telah tewas dalam kerusuhan yang sedang berlangsung di Kashmir sejak 8 Juli ketika seorang pemimpin mujahidin muda gugur, syahid, dalam baku tembak dengan tentara India, sehingga memicu salah satu serangan kekerasan paling mematikan yang melanda kawasan itu dalam beberapa dasawarsa.

Beberapa kelompok pejuang Islam telah bertempur melawan pasukan India yang diperkirakan berjumlah 500.000 yang dikerahkan di Kashmir, menuntut kemerdekaan bagi wilayah mayoritas Muslim tersebut atau bergabung dengan Pakistan.

Puluhan ribu orang tewas dalam pertempuran itu, sebagian besar dari mereka warga sipil.

 

Komandan Revolusi Iran: Kami Pasok Intelijen ke Rusia untuk Serangan Udara di Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seorang komandan tinggi Syiah Iran Korps Pengawal Revolusi (IRGC) mengatakan kepada media Iran pekan lalu bahwa pasukan mereka dan sekutu menyediakan intelijen bagi Rusia untuk serangan udara di Suriah (Aleppo).

Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasehat senior pemimpin tertinggi dan komandan kepala IRGC dari tahun 1997 sampai 2007, membuat pernyataan dalam sebuah wawancara televisi yang panjang pada 22 September, The Long War Journal melaporkan Selasa (27/09/2016).

“Rusia bertanggung jawab atas dukungan udara terhadap unit di darat, berarti orang-orang yang berperang di darat adalah tentara Assad, pasukan populer Suriah, dan beberapa pasukan penasihat dan atau pasukan Hizbullah Libanon. Rusia sebagian besar memainkan peran pendukung [kekuatan] tersebut melalui udara,” kata Safavi.

commander-irgc-supplies-intelligence-to-russia-for-airstrikes-in-syria“Banyak serangan seperti di Aleppo tidak akan mungkin terjadi tanpa pergerakan di darat dan hanya dengan dukungan udara,” lanjut Safavi. “Dukungan udara Rusia tentu saja efektif, tetapi pasukan darat memberi mereka data intel, misalnya, [mengatakan kepada mereka] jihadis apa yang berada di wilayah mana.”

Ada kebenaran dalam laporan tersebut. Pasukan ekspedisi Syiah pimpinan IRGC, yang terdiri dari proxy IRGC dari milisi Syiah Irak, Lebanon, Afghanistan dan Pakistan, berperan penting dalam melingkari bagian timur kota Aleppo yang dikuasai faksi-faksi jihad pada akhir Juli, dan memberlakukan kembali pengepungan pada awal September setelah koalisi mujahidin Suriah dan oposisi moderat memecahkan pengepungan awal pada awal Agustus.

Operasi pemboman Rusia brutal dan tanpa henti (intens) juga menjadi faktor penting dalam serangan koalisi pro-rezim Syiah Assad untuk merebut Aleppo.

Namun Safavi, menekankan peran yang telah dimainkan Tentara Arab Suriah (the Syrian Arab Army) dan Tentara Nasional Suriah (Syrian National Defense Forces) yang didukung IRGC, serta milisi pro-rezim Assad, dalam pertempuran terakhir untuk Aleppo untuk mengubur sejauh mana Assad mengandalkan prajurit dan perencana asing di pertempuran yang merupakan perang global paling besar di dunia sejauh ini.

Pasukan darat di Aleppo terutama dipimpin oleh perwira militer Iran dalam koordinasi Rusia dan petugas Suriah. Kematian sejumlah besar komandan senior IRGC membuktikan keterlibatan mereka.

Safavi mengatakan bahwa unit yang berada di bawah pengawasan IRGC atau Syiah Hizbullah, telah memiliki kehadiran yang lebih aktif di Suriah dalam beberapa tahun terakhir, melakukan pengumpulan intelijen on-the-ground. Perencanaan dan sasaran pilihan utama akan dikoordinasikan antara Iran, Rusia, dan rezim Suriah.

Iran dan rusia kemungkinan yang memimpin.

Berdasarkan laporan Safavi ini, Rusia kemungkinan hadir di tempat di mana pasukan rezim Assad juga hadir dan mengarahkan pasukan Assad.

Markas komando strategis mengawasi semua operasi termasuk Rusia, Iran, rezim Suriah, dan komandan proxy yang didukung IRGC. Ada ketegangan dan ketidakpercayaan yang lama-lama muncul dalam aliansi ini, terutama antara Iran dan Rusia. Untuk saat ini, setidaknya, mereka berbagi intelijen terhadap tujuan umum mereka untuk bertempur di Aleppo menghadapi mujahidin dan oposisi anti-assad.

 

AS Tambah 4.500 Pasukannya di Irak untuk Serang Mosul

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Jumlah pasukan koalisi pimpinan AS di lapangan Irak sekarang berjumlah sekitar 8.000, seorang pejabat AS mengumumkan pada hari Selasa (27/09/2016), lansir Anadolu Agency.

“Jumlah pasukan koalisi di Irak sekarang 8.000 personel, termasuk 4.500 pasukan Amerika,” kata Letnan Kolonel Angkatan Darat AS John Dorian pada konferensi pers yang diadakan di kedutaan AS di Baghdad.

Jumlah ini, tegasnya, tidak akan meningkat tanpa izin dari pemerintah Irak.

Dorian melanjutkan dengan menyebutkan jumlah pasukan di kota Mosul Irak yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) berjumlah antara 3.000 hingga 5.000.

“Intelijen kami menegaskan bahwa militan IS telah menggali parit dan mendirikan pos-pos di dalam Mosul,” katanya. “Kami memperkirakan akan terjadi pertempuran dalam kota.”

Menurut pejabat militer, pesawat-pesawat tempur koalisi baru-baru ini melakukan total 341 serangan udara terhadap situs petroleum yang dikuasai IS di Irak, yang, tegasnya, akan memotong aliran dana untuk kelompok IS.

Pesawat-pesawat tempur koalisi baru- baru ini juga menargetkan pabrik farmasi di Mosul di mana kelompok itu diduga mengembangkan senjata kimia, Dorian menambahkan, tanpa memberikan tanggal serangan udara atau jumlah korban tewas.

Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Irak, yang didukung oleh serangan udara koalisi, telah merebut kembali banyak wilayah. Namun IS tetap mengontrol t beberapa bagian negara, termasuk Mosul.

Pasukan tentara dan milisi Peshmerga baru-baru ini merebut beberapa daerah di pinggiran Mosul, yang para pejabat Irak telah bersumpah untuk merebut kembali pada akhir tahun ini.

PBB Acuh atas Pemusnahan Massal di Aleppo, Suriah Humane Corps Tangguhkan Keanggotaannya

SURIAH (Jurnalislam.com) – Beberapa asosiasi dan organisasi kemanusiaan mengumumkan penangguhan keanggotaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memprotes ketidakpedulian PBB terhadap pemusnahan massal warga sipil Aleppo yang terjadi di Suriah, lansir ElDorar AlShamia, Selasa (27/09/2016).

Dua organisasi kemanusiaan menunda keanggotaan mereka di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memutus semua bentuk kerjasama sebagai protes atas kegagalan PBB dan ketidakpedulian PBB terhadap apa yang terjadi di Aleppo khususnya, dan Suriah umumnya yang merupakan pelanggaran ekstrim terhadap hak manusia dan hak asasi manusia .

Dua organisasi meminta semua organisasi kemanusiaan, badan amal, lembaga non-pemerintah dan masyarakat untuk menangguhkan hubungan dengan semua lembaga PBB, untuk mengambil tindakan praktis dan keputusan yang ketat dalam rangka memberikan perlindungan internasional sebagai upaya menghentikan kejahatan ini. Mereka juga meminta masyarakat dunia dan aktivis kemanusiaan serta hak asasi manusia untuk bergerak dan menunjukkan solidaritas kepada rakyat Suriah, anak-anak, wanita dan orang tua.

Koresponden ElDorar AlShamia mengatakan, pemusnahan massal dilakukan oleh rezim Syiah Nushairiyah Assad dan sekutunya (Rusia) serta milisi Syiah lainnya di kota Aleppo selama hampir delapan hari dan telah merenggut nyawa lebih dari 2.000 korban terluka atau tewas.

 

Ulama Muslim Dunia Serukan Kemarahan Global pada Khotbah Jumat Besok untuk Dukung Aleppo

DOHA (Jurnalislam.com) – Uni Internasional untuk Cendekiawan Muslim (International Union for Muslim Scholars-IUMS) yang berbasis di Doha menyerukan “hari kemarahan” dunia pada hari Jumat dalam mendukung kota Aleppo di Suriah utara, yang telah berada di bawah serangan brutal oleh rezim Assad dan pasukan Rusia, lansir World Bulletin, Selasa (27/09/2016).

Lebih dari 400 orang telah tewas dan ratusan lainnya terluka oleh serangan udara rezim Suriah dan Rusia di Aleppo sejak 19 September, ketika rezim Bashar al-Assad mengakhiri gencatan senjata selama sepekan, menurut pejabat pertahanan sipil dan sumber-sumber medis di kota.

Seruan itu “bertujuan untuk menunjukkan dukungan bagi Aleppo, yang sedang dibasmi oleh rezim Suriah fasis dan sekutu-sekutunya, sementara dunia hanya duduk diam,” kata Sekretaris Jenderal IUMS Ali al-Qaradaghi dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.

Dia mengajak para cendekiawan Muslim mendedikasikan khotbah Jumat mendatang untuk menunjukkan solidaritas dengan kota Aleppo yang hancur lebur akibat perang.

“Para ulama harus memimpin untuk mengakhiri ketidakadilan dan tirani di Suriah dan negara-negara lain yang berduka dan hancur,” katanya.

Sekretaris Jenderal IUMS tersebut melanjutkan dengan menyerukan kepada masyarakat internasional untuk “menghentikan kebijakan standar ganda dan mendukung rakyat Suriah dalam perjuangan mereka memperoleh kemerdekaan.”

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad menumpas aksi unjuk rasa yang meletus sebagai bagian dari gerakan Musim Semi Arab – dengan keganasan militer tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah organisasi non pemerintah yang berbasis di Beirut, telah melaporkan bahwa korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah berjumlah lebih dari 470.000

Masjid Dresden di Jerman Dibom dalam Serangan Islamophobia

JERMAN (Jurnalislam.com) – Serangan bom menghantam sebuah masjid dan pusat konvensi di kota Dresden di Jerman timur, kata polisi pada hari Selasa, menambahkan motif kejahatan tersebut tampaknya xenophobia dan Islamophobia, Aljazeera melaporkan, Selasa (27/09/2016)

Tidak ada yang terluka dalam ledakan Senin di kota yang telah menjadi hotspot untuk protes kelompok kanan dan kejahatan kebencian menyusul masuknya migran dan pengungsi ke Jerman.

Imam Masjid, istri dan dua anak laki-lakinya sedang berada di masjid Fatih Camii pada saat ledakan. Polisi mengatakan mereka menemukan sisa-sisa bahan peledak buatan sendiri di kedua TKP.

“Meskipun sejauh ini tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, kita harus mengasumsikan bahwa ada motif xenophobia,” kata kepala polisi Dresden, Horst Kretschmar.

Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere mengatakan serangan Masjid tersebut merupakan “skandal yang sangat besar” karena terjadi pada malam pertemuan tahunan ke-10 Konferensi Islam Jerman (the German Islam Conference).

Polisi mengaitkan ledakan dengan pusat kongres untuk perayaan yang direncanakan berlangsung pekan depan di Dresden menandai ulang tahun ke-26 penyatuan Jerman, yang akan dihadiri oleh Presiden Jerman Joachim Gauck.

“Kami sekarang telah beralih ke mode krisis,” Kretzxchmar mengatakan, saat polisi dikerahkan untuk menjaga dua Masjid dan pusat kebudayaan Islam di kota itu.

Sekitar 300 jamaah secara teratur menghadiri shalat Jumat di Masjid Fatih Camii, yang terletak tidak jauh dari pusat bersejarah Dresden.

Ledakan di Masjid tersebut terdengar pada pukul 1953 GMT pada hari Senin. Kekuatan ledakan itu mendorong pintu depan bangunan ke dalam dan menyebabkan gedung ditutupi dengan jelaga, kata polisi.

Ledakan di pusat konvensi – terletak sekitar 2 kilometer dari Masjid Fatih Camii dan terletak di pinggir Sungai Elbe, yang melintas melalui Dresden – terjadi sekitar setengah jam kemudian.

Panas yang disebabkan oleh ledakan di pusat menghancurkan sisi kubus kaca dekoratif di daerah terbuka di gedung kongres dan berserakan di bagian bangunan yang sedang dievakuasi.

Dresden, sebuah kota Baroque di Jerman bekas komunis timur, juga merupakan tempat kelahiran gerakan jalan anti-Islam PEGIDA, singkatan untuk Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the Occident).

Anggotanya telah memprotes penuh kemarahan atas masuknya pengungsi dan migran yang tahun lalu membawa satu juta pencari suaka ke Eropa yang memiliki ekonomi terbesar.

Sekitar selusin demonstrasi direncanakan selama akhir pekan, baik oleh PEGIDA maupun oleh kelompok-kelompok anti-fasis.

Perdana menteri Negara bagian Saxony, Stanislaw Tillich menyebut “pemboman pengecut” tersebut sebagai sebuah “serangan terhadap kebebasan beragama dan nilai-nilai masyarakat yang tercerahkan” yang bisa dengan mudah menghilangkan nyawa.

Kejahatan kebencian kelompok kanan yang menargetkan kaum Muslim di tempat penampungan bagi para pencari suaka di Saxony naik menjadi 106 pada tahun 2015, dengan 50 serangan lain tercatat pada semester pertama tahun ini.

Dalam laporan tahunan yang menguraikan kemajuan sejak reunifikasi, pemerintah memperingatkan pekan lalu bahwa tumbuhnya xenophobia/Islamophobia dan “ekstremisme” sayap kanan bisa mengancam perdamaian di timur Jerman.

“Saya pikir perdebatan keamanan akan menjadi lebih intens dan juga lebih umum di masa depan,” katanya.

“Pengaruh Politik luar negeri di Jerman melalui agama adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima,” kata de Maiziere.

Namun, para pemimpin Muslim yang menghadiri forum dialog peringatan 10 tahun tersebut berkomentar balik.

“Salah jika menyebut Muslim sebagai wakil kekuatan asing dan menyebut mereka memiliki peran sebagai wakil”, kata sekretaris jenderal Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (the Turkish-Islamic Union for Religious Affairs) Bekir Alboga.

Sedikitnya 12 Tentara Afghanistan Tewas dalam Serangan Insider

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 12 tentara Nasional Afghanistan (ANA) tewas di sebuah pos pemeriksaan dalam serangan imarah Islam Afghanistan (Taliban) yang difasilitasi oleh dua rekan korban di provinsi Kunduz utara, Aljazeera melaporkan Selasa (27/09/2016).

Mahmood Denmark, juru bicara gubernur Kunduz, mengatakan pada hari Selasa dua tentara membantu mujahidin memasuki pangkalan dan kemudian bergabung dengan mereka menyerang rekan-rekan mereka saat mereka tidur.

Insiden itu terjadi di pinggiran kota Kunduz hanya beberapa saat setelah tengah malam pada hari Senin, Aziz Kamawal, seorang komandan polisi lokal senior, mengatakan kepada kantor berita AFP.

“Dua tentara melarikan diri setelah membunuh 12 rekan mereka yang sedang tidur di daerah Zazhil Khoman di Kunduz,” kata Kamawal.

Denmark mengatakan perburuan sedang dilakukan untuk tentara yang “penyusup” tersebut.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Dia mengatakan para mujahidin Taliban menyerbu pos pemeriksaan, menewaskan semua tentara dan merebut senjata dan amunisi mereka.

Pos itu adalah salah satu di antara banyak pos yang membentuk sebuah cincin pelindung di sekitar kota Kunduz, yang berhasil dikuasai oleh Taliban tahun lalu – pertama kalinya Taliban merebut ibukota provinsi sejak kehilangan kekuasaan pada tahun 2001 setelah invasi pimpinan AS.

Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban telah meningkatkan serangan di seluruh negeri terhadap pasukan keamanan Afghanistan.

Serangan insider melanda pasukan Afghanistan dan internasional (NATO) di dalam negeri, menjatuhkan moral dan menyebabkan ketidakpercayaan dalam jajaran keamanan.

Pihak berwenang memperkirakan sekitar 5.000 polisi dan tentara Afghanistan tewas pada 2015 – dengan tambahan 15.000 lainnya terluka.

NATO, yang membantu untuk melatih dan memfasilitasi pasukan Afghanistan, memperingatkan angka suram tersebut diperkirakan akan meningkat tahun ini.

Deradikalisasi, BNPT Gelar Baksos Melalui Program ‘Pesantren Bersinar’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sebanyak 10 pesantren se-Solo Raya mendapat bantuan pembagian 1000 paket lampu LED dan 300 lampu penerangan jalan dari Program “Pesantren Bersinar” yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Acara yang digelar di Pondok Pesantren Ulul Albab, Glodok, Sukoharjo pada Senin (26/9/2016) itu dihadiri langsung oleh Ketua BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius. Ponpes Ulul Albab adalah tempat dimana istri-istri trio bom Bali I menetap.

Suhardi menjelaskan, 10 pesantren se-kota Solo Raya dijadikan sebagai peletakan awal implementasi dari Program “Pesantren Bersinar ” dan akan dilanjutkan di beberapa kota di Indonesia di antaranya Sulawesi Selatan, Nusa tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng)

“Ada empat daerah, yang pertama Soloraya, kemudian NTB, kemudian Sulsel dan Sulteng. Nah tempat-tempat ini kita anggap sebagai model proses asimilasi, proses deradikalisasi. Sehingga kita perlu kerjasama, disini ada sepuluh pesantren,” ujar mantan Kabareskrim Polri itu.

Diakui Suhardi, pondok yang mendapat bantuan adalah pondok-pondok yang mempunyai hubungan erat dengan para pelaku terorisme. Menurut Suhardi, radikalisme dan terorisme disebabkan oleh kesenjangan sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu, dengan adanya program Pesantren Bersinar diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan di lingkungan pesantren.

“Lampu yang kami bagikan ini hemat energi dengan daya rendah, sehingga pesantren bisa berhemat. Lampu hemat energi berdaya 60 watt memiliki tingkat cahya setara 600 watt. Jika sebelumnya bayar listrik untuk lampu Rp 4 juta sebulan misalnya, bisa ditekan mejadi Rp 400 ribu perbulan. Dengan begitu anggaran pembayaran listrik bisa dialokasikan untuk kegiatan produktif atau modal usaha,” paparnya.

Dijelaskan Suhardi, program Pesantren Bersinar merupakan program yang dicanangkan Presiden Jokowi, namun Presiden yang dijadwalkan membuka acara tersebut batal hadir.

“Sejatinya program Pesantren Bersinar ini bentuk kepedulian kami dari BNPT bersama BRI dengan CSR nya untuk melengkapi sarana dan prasarana pondok pesantren dengan listrik yang memadai. Program ini telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Sedianya memang bapak Presiden akan hadir sendiri pada acara ini, tetapi kali ini belum belum bisa hadir,” ujar Suhardi.

Sepuluh pondok pesantren di Solo Raya yang mendapat bantuan dari BNPT antara lain Ponpes Ulul Albab Polokarto Sukoharjo, Ponpes Hidayatullah Al Kahfi Mojosongo Surakarta, Ponpes Ummul Quro Jlegong Klego Boyolali, Ponpes Darusy Syahadah Simo Boyolali, Ponpes Darul Hasan Mranggen Polokarto Sukoharjo, Ponpes Mah’ad Aly Baitul Qur’an Wonoboyo Wonogiri, Ponpes Mamba’ul Hikmah Selogiri Wonogiri, Ponpes Nurul Ummah Karangpandan Karanganyar, dan Ponpes DarussalamTanon Sragen.

Adapun bantuan yang diberikan berupa 20 paket bermerek limar (listrik mandiri rakyat), 6 unit tiang lampu dan 1 unit genset 2.500 KVA. Pemberian bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Kepala BNPT kepada pembina Ponpes Ulul Albab, KH Shoimin.*

Muhammadiyah Buka Sekolah Darurat Korban Bencana Sumedang

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muhammadiyah Kabupaten Sumedang membuka sekolah darurat di posko bantuan bencana Sumedang. Inisiatif tersebut diambil dengan alasan pendidikan anak-anak harus tetap berjalan.

Posko bantuan bencana Sumedang berlokasi di dua tempat. Pertama di GOR Tadjimalela dan kedua di Makodim 0610 Sumedang. Sementara itu, sekolah darurat yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumedang terdapat di Makodim 0610 Sumedang.

“Sekolah darurat didirikan oleh relawan Muhammadiyah dengan tujuan untuk memulihkan mental anak anak korban bencana,” ujar Wakil Ketua PDM Kabupaten Sumedang, Supala, dilansir dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (27/9/2016).

Menurut Supala, terdapat 240 anak korban bencana yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat ini. Kata dia, anak-anak ini mendapatkan pemulihan mental dari para guru yang berasal dari relawan Muhammadiyah.

Pengungsi yang berada di Markas Kodim 0610 Sumedang sepenuhnya dikelola oleh Muhammadiyah. Jumlah pengungsi di Gor Tadjimalela sebanyak 1.027 orang. Sementara pengungsi yang berada di Markas kodim sebanyak 386 orang.

Supala mengatakan, bantuan yang diharapkan saat ini berupa bantuan alat pendidikan dan keperluan sekolah anak-anak bagi korban bencana. “Bantuan logistik seperti makanan dan minuman siap saji pun masih minim dan sangat dibutuhkan pengungsi di lokasi pengungsian,” ujar dosen STAI Muhammadiyah Bandung ini.

Dari data yang tercatat, pada Senin (26/9/2016) sekolah awal dimulai dengan diikuti sebanyak 196 anak atau siswa. Selasa hari ini, sekolah darurat ini masih digelar oleh PDM Sumedang. Metode yang digunakan dalam sekolah darurat ini, kata dia, adalah metode membangkitkan mental, keceriaan motivasi dan lainnya.

Menurutnya, lama waktu sekolah darurat ini, sampai selesainya penanggulangan bencana di Sumedang, dan pengungsi atau anak-anak bisa kembali ke rumahnya masing masing. Yaitu setelah rumah pengungsi disiapkan atau didirikan kembali.