Pertempuran Mosul: Pasukan Irak Evakuasi 1.000 Lebih Warga Sipil dari Garis Depan

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan khusus Irak telah memindahkan lebih dari 1.000 orang dari desa-desa dekat garis depan pertempuran untuk merebut kota Mosul dan sekitarnya yang dikuasai Islamic State (IS), kata para pejabat, Aljazeera melaporkan, Rabu (26/01/2016).

Haider Fadhil, mayor jenderal pasukan khusus, mengatakan warga Tob Zawa dan desa-desa lainnya dibawa ke sebuah kamp di wilayah terdekat Khazer untuk keselamatan mereka.

Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan sekitar 9.000 orang telah mengungsi sejak operasi untuk merebut Mosul dimulai pada 17 Oktober.

Reporter Al Jazeera Hoda Abdel-Hamid, melaporkan dari Erbil, mengatakan: “Hingga satu juta warga sipil diyakini terjebak di dalam Mosul. Memastikan keselamatan mereka sama menantangnya seperti mengalahkan IS.”

IS menguasai kota pada tahun 2014. Mosul sekarang menjadi benteng terbesar IS di Irak.

Pasukan khusus melakukan operasi pembersihan di daerah yang telah direbut kembali dari IS di sebelah timur kota, di mana tentara menemukan sebuah jaringan terowongan luas yang digunakan oleh IS untuk memasukkan dan mengeluarkan pasukan dan persediaan dengan sepeda motor, kata Mayor Salam al-Obeidi.

pertempuran-mosul-pasukan-irak-evakuasi-1-000-lebih-warga-sipil-dari-garis-depan

Di sebelah selatan Mosul, komandan Irak lain mengatakan IS telah menarik diri dari kota Shura menuju kota, mengambil warga sipil untuk digunakan sebagai perisai manusia dan meninggalkan peledak booby-traps untuk memperlambat pergerakan pasukan Irak.

“Ini desa-desa kecil yang sekunder bagi mereka, Mosul jauh lebih penting,” kata Brigadir Jenderal Alaa Mehsin, dari Divisi 15 tentara Irak. “Mereka tidak ingin membuang-buang energi mereka.” Dia mengatakan sejumlah kecil pasukan dan warga sipil yang masih berada di dalam kota.

Juga pada Rabu, Kurdi Peshmerga menguasai desa barat Bashiqa – kota utama di utara Mosul – setelah dua hari terlibat bentrokan dengan IS.

Jenderal Peshmerga Bahram Yassin mengatakan IS menggunakan bom mobil, bahan peledak dan terowongan, serta drone yang dilengkapi dengan bom kecil untuk menyerang posisi pasukan.

Sementara itu, sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tujuh pasukan IS dan tiga warga sipil tewas dalam serangan udara AS di utara Mosul.

Komplotan Syiah Hizbullah Libanon Tewas Dihajar Rudal Anti Tank di Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sekelompok militan Syiah Hizbullah Libanon tewas pada Selasa di daerah “Bukit Uhud” di Aleppo selatan ditargetkan dengan rudal anti-tank (anti-tank missile – ATM), ElDorar AlShamia melaporkan Rabu (26/10/2016).

Mereka tewas seketika saat rudal anti-tank tipe “Kornet” menghantam target yang ada di dekat mereka, “Fastaqem Union” belum melaporkan jumlah tewas namun mengaku bertanggung jawab.

Serangan terbaru ini membuat Hizbullah kehilangan banyak pasukan yang tewas di Aleppo lebih dari 20 hanya sejak awal bulan ini, di mana milisi mereka menetap dalam daerah dengan intensitas yang lebih besar di pedesaan selatan Provinsi.

Di lingkungan garis depan Aleppo yang dikepung, pasukan Syiah Nushairiyah Assad dan milisi sekutu mereka menderita kerugian besar selama dua hari terakhir, yaitu kehilangan 24 pasukan serta lima anggota Hizbullah lainnya juga ditangkap di garis depan Salahuddin, Amiriyah dan Karm al-Jabal.

 

Roket Jet Tempur Rusia Hantam Pintu Masuk Sekolah di Idlib, 26 Tewas

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 26 warga sipil, termasuk 22 anak-anak, tewas ketika serangan udara menghantam sebuah sekolah dan daerah sekitarnya di provinsi Idlib barat laut Suriah, kata sebuah kelompok pemantau.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) mengatakan pada hari Rabu bahwa serangan udara, diyakini dilakukan oleh pesawat Rusia, menargetkan desa Hass, termasuk kompleks sekolah, lansir Aljazeera, Rabu (26/10/2016).

“Anak-anak yang tewas adalah siswa sekolah tersebut dan pesawat penyerang diyakini milik Rusia,” kata Rami Abdel Rahman, kepala the Observatorium yang berbasis di Inggris itu.

Serangan menghantam desa sekitar pukul 11:30 (08:30 GMT), aktivis oposisi Idlib Media Centre, mengatakan kepada kantor berita AFP.

“Salah satu roket menghantam pintu masuk sekolah saat siswa beranjak pulang ke rumah, setelah administrasi sekolah memutuskan untuk mengakhiri kelas hari itu karena serangan,” kata aktivis tersebut, yang berbicara tanpa menyebut nama.

The Observatorium ini awalnya melaporkan dua sekolah terkena serangan tetapi kemudian mengklarifikasi bahwa itu adalah sebuah kompleks sekolah yang terdiri dari beberapa bangunan.

Ada kekhawatiran jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa dari yang terluka dilaporkan berada dalam kondisi kritis, kata aktivis.

sekolah-di-idlib

Sebuah laporan di TV rezim Suriah mengutip sumber militer yang mengatakan sejumlah pejuang telah tewas ketika posisi mereka di Hass menjadi sasaran.

Provinsi Idlib dikendalikan oleh Jaysh al fath (Army of Conquest), aliansi mujahidin Suriah termasuk Jabhat Fath al Syam, yang berganti nama dari Jabhah Nusrah setelah putus hubungan dengan Al Qaeda awal tahun ini.

Provinsi ini mengalami peningkatan pemboman dalam beberapa pekan terakhir, menurut The Observatorium.

Pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan sekutu mereka Rusia telah dikritik oleh kelompok hak asasi karena melakukan serangan membabi buta terhadap infrastruktur sipil.

Pada hari Senin, lebih dari 80 organisasi bantuan dan hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch, CARE International dan Refugees International (Pengungsi Internasional), mendesak negara-negara anggota PBB untuk mengeluarkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia yang berbasis di Jenewa karena operasi militernya di Suriah.

Lebih dari 450.000 orang tewas sejak konflik Suriah meletus pada Maret 2011.

Forjim Dukung Sikap Tegas MUI Atas Penghinaan Alquran oleh Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Muslim (Forjim) menemui Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis. Kedatangan para jurnalis itu untuk menyampaikan dukungan mereka terhadap pendapat dan sikap keagamaaan MUI yang menyatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Ahok telah menghina Alquran dan ulama.

“Kami para jurnalis Muslim dari berbagai media mendukung penuh sikap keagamaan yang telah dikeluarkan oleh MUI pada 11 Oktober lalu terkait penghinaan Ahok terhadap Alquran dan ulama,” ungkap perwakilan Forjim Ibnu Syafaat dalam pertemuan di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabo sore (26/10/2016).

Bukan hanya mendukung, lanjut Syafaat, Forjim juga bertekad terus mengawal sikap dan penyataan keagamaan MUI yang dinilai sangat tegas dan jelas itu.

Seperti diketahui, pada 11 Oktober lalu MUI Pusat menyimpulkan bahwa Ahok telah melakukan penghinaan terhadap Alquran sekaligus menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum. Pendapat MUI tersebut merupakan respon dari pernyataan Ahok tentang Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, Selasa 27 September 2016. Selanjutnya MUI menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum.

“Terima kasih atas dukungan media terhadap MUI,” kata Kyai Cholil Nafis merespon dukungan yang disampaikan para jurnalis Muslim.

Terkait adanya desakan segelintir orang agar MUI mencabut pernyataannya itu, Kyai Cholil menegaskan, MUI tidak akan memenuhinya. “Jangankan mencabut, bergeserpun tidak. Sampai matipun tidak akan dicabut sikap keagamaan itu,” tegasnya.

Mantan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU ini menjelaskan, pernyataan MUI itu juga tidak ada kaitannya dengan jabatan gubernur atau Pilkada. MUI, kata dia, hanya merespon orang yang membicarakan ayat Alquran padahal dia non-Muslim. Kyai Cholil pun tegas menolak tuduhan bahwa MUI telah melakukan politisasi dan menciptakan kegaduhan.

“MUI ini justru meredakan kegaduhan. Karena sebelum ada pernyataan masyarakat sudah gaduh,” ungkapnya.

Terkait aksi unjuk rasa yang dilakukan umat Islam pada 14 Oktober lalu dan akan diulang pada 4 November mendatang, Kyai Cholil menegaskan MUI tidak pada kapasitas mendukung dan menggerakkan demo tersebut. MUI hanya berpesan supaya aksi-aksi tersebut dilakukan secara tertib dan tidak anarkis. “MUI tidak melarang, juga tidak menyuruh. Itu masing-masing hak umat Islam,” tandasnya.

Kepada Pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum, doktor lulusan Universitas Malaya, Malaysia ini meminta supaya mereka juga menegakkan hukum dengan memeriksa Ahok. Ini dilakukan supaya para penegak hukum juga tidak menjadi pelanggar hukum. “Bolanya sekarang ada di pemerintah,” sambungnya.

Pada bagian lain, pengajar Pascasarjana Universitas Indonesia ini mengapresiasi berhimpunnya para jurnalis muslim ke wadah Forjim. Menurutnya, tidak hanya pada shalat, jurnalis pun perlu untuk berjamaah.

“Berjamaah itu keperluan kita, ada imam dan makmum. Kalau imam salah bisa diingatkan, kalau jamaah yang salah bisa ditutupi kekurangannya oleh Imam,” katanya memberi tamsil. []

Aliansi Makapetor Manado Berunjuk Rasa, Tuntut Pembongkaran Masjid Al Khairiyah

MANADO (Jurnalislam.com) – Aliansi Makapetor Manado berunjuk rasa, memprotes pembangunan Masjid Al Khairiyah, Kampung Texas, Manado, Rabu (26/10/2016). Massa menuntut pembongkaran masjid dan meminta pemerintah untuk segera merealisasikan Taman Wisata Religi yang akan dibangun di lokasi itu.

“Pemerintah harus cepat menyelesaikan polemik ini, mulai dari kepemilikan tanah dan status masjid,” kata ketua Mathla’ul Anwar Sulawesi Utara, Awaludin kepada jurniscom melalui pesan singkat, siang ini.

Awal mengatakan, massa yang berjumlah 300 orang tidak sampai mendatangi lokasi masjid karena telah dihadang oleh aparat. Unjuk rasa dilakukan di depan Mapolresta Manado yang dekat dengan posisi Masjid dari jam 2 hingga jam 5 sore.

Unjuk rasa ini, lanjutnya dipicu oleh status kepemilikan tanah dan perijinan pembangunan (IMB) yang belum juga turun. Pihak panitia pembangunan masjid telah mengajukan sertifikat tanah ke DPRD sejak lama.

“Sudah banyak berdiri pertokoan di ex tanah warga Texas tersebut, ini kan sebuah keganjilan,” terangnya.

“Kan masjid tersendat pembangunan karena belum ada IMB,” tambahnya.

Sementara Kapolresta Manado, AKBP Hisar Silagan mengapresiasi unjuk rasa itu. Namun, massa jangan sampai bertindak anarkis.

Untuk itu, Awal menghimbau kepada ormas untuk tidak bertindak diluar kewenangan pemerintah. Sebab, masalah ini bukanlah wilayah ormas melainkan pemerintah.

“Ormas janganlah mengambil kewenangan pemerintah, karena status tanah yang berdiri masjid Al- Khairiyah adalah tanah negara, maka ini adalah domain negara dalam hal ini pemerintah untuk menyelesaikannya dengan pihak terkait,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, organisasi perkumpulan adat itu telah beberapa kali melakukan unjuk rasa untuk pembubaran masjid.

Menurut UU, orang yang telah lebih dari 20 tahun menduduki tanah negara berhak untuk mengajukan sertifikat tanah. Sementara, masjid Texas telah berdiri di Manado sejak tahun 1960-an.

Reporter: Budi Setiawan

FPKS DKI: Kita Bersama Umat Dukung Proses Hukum Terhadap Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Abdurrahman Suhaimi menegaskan dalam permasalahan penistaan terhadap Al Qur’an yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pihaknya berada bersama umat Islam dan mendukung penegakan hukum untuk segera dilakukan.

Pernyataan itu disampaikan Suhaimi ketika menerima kujungan dari sejumlah kelompok Islam diantaranya Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Penodaan Agama (Bakorpa), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Korps Mubaligh Jakarta, selasa (25/10/2016) di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat.

“Kita bersama umat, apalagi babnya penistaan Qur’an, kita bersama umat, kita menghormati Qur’an landasan kita adalah Al Quran ini tidak main-main,” tegasnya

“Alquran sudah dinodai, ulama dihina, rujukan kita apa lagi. Selain al Qur’an dan Sunnah, ulama rujukan juga, kalau ulama kita direndahkan bagaimana inilah,” ujarnya.

Suhaimi juga meminta kepada aparat penegak hukum untuk tidak setengah-setengah dalam menjalankan hukum, jangan sampai hukum itu tajam kebawah tumpul keatas dan jangan sampai ada kesan tebang pilih.

“Jangan sampai juga masyarakat kita yang santun, tenang, suka berdialog, suka bersilaturahim itu sampai kemudian memuncak sampai berbuat anarkis misalnya, tapi bukan karena sifatnya tetapi akibat salurannya tertutup, kita tidak ingin itu,” Tukasnya.

Dalam pertemuan tersebut Suhaimi berjanji akan mendorong pimpinan DPRD DKI Jakarta untuk segera merespon permintaan masyarakat dan akan mengupayakan menggunakan hak angket, hak interpelasi dan hak menyatakan pendapat dengan melibatkan partai-partai lain.

Al Shabab Serang Pangkalan Militer Uni Afrika dengan Bom Mobil

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Seorang pembom mengarahkan kendaraan sarat dengan bahan peledak ke sebuah pangkalan militer Uni Afrika di Somalia tengah, menurut seorang pejabat keamanan Somalia.

Serangan hari Selasa (25/10/2016) di Beledweyne tersebut diklaim oleh kelompok bersenjata Somalia, mujahidin al-Shabab, Aljazeera melaporkan.

“Serangan bom mobil yang menargetkan pangkalan militer Djibouti terjadi di Beledweyne Barat,” kata Abdullah Ibrahim, seorang pejabat militer setempat.

Sebuah serangan militer diluncurkan pada tahun 2014 oleh pasukan Uni Afrika dan tentara Somalia mendorong afiliasi al Qaeda, al-Shabab keluar dari pusat strategis utama.

Meski begitu, Al Shabab, tetap memegang kekuasaan atas sebagian besar negara Afrika, masih mengendalikan beberapa daerah pemukiman dan pedesaan.

Somalia telah terlibat dalam konflik dan pelanggaran hukum sejak awal 1990-an menyusul penggulingan Mohamed Siad Barre.

Dibantu oleh pasukan Uni Afrika yang dikenal sebagai AMISOM, militer dukungan AS dan pemerintah pusat Somalia ini telah memperketat cengkeraman mereka di negara tetapi operasi militer oleh al-Shabab terus berlanjut.

 

China Kirim 350 lebih Pejabat Pemantau Masjid dan Kegiatan Muslim Uyghur di Xinjiang

XINJIANG (Jurnalislam.com) – China telah mengirim lebih dari 350 pejabat ke prefektur Hotan (Hetian, dalam bahasa China) di wilayah barat laut Xinjiang untuk tiga tahun bertugas mengawasi Masjid, RFA Uyghur mengatakan, lansir World Bulletin, Selasa (25/10/2016).

Menurut sebuah laporan oleh stasiun TV lokal pemerintah Hotan, prefektur Hotan baru saja meluncurkan sebuah kebijakan yang disebut “tinggal di desa-desa untuk memantau Masjid” di mana 352 aparat pemerintah China ditugaskan untuk mengawasi Masjid dan kegiatan keagamaan Islam di masyarakat.

“Keputusan monitoring Masjid ini dibuat sesuai dengan aturan kebijakan utama Otonomi Daerah Uyghur dan diutamakan untuk menjaga stabilitas sosial dan menganalisis situasi dengan benar,” stasiun TV mengutip pemimpin Partai Komunis prefektur Hotan, Zhang Jinbiao mengatakan.

“Ada enam kader China di desa kami,” seorang warga Hotan mengatakan kepada RFA. “Pagi ini mereka mengadakan rapat, dan kami bertemu empat dari mereka. Mereka semua orang China.”

Warga desa, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan mereka diberitahu bahwa kader tersebut akan berada di daerah mereka dalam misi tiga tahun.

“Dari apa yang mereka katakan dalam pertemuan tersebut, mereka akan mengelola Imam masjid dan mereka akan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menjelaskan situasi,” jelas warga desa.

Meskipun tidak jelas apa yang dicari orang China tersebut, penduduk desa mengatakan kepada RFA mereka cenderung fokus pada upaya menghadapi penduduk yang tidak puas di kawasan itu.

“Ada beberapa orang yang mengeluh tentang kebijakan pemerintah, yang tidak suka dengan para Imam dan orang-orang religius yang ditunjuk pemerintah, serta mengutuk mereka dan menyebarkan berbagai rumor,” kata warga tersebut. “Saya pikir mereka akan mendatangi rumah orang-orang semacam itu dan mencoba memahami pemikiran dan situasi mereka.”

Turghunjan Alawudun, ketua komite agama Kongres Uighur Dunia (the World Uyghur Congress), mengatakan tindakan China melanggar resolusi HAM PBB.

Dia mengatakan kebijakan pemerintah China di wilayah Uighur saat ini melawan Deklarasi Hak Asasi Universal (Universal Declaration of Human Rights) PBB.

“Kebijakan pihak atasan prefektur Hotan saat ini untuk memantau kegiatan keagamaan di desa-desa adalah bagian dari aturan Partai Komunis China untuk mengeksploitasi agama untuk sosialisme,” katanya. “Kami mendesak pemerintah China untuk mengakhiri kebijakan ekstrem ini.”

Orang tua dan wali dari anak-anak dan remaja Uighur sering ditekan oleh pejabat lokal dalam penandatanganan perjanjian untuk tidak memungkinkan mereka mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan.

Anggota Muslim dari Partai Komunis China yang berkuasa dilarang untuk secara terbuka mengikuti agama mereka, sementara organisasi yang dikelola negara secara rutin diperintahkan untuk mendorong semua orang untuk makan pada siang hari Ramadhan, sumber-sumber di wilayah itu mengatakan kepada RFA.

China telah berjanji untuk menindak apa yang mereka sebut ekstremisme agama di Xinjiang, dan secara teratur melakukan tindakan “serangan keras” termasuk penggerebekan polisi di rumah penduduk Muslim Uyghur, pembatasan praktek ibadah Islam, dan pembatasan pada budaya dan bahasa orang-orang Uyghur, termasuk video dan bahan lainnya.

Saat China menyalahkan ekstrimis Uyghur atas serangan teroris, para ahli di luar China mengatakan Beijing membesar-besarkan ancaman dari Uyghur padahal kebijakan represif domestik mereka sendiri yang menjadi sebab meningkatnya kekerasan di sana yang telah menewaskan ratusan orang sejak 2009.

Lebih dari 7.700 Pengungsi Suriah di Turki Kembali ke Kota Jarabulus

TURKI (Jurnalislam.com) – Lebih dari 7.700 warga Suriah telah kembali dari provinsi Gaziantep Turki, ke kota Jarabulus, Suriah utara, dua bulan setelah kota itu dibebaskan dari kelompok ekstremis IS, kantor gubernur regional, Selasa (25/10/2016) mengatakan, lansir World Bulletin.

Warga Suriah terlihat mengantri di perbatasan Karkamis Turki untuk pergi ke Jarabulus setelah pendaftaran dan pemeriksaan keamanan.

Oktay Bahceci, kepala kantor migrasi regional Gaziantep, mengatakan bahwa Jarabulus sekarang bersih dari semua kelompok-kelompok ekstremis.

“Setelah kantor kami melaksanakan pendaftaran, mereka mungkin pergi ke kampung halaman mereka,” kata Bahceci. “Untuk saat ini, total 7.741 orang telah kembali ke Jarabulus.”

Operasi Perisai Efrat (Euphrates Shield), yang dimulai pada 24 Agustus dan didukung oleh Angkatan Bersenjata Turki, bertujuan untuk memperkuat keamanan perbatasan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh organisasi-organisasi ekstremis di Suriah PYD-YPG dan IS.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim Nushairiyah Assad menumpas aksi unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari kebangkitan Musim Semi Arab (Arab Spring) – dengan keganasan militer Assad tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan total korban tewas akibat konflik lima tahun di Suriah berjumlah lebih dari 470.000.

61 Tewas dalam Serangan Mematikan di Pusat Pelatihan Polisi Pakistan

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 61 calon polisi dan tentara tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka, Senin malam ketika orang-orang bersenjata menyerang sebuah pusat pelatihan polisi di provinsi Balochistan Pakistan, kata pihak berwenang, Anadolu Agency melaporkan, Selasa (25/10/2016)

Mayor Jenderal Sher Afghanistan, kepala paramiliter Korps Perbatasan berbasis di Balochistan, mengatakan tiga orang bersenjata semuanya tewas. Mereka adalah anggota milisi Lashkar-e-Jhangvi al-Alami.

Dia mengatakan dua dari penyerang meledakkan bom rompi saat terjadi baku tembak selama tiga jam dengan tentara yang dikirim untuk menyelamatkan para kader polisi.

“Saya sedang berbaring di tempat tidur memeriksa akun Facebook saya ketika mendengar ledakan keras diikuti oleh penembakan berat. Saya segera mematikan lampu, mengunci pintu dan merunduk di bawah tempat tidur sesuai arahan dalam kasus serangan bersenjata,” Asif Hussein, salah satu taruna yang lolos dan tidak terluka, mengatakan kepada wartawan.

Kepala Angkatan Darat Raheel Shareef dan Direktur Jenderal Inter Services Intelligence (AA) – agen mata-mata Pakistan – menghadiri pemakaman massal di Quetta, ibukota provinsi di mana pusat pelatihan tersebut berbasis.

“Situasi sekarang terkendali dan jalan-jalan yang semula ditutup karena operasi penyelamatan telah dibuka untuk lalu lintas,” kata Menteri Dalam Negeri Balochistan Sarfraz Bugti kepada wartawan.

Ia mengatakan lebih dari 250 taruna yang disandera oleh milisi dibebaskan oleh tentara Pakistan.

Quetta selama beberapa dekade telah menjadi fokus kekerasan sectarian Sunni-Syiah di Balochistan yang telah menewaskan ribuan orang. Agustus ini lebih dari 70 orang, sebagian besar pengacara, tewas dalam ledakan bunuh diri di sebuah rumah sakit di Quetta.