Jaga Spirit212, Sejumlah Ormas Islam di Banyuwangi Deklarasikan Laskar 212

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Sebagai upaya menjaga semangat Aksi Bela Islam III 2 Desember lalu atau yang dikenal dengan aksi 212, sejumlah ormas Islam di Banyuwangi sepakat membentuk laskar 212.

“Semangat jihad, semangat kebersamaan dan persatuan umat Islam di Jakarta pada aksi 212 kita bawa ke Banyuwangi untuk membela Islam dan NKRI,” kata Ketua Laskar 212, Drs. Agus Iskandar kepada Jurniscom, Jumat (16/12/2016).

Agus menilai, semangat 212 harus terus dipelihara untuk menjaga negeri ini dari rongrongan paham-paham yang membahayakan seperti Syiah dan komunisme serta untuk memberantas maraknya kemaksiatan di Banyuwangi.

“Laskar 212 ini tidak hanya untuk mengawal kasus Ahok saja, akan tetapi kita juga berupaya membendung bahaya laten PKI yang saat ini masif serta perlu dibentuknya laskar di Banyuwgi untuk memberantas kemaksiatan yang kian marak,” terangnya.

Dalam deklarasi tersebut, sedikitnya ratusan laskar dari berbagai ormas Islam melakukan longmarch dari Masjid Al Hilal menuju Kantor Pemkab Banyuwangi. “Kita akan bawakan oleh-oleh dari Jakarta (aksi 212-red) untuk Pak Bupati,” ujar Agus.

Reporter: Bram, Adit

Pakar Hukum Yakin Majelis Hakim Akan Tolak Eksepsi Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pakar hukum pidana, DR. H. Abdul Chair Ramadhan, MH meyakini majelis hakim akan menolak eksepsi terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pasalnya, ia menilai eksepsi Ahok mengandung ketidakjelasan dan telah masuk ke dalam pokok perkara.

“Perlu dicatat, eksepsi tidak boleh masuk ke dalam pokok perkara. Sehingga nuansa daripada eksepsi itu sangat kental dengan pembelaan atau pledoi yang sebenarnya tidak bisa disampaikan dengan eksepsi,” katanya kepada Islamic News Agency (INA) melalui sambungan telepon, Rabu (14/12/2016).

Menurutnya, eksepsi Ahok yang menyinggung pokok perkara adalah ketika penasehat hukum Ahok mengatakan bahwa pasal 156a bersifat komodatif sehingga harus disandingkan dengan huruf b.

“Padahal tidak. Menyinggung juga latar belakang dan tujuan diundangkannya UU No 1 PNPS 1965 itu sudah menyangkut pokok perkara,” tandasnya. Kemudian dalam eksepsi dikatakan juga adanya ketidakjelasan subjek.

“Padahal subjek ini sudah sangat jelas, kalau di 156a itu yang menjadi arahnya kepada kepentingan agama, 156 itu ditujukan kepada golongan penduduk yang berdasarkan agama. Intinya eksepsi itu sangat jauh daripada yang diharapkan,” terangnya.

Atas alasan tersebut, DR Chair meyakini majelis hakim akan menolak eksepsi Ahok dan melanjutkan pemeriksaan selanjutnya.

“Saya yakin eksepsi tidak diterima. Kalau eksepsi tidak diterima itu langsung masuk ke dalam pemeriksaan berikutnya,” pungkasnya.

Reporter: Fajar Shadiq/INA

Sebelum Gencatan Senjata Jabhat Fath Al Syam Sempat Kuasai Komplek 1070

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Ini adalah apa yang terjadi kemarin malam, Jabhat Fath Al Syam (JFS) melakukan operasi syahid dari luar Aleppo menargetkan wilayah 1070 dan bukit-bukit sekitarnya, warNPolitics Channel melaporkan, Kamis (15/12/2016).

JFS juga melakukan serangan syahid di sekolah Hikma dan sekitarnya dan menguasai sebagian besar wilayah komplek 1070 dan menewaskan puluhan milisi Syiah.

JFS menghentikan serangan ketika mereka menerima laporan yang menegaskan bahwa rezim Assad telah memberikan jalan penduduk Aleppo timur untuk mengungsi setelah rezim Assad beberapa kali menggagalkan rencana evakuasi sebelumnya.

Semua pihak dituntut untuk menghentikan serangan secara mendadak. Turki dan Rusia buat perjanjian untuk melaksanakan kesepakatan tanpa syarat tambahan dari Iran.

Aleppo Mencekam, Iim Ba’asyir: Bantulah! Mereka adalah Suadara Kita

SOLO (Jurnalislam.com) – Pemerhati dunia Islam, Abdul Rochim Ba’asyir mengimbau umat Islam Indonesia untuk membantu muslim Aleppo yang sedang terkepung dari serangan koalisi pimpinan Syiah Nushairiyah, Bashar Asad.

“Bagaimanapun (muslim) Aleppo adalah bagian dari umat Islam dan harus dibela,” katanya kepada jurniscom, Kamis (15/12/2016).

Abdul Rochim Ba’asyir atau yang karib dipanggil Iim itu menegaskan, musuh kaum muslimin disana sangat kuat. Ditambah, acuhnya mereka terhadap hukum dan ketentuan Internasional.

“Sekarang yang mereka hadapi bukan sembarangan, Syiah Nushairiyah, Rusia, Iran dan lainnya. Mereka mengacaukan aturan-aturan internasional,” terangnya.

“Mereka menolak dan memilih menghancurkan umat Islam,” cetusnya lagi.

Oleh sebab itu, pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki itu menyeru kepada umat untuk membantu dengan apa saja yang ia mampu berikan.

“Pertama tenaga. Mereka masih kekurangan tenaga. Kedua harta, memberikan bantuan dengan harta, ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan tercantum dalam al Quran,” paparnya.

Selanjutnya, kata dia, berikan doa terbaik untuk mereka. Doa merupakan senjata umat Islam yang tidak bisa dianggap remeh.

“Jika doa saja tidak mau, dimana rasa persaudaraan dan kepedulian kita kepada mereka? Ini dapat menunjukan betapa lemahnya kepedulian terhadap saudaranya,” pungkasnya.

Diketahui, rezim Suriah pimpinan Bashar Ashad telah melanggar perjanjian gencatan senjata pada Rabu (14/12/2016). Rezim syiah nushairiyah bersama sekutunya memporak pondakan muslimin di Aleppo hingga kini.

Seruan Qunut Nazilah untuk Umat Islam Aleppo yang Terkepung

SOLO (Jurnalislam.com) – Kini, jutaan pasang mata manusia sedang tertuju kepada Aleppo, Suriah. Sebab, di daerah itu terjadi aksi brutal dari rezim Suriah pimpinan Bashar Asad terhadap umat Islam.

Menanggapi itu, Abdul Rochim Ba’asyir menyeru kepada Imam Masjid khususnya dan umat Islam umumnya untuk melakukan qunut nazilah.

“Saya menyeru kepada semua Imam masjid untuk melakukan qunut nazilah. Mendoakan mereka yang sedang terkepung,” ujarnya kepada jurniscom, Kamis (15/12/2016).

Ia mengatakan, saat ini doa kepada umat Islam yang sedang diserang dan disiksa dibumi Suriah itu sangat penting dilakukan.

“Doa memang adalah sesuatu yang selalu ada disamping kita. Itu bentuk upaya membantu saudara kita di Aleppo sana,” lugas putra Abu Bakar Ba’asyir itu.

“Terakhir, sisanya kita serahkan kepada Allah Swt. Masa dari jutaan manusia yang berdoa tidak ada satupun yang dijawab?” Pungkasnya meyakinkan.

Sebelumnya, Grand Mufti Saudi telah menyerukan hal yang sama untuk melakukan qunut nazilah kepada kaum muslimin di Aleppo yang sedang terkepung. Seruan ini aktif dilakukan mulai Selasa Subuh (14/12/2016).

Wakil PM Turki: Rombongan Pertama dan Kedua Pengungsi Aleppo Capai Zona Aman

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Kamis, rombongan pengungsi kelompok pertama dan kedua yang dievakuasi dari Aleppo telah mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Konvoi kedua rombongan warga sipil Aleppo dari timur telah mencapai wilayah yang dikuasai oposisi, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan.

“Upaya kami terus untuk Aleppo, 16 bus yang membawa warga sipil mencapai daerah di bawah kendali oposisi di barat Aleppo, “kata Cavusoglu.

Dia juga menyebutkan tentang konvoi ketiga dari Aleppo timur.

“Bus telah kembali ke Aleppo untuk konvoi ke 3, pengungsi akan mendapatkan bus sekarang. Upaya kami terus dan kami sangat ketat mengikuti perkembangan, “katanya dalam akun tweet pribadinya.

“1.198 warga sipil (577 laki-laki, 320 perempuan, 301 anak-anak) yang berangkat dari Timur Aleppo mencapai area di bawah kendali oposisi di barat Aleppo,” tambahnya.

Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke bagian timur kota yang dikuasai oposisi setelah pengepungan rezim selama lima bulan dan pemboman udara brutal dan terus-menerus.

Sekitar 80.000 warga sipil diyakini terperangkap di beberapa daerah.

Rezim Syiah Nushairiyah Assad yang didukung Rusia telah berusaha merebut wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan Musim Semi Arab – dengan keganasan militer Assad tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan jutaan lebih lainnya mengungsi.

 

Liga Arab Dukung PBB Gelar Pertemuan Darurat Luar Biasa Bahas Aleppo

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab telah mengumumkan dukungannya bagi upaya untuk mengadakan “pertemuan darurat” Majelis Umum PBB atas Aleppo.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency, Kamis (15/12/2016), bahwa dukungan itu dibuat selama sidang darurat wakil tetap Liga Arab di Kairo. Liga Arab mengecam pembantaian oleh rezim Suriah Assad dan sekutunya karena melancarkan operasi militer brutal terhadap kota Aleppo dan warga sipilnya.

Baru-baru ini, Turki, Arab Saudi, UEA dan Qatar menyerukan diselenggarakannya sidang darurat luar biasa Majelis Umum PBB untuk membahas situasi di Suriah.

Dalam resolusi, Liga Arab menyerukan masyarakat internasional untuk menekan rezim Suriah dan berupaya membuka koridor yang aman bagi warga sipil yang terperangkap di Aleppo.

Sementara itu, delegasi Lebanon mengatakan, menurut pernyataan itu, bahwa mereka menjauhkan dukungan untuk rancangan resolusi tentang situasi di Aleppo, sejalan dengan Libanon kebijakan “ fence-sitting (duduk di pagar)” terhadap konflik dan kebijakan non-interferensi dalam urusan internal negara-negara lain.

Sementara dibalik pernyataan delegasi, dilaporkan bahwa milisi Syiah Hizbullah Lebanon salah satu paramiliter pendukung rezim Suriah Bashar Assad.

 

Kedutaan Rusia dan Iran Diprotes Pengunjuk Rasa Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ratusan protes meruak pada hari Kamis di depan kedutaan Iran dan Rusia di Ankara atas pelanggaran mereka terhadap gencatan senjata di Aleppo, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Para pengunjuk rasa dari Human Rights and Service Association, Faith Freedom Platform, dan anggota serikat buruh Turki meneriakkan slogan-slogan mengutuk PBB dan negara-negara yang hanya tinggal diam dalam menghadapi tragedi kemanusiaan di Aleppo.

“Pembantaian di Aleppo dan theater di PBB,” kelompok meneriakkan.

Serkan Codal, juru bicara pengunjuk rasa, mengatakan bahwa Suriah “sedang mengalami pembantaian.”

“Hampir 1 juta orang tewas di Suriah, dan kami berdiri bersama orang-orang yang sekarang sedang disiksa,” katanya.

Secara terpisah, pengunjuk rasa di Ukraina berkumpul di depan Kedutaan Besar Rusia di Kiev atas pelanggaran gencatan senjata Rusia dan tuduhan kejahatan perang terhadap penduduk sipil di kota Aleppo Suriah.

Kelompok itu mengatakan bahwa Rusia dan pasukan rezim “harus segera berhenti menyerang penduduk sipil.”

Kekerasan meningkat di kota pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke wilayah Aleppo timur yang dipegang oposisi setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara terus-menerus. Rezim yang didukung Rusia telah berusaha membangun kembali kontrol atas wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim Syiah Assad menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakanMusim Semi Arab – dengan keganasan militer tak terduga. Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan lebih dari jutaan lainnya mengungsi.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Para pemimpin Syiah, Garda Revolusi Iran meluncurkan pernyataan provokatif terhadap negara-negara Teluk yang mengancam untuk campur tangan di Bahrain dan Yaman, Al Arabiya News Agency melaporkan Jumat (16/12/2016)

Komentar tersebut disiarkan oleh media Iran setelah mereka menganggap telah mencapai “kemenangan di Aleppo,” dengan melakukan pembantaian, menciptakan kelaparan dan menyebabkan warga sipil mengungsi. Aleppo sebelumnya dianggap sebagai salah satu benteng mujahidin; Namun, rezim Suriah merebutnya dengan bantuan dan dukungan dari pasukan militer Iran dan Rusia.

Dalam konteks ini, wakil komandan Pengawal Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami mengatakan kepada kantor berita resmi Iran Republic News Agency bahwa, “Kemenangan di Aleppo akan membuka jalan bagi pembebasan Bahrain,” menunjukkan bahwa Iran memiliki proyek ekspansi yang akan meluas ke Bahrain, Yaman dan Mosul setelah jatuhnya kota Aleppo Suriah.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Salami mengatakan bahwa, “Rakyat Bahrain akan mendapatkan keinginan mereka, orang-orang Yaman akan senang, dan penduduk Mosul akan mencicipi kemenangan, ini semua janji-janji Tuhan,” seperti yang ia katakan.

Dia juga menunjukkan bahwa Iran masih memberikan dukungan tak terbatas untuk kelompok pemberontak Syiah Houthi, menyoroti bahwa rudal Iran bisa menghancurkan target musuh di daerah manapun.

Salami menggambarkan kendali pasukan rezim Suriah di kota Aleppo Suriah, yang telah merenggut nyawa ratusan warga sipil sebagai “penaklukan.”

Komentar-komentar dari juru bicara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Ramadan Sharif mengungkapkan niat Teheran untuk memperluas geografis melalui perang berdarah dan intervensi militer di Dunia Arab.

Sharif mencatat bahwa pasukan Iran dan milisi Syiah dari Irak, Afghanistan, Pakistan dan Syiah Hizbullah dengan dukungan Rusia memainkan peran yang menentukan dan sangat berpengaruh dalam pertempuran Aleppo.

Perlu dicatat bahwa permusuhan Iran melawan Bahrain dan negara-negara Teluk telah meningkat sejak Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bersumpah bahwa negaranya mendukung negara-negara Teluk dalam menghadapi terorisme Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris di Teheran sebagai protes terhadap pernyataan Theresa May selama pidatonya pada 7 Desember di KTT Gulf Cooperation Council, di mana dia menyatakan: “Kita harus bekerja sama untuk mengatasi permusuhan daerah oleh Iran apakah itu di Lebanon, Irak, Yaman, Suriah, atau di Teluk itu sendiri.”

Tanggapi Tuntutan Warga, Dua Kekuatan Besar Anshar al Syam dan Jaysh al Islam Bergabung

SURIAH (Jurnalislam.com) – Dua faksi jihad berkekuatan besar, Anshar al Syam di Suriah pada hari Kamis mengumumkan merger dengan Jaysh al Islam, dalam menanggapi tuntutan warga sipil sebagai pendukung Revolusi nyata, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (15/12/2016).

Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Anshar al Syam, bahwa dalam menanggapi tuntutan pendukung revolusi Suriah dari warga sipil di dalam dan di luar, Brigade mengumumkan bergabung dengan Faksi Jaysh al Islam, dan kami mengajak semua faksi-faksi jihad dan oposisi mengambil langkah-langkah mendesak dan praktis untuk bersatu dan berkumpul.

Pernyataan itu menambahkan “bahwa perang di tanah Syam saat ini telah sampai ke titik krisis, dan wilayah Suriah telah diserang oleh pasukan rezim teroris, milisi Syiah dan pasukan negara-negara pendukung Assad, untuk memusnahkan rakyat Suriah, yang ingin hidup dalam kebebasan dan martabat, seperti Aleppo yang dikepung sehingga anak-anak, perempuan dan orang tua di sana akhirnya tewas, juga rumah sakit, sekolah dan rumah penduduk dibom oleh penjahat dari Rusia, Iran dan rezim Syiah Assad, sementara masyarakat internasional hanya menyaksikan dan menonton tidak mengangkat sebuah jari pun.”

Unjuk rasa dimulai dua hari yang lalu di beberapa daerah di utara dan selatan Suriah, menuntut faksi jihad dan oposisi bersenjata agar bersatu dan berkumpul untuk mengkompensasi kerugian yang memukul revolusi Suriah dan untuk mencegah rezim Assad mencapai keuntungan militer baru.