Perundingan Jenewa: Oposisi Tolak Proposal Rezim Suriah (wawancara eksklusif)

JENEWA (Jurnalislam.com) – Kepala delegasi oposisi untuk perundingan damai Suriah di Jenewa, Nasr al-Hariri, mengatakan bahwa proposal rezim Suriah untuk membentuk pemerintah persatuan nasional selama pencarian masa transisi tidak memiliki referensi internasional apapun.

Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Selasa (28/02/2017) al-Hariri mengatakan pekan ini oposisi akan menanggapi ide-ide yang diusulkan oleh Utusan Khusus PBB Staffan de Mistura.

“Kami serius ingin mencapai solusi politik,” kata al-Hariri di sela-sela pembicaraan di Jenewa.

“Delegasi negosiasi tidak mencari kekuasaan,” katanya. “Kami hanya ingin membangun dasar untuk perdamaian di Suriah melalui solusi politik yang adil.”

Pada pertemuan dengan de Mistura, anggota delegasi oposisi menerima dokumen yang mereka gambarkan sebagai “prosedural”.

Al-Hariri mengatakan pembicaraan dengan utusan PBB tersebut membahas sejumlah isu, termasuk sarana menerjemahkan resolusi PBB 2254 menjadi peta jalan untuk masa depan politik Suriah.

“Tujuan kami adalah menetap pada agenda yang jelas dengan tujuan mencapai transisi politik,” katanya.

“Pada perundingan Jenewa masa lalu, ada perselisihan mengenai agenda,” katanya.

“Pada tahun 2014, rezim tidak bicara tentang terorisme, yang mereka buat untuk menghindari tuntutan rakyat,” tegasnya, “sementara pembicaraan di Jenewa tahun 2016 berkisar sebagian besar di sekitar teori, prinsip-prinsip dan aturan prosedural.”

“Kami memiliki beberapa keberatan tentang agenda pembicaraan, yang akan kami sampaikan ke de Mistura,” kata al-Hariri. “Tapi ketika titik pertama adalah transisi politik dan pemerintahan transisi, saya pikir ini adalah tanda positif.”

Pasukan Rezim Assad Lindungi Kelompok IS
Pasukan Rezim Assad Lindungi Kelompok IS

Al-Hariri mengatakan tim negosiasi-nya sedang mengevaluasi proposal yang dibuat oleh de Mistura.

“Tapi kita perlu beberapa sesi lagi dengan utusan PBB dan timnya untuk mengatasi isu-isu spesifik,” katanya.

Al-Hariri menekankan bahwa transisi politik adalah langkah pertama menuju solusi politik.

“Masih terlalu dini untuk berbicara tentang konstitusi dan pemilihan baru,” katanya.

“Kami menginginkan sebuah konstitusi baru – bersama dengan pemilihan umum yang bebas dan adil – berdasarkan standar internasional,” tambahnya, “tapi masalah ini memiliki konteks spasial dan temporal tersendiri yang jelas.”

Posisi oposisi mengenai pemerintah persatuan nasional yang diusulkan rezim Suriah dan sekutunya, Hariri mengatakan rezim berusaha untuk mempertahankan “semua kekuatan di tangannya”.

“Rezim tidak menginginkan perubahan di Suriah,” tegasnya.

“Kami tidak menginginkan badan pengatur transisi,” tambahnya. “Kami menyerukan pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan PBB dan Pernyataan Jenewa, yang menyerukan transisi politik yang dimulai dengan pembentukan badan pengatur transisi yang memegang kekuasaan eksekutif melalui mekanisme kesepakatan bersama di mana rezim, oposisi dan pihak lainnya ikut berpartisipasi.”

“Tidak ada resolusi internasional, pernyataan sebuah kelompok internasional, resolusi Dewan Keamanan, atau deklarasi oleh negara tertentu yang menyerukan pemerintah persatuan nasional,” al-Hariri menunjukkan. “Hanya rezim yang mengangkat prospek semacam itu.”

Adapun harapan minimum oposisi Suriah terhadap negosiasi, al-Hariri mengatakan: “Yang paling bisa kami harapkan adalah untuk mencapai solusi politik sesegera mungkin.”

“Jika kita bisa mencapai pemahaman bersama dengan utusan PBB mengenai metode dan agenda kita – yang bisa kita mulai di pembicaraan babak berikutnya – saya pikir ini akan menjadi positif,” katanya.

Al-Hariri menekankan bahwa rezim Suriah “tidak tertarik” dalam membahas transisi politik, konstitusi baru atau pemilihan baru.

“Assad telah mengadopsi slogan: ‘Pilih Assad, atau kita akan membakar negara’ sejak awal revolusi,” katanya.

Mengenai peran Washington dalam perundingan, ia menyatakan: “AS adalah kekuatan besar dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB”.

Namun dia menambahkan: “Orang-orang Suriah telah membayar harga yang besar untuk bencana kesalahan mantan pemerintahan Obama, yang mengatur ‘garis merah’ dan kemudian membiarkan rezim untuk memperluas ‘garis merah’ tersebut dan memungkinkan Iran campur tangan di Suriah.”

Dia juga mendesak Washington untuk memimpin dalam mengakhiri “peran jahat” Iran di wilayah tersebut dan menempatkan milisi Syiah Garda Revolusi yang berafiliasi Iran pada daftar entitas teroris.

“Oposisi Suriah menampilkan dirinya sebagai mitra nyata dan efektif dalam memerangi terorisme,” katanya.

Berbicara tentang kemajuan militer Tentara Pembebasan Suriah (FSA) baru-baru ini – dengan dukungan Turki – di utara kota Al-Bab, al-Hariri mengatakan ini akan meningkatkan posisi tawar oposisi dalam pembicaraan.

“Mereka juga meningkatkan moral para pejuang di darat dan rakyat Suriah secara umum, saat daerah yang dibebaskan akan siap untuk menyambut pengungsi,” katanya.

Al-Hariri juga bersumpah untuk mengejar perjuangan yang sedang berlangsung terhadap rezim Assad.

“Kami berharap negosiasi tidak akan menemui jalan buntu,” katanya. “Jika kebuntuan itu terjadi, itu terjadi bukan karena kita.”

Dia melanjutkan untuk mengabaikan tuduhan bahwa keuntungan militer rezim baru-baru ini akan mempengaruhi pembicaraan yang sedang berlangsung di Jenewa.

“Rezim tidak membuat kemajuan apa apa di lapangan,” tegasnya. “Tekanan Rusia dan internasional adalah alasan utama mereka berpartisipasi dalam pembicaraan di Astana dan Jenewa.”

Sedikitnya 74 Tentara dan 15 Polisi Myanmar Tewas dalam Pertempuran

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Bentrokan dengan kelompok etnis di Shan State tenggara Myanmar telah menewaskan lebih dari 160 orang termasuk 74 tentara Myanmar, menurut militer Selasa (28/02/2017), lansir World Bulletin.

Pertempuran berlangsung intensif di daerah pegunungan di sepanjang perbatasan Myanmar-China sejak aliansi empat kelompok etnis melancarkan serangan gabungan pada bulan November tahun lalu.

Pada hari Selasa, militer mengeluarkan pernyataan yang mengatakan 74 tentara, 15 polisi, 13 milisi lokal dan 13 warga sipil tewas selama konflik yang berlangsung 4 bulan di Shan yang bergolak.

Ia menambahkan bahwa sedikitnya 45 anggota kelompok etnis tewas dan empat lainnya ditangkap hidup-hidup oleh pasukan militer.

Pada bulan November, pasukan gabungan dari Aliansi Utara (the Northern Alliance), yaitu the Kachin Independence Army (KIA), Ta’ang National Liberation Army (TNLA), Myanmar National Democratic Alliance Army (MNDAA) dan Arakan Army (AA) – menyerang pos pemeriksaan militer, pos-pos polisi dan the 105th Mile Trade Zone di kota Muse.

Kelompok etnis telah menguasai kota strategis Mongkoe di daerah tersebut selama hampir tiga pekan, namun mengundurkan diri setelah pasukan pemerintah menyerang menggunakan helikopter militer dan senjata berat pada awal Desember.

Meskipun pengumuman pemerintah selanjutnya menyebutkan bahwa daerah tersebut telah dikendalikan, pertempuran masih terjadi.

Sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948, telah terjadii konflik bersenjata yang melibatkan kelompok etnis di Myanmar (kemudian berubah menjadi Burma) selama lebih dari setengah abad.

Sebagai pengganti junta pada tahun 2011, pemerintahan kuasi-sipil mantan Presiden Thein Sein memulai pembicaraan damai dengan kelompok-kelompok etnis.

Pembicaraan itu menghasilkan Perjanjian Gencatan Senjata Nasional (the Nationwide Ceasefire Agreement-NCA), kesepakatan damai bersejarah antara pemerintah dan delapan dari 15 kelompok etnis yang diundang. Namun, beberapa kelompok etnis utama menjauhkan diri.

Myanmar masih menyaksikan beberapa pertempuran sengit antara kelompok etnis tertentu dan militer meskipun pemerintah sipil telah mengambil alih kekuasaan pada Maret 2016.

Penasihat Negara Aung San Suu Kyi telah berulang kali menyerukan kelompok etnis tersebut untuk bergabung dengan proses perdamaian dengan menandatangani NCA.

Namun, tujuh kelompok etnis merilis pernyataan bersama pada hari Jumat mengatakan mereka telah memutuskan untuk tidak menandatangani perjanjian gencatan senjata, mengatakan NCA tidak bisa membawa perdamaian karena tidak memiliki inklusifitas.

“Sebaliknya, kita harus menempuh sebuah jalan baru untuk perdamaian,” kata kelompok setelah bertemu di kota perbatasan Pangkham di Shan.

Di antara kelompok ini adalah KIA, MNDAA, TNLA, AA, United Wa State Army, National Democratic Alliance Army dan Shan State Army-North.

Rencana DK PBB Jatuhkan Sanksi pada Rezim Suriah Diblokir Rusia dan China

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Rusia dan China, pada hari Selasa memblokir rencana resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap rezim Suriah karena melancarkan serangan senjata kimia, Anadolu Agency melaporkan Selasa (28/02/2017).

Rusia menyebut proposal itu sebuah “provokasi untuk mendiskreditkan pemerintah Suriah dan angkatan bersenjatanya”. Vladimir Safronkov, wakil tetap Rusia, mengatakan draft proposal itu bertujuan untuk “membuat alasan tambahan untuk mengganti rezim di Damaskus”.

Dua Negara anggota tetap DK PBB itu telah melindungi rezim Bashar al-Assad dari sanksi internasional selama perang enam tahun.

Ambassador AS Nikki Haley menyebut keputusan Dewan menjadi “pilihan menyakitkan dan tidak boleh dibela”.

“Ini adalah hari yang menyedihkan di Dewan Keamanan ketika anggota mulai membuat alasan bagi negara-negara anggota lainnya yang membunuh rakyat mereka sendiri. Dunia ini sudah menjadi tempat yang lebih berbahaya,” kata Haley.

Perwakilan tetap U.K. Matthew Rycroft mengatakan, “Kami tidak akan menyerah memperjuangkan keadilan bagi Suriah.”

Menangani sesi, Suriah juga mengatakan bahwa proposal itu menentang penggunaan senjata kimia dan mengatakan bahwa tindakan itu “bertentangan dengan etika”.

Diusulkan oleh Perancis, Inggris, dan AS, proposal resolusi itu akan memberlakukan sanksi terhadap 21 individu dan organisasi yang diduga telah terlibat dalam serangan senjata kimia Suriah.

Resolusi ini juga akan melarang pasokan helikopter kepada rezim Suriah, yang dikatakan digunakan oleh pasukan pemerintah untuk menjatuhkan senjata kimia.

Mosi DK PBB menerima sembilan dukungan dari 15 anggota dewan. Bolivia juga memilih menentang mosi sementara Mesir, Ethiopia dan Kazakhstan abstain.

Sebuah penyelidikan gabungan oleh PBB dan pengawas senjata kimia internasional telah menemukan pemerintah Suriah berada di balik sedikitnya tiga serangan yang melibatkan gas klorin.

Rancangan resolusi juga mempertanyakan deklarasi rezim Assad mengenai stok kimia, dan menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

AS, yang mempelopori upaya untuk menghancurkan gudang senjata kimia Suriah setelah berputar-baliknya aksi militer pemerintahan Barack Obama pada 2013, mengakui pada Oktober lalu bahwa misi mereka itu “bukanlah suatu kemenangan”.

“Kami jelas tidak menghapus semua kapasitas mereka untuk membuat senjata kimia,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner pada saat itu.

Puluhan Pasukan Assad dan Komandannya Tewas, Syeikh al Jaulani: Inilah Bukti Kelemahan Mereka

SURIAH (Jurnalislam.com) – ” Syeikh Abu Muhammad al Jaulani” muncul dalam video rekaman sebagai komandan militer Hayat Tahrir al Sham, berbicara tentang rincian operasi yang menargetkan cabang pertahanan rezim Nushairiyah di Homs, dan mengarahkan banyak pesan, Eldorar Alshamia melaporkan Selasa (28/02/2017).

“Operasi itu akan menjadi pelajaran bagi beberapa politisi yang dikalahkan di Jenewa dan Astana, dan pelajaran ini akan menghapus sedikit rasa malu yang ditimbulkan pada rakyat Suriah oleh para petualang ini, dan sudah waktunya bagi para petualang ini untuk meninggalkan perang dan mundur,” kata Syeikh al Jaulani.

Syeikh Jaulani menegaskan bahwa operasi itu membuktikan kerapuhan dan “kelemahan serta kepengecutan” rezim Suriah; dimana di tempat yang paling dijaga ketat pun tidak aman. Rezim tidak dapat melindungi, pasukan, komandan dan kepala cabangnya, dan yang dapat mencapai tujuan tersebut akan mampu melampaui mereka.

Hayat Tahrir al Sham menerbitkan rincian operasi sebelumnya yang menargetkan cabang pertahanan militer dan cabang pertahanan rezim Assad di kota Homs dan menegaskan bahwa 5 mujahidin Hayat Tahrir al Sham menyerang zona pertahanan, membunuh dan melukai lebih dari 90 pasukan rezim Suriah, sekaligus komandan Divisi pertahanan Militer mereka, Brigadir “Hassan Dabol” dan komandan cabang pertahanan negara, Brigadir “Ibrahim Darwish.”

 

Tolak 2 Saksi Ahli, Ahok dan PH Dinilai Tak Belajar dari Pengalaman

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lanjutan persidangan Kasus Penodaan Agama yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian RI, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/02/2017) menghadirkan dua saksi ahli, Habib Muhammad Rizieq Syihab sebagai Ahli Agama dan Dr. Abdul Chair Ramadhan Ahli Hukum Pidana.

Sebagaimana persidangan sebelumnya, terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Penasihat Hukumnya (PH) menolak Para Ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Hal yang sama terjadi pada persidangan hari ini, dimana dua saksi ahli yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum ditolak oleh Terdakwa dan Penasihat Hukumnya.

Menanggapi itu, Koordinator Persidangan GNPF MUI Nasrulloh Nasution sangat menyayangkan atas penolakan tersebut. Sebab, seharusnya terdakwa dan PH dapat menggali kebenaran materil dan belajar banyak tentang Agama Islam dan hukum pidana dari kedua ahli yang dihadirkan.

“Seharusnya terdakwa dan penasihat hukumnya banyak bertanya kepada ahli habib Rizieq agar mereka paham tentang Islam dan paham mengapa umat Islam marah atas pernyataan terdakwa di kepulauan seribu,” katanya dikawasan Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Sebagaimana diketahui, Habib Muhammad Rizieq Syihab adalah salah satu motor penggerak GNPF MUI yang selalu dikaitkan-kaitkan oleh terdakwa dan PH dalam sidang-sidang sebelumnya. Namun ketika ia hadir, tidak satu pun pertanyaan berani dilontarkan oleh terdakwa atau penasihat hukumnya.

Reporter: Syl

Ahli Pidana Sidang 12 Tegaskan Ahok Berniat Menista Surat Al Maidah 51

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ahli Pidana yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan keduabelas kasus Penodaan Agama yang digelar di Auditorium Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/02/2017) menerangkan bahwa pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu yang menista Surat Maidah 51 dilakukan dengan niat.

Dr. Abdul Chair Ramadhan yang diperiksa sebagai ahli dari Majelis Ulama Indonesia ini menegaskan, niat (mens rea) untuk menista sudah dilakukan terdakwa sebelum peristiwa di Kepulauan Seribu.

Menurut Kajian Ahli, terdakwa sudah menyinggung Al Qur’an Surat Al Maidah 51 dalam pernyataannya di Partai Nasdem, Balai Kota, dan dalam bukunya yang berjudul Merubah Indonesia halaman 40.

Nasrulloh Nasution, tim advokasi GNPF yang turut mengikuti jalannya pemeriksaan Ahli ini mengatakan bahwa pernyataan Ahli Pidana ini memberikan penegasan penting tentang adanya niat untuk melakukan tindak pidana penistaan agama. Menurutnya, Ahok telah terbukti berniat melakukan penistaan Surat Al Maidah 51 sehingga Dakwaan Jaksa sudah terbukti.

Koordinator Persidangan GNPF MUI ini juga mengatakan bahwa berdasarkan kajian Ahli yang dinyatakan dalam persidangan, Ahok terbukti telah berulang kali menyinggung Surat Al Maidah 51 dalam pidatonya. Bahkan, kata dia, Ahok dalam pidatonya mengolok-olok Surat Al Maidah 51 dengan menyatakan akan membuat wifi dengan username “Surat Al Maidah 51” dengan passwordnya “kafir”. Oleh karena itu tepat keterangan Ahli yang mengatakan kalau Ahok memiliki niat untuk menista Agama.

Dengan terbukti adanya niat dari Ahok untuk menista Surat Al Maidah 51, ia menegaskan maka unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan kepada Ahok sudah sempurna. Tidak bisa lagi Ahok menyangkal bahwa ia tidak berniat menista Surat Al Maidah 51.

“Ahok itu seorang Gubernur, pernah pula jadi Bupati, pendidikannya juga S-2, pastilah apa yang keluar dari mulutnya itu adalah sesuatu yang disadari dan dikehendaki,” pungkas praktisi hukum ini.

Reporter: HA

Gerakan Muslimah ANNAS Balikpapan Siap Antisipasi Gerak Sesat Syiah

SAMARINDA (Jurnalislam.com) – Gerakan Muslimah (GEMA) ANNAS Balikpapan menyatakan kesiapannya untuk mencegah aliran sesat Syiah. GEMA menyebut akan mengembalikan kesadaran umat yang telah terpengaruh paham sesat Syiah kepada Al Qur’an dan Sunnah.

“Mengantisipasi adanya berbagai pergerakan penyesatan Syiah dan ajaran sesat lainnya di Indonesia khususnya di Balikpapan. Menyadarkan umat Islam yang telah sesat dari pengaruh ajaran sesat Syiah agar kembali ke ajaran Islam yang kaffah (menyeluruh) sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah,” jelas Ketua GEMA ANNAS Balikpapan, Ermawati seusai dideklarasikan di Masjid Baitul Muttaqin Islamic Center Jl. Slamet Riyadi Samarinda, Ahad (26/2/2017).

Erma mengungkapkan, untuk mencapai itu perlu digalakkannya persatuan dan kesatuan umat Islam. Menjalin kerja sama antar umat Islam, kata dia, serta menyatukan pola pikir untuk menjalin kemitraan kepada pemerintah penting dilakukan.

“Bersama-sama melawan dan berjihad terhadap segala bentuk gerakan sesat Syiah,” cetus kelompok muslimah berbusana hitam ini.

Lebih dari itu, ia mengimbau kepada semua lapisan masyarakat dan pemerintahan untuk senantiasa berupaya menangkal gerakan Syiah.

Reporter: Abu MT

Deklarasi ANNAS Kaltim: Kami Siap Kerahkan Harta, Jiwa, dan Raga Cegah Paham Sesat Syiah!

SAMARINDA (Jurnalislam.com) – Ratusan umat Islam menghadiri Deklarasi dan Pengukuhan Pengurus Wilayah (PW) Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) serta Pengurus Daerah (PD) Kota Samarinda di Masjid Baitul Muttaqin Islamic Center Jl. Slamet Riyadi Samarinda, Ahad (26/2/2017).

Dalam deklarasi wadah anti Syiah itu, umat Islam Kaltim siap memperjuangkan apapun untuk menangkal derasnya paham sesat Syiah.

“Siap berjuang dengan harta, jiwa dan raga untuk menghadapi segala bentuk penyebaran paham sesat Syiah di Indonesia,” tegas Ketum ANNAS Wilayah Provinsi Kaltim, Muhammad Yunus.

Ia juga mengatakan, pemerintah dalam hal ini Gubernur Kaltim untuk melakukan upaya pencegahan aliran Syiah ini serta membersihkan seluruh pegawai pemerintahan dari paham sesat Syiah.

Yunus mendesak, Kejaksaan Agung RI dan Mahkamah Agung RI untuk membubarkan semua Yayasan, atau Badan Hukum Perkumpulan serta membekukan media-media yang mengampanyekan ajaran sesat Syiah. Mengajak umat untuk bersatu melawan Syiah.

“Karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Keempat, mengajak kepada seluruh Umat Islam di Kalimantan Timur agar meningkatkan kewaspadaan dan mengawasi lingkungan sekitarnya dari penyebaran paham sesat Syiah,” pungkasnya menutup pernyataan sikap ANNAS Kaltim.

Selain pembacaan pernyataan sikap, acara deklarasi pengukuhan ANNAS PW Kaltim dan PD Samarinda ini ditandatangani langsung oleh Ketum ANNAS Pusat, K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. MA.

Reporter: Abu MT

Masuki Ruang Sidang, HRS Didukung Penuh GNPF MUI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab tampil dalam persidangan kasus Penistaan Agama dengan terdakwa Basuki T Purnama alias Ahok, Selasa (28/02/2017).

Habib Rizieq dating dengan mengenakan busana putih-putih, memasuki ruang persidangan pada Selasa (28/2) sekitar pukul 09.00 WIB.

Tim Pengacara GNPF-MUI, Kapitra Ampera, mengatakan kepada wartawan bahwa seluruh pengurus GNPF-MUI dan Tim Advokasi menghadiri sidang Ahok kali ini.

Ketua GNPF-MUI KH Bachtiar Nasir itu hadir untuk memberikan dukungan kepada Habib Rizieq Shihab. Begitu pula Munarman.

“Saya datang ingin memberikan support kepada Habib yang menjadi saksi sidang pada hari ini. Saya berharap sidang hari ini dapat berjalan dengan fair,” ungkap Bachtiar Nasir kepada wartawan di Auditorium Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/02/2017) dikutip Islamic News Agency.

Habib Rizieq dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi ahli agama atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Penunjukkan Habib Rizieq Shihab berdasarkan Surat Keterangan MUI Pusat No.Ket-1061/DP/-MUI/XI/2016 tanggal 3 November 2016, yang ditandatangani Ketua MUI Pusat KH Sodikun dan Sekjen MUI Pusat Dr KH Anwar Abbas.

Sementara Dr Abdul Chair Ramadhan, SH, MH dari Komisi Hukum MUI menjadi saksi ahli pidana yang juga dihadirkan JPU dalam persidangan ke-12 ini.

Seperti diketahui, Ahok didakwa telah melakukan penodaan agama berupa penghinaan terhadap Al-Qur’an dan ulama. Penistaan terkait dengan pidatonya yang menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51. Dia dijerat dengan Pasal 156a dan Pasal 156 KUHP.

Di awal sidang, Tim Penasihat Hukum Ahok menolak saksi ahli agama Habib Rizieq, tapi Majelis Hakim menolak keberatan Penasihat Hukum Ahok.

 

Reporter: Haikal/INA

Berpotensi Melarikan Diri HRS Minta Majelis Hakim Segera Tahan Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam sidang lanjutan kasus penodaan agama oleh BTP alias Ahok, saksi Ahli Agama, Habib Rizieq Shihab (HRS), juga memberikan bukti tambahan lain kepada majelis hakim. Bukti itu adalah rekaman wawancara Ahok dengan stasiun tv Al Jazeera.

“Yaitu, rekaman wawancara terdakwa dengan TV al-Jazira yang menyatakan yang bersangkutan tidak jera untuk mengatakan kalimat yang diucapkannya di kepulauan seribu,” ungkapnya kepada Islamic News Agency (INA) di Gedung Auditorium, Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/17).

Selain itu, HRS juga memberikan bukti lain, yaitu rekaman pernyataan Ahok dalam rapat Pemprov DKI Jakarta yang mengolok-olok al-Ma’idah.

Oleh sebab itu, HRS memita kepada Majelis Hakim untuk segera melakukan penahanan terhadap terdakwa.

“Karena sepanjang sejarah penegakan hukum di Indonesia siapapun yang menjadi terdakwa terkait pasal 156a tidak ada yang tidak ditahan,” pungkasnya.

Selain itu, HRS juga mengungkapkan adanya potensi terdakwa untuk melarikan diri sebelum dakwaan diputuskan.

“Karena itu jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari kita minta kepada majelis hakim untuk menahan terdakwanya,” tandasnya.

Reporter: Ali Muhtadin | Islamic News Agency (INA)