Helikopter Militer Turki Tabrak Kabel Listrik Tegangan Tinggi, 13 Tentara Tewas

SIRNAK (Jurnalislam.com)Tiga belas tentara tewas pada hari Rabu (31/5/2017) akibat kecelakaan helikopter militer tipe Cougar di provinsi selatan Sirnak, menurut Staf Umum Turki, lansir Anadolu Agency.

Helikopter itu menabrak kabel listrik tegangan tinggi tiga menit setelah lepas landas, kata kantor gubernur provinsi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Ketiga belas personil militer tewas dalam kecelakaan itu, kata Staf Umum Turki.

Presiden Recep Tayyip Erdogan diberitahu tentang kecelakaan tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada Kepala Staf Turki Hulusi Akar, yang pergi ke tempat kejadian, menurut sumber presiden.

Perdana Menteri Binali Yildirim dan istrinya mengunjungi keluarga Mayjen Aydogan Aydin yang tewas dalam kecelakaan itu. “Semoga Allah mengistirahatkan jiwa pahlawan kita yang mati syahid dalam peristiwa menyakitkan yang sangat menyedihkan ini,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Wakil Perdana Menteri Mehmet Simsek dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu juga tiba di Sirnak untuk memeriksa lokasi kejadian.

Para pemimpin mengungkapkan simpati mereka melalui akun media sosial mereka.

“Kesedihan pahlawan kita yang mati syahid di helikopter yang jatuh telah merobek hatiku. Semoga Allah mengistirahatkan jiwa mereka,” Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menulis di akun Twitter-nya.

Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para martir di media sosial. “Semoga Tuhan mengistirahatkan mereka dalam damai,” tulisnya.

Pemimpin partai oposisi Partai Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu menyampaikan belasungkawanya kepada seluruh Turki, melalui akun Twitter-nya.

Pasukan IS Tutup Jalan Sekitar Masjid Agung Mosul sebagai Benteng Terakhir

MOSUL (Jurnalislam.com) – Pasukan Islamic State (IS) menutup jalan-jalan di sekitar Masjid Agung al-Nuri Mosul, kata penduduk, tampaknya dalam persiapan untuk pertarungan terakhir dalam pertempuran di atas markas besar terakhir mereka di Irak, Middle East Eye melaporkan, Rabu (31/5/2017).

Dalam 48 jam terakhir warga menyaksikan puluhan pasukan mengambil posisi di sekitar masjid abad pertengahan tersebut, tempat di mana pemimpin IS Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan sebuah kekhalifahan Islam pada bulan Juli 2014 secara sepihak.

Pasukan pemerintah Irak yang didukung agresor AS merebut kembali Mosul timur pada bulan Januari dan memulai sebuah dorongan baru pada hari Sabtu untuk merebut daerah kantong yang tersisa di Mosul, yang terdiri dari pusat kota tua di mana masjid tersebut berada, dan tiga distrik yang berdekatan di sebelah barat tepi Sungai Tigris

Jatuhnya kota pada akhirnya akan menandai berakhirnya separuh kekhalifahan IS yang mereka deklarasikan sendiri. Sementara di Suriah, pasukan lokal Kurdi yang didukung oleh serangan udara agresor AS mengepung wilayah IS di kota Raqqa, ibukota de facto IS di negara tersebut.

Hingga 200.000 orang masih hidup dalam kondisi mengerikan di Mosul, kehabisan makanan, air dan obat-obatan, dan sulit mengakses rumah sakit, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Ahad.

Masjid Agung al-Nuri menjadi fokus simbolis operasi militer tersebut, dan para komandan Irak secara pribadi mengatakan bahwa mereka berharap dapat menguasainya selama bulan Ramadhan.

“Pasukan IS tahu bahwa Masjid adalah sasaran yang paling penting dan mereka bersiap menghadapi pertempuran besar di sana,” kata Hisyam al-Hashemi, yang menjadi konsultan beberapa pemerintah Timur Tengah termasuk Irak dalam urusan negara Islam.

Tapi pertempuran di dalam atau di dekat masjid akan membuat bangunan dan menaranya yang terkenal tersebut beresiko, kata para ahli.

Menara, yang miring beberapa kaki dan berdiri di tanah lembab, sangat rentan karena belum direnovasi sejak 1970. Kemiringannya membuat menara itu memperoleh nama populernya – al-Hadba, atau bungkuk.

Serangan Mosul, yang sekarang berada di bulan kedelapan, telah memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Selama beberapa hari terakhir, militan IS memerintahkan puluhan keluarga yang tinggal di distrik Zanjili untuk pindah ke Kota Tua untuk mencegah mereka melarikan diri ke arah pasukan Irak yang berusaha maju dari sisi utara, kata seorang penduduk.

Pasukan pemerintah telah menjatuhkan selebaran di distrik-distrik yang menghimbau keluarga di sana melarikan diri namun intensitas pertempuran telah mencegah mereka untuk melarikan diri.

Pasukan IS telah melawan serangan tersebut dengan bom mobil dan bom rompi, penembak jitu, jebakan dan tembakan mortir.

Sekitar 700.000 orang, sekitar sepertiga dari populasi kota pra-perang, telah melarikan diri, mencari perlindungan baik dengan teman dan keluarga atau di kamp-kamp.

Terbukti Tidak Bersalah, LUIS Harap Kriminalisasi Tak Terulang Kembali

SEMARANG(JurnalIslam.com)- Setelah divonis bebas karena tak terbukti bersalah dalam kasus perusakan Social Kitchen di pengadilan, Humas Laskar Umat Islam Solo (LUIS) Endro Sudarsono berharap kriminalisasi terhadap ulama, aktivis dan ormas Islam tidak terulang kembali.

Menurutnya, kasus yang menimpa dirinya dan kawan-kawannya di LUIS menjadi kasus terakhir bagi kepolisian untuk mengkriminalisasi umat. “”Semoga kedepannya tidak ada istilah kriminalisasi selama itu tidak ada fakta hukum, apabila terjadi kasus semacam kita terulang lagi ,” katanya di Semarang kepada Jurnalislam.com, Rabu (31/5/2017).

Sedari awal, Endro meyakini bahwa putusan yang akan diberikan majelis hakim adalah vonis bebas.

“Itu sesuai dengan keyakinan kami selama ini baik dalam duplik bahwa jaksa akan sulit mendakwakan apa yang disampaikan kepada kami,”katanya.

Ia pun mengapresiasi majelis hakim yang telah memutuskan dengan adil. “Yang jelas hakim independen cerdas, cermat dan tepat dalm membaca fakta-fakta persidangan selama ini,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, 9 orang anggota LUIS dan seorang jurnalis bernama Ranu Muda yang tengah meliput ditangkap polisi karena dituding terlibat dalam perusakan kafe Social Kitchen. Namun, karena tak terbukti bersalah, mereka semua divonis bebas oleh majelis hakim.

Sempat Dipenjara 5 Bulan Walau Tak Bersalah, LUIS Tak akan Menuntut Balik

SEMARANG (JurnalIslam.com)- Ketua Laskar Umat Islam Solo (LUIS) Edi Lukito tidak akan menuntut kembali setelah dinyatakan bebas oleh Majlis Hakim PN Semarang.

“Terkait hukum yang lain kita tidak akan menuntut segala macam perkara ini,” katanya kepada jurnalislam.com saat setelah sidang putusan di PN Semarang, Rabu (31/5/2017). Menurutnya, walau n sudah ditahan sejak desember 2016 atau sampai sekarang sudah 5 bulan , ia dan kawan-kawan menerima dengan legowo apa yang telah dialaminya

Kata Edi, kriminalisasi yang menimpa LUIS adalah musibah yang harus diterima dan sebagai resiko perjuangan agar setiap melakukan aksi amar ma’ruf nahi munkar pada masa yang akan datang agar lebih tertata rapi.

“Ya sudahlah kita anggap ini satu musibah dan kami serahkan kepada Allah,” katanya. Meskipun sudah mengalami ujian seperti itu, LUIS tidak akan berhenti untuk berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar.

“Dan amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban kita. Sampai kapanpun kita tidak bisa pisahkan apapun resikonya,” pungkasnya

Ranu Bebas, JITU Berharap Ini Kasus Kriminalisasi Jurnalis Terakhir

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jurnalis Islam Bersatu (JITU) bersyukur atas vonis bebas Majelis Hakim terhadap Ranu Muda dalam kasus Social Kitchen. Jurnalis panjimas.com itu dituduh melakukan provokasi terhadap perusakan kafe Social Kitchen Solo akhir tahun lalu.

“Hanya karena karuniaNya lah Ranu bisa menghirup udara bebas. Kami berharap Ranu bisa kembali bersua dengan keluarga hari ini pasca vonis bebas yang diputuskan Majelis Hakim,” kata Ketua JITU, Agus Abdullah dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Rabu (31/5/2017).

Agus juga mengapresiasi keputusan Majelis Hakim yang memvonis bebas Ranu. Keputusan tersebut dinilai Agus sebagai keputusan yang adil mengingat Ranu tidak terbukti melakukan tindakan kekerasan sebagaimana yang dituduhkan.

“Saksi Ahli yang dihadirkan juga menguatkan bahwa Ranu telah menjalankan fungsi jurnalisnya dalam insiden di Social Kitchen,” ujarnya.

Agus menjelaskan, sejak awal kasus itu digulirkan pihaknya berkeyakinan bahwa Ranu tidak bersalah. Menurutnya, Ranu tengah menjalankan tugas jurnalistik saat berada di kafe tersebut.

“Tuduhan yang dialamatkan kepada Ranu bahwa dia adalah propagandis dan petugas dokumentasi laskar merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan tidak terbukti di pengadilan,” paparnya.

Agus berharap, kasus kriminalisasi terhadap jurnalis tidak terulang lagi di kemudian hari. Ia menegaskan, tugas peliputan jurnalis dilindungi UU No.40 tahun 1999.

“JITU berharap bahwa kriminalisasi terhadap Ranu adalah kejadian terakhir upaya kriminalisasi terhadap jurnalis,” tutupnya.

Siaran Pers

Tak Terbukti Bersalah, Hakim Vonis Bebas Jurnalis Ranu Muda dan Tokoh LUIS

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Majelis Hakim Puji Widodo membacakan vonis bebas terhadap tokoh-tokoh LUIS dan Ranu Muda wartawan Panjimas.com cum anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) karena tidak terbuti secara sah melakukan perbuatan yang didakwakan oleh Jaksa penuntut Umum (JPU) dalam kasus dugaan perusakan kafe Social Kitchen.

“Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan kepada para terdakwa, Edi Lukito, Salman Al Farizi, Yusuf Suparno, Endro Sudarsono, Joko Sutarto, Ranu Muda Adi Nugroho, Laksito dan Mulyadi tidak terbukti secara sah dalam dakwaan pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum,” kata Majelis Hakim Pudji Widodo di PN Semarang saat putusan, Rabu ( 31/5/2017).

Menurut majelis hakim, semua pasal yang didakwaan tidak memenuhi unsur untuk menjerat para terdakwa. Sementara itu, setelah mendengan putusan bebas terhadap perkara 190 yaitu Edi Lukito dan kawan-kawan, Penasehat hukum Anies Prijo Ansharie dengan senang hati menerima putusan hakim.

“Kami mewakili dari teman-teman menerima putusan,” ucap Anies saat menanggapi putusan hakim tersebut. Pihak Jaksa Penuntut Umum menyatakan akan memikirkan dahulu apakah akan banding atau tidak.

“Kami akan pikir-pikir dulu,”ucap salah seorang JPU Slamet Margono. Setelah putusan hakim dibacakan, para terdakwa kemudian melakukan sujud syukur. Mereka bersyukur divonis bebas murni tanpa syarat dan langsung bisa pulang untuk bertemu keluarga masing-masing.

Korban Meninggal akibat Tabrakan Bis Beruntun Jamaah Umrah Bukan 130 tapi 6 Orang

Manama (Jurnalislam.com) – Sebuah kecelakaan beruntun menewaskan enam orang dan sedikitnya 65 lainnya terluka di jalan raya antara Madinah di Arab Saudi barat dan Al Qassim, lansir Gulf News, Rabu (31/5/2017).

Laporan mengatakan bahwa kecelakaan itu terjadi Jumat malam dan melibatkan sebuah truk kecil dan lima bus.

Seorang sumber lalu lintas mengatakan kepada situs berita Saudi, Sabq, bahwa pengemudi truk tersebut memutuskan parkir di pinggir jalan raya karena kondisi angin yang mengerikan mengurangi jarak pandangnya secara drastis dan mencegahnya melihat jalan di depan.

Abdul Aziz Al Tamimi, juru bicara pertahanan sipil di Qassim, mengatakan bahwa beberapa penumpang dirawat di tempat, sementara yang lainnya dibawa ke rumah sakit yang berbeda.

“Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga korban, serta berharap pemulihan cepat bagi yang terluka dan kami mengulangi peringatan kami kepada para pengemudi untuk menerapkan tingkat kehati-hatian tertinggi selama kondisi cuaca buruk,” kata Al Tamimi.

Belum tersedia rincian kewarganegaraan penumpang, yang diyakini berjumlah sekitar 200.

Sebelumnya telah beredar pesan berantai yang menyebutkan jumlah korban pada kejadian tersebut adalah 130 jamaah meninggal dunia.

Presiden Filipina Memohon Bantuan Kepada Front Pembebasan Islam Moro

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Presiden Rodrigo Duterte telah meminta pasukan oposisi untuk membantu pemerintah dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di kota Marawi.

Presiden bertemu dengan seorang delegasi pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front-MILF) di Davao City pada hari Senin untuk membahas bentrokan yang sedang berlangsung di Marawi di pulau Mindanao, lansir World Bulletin, Selasa (30/5/2017).

Duterte menetapkan seluruh Pulau berada di bawah darurat militer menyusul kelompok Maute terkait kelompok Islamic State (IS) menyerang kota tersebut pada 23 Mei. Sejak saat itu sebanyak 65 milisi Maute, 20 tentara Filipina dan 19 warga sipil tewas dalam bentrokan tersebut, kata juru bicara militer.

Menurut sebuah pernyataan dari tim komunikasi bersama pemerintah dan MILF, kelompok oposisi itu menyambut baik permohonan tersebut.

MILF, sebuah kelompok pejuang Islam yang berbasis di Filipina selatan, telah menandatangani sebuah kesepakatan damai dengan pemerintah pada bulan Maret 2014 namun belum sepenuhnya diterapkan.

“Mekanisme perdamaian seperti Komite Koordinasi mengenai Penghentian Permusuhan (the Coordinating Committees on the Cessation of Hostilities-CCCH) pemerintah dan MILF akan digunakan untuk merencanakan dan menerapkan bagaimana cara untuk segera dan secara aman memperpanjang bantuan kemanusiaan,” katanya.

Sementara itu, sebuah video yang beredar Selasa menunjukkan Pastor Teresito Soganub yang diculik meminta pemerintah untuk menghentikan serangan militer.

Soganub adalah salah satu sandera yang diambil dari Katedral Our Lady Help di kota Marawi pada hari Selasa, 23 Mei.

“Bapak Presiden, kita berada di tengah perang ini. Kami meminta bantuan Anda untuk memberikan apa yang diminta musuh Anda,” kata sang pastor dalam video tersebut, seperti yang dilaporkan oleh Rappler.

“Mereka sama sekali tidak meminta apapun – kecuali agar Anda menarik pasukan dari Lanao del Sur dan Kota Marawi, dan untuk menghentikan serangan udara, serangan udara Anda, dan untuk menghentikan meriam,” tambahnya.

Jubir Taliban: Jihad Selama Ramadhan adalah Wajib

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Juru bicara resmi Imarah Islam Afghanistan (Taliban) menyebut jihad sebagai “ibadah wajib” dan mengatakan bahwa tidak akan ada gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan ini. Sikap juru bicara tersebut konsisten dengan kebijakan Taliban.

“Pertarungan kami adalah Jihad dan ibadah wajib, setiap amalan wajib mendapat pahala 70 kali lipat di bulan Ramadan,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid di akun Twitter resminya pada 27 Mei, awal dimulai Ramadhan, lansir The LOng War Journal, Selasa (30/5/2017).

“Seruan untuk menghentikan Jihad di bulan suci ini adalah ketidaktahuan akan agama. Menyakiti warga sipil selama Ramadan dan sebaliknya adalah sebuah kejahatan,” lanjutnya dalam tweet terpisah.

Sikap Mujahid mengenai pertempuran selama bulan Ramadhan konsisten dengan pernyataan masa lalu. Pada tahun 2013, sambil memperdebatkan suara Jihad yang menyerukan gencatan senjata, Mujahid mengatakan bahwa Taliban akan terus berjuang.

“Selama bulan suci Ramadhan, jihad memperoleh pahala besar. Dan mujahidin akan terus menggunakan semua teknik pertarungan untuk meluncurkan serangan terhadap musuh,” kata Mujahid, menurut Reuters.

Tindakan Taliban sesuai dengan kata-katanya. Taliban telah meluncurkan serangan terhadap pos militer Afghanistan, pangkalan militer, gedung pemerintah boneka, dan warga sipil yang mendukung pemerintah sejak awal bulan Ramadan. Taliban membunuh 13 anggota milisi yang didukung intelijen AS (CIA) dalam sebuah pemboman mobil martir di ibukota provinsi Khost yang digambarkan AFP sebagai “serangan besar pertama pada awal bulan suci Ramadhan.”

Taliban telah berulang kali menyatakan bahwa pihaknya tidak berniat untuk melakukan negosiasi gencatan senjata atau melakukan perundingan damai dengan pemerintah Afghanistan bentukan AS. Taliban mendukung Al Qaeda dan mempertahankan upaya menegakkan kembali Imarah Islam Afghanistan pada masa lalu, nama resmi pemerintah Taliban yang digulingkan oleh pasukan salibis AS dan multinasional pada tahun 2002. Meskipun demikian, AS, sekutu barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus mendorong pembicaraan damai.

Mujahid mengeluarkan sebuah tweet lagi yang mengatakan bahwa Taliban “memberikan perhatian khusus untuk melindungi kehidupan warga sipil sepanjang tahun ini.”

3 Tokoh Partai Politik India Dihukum atas Dugaan Penghancuran Masjid

NEW DELHI (Jurnalislam.com) – Tiga tokoh senior dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang sedang berkuasa dikenai hukuman atas dugaan peran mereka dalam penghancuran Masjid yang berdiri pada abad ke-16, Masjid Babri, kata media lokal pada Selasa (30/5/2017), lansir Anadolu Agency.

Insiden tersebut pernah memicu kerusuhan agama dimana hampir 2.000 orang meninggal dunia.

Pengadilan khusus di kota Lucknow utara memvonis persekongkolan kriminal terhadap 12 anggota BJP, termasuk mantan kepala BJP Lal Krishna Advani, pemimpin veteran Murli Manohar Joshi dan menteri federal Uma Bharti, lapor Times of India.

Masjid era Mughal di Ayodhya, Uttar Pradesh, dirubuhkan pada bulan Desember 1992 oleh nasionalis Hindu yang mengklaim bahwa Masjid tersebut berdiri di tempat kelahiran dewa Hindu yang dihormati dan sebuah kuil Hindu berusia seribu tahun.

Semua terdakwa, yang mandapat jaminan, membantah membuat pidato provokasi yang mendorong massa untuk menyerang Masjid tersebut.

Permohonan untuk membatalkan kasus konspirasi tersebut ditolak oleh pengadilan.

Tuduhan konspirasi dijatuhkan pada tahun 2001, sehingga mereka menghadapi tuntutan yang lebih rendah namun seruan berturut-turut oleh Biro Investigasi Pusat, pengadilan tertinggi India, menyebabkan mereka kembali ke keadaan semula.

Selusin pemimpin BJP awalnya tercantum dalam sebuah dokumen tahun 1992 yang menuduh mereka menghasut serangan terhadap Masjid tersebut, yang diberi nama sama dengan nama seorang kaisar Mughal.

Sejak penghancuran Masjid, umat Islam meminta agar sebuah Masjid baru dibangun di lokasi yang sama sementara orang Hindu menuntut sebuah kuil di tempat kelahiran Lord Ram.