LSM Ghouta: 22 Pusat Kesehatan, 1 Panti Asuhan dan 1 Masjid Diratakan Rezim Assad dan Rusia

GHOUTA TIMUR (Jurnalilsam.com) – Menurut kelompok pertahanan sipil Suriah White Helmets, jumlah korban telah melampaui 500 lebih dalam sepekan terakhir karena serangan sengit rezim Assad, lansir Anadolu Agency Rabu (28/2/2018).

Dalam dua pekan terakhir, rezim tersebut telah menargetkan 22 pusat kesehatan, sebuah Masjid dan sebuah panti asuhan di Ghouta Timur.

Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi yang disahkan oleh Turki, Rusia dan Iran dimana tindakan agresi militer dilarang.

AS Tuduh Rusia dan Rezim Assad ingin Gagalkan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut gencatan senjata 30 hari untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Resolusi tersebut, yang disiapkan oleh Swedia dan Kuwait, juga menyerukan evakuasi medis 700 orang, terutama di Ghouta Timur, yang telah dikepung selama lima tahun terakhir, mencegah pengiriman makanan dan obat-obatan dan melalaikan ribuan pasien yang membutuhkan pengobatan.

AS Salahkan Rusia atas Pembantain Warga Sipil Ghouta Timur

Suriah telah terkunci dalam perang global yang menghancurkan sejak awal 2011 ketika rezim menindak aksi unjuk rasa warga dengan keganasan militer yang tak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang telah terbunuh dalam konflik tersebut.

Balita Karim Tinggal di Bawah Tanah untuk Hindari Serangan Rezim Assad di Ghouta

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Syiah Assad Suriah, “Baby Karim” – yang kehilangan satu mata pada serangan udara rezim – berlindung di bawah tanah untuk bertahan hidup.

Warga sipil terpaksa berlindung di bawah tanah karena serangan udara yang dilakukan oleh rezim Nushairiyah Bashar al-Assad dan pendukungnya di daerah pinggiran Ghouta yang diblokade semakin brutal.

Dukungan untuk Bayi Karim yang Cacat Akibat Pemboman Rezim Syiah Assad Meningkat

Sejak Anadolu Agency pertama kali melaporkan ceritanya, ribuan orang telah menyatakan dukungannya untuk anak tersebut melalui kampanye media sosial online.

“Saya membawa Karim dan saudara-saudaranya ke tempat penampungan bawah tanah. Karim telah tinggal di tempat penampungan selama delapan hari bersama saudara-saudaranya. Banyak warga berada di tempat penampungan bawah tanah ini. Tidak ada yang keluar karena serangannya belum dihentikan,” ayah bayi itu, Ebu Muhammad, kepada Anadolu Agency, Rabu (28/2/2018).

Dia mengatakan tidak ada makanan, cahaya, listrik dan panas di tempat penampungan dimana anak-anak tinggal dan pesawat terus-menerus melayang-layang di atas.

MUI Desak Polisi Segera Ungkap Pihak di Balik Penyerangan Ulama

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia mendesak kepolisian untuk segera mengungkap pihak di balik penyerangan terhadap ulama oleh orang diduga gila akhir-akhir ini.

“Ketua Pertimbangan Ulama MUI mengatakan ini adalah skenario sistemik memang dibuat oleh satu pihak dan secara sistematis dan Sistemik artinya mengenai semua agama,” kata Wakil Sekjen MUI KH Tengku Zulkarnain kepada Jurnalislam.com, Rabu (28/2/2018) di Tawangmangu, Jawa Tengah.

MUI, kata KH Tengku juga meminta polisi agar dalam tugasnya jangan terkesan berleha-leha. Kasus ini, menurut KH Tengku merupakan kasus serius yang membahayakan keselamatan nyawa.

“Kami Majelis Ulama Indonesia memesankan kepada pihak yang berwenang terutama Kepolisian Republik Indonesia jangan berleha-leha jangan bersantai-santai akan kasus ini, ini masalah serius menyangkut keselamatan Ulama dan Tokoh-tokoh Agama,” tegasnya.

MUI pun mengimbau kepada masyarakat bila terjadi kasus serupa, dapat membantu pihak kepolisian dengan mencatat dan mendata baik-baik para pelaku yang dicurigai akan menyerang ulama.

“Kita tangkap baik-baik, kita rekam sebagai barang bukti, kita catat namanya. Alamatnya semua dengan jelas sebelumnya harus jelas kita foto dulu, dimana kejadiannya baru kita serahkan ke polisi. Jadi kita punya data, polisi punya data,” pungkasnya.

 

Masih Beraktivitas Pasca Ditutup, LUIS Sambangi PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Banyaknya Laporan warga Nguter terkait adanya aktivitas kembali PT RUM pasca ditutup sementara pada Sabtu, (24/2/2018) lalu, membuat Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mendatangi perusahaan rayon yang bertempat di Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo itu pada Selasa, (27/2/2018).

Rombongan LUIS diterima Kepala HRD PT RUM Haryo yang didampingi Candra, selaku ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup yang langsung melakukan peninjauan di tempat produksi bersama-sama.

Dalam peninjauan itu, Endro menjelaskan, bahwa pihaknya menemukan beberapa tangki berisi bahan untuk membersihkan alat pabrik dan bahan untuk produksi yang sebelumnya dikhwatairkan warga kedatangan bahan itu akan membuat PT RUM kembali beroperasi lagi.

“Ada 9 tangki adalah sebagian untuk pembersih alat pabrik dan sebagian bahan produksi, yang pernah dipesan sebelumnya, 9 tangki berisi Soda Kostik dan Asam Sulfat,” katanya kepada Jurnalislam.com Rabu, (28/2/2018).

Bupati Tak Segera Tandatangani SK Pencabutan Izin, Unjuk Rasa di Depan PT RUM Ricuh

“Pengiriman 9 tangki itu, memancing reaksi warga tanpa sepengetahuan kepala HRD, pak Haryo,” imbuhnya. Meski ada bahan yang datang, Endro memastikan bahwa mesin produksi sudah berhenti walaupun limbah cair dalam penampungan masih mengeluarkan bau menyengat jika tiupan angin kencang.

Selain itu, disebutkan beberapa karyawan masih trauma, dan tidak masuk kerja sehingga berdampak pada lambatnya proses pembersihan alat pabrik, sisa produksi sebelumnya.

Untuk itu, agar tidak timbul kecurigaan dari masyarakat terdampak, pihaknya mendesak PT RUM untuk menjelaskan kedatangan beberapa tangki tersebut kepada warga dan pihak terkait.

“Terkait aktivitas PT RUM sebaiknya pihak PT RUM mengkomunikasikan ke warga, pemerintah dan ormas sehingga masyarakat paham dan tidak berspekulasi,” tandasnya.

Selain itu, LUIS juga meminta PT RUM untuk segera mengurangi hingga menghilangkan limbah bau yang masih terasa paska penghentian produksi

AS Tuduh Rusia dan Rezim Assad ingin Gagalkan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat menuduh Rusia dan rezim Suriah melanggar gencatan senjata Ghouta Timur pada sebuah pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Gencatan senjata 30 hari tersebut, yang diabadikan dalam Resolution 2401, dipilih secara bulat oleh anggota Dewan Keamanan pada hari Sabtu (24/02/2018).

Gencatan senjata itu terjadi di balik serangan yang diluncurkan oleh pasukan Bashar al-Assad, dengan dukungan pesawat tempur Rusia, di daerah kantong sejak 18 Februari dan telah mengakibatkan kematian lebih dari 550 warga sipil, monitor perang the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan.

Berbicara pada hari Rabu (28/02/2018), perwakilan AS untuk PBB Kelley Currie mengutuk pemboman udara Suriah yang berlangsung di Ghouta Timur, sebuah daerah pedesaan di luar ibukota Damaskus yang dikuasai oposisi sejak 2013.

Neraka di Bumi itu Bernama Ghouta Timur

“Meskipun banyak pihak menyerukan gencatan senjata, serangan rezim terus berlanjut,” kata Currie. “Ratusan warga Siria telah terbunuh atau terluka sejak kami menetapkan resolusi pada hari Sabtu.”

“Serangan semacam itu menunjukkan penghinaan sepenuhnya atas Suriah dan menghina dewan ini serta Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tambahnya.

Pada hari Senin, Rusia, sekutu utama rezim Syiah Bashar al-Assad, mengatakan akan menerapkan “jeda kemanusiaan” lima jam per hari untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dan masuknya konvoi bantuan. Namun, penembakan dan serangan udara tidak berhenti dan mengakibatkan kematian sedikitnya empat orang.

Currie menggambarkan jeda kemanusiaan Rusia sebagai “sinis, tak berperasaan dan sangat menentang resolusi 2401.”

Warga di wilayah tersebut mengatakan bahwa pesawat tempur pemerintah meluncurkan beberapa serangan pada Rabu dini hari, dan menekankan bahwa serangan yang paling kuat diluncurkan di tiga kota – Douma, Misraba dan Harasta – di dekat garis depan.

“Tidak ada evakuasi apapun – baik medis, maupun kemanusiaan, tidak ada apa-apa,” seorang penduduk, yang meminta untuk tetap anonim, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Rezim telah meluncurkan permainan psikologis – itu saja. Pemboman telah berlangsung sejak semalam.”

Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid, mengatakan bahwa banyak orang masih terdampar di Ghouta Timur.

“Hari kedua dari yang disebut gencatan senjata atau jeda ini berlalu tanpa ada perkembangan besar di lapangan,” katanya, berbicara dari kota Gaziantep, Turki.

“Tidak ada konvoi bantuan yang masuk karena Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pekerja bantuan lainnya mengatakan bahwa jeda seperti ini terlalu pendek tanpa ada jaminan apakah mereka dapat kembali pulang.”

Bin Javaid juga mengatakan bahwa oposisi di Ghouta Timur, yang telah dikepung oleh pasukan rezim sejak pertengahan 2013, tidak percaya dengan PBB.

“Serangan udara lebih banyak dan tembakan lebih banyak lagi dilaporkan terjadi di Ghouta Timur dan oposisi mengatakan bahwa resolusi DK PBB hanya kata-kata belaka,” katanya.

Vassily Nebenzia, duta besar Rusia untuk PBB, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Rusia melakukan segala sesuatu untuk menjamin keefektifan jeda kemanusiaan lima jam sehari, namun menyalahkan pasukan oposisi karena menargetkan koridor yang ditujukan untuk operasi kemanusiaan dengan tembakan mortir.

Oposisi Moderat Desak HTS Keluar dari Ghouta Timur dalam 15 Hari

“Kami percaya bahwa para pemimpin oposisi memiliki pendekatan serius dan bahwa kata-kata mereka akan terwujud dengan perbuatan,” katanya.

“Kami mengerti bahwa faksi yang terkait Hayat Tahrir al Sham (HTS) tetap menjadi target yang sah untuk operasi militer dan bahwa tidak akan ada pendekatan seremonial untuk mereka,” lanjutnya, menambahkan bahwa upaya harus dilakukan untuk “menetralisir secara efektif” kehadiran cabang al-Qaeda di Ghouta Timur, Jabhat Fateh al-Sham (JFS), sebelumnya dikenal sebagai Jabhat Nusrah.

Berbicara dari kantor pusat PBB di New York, editor diplomat Al Jazeera James Bays mengatakan beberapa faksi oposisi sedang mencari gencatan senjata.

Oposisi Moderat Desak HTS Keluar dari Ghouta Timur dalam 15 Hari

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kelompok oposisi bersenjata dan institusi sipil di distrik Ghouta Suriah telah mengatakan kepada PBB bahwa individu-individu yang terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata tertentu akan dikeluarkan dari wilayah tersebut dalam waktu 15 hari setelah pelaksanaan gencatan senjata yang didukung oleh PBB.

Dalam sebuah surat yang dikirim ke PBB, kelompok oposisi bersenjata terbesar di Ghouta Timur termasuk Jaish al-Islam, Faylaq al-Rahman dan Ahrar al-Sham, bersama dengan beberapa institusi sipil, menyuarakan dukungan untuk Resolusi 2401 Dewan Keamanan PBB.

Diadopsi dengan suara bulat pada hari Sabtu, resolusi tersebut menyerukan gencatan senjata 30 hari di Ghouta Timur untuk memungkinkan penyerahan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Dalam surat, yang salinannya diperoleh oleh Anadolu Agency tersebut, kelompok oposisi dan institusi sipil menyatakan komitmennya bekerja sama dengan PBB untuk mendesak individu-individu yang terkait dengan Hayat Tahrir al Sham untuk keluar dari Ghouta Timur – bersama keluarga mereka – dalam waktu 15 hari sejak pelaksanaan gencatan senjata.

Rezim Assad Tidak Mampu Rebut Sejengkal Tanah Pun dari Faksi Jihad Ghouta Timur

Surat tersebut juga membahas situasi kemanusiaan Ghouta yang mengerikan, dengan mengatakan bahwa kelompok oposisi akan memfasilitasi – dan menjamin keselamatan konvoi bantuan menuju daerah pinggiran Damaskus yang terkepung.

Surat ini juga menyerukan diakhirinya serangan udara oleh rezim Syiah Assad, Rusia dan sekutu-sekutunya di beberapa wilayah oposisi di Ghouta Timur, dan untuk mengangkut korban luka ke rumah sakit di luar negeri untuk perawatan.

Surat tersebut kemudian mengecam serangan yang terus berlanjut terhadap warga sipil, fasilitas kesehatan dan institusi pendidikan di Ghouta Timur.

Menurut Wael Ulwan, juru bicara Faylaq al-Rahman, Rusia berusaha “dengan segala cara yang mungkin” untuk mencegah pelaksanaan resolusi gencatan senjata PBB.

“Tidak ada bantuan kemanusiaan yang sampai ke wilayah tersebut, sementara intensitas serangan semakin meningkat,” katanya.

“Kami [Faylaq al-Rahman] mengecam keputusan Rusia untuk menerapkan gencatan senjata lima jam [atau” jeda kemanusiaan “] per hari, yang diambil kendati ada resolusi PBB,” tambahnya.

Beberapa Menit setelah DK PBB Keluarkan Resolusi, Jet Tempur Assad Membom Ghouta Timur

“Keputusan PBB sudah jelas,” kata Ulwan. “Rusia telah membuat banyak orang di wilayah ini mengungsi dan terus mengancam mereka dengan serangan dan pengepungan. Itu sebabnya kami mengirim surat ke PBB.”

“Kelompok bersenjata tidak bisa dipaksa melakukan apapun yang tidak mereka inginkan,” tegasnya. “Kami hanya berusaha memastikan keamanan warga sipil, yang tidak bisa meninggalkan rumah mereka karena serangan lanjutan.”

Klaim Rusia bahwa kelompok oposisi menargetkan warga sipil – dan mencegah mereka menggunakan koridor evakuasi – adalah “dusta belaka”, menurut Ulwan.

Mengabaikan fakta bahwa Rusia melanjutkan serangannya ke pemukiman meskipun juga mengumumkan “jeda kemanusiaan” lima jam sehari, Ulwan mengatakan: “Penduduk di wilayah ini tidak mempercayai rezim [Assad]. Mereka tidak ingin meninggalkan daerah mereka.”

Resolusi 2401 PBB ditujukan terutama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan dan medis ke Ghouta Timur, yang selama lima tahun terakhir tersiksa di bawah blockade, pengepungan yang melumpuhkan yang dipaksakan oleh rezim Syiah Nushairiyah Assad.

Publik Menanti Pengungkapan Kasus Penganiayaan Ulama oleh Orang Gila

LAMONGAN (Jurnalislam.com) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya meminta aparat segera mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada kasus dugaan penganiayaan ulama oleh orang diduga gila baru-baru ini.

Ia juga meminta masyarakat agar bijak memahami keadaan, mana sebab mana akibat. Begitu pula harus bijak menggunakan sosial media untuk menyampaikan infromasi, gagasan, ide, pendapat atau interpertasi terhadap realitas.

“Maka publik menanti penanganan yang proporsional serta transparan dari pihak aparat keamanan agar publik tidak diombang ambingkan dengan ketidakpastian,” kata Harits Abu Ulya kepada Jurnalislam.com baru-baru ini.

Sebab, jika dibiarkan, kata Harits, masyarakat akan menduga-duga dan bisa jadi membuat interpretasi sendiri terhadap kasus penyerangan ulama ini.

“Karena membiarkan isu ini berkembang liar justru berpotensi lahirkan ketidakpercayaan publik terhadap rezim saat ini,” pungkasnya.

Orang Gila Serang Ulama, Pengamat : Negara Harus Segera Selesaikan Kasus Ini

LAMONGAN (Jurnalislam.com) – Maraknya dugaan kasus penganiayaan dan orang diduga gila kepada ulama atau tokoh agama membuat banyak pihak bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya meminta masyarakat agar bijak memahami keadaan khususnya dalam menggunaan media sosial. Menurutnya, bisa jadi pada kasus ini ada hal yang memang benar terjadi, ada juga hal yang boleh jadi tidak benar alias hoaks.

“Dan keduanya menyebar diruang publik nyaris tanpa kendali.Di satu sisi; intensitas kejadian yang tergolong sering dan di satu sisi penanganan oleh pihak aparat keamanan yang dianggap belum proporsional. Ini menjadi faktor lahirnya banyak spekulasi atas isu dan peristiwa tersebut,” kata Harits Abu Ulya kepada Jurnalislam.com baru-baru ini.

Tantangan ini, kata pengamat bidang keamanan nasional ini, harus segera dituntaskan oleh negara. Negara, menurutnya harus bisa menjelaskan ke public apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Tapi yang lebih urgen, negara dengan unsur intelijennya plus perangkat keamanannya perlu membuktikan bisa mengurai dan menyelesaikan problem keamanan dan ketertiban yang sedang terjadi,” pungkasnya.

Dukung JITU, KH Athian Ali : Sampaikan Kebenaran Banyak Sekali Rintangannya!

BANDUNG (Jurnalislam.com)—Ketua Forum Ulama dan Umat Indonesia (FUUI) KH Atlhian Ali, Lc MA memberikan dukungan kepada organisasi profesi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) terkait pembajakan website, akun dan fitnah yang dilakukan pihak tak bertanggungjawab kepada JITU.

“Saya kira sama intinya bersabarlah untuk kita mencapaoi ridha Allah itu banyak perjuangan dan banyak pengorbanan,” katanya di Bandung, Selasa (27/2/2018) kepada Jurnalislam.com. Ia meminta JITU agar tak gentar dan terus menyuarakan kebenaran.

baca juga : Ini Pernyataan JITU atas Fitnah hingga Pembajakan Website

“Hadirnya JITU ini akan menjadi bahan hantaman orang-orang yang sangat benci terhadap Islam. Betapa untuk berada di jalan yang benar menyampaikan kebenaran itu banyak sekali rintangannya,” tambah Ulama kharismatik asal Bandung ini.

Karenanya, ia berpesan kepada JITU agar terus membersamai umat dengan berita-berita yang benar dan berpihak kepada Islam dan kaum muslimin.

“Saya dan mungkin para ulama lain dimintalah pendapat dan pesannya juga. Jadi terus berjuang, terus suarakan kebenaran, terus hadapi kebathilan supaya dia hilang dari kehidupan ini dan yang terakhir istiqamah terus di jalan Allah,”pungkas KH Athian Ali.

 

 

KH Athian Ali Ikut Tanggapi Fitnah dan Pembajakan Website Jurnalis Muslim

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Organisasi profesi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) mendapat fitnah dari pihak tidak bertanggungjawab yang mencuri akun twitter tokoh Muhammadiyah Mustafa Nahrawardaya . Selain itu, website jitu.or.id dan nomor Ketua JITU Periode 2015-2018 Agus Abdullah sempat dibajak.

Terhadap kejadian ini, Ulama kharismatik asal Bandung KH Athian Ali memberi dukungan kepada JITU atas fitnah yang menimpanya.

Baca juga : Ini Pernyataan JITU atas Fitnah dan Pembajakan Website

“Kepada JITU agar meminta pendapat dan pesan para Ulama untuk mendukung eksistensi JITU. Dan kita berharap mudah-mudahan JITU bisa bersabar, bisa tetap istiqamah untuk menjadi jurnal yang membawa berita tentang Islam dan umat Islam, dan untuk kepentingan agama,” kata KH Athian Ali kepada Jurnalslam.com, Selasa (27/2/2018) di Majalaya, Jabar.

Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) ini juga menyakini, kejadian ini membuka tabir dan bukti bahwa ada pihak yang mungkin merasa tidak senang kepada apa yang sedang dilakukan oleh JITU.

“Kita sudah lama prihatin di negeri ini media itu betul-betul tidak mewakili umat Islam, tidak mewakili perjuangan Islam. Hadirnya JITU ini akan menjadi bahan hantaman orang-orang yang sangat benci terhadap Islam, terhadap perkembangan islam,” kata KH Athian.

Kasus ini, katanya, harus membuat para jurnalis muslim semakin terpacu untuk terus bergerak memberitakan kebenaran, malah jangan menjadi takut.

“Jadi terus berjuang, terus suarakan kebenaran, terus hadapi kebathilan supaya dia hilang dari kehidupan ini dan yang terakhir istiqamah terus di jalan Allah,”pungkasnya.