Bisnis Properti di Jabar Masih Lesu

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Bisnis perumahan di Jabar saat ini pertumbuhannya masih melambat. Menurut Ketua Real Estat Indonesia (REI) Jabar Joko Suranto, pada kuartal pertama 2018, kinerja sektor perumahan di Jabar tercatat melambat yakni dari target Rp 13 triliun baru tercapai sekitar Rp 9 triliun.

Bahkan, menurut Joko, pihaknya mencatat terjadi anomali pada penjualan rumah bersubsidi (40 persen) dibawah hunian komersial (60 persen). Padahal biasanya, realisasi hunian komersial selalu di bawah rumah bersubsidi.

“REI meminta pemerintah tidak membuat kebijakan perumahan yang membingungkan pengusaha atau masyarakat yang mengakibatkan perlambatan sektor properti,” ujar Joko kepada wartawan di Bandung, usai acara Diskusi yang digelar REI Jabar, Kamis (19/7/2018).

Menurut Joko, melambatnya penjualan rumah di awal tahun juga tak lepas dari perubahan ketentuan yang tidak tersosialisasikan. Misalnya kewajiban mendaftar di Kementerian PUPR terhadap pengembangan yang menggunakan KPR. REI, sebenarnya mendukung ada perubahan ke arah lebih baik.

“Tapi jangan seketika dan mesti di sosialisasikan dulu. Karena bisnis tidak bisa langsung on off. Harus ada penyesuaian,” katanya.

Joko berharap, ke depan sektor properti di Jabar bisa kembali tumbuh. Ia berharap ada perbaikan daya beli masyarakat. Selain itu, hal yang berkaitan high cost ekonomi juga harus dipangkas. Agar ada kebijakan yang berpihak ke masyarakat.

Sementara menurut Kepala Kantor Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar Sarwono, kebijakan DP 0 persen untuk rumah pertama cukup bagus. Karena akan mendorong kepemilikan rumah bagi masyarakat.

Saat ini, kata dia, rumah paling banyak mendapat pendanaan perbankan adalah tipe 22 dan 70. Paling besar permintaannya ada di daerah Karawang. Sementara perbankan yang paling banyak menyalurkan KPR adalah BTN sebesar Rp 50 triliun dari total penyaluran KPR Rp 91 triliun.

“Kami berharap bank lain bisa meningkatkan kinerja KPR, tetapi tetap harus hati-hati. Karena kalau tidak didukung manajemen risiko yang baik akan berbahaya,” katanya.

 

Makin Terpuruk, Rupiah Meluncur ke 14.420 Per Dollar AS

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lagi-lagi rupiah makin terpuruk. Dipengaruhi faktor eksternal, mata Uang Garuda tak mampu menahan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (19/7/2018).

Kurs rupiah antarbank yang tercatat di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melemah ke Rp 14.418 per dollar AS. Sementara kemarin, pasangan dollar/rupiah sudah bertengger di 14.406 lansir Kontan.co.id.

Di pasar spot, rupiah merosot ke Rp 14.420 per dollar AS. Ini merupakan level terlemah rupiah sejak Juli 2015.

Dollar AS hari stabil di level yang cukup kuat. Dollar Index di pasar spot tercatat di level 95,05, berbanding kemarin 95,08. The Greenback makin bertenaga setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell kemarin mengumumkan masih berencana menaikkan bunga AS secara bertahap.

Rupiah juga masih bakal terdepresiasi, tertular kurs yuan, akibat isu perang dagang antara AS dan China. “Naiknya imbal hasi US treasury pasca pernyataan Powell kemungkinan turut mendorong pelemahan rupiah lebih lanjut,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail dalam riset hari ini.

Dia memprediksi, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.400 -Rp 14.470 per dollar AS pada perdagangan hari ini.

Indef Kritisi Pemerintah Soal Standar Garis Kemiskinan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik(BPS) melaporkan bila garis kemiskinan di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 3,63% dari sebelumnya Rp. 387.160 per kapita di bulan September 2017 menjadi Rp. 401.220 per kapita pada bulan Maret 2018.

Data tersebut menunjukkan bila masyarakat Indonesia yang memiliki pendapatan di atas batas garis kemiskinan per Maret 2018, membuat mereka tidak tergolong sebagai orang miskin.

Kenaikan angka garis kemiskinan ini, sebut BPS disebabkan oleh pengaruh harga dan perubahan pada komposisi komoditas yang dikonsumsi.

Standar BPS dalam menilai garis kemiskinan ini yang dikritisi oleh Pengamat Ekonomi Indef, Enny Sri Hartati.

“Pertanyannya, ukuran BPS tersebut apakah cukup untuk memenuhi 2000 kalori per hari jika harga telur saja Rp.30.000/kg dan harga beras Rp. 12.000/kg. Tidak usah pakai indikator internasional yang US$ 2, pakai yang 2000 kalori/hari bagaimana?” terangnya saat ditemui usai diskusi publik di Jakarta, pada Rabu (18/7/2018).

Lebih lanjut, Enny juga menyoroti angka konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu indikator dalam efektivitas program pengentasan kemiskinan.

“Kalau jumlah orang miskin tidak bertambah mestinya daya beli masyarakat meningkat. Tapi pertumbuhan konsumsi rumah tangga kita justru menurun,” kata Enny.

Untuk diketahui, berdasarkan rilis BPS, konsumsi rumah tangga sepanjang kuartal I 2018 tercatat tumbuh sebesar 4,95 persen(yoy). Angka tersebut naik tipis dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2017 yang sebesar 4,94 persen.

Sementara, data pertumbuhan komponen itu sepanjang 2017 adalah 4,94 persen (kuartal I 2017), 4,95 persen (kuartal II 2017), 4,93 persen (kuartal III 2017), dan 4,97 persen (kuartal IV 2017).

Angka tersebut memang cenderung stagnan, padahal konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto sebesar 56,8 dari total perekonomian negara.

Hal lain yang Enny kemukakan adalah besarnya alokasi dana yang digelontorkan oleh pemerintah belum signifikan mengentaskan kemiskinan di masyarakat.

Sebagai contoh di tahun 2017, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp. 228,2 trilyun dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27,77 juta orang.

Capaian tersebut memang meningkat dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di tahun 2016 yang sekitar 28 juta orang. Tetapi menurut Enny ada beberapa catatan.

“Dana yang dianggarkan di atas Rp. 100 trilyun dan hanya mampu mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 1 juta, menurut saya very costly. Bandingkan dengan lembaga filantropis yang dananya hanya puluhan milyar tetapi dana bergulirnya sudah ribuan,” kata dia.

sumber: gatra.com

 

Tokoh Islam Jadi Cawapres Disebut Strategi Jokowi Karena Jauh dari Umat

SOLO (Jurnalislam.com) – Aktifis Muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya ikut berkomentar atas isu munculnya nama ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kyai Ma’ruf Amin yang disebut bakal jadi Cawapres Presiden Jokowi.

Menurut Mustofa, Kyai Ma’ruf Amin akan digunakan untuk meraih simpati suara umat Islam.

“Ada saatnya umat Islam itu di Bully sebagai umat Islam yang bermasalah tapi ada kalanya dipuji karena dibutuhkan sebagai pemecah masalah. Maka saat ini kemungkinan diusulkan nama itu sebagai pemecah masalah, karena sedang dibutuhkan oleh calon presiden tertentu, yang sedang butuh suara umat Islam,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Baitul Makmur, Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

“Maka ketika pak Ma’ruf Amin dianggap sebagai representasi umat Islam, karena ketua MUI dianggap orang dan pihak yang pas sebagai Cawapres, kenapa, karena mungkin calon Presiden tersebut sedang bermasalah dengan umat Islam,” imbuhnya.

Menurut Mustofa, presiden Jokowi ingin meniru keberhasilan pasangan Ganjar-Yasin di Jawa Tengah, namun Mustofa tidak yakin keberhasilan di Jawa Tengah bisa ditiru di Jakarta.

“Dalam rangka ‘Menaklukan dan menggalang suara umat Islam’ dan itu sukses di Jawa Tengah meskipun suaranya juga tidak terlalu besar, hanya ada perbedaan berapa persen dengan pak Sudirman Said, oleh karena itu belum tentu pola di Jawa Tengah ini bisa ditiru di Jakarta,” ujarnya.

“Karena bagaimanapun yang disebut ketua MUI itu tidak rekapabilitas keahlian tertentu untuk jadi Cawapres yang diperlukan bangsa ini bukan doa, bukan ngaji dan hanya pintar baca Al-Quran tapi juga punya keahlian,” tandas Mustofa.

Mustofa Nahra : Ma’ruf Amin Bukan Sosok Tepat Dampingi Jokowi

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya menilai Kyai Ma’ruf Amin bukan pilihan tepat untuk jadi cawapres Jokowi. Sebab, kata Mustofa, Kyai Ma’ruf Amin bukan sosok yang mengerti akan dunia politik di Indonesia.

“Sekarang kalau calon presidennya tidak mampu bekerja ditambah cawapres yang tidak mampu juga dan tidak punya keahlian memenej negara, bagaimana jadinya bangsa ini ketika menjadi dua-duanya ini, oleh karena itu harus ada paduan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

Selain itu, Mustofa menyebut Presiden Jokowi bukanlah sosok pemimpin yang mampu untuk mengurus sebuah negara. Untuk itu seharusnya presiden Jokowi memilih cawapres yang lebih bisa mengurus sebuah negara.

“Kalau capresnya tidak mampu, cawapresnya harus mampu. Kalau capresnya mampu, cawapresnya boleh. Kalau dia mau memilih ulama, ganteng, kaya, boleh. Tapi salah satu harus jadi leader penguasa, dia memiliki keahlian skill yang memang cocok untuk jadi calon pemimpin negara,” ujarnya.

Jika Jokowi memilih pasangan cawapres yang sembarangan, kata Mustofa, maka negara Indonesia akan berantakan. Sebab, kepemimpinan Jokowi selama ini dianggap tidak berhasil dan banyak memberikan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

“Kelemahannya adalah capres yang mau menggaet pak Ma’ruf Amin kemungkinan kita sudah tau jejak rekamnya,” paparnya.

“Sedangkan namanya sudah tau jejak rekamnya, kalau itu jelek berarti kita meragukannya. Siapun diangkat karena jejaknya meragukan, maka saya juga meragukan untuk jadi pemimpin yang baik,” tandasnya.

Pedagang di Pasar Bantah Harga Telur Naik Karena Piala Dunia

SOLO (Jurnalislam.com) – Melambungnya harga telur ayam masih dirasakan para pedagang di Pasar Tradisional Bekonang, Sukoharjo. Dalam beberapa hari terakhir, harga telur ayam mengalami kenaikan cukup tinggi hingga 24.000- 29.000 rupiah per kilogram yang biasanya dikisaran harga 16.000 sampai 18.000 rupiah per kilogram.

Ema Bumbu, salah satu pedagang yang berjualan beberapa tahun di pasar Bekonang tersebut juga tidak setuju dengan pernyataan Menteri Perdagangan, Enggartriasto Lukita yang menyebut sebab naik telur akibat adanya piala dunia. Menurut Ema, sulitnya ketersediaan pakanlah yang membuat harga telur ayam tak terbendung.

“Barang disini sudah 24.500 per kilogram dari sana (peternak-red), tapi ada juga yang 24.300 per kilogram tergantung agennya itu, karena dari sananya (peternak-red) pakannya sulit, jadi harga telurnya naik,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com, Rabu (18/7/2018).

Lebih lanjut Ema mengaku harga telur saat ini termasuk yang paling tinggi yang dirasakannya, bahkan, ia menyebut harga telur sudah imbang dengan harga ayam.

“Kalau harga disini harga 25.000 per kilogram itu sudah mahal mas, karena biasanya rata rata telur itu kan cuman 16.000-18.000 per kilogram itu kan dah sesuai kantong, tapi kalau harga segitui sudah mahal banget, jadi harga telur dan ayam itu sudah imbang,” ungkap Ema.

Sementara itu, Sarmini salah satu ibu rumah tangga di Sukoharjo memilih menganti kebutuhan telur dengan bahan pangan lainnya, sebab, tingginya harga telur membuatnya kebingungan untuk membagi uang belanjanya.

“Kita nggak pakai telur dulu mas, diganti dengan tempe atau Ikan Pindang karena harganya lebih murah, jadi harus pinter-pinter ngatur uang belanja agar nggak jebol kantongnya,” ungkapnya

Setelah Daraa Kini Nawa Dibombardir Rezim Syiah Assad

DARAA (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim pemerintah Syiah Suriah telah melepaskan sebuah operasi pemboman intens di kota Nawa yang berpenduduk padat di baratdaya, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai lebih dari 100 orang, menurut para aktivis dan penyelamat.

Serangan udara, yang diluncurkan pada hari Selasa (17/7/2018) dan dilanjutkan pada hari Rabu (18/7/2018), menghantam rumah sakit satu-satunya yang dikuasai oposisi, menjadikannya tidak bisa lagi berfungsi dan menyebabkan puluhan korban dilaporkan.

Pemboman itu adalah bagian dari serangan militer rezim Nushairiyah – yang dimulai pada 19 Juni – pada wilayah-wilayah oposisi yang tersisa di wilayah barat daya, yang meliputi provinsi Deraa dan Quneitra yang mengitari perbatasan dengan Yordania dan perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

Nawa, rumah bagi sedikitnya 100.000 orang, adalah pusat kota terbesar yang masih dikendalikan oleh oposisi di provinsi Deraa.

Serangan Rabu difokuskan pada kota-kota dan desa-desa di sekitar Nawa, membuat jalan masuk dan keluar dari kota itu menjadi jalur mematikan, menurut seorang aktivis lokal yang memakai nama Selma Mohammed.

Khaled Solh, kepala Pertahanan Sipil Suriah lokal yang dikenal sebagai White Helmets, sebuah kelompok penyelamat yang beroperasi di wilayah Suriah yang dikuasai oposisi, mengatakan mereka mendokumentasikan pembunuhan 14 orang.

Hanya satu ambulan yang bisa sampai ke kota dan warga sipil bergantung pada mobil mereka sendiri untuk membawa sedikitnya 150 orang yang terluka, tambah Solh. Dia mengatakan salah satu ahli ortopedi terakhir di kota itu tewas dalam serangan udara.

Serangan meningkat setelah gagalnya pembicaraan untuk menyerahkan kota pada hari Selasa, memicu gelombang perpindahan baru.

“Kami telah menyaksikan operasi serangan udara intensif sepanjang hari – tim kami telah menghitung sedikitnya 100 serangan udara yang merupakan pembalasan dari pasukan rezim pemerintah Suriah,” kata reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari Dataran Tinggi Golan, Rabu.

“Ini semua bagian dari operasi rezim Syiah Suriah untuk mendapatkan daerah ini kembali dari para oposisi,” tambahnya.

Ketika pemboman semakin intensif, terlihat dari seberang perbatasan di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel menunjukkan gumpalan besar asap membumbung di atas daerah Nawa.

Menurut Dekker, pengeboman itu “sangat dekat dengan tenda-tenda pengungsi Suriah” yang berkumpul di sepanjang perbatasan di kamp-kamp sementara setelah pertempuran baru di provinsi barat daya.

Serangan rezim Azzad telah membuat lebih dari 230.000 orang mengungsi, banyak dari mereka berlarian di tempat terbuka.

Konvoi 15 Bus Bawa Pejuang Anti Rezim Assad Tinggalkan Daraa

Jordan mengatakan tidak akan menerima pengungsi baru dan tentara Israel mengusir puluhan pengunjuk rasa yang mendekati perbatasan pada hari Selasa demi mencari perlindungan.

“Orang-orang ini sekarang terjebak di antara perbatasan yang tertutup dan di antara semakin meningkatnya serangan rezim pemerintah Suriah,” kata Dekker.

“Mereka masih berada di wilayah yang dikuasai oposisi. Setelah hidup di bawah oposisi selama sekitar empat tahun, mereka takut apa yang akan terjadi pada mereka jika ada semacam pembalasan dari pasukan rezim pemerintah Suriah,” jelas Dekker.

Dalam waktu kurang dari sebulan, pasukan rezim Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia telah menguasai sebagian provinsi Deraa barat daya, termasuk ibu kota provinsi dengan nama yang sama.

Kota Deraa adalah tempat awalnya oposisi melawan rezim Assad dan dikuasai lebih dari tujuh tahun yang lalu.

Bersamaan dengan serangan militer, rezim Assad telah melakukan kesepakatan “rekonsiliasi”, yang pada dasarnya merupakan suatu kapitulasi yang dinegosiasikan di sejumlah desa yang telah berada di tangan oposisi selama bertahun-tahun, untuk memulihkan kontrol rezim pemerintah di sana.

Kecam Pembentukan Negara Zionis, Mantan PM Israel: Ini Pemerintah Nasionalis Gelap

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak mengecam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menggambarkannya sebagai ancaman terhadap pembentukan negara Zionis di Israel.

Dalam sebuah komentar yang dikeluarkan di Tel Aviv pada hari Selasa (17/7/2018), Barak menggambarkan pemerintahan Israel saat ini sebagai “pemerintah nasionalis gelap”, menurut surat kabar Israel Yediot Ahronot pada hari Rabu (18/7/2018), World Bulletin melaporkan.

“Satu-satunya hasil yang tak terelakkan dari tujuan ini adalah pembusukan Israel menjadi sebuah bangsa dengan mayoritas Muslim [dengan] kekerasan internal yang terus-menerus dan perselisihan,” katanya.

Rencana Rahasia AS dan Israel Terkait Yerusalem Bocor, Begini Informasinya

Barak berpendapat penolakan Netanyahu untuk menerima solusi dua negara akan menggagalkan kemungkinan memisahkan diri dari Palestina.

Pemerintah saat ini, katanya, sibuk “mengatur orang Israel yang saling bertentangan terhadap satu sama lain dan menabur benih kebencian di pihak warga asing, populasi lemah, dan minoritas”.

Barak, 75 tahun, menjabat sebagai perdana menteri Israel dari 1999 hingga 2001.

Pada bulan Desember, Barak, dalam New York Times, mengatakan pemerintah Netanyahu membahayakan seluruh proyek Zionis karena semakin mendekat ke aneksasi Tepi Barat, “menghalangi pemisahan permanen dari Palestina.”

Pembicaraan perdamaian yang disponsori AS antara Palestina dan Israel runtuh pada tahun 2014 karena penolakan terakhir untuk menghentikan pembangunan permukiman ilegal di wilayah-wilayah pendudukan.

HTS Sepakat Pertukaran Tawanan dengan Dua Kota Syiah di Utara Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com) – Koalisi faksi jihad Suriah Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) dan rezim Nushairiyah Bashar al-Assad sedang melakukan pertukaran tahanan dan warga sipil lainnya. Pusat pertukaran adalah pada penduduk Kefraya dan al-Fouah, dua kota mayoritas Syiah di provinsi utara Idlib.

HTS, yang dipimpin oleh Jabhat Fath al Sham (JFS), melaporkan ketentuan pertukaran melalui Ebaa News Agency. Menurut HTS, 1.500 tahanan yang ditahan oleh Assad dan sekutu-sekutunya sedang dibebaskan. Sebagai gantinya, milisi Syiah diperbolehkan meninggalkan kota dan penduduk diizinkan untuk mengungsi juga, lansir The Long War Journal, Rabu (18/7/2018).

Kantor Berita rezim Suriah (SANA), sebuah cabang propaganda rezim Assad, melaporkan bahwa 121 bus dan sejumlah ambulans telah memasuki kota-kota untuk merelokasi penduduk mereka. Al Masdar News, outlet media pro-rezim, menambahkan bahwa lebih dari “7000 orang, termasuk warga sipil dan milisi,” sedang dievakuasi di bawah ketentuan kesepakatan, yang “ditengahi” oleh Turki dan Iran.

Jabhah Nusrah Bebaskan Mantan Istri Abu Bakr Al Baghdadi dalam Pertukaran Tawanan dengan Lebanon

Provinsi Idlib dikuasai oleh koalisi Jaysh al-Fath, yang dipimpin juga oleh JFS dan sekutu terdekatnya, pada awal 2015. Para jihadis telah lama mencoba untuk menukarkan penduduk dan milisi Syiah di Kefraya dan al-Fouah dengan rekan-rekan mereka yang dipenjarakan atau dikepung di tempat lain di Suriah oleh rezim. Pada September 2015, misalnya, faksi-faksi jihad menyerang kota-kota sebagai tanggapan atas serangan Assad dan milisi Syiah Iran di Zabadani, sebuah kota kecil di Suriah barat daya dekat perbatasan Libanon.

Ini bukan pertama kalinya pertukaran dilakukan. Kesepakatan yang dicapai pekan ini mirip dengan pengaturan yang dinegosiasikan pada April 2017, ketika HTS dan rezim Syiah Suriah menukar penduduk dari dua kota untuk tahanan yang ditahan di Suriah selatan. HTS menginformasikan pertukaran tersebut di halaman media sosialnya, sama seperti ketika menyiarkan pertukaran hari ini.

Saluran Telegram HTS mengumumkan pada 21 April 2017 bahwa “tahap pertama” pertukaran tahanan dengan “musuh Iran” telah selesai. Ebaa News Agency, media HTS, melaporkan bahwa 15 “bus yang mengangkut 500 mujahidin dari al-Zabadani, Serghaya, dan gunung timur Damaskus” telah “tiba dengan keluarga mereka,” sementara “46 bus membawa penduduk dan milisi Syiah Kefraya dan al-Foua pergi ke wilayah kontrol rezim Assad. ”Ebaa menambahkan bahwa kesepakatan pertukaran melibatkan“ lebih dari 1.500 tahanan ”yang ditahan oleh“ rezim kriminal Syiah ”Bashar al Assad, dan“ pemberian makanan dan bantuan medis di daerah-daerah yang terkepung ”dekat Damaskus .

Yang menarik, jumlah tahanan yang sama adalah bagian dari pertukaran hari ini.

Mirip dengan April lalu, Kantor Berita HTS Ebaa telah memberikan pembaruan pada pertukaran terbaru selama 24 jam terakhir.

Inilah 3 Ancaman Besar Bagi Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh

DHAKA (Jurnalislam.com) – Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM) mengatakan pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh menghadapi tiga ancaman besar, yaitu cuaca ekstrim, kekurangan dana dan ketidakpastian tentang masa depan mereka.

Kepala Badan Migrasi PBB William Lacy Swing mengatakan pada hari Selasa (17/7/2018) bahwa penting bagi dunia untuk tetap fokus pada krisis, lansir Anadolu Agency, Rabu (18/7/2018).

“Kegagalan untuk melakukan itu akan berakibat tragis bagi hampir satu juta pengungsi Rohingya yang berlindung di Bangladesh,” kata direktur jenderal Badan Migrasi PBB dalam sebuah pernyataan.

Wartawan Reuters yang Ditangkap Saat Selidiki Pembantaian di Rohingya, Diadili Hari ini

Dia membuat pernyataan setelah meninjau kemajuan IOM dan mitra mereka dalam mengelola pemukiman pengungsi di Cox’s Bazar, diskusi dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina di ibukota Dhaka, dan pertemuan sebelumnya dengan Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi.

“Rohingya di Cox’s Bazar berada dalam bahaya akibat cuaca, menjadi tunawisma, dan tanpa masa depan,” katanya.

“Dunia harus bersatu untuk mendukung mereka.

“Semua ibu – pengungsi dan penduduk setempat – harus memiliki akses ke fasilitas yang aman dan higienis untuk melahirkan dan sangat mengkhawatirkan bahwa kekurangan dana sekarang mengancam layanan kehamilan yang sangat penting yang akan membuat perbedaan bagi kehidupan wanita dan bayi dari semua latar belakang.

“Dunia harus mengakui dukungan yang sangat dermawan dari pemerintah Bangladesh dan warga lokal sebagai tuan rumah di sini di Cox’s Bazar terhadap para pengungsi yang tiba dalam kondisi putus asa tanpa memiliki apa pun.”

Pengungsi Muslim Rohingya Bersedia Kembali ke Myanmar Jika…

Sejak 25 Agustus 2017, sekitar 750.000 Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri ke perbatasan Bangladesh setelah pasukan Myanmar memulai tindakan brutal terhadap kaum Muslim minoritas, menurut Amnesty International.

Sedikitnya 9.400 orang Rohingya tewas di negara bagian Rakhine Myanmar sejak 25 Agustus hingga 24 September 2017, menurut Doctors Without Borders.

Dalam laporan yang diterbitkan Desember lalu, kelompok kemanusiaan global mengatakan bahwa kematian 71,7 persen atau 6.700 orang Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Mereka termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, mutilasi – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, pembakaran dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan Budha Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa disebut sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.