Dan…Para Korban Gempa pun Berkurban

“Ya memang kami sedang sulit, tapi mungkin masih ada rezeki yang Allah berikan dari panen tanaman kami, atau ada yang memang sudah menabung ingin berkurban, maka mereka tetap berkurban,” kata ustaz Sinardi.

JURNALISLAM.COM – Mata Yono berkaca-kaca, ketika membayangkan rumahnya yang kini sudah rata dengan tanah. Gempa besar bertubi-tubi sudah membuat seluruh warga dusun Jorong, Sembalun Bumbung Lombok Timur, mengungsi ke tenda sederhana beratap terpal.

Tak ada warga yang berani masuk ke dalam bangunan. “Hampir semua rumah rata dengan tanah, termasuk rumah saya,” kenang Yono.

Tak pernah terpikirkan dalam benaknya, kalau Lombok akan diguncang gempa dahsyat yang meluluhlantakkan kampung halamannya.

“Hanya Allah saja yang kami miliki sekarang. Yang bisa memberi kami keteguhan menghadapi semua ini,” kata Yono.

Ternyata, di balik kesulitan yang melanda Yono, di balik rumahnya yang hancur, di balik barang-barangnya yang rusak, di balik trauma akan gempa, ia masih menyisakan sedikit ruang untuk terus berbagi.

Yono, salah satu petani yang ikut membagikan bawang hasil buminya, untuk para pengungsi di Lombok Utara. Dan kini, ketika Idul Adha tiba, lagi-lagi Yono ingin berbagi.

“Saya ingin berkurban!” katanya.

Yono (kiri) , ust Sinardi ( tengah peci putih), Jusman (sekdes) kanan sedang bermusyawarah di Masjid Darurat Ramah Gempa dusun Jorong. Foto : RizkiLesus/INA

Yono tak sendiri. Ada puluhan warga Sembalun Bumbung yang rumahnya rata dengan tanah ingin berkurban. Inisiasi para pengungsi untuk berkurban ini dirampunkan di Masjid Darurat Ramah Gempa dusun Jorong.

Ustaz Sinardi, salah seorang pengungsi yang juga pengurus masjid –sebelumnya yang sudah rusak – mengatakan bahwa di tengah kesulitan yang menghampiri para pengungsi, mereka berkomitmen untuk tetap berkurban tahun ini.

“Warga akan tetap berkurban tahun ini,” kata ustaz Sunardi di hadapan masyarakat ketika membahas Idul Adha di pengungsian. Apa bisa terbayangkan, seorang pengungsi, tak memiliki rumah, hidup dalam kesulitan, masih ingin berkurban?

“Alhamdulillah, dikumpul-kumpul, ada lima sapi kami dapati,” kata ustaz Sinardi.

Baca juga : Catatan Jurnalis: Belajar Berbagi Dari Pengungsi Lombok

Dia, dan juga warga Jorong masih teringat, ketika awal-awal membangun masjid darurat bersama para relawan Sinergi Foundation, Jumat pertama pasca gempa pertama (6.3 SR) melanda.

Para ustaz di masjid itu mengingatkan tentang salah satu ciri orang bertakwa (QS :Ali Imrah 134 ) yang tetap berbagi, di saat lapang dan sempit. Maka, kita tahu bagaimana gerakan dari masjid beratap terpal ini.

Berpuluh-puluh ton sayuran, hasil panen warga dikirimkan untuk para pengungsi di Lombok Utara. Berduyun-duyun warga datang ke masjid, membawa apapun yang mereka miliki.

“Ya memang kami sedang sulit, tapi mungkin masih ada rezeki yang Allah berikan dari panen tanaman kami, atau ada yang memang sudah menabung ingin berkurban, maka mereka tetap berkurban,” kata ustaz Sinardi.

Saat lapang, kata Sinardi, warga bisa saja mudah berkurban. Tahun lalu saja, kata Sinardi, ada lebih dari 11 sapi untuk dusun Jorong saja untuk berkurban. “Tahun ini, sementara kami hanya bisa mengumpulkan patungan 5 sapi,” tambahnya.

“Dan tahun ini, saat kondisi kita sulit, ini ujian untuk kami sebenarnya, apakah tetap berkurban atau tidak,” lirih Sunardi. Dan mereka pun, memilih untuk berkurban, Subhanallah!

Nama-nama para Mudhahhy. Foto : RizkiLesus/INA

Bisa saja, kata Sunardi, uang yang tersisa digunakan untuk –misal- membangun rumah, membeli kebutuhan sendiri, dan lainnya.

“Bisa saja sebenarnya seperti itu. Tapi sungguh kami rugi, rugi betul jika kondisi langka seperti itu, kami malah tidak berkurban,” tegasnya.

Sinardi mengatakan, bahwa berjuta hikmah di balik perintah kurban ini. Sebut saja, ketika Nabi Ibrahim yang diminta menyembelih Ismail, anak sematawayangnya yang telah lama dinanti.

Begitu berat Ibrahim untuk menyembelih puteranya sendiri. Namun, karena itu perintah Allah, ia tetap lakukan. Di di ujung kisahnya, kita semua tahu bahwa Allah memuliakan mereka berdua dan menjadikan teladan.

Dan kini, teladan Ibrahim- Ismail abad ini mungkin saja hinggap di warga dusun Jorong. Di tengah rasa trauma, di tengah kesulitan, di tengah tak memiliki harta benda apapun, mereka tetap berkurban!

Lantas bagaimana dengan kita?

Reporter & foto : Rizki Lesus/ INA News Agency

Belum Jadi Bencana Nasional, Mantan Wakil Ketua DPR Kritik Sikap Lamban Pemerintah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua DPR, Priyo Budi Santoso mempertanyakan sikap pemerintah yang tak kunjung menjadikan musibah gempa di Lombok sebagai bencana nasional.

“Bencana di Lombok terjadi beruntun dan masif. Harusnya pemerintah segera menjadikannya sebagai bencana nasional,” katanya saat ditemui setelah acara Momentum Taubat Nasional di AQL Islamic Center Tebet, Senin (20/8/2018).

Ia berharap pemerintah segera menjadikan gempa Lombok sebagai bencana nasional. “Undang-undangnya saya tahu, kan yang bikin zaman saya di DPR dulu,” ujarnya.

Priyo juga menyayangkan pernyataan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung yang mengatakan Indonesia akan mengalami kerugian besar apabila bencana alam di Lombok dinyatakan sebagai bencana nasional.

Baca juga: FOZ Desak Pemerintah Tetapkan Gempa NTB Sebagai Bencana Nasional

Menurut Priyo, sektor pariwisata tidak akan mengalami kerugian. Karena seluruh dunia sudah menyaksikan rangkaian gempa yang terjadi di Lombok. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadikannya sebagai bencana nasional.

“Apa perlu pemerintah menunggu sampai korban tewas bertambah dan Lombok hancur total baru mau menyatakan sebagai bencana nasional?” tegas dia.

“Padahal jika pemerintah tanggap, semua elemen bangsa akan berkumpul dan masalah Lombok akan segera selesai,” pungkasnya.

Reporter: Tommy Abdullah

Kelompok Teror Dukungan AS Semakin Berulah di Suriah

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Dukungan AS dan negara-negara Eropa terhadap kelompok teror YPG /PKK telah menyebabkan lebih banyak kematian dan kehancuran di Suriah, kepala organisasi non-pemerintah Suriah mengatakan.

“Telah tiba waktunya bagi orang Amerika dan Eropa untuk menyadari bahwa mendukung YPG, dengan agenda separatisnya saat ini, tidak mengarah pada perdamaian dan keamanan di Suriah, tetapi sebenarnya malah menyebabkan lebih banyak kematian dan kehancuran, dengan potensi efek tumpahan ke wilayah tetangga,” kata Johny Messo, presiden Dewan Aram Sedunia, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Selasa (20/8/2019).

“Di antara para korban kebijakan yang tidak bertanggung jawab tersebut adalah masyarakat suku Aram di Suriah, yang telah dan terus diancam, diintimidasi dan kadang-kadang bahkan dihilangkan (intelektual maupun fisiknya) oleh YPG,” tambah Messo.

Baca juga: Warga Tal Rifaat Desak Militer Turki Bebaskan Kotanya dari Milisi Dukungan AS, YPG

Messo mengatakan para milisi YPG/PKK telah menuntut penutupan sekolah-sekolah Aram dan Armenia di wilayah Derik dan Darbasiyah di Suriah.

“Pada dasarnya, mereka melakukan ini karena penduduk asli Aram menolak tuntutan mereka yang sedang berlangsung,” katanya.

Messo mengatakan tuntutan ini termasuk agar bahasa dan buku teks Kurdi dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan YPG/PKK juga mengharapkan orang Aram untuk meminta izin atau lisensi untuk keberlangsungan sekolah-sekolah mereka.

“Fakta bahwa orang-orang Kristen Aram dan minoritas rentan lainnya di wilayah itu tidak mengakui separatis PYD/YPG sebagai penguasa Suriah Timur Laut adalah duri bagi mereka,” katanya.

“Mengancam untuk menutup sekolah-sekolah penduduk asli Aram dari Suriah Timur Laut itu adalah tindakan yang keterlaluan, memalukan dan penuh skandal,” Messo menekankan.

Baca juga: Inilah Tentara Wanita SDF yang Meledakan Tank Turki Bersama Dirinya

Dia mengatakan Dewan Dunia Aram (the World Council of Arameans) “sangat mengutuk tindakan teror semacam itu”, dan akan melakukan apa saja untuk mencegah perkembangan semacam itu.

“Mematikan sekolah independen milik kelompok minoritas yang rentan, seperti Aram, mengekspos ideologi, agenda dan tujuan YPG yang eksklusif dan destruktif,” kata Messo.

Pekan lalu kelompok teror YPG / PKK menutup tiga sekolah Aram di beberapa bagian timur laut Suriah di bawah kendalinya dengan alasan bahwa sekolah yang ditargetkan tidak memiliki lisensi.

Messo mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, pribumi Aram Suriah sengaja ditargetkan dalam sejumlah cara oleh YPG/PKK.

Dia mengatakan para teroris telah mengancam, mengintimidasi, menindas dan bahkan membunuh orang-orang Aram di wilayah tersebut.

Baca juga: Erdogan: Kami Akan Basmi Milisi YPG Dukungan AS

“Memaksa penutupan lembaga-lembaga intelektual independen, yang telah diakui oleh negara, lolos dengan segala cara dalam menghadapi hukum internasional dan mengungkapkan pembicaraan ganda tentang YPG yang berkaitan dengan hak asasi manusia, kebebasan sipil dan terutama yang – disebut kawasan bebas, demokratis dan pluralistik yang terus mereka promosikan,” Messo menambahkan.

Menurut perhitungan peta yang dibuat oleh Anadolu Agency, rezim SyiahBashar al-Assad mengontrol sekitar 50 persen lebih wilayah Suriah, sementara kelompok teror YPG/PKK mengontrol 27,7 persen dari negara tersebut.

YPG/PKK adalah cabang PKK Suriah – yang diakui sebagai kelompok teror oleh UE, dan Turki.

Dalam lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK telah menewaskan sekitar 40.000 orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak.

Pegadaian Syariah Bantu Korban Gempa di Lombok Utara

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Pegadaian Syariah Cabang Pasar Ginte Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyerahkan bantuan untuk masyarakat korban gempa di Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, NTB, Ahad (19/8/2018).

Bantuan diserahkan langsung oleh pimpinan cabang, Nur Rochman secara simbolis kepada perwakilan masyarakat.

“Bantuan ini adalah bantuan yang berasal dari Dana Kebajikan Umat (DKU), artinya dana dari customer atau nasabah Pegadaian syariah Cabang Pasar Ginte dompu yang daerah operasionalnya meliputi Bima dompu dan sumbawa besar, ” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (19/8/2018).

Nur Rochman menjelaskan, bantuan tahap awal tersebut terdiri dari sembako dan kebutuhan mendesak lainnya seperti pakaian dan selimut.

“Tentunya berdasarkan permintaan dari para pengungsi,” ujar dia.

Selain memberikan bantuan untuk korban bencana alam, DKU Pegadaian Syariah juga juga intens memberikan bantuan untuk kegiatan sosial lainnya seperti bantuan untuk renovasi masjid/mushalla, jalan umum, maupun kegiatan dakwah.

“Semoga bantuan yang diberikan ini bisa bermanfaat untuk para korban bencana gempa ini, dan semoga mereka diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapinya,” pungkas Nur Rochman.

Reporter: Sirath

Arab Saudi: 2,3 Juta Kaum Muslim Dunia Ibadah Haji Tahun Ini

MEKAH (Jurnalislam.com) – Lebih dari dua juta jamaah Haji masuk ke dataran Muzdalifah pada Senin malam setelah menuruni Gunung Arafat.

Menurut lembaga statistik resmi Arab Saudi, lebih dari 2,3 juta Muslim mengambil bagian dalam ibadah Haji tahun ini, Anadolu Agency, Selasa (20/8/2018).

Banyak personil lalu lintas dan keamanan dikerahkan di sepanjang jalan menuju Muzdalifah untuk memfasilitasi kerumunan peziarah.

Baca juga: Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1439 Hijriyah pada 22 Agustus 2018

Setelah menghabiskan malam di Muzdalifah, para jamaah akan melanjutkan ke kota tenda Mina, di mana mereka akan mengambil bagian dalam ritual simbolis lempar Jumrah, “rajam iblis.”

Ibadah ini mengikuti Nabi Ibrahim yang melempari iblis di tiga tempat saat iblis mencoba menghalangi Nabi Ibrahim agar tidak menaati perintah Allah Swt untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail.

Setelah ritual rajam pada hari Selasa, para jamaah akan mengorbankan hewan untuk menandai dimulainya liburan Idul Adha selama empat hari.

Baca juga: Etika Berqurban Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Ibadah haji adalah “pilar” kelima dari rukun Islam – sebuah ritual yang harus dilakukan oleh semua Muslim, jika mampu secara finansial, sedikitnya sekali dalam hidup mereka.

Selama sebulan terakhir, ratusan ribu Muslim telah berkumpul di Arab Saudi dari seluruh dunia untuk melakukan Haji tahun ini.

Menlu Turki: AS Rusak Aliansi NATO

TURKI (Jurnalislam.com) – Dalam sebuah opini di USA Today, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pada hari Senin (20/8/2018) bahwa upaya AS untuk merusak ekonomi Turki melukai aliansi NATO.

Artikel itu menggarisbawahi komitmen Turki terhadap aliansi, baik dalam kebijakan dan dukungan militer, dan menekankan bahwa cara untuk memecahkan ketegangan antara Ankara dan Washington adalah melalui diplomasi, bukan tariff, lansir Anadolu Agency.

“Presiden [Donald] Trump benar ketika dia meminta anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara untuk meningkatkan pembelanjaan pertahanan mereka. Tetapi sanksi baru Amerika yang menargetkan Turki – dan ancaman yang akan datang – mengasingkan salah satu sekutu NATO yang berada di depan kurva,” tulis Cavusoglu.

Menteri luar negeri menyoroti komitmen negara itu terhadap pembelanjaan pertahanan NATO, keduanya berkomitmen pada pedoman mereka untuk membelanjakan 2 persen dari produk domestik (GDP) negara itu pada pertahanan, dan sudah melampaui pedoman NATO menghabiskan 20 persen untuk peralatan militer.

Turki juga menjadi tuan rumah kekuatan militer terbesar kedua aliansi itu.

“Sanksi ekonomi yang ditimbulkan oleh pemerintahan Trump yang dipaksakan pada Turki, bagaimanapun, siap untuk mengganggu atmosfer kerja sama – sementara ancaman global menuntut bahwa kita memperkuat, bukan melemahkan, hubungan yang mengikat kita bersama,” katanya.

Baca juga: Trump Serang Turki dengan Tarif Impor, Erdogan: Ekonomi Kami Kuat

Di Suriah, Cavusoglu mengutip pernyataan oleh pejabat AS yang mengatakan bahwa Turki “menderita lebih banyak korban dari terorisme dalam beberapa tahun terakhir daripada sekutu lainnya,” dan menyoroti pentingnya pangkalan udara strategis Incirlik yang digunakan oleh pasukan koalisi pimpinan AS untuk melawan kelompok IS (Islamic State) di Suriah.

“Selama dua tahun terakhir, kami telah menangkap ratusan tersangka anggota IS, dan membantu mencegah kelompok itu menyebar ke ibukota Barat. Dalam menghadapi ancaman ini, Turki telah menjadi ujung tombak,” tambah Cavusoglu.

Dia juga mengingatkan bahwa Turki menyambut jutaan pengungsi Suriah, menjadi salah satu dari beberapa negara yang melakukannya.

Tarif yang disetujui oleh AS atas Turki tidak hanya akan merugikan Turki, tetapi juga merugikan AS dan Eropa, menurut Cavusoglu.

Dia mengulang peringatan Kamar Dagang AS, yang memberi tahu Presiden Donald Trump bahwa tindakannya “membahayakan ekonomi AS dan merusak kepemimpinan global Amerika.”

“Eskalasi nekat ini perlu dihentikan,” kata Cavusoglu, seraya menambahkan bahwa kedua negara menyepakati berbagai masalah meskipun mereka mungkin memiliki pandangan berbeda terhadap beberapa masalah yang signifikan.

“Demi semua orang, kita harus mengatasi ketidaksetujuan kita dengan diplomasi, bukannya dengan ancaman dan provokasi, dan dengan komitmen terhadap fakta dan perspektif,” tambah Cavusoglu.

Baca juga: Turki dan Perancis Kerja sama Hadapi AS

Turki dan AS saat ini mengalami hubungan yang berbatu setelah Washington memberlakukan sanksi terhadap dua menteri Turki karena tidak melepaskan pendeta Amerika, Andrew Brunson, yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.

Pada 10 Agustus, Presiden Donald Trump menggenjot serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif AS atas impor aluminium dan baja Turki. Rabu lalu, sebagai pembalasan, Turki meningkatkan tarif pada beberapa produk asal AS, termasuk alkohol dan produk tembakau serta mobil.

FOZ Desak Pemerintah Tetapkan Gempa NTB Sebagai Bencana Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat telah menewasjab lebih dari 476 jiwa, 498.799 warga mengungsi. Forum Zakat (FOZ) mempertanyakan sikap lamban pemerintah yang tak kunjung menetapkan gempa bumi NTB sebagai bencana nasional.

“Kami sangat menyayangkan sikap pemerintah pusat yang belum juga menaikkan status gempa Lombok menjadi bencana nasional”, ujar Bambang Suherman, Ketua Umum FOZ di Kantor Inisiatif Zakat, Condet, Jaktim, Senin (20/08/2018).

Menurut Bambang, dengan dampak kerusakan yang signifikan di tiga kabupaten dan masih berlanjutnya gempa susulan hingga Minggu (19/8) malam mencapai 7 SR seharusnya pemerintah pusat segera turun tangan dan menetapkan gempa bumi NTB sebagai bencana nasional.

“Kami mendesak pemerintah pusat untuk segera menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional”, pungkasnya.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ahad (19/8) merilis getaran gempa 7.0 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) malam ini, terasa hingga ke Jawa Timur. Namun guncangan gempa di Jawa Timur masuk kategori gempa ringan.

Sebelumnya, Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera juga menyampaikan permintaan senada kepada pemerintah.

Reporter: Gio

Begini Kondisi Pemukiman di Lombok Timur Pasca Gempa (Video)

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – Gempa bertubi-tubi yang melanda wilayah Lombok dan sekitarnya telah meluluhlantakkan wilayah tersebut. Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu daerah paling parah yang terdampak gempa.

Pagi ini, Senin (20/8/2018) Reporter INA News Agency mengabadikan gambaran kondisi tersebut dalam sebuah video singkat. Berikut videonya,

PKS Desak Pemerintah Tetapkan Gempa Lombok Sebagai Bencana Nasional

Sebelumnya gempa yang melanda Lombok pada awal Agustus lalu, menyebabkan lebih dari 460 orang meninggal dan menyebabkan lebih dari 350.000 orang mengungsi.

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lombok dan sekitarnya kembali diguncang gempa beruntun pada Ahad (19/8/2018) malam dan Senin (20/8/2018) pagi. BMKG menyebutkan gempa berkekuatan 7,0 SR dan 5 SR di Lombok NTB merupakan aktivitas baru, berbeda dari gempa pada 5 Agustus 2018 lalu.

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mendesak Presiden Jokowi menetapkan gempa beruntun di Lombok sebagai Bencana Nasional.

“Pak Jokowi harus merespon cepat Gempa beruntun hebat di Lombok agar segera dinaikan situasinya menjadi Bencana Nasional,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (20/8/2019).

Baca juga: Pengungsi Lombok Harap Setiap Masjid Gelar Shalat Taubat

Sebelumnya gempa yang melanda Lombok pada awal Agustus lalu, menyebabkan lebih dari 460 orang meninggal dan menyebabkan lebih dari 350.000 orang mengungsi.

“Saya sudah minta status gempa Lombok dinaikkan ke level Bencana Nasional ketika berbicara di Forum Indonesian Lawyers Club (ILC) pada hari selasa 14 Agustus 2018 lalu, dan tanggal 19-20 ini terjadi gempa hebat beruntun lagi, saya harap jangan sampai pemerintah lambat menyatakan status bencana ini lagi,” ujarnya

Ia mengingatkan gempa hebat beruntun di Lombok sudah pantas ditetapkan sebagai bencana nasional mengacu pada Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Pasal 7 menyebutkan wewenang pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, di antaranya penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah.

Penetapan status dan tingkat bencana nasional dan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c memuat indikator yang meliputi jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana, dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.

Legislator FPKS DPR RI itu juga mengajak seluruh elemen bersatu untuk membantu Lombok. “Di tengah meriahnya ASEAN GAMES 2018 di Jakarta-Palembang, Mari kita bersatu untuk mendukung lombok,” pungkasnya.

Reporter: Gio

Catatan Jurnalis: Belajar Berbagi Dari Pengungsi Lombok

“Kita di sini tidak senang dan butuh bantuan. Tapi kita masih bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup,” imbuh Taufik, warga Sembalun Lumbung

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – “Allahu Akbar, Laa ilaaha ilallah … ” Azan isya berkumandang syahdu. Panggilan-Nya memecah haru. Rindu.

Tampak para pengungsi berduyun-duyun menuju masjid darurat yang terbuat dari bambu dan terpal. Tak ada yang berdiam diri di dalam tenda. Semua melangkah menuju panggilan yang sama. Panggilan untuk menegakkan shalat, panggilan menuju kemenangan.

Tak ada status sosial yang membedakan. Semua berbaur dalam kebersamaan. Khusyuk dalam penghambaan. Tersungkur dalam sujud pengharapan. Menangis dalam jerit doa permohonan. Semua berharap, agar bencana yang menimpa mampu mengokohkan iman. Bukan menambah kekufuran.

Bakda Isya, malam tampak pekat. Tak ada nyala listrik. Yang ada hanya sinar bintang yang berkedipan. Di pengungsian, beberapa semeton (pemuda) berusaha membuat penerangan dari api unggun. Mereka duduk di atas lampak (tempat duduk), sembari meletakan telapak tangan di atas api. Indah.

Baca juga : Dari Masjid, Lombok Bangkit

Kopi hitam Rinjani, singkong, dan ubi bakar, menjadi menu klasik saat merindu. Ya, mereka menyebut kebersamaannya itu dengan sebutan ‘merindu’. Sebuah tradisi yang merekatkan ukhuwah.

Malam itu warga bercerita ihwal kronologi gempa yang terjadi. Mengurai kembali masa-masa mengerikan sekaligus menyedihkan. Menggambarkan suasana, dan meniru suara-suara jeritan saat gempa berkekuatan 6,4 SR terjadi pada Minggu pagi (29/7/2018).

Tak hanya sekedar berkisah. Warga pun menyampaikan beribu hikmah.

Taufik, warga Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, menyampaikan hikmah yang ia dapat usai gempa.

“Saya sedih kalau mengingatnya. Rumah hasil bekerja selama sepuluh tahun, roboh dalam hitungan detik. Tapi saya tetap bersyukur dan ambil hikmahnya. Mungkin kita banyak dosa, sehingga Allah peringatkan melalui bencana,” ungkap ia, Minggu (12/9/2018) kepada INA News Agency.

Obrolan panjang malam itu berakhir dengan mutiara hikmah yang saya dapatkan dari keteguhan hati korban menghadapi ujian.

“Kita di sini tidak senang, Kang. Kita di sini butuh bantuan. Tapi kita masih bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Walau kita korban, tapi masih banyak yang keadaannya di bawah kita,” jelas Taufik.

Sedekah di saat susah

Tak ada satu pun rumah yang bisa ditempati warga Desa Sembalun Bumbung. Rumah mereka hancur. Bahkan sebagian besarnya rata dengan tanah. Namun mereka masih memberi dalam kesempitan.

“Kami ingin berbagi rezeki. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” ungkap Oza, warga Sembalun yang juga relawan Sinergi Foundation.

Pagi itu, belasan mobil pick up bermuatan sayuran melaju menuju Lombok Utara. Lokasi terdampak parah gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter. Pemuda Sembalun tampak berada di antara dus-dus sayuran.

Jarak yang ditempuh selama 3-4 jam itu sebenarnya sangat melelahkan. Tapi mereka tampak bahagia saat sampai di lokasi pengungsian.

Baca juga: Mengharukan, Pengungsi Lombok Timur Sumbangkan 45 Ton Sayuran ke Lombok Utara

Mereka turunkan satu persatu dus besar berisikan tomat, stroberi, dan makanan hasil panen lainnya. Pemandangan yang haru, saat pengungsi Desa Gangga, Lombok Utara, menerima sumbangan dari sesama pengungsi di Lombok Timur.

Sebelumnya, saat gempa pertama, pada 29 Juli 2018 berdampak di Lombok Timur, orang-orang dari Lombok Utara datang untuk memberikan bantuan. Kini, kebaikan itu berbalas. Ya, kebaikan akan selalu berbalas kebaikan.

Mereka pengungsi dan mereka berbagi. Mereka pengungsi dan mereka saling peduli. Itulah yang terus kami renungi. Hingga kami sadari, bahwa kami tengah belajar berbagi dari pengungsi.

Reporter: Hilman Indrawan | INA News Agency