Dalam Beberapa Bulan Terakhir AS telah Jatuhkan 3.000 Bom di Afghanistan

AFGHANISTAN  (Jurnalislam.com) – Dalam strategi yang bertujuan memaksa pejuang Taliban untuk menerima pembicaraan damai, serangan udara AS di Afghanistan melonjak tajam tahun ini dengan jumlah bom yang dijatuhkan oleh angkatan udara AS hampir dua kali lipat dalam enam bulan pertama menjadi sekitar 3.000 bom, lansir Aljazeera, Selasa (25/9/2018).

Data UNAMA menunjukkan lompatan 52 persen dalam jumlah warga sipil yang tewas atau terluka dalam serangan udara pada semester pertama tahun ini.

Baca juga: 

PBB mengatakan 149 warga sipil tewas dan 204 terluka selama periode itu, dengan korban perempuan dan anak-anak berjumlah lebih dari separuh dari 353 korban.

Karena angka-angka itu dilaporkan pada bulan Juli, PBB mengatakan telah mencatat peningkatan jumlah korban sipil akibat serangan udara.

Angkatan udara Afganistan bertanggung jawab atas 52 persen dari korban, UNAMA mengatakan, sementara “pasukan militer internasional” menyumbang 45 persen.

AS, yang telah berperang di Afghanistan selama hampir 17 tahun tidak kelar-kelar, adalah satu-satunya kekuatan internasional yang dikenal melakukan serangan udara di negara itu.

Israel Tetap Lanjutkan Operasi Militer di Suriah

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kabinet Militer Israel, yang dikenal sebagai Komite Menteri Urusan Keamanan Nasional, telah menginstruksikan tentara Israel untuk terus melakukan operasi di Suriah, lansir World Bulletin, Selasa (25/0/2018).

Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan tiga jam, kabinet mengatakan: “Kami menyerukan kepada pasukan pertahanan Israel untuk terus bekerja melawan upaya Iran menyebarkan militer di Suriah dan untuk melanjutkan koordinasi keamanan dengan Rusia.”

Dalam upaya menyalahkan Suriah atas jatuhnya pesawat jet Rusia baru-baru ini di atas wilayah udara Suriah, ia menambahkan: “Pesawat Rusia itu jatuh sebagai akibat dari tindakan yang tidak bertanggung jawab oleh tentara Suriah.”

Baca juga: 

Pertemuan kabinet, yang dipimpin oleh Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, juga membahas implikasi dari keputusan Rusia baru-baru ini untuk menyediakan sistem pertahanan udara S-300 kepada Suriah.

Rusia mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah memutuskan untuk memberikan sistem rudal anti-pesawat S-300 ke Suriah dalam waktu dua pekan.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sistem itu akan “secara signifikan” memperkuat kemampuan tempur rezim Syiah Assad.

Langkah itu muncul setelah Rusia menyalahkan Israel atas jatuhnya pesawat militernya satu pekan yang lalu.

S-300 memiliki kemampuan untuk mencapai target sejauh 250 kilometer dan menghancurkan beberapa target secara bersamaan, kata Shoigu.

Sambil menyalahkan Israel karena menembak pesawat Rusia, Shoigu mengatakan insiden itu telah memaksa Moskow untuk mengambil tindakan pencegahan keamanan.

Saat menjawab pertanyaan apakah langkah itu akan mempengaruhi hubungan dengan Israel, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow hanya melindungi pasukan militernya sendiri dan tidak menargetkan negara ketiga.

Baca juga: 

Pekan lalu, F-16 Israel memasuki wilayah udara Suriah untuk menyerang target militer Suriah di provinsi Latakia barat laut.

Ketika sistem pertahanan udara S-200 buatan Rusia menanggapi pelanggaran ruang udara, pesawat militer Il-20 Rusia diserang rudal, hingga menghancurkan pesawat dan menewaskan seluruh 15 prajurit di pesawat.

Moskow menuduh Israel menggunakan pesawat Rusia sebagai sarana untuk menghindari pertahanan udara Suriah.

Militer kedua negara dilaporkan mengoordinasikan kegiatan mereka di Suriah melalui hotline darurat yang dibentuk untuk mencegah bentrokan yang tidak diinginkan.

Begini Bantahan Saudi atas Tuduhan Iran Terkait Serangan Parade Militer

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi membantah mendukung sekelompok orang bersenjata yang menewaskan 29 orang di parade militer di barat daya Iran, hampir setengah dari mereka Garda Revolusi, kantor berita Saudi melaporkan pada hari Selasa (25/9/2018).

Pemimpin Tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada hari Senin bahwa para penyerang dibayar oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dan berjanji bahwa Republik Iran akan “menghukum berat” orang-orang di belakang serangan itu.

“Arab Saudi menolak dan mengutuk tuduhan palsu yang dilontarkan para pejabat Iran bahwa Arab Saudi mendukung peristiwa yang terjadi di Iran Sabtu lalu,” SPA mengutip pernyataan kementerian luar negeri.

Baca juga: 

“Kebijakan Arab Saudi jelas mengenai tidak adanya campur tangan dalam urusan domestik negara lain. Rezim Iran, sebaliknya, mencampuri urusan tetangganya dan merupakan sponsor utama terorisme di kawasan dan dunia.”

Wakil kepala Pengawal Revolusi Iran juga menuduh Amerika Serikat dan Israel terlibat dan mengatakan mereka harus bersiap menghadapi respon yang menghancurkan.

Kedua negara yang bersaing, Arab Saudi dan Iran, keduanya berkekuatan super-minyak, melancarkan perang untuk berebut pengaruh di Timur Tengah, saling mendukung pihak yang berseberangan dalam konflik di Suriah, Yaman, Irak dan Lebanon.

Pada hari Sabtu, sekelompok orang bersenjata menembaki stan pengamat di Ahvaz di mana para pejabat berkumpul untuk menyaksikan pawai tahunan menandai dimulainya perang Iran dengan Irak tahun 1980-1988.

Iran, sementara itu, menangkap 22 orang yang diduga terkait dengan serangan mematikan pekan lalu, kata kementerian intelijen.

Baca juga: 

“Kelima anggota skuad tempur yang berafiliasi dengan kelompok separatis jihad yang didukung oleh negara-negara reaksioner Arab telah diidentifikasi,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa, lansir Aljazeera.

“Tempat persembunyian para teroris ditemukan dan 22 orang yang terlibat [dalam serangan itu] ditangkap,” katanya, menambahkan bahwa bahan peledak disita bersama dengan peralatan militer dan komunikasi.

“Sponsor asing dan pendukung aksi teroris ini juga telah diidentifikasi. Informasi lebih lanjut akan diberikan pada waktunya,” kata pernyataan itu.

Baca juga: 

Sekelompok orang bersenjata yang mengenakan seragam militer melepaskan tembakan ke arah tentara, pengamat, dan pejabat pemerintah, yang berkumpul untuk menyaksikan pawai pada hari Sabtu.

Para pejabat Iran dengan cepat menuding kelompok separatis Arab dan pendukung internasionalnya. Mereka mengatakan bahwa empat pria bersenjata telah tewas.

Menurut Badan Berita Mahasiswa Iran (the Iranian Students’ News Agency-ISNA), kelompok bersenjata yang disebut al-Ahvaziya mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, sementara kelompok Islamic State (IS) juga mengatakan bahwa mereka berada di balik serangan itu.

Presiden Hassan Rouhani bersumpah untuk memberikan “tanggapan yang menghancurkan”, sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menghubungkan serangan itu dengan AS dan “sekutunya di kawasan”.

Baca juga: 

Ahvaz adalah ibu kota provinsi Khuzestan, yang memiliki cadangan minyak terbesar di negara itu. Dengan kedekatannya dengan Irak dan kehadiran minoritas Arab yang besar, daerah tersebut telah mengalami kekerasan etnis di masa lalu

Khuzestan adalah medan perang utama melawan Irak tahun 1980 dan mengalami kerusuhan pada tahun 2005 dan 2011.

Provinsi ini juga menjadi tempat protes baru-baru ini atas kekeringan nasional dan masalah ekonomi.

Muhammadiyah Serukan Parpol Tarik Caleg Bermasalah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM Busyro Muqoddas meminta partai politik (Parpol) untuk menarik calon legeslatif (caleg) bermasalah yang akan mengikuti Pemilu Serentak 2019, khususnya caleg mantan koruptor.

Hal ini disampaikan Busyro saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertema ‘Putusan MA Terhadap Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) di Mata Publik’ di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakpus, Selasa (25/09/2018).

Mantan Ketua KPK ini menuturkan, meski putusan Mahkamah Agung (MA) telah membatalkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 20 tahun 2018 yang membatasi mantan napi korupsi untuk maju. Sebaiknya, kata dia, parpol tetap menjunjung tinggi pakta integritas Pemilu 2019.

“Mestinya partai-partai politik dapat didorong untuk menyatakan bahwa pakta integritas yang sudah dikemukakan di KPU saat itu bisa direalisasikan. Salah satunya dengan pernyataan tegas menarik calon-calon yang bermasalah sesuai dengan putusan MA,” kata Busyro.

Sedikitnya ada 38 caleg mantan koruptor yang akan maju pada Pileg 2019 mendatang. Menurut Busyro, dengan ditariknya Caleg eks koruptor tersebut diharapkan bisa menciptakan Pemilu yang bersih dan membuat citra DPR ke depannya lebih baik. “Mengingat citra DPR saat ini belum dapat lepas dari praktik korup,” tambahnya.

Seperti diketahui, Kamis (13/8) lalu, MA telah mengabulkan gugatan uji materi tentang larangan mantan narapidana kasus korupsi menjadi caleg. MA menegaskan jika aturan yang ada dalam PKPU Nomor 20 Tahun 2018 dan PKPU Nomor 26 Tahun 2018 itu bertentangan dengan UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017.

Muhammadiyah Kritisi Sistem Demokrasi Indonesia Saat Ini

JAKARTA – Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM Busyro Muqoddas mengkritik praktik sistem demokrasi Indonesia saat ini.

Menurutnya, demokrasi Indonesia saat ini berada pada titik nadir, yaitu demokrasi formil tapi praktiknya formil plus transaksional.

“Indonesia saat ini berada dalam fase demokrasi transaksional sehingga menghasilkan sistem yang korup,” katanya saat diwawancarai Jurnalislam.com di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Selasa (25/09/2018).

Sistem yang korup menurutnya, infrastruktur termasuk PLN menjadi korban korupsi. Itu kan bahaya.

“APBN digasak, infrastruktur digasak dan semuanya digasak,” tambahnya.

Akibatnya, jelas mantan Ketua KPK  ini, parpol semakin kehilangan kepekaan moral dan sosial dengan membiarkan calon legislatif dari mantan koruptor.

Selain itu, Busyro juga meminta masyarakat terutama mahasiswa untuk bangkit dari kesenyapan.

“Situasi kampus negeri ini negeri atau swasta senyap. Terlalu lama senyap,” pungkasnya.

UAS Disambut Hangat Masyarakat Papua Barat

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Ustaz Abdul Somad (UAS) mencatat sejarah baru pengumpulan masa ceramah agama di Kota Sorong, Papua Barat. Sebab, hanya UAS saja yakni baru ada seorang pendakwah, yakni di tahun 2018,  yang mampu memandu sebuah ada acara ceramah agama dengan dihadiri massa teramai di wilayah yang menjadi ibu kota provinsi  Papua Barat itu.

“UAS memang benar-benar fonema dakwah di zaman milenilal. Kedatangannya di Sorong memukau umat Islam dan masyarakat. Memang Sorong sering didatangi para penceramah kondang tapi kali ini yang terakbar. Dalam tausiyahnya yang digelar semalam, diperkirakan dihadiri oleh 10.000 jama’ah yang berdatangan dari berbagai kabupaten sekitarnya seperti Sorong Selatan, Fakfak, Kaimana dan Manokwari, ” kata Anggota MUI Papua Barat dan juga dosen Unipa (Universitas Negeri Papua) Manokwari, DR Mulyadi Djaya, di Sorong, Senin (24/9), lansir Republika.co.id.

Mulyadi mengatakan, masa memadati lapangan depan Armada III TNI AL untuk mendengarkan tausiyah UAS. Bahkan, untuk mendapatkan tempat agar bisa dekat ke panggung, semenjak sore beberapa kelompok masyarakat sudah berada di arena itu. Mereka datang dengan membawa karena tikar takut tidak mendapat tempat. Padahal tabligh akbar dimulai pada jam 20.00 malam.

Puluhan ribu jamaah Muslim kota Sorong antusias mendengarkan tausyiah UAS, Senin malam (23/9).

“Sejak sore petugas keamanan dari TNI AL, Polres, dan panitia yang dibantu Kokam dan Banser sudah bekerja keras menata massa yang membludak. Mereka mengatur untuk menertibkan kegiatan akbar tersebut,” ujarnya.

Ketua Panitia H Kisman Rahayaan menyampaikan bahwa umat Islam di Sorong berharap dan rindu mendapatkan pencerahan langsung dari UAS. Mereka sangat menginginkan agar ustaz asal Riau ini dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta umat Islam.

DR Mulyadi Djaya (kanan, Ketua PWM Muhammadiyah Papua Barat). Ustaz Abdul Somad (tengah), Ahmad Nausrau (Ketua MUI Papua Barat).

Abdul Somad dalam ceramahnya sangat kagum dengan kerukunan kehidupan beragama, antarberbagai suku bangsa di Sorong. Hal tersebut sudah terjadi sejak dulu ketika pelopor zending asal Jerman, Ottow-Geissler, memulai gerakannya menyebarkan agama Kristen di Papua. Dia  datang ke Papua dikawal oleh orang Islam dari Maluku menuju Papua (mendapat izin langsung dari Sultan Tidore).

Alhasil Geissler pun selamat dan dapat menyebarkan agama Kristen di Papua.Tempat singgah atau tujuan dakwah Geissler ada di Manokwari, yakni di Pulau Mansinam.

”Itu semua menunjukkan bahwa toleransi antar agama sudah berlangsung lama dan terus dipertahankan hingga kini dan selamanya. Demikian juga ukhuwa Islamiah yang terdiri dari berbagai daerah terus dilakukan dalam rangka menjaga persatuan dalam payung NKRI yaitu nilai-nilai Pancasila,” ujar Mulyadi menirukan dan memberi catatan tambahan atas beberapa bagian tausyiah UAS.

Hingga selesai acara tabligh ummat muslim bubar dengan tertib. Setiap orang membersihkan lapangan sehingga tidak meninggalkan sampah.  Dan tadi malam jalanan sekitar arena tabligh Kota Sorong itu mengalami kemacetan total. Ini  karena dipadati jama’ah yang berjalan kaki pulang dan menuju lokasi parkir yang berjarak 500 meter dari arena tausyiah.

Jamaah Masjid Agung Al Akbar Kota Sorong membludak ketika mendengarkan tausyiah UAS pada usai shalat Subuh, (23/9).

Selanjutnya, seusai sholat subuh pada Senin pagi ini, UAS kembali mengisi tausiah di Masjid Agung Al Akbar, Kota Sorong. Sama saja dengan acara yang sebelumnya digelar di lapangan depan Armada III TNI AL, masjid agung kota Sorong pun dipenuhi jama’ah yang mendengar langsung ceramah UAS yang selama ini hanya menonton di youtube.

Pada jam 09.00 WIT hari ini UAS bertolak ke Palu Sulteng untuk mengisi tabligh yang sama.

UAS Disambut Hangat Masyarakat Papua Barat

Ustaz Abdul Somad (UAS) mencatat sejarah baru pengumpulan masa ceramah agama di Kota Sorong, Papua Barat. Sebab, hanya UAS saja yakni baru ada seorang pendakwah, yakni di tahun 2018,  yang mampu memandu sebuah ada acara ceramah agama dengan dihadiri massa teramai di wilayah yang menjadi ibu kota provinsi  Papua Barat itu.

“UAS memang benar-benar fonema dakwah di zaman milenilal. Kedatangannya di Sorong memukau umat Islam dan masyarakat. Memang Sorong sering didatangi para penceramah kondang tapi kali ini yang terakbar. Dalam tausiyahnya yang digelar semalam, diperkirakan dihadiri oleh 10.000 jama’ah yang berdatangan dari berbagai kabupaten sekitarnya seperti Sorong Selatan, Fakfak, Kaimana dan Manokwari, ” kata Anggota MUI Papua Barat dan juga dosen Unipa (Universitas Negeri Papua) Manokwari, DR Mulyadi Djaya, di Sorong, Senin (24/9),

Mulyadi mengatakan, masa memadati lapangan depan Armada III TNI AL untuk mendengarkan tausiyah UAS. Bahkan, untuk mendapatkan tempat agar bisa dekat ke panggung, semenjak sore beberapa kelompok masyarakat sudah berada di arena itu. Mereka datang dengan membawa karena tikar takut tidak mendapat tempat. Padahal tabligh akbar dimulai pada jam 20.00 malam.

Puluhan ribu jamaah Muslim kota Sorong antusias mendengarkan tausyiah UAS, Senin malam (23/9).

“Sejak sore petugas keamanan dari TNI AL, Polres, dan panitia yang dibantu Kokam dan Banser sudah bekerja keras menata massa yang membludak. Mereka mengatur untuk menertibkan kegiatan akbar tersebut,” ujarnya.

Ketua Panitia H Kisman Rahayaan menyampaikan bahwa umat Islam di Sorong berharap dan rindu mendapatkan pencerahan langsung dari UAS. Mereka sangat menginginkan agar ustaz asal Riau ini dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta umat Islam.

DR Mulyadi Djaya (kanan, Ketua PWM Muhammadiyah Papua Barat). Ustaz Abdul Somad (tengah), Ahmad Nausrau (Ketua MUI Papua Barat).

Abdul Somad dalam ceramahnya sangat kagum dengan kerukunan kehidupan beragama, antarberbagai suku bangsa di Sorong. Hal tersebut sudah terjadi sejak dulu ketika pelopor zending asal Jerman, Ottow-Geissler, memulai gerakannya menyebarkan agama Kristen di Papua. Dia  datang ke Papua dikawal oleh orang Islam dari Maluku menuju Papua (mendapat izin langsung dari Sultan Tidore).

Alhasil Geissler pun selamat dan dapat menyebarkan agama Kristen di Papua.Tempat singgah atau tujuan dakwah Geissler ada di Manokwari, yakni di Pulau Mansinam.

”Itu semua menunjukkan bahwa toleransi antar agama sudah berlangsung lama dan terus dipertahankan hingga kini dan selamanya. Demikian juga ukhuwa Islamiah yang terdiri dari berbagai daerah terus dilakukan dalam rangka menjaga persatuan dalam payung NKRI yaitu nilai-nilai Pancasila,” ujar Mulyadi menirukan dan memberi catatan tambahan atas beberapa bagian tausyiah UAS.

Hingga selesai acara tabligh ummat muslim bubar dengan tertib. Setiap orang membersihkan lapangan sehingga tidak meninggalkan sampah.  Dan tadi malam jalanan sekitar arena tabligh Kota Sorong itu mengalami kemacetan total. Ini  karena dipadati jama’ah yang berjalan kaki pulang dan menuju lokasi parkir yang berjarak 500 meter dari arena tausyiah.

Jamaah Masjid Agung Al Akbar Kota Sorong membludak ketika mendengarkan tausyiah UAS pada usai shalat Subuh, (23/9).

Selanjutnya, seusai sholat subuh pada Senin pagi ini, UAS kembali mengisi tausiah di Masjid Agung Al Akbar, Kota Sorong. Sama saja dengan acara yang sebelumnya digelar di lapangan depan Armada III TNI AL, masjid agung kota Sorong pun dipenuhi jama’ah yang mendengar langsung ceramah UAS yang selama ini hanya menonton di youtube.

sumber : republika

 

Pengamat : Indonesia Masih Konsumen Industri Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Indonesia masih menjadi konsumen industri halal secara umum. Dengan potensi yang besar, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkannya dengan menjadi produsen.

Pengamat ekonomi syariah Institut Pertanian Bogor, Jaenal Effendi menilai Indonesia sudah mulai bergerak ke sana. Konsep untuk menjadi produsen industri halal telah dibuka dengan pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin langsung oleh Presiden. Selain itu, baik pemerintah sebagai regulator, pelaku usaha hingga masyarakat sudah memahami besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar.

“Kita berharap dengan adanya KNKS, maka variabel-variabel ekonomi makro, dengan kekuatan pondasi ekonomi kita maka halal industri bisa tumbuh,” kata dia lansir Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Jaenal mengatakan landasan pengembangan industri halal sudah dibuka dengan sudah terbentuknya sinkronisasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fatwa-fatwa terkait ini dapat mendukung pertumbuhan industri halal.

Sosialisasi yang masif pada masyarakat juga diperlukan. Terutama, terkait kampanye bahwa industri halal adalah industri yang menjauhkan dari hal-hal buruk. Makanan halal artinya terbebas dari segala zat beracun dan menyehatkan.

“Ini dalam rangka melindungi kesehatan, keselamatan masyarakat, industri halal juga sebenarnya adalah safety industry,” kata Direktur Bisnis dan Manajemen Aset Komersial IPB ini.

Selain itu, semua pihak harus bekerja sama dan menjalankan peran masing-masing. Misalnya, untuk menjadikan satu kawasan target pariwisata halal baru, maka pemerintah pusat, daerah dan masyarakat lokal harus punya tugas masing-masing.

Perlu ada insentif untuk pemerintah daerah dan edukasi pada masyarakat agar bisa mencapai tujuan bersama. Untuk membuka satu kawasan makanan halal, maka regulator perlu memudahkan proses sertifikasi halalnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan peta besar untuk keuangan syariah diharapkan selesai pada akhir tahun. Di dalamnya termasuk upaya menjadikan Indonesia sebagai produsen industri halal.

Bawa Peti Mati, Mahasiswa Surakarta Tuntut Jokowi Mundur

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Surakarta menggelar aksi turun ke jalan di Pertigaan UMS selasa, (18/9/2018). Mereka menuntut pemerintahan Jokowi – JK untuk segera menstabilkan perekonomian negara paska melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Massa yang berjumlah sekitar 50 orang ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Mereka membawa keranda mati yang bertuliskan Rezim Jokowi dan sejumlah poster dan spanduk meminta Presiden Jokowi turun dari jabatannya akibat gagal menangani permasalahan bangsa Indonesia.

“Menuntut pemerintah menstabilkan nilai tukar rupiah, mendesak pemerintah untuk menstabilkan pangan,” kata korlap aksi Al Ghifari kepada wartawan di sela sela aksi.

Al Ghifari juga mengkritik banyaknya kebijakan pemerintah yang selama ini tidak pro rakyat, maraknya bahan pangan impor, dinilainya akan semakin membuat rakyat kecil sengsara.

“Kurangi impor dan sejahterakan industri lokal, Menolak keras kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat ,” ungkapnya.

Apabila Pemerintah tidak segera membenahi segala permasalah yang ada, kata Al Ghifari, lebih baik Jokowi segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

“Apabila pemerintah tidak mampu,kami menuntut segera mundur dari jabatannya,” tandas Al Ghifari.

Dalam aksi kali ini, pihak keamanan menurunkan sekitar 100 person anggotanya, aksi berakhir pada pukul 17. 00 Wib dan ditutup dengan shalat jenazah dan mendoakan kebaikan bagi bangsa Indonesia

Siswa SMP Muhammadiyah Kottabarat Sabet Juara Lomba Robotik Tingkat Provinsi

SOLO (jurnalislam.com)- Siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta berhasil meraih juara ketiga kategori Junior Programming dalam ajang lomba Jateng Robotic Competition 2018, Jumat (21/9/2018) di Sasana Manggala Sukowati, Kabupaten Sragen. Siswa tersebut adalah Muhammad Raffi Rosind Nugroho (Raffi) dan Abdurahman Wahid Atallah (Rahman), siswa kelas 8.

Aryanto selaku Humas SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta menjelaskan bahwa anak didiknya, Raffi dan Rahman, berhasil menjuarai lomba Robotik tingkat Jawa Tengah dengan predikat juara ketiga. Mereka berhasil mengalahkan 30 tim dengan hasil nilai poin 100 (perfect) dan kecepatan waktu 2 menit 14 detik.

“Alhamdulillah kami merasa bangga dan senang karena Mas Raffi dan Mas Rahman mampu membuktikan potensinya di lomba Robotik tingkat Jawa Tengah”, jelasnya kepada media pada Senin (24/9).

Ia menambahkan bahwa sebelumnya juga Mas Raffi dan Rahman mampu membuktikan kemampuannya pada ajang Indonesia Robotic Competition (IRO) 2018 kategori Junior High Programming di Surabaya kemarin. Mereka berhasil menduduki peringkat kesepuluh dari 30 tim yang ada. Saat itu nilai yang diperoleh 35 dengan kecepatan 1 menit 52 detik.

Lomba Jateng Robotik Competition diselenggarakan oleh IT-Smart dalam acara Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah di Sasana Manggala Sukowati Kabupaten Sragen Jawa Tengah pada 21-23. Untuk kategori Junior Programing menghasilkan juara satu, Kevin Joseph Handoyo dari SMP N 1 Tulungagung. Juara dua dari SD Harapan Bangsa, Muhammad Rhavenzo Razzan dan Davin Al Dyansah. Adapun juara tiga Muhammad Raffi Rosind Nugroho dan Abdurahman Wahid Atallah dari SMP Muhammadiyah PK Solo.

Sementara itu, saat ditemui di bangku sekolah, Raffi menceritakan bahwa robot yang dipakai saat lomba Jateng Robotik Competition adalah jenis robot NXT. Robot tersebut diprogram untuk berjalan mengikuti garis, mendorong, dan memindahkan barang. Pertama robot diprogram untuk berjalan dari star mengikuti jalur bergaris yang berbentuk huruf S, memindahkan balok, mendorong balok ke tempatnya, mengikuti garis berbentuk G, dan berjalan mengikuti jalur berbentuk huruf N.

Kesemua itu menghasilkan poin sesuai ketentuan perlombaan. Waktu tempuh yang dibutuhkannya dari star hingga finish adalah waktu 2 menit 14 detik dengan poin 100 (perfect).

Cara Raffi dan Rahman berhasil memenangkan lomba adalah mengutamakan perolehan poin dalam setiap titik sesuai ketentuan perlombaan. Setelah itu baru kecepatan waktu tempuh robot dari star hingga finish.

“Kami dalam lomba fokus pada perolehan poin lalu kecepatan robot karena yang diutamakan adalah poin. Jika poin antar lawan adalah sama maka dipilih robot yang paling cepat,” ceritanya kepada media, Senin (24/9).

Untuk bisa meraih prestasi tersebut, Raffi mengaku harus latihan selama seminggu sekali setiap hari Sabtu. Robot yang dipakai jenis robot adalah Lego Mind Storm. Lego yang dirakit menjadi robot tersebut lalu diprogram sesuai keinginan.

Robot yang pernah ia buat di antaranya Robot EV3 dan NXT. Bedanya Robot EV3 bisa mendeteksi benda, mengambil, dan memindahkan ke tempat lain. Untuk mendeteksi benda, ia menggunakan program cahaya dan warna. Kalau Robot NXT hanya bisa mendorong dan memindahkan benda.

Siswa yang ingin menjadi astronot tersebut berharap ingin terus mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang robotika. Bahkan ia ingin menciptakan robot yang bisa bermanfaat untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan manusia.
“Saya ingin terus berlatih merakit dan memprogram robot agar bisa bermanfaat saja”, tandas Raffi.

Ulama dan Politik

JAKARTA (Jurnalislam.com) –

“Darah Ulama seperti racun bagi orang yang menyentuh atau meminumnya, sebab Ulama adalah orang-orang yang dipilih Allah sebagai pewaris Nabi dan Rasul, hati-hatilah bersikap kepada Ulama jika tidak memahaminya” seru ustadz Bachtiar Nasir (UBN) pada pembuka khutbah jumat bertema “Ulama dan Politik” di masjid AQL Islamic Center siang tadi.

Ia sangat miris dengan kondisi tanah air akhir-akhir ini, persoalan ulama dan politik merambah kepada situasi yang tidak menguntungkan umat Islam, terutama dengan cacatnya maruah ulama dan kelembagaan ulama di Indonesia. Hal ini sangat merugikan umat Islam karena ulama adalah faktor penting dalam kepemimpinan umat.

UBN mengungkapkan, semua ini ada yang merekayasa, dan pastinya kelompok anti agama yang menginginkan ini terjadi. Kelompok anti agama dengan kemunafikannya melakukan upaya-upaya busuk untuk membenturkan antar umat beragama atau intra umat beragama.

Dalam situasi seperti ini, UBN dalam khutbahnya mengimbau agar umat Islam tetap konsisten berjalan diatas nilai-nilai Al-Quran dan As-Sunnah dalam menyikapi persoalan ulama dan politik, menghindari perpecahan dan fitnah terutama di sosial media yang dapat menyebabkan sikap persekusi kepada ulama.

Kemudian UBN menjelaskan pengertian ulama dalam bahasa Arab yang dikenal dengan kata ‘alim berasal dari kata ‘alima ya’lamu artinya yang mengerti tentang hukum-hukum Allah, sunnah-sunnah Rasul dan mengambil istinbath. Dalam Al-Quran, kata dia, ada kata ulama, seperti diistilahkan imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, yaitu ulama Su’ dan ulama warasatul anbiya. Ulama Su’ seperti yang dijelaskan surat Asy-Syu’aro yaitu ahlul kitab yang mengajak kemungkaran dan mencegah kebaikan.

Sedangkan ulama Warasatul Anbiya seperti dijelaskan pada QS Fathir ayat 28 yaitu hamba-hamba yang takut pada Allah hanyalah para ulama. Yang dimaksud adalah ulama-ulama yang dengan ilmunya mereka takut kepada Allah.

Akhir-akhir ini khususnya di Indonesia, sering mudahnya pemberian gelar ulama pada seseorang yang dilakukan oleh orang-orang awam, apakah itu karena tokoh yang dianggap soleh dan bersorban kemudian disebut ulama, atau pemimpin organisasi tanpa kedalaman ilmu tafsir dan bahasa Arab diberi gelar ulama. Hal ini terjadi bisa disebabkan tidak adanya lembaga akreditasi ke-ulama-an.

Kapan Seseorang Disebut Ulama?

UBN mengambil pendapat Ibnu Taimiyah, pada seseorang terkumpul ilmu dan standar keilmuan tersebut minimal mengenal hukum-hukum Allah yang tertuang pada kitab-Nya dan mampu mengambil secara cerdas untuk itu dengan rasa takut, menguasai ilmu-ilmu tentang sunnah Rasul dan diberi kemampuan untuk mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberian gelar ulama bukan dilakukan oleh orang awam, melainkan oleh orang-orang yang memiliki kesetaraan ilmu dan memiliki kepakaran ilmu dalam keagamaan.

Tentang ‘Ulama dan Politik’ pimpinan AQL Islamic Center ini menerangkan, memang ketegangan pernah terjadi pada awal-awal sejarah Nabi dan Rasul antara ulama dan penguasa. “Seperti halnya Ibrahim dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Zakariya dan Yahya yang disembelih oleh penguasa, kemudian nabi Yusuf yang dipenjarakan,” ungkapnya.

Ulama ada yang bukan pejuang, pejuang ada yang bukan ulama, tetapi ada ulama yang ia pun pejuang, yang berani mengambil resiko berhadapan dengan penguasa, baik penguasa yang ada diinegerinya sendiri atau pun penguasa-penguasa dzalim lainnya di muka bumi.

Menyoal Ulama

Baik di dunia maupun Indonesia sejauh pengetahuan yang diketahui olehnya, banyak aktifis-aktifis yang sebenarnya belum sampai pada derajat ulama kemudian oleh umat dijuluki ulama, hal ini sangat berbahaya.

“Seharusnya orang-orang seperti ini sadar akan posisinya karena akan membahayakan umat, meskipun mereka berada dalam organisasi ke-ulama-an, ini menjadi catatan penting karena di Indonesia belum ada lembaga akreditasi ulama,” jelasnya.

Meskipun begitu, setidaknya umat dapat melihat, ulama mana yang takut kepada Allah dengan ilmunya dan mana ulama ‘pelacur keduniaan’ yang menjual agama hanya untuk kepentingan dunia.

Bukan berarti salah jika ulama dekat dengan penguasa, seperti halnya Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali mereka adalah ulama yang juga pemimpin, namun mereka mendahului itu dengan dakwah dan meraih kepimpinan bukan didasari atas syahwat ingin berkuasa, dimana kala itu para sahabat sulit untuk menentukan yang menjadi penguasa.

“Berbeda dengan konteks hari ini dimana ulama berlomba untuk menjadi penguasa dengan upaya yang menampakan kecintaannya pada dunia,” kata UBN.

Dengan kekhawatiran kondisi sekarang ini, ia menganjurkan kepada para asatidz, para cendekiawan, dan para bakal calon ulama lapis kedua, untuk merapatkan barisan, bersatu, memperbaiki kembali kepemimpinan ummat kedepan.

Diakhir pesannya, UBN menjelaskan posisi ulama menjadi bawahan umaro tidak pernah terjadi. Dapat diambil pelajaran kisah Imam Abu Hanifah yang dipaksa dan disiksa menjadi Qodi hakim agung pada masanya. Imam Abu Hanifah menolak karena khawatir jika ia dibawah pemimpin yang jahat akan mempengaruhi persoalan yang besar.

Kemudian Imam Ahmad Ibnu Hambali dipersekusi, dipenjara hanya karena tidak ingin mengatakan Al-Quran adalah kudus sebagai kitab suci yang terbatas waktu. “Lalu dari negeri kita sendiri Buya Hamka, yang dikhianati muridnya sendiri, difitnah mengkhianati negeri ini, diinterogasi selama 15 hari siang malam tanpa istirahat kecuali saat makan dan shalat, hanya untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukan, mereka para ulama yang tidak pernah gentar.”

“Itulah sikap-sikap ulama cerdas. Ulama Robbani warosatul anbiya seperti ini yang harus menjadi panutan,” pesan dia.

Diujung khutbahnya UBN kembali menegaskan “Hati-hati, darah ulama adalah racun, tinta-tintanya ulama jauh lebih hebat dari hunusan pedang, bedil-bedil para penguasa. Jika umat ingin tetap lurus, maka hormatilah ulama, tentunya ulama Robbani warasatul anbiya” pungkasnya.

Penulis: Jumi Yanti Sutisna