Wawancara Media Dilarang bagi Tawanan Israel yang Bebas karena Khawatir Puji Hamas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Times of Israel melaporkan pada Sabtu (25/11/2023), sebanyak 13 warga Israel yang dibebaskan, termasuk empat anak-anak, tampak dalam kondisi kesehatan fisik yang baik, meskipun beberapa di antaranya lemah karena kelelahan setelah 49 hari disandera di Gaza.

Warga Israel yang dibebaskan pertama-tama dikirim ke rumah sakit untuk diperiksa kondisinya. Selain warga Palestina, tawanan Hamas dari Israel juga selamat dari pemboman intensif Israel selama hampir dua bulan.

Hamas pada tanggal 5 November mengumumkan bahwa serangan udara Israel telah menewaskan 60 tawanan, termasuk 23 orang yang jasadnya masih terjebak di bawah reruntuhan.

Schneider Medical Center di Petah Tikva mengatakan bahwa empat wanita Israel dan empat anak yang mereka terima “dalam kondisi baik.”

“Mereka bersama keluarganya berada di area terpisah yang disiapkan untuk mereka, dikelilingi oleh tim medis, sosial dan psikologis.” terangnya.

Wolfson Medical Center di Holon menyatakan bahwa lima tawanan Israel yang dibebaskan dan tiba kemarin dalam kondisi stabil. “Masing-masing dirawat sesuai kondisinya berdasarkan pemeriksaan kemarin.”

Namun, para tawanan Israel yang telah dibebaskan tidak diizinkan oleh otoritas Israel untuk berbicara kepada media. Hal itu disebabkan setelah pembebasan Yocheved Lifshitz, 85 tahun, pada tanggal 24 Oktober lalu, dia dengan jujur memberikan keterangan pada konferensi pers dari rumah sakit di mana dia mengatakan “Hamas telah memperlakukannya dengan baik.”

Pers Israel menggambarkan insiden tersebut sebagai bencana hubungan masyarakat karena menggambarkan Hamas secara positif.

Sumber: The Cradle

Reporter: Bahri

Bebas Dari Penjara Israel, Mantan Tawanan: Martabat Kami Terangkat Berkat Perlawanan Hamas

TEPI BARAT (jurnalislam.com)- Massa di Tepi Barat yang diduduki bersorak dan mengibarkan bendera Palestina dan Hamas, serta syal kaffiyeh, ketika 39 wanita dan anak-anak Palestina yang ditawan oleh Israel dibebaskan, pada Sabtu (25/11/2023)

Para tawanan Palestina diangkut pulang dengan bus putih dan pengawalan kendaraan lapis baja dari kamp militer Ofer.

Israel membebaskan warga Palestina berdasarkan perjanjian gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran di Gaza setelah Hamas membebaskan 13 wanita dan anak-anak Israel dan 10 pekerja Thailand yang ditangkap oleh gerakan perlawanan dalam serangan Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober di Israel.

Sebanyak 50 warga Israel dan 150 warga Palestina akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Lebih banyak tawanan dari masing-masing pihak akan dibebaskan selama masa gencatan senjata empat hari.

“Saya senang, namun pembebasan saya harus dibayar dengan darah para syuhada,” kata Marah Bakir, 24 tahun, mengacu pada hampir 15.000 warga Palestina yang terbunuh akibat pemboman Israel di Gaza sejak 7 Oktober.

“Kebebasan dari empat dinding penjara sungguh luar biasa,” kata Bakir, yang telah ditawan Israel selama delapan tahun.

“Saya menghabiskan akhir masa kanak-kanak dan remaja saya di penjara, jauh dari orang tua dan pelukan mereka,” katanya kepada kantor berita AFP setelah kembali ke rumah keluarganya di Beit Hanina di Yerusalem Timur yang diduduki.

“Itulah yang terjadi pada negara yang menindas kita.” pungkasnya.

Hanan Al-Barghouti, 58 tahun, yang dibebaskan setelah dua bulan ditahan Israel, memuji sayap bersenjata Hamas, pemimpinnya, dan masyarakat Gaza yang terkepung.

“Semoga Tuhan membalas mereka dengan baik atas nama kami,” katanya.

“Jika bukan karena rakyat Gaza, kita tidak akan melihat kebebasan.”

“Kami berada di dalam penjara, memakan kepahitan. Mereka sadis. Mereka menghina dan mempermalukan kami, namun harga diri kami tinggi, dan martabat kami terangkat, berkat perlawanan Hamas.” ungkapnya.

Dilaporkan sekitar 8.300 warga Palestina masih ditahan di penjara-penjara Israel.

Sumber: The Cradle

Reporter: Bahri

Bentuk Dukungan, Ribuan Warga Soloraya Ikuti Jalan Sehat Peduli Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Ribuan warga Soloraya mengikuti jalan sehat peduli Palestina yang digelar Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) di gelaran Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Solo pada Ahad, (26/11/2023).

Pantauan jurnalislam.com, peserta sudah berkumpul di Jalan Slamet Riyadi sejak pukul 05.30 WIB, mereka datang dengan memakai atribut bernuansa Palestina.

Tak hanya orang dewasa, aksi dukungan ini juga dihadiri banyak anak anak yang datang bersama orang tuanya.

Menurut Humas DSKS Endro Sudarsono, kegiatan terus tersebut digelar sebagai bentuk dukungan dari masyarakat Soloraya untuk rakyat Palestina.

“Harapannya bahwa dukungan moral, dukungan finansial terbatas berupa solidaritas penggalangan dana, tausiyah dan pernik pernik terhadap dukungan Palestina berupa bendera kita pertahankan dan rencana akan kita lanjutkan lagi seusai dengan karakter dari kita termasuk dari dukungan soloraya terus menggema,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Endro juga mengatakan bahwa panitia mempersilahkan masyarakat umum untuk ikut naik ke panggung menyampaikan aspirasinya terkait dukungan terhadap Palestina.

“Ada tausyiah, atraksi anak sekolah, penggalangan dana, penyampaian bendera maupun stiker, termasuk diantar ada getuk gratis dan sarapan gratis,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari

Pertukaran Tawanan Antar Hamas dan Israel Selesaikan Tahap Kedua

TEPI BARAT (jurnalislam.com)- Hamas dan Israel menyelesaikan tahap kedua pertukaran tawanan, pada Sabtu malam (25/11/2023). Sebanyak 39 warga Palestina dibebaskan, termasuk 6 wanita dan 33 anak-anak, sementara Hamas membebaskan 13 warga Israel dan 4 warga negara Thailand.

Pembebasan ini disambut meriah di Al-Bireh, Tepi Barat, di mana massa berkumpul untuk menyambut tahanan yang diangkut oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Massa meneriakkan slogan-slogan merayakan pembebasan mereka dan menyerukan pembebasan semua tahanan yang ditahan di penjara-penjara pendudukan Israel.

Wanita Palestina yang dibebaskan antara lain Israa Jaabis, Fadwa Hamada, Aisha Afgani, Nurhan Awwad, Shorouq Duwayat, dan Maysoun Musa.

Namun, di Yerusalem yang diduduki, pasukan Israel melarang keluarga para tahanan perempuan yang dibebaskan untuk merayakan atau menerima kerabat dan teman di rumah.

Sebelumnya pada hari yang sama, Brigade Al-Qassam mengumumkan penundaan pembebasan kelompok kedua tawanan Israel karena dugaan “ketidakpatuhan” Israel terhadap kesepakatan mengenai pengiriman bantuan ke Gaza.

“Kami memutuskan untuk menunda pembebasan tahanan gelombang kedua sampai penjajah mematuhi ketentuan perjanjian terkait masuknya truk bantuan ke Jalur Gaza utara,” kata Brigade Qassam melalui Telegram.

Pertukaran Sabtu ini merupakan kelanjutan dari pertukaran sebelumnya pada hari Jum’at, yang melibatkan 24 warga Israel dan orang asing dengan 39 warga Palestina. Pertukaran ini terjadi pada hari pertama dari gencatan senjata demi kemanusiaan selama empat hari setelah 50 hari pertempuran.

Tawanan tambahan dari kedua belah pihak akan dibebaskan secara bertahap dalam beberapa hari mendatang sebelum periode empat hari berakhir.

Sumber: The Cradle

Reporter: Bahri

Kepala BSKDN Kemendagri Harapkan Wahdah Islamiyah Ambil Bagian dalam Proses Pendidikan Politik dan Demokrasi

MAKASSAR (jurnalislam.com)- Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Dr. Yusharto Huntoyungo, M.Pd mengungkapkan pentingnya peningkatan SDM yang teredukasi dalam berdemokrasi dan berpolitik. Dia berharap Wahdah Islamiyah juga mengambil bagian dalam pendidikan politik yang berkelanjutan.

“Kita berharap kegiatan peningkatan SDM organisasi, pengetahuan berdemokrasi dan politik ini juga dimainkan oleh Wahdah Islamiyah sehingga akan terjadi pendidikan politik yang berkelanjutan lewat kegiatan-kegiatan yang didesain oleh organisasi,” kata Yusharto Huntoyungo saat hadiri Mukernas XVI Wahdah Islamiyah, Sabtu (25/11/2023).

Dia menerangkan bahwa organisasi kemasyarakatan (Ormas), ini sangat penting, dan dilakukan, dan bermitra dengan pemerintah untuk melaksanakan berbagai macam fungsi.

“Mulai dari menghasilkan regulasi, melakukan fungsi pelayanan, kemudian, regulasi untuk menghasilkan ketertiban dan ketentraman, melaksanakan fungsi pelayanan untuk menghadirkan keadilan, melaksanakan fungsi pembangunan untuk menghasilkan kesejahteraan, dan melakukan fungsi pemberdayaan untuk pemerataan dan pemberdayaan untuk kemandirian,” ujar Yusharto.

Yusharto Huntoyungo mengatakan bahwa ormas merupakan representasi kekuatan civil society yang harus didukung karena berkenaan dengan upaya kolaborasi ormas dengan pemerintah.

“Ormas sebagai representasi kekuatan civil society, di mana sejak era reformasi muncul sebagai kekuatan baru baik sebagai kelompok penekan atau pun pendukung atas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Organisasi kemasyarakatan ini penting karena bisa menjadi mitra pemerintah untuk melaksanakan fungsi pemberdayaan, fungsi pemerintahan dan fungsi lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut, lelaki yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia ini menyatakan keberadaan civil society memberikan kekuatan sebagai pondasi untuk mengaplikasi dan sebuah negara dikatakan demokrasi jika memiliki peluang yang besar bergabung dalam civil society.

“Kami berharap dengan adanya fungsi advokasi pada civil society dimana Wahdah Islamiyah yang merupakan bagian dari civil society ini dapat meningkatkan partisipasi politik. Kami berharap Wahdah Islamiyah mendukukung pemilu kita, agar terlaksana dengan aman, tertib, damai, dan berintegritas,” ucapnya.

Dia melanjutkan, jika fungsi advokasi pada civil society dijalankan dengan benar melalui proses politik, maka kita akan mendapatkan berbagai regulasi, mendapatkan para pemimpin yang dapat melaksanakan fungsinya dengan benar sesuai dengan tujuan.

Yusharto berharap Wahdah Islamiyah dengan pemerintah dapat menjalin kolaborasi bersama dalam mengembangkan SDM untuk menebar kebaikan kepada masyarakat. Dia juga medoakan semoga Mukernas ini dapat melahirkan program terbaik.

“Wahdah Islamiyah ini akan bersama-sama dengan pemerintah untuk berkolaborasi, untuk menjadi penebar nilai-nilai kebajikan dan spiritual, menjadi jembatan antar umat
dan pemerintah, dan mampu mengembangkan sumber daya manusia yang ada pada Wahdah Islamiyah secara mandiri dan melaksanakan komunikasi, koordinasi, dan harmonisasi,” tuturnya.

“Kami turut berdoa semoga Mukernas ke-16 Wahdah Islamiyah bisa menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang terbaik untuk organisasi maupun untuk pemerintah dan masyarakat serta Indonesia secara keseluruhan,” harapnya.

Ribuan Warga Bali Ikuti Aksi Bela Palestina, Kumpulkan Dana Capai 1 Miliar

BALI (jurnalislam.com)- Setelah dilaksanakan di banyak daerah di Indonesia, aksi bela Palestina digelar di Pulau Bali. Aksi tersebut diadakan di Lapangan Bajra Sandi Renon, Kota Denpasar, Sabtu (25/11/2023) sejak pukul 06.00 WITA.

Sejak pagi matahari masih malu malu untuk keluarkan cahayanya, banyak kendaraan sudah memadati di seputaran lokasi acara dengan mayoritas peserta membawa sepeda motor. Mereka juga terlihat lengkap dengan pakaian bernuansa putih dan dilengkapi atribut dukungan Palestina seperti syal, topi dan bendera.

Rombongan peserta masih terus berdatang dan memadati lokasi hingga pukul 08.00 WITA. Dari data yang diterima, jumlah peserta aksi tersebut mencapai lebih dari 10 ribu orang. Peserta tidak hanya dari kota Denpasar dan Badung, ada juga peserta dari Negara serta Karangasem dengan menggunakan bus.

Hadir juga dari tokoh agama Hindu Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet yang juga Ketua MDA Bali, ia berharap agar rakyat Palestina bisa merdeka dari penjajahan ‘Israel’.

“Umat beragama berkewajiban selalu berusaha, ikhtiar dan berdoa agar dunia ini terbebas dari penjajahan,” katany dalam sambutannya.

Moment dibentangnya bendera Palestina raksasa di tengah tengah aksi merupakan peristiwa yang sungguh luar biasa untuk memberikan dukungan kepada rakyat Palestina.

“Hari ini adalah aksi damai bela Palestina suara dari Bali. Di mana keprihatinan terhadap proses terjadinya genosida, pembantaian, dan penjajahan Israel terhadap Palestina juga disuarakan di pulau Bali,” ujar Ketua Panitia Aksi Bela Palestina di Bali, H. Agus Samijaya saat ditemui di sela sela aksi.

Agus menjelaskan bahwa aksi bela Palestina bisa saja kembali dilakukan di Bali apabila masyarakat ingin kembali ingin menyampaikan aspirasi dukungan untuk Palestina.

“Kami belum tentu (diadakan lagi), tetapi itu akan mengalir begitu saja. Jika nanti ada keinginan masyarakat untuk membangun aksi yang lebih besar, itu kami tidak mungkin bisa menutup karena itu penyampaian aspirasi masyarakat,” ungkapnya.

Dalam aksi tersebut, pihak panitia juga membuka donasi uang bagi para peserta aksi tersebut. Setelah dihimpun sampai sekitar pukul 10.00 WITA, panitia menyebut berhasil menggalang dana hingga lebih dari Rp1 miliar.

Angka tersebut belum bisa dipastikan rincinya karena proses donasi masih akan dibuka sampai dini hari besok. Panitia mengharapkan jika jumlah donasi yang terkumpul akan mendekati atau bahkan melebihi Rp2 miliar.

“Jadi kita belum bisa update tapi yang sudah terdeteksi sudah di atas Rp1 miliar. Ini masih proses penghitungan baik yang transfer maupun yang langsung dikumpulkan. Masih terus mengalir, prediksi kami mendekati 2 miliar atau lebih,” kata Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Mardi Soemitro.

Nantinya, kata Mardi, donasi tersebut akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang akan menyalurkan langsung bantuannya ke Palestina.

Sementara itu, salah satu peserta yang juga pembina Pengajian Parenting di Bali, Ustaz Nur Asrur mengatakan, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bagaikan satu tubuh.

“Palestina adalah tubuh kita, bukan hanya sekedar saudara, tetapi kebanggaan dan tempat suci kita. Membelanya adalah ibadah, Rasulullah bersabda, Barangsiapa tidak peduli kepada teman mu makan bukan dari golongan ku,” ungkapnya.

“Aksi ini merupakan wujud ikhtiar iman kita bersama, saya mengapresiasi terhadap semua yang terlibat dalam acara ini, terutama pada ke Bhinnekaan kebersamaan. Semua agama dan suku ada sini. Panggilan kemanusiaan merupakan panggilan hati nurani. Palestina butuh anda menjadi manusia, cukup sebagai alasan untuk solidaritas pada Palestina,” pungkasnya.

Aksi tersebut perlahan bubar sekitar pukul 10.00 WITA. Tidak terpantau adanya gesekan dan seluruh peserta aksi membubarkan diri dengan tertib.

Mencekam! Detik Detik Aksi Damai Bela Palestina di Bitung Diserang Kelompok Radikal Manguni Makasiouw

BITUNG (jurnalislam.com)- Aksi damai umat Islam yang digelar untuk solidaritas Palestina di Bitung, Sulawesi Utara, pada Sabtu (25/11/2023) berakhir dengan ketegangan dan kericuhan setelah ormas yang mengatas namakan Manguni Makasiouw dengan membawa bendera Israel menyerang peserta aksi.

Meskipun aksi Do’a dan sholat Ghaib untuk korban Palestina di Masjid Ribathul Qulub Bitung telah mendapatkan izin dari kepolisian, namun sekelompok massa yang diduga kuat berasal dari kalangan ormas Adat Pasukan Manguni Makasiouw melakukan penyerangan dengan pelemparan batu dan mengacungkan senjata tajam.

Kelompok massa terlihat melakukan sejumlah perusakan mobil ambulan dan membakar bendera Palestina. Terlihat beberapa anggota kepolisian yang di lokasi tidak bisa berbuat banyak menghalau massa karena kalah jumlah.

Dessy Lentang, melalui akun media sosialnya, menyatakan bahwa aksi tersebut berlangsung damai dan aman. Diakhiri dengan Sholat Ashar berjamaah, Sholat Ghaib, dan Do’a bersama untuk Palestina. Namun, orang-orang buta sejarah yang membuat kekacauan,

“Semua mata melihat, siapa yang radikal, siapa yang intoleran, siapa yang biadab, siapa yang teroris! Ini yang katanya tanah adat Minahasa, Sitou timou tumpu tou ‘manusia hidup untuk memanusiakan manusia yang lain’. Memang nda ada bedanya dengan zionis. Kami siap Proses!,” tegas Dessy.

Ia juga menceritakan situasi yang dialaminya, Dessy bersama temannya awalnya berada di dalam mobil Ambulance BSM, di dalamnya ada bendera Palestina dan bendera Tauhid. Karena suasana makin kacau, kami di pindahkan di Tronton Kontainer.

“Ambulans tadi dirusak, bendera Palestina dan bendera Tauhid di bakar! Ini jelas pelanggaran hukum,” ungkapnya.

“Bendera Palestina di bakar penuh hina. Dalam aksi kami, kami tidak menggunakan kata Yahudi, tidak menggunakan kata kasar, dan tidak membakar bendera apapun. Karena aksi ini adalah Aksi Damai, membela Palestina yang di jajah oleh Zionis Israel, kami membela semua umat agama yang terjajah disana, tidak hanya Muslim.” sambung Dessy.

Lebih lanjut menurut Dessy dalam unggahannya, kejadian yang menimpanya menunjukkan ormas pasukan Manguni Makasiouw dianggap radikal dan intoleran,

“Mereka yang koar-koar anti radikal, toleran, teroris, ternyata mereka membuktikan sendiri hari ini siapa yang demikian,” katanya.

Salah seorang peserta aksi damai juga disebut telah dikeroyok oleh kelompok massa penghadang. “Om Anto anggota BSM tengah kritis di rumah sakit Angkatan Laut, setelah diperlakukan layaknya binatang oleh para Manguni Adat Makatana,” cerita Dessy.

Reporter: Bahri

Gencatan Senjata Sementara, Truk Bantuan Mulai Memasuki Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Pada hari Rabu (22/11/2023), Hamas dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata demi kemanusiaan selama empat hari di wilayah Gaza setelah mediasi yang dipimpin oleh Qatar. Gencatan senjata ini mengakhiri 46 hari pertempuran yang berdampak pada lebih dari 2,3 juta warga Palestina.

Kedua belah pihak setuju untuk menghentikan pertempuran mulai pukul 07:00 hari Jum’at ini (24/11/2023). Truk bantuan dari Mesir juga telah memasuki Jalur Gaza beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai.

Dua truk yang mewakili organisasi Mesir membawa pesan kemanusiaan dengan spanduk bertuliskan, “Bersama untuk Kemanusiaan” dan “Untuk saudara-saudara kita di Gaza.” Mesir berjanji mengirim 130.000 liter solar dan empat truk gas setiap hari, sementara 200 truk bantuan akan memasuki Gaza setiap harinya.

Meskipun bantuan ini diumumkan, beberapa warga, seperti Layan al-Amasi, ibu empat anak di Gaza, merasa skeptis dengan mengatakan, “hal ini tidak akan menambah keuntungan apa pun bagi kami di Gaza. Kami kehilangan nyawa, keamanan, dan segalanya.”

“Jumlah sebanyak itu tidak akan cukup untuk rakyat Palestina di Gaza karena sebagian besar dari mereka terpaksa mengungsi dari rumah mereka,” kata ibu berusia 56 tahun itu kepada The New Arab.

Sumber: The New Arab

Reporter: Bahri

Gencatan Senjata Sementara di Gaza, Harapan dan Tantangan Bagi Warga Palestina yang Terdampak

GAZA (jurnalislam.com)- Ribuan warga Palestina memenuhi jalan-jalan, pasar, dan area yang telah hancur di Gaza, menyusul gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel yang mulai berlaku pada Jum’at pagi (24/11/2023).

Gencatan senjata ini terjadi setelah serangkaian pemboman tanpa pandang bulu oleh Israel di Gaza, yang menyebabkan lebih dari 14.500 warga sipil Palestina tewas. Sebanyak 4.000 orang diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan, dengan kemungkinan sebagian besar telah meninggal.

Penduduk setempat, berbicara kepada The New Arab, menyampaikan harapan bahwa gencatan senjata ini bisa menjadi awal dari berakhirnya agresi Israel terhadap warga tak bersalah di Gaza.

Mohammed Abdel Aal (63 tahun), penduduk Rafah, mengungkapkan bagaimana ia dan keluarganya terpaksa berjalan puluhan kilometer untuk kembali ke rumah mereka, hanya untuk menemukan bahwa rumah dan seluruh blok perumahannya telah hancur.

“Tentara Israel menyuruh kami mengungsi. Kami pikir kami akan kembali dalam beberapa hari, tetapi tampaknya Israel telah memutuskan untuk menghancurkan semua aspek kehidupan kami di Gaza,” kata Abdel Aal, seorang ayah enam anak.

Selama serangan udara Israel berlangsung, Abdel Aal mengungsi bersama 20 anggota keluarganya ke salah satu sekolah UNRWA di Rafah barat. Dia dan semua pengungsi lainnya berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar makanan dan air sehari-hari.

Dengan kerusakan total pada rumahnya, kemungkinan besar Abdel Aal tidak akan pernah kembali ke rumahnya jika suatu saat terwujud gencatan senjata secara permanen di Gaza.

Jalal Abu Sharkh, seorang pria Palestina dari kamp pengungsi al-Nuseirat di pusat Gaza, mengungkapkan bahwa gencatan senjata kemanusiaan memungkinkan saudara-saudaranya menemukan 30 jenazah yang hilang di bawah reruntuhan selama lebih dari enam hari.

Karena pada saat itu serangan udara Israel sedang berlangsung di jalur tersebut, staf medis dan tim penyelamat yang tiba hanya melakukan pemeriksaan secara singkat untuk mengetahui apakah ada orang yang masih hidup di bawah reruntuhan untuk diselamatkan, terang Abu Sharkh kepada The New Arab.

“Jika tim penyelamat tidak mendengar suara apa pun, mereka akan meninggalkan lokasi dan meninggalkan semua orang yang terjebak di bawah reruntuhan,” kata pria berusia 42 tahun itu, seraya menambahkan bahwa “kami tidak dapat mencoba menyelamatkan korban, kami juga takut terhadap serangan Israel.”

Dari 30 orang yang terbunuh akibat serangan Israel, keluarganya berhasil menyelamatkan dua orang, seorang wanita dan putranya, yang masih hidup meski menghabiskan empat hari di bawah reruntuhan tanpa makanan atau air.

Bagi Abu Sharkh, gencatan senjata memberikan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa yang selama ini terancam, sementara warga Gaza secara keseluruhan berharap gencatan senjata ini akan membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Sumber: The New Arab

Reporter: Bahri

Aksi Solidaritas Bela Palestina Cilegon: Mendidik Anak Mencintai Palestina Negeri yang diberkahi

CILEGON (jurnalislam.com)- Teduhnya langit kota Cilegon pagi ini (25/11/2023) menghiasi Aksi Bela Palestina yang berlangsung di Landmark jantung kota Cilegon. Cuaca sejuk yang seolah mendukung ini tentu memberi kenyamanan bagi para peserta aksi yang banyak juga dihadiri oleh anak-anak. Sekitar 30% yang dijumpai jurnalislam.com, peserta Aksi Bela Palestina terdiri dari anak-anak baik itu balita hingga anak usia SMP.

Banyaknya peserta aksi dari kalangan anak-anak ini, membuat jurnalislam.com tertarik untuk mewawancarai para orangtua yang membawa anak-anak terkait alasan dan tujuan mereka nengikutsertakan anak-anak dalam Aksi Bela Palestina.

“Kami membawa ketiga anak-anak kami di aksi, agar mereka melihat langsung bagaimana muslimin membela saudara mereka di Palestina dan menumbuhkan semangat mereka juga untuk membela Palestina,” ujar Adrian salah satu peserta aksi yang membawa 3 anaknya yang berusia 11 tahun, 10 tahun dan 8 tahun.

“Anak-anak perlu dididik untuk mencintai negeri yang diberkahi yaitu Palestina, apalagi Palestina kini sedang di jajah oleh Israel, agar anak-anak termotivasi untuk membebaskan Palestina,” ujar Junianto peserta aksi yang membawa 4 putra putrinya.

“Selain tidak ada yang menjaga anak-anak, kami pun ingin mengenalkan anak-anak agar mereka semangat juga membela saudara muslim di Palestina dan mencintai mereka,” jelas Fatiah peserta aksi yang membawa seorang balita dan anak usia 6 tahun.

Keni usia 10 tahun yang berhasil kami wawancarai pun menjelaskan alasan mengikuti Aksi Solidaritas Palestina untuk memberi dukungan kepada saudara muslim Palestina agar mereka terlepas dari penjajahan Israel dan merdeka.

Sekitar ribuan peserta hadir di Aksi Solidaritas Bela Palestina yang diadakan oleh pemerintah kota Cilegon, sampai berita ini turun acara masih berlangsung dengan orasi-orasi dari jajaran pemerintah dan LSM dan peserta aksi layaknya rekreasi bersama keluarga asyik berkumpul sambil mendengarkan orasi-orasi.

Reporter: Jumi Yanti Sutisna