Laporan Terbaru BNPB: 1.234 Tewas, 61.867 Mengungsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam laporan terbarunya hingga Selasa (2/10/2018) pukul 13.00 WIB mencatat, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, bertambah menjadi 1.234 jiwa.

Selain itu, sebanyak 799 orang mengalami luka berat. Mereka tengah dirawat di rumah sakit.

“Jenazah terus berdatangan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Bersatu untuk Sulteng’ di Ruang Serba Guna Kominfo, Selasa (2/10/2018).

Baca juga: Fauziyatul Khaeriyah, Hafizah yang Wafat Tertimpa Bangunan Akibat Gempa Palu

Sutopo memaparkan, jumlah korban meninggal paling banyak akibat tertimpa bangunan. Sebagian korban sudah dimakamkan.

“Korban tertimbun sampai 152 jiwa,” pungkasnya.

Selain itu, Sutopo menambahkan, jumlah pengungsi mencapai 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik.

“Jumlah setiap titik menampung sekitar 13-10.068 jiwa,” tuturnya.

Sebelum Tsunami Warga Sedang Menyaksikan Festival Adat Palu Nomoni

PALU (Jurnalislam.com) – Sebelum bencana alam gempa dan tsunami melanda kota Palu, warga sedang menyaksikan Festival Adat Palu Nomoni di Pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). Mereka sedang mengikuti kegiatan Balia yang memang sudah lama hilang.

Balia adalah kebiasaan leluhur orang Palu ingin dihidupkan kembali. Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh orang yang ahli.

Menurut salah seorang Warga, Andi Ahmad, budaya ini baru dihidupkan kembali sejak 2016, biasanya menggunakan sesajen seperti menghanyutkan makanan ke laut, dan hewan ternak seperti kambing.

“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, kepada Islamic News Agency (INA) di jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018).

Ritual Balia

Dirinya melanjutkan, tradisi Balia sendiri biasanya identik dengan kain berwarna kuning yang menjadi hiasan panggung ataupun ruangan yang dijadikan tempat pengobatan tersebut.

“Jadi ini itu identik dengan pakaian kuning gitu, terus domba-domba yang masih hidup itu dijadikan bahan sesajen dihanyutkan di laut,” tambahnya.

Palu Nomoni berati artinya palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan guru tua habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanat keturunan dari Baginda Rasulullah SAW.

Baca juga: Gempa Tsunami Landa Sulteng, PKS Ajak Semua Pihak Beristigfar

“Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.

Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat-Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin kencang.

“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan angin kencang trus, saat ini barulah tsunami,” paparnya.

Reporter: Saifal | INA News Agency

Mengakhiri Polemik Impor Beras

Oleh: Mohammad Faisal, Ph.D | Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

POLEMIK mengenai impor beras antara beberapa pejabat pemerintah khususnya antara Menteri Perdagangan dengan Direktur Utama Bulog menjadi bukti bahwa persoalan tata niaga beras di
negara ini belum diselesaikan secara tuntas. Menurut Center of Reform on Economics (CORE), momentum ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk membenahi persoalan- tersebut secara tuntas. Untuk itu, CORE mengusulkan empat hal untuk memecahkan permasalahan yang terjadi hampir di setiap tahun tersebut.

Pertama, pengadaan beras impor harus melibatkan berbagai stakeholder dan dilakukan secara transparan dan pijakan yang kuat. Pada dasarnya impor pangan merupakan solusi jangka pendek, jika memang terdapat kesenjangan antara supply domestik dengan kebutuhan dalam negeri, mengingat beras masih menjadi kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, proses impor selama ini dipandang negatif lantaran sejumlah alasan, seperti adanya praktik perburuan rente dalam penetapan kebijakan tersebut. Di samping itu, kegiatan impor cenderung membuat harga domestik jatuh pada titik yang merugikan petani. Kegiatan impor juga menguras cadangan devisa dan dalam jangka panjang akan menghambat upaya mewujudkan kemandirian pangan.

Oleh sebab itu, kegiatan impor harus dilakukan lebih transparan dengan melibatkan seluruh stakeholder, baik pemerintah, BUMN, asosiasi petani dan pedagang. Selain itu, prosesnya harus didukung oleh data yang valid dan estimasi yang akurat mengenai supply dan demand beras domestik. Pelaksanaan impor juga harus direncanakan secara matang sehingga tidak mengganggu keseimbangan harga gabah di tingkat petani.

Kedua, Pemerintah perlu membuat formula penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang mendorong minat petani dalam berproduksi. Sebagaimana diketahui, persoalan utama rendahnya penyerapan gabah/beras oleh Bulog lebih banyak disebabkan oleh harga pembelian gabah/beras BUMN yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar. Sebagai contoh, di tahun ini, Bulog masih menggunakan HPP tahun 2015 yang mencapai Rp7.300/kg untuk beras dan Rp4.650/kg untuk gabah kering giling (GKG). Padahal, harga rata-rata beras medium di tingkat penggilingan pada bulan September sudah mencapai Rp 9.310/kg dan Rp. 5.501/kg untuk GKG di tingkat penggilingan.

Oleh sebab itu, HPP perlu ditetapkan secara reguler setiap tahunnya. Komponennya tidak hanya memperhitungkan biaya pokok produksi, perkembangan inflasi, namun juga ditambah dengan margin yang menguntungkan petani. HPP tersebut selain menjadi acuan Bulog dalam pengadaan stok, juga dapat menjadi harga batas bawah bagi pemerintah melakukan intervensi dengan menyerap seluruh produksi gabah yang ditawarkan petani. Kebijakan seperti ini telah diterapkan di Tiongkok. Meskipun negara tidak lagi mengontrol penuh sektor pertanian, namun pemerintah Tiongkok tetap melakukan intervensi untuk melindungi petani mereka. Pada tahun 2006, misalnya, pemerintah Tiongkok menyerap 40% gandum petani yang harganya lebih rendah dari batas bawah yang ditetapkan pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan untuk beras, meskipun jumlahnya lebih sedikit yakni 4 juta ton dari total produksi sebanyak 181 juta di tahun itu (USITC, 2011).

Kebijakan ini tentu membutuhkan cadangan anggaran yang relatif besar. Namun, hal ini mampu memperbaiki kesejahteraan petani sekaligus menjadi insentif untuk meningkatkan produktifitas
mereka. Kebijakan tersebut juga akan memudahkan Bulog dalam menyerap beras baik untuk tujuan Public Service Obligation, komersial, ataupun untuk membangun stok pangan yang lebih aman. Cadangan Bulog hanya dibawah 10% dari total produksi nasional pertahun. Cadangan tersebut hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia selama 20 hari. Padahal, beberapa negara tetangga menguasai minimal 20% rata-rata stok pangannya.

Ketiga, Pemerintah perlu membenahi regulasi saat ini sehingga mampu mencegah praktik oligopoli, penimbunan, dan spekulasi. Lebih dari 90 persen distribusi beras saat ini dikendalikan
pelaku swasta, sementara sisanya sekitar 5-9 persen (1,5-3,6 juta ton) dipegang oleh pemerintah melalui Bulog. Dengan demikian, kemampuan pemerintah untuk menentukan harga pasar beras relatif terbatas. Namun demikian, pemerintah dapat menempuh beberapa kebijakan untuk mencegah praktik yang dapat mengganggu keseimbangan pasar, baik praktik oligopoli, penimbunan dan spekulasi. Di antaranya dengan pemberian sanksi berat seperti denda dalam jumlah besar bagi pelaku penimbunan, mewajibkan registrasi bagi para pedagang beras serta melakukan pengawasan reguler terhadap gudang-gudang dan perkembangan stok mereka. Di Singapura, dikenal dengan istilah Rice Stockpile Scheme (RSS), dimana pemasok beras wajib memiliki lisensi pengadaan beras.

Selain itu, cadangan beras di gudang-gudang mereka diperiksa secara berkala. Bentuk pengawasan lain yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk institusi yang bertugas melakukan pencegahan penimbunan komoditas strategis. Di Filipina, tugas ini dilakukan oleh Anti-Rice-Hoarding Task Force (ARTF) yang mampu menindak praktik-praktik penimbunan yang berpotensi mendistorsi harga beras. Pemerintah Malaysia memiliki Price Control and Anti Profiteering Act 2011, yang mengatur tentang mekanisme pengendalian harga dan larangan pengambilan keuntungan yang berlebihan pada produk makanan dan minuman, kebutuhan rumah tangga, dan personal care. Dengan aturan itu, harga-harga di negara tersebut menjadi relatif stabil sepanjang tahun.

Keempat, mendorong peningkatan produksi beras nasional dengan meningkatkan insentif bagi petani. Polemik impor beras tentu tidak perlu terjadi jika pasokan domestik cukup memadai.  Adapun surplus beras yang diklaim Kementerian Pertanian saat ini masih sangat marginal dan sangat rawan diperdebatkan. Oleh karena itu, selain memperbaiki tata niaga beras, perlu terobosan agar produksi beras nasional jauh melampaui kebutuhan nasional. Pendekatan pemerintah melalui perbaikan infrastruktur dan peningkatan pasokan input pertanian, harus diperkuat dengan pemberian insentif di sisi hilir berupa subsidi harga bagi petani seperti yang disampaikan di atas. Dengan demikian, selain meningkatkan cadangan nasional, sektor pertanian dapat memberikan sumbangan yang lebih besar pada pendapatan devisa nasional.

Jakarta, 2 Oktober 2018

Sedang Hamil Tua, Surantina Berlari Hindari Gempa dan Tsunami

“Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan,” ujar dia.

PALU (Jurnalislam.com) – Wajahnya sudah terlihat pasrah. Perutnya yang terus membesar sudah tidak ia hiraukan. Surantina (38), warga Kampung Bamba Kadongo, Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, Kota Palu ini tengah hamil 8 bulan.

Pada Jumat (28/9/2018) sore, seperti biasa Surantina sedang berada di rumah bersama anak lelakinya yang berusia 10 bulan, Jestin Rafasya. Sang suami, Jefrie (29) baru saja pulang kerja. Seperti biasa, ia duduk santai di depan rumah yang menghadap ke Pantai Bamba. Mendadak, bumi berguncang hebat. Dinding rumah mereka pun terbelah.

“Saya refleks langsung lari ke luar rumah sambil gendong Jestin di bahu. Saya tak peduli lagi hamil. Yang saya pikirkan bagaimana saya dan anak saya selamat,” jelas Surantina.

Lututnya sempat terantuk batu. Tapi, Surantina tak mau menyerah. Ia berlari sekuat tenaga hingga menjauhi pantai dan mendekati bukit. Mungkin, hingga dua kilometer jauhnya.

Suaminya, Jefrie, sibuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya yang masih di rumah. Alhamdulillah semua anggota keluarga mereka selamat.

“Sekarang tinggal di pengungsian di Desa Anja. Tak terlalu jauh dari sini,” jelas wanita kelahiran Yogyakarta ini saat menengok ke reruntuhan rumahnya bersama sang suami untuk mencari sesuatu yang masih bisa dimakan.

Dikatakan Surantina, sejak gempa dengan magnitudo 7,4 skala richter yang terjadi pada tiga hari yang lalu, ia kesulitan untuk memperoleh makanan.

“Saya makan pisang, kentang, kacang-kacangan buat bertahan hidup sama keluarga. Anak saya kasih air gula,” ujar wanita berkulit sawo matang ini sambil air matanya menggenang.

Pakaian pun, kata Surantina, hanya yang melekat di badan saja. Oleh karena itu, ia heran dengan belum adanya sedikitpun bantuan yang ia terima dari pemerintah.

Padahal, rumahnya jelas-jelas hancur. Makanan tidak ada. Minum pun tak lagi dari air bersih. “Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan,” ujar dia.

Surantina dan suaminya tak pernah menjarah. Ia tak berani sedikitpun untuk menghentikan kendaraan yang membawa bantuan.

Menurut Surantina, para pelaku penjarahan justru didominasi oleh orang luar Palu, yang bukan pengungsi.

“Kami ini masih trauma pak. Mana berani kami berbuat itu (menjarah-red). Kami hanya minta diperhatikan oleh pemerintah, terutama minuman dan makanan. Itu saja,” ungkap dia.

Hal lain yang menjadi beban pikiran Surantini adalah kehamilannya. Memasuki usia 8 bulan, Surantini bingung mengenai persalinannya. Saat diperiksa terakhir satu bulan yang lalu, dokter menyatakan janin dalam kandungannya berada dalam posisi melintang.

“Harus cesar kata dokter. Uang dari mana? Sekarang aja cuma punya uang Rp 200 ribu. Tak bisa dipakai. Tak ada warung yang buka untuk sekedar beli susu untuk anak saya,” keluh Surantini.

Ia hanya berharap bisa diterbangkan ke Bandung menggunakan pesawat Hercules. Kakaknya yang berada di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung berjanji akan mengurus persalinannya jika bisa ke Bandung.

“Tolong tanyakan ya pak. Barangkali saya bisa ke Bandung. Tolong ya pak,” pungkas Surantini.

Yayasan Harapan Amal mulia yang berad di lokasi berharap ingin membantu warga ini.

“Insha Allah kita juga akan coba membantu teman-teman disini, ini juga kami lagi mendata apa kebutuhan warga disini,” kata Riffa salah satu perwakilan Yayasan Harapan Amal Mulia dari Bandung.

Tak terasa air mata Surantina mengalir membasahi pipinya saat ditanya apa yang dimakan selama kurang lebih empat hari tinggal di hutan. Sambil meneteskan air mata dirinya menjawab bahwa mereka hanya makan seadanya, anaknya juga hanya dikasi air gula.

“Hanya air gula saja pak, kita juga makan apa adanya, ada ubi kita makan,” jelasnya, sambil meneteskan air mata.

Reporter: Saifal | INA News Agency

Ketika Anak SD Peringati Hari Batik Untuk Musibah Gempa dan Tsunami Sulawesi

SOLO (Jurnalislam.com) – Pagi ini, Selasa (2/10/2018) Hall SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo dipenuhi siswa kelas 1-6 yang berkostum batik. Mereka tampak antusias memakai kostum batik dengan berbagai motif dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Namun, ada yang berbeda dari peringatan Hari Batik Nasional tahun ini. Momentum ini disisipkan dengan kegiatan sosial positif: doa bersama dan penggalangan dana untuk musibah gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bertajuk #Pray for Palu.

Seluruh siswa, guru, dan karyawan tampak khusyuk mendoakan korban bencana yang saat ini sudah mencapai angka ratusan dan terus bertambah tersebut. Mereka seolah-olah merasakan kesedihan dan penderitaan yang dialami para korban. Setelah selesai doa bersama yang dipimpin oleh guru agama, para siswa mungil ini secara bergantian memasukkan uang yang sudah mereka bawa ke kotak yang sudah disiapkan.

Doa bersama untuk korban musibah gempa dan tsunami Sulawesi

Sehari sebelumnya pihak sekolah memang mengumumkan kepada para siswa bahwa peringatan Hari Batik Nasional akan diisi dengan kegiatan peduli gempa dan tsunami Palu. Selain memakai kostum batik para siswa juga diimbau membawa uang seikhlasnya untuk membantu korban bencana.

Arkan Danendra, salah satu siswa kelas 4 mengaku sedih dengan peristiwa gempa dan tsunami yang mengguncang Palu dan sekitarnya. Kesedihannya menderas setelah mengetahui jumlah korban yang terus bertambah.

“Saya mengikuti berita gempa dan tsunami dari berita televisi,” ungkapnya.

Harapan Bantuan

Arkan mengharapkan pemerintah dan semua rakyat Indonesia bersatu membantu saudara-saudara di Palu. “Saya tadi ikut membantu doa dan uang, meskipun sedikit mudah-mudahan bisa meringankan penderitaan warga Palu,” imbuhnya sedih.

Wakasek Bidang Kesiswaan dan Humas, Muhamad Arifin mengungkapkan, doa bersama dan penggalangan dana ini merupakan implementasi nilai gotong-royong yang sangat penting diajarkan kepada para siswa.

“Gotong-royong merupakan nilai luhur bangsa kita yang harus terus diajarkan sejak dini kepada para siswa,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan penggalangan dana ini akan diadakan selama tiga hari ke depan. Untuk hari pertama ini terkumpul dana sebesar Rp. 16.678.500,00 dan akan disalurkan melalui Muhamadiyah Disaster Management Center (MDMC) Solo.

Gempa Tsunami Landa Sulteng, PKS Ajak Semua Pihak Beristigfar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Musibah gempa bumi yang menyebabkan tsunami dan pergeseran tanah pada Jumat (28/9/2018) lalu di Kabupaten Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah telah memakan ratusan korban jiwa. Belum lagi infrastruktur yang hancur tak terhitung jumlahnya.

Dahsyatnya dampak gempa berkekuatan 7,4 SR itu dinilai Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera sebagai bencana alam luar biasa. Iapun mengajak semua pihak untuk beristigfar memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Mari perbanyak istigfar dan mendoakan sahabat-sahabat kita yang terkena bencana hebat ini di Palu dan Donggala,” kata Mardani dalam keterangan tertulis kepada diterima Jurnalislam.com, Senin (1/10/2018).

Berdasarkan data Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami di Donggala-Palu Sulawesi Tengah sebanyak 1.203 orang. ACT juga mencatat korban luka berat sebanyak 540 orang.

Wakil Ketua Komisi II DPR itu mengapresiasi Presiden Jokowi yang langsung turun meninjau lokasi bencana. “Apresiasi buat Pak Jokowi yang langsung memantau lokasi bencana,” kata Mardani.

Lebih lanjut, pria Betawi ini meminta pemerintah bergerak cepat dan strategis menghadapi bencana ini.

“Saya yakin masih banyak korban lagi yang belum ditemukan, fokus selamatkan warga yang masih bisa diselamatkan dan bantuan makanan obat-obatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Mardani.

Mardani meminta pemerintah mengevaluasi dan membenahi sistem deteksi tsunami di Indonesia. “Pemerintah harus belajar dari kesalahan, jangan sampai terulang lagi karena abai membiarkan sistem deteksi tsunami rusak,” kata Mardani.

Terakhir, Mardani mengajak seluruh kalangan untuk berdoa dan menyalurkan bantun untuk masyarakat Palu, Donggala dan Lombok yang terkena bencana hebat.

“Mari kita mendoakan dan berbagi untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana baik di Palu, Donggala. Jangan juga melupakan Lombok karena kondisinya masih parah juga karena belum tertangani dengan maksimal,” pungkasnya.

Terus Bertambah, Korban Tewas Gempa dan Tsunami Sulteng 844 Jiwa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam laporan terbarunya hingga Senin (01/10/2018) pukul 13.00 WIB mencatat, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, bertambah menjadi 844 orang.

Selain itu, sebanyak 632 orang mengalami luka berat. Mereka tengah dirawat di rumah sakit.

“Jenazah terus berdatangan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Sutopo memaparkan, jumlah korban meninggal paling banyak berada di Palu, yakni 821 orang. Sebanyak 744 jenazah di antaranya sudah teridentifikasi.

Kemudian, di wilayah Parigi Moutong ada 12 orang meninggal dan di Donggala 11 orang meninggal.

“Dari wilayah Sigi belum dapat informasi,” ujar Sutopo.

Sutopo menekankan bahwa data ini sementara. Kemungkinan jumlah korban bisa bertambah.

Ia menjelaskan, korban meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan setelah gempa dan tersapu tsunami.

Selain itu, Sutopo menambahkan, korban meninggal harus segera dimakamkan karena kondisinya sudah membusuk.

Korban akan dimakamkan secara massal. Prosesi pemakanan akan dilakukan seperti ketika pemakaman massal korban gempa dan tsunami di Aceh dan erupsi Merapi.

White Helmets Kini Jadi Target Pasukan Assad dan Rusia (wawancara khusus bag 2)

ANKARA (Jurnalislam.com) – Raed al-Saleh, kepala White Helmets (Pertahanan Sipil Suriah), mengatakan kepada Anadolu Agency, Ahad (30/9/2018) bahwa kelompok mereka telah ditargetkan dengan tuduhan palsu oleh Rusia dan negara-negara lain karena mengumpulkan bukti tangan pertama atas kekejaman yang dilakukan oleh rezim Assad dan sekutu-sekutunya.

The White Helmets telah berjuang melawan dua pertarungan terpisah pada saat yang bersamaan. Ketika mencoba menyelamatkan warga sipil dari pemboman, mereka juga menghadapi bahaya karena mereka berubah menjadi “target yang sah dan terbuka” oleh rezim Syiah Bashar al-Assad dan Rusia.

Di sisi lain, mereka melawan kampanye kotor dan pencemaran nama baik, al-Saleh dari White Helmets, atau Pertahanan Sipil Suriah, berbicara kepada Anadolu Agency tentang upaya mereka untuk kemanusiaan.

Baca juga: 

Manajemen organisasi

Tanya: Dapatkah Anda beroperasi di semua wilayah di Suriah?

Al-Saleh: Tidak, kami hanya beroperasi di daerah yang bisa kami jangkau. Kami mencoba mempertahankan keberadaan kami di wilayah tempat kami tidak diblokir. Saat ini, kami beroperasi di utara Suriah, di barat laut, di zona Euphrates Shield [yang dibebaskan oleh operasi Turki 2016-2017], dan Afrin. Namun, kami tidak dapat beroperasi di wilayah tertentu. Karena rezim memberi label kami kelompok teror, kami tidak bisa beroperasi di tempat dominan rezim. Kami telah diancam berulang kali. Bashar al-Assad adalah tokoh utama di antara mereka yang mengancam kita.

Juga, kami tidak dapat beroperasi di area yang dikuasai YPG [afiliasi teror Suriah dari milisi PKK] karena anggota kami ditahan oleh YPG pada akhir 2015. Selama periode ini, mereka juga menyita peralatan pencarian dan penyelamatan serts ambulans kami. Untuk alasan yang sama, kami tidak dapat beroperasi di wilayah di bawah kendali IS (Islamic State). Seperti yang Anda ketahui, IS menahan beberapa relawan White Helmets pada tahun 2015.

T: Bagaimana cara White Helmets dikelola? Dapatkah Anda memberi tahu kami tentang kepala Anda, dewan direksi, komisi administrasi, dan struktur lainnya?

Al-Saleh: Kami mengatur tim kami sesuai dengan struktur administrasi Suriah. Kantor pusat kami terletak di Suriah utara. Untuk masalah keamanan, saya tidak akan mengungkapkan lokasi di mana tim kami dikerahkan. Maaf untuk itu. Kantor pusat kami berada di Suriah utara. Setiap provinsi terhubung ke kantor pusat, kami memiliki direktorat. Kami memiliki kantor utama dan cabang di pemukiman yang lebih kecil dari provinsi.

Pembiayaan

T: Ada berbagai tuduhan tentang Anda. Beberapa mengklaim bahwa berbagai negara dan organisasi mendanai Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk ini? Bagaimana Anda memastikan keuangan Anda?

Al-Saleh: Tuduhan dan keuangan adalah dua masalah yang berbeda. Kami menerima dukungan dan bantuan dari siapa saja yang ingin membantu rakyat Suriah. Bagi kami, ini bukan masalah. Satu-satunya syarat yang kita miliki adalah tidak ada tali politik atau militer.

Jadi, selama pembiayaan yang kami berikan tidak bersyarat, kami menerimanya. Dalam konteks ini, kami mendapat pembiayaan dari berbagai negara. Selain itu, kami didukung oleh orang-orang dan badan amal. Maksud saya, kami memiliki tiga sumber keuangan: negara, badan amal, dan kampanye publik.

Negara-negara yang mendukung kami adalah Qatar, Inggris, AS, Belanda, Denmark dan Jerman. Saat ini kami berada pada tahap penandatanganan [kesepakatan] dengan Prancis. Selain mendapat dukungan langsung dari beberapa negara, kami mendapat dukungan dari institusi.

Yayasan Bulan Sabit Merah dan Bantuan Kemanusiaan Turki (IHH) juga mendukung kami. Qatar al-Hayriyya dan badan amal Qatar lainnya juga mendukung kami. Banyak kelompok bantuan dari Eropa dan Kanada juga memberi kami dukungan. Kampanye publik kami dilakukan melalui Internet. Terima kasih Allah, kami telah mencapai hasil yang baik berkat kampanye ini. Kami menggunakan pembiayaan yang disediakan untuk keadaan darurat, keluarga para pejuang, dan yang terluka. Kami juga menggunakannya untuk membantu keluarga dari rekan setim kami yang terbunuh.

T: Apa yang akan Anda katakan tentang tuduhan itu?

Al-Saleh: Jika ada satu tuduhan berdasarkan bukti, saya akan dapat menjawab dan mengomentari masalah ini. Ada banyak tuduhan terhadap kami. Ketika Anda melihat seseorang bekerja dan tidak dapat menemukan kesalahan apa pun, Anda mulai sibuk.

Beberapa mengatakan bahwa kami adalah intelijen Turki. Yang lain mengklaim kami bekerja untuk badan-badan intelijen Qatar atau Arab Saudi. Dikatakan bahwa kami adalah intelijen AS. Kami dituduh berafiliasi dengan intelijen Inggris, Mossad, IS, JFS. Tuduhan yang bertentangan ini menunjukkan bahwa kami melakukan pekerjaan yang kredibel di Suriah. Dengan tujuan melayani rakyat Suriah, motto dari karya yang telah kami dedikasikan adalah, “Dan siapa pun yang menyelamatkannya – seolah-olah dia telah menyelamatkan umat manusia sepenuhnya,” yang merupakan ayat 32 surat Al-Maidah dari Quran. Jadi jelas apa yang dikatakan Allah Yang Maha Kuasa. Menyelamatkan seseorang berarti menyelamatkan semua umat manusia. Saya percaya pada kebesaran dari pekerjaan yang kami lakukan, dan itu membutuhkan pengorbanan besar.

Q: Apakah Anda sayap Suriah dari intelijen Inggris, MI6? Salah satu tuduhan terhadap Anda adalah bahwa mantan pakar keamanan dan perwira intelijen Inggris mendirikan White Helmets.

Al-Saleh: Pertama-tama, dia bukan salah satu pendiri grup kami. Kami belum pernah memiliki pendiri. Ini tidak benar. Tidak ada orang yang bisa Anda katakan sebagai pendiri kami. Saya yakin Anda berbicara tentang James Le Mesurier. Dia adalah pendiri Mayday Rescue. Mayday Rescue hanyalah sebuah organisasi yang mendukung White Helmets.

The Civil Defence (White Helmets) didirikan pada tahun 2013. Sedangkan Mayday Rescue, saya kira didirikan pada tahun 2014. James menjalankan salah satu lembaga yang mendukung White Helmets, namun tidak berarti ia mendirikan White Helmets.

Seperti yang baru saja saya katakan, White Helmets didirikan oleh pemuda Suriah. Terlebih lagi, mereka yang bukan orang Suriah tidak dapat bekerja dengan White Helmets.

Bersambung…

Baca juga: 

Oposisi Suriah Tolak Pengerahan Pasukan Rusia ke Zona Demiliterisasi Idib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Aliansi oposisi di Suriah Idlib mengatakan bahwa mereka menentang pengerahan pasukan Rusia ke zona demiliterisasi yang akan dibentuk di bawah kesepakatan Turki-Rusia untuk kubu oposisi.

Juru bicara Front Pembebasan Nasional Naji Mustafa mengatakan kepada Al Arabiya English bahwa “Idlib berada dalam situasi baik dengan opini publik yang dapat menerima perjanjian Sochi, tetapi sekarang beberapa daerah sering sekali diserang oleh artileri rezim Suriah.”

Kesepakatan yang disepakati bulan lalu antara Ankara dan Moskow menyediakan pembentukan zona penyangga berbentuk U di sekitar Idlib yang akan bebas dari pejuang dan senjata berat.

Baca juga: 

Buffer akan dipatroli oleh pasukan Turki dan polisi militer Rusia.

Front Pembebasan Nasional, sebuah aliansi oposisi dukungan Turki yang kuat di Idlib, dengan hati-hati menyambut kesepakatan itu tetapi sejak itu mengajukan keberatan.

“Pertemuan panjang diadakan dengan sekutu Turki kami mengenai unsur-unsur perjanjian, dan terutama masalah kehadiran Rusia di daerah penyangga,” kata Mustafa pada Ahad malam.

“Kami membahas masalah ini, dan NLF mengambil posisi yang jelas menolak masalah ini,” katanya, menambahkan bahwa Turki “berjanji bahwa itu tidak akan terjadi”.

Baca juga: 

Mustafa menambahkan bahwa zona penyangga tidak akan membuat dampak besar.

“Senjata berat kami berada di pangkalan kami yang bukan bagian dari zona ini karena sebagian besar berada dekat pertempuran,” katanya.

Mustafa juga mengatakan kepada Al Arabiya English bahwa mereka tidak akan mengubah lokasi pangkalan dan front mereka, dan bahwa pejuang mereka akan “tetap siap”, oleh karena itu zona penyangga tidak akan mempengaruhi kegiatan militer mereka.

Kesepakatan atas Idlib dicapai pada 17 September oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitra Turki Recep Tayyip Erdogan di kota wisata Rusia, Sochi.

Berdasarkan perjanjian itu, semua faksi di daerah penyangga yang direncanakan harus menyerahkan senjata berat mereka pada 10 Oktober dan kelompok radikal harus mundur pada 15 Oktober.

Baca juga: 

Pernyataan Mustafa pada hari Ahad adalah indikasi terbaru dari berlanjutnya perpecahan dan kebingungan atas kesepakatan itu.

Observatorium Suriah untuk Pemantau Hak Asasi Manusia mengatakan pada hari Ahad bahwa sebuah faksi NLF yang dikenal sebagai Faylaq al-Sham telah mulai menarik keluar senjata berat mereka dari tiga kota di zona yang direncanakan.

Baik Faylaq al-Sham dan NLF menolak penarikan ke AFP.

“Tidak ada perubahan lokasi senjata atau redistribusi pejuang, bahkan saat kami tetap berkomitmen dengan kesepakatan yang dicapai di (resor Rusia) Sochi,” kata Sayf al-Raad.

Idlib terletak di perbatasan dengan Turki dan dikuasai oleh sejumlah faksi oposisi dan jihadis, yang diperkirakan oleh para pengamat akan mempersulit penciptaan zona penyangga.

Sebagian besar wilayah di mana penyangga akan didirikan dipegang oleh Hayat Tahrir al-Sham, aliansi pimpinan jihadis, dan kelompok jihadis utama.

HTS belum secara resmi mengomentari kesepakatan itu, tetapi pemimpinnya Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani sebelumnya telah memperingatkan bahwa senjata oposisi adalah “garis merah (the red line)”.

Baca juga: 

Hurras al-Deen, kelompok kecil yang terkait dengan Al-Qaeda, telah menolak perjanjian itu.

Sebelumnya pada hari Sabtu, kelompok oposisi yang didukung AS Jaish al-Izza mengikutinya, mengatakan kesepakatan itu “member jaminan bagi Bashar al-Assad”.

Hamitoglu mengatakan bahwa setelah Turki menempatkan titik pengamatan di Idlib, Hayat Tahrir al-Sham mulai “melihat secara rasional pada peristiwa-peristiwa itu”.

“HTS hanya diam atas kehadiran Turki di Idlib. Tidak ada konflik atau keberatan. Oleh karena itu mereka mungkin berpikir bahwa kehadiran Turki di Idlib akan lebih baik untuk Suriah,” katanya. Pada Anadolu Agency.

“Di antara oposisi – termasuk HTS – ada kepercayaan terhadap Turki tetapi pada saat yang sama ada ketidakpercayaan terhadap Rusia dan Assad,” katanya.

Oposisi saat ini terjebak di antara dua sikap ini,” tambahnya.

HAMAS Sampaikan Belangsungkawa atas Musibah Gempa Tsunami di Sulawesi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Biro Politik Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah (HAMAS) Palestina, Ismail Haniyah turut berbelasungkawa atas musibah gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo itu, Ismail Haniya mendoakan para korban khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya agar dijaga oleh Allah SWT. Berikut isi surat lengkap HAMAS kepada Presiden Republik Indoensia, Joko Widodo yang dilansir dari Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU):

Telah sampai kepada kami, Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah (HAMAS), kabar menyedihkan dan duka terkait gempa bumi yang cukup dahsyat dan tsunami yang melanda Pulau Sulawesi, dimana bencana tersebut mengakibatkan ratusan jiwa rakyat Indonesia tercinta meninggal dan lainnya mengalami luka-luka. Bencana itu juga mengakibatkan kerusakan pada gedung-gedung, properti-properti, dan fasilitas-fasilitas umum.

Terkait bencana ini, kami mengirimkan ungkapan tulus dari rasa belasungkawa dan empati kami yang terdalam; kepada Yang Mulia bapak Presiden, kepada para korban meninggal dan luka-luka, serta kepada seluruh rakyat Indonesia tercinta.

Kami memohon kepada Allah SWT agar merahmati para korban yang meninggal dan memberikan kesembuhan segera bagi korban luka-luka.

Rasa solidaritas yang utuh juga kami haturkan kepada pemerintah Republik Indonesia tercinta dan rakyatnya yang mulia, khususnya penduduk di Pulau Sulawesi.

Kami berharap agar Allah SWT menjaga bangsa Indonesia, menjauhkan dari segala keburukan, dan menguatkan langkah dalam menangani bencana alam ini.

Kami juga berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan keamanan dan ketenteraman, dan menganugerahkan limpahan kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Ismai Haniyah
Kepala Biro Politik HAMAS-Palestina