Gencatan Senjata Berakhir, Israel Kembali Memborbardir Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Israel kembali membombardir Gaza sesaat setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, serta juga menolak memperpanjang jeda perang. Kata militer Israel, perang berlanjut dengan mengerahkan kekuatan penuh.

Jet tempur Israel mulai menyerang sasaran di Gaza pada Jum’at (01/12/2023), dilaporkan kementerian dalam negeri Gaza serangan udara menghantam bagian selatan daerah yang terkepung tersebut, termasuk komunitas Abasan di timur kota Khan Younis. Serangan udara lainnya menghantam sebuah rumah di barat laut Kota Gaza.

Ledakan keras dan bertubi tubi terdengar dari seluruh Jalur Gaza hingga asap hitam mengepul dari wilayah tersebut.

Di Israel, sirene berbunyi di tiga peternakan dekat Gaza, memperingatkan akan adanya tembakan roket dan menandakan bahwa Hamas juga melanjutkan serangannya.

Militer Israel mengumumkan serangan dimulai hanya berselang 30 menit setelah jeda perang berakhir, gencatan senjata yang dimulai pada 24 November lalu telah berakhir pada Jum’at (01/12) pukul 12.00 wib.

“Setidaknya 21 warga Palestina tewas di Gaza dalam dua jam pertama setelah tentara Israel melanjutkan serangannya”, kata kementerian kesehatan Gaza.

Ini termasuk dua orang yang tewas di Beit Lahia di Gaza utara; tujuh di Maghazi di Gaza tengah; satu di Khan Younis; dua di kota Hamad; dan sembilan di Rafah, semuanya di Jalur Gaza selatan.

Sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa kini berdesakan di wilayah selatan tanpa jalan keluar setelah Israel menginstruksikan ratusan ribu orang untuk mengungsi dari wilayah utara pada perang sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Israel menyerang Gaza selatan padahal terdapat banyak korban sipil.

Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober, setidaknya 15.000 warga Palestina syahid, termasuk lebih dari 6.000 anak-anak, telah terbunuh.

Sumber: Al Jazeera

Reporter: Samsul

Israel Nyatakan Jenin sebagai Zona Militer Terlarang

TEPI BARAT (jurnalislam.com)- Pasukan Israel secara brutal menetapkan Jenin, di Tepi Barat, sebagai zona militer terarang, pada 29 November, dimana terjadi serangkaian serangan brutal semalaman dan bentrokan sengit berlanjut hingga pagi hari.

“[Israel] menyatakan kota Jenin dan kamp pengungsi sebagai zona militer tertutup dan mengerahkan pasukan beserta bala bantuan besar di beberapa lingkungan,” demikian dilaporkan oleh kantor berita Palestina, WAFA.

Sumber-sumber lokal mengatakan pasukan Israel menyerbu kamp pengungsi Jenin pada Selasa malam (29/11/2023), meluncurkan “serangan besar-besaran” penangkapan di lingkungan timur, yang mengakibatkan “pecahnya konfrontasi sengit” antara tentara Israel dan pejuang perlawanan. Bentrokan terus berlanjut keesokan harinya, dan beberapa warga Palestina terluka.

Kantor berita WAFA menambahkan bahwa buldoser tentara dengan sengaja terus merusak infrastruktur di seluruh kamp, seiring penerbangan pesawat tak berawak yang besar di atasnya. Kehancuran terutama terjadi di lingkungan Al-Damj dan Al-Samran, dengan kerusakan lebih lanjut terjadi pada jalan-jalan kamp, serta sistem air dan limbah.

Pasukan Israel meluncurkan serangan pesawat tak berawak ke kamp Jenin dan meningkatkan pengepungan terhadap Rumah Sakit Ibnu Sina. Rumah sakit ini bersama dengan dua fasilitas kesehatan lainnya sebelumnya telah dikepung oleh pasukan Israel selama beberapa hari selama penggerebekan di kota tersebut. Awak ambulans juga ditahan di Rumah Sakit Pemerintah Jenin, yang juga berada di bawah pengepungan pasukan Israel.

“Penembak jitu dilaporkan ditempatkan di atap beberapa bangunan di kota dan sekitar kamp pengungsi Jenin selama penggerebekan yang masih berlangsung hingga saat ini. Hal ini meningkatkan tingkat ketakutan di kalangan warga.” tulis WAFA.

Sementara itu juru bicara Hamas, Ghazi Hamad, mengatakan kepada majalah News Week pada tanggal 29 November, “Perjanjian gencatan senjata hanya terbatas di Jalur Gaza. Kami mengikuti apa yang terjadi di Tepi Barat dalam kaitannya dengan pelanggaran serius oleh Israel, dan kami menegaskan komitmen kami untuk melawan penjajah dimanapun itu berada.”

Kelompok perlawanan yang terafiliasi dengan Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) aktif di Tepi Barat yang diduduki dan terlibat dalam bentrokan dengan pasukan Israel hampir setiap hari.

Sebagaimana diketahui, tentara Israel melakukan penggerebekan sebelumnya di Jenin pada 25 dan 26 November, yang mengakibatkan kematian lima warga Palestina, serta kerusakan infrastruktur kamp yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sumber: The Cradle

Reporter: Bahri

Gencatan Senjata Hamas dan Israel Kembali Diperpanjang

GAZA (jurnalislam.com)- Israel dan Hamas mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir pada Kamis (30/11/2023) untuk memperpanjang gencatan senjata mereka hingga hari ketujuh.

Diperpanjangnya Gencatan senjata tersebut memungkinkan lebih banyak lagi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masuk ke Gaza, sebuah wilayah pesisir berpenduduk 2,3 juta orang yang menjadi luluh lantak akibat di bombardir oleh Israel sejak 7 Oktober silam.

Israel meminta Hamas membebaskan 10 sandera per hari sebagai syarat gencatan senjata, pihaknya telah menerima daftar orang-orang yang akan dibebaskan pada menit-menit terakhir pada hari Kamis, yang membuat Israel mengurungkan rencana melanjutkan pertempuran saat fajar.

“Para mediator berupaya untuk melanjutkan proses pembebasan sandera dan tunduk pada aturan yang sudah ditentukan, jeda perang akan terus berlanjut,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, yang dirilis beberapa menit sebelum gencatan senjata berakhir pada pukul 12.00 wib.

Hamas, yang membebaskan 16 sandera pada Rabu sementara Israel membebaskan 30 tahanan Palestina, juga mengatakan gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, yang mengunjungi Israel, mengatakan upaya terus dilakukan untuk memperpanjang gencatan senjata.

“Kami telah melihat selama seminggu terakhir perkembangan yang sangat positif dari para sandera yang pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Dan hal itu harus dilanjutkan hari ini,” katanya dalam pertemuan dengan Presiden Israel Isaac Herzog.

“Hal ini juga memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk diberikan kepada warga sipil tak berdosa di Gaza yang sangat membutuhkannya. Jadi proses ini membuahkan hasil. Ini penting, dan kami berharap hal ini dapat terus berlanjut.” imbuhnya.

Hingga saat ini, Hamas telah membebaskan 97 sandera selama gencatan senjata, termasuk 70 perempuan dan anak-anak Israel. Setiap pembebasan melibatkan imbalan berupa pembebasan tiga tahanan perempuan dan remaja Palestina. Selain itu, 27 sandera asing juga dibebaskan sesuai dengan perjanjian dengan pemerintah mereka.

Dengan semakin sedikitnya jumlah perempuan dan anak-anak Israel yang ditahan, perpanjangan gencatan senjata selanjutnya perlu mempertimbangkan pembebasan tahanan pria dan tentara Israel.

Sumber: Reuters

Reporter: Samsul

Jumlah Tentara Israel yang Terluka dalam Operasi Darat di Gaza Terungkap

PALESTINA (jurnalislam.com)- Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan bahwa sekitar 1.000 tentara Israel mengalami luka sejak dimulainya perang dan operasi darat di Jalur Gaza. Dari jumlah tersebut, 202 tentara dalam kondisi kritis, 320 mengalami luka sedang, dan sekitar 470 orang mengalami luka ringan.

Menurut Haaretz, awalnya, tentara Israel menolak mengungkapkan data mengenai jumlah dan kondisi tentara yang terluka. Namun, baru-baru ini, mereka setuju untuk memberikan informasi ini.

Israel secara resmi mengumumkan jumlah korban personelnya yang tewas sejak 7 Oktober adalah 392 orang, namun tanpa menyebutkan secara spesifik bagaimana atau di mana mereka tewas.

Perlu dicatat bahwa hingga Rabu lalu (22/11), jumlah korban tewas tentara pendudukan Israel bertambah menjadi 71 perwira dan tentara sejak dimulainya operasi darat di Gaza pada tanggal 27 Oktober.

Informasi ini didasarkan pada pengumuman harian dari tentara Israel, sementara Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, mengklaim bahwa jumlah sebenarnya lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.

Sebagaimana diketahui, saat ini pertempuran di wilayah tersebut berhenti sejak Jum’at lalu (24/11), menyusul gencatan senjata sementara demi kemanusiaan antara zionis Israel dan faksi-faksi perlawanan di Palestina, yang dilaksanakan selama jangka waktu 4 hari yang kemudian diperpanjang selama dua hari tambahan pada Senin malam.

Sumber: watan

Reporter: Bahri

Perlakukan Putri Kecilnya Bak Ratu, Seorang Ibu asal Israel Ini Menulis Surat Cinta Pada Hamas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Danielle Aloni menulis surat emosional yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pejuang Hamas atas perhatian yang mereka berikan kepada putrinya Emilia selama 49 hari ditawan di Gaza yang terkepung.

Danielle Aloni dan putrinya Emilia, 5, disandera oleh Hamas selama 49 hari di Gaza yang terkepung.

Pada tanggal 24 November, ibu dan anak perempuan Israel tersebut dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel untuk dipertemukan kembali dengan kerabat mereka.

Sebelum meninggalkan Gaza, Danielle Aloni menulis surat “ucapan terima kasih” kepada Hamas yang berbunyi, “Saya berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas kemanusiaan luar biasa yang Anda tunjukkan terhadap putri saya, Emilia.”

Brigade Qassam, yang merupakan sayap bersenjata Hamas, membagikan surat tersebut di akun Telegram resminya pada tanggal 27 November.

Surat itu awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan disertai terjemahan bahasa Arab, dan disampingnya terdapat foto ibu dan putrinya itu.

Pada surat itu, Danielle berkata: “Dia (Emilia) merasa bahwa kalian semua adalah temannya, bukan hanya teman, tapi benar-benar mencintainya dan berlaku baik padanya”.

Aloni mengakui ia diperlakukan sangat baik selama menjadi tawanan di Gaza dan menulis: “Terima kasih atas waktu yang kalian luangkan menjadi pengasuh bagi Emilie.”

Ia menyatakan putrinya tidak hanya terikat dengan Hamas tetapi juga merasa seperti seorang ratu.

“Anak-anak seharusnya tidak disandera, namun terima kasih kepada kalian dan orang-orang baik lainnya yang kami temui selama ini, putri saya merasa menjadi seorang ratu di Gaza,” katanya

Aloni mengakhiri suratnya dengan cinta kasihnya kepada Hamas, dengan menyatakan: “Aku akan mengenang perlakuan baik kalian meskipun kalian dalam situasi sulit dan kerugian besar yang Anda derita di sini di Gaza.”

“Saya berharap di dunia ini kita benar-benar bisa menjadi teman baik,” tulisnya dan mendoakan warga Gaza. “Saya berharap kakian semua sehat dan sejahtera… semoga selalu diberi kesehatan dan cinta untuk kalian dan keluarga kalian.”

Danielle dan Emilia Aloni termasuk di antara 24 sandera Israel yang dibebaskan oleh Hamas pada 24 November. Mereka sedang, mengunjungi saudara perempuan Danielle dan keluarganya di Kibbutz Nir Oz di Israel selatan sebelum disandera.

Reporter: Samsul

Krisis Kesehatan di Gaza Utara, Hanya 3 Rumah Sakit yang Masih Beroperasi

GAZA (jurnalislam.com)- Sistem kesehatan di Gaza terjerumus ke kondisi tragis akibat serangan militer besar-besaran zionis Israel. Selama gencatan senjata sementara demi kemanusiaan yang berlangsung empat hari, bantuan yang diizinkan Israel masuk ke wilayah tersebut sangat terbatas.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan bantuan yang telah dikirim ke wilayah Palestina selama “jeda kemanusiaan” “sangat terbatas dan tidak mencukupi”.

Kini, Gaza Utara hanya memiliki tiga rumah sakit yang beroperasi, melayani sekitar 900.000 orang, dan rumah sakit tersebut hampir runtuh.

“Jumlah bantuan medis dan bahan bakar yang tiba di Gaza, terutama wilayah utara Jalur Gaza, sangat terbatas dan tidak mencukupi, mengingat kondisi kesehatan rumah sakit yang sangat buruk,” kata Munir Al Bursh, direktur jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, pada Ahad (26/11/2023)

“Obat-obatan dan pasokan medis harus dibawa ke Gaza dalam jumlah besar, sejalan dengan situasi kesehatan yang buruk di jalur tersebut,” tambahnya.

Dia menekankan perlunya memperkuat sistem kesehatan di Gaza dan wilayah utara serta menyediakan layanan kesehatan yang memadai.

“Hanya tiga rumah sakit yang beroperasi di Jalur Gaza utara, yaitu Al Maamadani, Al Awda, dan Kamal Adwan,” kata Bursh, seraya memperingatkan “keruntuhan rumah sakit tersebut.”

Dia menggambarkan situasi kesehatan di Gaza secara umum sebagai “bencana yang luar biasa dan kurangnya komponen kesehatan yang diperlukan,” pungkasnya.

Kamis lalu (23/11), kantor media pemerintah di Gaza menyatakan bahwa 26 rumah sakit dan 55 pusat kesehatan di wilayah tersebut tidak dapat beroperasi. Pasukan zionis Israel juga menargetkan 55 ambulans, sementara puluhan lainnya tidak dapat digunakan karena kekurangan bahan bakar.

Sumber: trtworld

Reporter: Bahri

Israel dan Hamas Sepakat Gencatan Senjata di Gaza Diperpanjang 2 Hari

GAZA (jurnalislam.com)- Jeda kemanusiaan dalam pertempuran antara Israel dan Hamas akan diperpanjang dua hari, demikian kata mediator Qatar dan Hamas. Keputusan ini diambil beberapa jam sebelum gencatan senjata tahap awal selama empat hari di Gaza berakhir.

“Negara Qatar mengumumkan bahwa, sebagai bagian dari mediasi yang sedang berlangsung, kesepakatan telah dicapai untuk memperpanjang gencatan senjata kemanusiaan selama dua hari tambahan di Jalur Gaza,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari pada akun X atau Twitter, pada Senin (27/11/2023).

Qatar, Amerika Serikat dan Mesir telah terlibat dalam negosiasi yang intens untuk membangun dan memperpanjang gencatan senjata di Gaza.

Ghazi Hamad, seorang pejabat Hamas, mengatakan bahwa dia berharap gencatan senjata dapat diperpanjang.

“Itu [perpanjangan gencatan] tertulis dalam perjanjian, bahwa jika Hamas memberikan lebih banyak sandera, akan ada lebih banyak hari gencatan senjata,” katanya kepada Al Jazeera.

“Kami kini sepakat untuk membebaskan lebih banyak sandera dan memperpanjang perjanjian selama dua hari. Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat kami, khususnya masyarakat Gaza,” sambungnya.

Lebih lanjut, Ghazi Hamad juga mengungkapkan bahwa Hamas ingin segera mengakhiri perang ini,

“Saya berharap kita dapat memperpanjangnya hingga kita mencapai akhir perang ini. Kami ingin mengakhiri perang,” terangnya.

“Kami berada dalam gencatan senjata sementara, namun kami berupaya untuk memperpanjangnya. Ada banyak dukungan dari Qatar, Mesir dan banyak negara Barat untuk mengakhiri bencana ini,” pungkasnya.

Selama gencatan senjata sementara tahap awal, total 50 tawanan sipil, semuanya perempuan dan anak-anak, telah dibebaskan oleh Hamas.

Sebagai imbalannya, 150 tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel akan dibebaskan serta bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Gaza.

Sumber: Al Jazeera

Reporter: Bahri

Surat Tawanan Israel kepada Brigade Al-Qassam, Bagi Putriku Kalian Sudah Seperti Orang Tuanya

GAZA (jurnalislam.com)- Brigade Al-Qassam merilis surat dari tawanan yang baru saja dibebaskan, Duniyal dan putrinya Amelia, warga Israel. Surat tersebut mengungkapkan rasa terima kasih atas perlakuan baik dan perhatian khusus yang mereka terima selama beberapa minggu terakhir di tangan Al-Qassam.

Surat yang ditulis Duniyal tertanggal 23 November 2023 tersebut memuat pengakuan atas perhatian khusus yang diberikan kepada putrinya, Amelia, selama masa tawanan mereka. Amelia dianggap seperti seorang ratu di Gaza, dan mereka mengapresiasi sikap baik dan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Al-Qassam, meskipun menghadapi situasi sulit di Gaza.

Berikut isi suratnya,

Kepada para jenderal yang telah menemani saya beberapa minggu terakhir ini, sepertinya kita akan berpisah besok, namun saya ucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam.

Untuk belas kasih yang unik yang kamu tunjukkan kepadaku.

Bagi putriku Amelia, kamu sudah seperti orang tuanya, mengundangnya ke kamarmu di setiap kesempatan yang dia inginkan.

Dia mengaku merasa seolah-olah kalian semua adalah temannya, dan bukan hanya sekedar teman, tapi teman akrab yang sangat baik. Terima kasih, terima kasih, terima kasih atas banyak waktu yang kalian habiskan untuk kami.

Kalian seperti pengasuh baginya. Terima kasih telah bersabar padanya dan menghujaninya dengan permen, buah-buahan, dan segala sesuatu yang ada meskipun tidak tersedia dengan cukup.

Anak-anak tidak boleh ditawan, tetapi terima kasih kepada kalian dan orang-orang baik lainnya yang telah kami kenal selama ini.

Putri saya menganggap dirinya seperti seorang ratu di Gaza…dan secara umum dia mengaku merasa dirinya adalah pusat dunia. Kami tidak bertemu seseorang dalam perjalanan panjang kami, dari ras hingga pemimpin, yang berperilaku baik dan penuh kasih sayang terhadapnya, seperti kalian memperlakukan putriku.

Dan cinta. Saya akan selamanya menjadi tawanan rasa terima kasih, karena dia tidak pergi dari sini bersama trauma psikologis selamanya. (Maksudnya tidak alami trauma).

Saya akan menyebutkan kepada Anda tindakan baik yang Anda tunjukkan di sini meskipun Anda menghadapi situasi sulit dan kerugian besar yang menimpa Anda di sini di Gaza. Saya berharap di dunia ini kita bisa menjadi teman yang benar-benar baik.

Saya doakan kalian semua dalam keadaan sehat.

Kesehatan dan cinta untuk Anda dan anggota keluarga Anda. Terima kasih banyak

Duniyal dan Amelia

Sebagaimana diketahui, Duniyal berserta putrinya Amelia merupakan salah satu tawanan yang dibebaskan Hamas dengan imbalan pertukaran tawanan dari warga Palestina yang berada di penjara Israel juga harus dibebaskan sesuai kesepakatan dalam perjanjian gencatan senjata sementara selama 4 hari di Gaza.

Tanggapi Tragedi Bitung, LUIS Sebut Pengibaran Bendera Israel Menyalahi Konstitusi

SOLO (jurnalislam.com)- Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, oleh sebab itu pengibaran bendera Israel di Indonesia adalah terlarang.

Hal itu ia katakan menanggapi adanya pengibaran bendera Israel yang dilakukan Masyarakat Adat Makatana Minahasa dan Laskar Kristen Manguni Makasiou yang menyerang Barisan Solidaritas Muslim (BSM) yang menggelar aksi damai bela Palestina di Bitung pada Sabtu, (24/11/2023).

“Untuk itu kami meminta kepada Kapolri dan panglima TNI, yang pertama bahwa pengibaran bendera ‘Israel’ di Indonesia terlarang sebagaimana peraturan menteri luar negeri yang kedua suatu saat yang akan datang tidak boleh kebijakan luar negeri Indonesia yang pro Palestina dan anti terhadap penjajahan Israel ini ada ormas di Indonesia yang kemudian melakukan provokasi, dimana ada bendera Israel disana,” katanya kepada jurnalislam pada Ahad, (25/11/2023).

“Untuk itu ada baiknya kemudiaan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan kegiatan semacam di Bitung ini, untuk kegiatan pengibaran bendera dimanapun di Indonesia mestinya adanya penyikapan lebih awal sehingga tidak perlu ada bentrokan yang menyebabkan gangguan kamtibmas khususnya terkait masalah sara,” imbuh Endro.

Endro berharap apa yang terjadi di Bitung tidak merembet ke tempat yang lain, untuk itu ia mendesak aparat kepolisian untuk bisa menangkap pelaku dan aktor intelektual dibalik penyerangan yang menyebabkan 1 orang tewas dan 2 lainnya luka luka tersebut.

“Kita berharap kejadian di Bitung diselesaikan di Bitung walaupun kemudian solidaritas umat Islam di Indonesia itu tanpa batas, bahkan di luar negeri karena masalah keyakinan tidak bisa dibatasi,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari

Buntut Penyerangan Laskar Manguni ke Massa Pro Palestina, LUIS Desak Kapolri Evaluasi Kinerja Kapolres Bitung

SOLO (jurnalislam.com)- Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono menanggapi soal penyerangan yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Makatana-Minahasa dan Laskar Kristen Manguni Makasiou terhadap Barisan Solidaritas Muslim (BSM) yang melakukan aksi damai bela Palestina di Bitung pada Sabtu, (25/11/2023).

“Dari LUIS menyayangkan kejadian di Bitung dimana 2 ormas melakukan kegiatan yang bersamaan, kita perlu evaluasi Kapolres Bitung dimana kegiatan pro Palestina yang sudah melakukan kegiatan perijinan lebih awal kemudian ada tandingan dan tandingan ini diawali dengan semacam ketidakterimaan atas aksi Palestina,” katanya.

“Semestinya dari Polres bisa mengantisipasi, bisa memisahkan, bisa menyekat sehingga tidak perlu adanya keributan semacam itu dimana ada perusakan terhadap ambulan dan penganiayaan terhadap peserta yang pro Palestina,” imbuhnya.

Saat ini, aparat kepolisian Bitung sudah menetapkan 7 orang tersangka atas kasus yang menyebabkan 1 orang tewas dan 2 orang lainnya luka luka.

Endro menegaskan bahwa aparat kepolisian harus bisa menegakkan hukum seadil adilnya agar apa yang terjadi di Bitung tersebut tidak menyebabkan konflik di tempat lain.

“Terkait penegakan hukum, jika kemudian rasa keadilan, kemudian diskriminasi itu terjadi di Indonesia apalagi di Bitung saat ini, kita khawatir kemudiaan ketidakpuaaan itu masih berada sehingga kita minta Kapolres Bitung kemudiaan Polda Sulawesi Utara melakukan tindakan khususnya mengamankan mereka yang membawa bendera Israel maupun orang yang melakukan tindakan anarkisme baik pengerusaan maupun penganiayaan,” pungkasnya.

Reporter: Iwan Kurniawan