Hari Terakhir Hijrahfest 2019 Akan Didedikasikan Untuk Almarhum Ustaz Arifin Ilham

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Almarhum Ustaz Arifin Ilham dijadwalkan menjadi pembicara dalam gelaran Hijrahfest Ramadhan 2019 di Jakarta Convention Center (JCC) Hall A & B, Senayan.

Founder Hijrahfest, Arie Untung mengatakan bahwa kepergian Ustaz Arifin Ilham merupakan sebuah pukulan baginya, khususnya di teman-teman komunitas Hijrahfest. Hal tersebut dikarenakan beliau merupakan ustaz yang diundang pertama kali saat bulan November lalu dan beberapa hari sebelum acara meminta cancel dengan alasan kesehatan.

“Karena beliau merupakan salah satu ustadz pertama waktu November kemarin yang kita datangi juga, beliau mengisi beberapa hari sebelumnya langsung cancel dengan alasan kesehatan,” kata Arie di JCC, Jumat (24/5/2019) dilansir Kiblatnet.

Oleh karena itu, Arie berencana akan mendedikasikan hari terakhir acara untuk Ustadz Arifin Ilham, apalagi nama Arifin Ilham juga telah dicetak dalam kaos acara. Arie mengatakan,  pihaknya akan mengundang keluarga dan para ustaz pada pada hari terakhir Hijrah Fest Ramadhan nanti.

“Namanya sudah ada di baju kita tuh, dan hari terakhir kita akan dedikasikan untuk beliau, buat penutupan acara. Insya Allah kita bisa mengundang keluarga atau juga mungkin para guru-guru ustaz akan berkumpul di hari akhir nanti,” jelasnya.

Bagi Arie, Ustaz Arifin Ilham adalah seorang ulama yang istiqomah. Selain itu semasa hidupnya beliau juga sering mendapatkan serangan kata-kata dari berbagai pihak, namun beliau menerima dan mengerti bagaimana melewati semua itu, termasuk dalam menghadapi sakitnya.

“Beliau itu, ya semua ustadz merasakan banyak sekali serangan secara kata-kata, secara banyak lah. Memang diantara orang ada yang suka, ada yang nggak suka, beliau termasuk dari orang yang banyak di kehidupan beliau untuk menerima itu dan bagaimana caranya untuk melewatinya itu, luar biasa, nggak mungkin mental kita seperti beliau untuk menghadapi berbagai cobaan, ya termasuk dalam menghadapi sakitnya, sebuah cobaan yang perlu kita pelajari hikmahnya,” ungkapnya.

Arie juga membandingkan kematian Ustadz Arifin Ilham dengan kematian Rasulullah SAW, yang mana Rasulullah meninggal diawali dengan sakit serta bersyukur dan semangat dalam menghadapinya.

“Jadi beliau meninggalnya seperti Rasulullah, diawali sakit, dalam menyingkapi sakitnya dengan cara bersyukur, dengan cara memberikan semangat, terakhir kali kita jenguk aja nggak bisa bicara, tapi dia masih berusaha menyambut kita dengan baik, kita jangan masuk dulu, dia mau duduk, dia keliatannya bisa duduk demi untuk bisa menyambut kita. Masya Allah,” tutur Arie.

Sumber: Kiblatnet

Tausyiah Habib Novel Alaydrus di Hijrah Fest 2019, Dakwah Harus Inovatif

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Majelis Ar-Raudah Solo Habib Novel Alaydrus memuji gelaran Hijrah Fest yang digagas presenter kenamaan, Arie Untung. Habib Novel mengatakan, dakwah itu inovatif.

“Dakwah itu gak boleh kaku, monoton,” katanya kepada Jurnalislam.com di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (25/5/2019).

Ia menyampaikan, zaman terus berkembang demikian pula dengan dakwah. Akan tetapi, kata dia, agama tidak boleh berubah karena agama adalah dasarnya.

“Agama tidak berubah, tetapi agama bahan dasar, bahan baku. Kita bisa mengambil bagian-bagian yang bisa disesuaikan di setiap waktunya mengikuti zaman,” ujarnya.

Habib Novel menilai, Hijrahfest harus terus dikembangkan ke daerah-daerah sebagai upaya untuk mengurangi event-event negatif yang digandrungi oleh generasi muda.

“Hijrahfest harus dikembangkan, tidak hanya di ibu kota saja. Daerah-daerah, kabupaten juga harus bikin. Agar acara ini dapat menggeser acara-acara yang kurang baik,” tuturnya.

Seperti diketahui, hijrah fest secara resmi dibuka pada Jumat 24 Mei 2019 oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Acara pun berlangsung sampai Minggu 26 Mei 2019.

Ombudsman: Pemerintah Berlebihan Blokir Media Sosial

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Kebijakan pemerintah membatasi akses penggunaan media sosial alias medsos merupakan tindakan berlebihan. Karena tingkat ketergantungan masyarakat pada medsos saat ini sangat tinggi.

“Saya lihat ini agak berlebih terlalu jauh pemerintah mengambil tindakan memblokir medsos. Karena, medsos ini sekarang sudah semakin canggih dan masyarakat, termasuk rakyat dibangsa ini, ketergantungannya tinggi terhadap medsos,” kata Komisioner Ombudsman RI Laode Ida melalui rilis yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (24/5/19).

Menurut Laode, penggunaan medsos itu bukan hanya soal mendapatkan informasi, namun juga banyak pekerjaan, agar lebih efisien, memanfaatkan medsos. Seperti mengirim surat melalui WhatsApp (WA).

Oleh sebab itu, jika pembatasan medsos ini masih berlanjut, artinya pemerintah telah menganggu pelayanan publik.

“Ini sudah menjadi bagian dari sumber kehidupan orang di samping orang kerja. Ketika saya harus mengirim perintah kepada teman, mengirim surat untuk memperlancar kerja kami, ternyata tidak bisa dikirim lewat WA, karena masih terganggu. Itu artinya menganggu, menganggu pelayanan publik secara umum,” kata Laode.

Selain itu, pemerintah juga sudah membatasi hak warga negara untuk memperoleh informasi dengan menggunakan teknologi.

“Artinya, penghapusan hak orang menjadi terganggu. itu pelanggaran hak warga sebetulnya,” kata Laode.

Ustaz Arifin Ilham di Mata Keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wafatnya ulama muda karismatik, KH Muhammad Arifin Ilham meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir.

Bagi keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, KH Muhammad Arifin Ilham atau Ustaz Arifin Ilham adalah sosok orang soleh yang ada di Indonesia. Ustaz Arifin Ilham adalah salah satu mencusuar bagi umat Islam Indonesia.

“Kita (keluarga Ustaz Abu) sangat kehilangan, beliau adalah pilar umat, bukan hanya pilar ya tapi salah satu mercusuar umat. Bbeliau ini menjadi mercusuar itu artinya menjadi penunjuk jalan bagi umat ini ke mana seharusnya umat harus melangkah dan bagaimana harus bersikap,” kata putra bungsu Ustaz Abu, Abdul Rochim Ba’asyir kepada Jurnal Islam, Jumat (24/5/2019).

Almarhum Ustaz Arifin Ilham, kata dia, adalah sosok yang berjiwa besar dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam tubuh umat Islam dan rendah hati.

“Dimana-mana beliau selalu mengistilahkan diri beliau sebagai Ananda kepada orang-orang yang lebih tua pada beliau, dan kepada siapa pun beliau selalu menggunakan istilah yang sifatnya betul-betul mendekatkan hati, kadang dengan yang lebih tua sedikit, yang disebut Kakanda, termasuk kepada ustadz Bakar Ba’asyir,” ujarnya.

Ustaz Arifin Ilham bukanlah sosok asing bagi keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Ia termasuk salah satu ulama terkemuka yang berani menunjukkan pembelaannya kepada Ustaz Abu Bakar Ba’asyir ketika Ustaz Abu didera fitnah terorisme.

“Kami salut dengan sikap beliau pada saat dahulu Ustaz Abu Bakar Ba’asyir mendapatkan ujian fitnah terorisme, di saat-saat dimana semua orang menjauhi ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan takut untuk bertemu dengan beliau tapi ustadz Arifin ini almarhum ini mendatangi dan menemui beliau, padahal saat itu Ustaz Arifin sedang di puncak ketenarannya,” ungkapnya.

“Artinya kesetiakawanannya dan hormat kepada sosok Ustaz Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan sosok dai yang berjuang yang selama ini berjuang untuk menegakkan syariat Islam beliau bela walau dengan kemampuan yang ada. Beliau tidak takut sama sekali kehilangan popularitasnya, subhanallah ini sebuah jiwa begitu murni dan luar biasa sekali dan mudah-mudahan itu semua menjadi bukti hujjah atau kesaksian kita untuk melihat beliau sebagai orang sholeh, Insyaallah dan merupakan sosok yang luar biasa sekali kita lihat,” sambungnya.

Mewakili keluarga, pria yang karib disapa Ustaz Iim ini menyampaikan takziyah dan doa untuk almarhum Ustaz Arifin Ilham. Ia mendoakan, semoga ustaz Arifin diterima di sisi Allah Subhanahu ta’ala ditempatkan di tempat yang mulia bersama para iliyin (orang-orang yang berbakti kepada Allah, yang disaksikan malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah), dengan para syuhada, dan para nabi nabi dan rasul.

“Karena orang-orang seperti beliau ini adalah orang-orang para pewaris Nabi dan Rasul yang mewarisi dakwah dan tugas-tugas untuk berdakwah di masyarakat dan membersihkan jiwa masyarakat ataupun umatnya kepada untuk kembali pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkasnya.

Terakhir kalinya Almarhum Ustaz Arifin Ilham bertemu dengan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir adalah ketika ia mengunjungi Ustaz Abu di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat pada bulan suci Ramadhan tahun 2016, tepatnya pada tanggal 16 April 2016. Lapas Gunung Sindur yang memang tak jauh dari pondok pesantrennya.

Dalam pertemuan selam satu jam itu, Almarhum Ustaz Arifin Ilham menyampaikan pesan Ustaz Abu yaitu untuk terus berdakwah menegakkan syariat Islam.

“SubhanAllah walhamdulillah hari ketiga puasa, menjenguk beliau LP Gunung Sindur. Beliau lebih sehat dilayani dg baik, sholat jumat di mesjid, dan ditemani seorang mujahid muda yg hafidz bersama beliau dalam satu kamar yg nyaman. Alhamdulillah arifin menerima nasehat beliau kurang lebih setengah jam. Wasiat beliau terus kobarkan semangat da’wah tegaknya SYARIAT ALLAH. Dan beliau sangat tidak setuju bom teror seperti yg terjadi di negeri kita. Semoga Allah selalu menjaga para mujahidNya dalam kemuliaan,” tutur almarhum.

Ustadz Arifin Ilham: Yang Menang Jangan Sombong, Yang Kalah Muhasabah

Penghinanya Datang ke Az Zikra, Ini Jawaban Mengagumkan Ustadz Arifin Ilham

Mengenang Kembali Pesan Cinta Ustaz Arifin untuk Para Peserta Aksi 212

 

Masyarakat Tasikmalaya Mengutuk Keras Tindakan Represif Aparat

SINGAPARNA (Jurnalislam.com) – Aksi solidaritas untuk korban kerusuhan di Jakarta pada 21-22 Mei juga dilakukan masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya. Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Islam Tasikmalaya (FORMASIT) berunjuk rasa di depan Mapolres Tasikmalaya pada Jum’at (24/5/2019).

Koordinator aksi, Ustaz Yanyan Al Bayani menegaskan, unjuk rasat tersebut tidak ada kaitannya sama politik.

“Ini murni panggilan rasa peduli kita kepada para korban kebiadaban oknum aparat, tidak ada kaitannya sama sekali dengan 01 ataupun 02,” kata Ustaz Yanyan dalam orasinya.

Perwakilan massa diterima langsung oleh Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra, SIK dan beberapa orang dari Polda Jawa Barat di ruang rapat Mapolres Tasikmalaya.

Dalam mediasi, perwakilan Formasit lainnya, KH Anshari menyampaikan beberapa tuntutan kepada pihak kepolisian yang dituangkan dalam tujuh poin pernyataan sikap Formasit.

Kiai Anshari mengatakan, pihaknya mengutuk keras penyerangan oleh oknum aparat terhadap kaum muslimin dalam aksi 21 dan 22 Mei di Jakarta. Ia mendesak pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut.

“Mengutuk keras penyerangan oknum aparat di Masjid Al-Makmur Petamburan dan penyerangan oknum aparat kepada kaum muslimin di Jakarta 22 Mei 2019,” tegas Kiai Anshari

Ia juga meminta pemerintah dan aparat kepolisian untuk menghentikan kriminalisasi terhadap para ulama.

“Kami berharap aparat kepolisian bersikap adil dan semoga tuntutan kami ini bisa disampaikan kepada para pimpinan Polri sehingga tercipta ketenteraman dan kedamaian di NKRI,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra menyampaikan bahwa pihaknya akan menyampaikan aspirasi dari masyarakat Kabupaten Tasikmalaya kepada ke Mabes Polri.

Selain itu, Dony juga berpesan kepada perwakilan massa aksi untuk terus menjaga kondusifitas Kabupaten Tasikmalaya.

“Saya titipkan kepada para kyai, Ajengan dan tokoh masyarakat untuk terus bersinergi dalam menciptakan kondusifitas di Tasikmalaya,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, unjuk rasa menolak kecurangan pemilu 2019 di depan Kantor Bawaslu RI pada 21-22 Mei lalu berunjung ricuh. Sedikitnya 8 peserta aksi meninggal dan ratusan lainnya terluka.

Komnas HAM Didesak Bentuk TPF Kericuhan 22 Mei

Massa GNKR Gelar Tarawih dan Malam Nuzulul Qur’an di Depan Kantor Bawaslu

Polisi Bubarkan Massa Aksi yang Masih Bertahan di Depan Kantor Bawaslu

Kerusuhan Bawaslu Menelan Korban, Wiranto dan Kapolri Diminta Mundur

SOLO (Jurnalislam.com) – Ratusan masyarakat Soloraya menggelar aksi solidaritas untuk korban meninggal dalam kerusuhan 21-22 Mei di depan Mapolresta Surakarta, Jum’at (24/5/2019). Dalam Kerusuhan yang bermula dari depan kantor Bawaslu RI itu tercatat 8 orang meninggal dan 737 orang lainnya terluka. 

Massa menuntut Menkopolhukam Wiranto dan Kapolri Tito Karnavian bertanggung jawab atas jatuhnya korban dalam aksi menolak kecurangan pemilu 2019. Mereka juga mendesak keduanya mudur dari jabatannya karena dinilai tidak mampu mencegah jatuhanya korban jiwa.

“Penegakan hukum tidak boleh melanggar hukum, dan tetap menjunjung tinggi profesionalitas dan Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu kami meminta dengan hormat Bapak Wiranto, Kapolri dan Kapolda Metro Jaya untuk mengundurkan diri,” kata Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono.

Endro juga meminta Kapolri untuk mengevaluasi kinerja anak buahnya dalam melakukan penanganan pembubaran aksi-aksi yang dilakukan masyarakat.

“Berharap kepada Kapolri, agar mengevaluasi menyeluruh atas SOP pembubaran massa dengan menghindarkan korban meninggal dunia ataupun luka luka,” ungkapnya.

“Saat pembubaran massa tidak boleh ada tindakan yang mematikan kecuali, memperingatkan, menghalau atau melumpuhkan,” imbuhnya.

Dalam aksi solidaritas tersebut, massa menggelar buka bersama dan shalat maghrib berjamaah yang diakhiri dengan doa bersama untuk para korban kerusuhan 21-22 Mei.

AMM dan Tokoh Solo Kecam Tindakan Represif Kepolisian

FPI Benarkan Ada Anggotanya Gugur Ditembak Polisi

Anwar Abbas: Tindakan Represif Polisi Berdampak Buruk terhadap Kehidupan Bangsa

FPI Dorong Investigasi Menyeluruh Dugaan Hilangnya 57 Orang di Ricuh 22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Tim Investigasi FPI, Ali Alatas mengatakan akan mendorong Komnas HAM untuk melakukan investigasi korban hilang yang mencapai 57 orang.

“Kita dorong betul Komnas HAM melakukan investigasi menyeluruh. Autopsi, uji balistik dll,” katanya saat konferensi pers di kawasan Tebet, Jumat (24/05/2019).

Front Pembela Islam menerima laporan hilangnya 57 orang dalam kerusuhan usai demonstrasi di Bawaslu pada 21-22 Mei.

Ali Alatas mengatakan laporan itu berasal dari para warga yang mendatangi kantor FPI maupun menyampaikannya melalui aplikasi Whataspp.

Ali mengaku tidak dapat memastikan nasib 57 orang tersebut apakah masih hidup atau meninggal dunia

“Kita masih mencari tahu kondisi mereka,” terang Ali.

Ali menerangkan pihaknya akan melakukan investigasi mengenai 57 orang yang hilang tersebut.

Pemerintah Dinilai Tebar Ancaman Terhadap Rakyat

SOLO (Jurnalislam.com)- Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono mengkritisi pernyataan sikap Presiden Jokowi dan Menkopolhukam Wiranto paska kerusuhan yang terjadi di aksi tolak kecurangan pemilu 2019 atau aksi 22 Mei di depan Bawaslu RI.

“Presiden Jokowi tidak menunjukkan karakter negarawan pemimpin yg melindungi dan peduli terhadap rakyatnya bahkan melalui menteri Polhukam terkesan mengumbar ancaman terhadap rakyat,” katanya kepada wartawan di Gedung DSKS, Solo, rabu, (22/5/2019).

Endro juga meminta Kapolri Tito Karnavian untuk melakukan investigasi atas adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan anggotanya saat bertugas di aksi 22 Mei.

Dalam aksi 22 Mei yang berakhir ricuh tersebut, tercatat 8 orang meninggal dunia yang sebagian terkena tembakan dan diduga dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Meminta Kapolri dan Kapolda Metro Jaya untuk menginvestigasi internal atas tragedi berdarah peristiwa tersebut dan mempertimbangkan pendekatan persuasif dan mengedepankan HAM,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Endro menghimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak mudah terpovokasi dan terpancing oleh isu isu yang belum jelas kebenarannya.

“Meminta kepada semua pihak untuk tetap menghormati hak hak warga dan aturan yang ada agar tercipta situasi yang kondusif, aman dan nyaman,” tandasnya.

Sebelumnya, paska kerusuhan yang terjadi di aksi 22 Mei, pemerintah melalui Menkopolhukam dan jajarannya melakukan konferensi pers di kantor Menkopolhukam Jakarta Pusat, rabu, (22/5/2019).

Dalam konpres tersebut, Wiranto menyebut telah mengetahui dalang dibalik kerusuhan yang terjadi di aksi 22 Mei, ia juga mengatakan akan menindak tegas bagi pelanggar dan dalang di aksi tersebut.

Komnas HAM Didesak Bentuk TPF Kericuhan 22 Mei

SOLO (Jurnalislam.com) – Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono meminta Komnas HAM untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Hal tersebut guna mengusut adanya dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepolisian di aksi menolak kecurangan pemilu 2019 depan kantor Bawaslu RI yang berakhir ricuh.

Setidaknya, 8 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dirawat di rumah sakit akibat menjadi korban dalam kerusuhan yang dimulai sekitar pukul 22.00 wib tersebut.

“Meminta Komnas HAM untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta guna menginvestigasi dugaan pelanggaran HAM yang terjadi dalam tragedi berdarah Rabu dinihari, 22 Mei 2019,” katanya kepada wartawan di Gedung DSKS, Solo, Rabu (22/5/2019) sore.

Lebih lanjut Endro menyebut aksi penyampaian pendapat yang dilakukan masyarakat di depan kantor Bawaslu adalah dilindungi oleh undang-undang.

Sebab, kata Endro, aksi tersebut dilakukan masyarakat guna mencari keadilan atas adanya dugaan kecurangan yang diduga terstruktur, sistematif dan masif yang menguntungkan pihak petahana.

“DSKS bersama umat Islam tetap mensupport Aksi Damai Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) dan berjuang bersama rakyat memulihkan kedaulatan rakyat dan integritas bangsa Indonesia,” ujarnya.

“Membangun pemerintahan yang adil dan bersih menuju Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” tandasnya.

FPI Dorong Investigasi Menyeluruh Dugaan Hilangnya 57 Orang di Ricuh 22 Mei

Umat Islam di Persimpangan Kerusuhan 21-22 Mei 2019

Ini Kronologi Penyerangan Diduga Oknum Polisi kepada Petugas Medis Dompe Dhuafa

FPI Terima Laporan 57 Warga Hilang dalam Kerusuhan 21-22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Front Pembela Islam menerima laporan hilangnya 57 orang dalam kerusuhan usai demonstrasi di Bawaslu pada 21-22 Mei.

Ketua Tim Incestigasi FPI Ali Alatas mengatakan laporan itu berasal dari para warga yang mendatangi kantor FPI maupun menyampaikannya melalui aplikasi Whataspp.

Ali mengaku tidak dapat memastikan nasib 57 orang tersebut apakah masih hidup atau meninggal dunia

“Kita masih mencari tahu kondisi mereka,” terang Ali dalam konferensi persnya kepada media pada Jum’at (24/5) di Jakarta.

Ali menerangkan pihaknya akan melakukan investigasi mengenai 57 orang yang hilang tersebut.

Menurut dia, saat malam kejadian ratusan warga banyak yang berkumpul di Petamburan untuk menjaga kediaman Habib Rizieq Shihab.

“Mereka ini para warga yang simpatik dengan Habib Rizieq,” terang Ali.

Duka cita

FPI juga menyampaikan belasungkawa dan duka cita mendalam atas wafatnya warga masyarakat yang menjadi korban kekerasan aparat Negara.

Ketua DPP FPI Ustadz Awit Mashuri organisasinya mendo’akan semoga para korban dan warga masyarakat tersebut syahid di jalan Allah.

“Hingga saat ini, korban yang tewas menurut catatan berbagal rumah sakit di Jakarta dan keterangan resmi dari Gubernur DKI Jakarta adalah berjumlah 8 delapan orang,” kata Ustadz Awit.

Ustadz Awit mengatakan tidak menutup kemungkinan korban jiwa Ini akan terus bertambah mengingat ratusan Iagl korban yang Iuka-Iuka berat maupun ringan.

“Kami sampaikan kepada keluarga korban agar tetap tabah dan tegar menghadapi musibah ini,” ujar Ustadz Awit.

Reporter: Abdullah | INA News Agency

170 Selongsong Peluru Tajam Ditemukan di Petamburan

Terkait Tindakan Represif Polisi, Anies: Enam Korban Meninggal Dunia

Saksi Mata: Polisi Serang Warga Sipil di Tanah Abang