Forum Lingkar Pena Milad ke-28: Menginspirasi Dunia lewat Literasi dan Kepedulian

SOLO (jurnalislam.com)- Forum Lingkar Pena (FLP) yang merupakan organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia, kini terus berkembang tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri di berbagai benua seperti Asia, Eropa, Afrika, Australia, bahkan di Amerika Serikat.

Dalam rangka MILAD Ke-28, FLP menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Literasi Digital: Menghubungkan Ide, Menginspirasi Dunia di Ruang Pertemuan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Solo, Minggu (27/4/2025).

Seminar Nasional ini dihadiri oleh Astrid Widayani, S.S., S.Ε., Μ.Β.Α (Wakil Walikota Solo), Arif Handoko, S.Sos, M.H (Kadispersip Solo), perwakilan Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP turut hadir yaitu Daeng S. Gegge Mappangewa (Ketua Umum), Rafif Amir (Sekjend), Syilviya Romandika (Bendahara Umum) dan Wiwiek Sulistyowati (Humas) ini juga diikuti oleh 90 peserta dari anggota FLP dan masyarakat umum dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.

Hadir sebagai pemateri yaitu Pizaro Gozali Idrus (Jurnalis & Direktur Baitul Maqdis Institute), Ganjar Widhiyoga, Ph. D (Dosen & Pakar Hubungan Internasional) dan Al Razi Izzatul Yazid (Humanitarian Division Head Rumah Zakat & Sphere Trainer).

Dalam sambutannya, Astrid Widayani mengapresiasi Forum Lingkar Pena yang telah menjadi organisasi positif yang hadir untuk mengembangkan literasi, meningkatkan minat baca, dan semangat untuk berkarya.

“Saya ucapkan selamat mengadakan acara Milad di Kota Solo kota budaya yang kreatif. Semoga FLP bisa mendorong untuk meningkatkan literasi, bisa menjadi wadah pembinaan jiwa,” ujarnya.

Astrid berharap agar FLP bisa terus semangat dalam berkarya secara jujur dan tajam. Serta peduli dalam menjaga peradaban kota dengan moralitas dalam pembentukan karakter untuk menuju generasi emas dimasa mendatang.

Pada momen Milad Forum Lingkar Pena Ke-28 ini, FLP juga menggelar Solidaritas untuk Palestina. Sebagai wujud kepedulian terhadap saudara-saudara kita di Palestina yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan.

#FLPPeduliPalestina kali ini memperoleh penggalangan dana sejumlah Rp 10.000.000,- yang disalurkan melalui Rumah Zakat.

Arab Saudi dan Qatar Akan Lunasi Utang Suriah Rp250 Miliar ke Bank Dunia

ARAB SAUDI (jurnalislam.com)- Arab Saudi dan Qatar mengumumkan akan melunasi tunggakan utang Suriah kepada Bank Dunia yang mencapai sekitar Rp250 miliar (setara dengan 15 juta dolar AS). Pengumuman ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang diterbitkan Saudi Press Agency pada Ahad (27/4/2025).

Kedua negara Teluk tersebut disebut memainkan peran penting dalam upaya diplomatik mendukung pemerintahan baru Suriah, menyusul penggulingan Bashar al-Assad pada Desember lalu.

“Kementerian Keuangan Kerajaan Arab Saudi dan Negara Qatar bersama-sama mengumumkan komitmen untuk melunasi tunggakan Suriah kepada Bank Dunia, dengan total sekitar 15 juta dolar AS,” demikian isi pernyataan tersebut.

Pengumuman ini disampaikan hanya beberapa hari setelah Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan Suriah menghadiri pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar infrastruktur Suriah hancur akibat perang yang berlangsung selama 14 tahun. Bank Dunia menghentikan seluruh operasinya di Suriah sejak awal konflik. Dengan penyelesaian tunggakan ini, Suriah dapat kembali mengakses dukungan finansial serta bantuan teknis dari Bank Dunia.

“Komitmen ini akan membuka jalan bagi Kelompok Bank Dunia untuk melanjutkan dukungan dan operasi di Suriah setelah penangguhan lebih dari 14 tahun,” lanjut pernyataan itu.

Selain itu, penyelesaian utang ini juga memungkinkan Suriah untuk segera mengakses dukungan finansial dalam upaya pengembangan sektor-sektor penting.

Pemerintah Suriah sendiri sangat berharap kepada negara-negara Teluk yang kaya untuk membantu membiayai rekonstruksi serta memulihkan perekonomian mereka yang hancur akibat konflik berkepanjangan.

Reporter: Bahry
Sumber: The New Arab

Hamas Siap Bebaskan Semua Tawanan Israel di Gaza dengan Imbalan Gencatan Senjata Lima Tahun

GAZA (jurnalislam.com)- Hamas menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh tawanan Israel yang tersisa di Gaza dengan imbalan gencatan senjata selama lima tahun, kata seorang pejabat Hamas pada Sabtu (27/4/2025).

“Hamas siap untuk pertukaran tawanan dalam satu gelombang dan gencatan senjata selama lima tahun,” ujar pejabat tersebut kepada AFP yang meminta agar namanya tidak dipublikasikan, menjelang pertemuan delegasi Hamas dengan para mediator di Kairo.

Sebelumnya, mediator dari Qatar dan Mesir telah mengajukan proposal baru yang mencakup gencatan senjata jangka panjang di Jalur Gaza, berlangsung antara lima hingga tujuh tahun. Skema ini melibatkan pertukaran semua tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas dengan sejumlah tawanan Palestina yang akan dibebaskan oleh Israel, sebagaimana dilaporkan BBC pada Selasa (22/4), mengutip pejabat senior Palestina yang mengetahui jalannya negosiasi.

Usulan tersebut juga mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza. Hamas, menurut pejabat tersebut, bersedia menyerahkan kendali atas Gaza kepada pemerintahan Palestina apa pun yang disepakati di tingkat nasional dan regional.

Meski demikian, Israel secara tegas menolak kemungkinan Hamas kembali menguasai Gaza pascaperang.

Dalam wawancara terpisah dengan Al-Araby Al-Jadeed, pejabat Hamas lainnya menegaskan keterbukaan kelompok itu terhadap setiap usulan yang bertujuan mengakhiri perang secara permanen, bukan sekadar perjanjian parsial yang berpotensi menguntungkan Israel dengan meredakan tekanan domestik.

Gencatan senjata singkat antara Hamas dan Israel sebelumnya diberlakukan pada 19 Januari 2025, namun runtuh dua bulan kemudian setelah Israel kembali melanjutkan operasi militernya di Gaza, menewaskan ratusan warga Palestina.

Hamas menekankan keinginannya untuk melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata. Namun, Israel bersikeras memperpanjang tahap pertama yang sebelumnya menyaksikan pembebasan puluhan tawanan Israel dan asing pada November 2023, dengan imbalan ratusan tahanan Palestina.

Saat ini, Israel mencatat masih ada 59 tawanan yang berada di Gaza. Dari jumlah tersebut, diyakini 24 orang masih hidup, termasuk 22 warga negara Israel, satu warga Thailand, dan satu warga Nepal.

Reporter: Bahry
Sumber: The New Arab

40 Alat Berat Dihancurkan Israel, Pertahanan Sipil Gaza Kesulitan Evakuasi Korban

GAZA (jurnalislam.com)– Kekurangan peralatan penyelamatan menghambat upaya pencarian lebih dari 30 orang yang diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan rumah yang dibom oleh Israel di Kota Gaza.

Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, mengatakan bahwa para petugas darurat tidak mampu menjangkau para korban akibat minimnya peralatan yang diperlukan.

“Petugas kami tidak dapat menjangkau mereka karena kurangnya peralatan yang diperlukan,” ujarnya kepada kantor berita AFP, dikutip Al Jazeera, Sabtu (27/4/2025).

Serangan udara Israel sebelum fajar menghantam rumah keluarga Khour di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Akibat serangan tersebut, empat orang tewas dan lima orang lainnya mengalami luka-luka.

Basal juga mengungkapkan bahwa pada Rabu lalu, pesawat-pesawat tempur Israel menghancurkan sekitar 40 kendaraan teknik milik pertahanan sipil. Kendaraan tersebut selama ini digunakan untuk menyingkirkan puing-puing berat dalam operasi pencarian dan penyelamatan, serta untuk mengevakuasi jenazah dari bangunan-bangunan yang hancur.

Kondisi ini semakin memperparah situasi kemanusiaan di Gaza, di tengah intensifnya serangan militer Israel dan memburuknya krisis bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Reporter: Bahry
Sumber: Al Jazeera

UNRWA: Setengah Juta Warga Palestina Mengungsi dalam Sebulan Terakhir di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Sekitar 500.000 warga Palestina terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat serangan militer Israel di Jalur Gaza selama sebulan terakhir, demikian laporan dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Jumat (25/4/2025).

Sejak melanjutkan kembali operasi militernya pada pertengahan Maret, militer Israel mengeluarkan sejumlah perintah evakuasi besar-besaran yang memaksa warga Palestina berpindah ke wilayah-wilayah yang semakin sempit dan terbatas. Israel juga dilaporkan menyita wilayah tambahan dan menjadikannya bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “zona keamanan”.

“Selama sebulan terakhir, sekitar setengah juta orang telah mengalami pengungsian kembali,” kata UNRWA dalam keterangannya.

Badan tersebut juga menyoroti bahwa perintah pemindahan yang terus-menerus dari militer Israel membuat warga Palestina kini hanya memiliki kurang dari sepertiga wilayah Gaza yang dapat dihuni. “Wilayah yang tersisa itu pun terfragmentasi, tidak aman, dan hampir tidak layak huni,” lanjutnya.

Pada 18 Maret lalu, pasukan Israel kembali memasuki wilayah Gaza dan merebut sejumlah daerah, termasuk Koridor Netzarim di Gaza tengah. Militer Israel juga mengumumkan pembentukan zona militer baru di bagian selatan Gaza yang dinamakan ‘Poros Morag’, yang memisahkan Kota Rafah dari wilayah Gaza lainnya.

Saat ini, hampir 70 persen wilayah Gaza telah menjadi zona terlarang bagi penduduk sipil, termasuk sebagian besar wilayah Rafah, kawasan timur Kota Gaza, serta zona penyangga luas di sepanjang perbatasan.

Menteri Pertahanan Israel bahkan mengancam akan terus menduduki wilayah tersebut setelah perang berakhir, serta memperluas zona keamanan yang ada.

Dalam lima pekan terakhir sejak serangan kembali dilancarkan, hampir 2.000 warga Palestina dilaporkan tewas. Total korban jiwa sejak dimulainya agresi militer Israel di Gaza mencapai hampir 51.400 orang, sementara lebih dari 117.200 lainnya terluka. Puluhan ribu warga lainnya masih diyakini tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

Israel juga kembali memberlakukan pengepungan ketat atas Gaza selama hampir dua bulan terakhir, menutup total akses bantuan kemanusiaan, memutus aliran listrik sejak 9 Maret, serta mencegah masuknya makanan, bahan bakar, dan pasokan medis penting.

“Tempat penampungan penuh sesak dalam kondisi yang sangat buruk. Layanan kemanusiaan kewalahan dan sumber daya terakhir kini mulai habis,” ujar UNRWA.

Sejumlah LSM yang beroperasi di Gaza menyatakan bahwa krisis kelaparan sudah dimulai, dan situasi kemanusiaan memburuk secara drastis dari hari ke hari.

Reporter: Bahry
Sumber: The New Arab

 

Sudah 50 Hari Israel Cegat Ribuan Truk Bantuan Masuk Gaza, Pengungsi Terancam Kelaparan

GAZA (jurnalislam.com)– Hampir 3.000 truk bantuan kemanusiaan milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dilaporkan siap menyalurkan bantuan penyelamat jiwa ke Jalur Gaza. Namun, pengepungan ketat yang diberlakukan oleh otoritas Israel telah menghambat masuknya bantuan tersebut selama lebih dari 50 hari.

Dalam pernyataan resminya, UNRWA menyampaikan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza kini berada dalam titik yang sangat memprihatinkan. Kelaparan melanda warga, sementara akses terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan semakin sulit.

“Warga Gaza kelaparan dan situasinya sangat genting,” demikian kutipan dari pernyataan UNRWA yang dipublikasikan melalui media sosial X pada Jumat malam (25/4/2025).

UNRWA menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan seharusnya tidak dijadikan alat tawar-menawar ataupun senjata dalam konflik. Mereka mendesak agar pengepungan segera diakhiri dan bantuan bisa disalurkan tanpa hambatan.

“Pengepungan harus dihentikan, bantuan harus segera disalurkan, para sandera harus dibebaskan, dan gencatan senjata harus kembali diberlakukan sekarang juga,” lanjut pernyataan tersebut.

Sebelumnya, berbagai lembaga kemanusiaan internasional juga telah memperingatkan bahwa blokade Israel terhadap Gaza berisiko menyebabkan bencana kelaparan besar-besaran, terutama di tengah meningkatnya serangan militer dalam beberapa bulan terakhir.

Kontributor: Bahry

FUIS Minta Klarifikasi Gereja Terkait Pembagian Kupon Bazar di Lingkungan Muslim

SEMARANG (jurnalislam.com)– Forum Umat Islam Semarang (FUIS) mendatangi kantor Kesbangpolinmas Kota Semarang pada Jumat (25/4/2025), guna meminta klarifikasi terkait pembagian kupon bazar oleh panitia sebuah gereja yang disebar di lingkungan warga mayoritas Muslim.

FUIS menyoroti lokasi pengambilan sembako yang tertera dalam kupon, yakni di sebuah gereja yang berlokasi di Jalan dr. Cipto, Semarang.

Ketua FUIS, Wahyu Kurniawan, menyampaikan bahwa pihaknya menyayangkan distribusi kupon yang dinilai dapat menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

“Biar tidak ada kecurigaan umat Islam perihal bazar yang akan dilaksanakannya, kami datang ini ingin meminta klarifikasi pihak panitia maksud dan tujuan membagikan kupon bazar tapi pengambilan sembakonya di gereja,” ujarnya.

Sebelumnya, menurut Wahyu, telah ada kesepakatan antara pihak gereja dan FUIS yang difasilitasi oleh Kesbangpolinmas. Kesepakatan tersebut menyatakan bahwa jika gereja ingin mengadakan kegiatan sosial untuk masyarakat umum, sebaiknya dilakukan melalui perangkat desa setempat dan bertempat di lokasi yang netral.

Hal serupa disampaikan oleh Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Sekretaris FKUB Kota Semarang, Syarif Hidayatullah, menegaskan pentingnya koordinasi dalam kegiatan lintas agama

“Bantuan yang diberikan kepada umat beragama lain dalam bentuk apapun dari pihak manapun sebaiknya dikoordinasikan dengan FKUB,” katanya.

Sementara itu, dalam klarifikasi terpisah, pihak panitia penyelenggara bazar menyatakan bahwa kegiatan tersebut murni merupakan bentuk bakti sosial tanpa adanya maksud untuk mengubah keyakinan.

Namun, mereka menyatakan tidak dapat memenuhi permintaan FUIS untuk merelokasi lokasi bazar ke tempat yang netral, mengingat kupon telah tersebar luas di berbagai wilayah dan sulit mencari lokasi alternatif dalam waktu singkat. Sebagai solusi, panitia menyampaikan bahwa papan nama gereja akan ditutup dengan spanduk saat kegiatan berlangsung.

Mahkamah Agung Rusia Cabut Status Terlarang Taliban

MOSKOW (jurnalislam.com)– Mahkamah Agung Rusia resmi mencabut status Taliban sebagai organisasi terlarang di negara tersebut. Keputusan ini mengakhiri label “organisasi teroris” yang telah disematkan kepada kelompok itu selama lebih dari dua dekade.

Putusan yang diumumkan pada Kamis (17/4/2025) ini diambil atas permintaan Jaksa Agung Rusia dan berlaku efektif segera, sebagaimana dilaporkan kantor berita TASS. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Moskow untuk menormalisasi hubungan dengan pemerintahan Taliban di Afghanistan, yang telah menguasai negara itu sejak 2021.

Hubungan antara Rusia dan Taliban terus membaik dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kepentingan keamanan bersama. Salah satunya adalah kerja sama dalam memerangi kelompok afiliasi ISIS di wilayah Asia Tengah, yaitu Islamic State Khorasan Province (ISKP).

Tahun lalu, Presiden Vladimir Putin bahkan menyebut Taliban sebagai “sekutu” dalam upaya pemberantasan terorisme. Duta besar Rusia di Kabul juga telah mengumumkan rencana penghapusan Taliban dari daftar organisasi teroris.

Rusia diketahui telah beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan dengan perwakilan Taliban, dan kini melihat Afghanistan sebagai mitra potensial dalam jalur transit ekspor gas ke kawasan Asia Tenggara.

“Kami akan terus mengembangkan hubungan politik, perdagangan, dan ekonomi dengan Kabul,” ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Oktober 2024.

Langkah Rusia ini mengikuti jejak sejumlah negara Asia lainnya. Kazakhstan lebih dahulu mencabut status teroris bagi Taliban pada 2023, disusul Kirgistan pada tahun berikutnya.

Meski belum ada negara yang secara resmi mengakui Taliban sebagai pemerintah sah Afghanistan, beberapa negara seperti Tiongkok, India, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran telah membuka kedutaan besar di Kabul. Tiongkok bahkan menjadi negara pertama yang mengirimkan duta besar secara resmi pada 2023.

Reporter: Bahry
Sumber: Al Jazeera

Abbas Minta Hamas Menyerah, Hamas: Penghinaan terhadap Perjuangan Rakyat Palestina

PALESTINA (jurnalislam.com)- Hamas mengecam pernyataan Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas yang menyerukan pembebasan tawanan Israel dan desakan agar Hamas meletakkan senjata. Pernyataan Abbas yang disampaikan dalam pertemuan Dewan Pusat di Ramallah pada Rabu (23/4/2024) itu dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

“Abbas berulang kali dan mencurigakan, terus menyalahkan rakyat kami atas kejahatan dan agresi yang dilakukan oleh penjajah.” kata pejabat senior Hamas, Basem Naim, dalam pernyataannya pada Kamis (24/4/2024).

Dalam pidatonya, Abbas menyebut bahwa penahanan tawanan Israel oleh Hamas memberi “alasan” bagi Israel untuk terus menggempur Gaza.

“Hamas telah memberikan alasan kepada pendudukan kriminal untuk melakukan kejahatannya di Jalur Gaza,” ujar Abbas.

Dengan nada marah, Abbas juga melontarkan ucapan kasar dalam bahasa Arab kepada Hamas: “Setiap hari ada kematian. Kalian bajingan, serahkan apa yang kalian miliki dan keluarkan kami dari cobaan ini.”

Pernyataan Abbas langsung menuai reaksi keras dari berbagai faksi perlawanan Palestina. Gerakan Mujahidin Palestina, yang merupakan pecahan dari Fatah pada awal 2000-an, turut mengutuk pernyataan tersebut.

Gerakan tersebut menuduh Abbas memperkuat perpecahan internal dan melanjutkan narasi yang mengkriminalisasi perlawanan, sekaligus meringankan beban kejahatan pendudukan Israel.

“Kami mengutuk pernyataan ofensif Presiden Abbas yang terus-menerus mengejar wacana ini, yang mengkriminalisasi perlawanan dan membebaskan pendudukan dari kejahatan yang terus-menerus terhadap rakyat kami selama beberapa dekade, terutama perang genosida terhadap Gaza, aneksasi dan Yahudisasi Tepi Barat dan Yerusalem, dan penderitaan berat yang dialami oleh para tahanan kami yang gagah berani.”

Gerakan tersebut juga mendesak Abbas untuk menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya.

“Kami meminta Presiden Otoritas Palestina untuk meminta maaf atas pidato yang menyinggung ini dan membatalkan semua langkah yang memperkuat perpecahan dan sejalan dengan keinginan Zionis. Kami meminta dia untuk kembali merangkul rakyat serta berhenti mengejar jalan yang tidak masuk akal berupa penyerahan diri dan kompromi.”

Sejak Israel melanjutkan operasinya di Gaza pada 18 Maret 2025, sedikitnya 1.928 warga Palestina dilaporkan tewas. Jumlah korban jiwa sejak perang meletus pada Oktober 2023 telah mencapai sedikitnya 51.305 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.

Sementara itu, upaya negosiasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel belum menunjukkan hasil konkret. Delegasi Hamas saat ini tengah berada di Kairo untuk melanjutkan pembicaraan dengan mediator Mesir dan Qatar.

Reporter: Bahry
Sumber: Al Jazeera

Tanpa Ampun, Israel Terus Blokade Bantuan dan Serang Gaza, 13 Orang Tewas Termasuk Anak-Anak

GAZA (jurnalislam.com)– Israel terus memperketat blokade bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, termasuk makanan dan obat-obatan, sambil melancarkan serangan udara intensif yang menewaskan sedikitnya 13 warga Palestina dalam semalam dan Kamis dini hari (24/4/2025). Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Koresponden Al Jazeera melaporkan, tiga anak tewas saat serangan menghantam tenda pengungsi di dekat Nuseirat, Gaza tengah. Sementara itu, satu wanita dan empat anak lainnya tewas saat rumah mereka di Kota Gaza dihantam rudal.

Dalam serangan terpisah, seorang jurnalis lokal, Saeed Abu Hassanein, turut menjadi korban. Kematian Hassanein menambah daftar jurnalis yang tewas selama konflik menjadi sedikitnya 232 orang, menjadikan perang ini sebagai salah satu yang paling mematikan bagi pekerja media.

Krisis Kemanusiaan Makin Parah

Tareq Abu Azzoum, reporter Al Jazeera yang melaporkan langsung dari Deir el-Balah, menyebut Gaza tengah saat ini mengalami peningkatan eskalasi militer. Ia menyoroti kondisi sulit tim penyelamat yang kekurangan peralatan dan harus berjuang menjangkau korban yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.

“Peralatan evakuasi banyak yang rusak atau hancur. Setiap detik sangat berharga, namun kami terhambat dari segala sisi,” kata Tareq.

Pusat komunikasi Otoritas Palestina yang berpusat di Tepi Barat menyampaikan kecaman keras terhadap agresi Israel. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut bahwa tidak ada jeda, tidak ada belas kasihan, dan tidak ada sisi kemanusiaan dalam operasi militer Israel saat ini.

Pernyataan tersebut disertai video yang memperlihatkan tank-tank Israel melintasi puing-puing kamp pengungsi Shaboura di Gaza selatan.

“Di kamp pengungsi Shaboura, seperti di setiap sudut Gaza lainnya, kehancuran tidak pernah berakhir,” tulis pernyataan itu.

Delapan Pekan Tanpa Bantuan

Israel telah memblokir masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza selama delapan minggu terakhir. Langkah ini dikritik keras oleh badan-badan internasional termasuk PBB, yang menyebut situasi di Gaza sebagai “krisis kemanusiaan terburuk” sejak perang pecah Oktober lalu.

Sementara warga sipil terus berjatuhan, dunia internasional mendesak gencatan senjata segera dan akses penuh terhadap bantuan kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa mereka yang tersisa.

Reporter: Bahri
Sumber: Al Jazeera