16 Orang Parpol di Kabinet Jokowi, PDIP Terbanyak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melantik kabinet periode dua pemerintahannya di Istana Negara,  Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Pelantikan dilakukan setelah proses wawancara dilakukan Presiden selama dua hari belakangan.

Setidaknya sudah ada 35 calon menteri dan yang datang ke istana untuk menemui Jokowi.

Dari 35 orang calon penghuni kabinet, 16 di antaranya merupakan kader partai politik. PDI Perjuangan menjadi penyumbang calon menteri terbanyak dengan 4 orang kader partai banteng mendapatkan jatah.

Tiga politikus PDIP lawas yakni Tjahjo Kumolo, Yasonna Laoly, dan Pramono Anung menjadi wajah lama yang kembali menghuni kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sedangkan Juliari Batubara akan jadi kader besutan Megawati Soekarnoputri yang baru bergabung sebagai pembantu presiden.

Tjahjo yang menjabat sebagai Menteri dalam Negeri pada Kabinet Kerja dikabarkan menjadi Menteri PANPRB.

Sedangkan Yasonna dan Pramono disebut bertahan di posisi sebelumnya.

Sebagian partai koalisi Jokowi-Ma’ruf lainnya mendapatkan jatah kursi yang sama yakni tiga kursi. Partai tersebut yakni Golkar, PKB, NasDem. Hanya PPP yang mendapat jatah satu kursi.

Sumber: katadata.co.id

Baca juga:

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi

Ini Susunan Lengkap Menteri Kabinet Jokowi 2019-2024

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

Tinggal Rakyatlah Oposisi Sesungguhnya

Kritik Pidato Jokowi, Haris Azhar: Pemerintahan Anti HAM

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Santri Diminta Kreatif dan Kuasai Teknologi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam.

Dalam pidatonya, Kiai Said berpesan kepada para santri atau kaum bersarung untuk mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

Pengasuh Pondok Pesantren Atsaqofah Ciganjur ini menjelaskan, menuju tahun 2045 masyarakat Indonesia akan menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

Di era ini, kata dia, masyarakat bisa mendapatkan manfaat, tetapi juga berpeluang mendapat efek negatif, yang mana bisa menjadikan manusia terperangkap sebagai obyek kemajuan teknologi dan informasi.
Kiai Said mengatajan, kemajuan teknologi dan informasi tersebut dapat mengurangi hubungan dan kedekatan antar manusia (hablun min al-nas).

Namun, menurut dia, santri memiliki modal yang besar untuk mendorong manusia agar tetap menjadi sentral atas kemajuan teknologi dan informasi tersebut.

“Santri memiliki mekanisme agar hubungan antar manusia tetap kuat dan kokoh. Di antaranya Tahlilan, Yasinan, dan Barzanji,” kata Kiai Said.

Di dalam tradisi keberagamaan tersebut, lanjutnya, teknologi dan informasi hanyalah dijadikan sebagai sebuah instrumen bukan tujuan.

Dengan demikian, kata dia, seluruh produk peradaban diarahkan untuk menguatkan kualitas kemanusiaan masyarakat Indonesia.

Sumber: republika.co.id

Ini Pesan PBNU di Hari Santri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam.

Dalam pidatonya, Kiai Said berpesan kepada para santri atau kaum bersarung untuk mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

“Saya berpesan, santri perlu terus mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis,” ujar Kiai Said dalam acara yang dihadiri para tokoh dan ulama tersebut.

Karena itu, Kiai Said juga mengimbau kepada semua pihak yang hadir dalam acara tersebut untuk melibatkan santri, menjadi subyek aktif dalam seluruh proses pembangun bangsa dan negara.

“Santri mewarisi legacy yang ditinggalkan oleh para ulama di abad keemasan Islam. Karena itu, kebangkitan Indonesia dan Islam akan sangat ditentukan oleh kiprah dan peranan kaum santri,” ucap Kiai Said.

sumber: republika.co.id

 

Baca juga:

Menag: Hari Santri untuk Meneladani Semangat Jihad Para Ulama

Di Hari Santri, ACT Luncurkan Program “Beras untuk Santri Indonesia”

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

Nasehat Ustaz Fadlan Garamatan Bagi Orang yang Berhijrah

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi ditunjuk sebagai Menteri Agama, Rabu (23/10/2019) di Istana Negara.

Saat ini belum banyak yang mengenal Fachrul Razi. Karier tertinggi pria kelahiran Aceh 26 Juli 1947 itu yakni sebagai Wakil Panglima TNI pada periode 1999-2000.

Sejumlah posisi di militer pernah dipegang oleh jebolan Akademi Militer tahun 1970 itu. Mulai dari Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kujang 1 Kostrad,

Wakil Asisten Operasi KASAD, hingga Kepala Staf Daerah Militer VII/Wirabuana dan Gubernur Akademi Militer.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Operasi KASUM ABRI, Kepala Staf Umum ABRI, hingga Sekjen Departemen Pertahanan.

Pada saat kampanye Pilpres 2019 lalu ia menjadi salah satu pendukung Jokowi-Ma’ruf dengan memimpin Tim Bravo 5.

sumber: kompas.com

Ini Susunan Lengkap Menteri Kabinet Jokowi 2019-2024

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan nama-nama menterinya Rabu pagi (23/10/2019).

Berikut nama menteri kabinet 2019-2024 dan kementerian atau lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan daftar yang dibacakan Joko Widodo:

1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud MD
2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto
3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy
4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan

5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto
6. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian
8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi
9. Menteri Agama: Fachrul Razi
10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly

11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati
12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim
13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan
14. Menteri Sosial: Juliari Batubara
15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah

16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita
17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto
18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif
19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
20. Menteri Perhubungan: Budi Karya

21. Menteri Komunikasi dan Informatika: Johnny G. Plate
22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo
23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo
25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar

26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: Sofjan Jalil
27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa
28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo
29. Menteri BUMN: Erick Thohir
30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki

31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama
32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gusti Ayu Bintang Darmavati
33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro
34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali

35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko
36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung
37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia
38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo meminta kepada para menteri kabinet terbarunya untuk tidak korupsi. Pesan itu merupakan pesan pertama dari tujuh pesan yang disampaikan Jokowi usai mengumumkan nama-nama menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019) pagi ini.

“Saya juga telah memerintah kepada seluruh kabinet yang tadi sudah dimumkan, yang pertama jangan korupsi, menciptkan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi,” tegasnya.

Kedua, Jokowi juga menegaskan tidak ada visi misi menteri akan tetapi yang ada adalah visi misi presiden.

“Ketiga, kita semua harus kerja cepat, kerja cepat, dan produktif,” katanya.

Keempat, Jokowi meminta kabinetnya untuk tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton.

“Kelima, kerja berorientasi pada hasil nyata, tugas kita tidak hanya menjamin sent, tapi delivered,” ujarnya.

Keenam, memeriksa masalah di lapangan untuk menemukan solusi dan terakhir harus serius dalam bekerja.

“Saya pastikan yang gak serius bisa saya copot ditengah jalan, hati-hati,” tutupnya.

Berikut nama menteri kabinet 2019-2024 dan kementerian atau lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan daftar yang dibacakan Joko Widodo:

1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud
2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto
3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy
4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan

5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto
6. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian
8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi
9. Menteri Agama: Fachrul Razi
10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly

11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati
12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim
13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan
14. Menteri Sosial: Juliari Batubara
15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah

16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita
17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto
18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif
19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
20. Menteri Perhubungan: Budi Karya

21. Menteri Komunikasi dan Informatika: Johnny G. Plate
22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo
23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo
25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar

26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: Sofjan Jalil
27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa
28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo
29. Menteri BUMN: Erick Thohir
30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki

31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama
32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gusti Ayu Bintang Darmavati
33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro
34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali

35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko
36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung
37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia
38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin

Menag: Hari Santri untuk Meneladani Semangat Jihad Para Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Setiap tanggal 22 Oktober Hari Santri Nasional (HSN) diperingati. Peringatan ini, ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta.

Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk meneladankan semangat jihad kepada para santri tentang keindonesiaan yang digelorakan para ulama. Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan Resolusi Jihad yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasjim Asy’ari (Rois ‘Am NU dan Ketua Dewan Syuro Partai Islam Masyumi) pada 22 Oktober 1945.

“Ya, jihad dalam konteks sekarang adalah mengisi kemerdekaan kita, mewujudkan perdamaian. Karena di kehidupan yang semakin kompleks, kedamaian diperlukan, itulah hakikat dari jihad buat para santri,” kata Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin melalui siaran pers yang diterima redaksi, Selasa (22/10/2019).

Menag mengatakan, seruan Resolusi Jihad ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang.

“Maka, saya pikir tidak (negatif) ya (makna jihad). Jihad itu positif maknanya dan jihad itu ke sungguh-sungguhan kita dalam menebarkan kebaikan untuk sesama,” tuturnya.

Ia menuturkan, aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional, terutama yang ditulis pada dan hampir tidak pernah menyebut peran ulama dan kaum santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Sehingga, tema tahun ini santri Indonesia untuk perdamaian dunia. Kita merasa perdamaian sangat dibutuhkan dalam kehidupan yang semakin kompleks,” katanya.

“Maka setiap santri dan pesantren harus memberikan kontribusi positif untuk perdamaian itu. Karena santri hakikatnya adalah mereka yang mendambakan kedamaian dimana saja berada,” imbuhnya.

Mengenai UU Pesantren yang telah disahkan DPR dan mendapat penolakan dari Ormas, Menag Lukman tak beranggapan demikian. Sebab ada kesalahpahaman bahwa UU Pesantren adalah intervensi negara terhadap kemandirian pesantren.

“Hakikatnya itu tidak benar. Justru negara ingin memfasilitasi, tidak hanya memberikan rekognisi tapi juga memberikan afirmasi agar pesantren memberikan manfaat buat kita semua,” katanya.

Di Hari Santri, ACT Luncurkan Program “Beras untuk Santri Indonesia”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Bertepatan dengan Hari Santri Nasional 2019, Aksi Cepat Tanggap (ACT) meluncurkan program “Beras untuk Santri Indonesia (BERISI)”. Melalui program ini, ACT berikhtiar menunjang kebutuhan pangan para santri.

Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin menyampaikan, ikhtiar ini merupakan bentuk kepedulian ACT dan para dermawan terhadap kehidupan para santri yang memiliki peran banyak bagi agama dan bangsa.

“Kami merasa harus berbuat sesuatu terkait santri. Di hari Santri Nasional 22 Oktober ini, kita merefleksi dunia santri yang identik dengan Indonesia,” kata Ahyudin di Gedung ACT, Jakarta Selatan, Selasa (22/10/2019).

Berdasarkan pengalaman Ahyudin, ia kerap menemukan kehidupan para santri yang memprihatinkan. Masih banyak santri di pesantren yang hanya makan sekali dalam sehari. Belum lagi, pesantren menjadi lembaga yang dianggap memiliki andil menampung anak-anak yatim dan kurang mampu.

“Di hari santri yang luar biasa ini, mari kita serius memahami dunia santri dan merancang peran supaya dunia santri ini menjadi bagian dari kehidupan kita,” tambah Ahyudin.

Ahyudin mengatakan, salah satu segmentasi kemiskinan ada di dunia santri. Melalui program ini, ia berharap dapat mengangkat citra pesantren. “Program BERISI ini semoga menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk mengambil peran bagi dunia santri Indonesia,” lanjutnya.

Baca juga:

ASN Kemenag ‘Sarungan’ Sambut Hari Santri 22 Oktober

DPR Sahkan RUU Pesantren Menjadi UU, Santri Bershalawat

Din Syamsuddin Proklamirkan Diri Sebagai Loyal-Kritis pada Negara

Nasehat Ustaz Fadlan Garamatan Bagi Orang yang Berhijrah

Fenomena Hijrah di Indonesia, Ustaz Felix Siauw : Wes Wayahe!

Al-Iryad Luncurkan Kalam Hakiki Podcast Muslim di Al-EX 2019 Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – PC Al Irsyad Al-Islamiyyah Surakarta menggelar Al Irsyad Expo (Al-EX) 2019 selama dua hari Sabtu-Ahad, (19-20/10/2019) di Gedung Al Irsyad, Pasar Kliwon, Surakarta.

Ketua panitia Ustaz Moch Ridwanullah menjelaskan, ada dua jenis kegiatan utama dalam Al-EX 2019, yakni Kreasi Islam dan peluncuran Kalam Hakiki Podcast Muslim.

“Jadi untuk kegiatan Kalam Hakiki itu sebenarnya kegiatan Al Irsyad yang setiap tahunnya ada kegiatan Al-EX atau Al Irsyad Expo, cuma tahun ini berbeda karena Al Irsyad ada dua even besar yang pertama Kreasi Islami, Kreasi Islami itu lomba se-Karisidenan Surakarta, lomba lomba, dan yang kedua Kalam Hakiki dengan Logo Kaf itu,” katanya kepada jurnalislam.com, Ahad (20/10/2019).

Lebih lanjut, ustaz Ridwan menyebut Kalam Hakiki merupakan salah satu terobosan dakwah yang menyasar kaum muda atau generasi millennial. Oleh sebab itu, media dakwah perlu branding dan konten-konten yang kekinian untuk menyesuaikan dengan kalangan muda.

“Akhirnya timbul kerjasama dengan komunitas yang ada di Solo kita buat mini podcast, mini podcast itu isinya tentang obrolan agama dan pastinya agama itu kalau ceramah di Masjid kan satu sisi, jadi kadang ceramah 1 jam yang nonton 20 persen atau cuma 15 persen dari materi yang ditonton,” paparnya,

Ustaz Ridwan berharap dengan adanya Mini Podcast Muslim tersebut, generasi milenial terutama di wilayah Soloraya lebih tertarik dengan Islam.

“Nah kita mau buat beda biar ada obrolan, nah obrolan itu sahut sahut, jadi kayak ada yang wawancara Podcast ngomong, nanti dijawab ustadznya, tapi nanti lebih santai, agar anak mudah lebih nerima dan lebih asyik ketika dua sisi, jadi kayak obrolan santai,” paparnya.

“Kita dirikan Kalam Hakiki itu biar bisa memberikan dakwah ini terus berkembang, dakwah di Al Irsyad dan dakwah komunitas komunitas yang ada di Solo ini, dan semoga tetap terus istiqomah,” pungkasnya.

Tinggal Rakyatlah Oposisi Sesungguhnya

Oleh: Tony Rosyid*

(Jurnalislam.com)–Lebay! Begitulah komentar sebagian rakyat terkait besarnya parade pasukan yang mengawal pelantikan Jokowi-Ma’ruf sebagai presiden dan wapres terpilih. 31.000 pasukan dengan peralatan perang termasuk tank berada di sekitar lokasi pelantikan. Pelabuhan dan supermarket dijaga ketat. Hiburan rakyat di lokasi car freeday dan monas ditutup. Bahkan demo dilarang sejak seminggu sebelum pelantikan. Berlebihan! Begitulah kira-kira persepsi publik yang muncul.

Kenapa pasukan itu tidak dikirim ke Papua untuk melindungi sejumlah imigran yang dibantai dan dibakar hidup-hidup? Menjaga kantor bupati, kantor gubernur dan aset negara yang dirusak dan dibumi hanguskan? Begitulah diantara tanggapan yang banyak muncul di media sosial.

Tentu, aparat punya alasan. Pertama, sebelum pelantikan Presiden-wapres terjadi demo besar-besaran, terutama dari kalangan mahasiswa. Ada bentrokan yang mengakibatkan dua mahasiswa mati dan beberapa lainnya luka-luka. Bahkan ada yang pecah tengkorak kepalanya. Jadi, aparat ingin memastikan pelantikan betul-betul aman. No demo, no keributan.

Kedua, pelantikan presiden-wapres identik dengan pergantian pejabat. Kapolri dan Panglima adalah pejabat tinggi negara. Wajar jika mereka harus menunjukkan loyalitasnya kepada presiden. Loyalitas memiliki dua fungsi, yaitu fungsi tanggungjawab dan fungsi politik. Sampai disini, pengerahan pasukan mulai bisa dimengerti.

Beda dengan 2014. Tak ada demo dan kekecewaan rakyat terhadap Jokowi. 2019 situasinya betul-betul berubah. Yang berbaris di jalan Gatot Subroto, Soedirman, Bundaran HI, Thamrin dan sekitarnya tak lagi rakyat, tapi aparat. Ini bukan pesta rakyat lagi, tapi pesta aparat dan pejabat. Memang beda!

Isu pelantikan, dua-tiga hari kedepan diprediksi akan redup. Publik tak lagi membicarakannya. Justru ada hal penting yang nampaknya lepas dari perhatian rakyat. Apa itu? Pertama soal isi pidato Jokowi. Tak banyak tanggapan. Apakah karena rakyat sudah tak lagi percaya kata-kata Jokowi? Entahlah. Kedua, soal koalisi. Siapa saja yang akan dipercaya Jokowi untuk membantunya di kabinet? Dan dimana posisi Prabowo dan Surya Paloh? Begitu juga Tito Karnavian yang rumornya menjabat sebagai mendagri. Soal ini, kita perlu bahas dalam artikel tersendiri.

2014, lima tahun lalu, pidato Jokowi menyinggung soal demokrasi. Indonesia adalah negara demokratis ketiga di dunia, kata Jokowi. Sekarang? Setelah lima tahun negara ini dipimpin Jokowi, bagaimana nasib demokrasi? Tanyakan pada dosen, mahasiswa, pers dan ulama. Di benak mereka ada jawaban pastinya. Jangan tanya rektor, karena sejak dipilih oleh menteri, para rektor sudah berubah fungsi jadi agen kekuasaan

2019 kali ini Jokowi bicara lima hal. Pertama, pembangunan SDM. Kedua, pembangunan infrastruktur. Ketiga, penyederhanaan regulasi. Keempat, penyederhanaan birokrasi. Kelima, transformasi ekonomi.

Point nomor 1,2 dan 5 itu program jangka panjang dan berkesinambungan. Pembangun SDM, infrastruktur dan transformasi ekonomi tak cukup hanya lima tahun. It’s good, dan perlu didukung. Kendati faktanya, target dan janji pertumbuhan ekonomi 7-8 persen lima tahun lalu tak terbukti. Selama kepemimpinan Jokowi pertumbuhan ekonomi tak lebih dari 5 persen.

Yang sedikit perlu dicermati adalah point nomor 2 dan 3. Penyederhanaan regulasi dan birokrasi. Ini mestinya bisa dikerjakan mulai tahun pertama di periode awal. Kenapa baru bicara sekarang? Apa susah dan kendalanya bagi presiden untuk menyederhanakan regulasi dan birokrasi di periode pertama? Gak sulit. Otoritas dan kekuasaan ada di tangan. Cukup dengan satu tanda tangan, semua beres. Hanya soal kebijakan. Kenapa tidak dilakukan? Ini yang jadi pertanyaan

Terlambat! Meski terlambat, tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali. Rakyat hanya perlu mengawasi apakah dua janji ini akan direalisasikan kedepan. Kenapa harus rakyat, bukan DPR? Ah, capres saja ikut koalisi, bagaimana sempat ngawasi? Mungkin hanya PKS. Itupun kursinya gak terlalu banyak. Sudah begitu, PKS terus diganggu dengan isu wahabi, khilafah dan Islam radikal. Cukup bayar 10-30 orang untuk demo setiap pekan di depan kantor PKS supaya konsentrasinya terganggu.

Rakyatlah oposisi yang sesungguhnya ketika partai-partai yang seharusnya jadi oposisi memilih ikut koalisi. Gak tahan lihat kursi. Alasannya macam-macam. High politics-lah… demi keutuhan bangsalah… Ketinggian bahasanya bro! Lalu buat opini ada poros ketiga-lah…. Ada penumpang gelap-lah… Klasik!

Dalam situasi seperti ini, rakyat terpanggil untuk menjadi oposisi. Diantara tugas rakyat adalah mengawasi kinerja pemerintahan lima tahun kedepan, termasuk program presiden yang diungkapkan dalam pidato pasca pelantikan Minggu, 20 Oktober kemarin. Melakukan kritik, bila perlu demo jika presiden mengambil kebijakan yang salah. Asal tak anarkis. Tak melanggar hukum. Tetap hati-hati. Pengalaman kemarin, banyak demonstran yang mati. Waspadah…waspadalah!

*Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa