Mengapa Kenya Menjadi Target Al Shabab?

Mengapa Kenya Menjadi Target Al Shabab?

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 300 orang telah tewas akibat 20 serangan lebih yang dilakukan kelompok pejuang al-Shabab di Kenya selama lima tahun terakhir.

Berbasis di Tanduk Afrika, kelompok yang terkait al-Qaeda tersebut awalnya memusatkan serangannya di Somalia, dan ingin menegakkan hukum Islam seraya berjuang untuk menggulingkan pemerintah korup yang didukung Barat, lansir Aljazeera Kamis (17/1/2019).

Namun sejak 2011, kelompok bersenjata ini semakin menargetkan Kenya.

Pada 2013, al-Shabab mengklaim bertanggung jawab atas serangan mal mematikan di Nairobi yang menewaskan lebih dari 60 orang. Pada April 2015, serangan terhadap sebuah universitas di kota Garissa menewaskan sedikitnya 147 orang.

Pada 2011, menyusul serentetan penculikan di wilayah pesisirnya, Kenya mengirim pasukannya ke tetangga Somalia untuk menargetkan para pejuang al-Shabab, yang dituduh melakukan penculikan. Al-Shabab membantah terlibat dalam penculikan.

Pasukan Kenya, yang didukung oleh tentara Somalia, mendorong al-Shabab keluar dari beberapa kota yang dikontrol pejuang itu di Somalia selatan.

Kelompok bersenjata itu kemudian mulai melakukan serangan mematikan di Kenya sebagai balasan kepada pasukan Kenya yang menyeberang ke Somalia.

“Mereka (pasukan salib) menyerbu tanah Muslim Somalia … adalah tugas kami untuk membalas dendam,” kata jurubicara al-Shabab, Syeikh Ali Dheere, kepada Al Jazeera pada 2014 setelah kelompok itu menewaskan 28 orang dalam serangan di Mandera.

Al-Shabab juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Djibouti dan Uganda – dua negara yang mengirim pasukannya sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian Uni Afrika yang diamanatkan PBB di Somalia untuk melawan al-Shabab.

Bom kembar 2010 oleh al-Shabab di Kampala menewaskan sedikitnya 70 orang. Empat tahun kemudian, serangan martir di sebuah restoran di Djibouti menewaskan tiga orang.

Baca juga:

Burundi dan Ethiopia juga berkontribusi mengirimkan pasukan ke misi Uni Afrika di Somalia tetapi belum mendapat serangan dari al-Shabab.

Kenya berbagi perbatasan yang panjang dan keropos dengan Somalia. Sebagian besar serangan al-Shabab terjadi di dekat batas 600 kilometer yang dapat dilintasi oleh pejuang dengan mudah.

Masyarakat yang tinggal di wilayah ini – wilayah utara dan pesisir – telah lama merasa ditinggalkan oleh pemerintah pusat di Nairobi.

“Saya pikir alasan Kenya lebih sering terkena adalah karena ia memiliki kerentanan yang lebih besar – lebih banyak korupsi dan sejarah marjinalisasi yang belum terselesaikan khususnya di timur laut dan di pantai,” Patrick Gathara, seorang penulis dan kartunis politik yang berpusat di Nairobi, mengatakan kepada Al Jazeera.

Setelah keruntuhan pemerintah pusat di Somalia, banyak pemimpin puncak al-Shabab, termasuk salah satu amirnya saat ini Ahmad Omar, telah tinggal di Kenya.

Beberapa tokoh senior lainnya, termasuk orang yang diduga mendalangi serangan universitas Garissa, Mohamed “Kuno” Dulyadayn, yang terbunuh dalam serangan bersama oleh pasukan Somalia dan asing, adalah warga negara Kenya.

Dan, seperti banyak orang Somalia di Kenya, mereka memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di tangan otoritas Kenya sebelum mereka bergabung dengan al-Shabab

Kuno telah berulang kali berbicara tentang penganiayaan yang dialami anggota keluarga di Garissa di tangan pasukan keamanan Kenya. Bagi Kuno dan banyak pemimpin puncak lainnya, itu adalah balas dendam.

Hingga 2015, Kenya memiliki ekonomi terbesar di wilayah itu sebelum diambil alih oleh Ethiopia.

Dua badan PBB – UN-Habitat dan Program Lingkungan PBB – memiliki kantor pusat di ibukota Kenya. Beberapa perusahaan internasional seperti General Electric, Nestle, Heineken dan Mastercard juga memiliki kehadiran yang kuat di negara ini.

“Nairobi menjadi tuan rumah bagi ikon internasional bernilai tinggi yang dapat ditargetkan untuk mengirim pesan ke negara-negara barat. Negara seperti Burundi kurang strategis dan juga Anda harus melintasi beberapa perbatasan untuk mencapainya sehingga berisiko,” Abullahi Boru, seorang analis keamanan Tanduk Afrika, mengatakan kepada Al Jazeera.

Nairobi juga merupakan kota Afrika pilihan bagi media internasional untuk menempatkan basis operasi mereka. Tahun lalu, BBC membuka kantor terbesarnya di luar Inggris di Nairobi. CGTN China juga memiliki kantor pusat Afrika di Nairobi.

Para analis mengatakan kelompok itu tahu bahwa menargetkan Kenya akan membawa liputan media besar yang pada gilirannya dapat digunakan untuk meningkatkan peringkat politiknya.

“Al-Shabab, seperti banyak kelompok sejenisnya, sangat selaras dengan kenyataan bahwa perhatian media yang besar menghasilkan lebih banyak peluang rekrutmen,” kata Boru.

Presiden Kenya Uhuru Kenyatta telah berjanji untuk mengadili semua yang berada di belakang serangan hotel di Nairobi. Pengumuman itu mungkin menghasilkan serangan tit-for-tat dari kelompok bersenjata.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X