Kisah Maysa dan Mary, Ibu-Anak Kristen yang Gugur dalam Serangan Gaza

GAZA (jurnalislam.com)— Maysa Khader Abu Dawoud, 55 tahun, dan putrinya, Mary Hafez Abu Dawoud, 36 tahun, menjadi dua dari lima warga Palestina yang gugur dalam serangan udara Israel terhadap sebuah gedung apartemen di Kota Gaza, Sabtu (3/10/2026) dini hari.

Ibu dan anak itu merupakan bagian dari komunitas Kristen Palestina di Gaza.
Serangan menghantam gedung al-Asala di sebelah barat Kota Gaza sekitar pukul 01.25 waktu setempat, ketika warga sedang beristirahat.

Palestinian Centre for Human Rights (PCHR) menyebut lima warga Palestina gugur dalam serangan tersebut, empat di antaranya perempuan. Sekitar 10 orang lainnya terluka dan dibawa ke Kompleks Medis al-Shifa.

Selain Maysa dan Mary, korban lainnya adalah Halloum Mahmoud Mohammed al-Bobo, 84 tahun; putrinya, Yasim Khamis Mohammed al-Bobo, 48 tahun; serta Belal Ali Khalil Odah, 20 tahun.

Melayani Warga dan Pengungsi Gaza

Maysa dan Mary bukan nama yang asing bagi sebagian komunitas Kristen di Gaza.

Komite Tinggi Urusan Gereja Palestina menyebut keduanya selama ini mencurahkan waktu untuk membantu jemaat dan warga pengungsi yang berlindung di Gereja Keluarga Kudus atau Holy Family Church di Gaza.

Di tengah kondisi kemanusiaan yang terus memburuk, keduanya ikut memberikan dukungan dan bantuan kepada warga yang mengungsi.

Ketua Komite Tinggi Urusan Gereja Palestina, Ramzi Khouri, menyebut kematian Maysa dan Mary sebagai kehilangan besar bagi keluarga, gereja, dan komunitas Kristen di Gaza.

Ia menegaskan bahwa umat Kristen Gaza merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat Palestina dan tetap bertahan di tanah mereka di tengah perang dan kehancuran.

Gugur Saat Serangan Menghantam Apartemen

Menurut PCHR, pesawat tempur Israel menghantam lantai dasar gedung al-Asala pada dini hari.

Serangan menyebabkan kerusakan berat pada bangunan. Reuters melaporkan serangan tersebut juga memicu kebakaran. Warga sekitar bergegas menuju lokasi untuk membantu mencari korban di antara puing-puing.

Salah seorang saksi mengatakan warga sedang tidur ketika rentetan ledakan terdengar dan membuat anak-anak terbangun ketakutan.
Petugas pertahanan sipil dan warga kemudian melakukan pencarian di bangunan yang rusak.

Dilepas di Gereja Saint Porphyrius

Kepergian Maysa dan Mary membawa duka bagi komunitas Kristen Palestina di Gaza.
Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya keduanya kepada keluarga serta komunitas Kristen Gaza.

Jenazah Maysa dan Mary kemudian dibawa ke Gereja Saint Porphyrius di Kota Gaza pada Sabtu siang. Di gereja tua yang telah menjadi salah satu tempat berlindung warga selama perang itu, keluarga, jemaat, dan pemuka agama berkumpul melepas keduanya.

Reuters merekam para pelayat dan rohaniwan memenuhi gereja dalam upacara pemakaman tersebut.

Kematian keduanya kembali memperlihatkan bahwa komunitas Kristen Palestina turut menanggung dampak perang yang melanda Jalur Gaza.

Lima Warga Gugur, Empat di Antaranya Perempuan

Maysa dan Mary bukan satu-satunya ibu dan anak yang gugur dalam serangan itu. PCHR mencatat Halloum al-Bobo, 84 tahun, juga gugur bersama putrinya, Yasim al-Bobo, 48 tahun.

Dengan demikian, empat dari lima korban serangan tersebut merupakan dua pasang ibu dan anak. Seorang korban lainnya, Belal Ali Khalil Odah, berusia 20 tahun.

PCHR mencatat serangan di gedung al-Asala merupakan bagian dari rangkaian serangan Israel di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir.

Sedikitnya 16 warga Palestina, termasuk enam perempuan dan seorang anak, gugur dan sedikitnya 36 lainnya terluka sejak Rabu (30/9) siang hingga Sabtu (3/10) dini hari.

Israel Klaim Memburu Pejabat Hamas

Militer Israel mengatakan pihaknya melakukan serangan pada malam tersebut dengan sasaran Ali al-Amoudi, yang disebut sebagai seorang pejabat senior Hamas.

Namun, Israel tidak menjelaskan apakah operasi yang dimaksud adalah serangan terhadap gedung al-Asala.

Hingga berita ini ditulis, belum ada verifikasi independen yang memastikan bahwa al-Amoudi berada di apartemen tersebut ketika serangan terjadi.

Sementara itu, lima nama korban yang dicatat PCHR adalah warga Palestina yang berada di gedung tersebut, termasuk Maysa dan Mary.
Keduanya kini menjadi bagian dari panjangnya daftar warga Gaza yang kehilangan nyawa di tengah serangan yang belum berhenti.

Bagi komunitas Kristen Palestina, kehilangan Maysa dan Mary bukan hanya kehilangan dua anggota jemaat.

Mereka kehilangan seorang ibu dan putrinya yang selama perang memilih tetap berada di Gaza, membantu jemaat dan warga yang mengungsi, hingga keduanya sendiri gugur dalam serangan.