Islam di Jepang Sebelum Tahun 1900

8 Maret 2017
Islam di Jepang Sebelum Tahun 1900

Jurnalislam.com – Saat keduanya berada di bawah tekanan dari negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan dan mulai bertukar kunjungan. Yang paling penting dari kunjungan ini adalah misi yang dikirim oleh Abdul Hamid II (memerintah tahun 1876-1909) ke Jepang dengan kapal laut Ertugrul yang membawa lebih dari enam ratus perwira dan tentara dipimpin oleh laksamana Utsman Pasha pada tahun 1890.

Dalam perjalanan pulang, setelah misi di Jepang berhasil dan bertemu Kaisar Jepang, badai menerpa kapal saat masih di perairan Jepang, menyebabkan tewasnya lebih dari 550 orang termasuk adik Sultan.

Bencana itu menyedihkan kedua negara dan korban yang selamat dibawa dengan dua kapal Jepang ke Istanbul. Para korban dimakamkan di lokasi kecelakaan dan sebuah museum didirikan tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Turki dan Jepang masih memperingati peristiwa tersebut sampai hari ini di lokasi kecelakaan setiap lima tahun meskipun pemerintahan berganti-ganti.

Seiring kapal yang pulang dengan selamat, seorang wartawan muda Jepang bernama Torajiro Noda yang mengumpulkan sumbangan di Jepang bagi keluarga korban, berangkat ke Istanbul, menyerahkan sumbangan tersebut kepada pemerintah Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II, yang memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang kepada petugas Utsmaniyah. Selama tinggal di Istanbul, dia bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim Inggris dari Liverpool, yang memperkenalkan Noda kepada Islam. Setelah diskusi panjang dan yakin bahwa Islam adalah kebenaran, Noda memeluk Islam dan memilih untuk diberi nama Abdul Haleem, sebagai mana ditunjukkan dokumen Turki.

Abdul Haleem Noda bahkan bisa dianggap sebagai Muslim Jepang pertama. Segera setelah itu, warga Jepang lain bernama Yamada pergi ke Istanbul pada tahun 1893 untuk memberikan donasi yang telah dikumpulkannya di Jepang untuk keluarga syuhada di Turki. Setelah memeluk Islam dan menjadi orang Jepang kedua yang memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Khaleel, atau mungkin Abdul Khaleel. Dia tinggal di Istanbul beberapa tahun melakukan bisnis dan terus melakukan hubungan persahabatan dengan Turki setelah pulang ke Jepang sampai kematiannya.

 

Orang Jepang ketiga yang memeluk Islam adalah seorang pedagang Kristen bernama Ahmad Ariga. Ia mengunjungi Bombay, India pada tahun 1900. Pemandangan yang indah dari Masjid di sana menarik perhatiannya, ia pergi dan menyatakan masuk Islam. Selama periode ini, sejumlah pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama, dan Kobe, dan mereka dianggap komunitas Muslim pertama di Jepang.

 

 

Sumber: World Bulletin (Legal Notice: Copyright, trade marks and other intellectual property rights in this website can not be reproduced without the prior permission)