Hanya Karena Bepergian, 30 Warga Rohingya Ditangkap Aparat Myanmar

Hanya Karena Bepergian, 30 Warga Rohingya Ditangkap Aparat Myanmar

Pemerintah Myanmar menangkap dan memenjarakan 30 warga Rohingya yang hendak pergi ke Yangon, termasuk seorang anak 5 tahun

RAKHINE (Jurnalislam.com) – Human Rights Watch (HRW) mendesak pihak berwenang Myanmar harus segera membebaskan 30 Muslim Rohingya yang ditahan karena berusaha melakukan perjalanan dari Negara Bagian Rakhine ke kota Yangon. Pemerintah harus mencabut semua pembatasan perjalanan pada etnis Rohingya dan mencabut peraturan diskriminatif yang membatasi hak mereka untuk bebas bergerak.

Polisi menangkap 30 warga Rohingya pada 26 September 2019. Seminggu kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman 21 tahun penjara kepada mereka, dan mengirim delapan anak ke pusat penahanan anak. Termasuk, seorang anak berusia 5 tahun, ditahan di penjara Pathein bersama ibunya.

“Pemerintah Myanmar tampaknya berniat menganiaya Rohingya tak peduli mereka tinggal di rumah atau mencoba melakukan perjalanan bebas di negara itu,” kata Brad Adams, direktur HRW Asia.

“30 pria, wanita, dan anak-anak ini dihukum karena hanya mencari pelarian dari kebrutalan sehari-hari yang telah mereka alami selama bertahun-tahun,” sambungnya.

Laporan media setempat mengatakan, 30 warga Rohingya ditangkap dengan dalih bepergian tanpa izin resmi dan dokumentasi.  Mereka ditangkap setelah tiba di Wilayah Ayeyarwady dengan kapal dari kota Sittwe di Negara Bagian Rakhine tengah. Mereka itu sedang dalam perjalanan ke Yangon untuk mencari pekerjaan atau berusaha untuk melanjutkan ke Malaysia.

Pada tanggal 4 Oktober, Pengadilan Kotapraja Ngapudaw menjatuhkan hukuman dua tahun penjara bagi 21 etnis Rohingya dan tidak diberi akses ke perwakilan hukum. Mereka dihukum berdasarkan bagian 6 (3) dari Undang-Undang Registrasi Penduduk Burma tahun 1949, yang dijatuhi hukuman maksimal dua tahun.

Rohingya sering menghadapi penangkapan dan penuntutan karena berusaha melakukan perjalanan antara kota-kota kecil atau di luar Negara Bagian Rakhine.

Delapan diantaranya adalah anak-anak yang kemudian dikirim ke “sekolah pelatihan” di kota Kawhmu, Wilayah Yangon, di mana keluarga mereka dilarang mengunjungi mereka. Radio Free Asia melaporkan bahwa “belum ada keputusan” tentang anak berusia 5 tahun itu.

“Itu adalah kekejaman yang sangat ironi, sebelumnya orang-orang Rohingya ini ditahan di penjara terbuka di Negara Bagian Rakhine dan sekrang akan dipenjara di Pathein,” kata Adams.

“Pemenjaraan mereka merupakan tanda yang jelas bagi PBB dan pemerintah asing yang mendorong kembalinya pengungsi Rohingya dari Bangladesh bahwa Myanmar tidak berminat untuk memberikan kebebasan fundamental bagi populasi Rohingya,” tutupnya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X