Gencatan Senjata dengan Hamas Semakin Dekat, PM Zionis Batalkan ke Amerika

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu membatalkan rencana kunjungan ke Amerika Latin di tengah laporan mengenai gencatan senjata “segera” dengan gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) yang bermarkas di Gaza.

Menurut pernyataan hari Kamis (2/8/2018) yang dikeluarkan oleh kantornya, Netanyahu “telah memutuskan untuk tinggal di Israel pekan depan karena situasi di selatan [yaitu Jalur Gaza] dan karenanya membatalkan perjalanan yang direncanakannya ke Kolombia.”

Harian Israel Haaretz melaporkan bahwa Netanyahu telah membatalkan perjalanan yang dijadwalkan “di tengah laporan kemajuan dalam pembicaraan yang ditengahi Mesir antara Israel dan pemimpin Hamas di Gaza,” lansir Anadolu Agency.

Mahmoud Abbas Serukan Dunia Turut Campur atas Esakali Militer Israel di Gaza

Ini adalah pertama kalinya bagi Netanyahu membatalkan perjalanan yang direncanakan ke luar negeri karena masalah terkait keamanan.

Sementara Hamas belum mengkonfirmasi laporan bahwa mereka sedikit lagi mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, pengamat yang dikutip di media Israel mengatakan kesepakatan itu “sudah dekat”.

Serangan Layang-layang Warga Gaza pada Lahan Pertanian, Rugikan Israel Us$ 2, 5 Juta

Dua pekan lalu, kelompok-kelompok perlawanan yang berbasis di wilayah jajahan Israel dan Gaza mengumumkan kesepakatan gencatan senjata terbatas setelah serangkaian eskalasi di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.

Selama tiga bulan terakhir, warga Palestina telah melakukan unjuk rasa tanpa henti (rutin setiap hari) di dekat zona penyangga.

Sejak demonstrasi dimulai pada 30 Maret, lebih dari 150 warga Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – oleh tembakan brutal tentara penjajah Israel.

Analis: Veto AS Buat Israel Semakin Brutal Terhadap Rakyat Palestina

Warga Palestina menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah, sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk membuka jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 11 tahun Israel di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi di wilayah pesisir dan merampas banyak barang kebutuhan pokok bagi kira-kira dua juta penduduknya.