DKM Baru MMR Larang Ibu-ibu Ikuti Kajian Yang Sudah Berjalan 10 Tahun

Bekasi (Jurnalislam.com) –  Pengajian rutin ummahat setiap hari Rabu di Masjid Muhammad Ramadhan terpaksa harus digelar di luar masjid karena DKM baru Masjid Muhammad Ramadhan tidak menginzinkan kegiatan rutuin tersebut diadakan di dalam masjid. Dengan menggelar karpet dan koran sebagai alas, para ibu ini terlihat semangat mengikuti kajian.

Pengurus baru DKM MMR adalah kepengurusan yang dibentuk oleh pemkot Bekasi pasca dirampasnya Masjid Muhammad Ramadhan oleh mereka hari Ahad (20/04/2014) lalu. Disinyalir mereka ketakutan akan berkembangnya dakwah tauhid dan jihad serta counter pemurtadan serta aliran sesat yang gencar diusung oleh DKM MMR sebelumnya. Akhirnya dengan penuh arogansi, Pemkot Bekasi lengkap dengan aparat kepolisian dan Satpol PP dibantu ormas FBR mengambilalih paksa Masjid Muhammad Ramadhan lalu mengganti kepengurusan MMR sekaligus mengganti namanya menjadi Masjid Raya Muhammad Ramadhan.

Baru sehari masa jabatan pengurus baru yang dibentuk oleh pemkot, kejanggalan-kejanggalan mulai terlihat. Jamaah sholat subuh pada hari Senin (21/04) hanya 4 orang, mereka juga harus menunggu pemegang kunci yang datang terlambat hingga Masjid Muhammmad Ramadhan tidak sempat mengumandangkan azan subuh. Esoknya, Selasa (22/04) hanya terdengar suara iqomah saja dari Masjid.

Dan hari ini (22/04), ibu-ibu yang biasa menggelar kajian rutinnya harus menerima kenyataan pahit. Pengajian rutin yang telah mereka adakan sejak 10 tahun yang lalu, kini dilarang oleh pengurus baru DKM MMR.

Ibu dr. Santri Sandrakencana, dengan berat hati harus menyampaikan berita tersebut di hadapan ibu-ibu yang telah sekian lama ia bina.

“Pertama masjid ini sudah dialihkan menjadi Masjid Jami’ Raya Bekasi Selatan,  jadi secara otomatis pengurus pengajian yang di kudeta tidak lagi aktif dan mohon agar ibu-ibu majlis ta’lim tidak terprovokasi atas berita yang muncul”, tuturnya dengan mimik sedih yang tak bisa ia sembunyikan

“Kita tidak dikumpulkan oleh masjid atau DKM, tapi kita bertemu dan berpisah karena Allah. Dan suatu saat kita akan bertemu denga izin Allah. Luas, ladang dakwah itu luas dan bisa bertemu dimana saja insya Allah”, imbuhnya disambut isak tangis para jamaah.

Ditengah tangisan ia menyampaikan pesannya bahwa dakwah tak berhenti sampai disini, bahkan ibu-ibu majlis ta’lim masih antusias untuk menggelar pengajian serupa dan siap ta’lim dimanapun berada.(ded412/abuzahro /amaif/voaislam)

Ummahat MMR Yang Diusir DKM

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.