Ayah yang “Hilang” di Rumah Sendiri: Membaca Fatherless Indonesia di 2026

Oleh: Cak Arip

Bayangkan sebuah rumah di Surabaya. Malam sudah turun. Seorang ayah duduk di ruang tengah dengan telepon genggam di tangan. Ia sudah pulang dari pekerjaan, tubuhnya berada di rumah, tetapi perhatiannya masih tertinggal di layar.

Di kamar sebelah, anaknya tumbuh bersama mesin pencari, media sosial, video pendek, dan bermacam aplikasi yang siap menjawab hampir semua pertanyaan.
Hampir semua.

Sebab ada hal-hal yang tidak bisa diberikan algoritma: tatapan seorang ayah yang benar-benar mendengarkan, percakapan yang tidak tergesa-gesa, nasihat yang lahir dari kedekatan, dan contoh hidup yang disaksikan setiap hari.

Ayah itu tidak pergi. Tidak pula meninggalkan keluarganya. Tetapi anak bisa saja perlahan kehilangan kehadirannya.

Fatherless Tidak Selalu Berarti Ayah Tidak Ada

Pembicaraan tentang fatherless di Indonesia sering berhenti pada gambaran keluarga tanpa ayah. Padahal data terbaru menunjukkan persoalannya lebih luas.

Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 (PK-25) oleh Kemendukbangga/BKKBN mencatat 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless. Pengukuran ini tidak hanya melihat ketidakhadiran ayah secara fisik. Indikatornya juga mencakup interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak.

Artinya, seorang anak bisa tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi tetap kekurangan peran ayah dalam keseharian. Di sinilah persoalan menjadi dekat dengan banyak keluarga.

Ayah bekerja, membayar sekolah, memastikan makanan tersedia, mengantar kendaraan ke bengkel, dan memenuhi kebutuhan rumah. Semua itu penting. Nafkah adalah tanggung jawab yang tidak ringan. Namun hubungan ayah dan anak tidak selesai ketika tagihan sudah dibayar.

Ada ayah yang mengetahui nilai rapor anaknya, tetapi tidak tahu apa yang membuat anak itu takut. Ia menyediakan uang saku, tetapi tidak tahu siapa teman dekat anaknya. Percakapan di rumah lebih sering berisi perintah, teguran, atau pertanyaan singkat tentang sekolah.
Tanpa disadari, hubungan itu berubah menjadi semacam administrasi keluarga.

Padahal penelitian mengenai keterlibatan ayah menunjukkan sesuatu yang lebih luas. Sebuah tinjauan sistematis terhadap studi longitudinal menemukan bahwa keterlibatan ayah secara aktif dan teratur berkaitan dengan berbagai hasil positif pada perkembangan sosial, perilaku, psikologis, dan kognitif anak.

Meta-analisis yang terbit pada Agustus 2026 juga menemukan keterlibatan ayah berkorelasi positif dengan perilaku sosial positif anak, meski kekuatan hubungannya dipengaruhi usia, kondisi sosial ekonomi, budaya, dan bentuk keterlibatan ayah itu sendiri.

Kata pentingnya adalah keterlibatan.
Bukan sekadar keberadaan. Ketika Gawai Ikut Duduk di Antara Ayah dan Anak

Ada bentuk jarak lain yang mungkin lebih akrab dengan kehidupan keluarga hari ini.
Anak datang membawa cerita. Ayah menjawab sambil melihat ponsel.

Anak menunjukkan sesuatu. Ayah mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan. Anak bertanya dijawab “Cari saja di Google.” Kejadian kecil seperti itu sekali-dua kali tentu tidak menjadikan seseorang ayah yang buruk. Orang tua juga lelah, memiliki pekerjaan, masalah, dan kebutuhan pribadi. Masalah muncul ketika pola tersebut menjadi kebiasaan.

Dalam penelitian psikologi ada istilah parental phubbing, penggunaan telepon genggam oleh orang tua di hadapan anak sampai mengganggu interaksi dengan mereka.

Meta-analisis terhadap 42 penelitian dengan lebih dari 56 ribu anak menemukan parental phubbing berkaitan dengan lebih banyak masalah internalisasi dan eksternalisasi pada anak, serta tingkat konsep diri dan kompetensi sosial-emosional yang lebih rendah.

Penelitian tersebut dilakukan pada populasi di China dan menunjukkan hubungan atau korelasi, bukan bukti bahwa telepon genggam sendirian menyebabkan seluruh persoalan itu. Batas itu penting.

Kita tidak perlu menjadikan gawai kambing hitam baru dalam pengasuhan. Masalahnya bukan semata benda yang ada di tangan ayah, melainkan perhatian yang tidak lagi sampai kepada anak.

Ruang digital sendiri juga tidak seluruhnya buruk. Anak bisa belajar banyak hal darinya. Tetapi ketika percakapan di rumah semakin tipis, keluarga kehilangan kesempatan menjadi tempat pertama bagi anak untuk bertanya, menguji apa yang dilihatnya, dan membicarakan kebingungannya. Algoritma selalu punya sesuatu untuk ditawarkan.
Ayah seharusnya punya waktu untuk mendengarkan.

Ayah Bukan Hanya Pencari Nafkah

Bagi keluarga Muslim, pembicaraan tentang peran ayah tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab pendidikan keluarga.

Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. At-Tahrim: 6).

Penggalan ayat tersebut menempatkan tanggung jawab keluarga lebih jauh daripada pemenuhan kebutuhan material. Ayah juga hadir dalam pendidikan iman dan akhlak.

Dan pendidikan semacam itu tidak selalu berbentuk ceramah panjang setelah salat.
Anak memperhatikan bagaimana ayah menjaga salatnya. Bagaimana ia menepati janji. Bagaimana ia berbicara kepada istrinya. Bagaimana ia bersikap ketika marah. Apakah ia bersedia meminta maaf ketika salah. Apakah kejujuran yang diajarkan kepada anak juga terlihat ketika tidak ada orang lain yang mengawasi.

Di sanalah keteladanan bekerja. Seorang ayah bisa berkali-kali meminta anak berlaku sopan, tetapi anak juga melihat cara ayah berbicara kepada ibunya. Ayah bisa meminta anak menjauhi kebohongan, sementara anak diam-diam mengamati bagaimana orang tuanya menyelesaikan urusan sehari-hari. Pendidikan akhlak sering berlangsung tanpa papan tulis.

Anak belajar dengan melihat. Karena itu, menyebut ayah sebagai murabbi tidak cukup berhenti sebagai istilah. Ia menuntut kedekatan. Sulit mendidik hati anak yang jarang kita dengarkan.

Jangan Pukul Rata Keluarga Tanpa Ayah

Pembicaraan tentang fatherless juga membutuhkan kehati-hatian. Tidak semua anak yang tidak tinggal bersama ayah mengalami keadaan yang sama. Ada ayah yang meninggal. Ada perceraian. Ada pekerjaan yang memaksa seseorang tinggal jauh dari keluarga. Ada pula ibu yang membesarkan anak seorang diri dalam keadaan yang tidak pernah ia pilih.

Data BKKBN sendiri menunjukkan penyebab ketidakhadiran peran ayah beragam, termasuk mobilitas pekerjaan, perceraian, dan rendahnya keterlibatan dalam pengasuhan.

Karena itu, isu fatherless tidak semestinya berubah menjadi stempel terhadap anak atau tudingan kepada ibu tunggal.

Fokusnya justru pada sesuatu yang masih bisa diperbaiki, kualitas keterlibatan ayah ketika kesempatan itu tersedia.

Seorang ayah yang bekerja jauh masih dapat membangun kebiasaan menelepon anak dengan sungguh-sungguh. Ayah yang sangat sibuk masih dapat menyediakan waktu yang benar-benar menjadi milik keluarga.

Bahkan ketika orang tua tidak lagi hidup dalam satu rumah, tanggung jawab terhadap hubungan dengan anak tidak otomatis berakhir. Jarak geografis memang menjadi kendala. Ketidakpedulian adalah persoalan yang berbeda.

Pulang Secara Emosional

Mungkin karena itu, tantangan terbesar sebagian ayah hari ini bukan menemukan jalan pulang ke rumah. Mereka sudah tahu alamatnya. Yang perlu ditemukan kembali adalah jalan menuju anak.

Mulailah dari sesuatu yang tidak spektakuler. Simpan telepon ketika anak sedang bercerita. Tanyakan apa yang belakangan membuatnya senang atau khawatir. Jangan setiap percakapan berubah menjadi pemeriksaan nilai sekolah.

Ajak salat berjamaah, makan bersama, berjalan sebentar, atau duduk tanpa agenda tertentu. Dan jangan hanya hadir ketika anak melakukan kesalahan.

Kehadiran yang hanya muncul dalam bentuk teguran akan membuat anak mengenal ayah sebagai hakim, bukan tempat pulang. Ayah juga tidak dituntut menjadi manusia yang mempunyai jawaban untuk segala persoalan.

Kadang anak membutuhkan seseorang yang mau mengatakan, “Ayah belum tahu. Kita cari jawabannya bersama.” Ada kerendahan hati di sana. Ada pendidikan juga.

Di tengah dunia yang menawarkan suara, tokoh, nilai, dan jawaban dari segala arah, keluarga membutuhkan ayah yang bisa menjadi rujukan tanpa harus menjadi orang yang paling banyak bicara.
Cukup hadir. Mendengar. Memberi arah. Menjadi contoh.

Jangan sampai seorang anak tumbuh membawa kerinduan kepada ayah yang sebenarnya setiap malam tidur di rumah yang sama.

Sebab barangkali ada ayah yang tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah, tetapi suatu hari baru menyadari bahwa anaknya telah lama belajar menjalani hidup tanpa melibatkannya.

Penulis: Cak Arip adalah seorang aktifis dan pemerhati isu-isu Islam kontemporer, media sosial, serta dinamika dakwah digital.