Berita Terkini

Jet Tempur Buatan China Milik Pakistan Tembak Jatuh Dua Jet India

PAKISTAN (jurnalislam.com)- Pesawat tempur buatan China yang dioperasikan oleh Pakistan dikabarkan menembak jatuh sedikitnya dua jet tempur India pada Rabu (7/5), menurut dua pejabat Amerika Serikat yang dikutip oleh Reuters. Insiden ini disebut sebagai pencapaian signifikan bagi jet tempur canggih produksi Beijing dalam situasi konflik bersenjata.

Juru bicara Angkatan Udara India menolak memberikan komentar ketika dimintai tanggapan atas laporan tersebut.

Performa jet tempur unggulan China tengah menjadi perhatian di Washington, mengingat potensi keterlibatan Beijing dalam konflik regional, seperti sengketa di Taiwan atau kawasan Indo-Pasifik secara lebih luas.

Salah satu pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, menyebut Pakistan diyakini menggunakan jet tempur J-10 buatan China untuk menembakkan rudal udara-ke-udara ke arah pesawat India, dan berhasil menjatuhkan setidaknya dua di antaranya.

Pejabat AS lainnya mengungkapkan bahwa salah satu pesawat India yang ditembak jatuh adalah jet tempur Rafale buatan Prancis.

Kedua pejabat menegaskan bahwa pesawat tempur F-16 milik Pakistan, yang diproduksi Lockheed Martin (AS), tidak dilibatkan dalam penembakan tersebut.

Pemerintah India sendiri belum mengakui kehilangan pesawat tempurnya. Sebaliknya, India mengklaim telah berhasil menyerang infrastruktur yang disebutnya sebagai milik kelompok teroris di wilayah Pakistan.

Sementara itu, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China menyerukan agar kedua negara menahan diri di tengah eskalasi militer yang terjadi di salah satu wilayah paling rawan konflik nuklir di dunia.

Di sisi lain, produsen jet Rafale, Dassault Aviation, serta konsorsium MBDA—pembuat rudal udara-ke-udara Meteor—belum memberikan pernyataan karena insiden ini terjadi bertepatan dengan hari libur di Prancis.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa tiga jet India jatuh, berdasarkan keterangan pejabat lokal India. Namun, ini merupakan konfirmasi pertama dari pejabat Barat bahwa jet tempur buatan China yang dimiliki Pakistan digunakan dalam operasi penembakan tersebut.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, kepada Reuters pada Kamis (8/5) menyebutkan bahwa jet J-10 digunakan untuk menembak jatuh tiga pesawat tempur Rafale milik India yang baru saja dibeli dari Prancis.

Secara keseluruhan, Pakistan mengklaim telah menjatuhkan lima jet tempur India dalam pertempuran udara yang terjadi.

Jet Rafale dan J-10 milik Pakistan sama-sama dikategorikan sebagai pesawat tempur generasi 4.5, yang menempatkan mereka dalam jajaran jet tempur canggih.

India dan Pakistan, dua negara bersenjata nuklir, memiliki sejarah panjang permusuhan. Keduanya telah terlibat dalam tiga perang besar dan berbagai konflik kecil lainnya.

Ledakan terdengar di kota Jammu, wilayah Kashmir yang dikuasai India, pada Kamis malam. Sumber militer India menyebutkan ledakan tersebut diduga sebagai dampak serangan drone Pakistan dalam lanjutan ketegangan militer hari kedua antara kedua negara.

Sebelumnya, Pakistan mengatakan telah menembak jatuh 25 drone India dalam semalam. India mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil menggagalkan serangan drone dan rudal Pakistan yang menyasar sasaran militer. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Menhan Pakistan: India Serang Warga Sipil dan Masjid, Bukan Lokasi Teroris

PAKISTAN (jurnalislam.com)- Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menuduh India menyerang warga sipil dan masjid dalam serangan rudal balasan atas insiden di Pahalgam, Kashmir, yang dikelola India. Ia menegaskan bahwa tidak ada kamp teroris maupun lokasi pelatihan militan di wilayah Pakistan yang menjadi sasaran.

Dalam wawancara dengan program W News yang dipandu Leigh-Ann Gerrans dan ditayangkan oleh Al Arabiya English pada Kamis (8/5/2025), Khawaja Asif membantah klaim New Delhi yang menyebut telah menghantam infrastruktur teroris di Pakistan dan wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan.

“India hanya menyerang penduduk sipil dan beberapa masjid,” ujar Asif.

Ia menyatakan keprihatinan terhadap meningkatnya eskalasi militer yang menurutnya telah menjadi kenyataan pahit bagi warga sipil di kedua negara.

“Eskalasi yang terjadi setiap jam telah menjadi kenyataan yang sangat pahit,” ungkapnya.

Menteri pertahanan Pakistan juga menyebut adanya korban di pihak India selama bentrokan di sepanjang Garis Kontrol (LoC), meski klaim tersebut telah dibantah oleh pemerintah India.

“Selama pertempuran di perbatasan kerja dan Garis Kontrol, beberapa tentara India tewas, dan dua markas brigade hancur,” katanya.

Lebih lanjut, Asif menyebut India juga menargetkan warga sipil di beberapa kota besar Pakistan seperti Rawalpindi, Lahore, dan Karachi melalui serangan pesawat tak berawak yang menyasar puluhan lokasi.

Ia menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil non-kombatan dan menyalahkan India atas meningkatnya ketegangan di kawasan.

“Tetapi apa yang telah terjadi dalam tiga hari terakhir, India telah meningkatkan [konfrontasi ini] ke tingkat di mana akan sedikit sulit untuk mundur,” tambahnya.

Asif menegaskan bahwa setiap negara memiliki hak untuk mempertahankan diri, namun India dinilai bertindak tanpa bukti terkait keterlibatan Pakistan dalam serangan terhadap wisatawan di Pahalgam yang menewaskan 26 orang.

“Mereka tidak memiliki sedikit pun bukti. Sedikit pun bukti belum disampaikan kepada media atau masyarakat internasional bahwa insiden ini, insiden menyedihkan yang terjadi, didukung oleh atau dilakukan oleh Pakistan,” tegasnya. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Operasi ‘Gerbang Neraka’, Hamas Lumat Dua Unit Pasukan Israel di Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengumumkan pada Kamis (8/5) bahwa para pejuangnya telah melancarkan dua serangan mematikan terhadap pasukan Israel di Rafah timur, Jalur Gaza, menewaskan dan melukai sejumlah tentara dari Brigade Golani.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut serangan pertama menargetkan pasukan teknik Israel yang terdiri dari 12 tentara. Mereka diserang saat bersiap meledakkan sebuah rumah di dekat Simpang Al-Fida’i, kawasan Al-Tanour. Dua proyektil antipersonel dan antitank diluncurkan, menyebabkan ledakan besar dan jatuhnya korban di pihak Israel. Helikopter militer terlihat melakukan evakuasi dari lokasi.

Serangan kedua merupakan bagian dari operasi yang dijuluki “Gerbang Neraka”. Brigade Al-Qassam mengatakan pihaknya meledakkan alat peledak berkekuatan tinggi yang menargetkan tujuh tentara Israel di dekat Masjid Omar bin Abdul Aziz di lingkungan Tanour, Rafah timur. “Kami mengamati sisa-sisa beberapa tentara pendudukan yang tersebar di sekitar lokasi kejadian,” bunyi pernyataan tersebut.

Ledakan dahsyat di lokasi kejadian juga dikonfirmasi oleh saksi mata yang diwawancarai Al Jazeera. Mereka menyebutkan bahwa helikopter militer Israel berusaha mengevakuasi korban luka di tengah baku tembak yang intens.

Reporter Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan dari Kota Gaza: “Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa sekelompok tentara Israel—bagian dari pasukan pendudukan di Kota Rafah—sedang memasang kabel peledak sebagai bagian dari operasi penghancuran rumah-rumah yang sedang berlangsung secara sistematis di seluruh wilayah Rafah. Sebagian besar bangunan telah hancur sejak awal invasi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan: “Para saksi mata melaporkan melihat helikopter militer Israel berpatroli di sepanjang perbatasan. Helikopter itu beberapa kali melintas sebelum akhirnya mendarat di Kota Rafah. Mereka juga mendengar suara tembakan senapan mesin berat dan ledakan yang berlangsung cukup lama, sebelum situasi perlahan mulai mereda.”

Pasukan Israel dilaporkan menghadapi kesulitan dalam mengevakuasi korban karena pertempuran yang terus berlangsung di lokasi. Beberapa tentara bahkan dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang sebelumnya telah dipasangi bahan peledak oleh Hamas sebagai bagian dari taktik penyergapan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera & MEE

25 Unit Drone Harop Israel Milik India Dilumpuhkan Militer Pakistan

ISLAMABAD (jurnalislam.com)— Ketegangan di perbatasan antara India dan Pakistan semakin meningkat setelah militer Pakistan mengumumkan pada Kamis (8/5/2025) telah menembak jatuh 25 unit pesawat nirawak (drone) tempur Harop buatan Israel yang digunakan oleh India dalam serangan ke wilayah Pakistan.

Menurut Juru Bicara Militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmad Sharif Chaudhry, drone-drone tersebut berhasil dihancurkan di sejumlah wilayah, termasuk Lahore, Gujranwala, Rawalpindi, Chakwal, Bahawalpur, Mianwali, Karachi, Chor, dan Attock.

“Drone Harop milik India ditembak jatuh dengan sistem peperangan elektronik dan senjata konvensional,” ujar Chaudhry, seraya menyebut penggunaan drone buatan Israel itu sebagai “langkah putus asa dan panik” dari India pasca operasi balasan militer Pakistan pada 6 dan 7 Mei, yang menewaskan lima jet tempur India dan menghantam beberapa lokasi militer di seberang perbatasan.

Drone Harop dikenal sebagai senjata hybrid antara pesawat tanpa awak dan rudal jelajah, mampu melacak target secara otonom dan menghantam sasaran dengan akurasi tinggi tanpa dukungan intelijen waktu nyata.

Militer Pakistan juga menyatakan puing-puing drone ditemukan tersebar di berbagai lokasi dan sedang dikumpulkan sebagai bukti keterlibatan India dalam penggunaan senjata Israel tersebut.

Sebagai catatan, laporan Reuters pada Februari 2024 mengungkap bahwa India merupakan pembeli peralatan militer terbesar dari Israel, dengan nilai impor mencapai USD 2,9 miliar dalam satu dekade terakhir, termasuk radar, drone tempur, dan rudal.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menyatakan bahwa kemungkinan balasan lebih besar terhadap India “semakin dekat.”

“Saya masih menahan diri untuk mengatakan itu 100 persen, tapi situasinya telah sangat memburuk. Kami harus merespons,” katanya kepada Reuters.

India sendiri meluncurkan serangan udara ke wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikuasai Pakistan pada 6 Mei, dalam operasi yang dinamai “Operasi Sindoor”, yang diklaim menargetkan sembilan lokasi militan seperti Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba. New Delhi menyebut operasi itu sebagai tindakan pencegahan setelah 26 turis Hindu tewas dalam serangan di Kashmir pada April lalu.

Namun Pakistan membantah keterlibatan dalam serangan tersebut, dan menyatakan bahwa serangan India justru menghantam enam wilayah sipil, menewaskan sedikitnya 26 warga dan melukai 46 lainnya.

Baku tembak lintas batas pun terus berlangsung di wilayah Kashmir, dengan korban sipil jatuh di kedua belah pihak. Polisi India melaporkan 10 warganya tewas dan 48 lainnya luka-luka, sementara otoritas Pakistan menyebut enam warga mereka tewas akibat tembakan India. (Bahry)

Sumber: Cradle

Luncurkan Operasi “Gideon’s Chariots”, Israel Tak Prioritaskan Pembebasan Sandera

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perintah militer terbaru Israel yang dikeluarkan pada Selasa (6/5/2025) menunjukkan bahwa pembebasan tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas di Gaza bukan menjadi prioritas utama, bahkan ditempatkan sebagai yang paling tidak penting. Hal ini diungkapkan oleh surat kabar Israel Haaretz.

Instruksi tersebut menjadi bagian dari peluncuran operasi militer baru Israel di Gaza yang diberi nama Kereta Perang Gideon (Gideon’s Chariots). Dalam dokumen tersebut, militer Israel menggunakan istilah “tawanan” alih-alih “sandera” yang selama ini banyak dipakai dalam retorika resmi.

Tujuan utama dari operasi tersebut, menurut perintah militer, mencakup: mengalahkan Hamas, menguasai wilayah Gaza secara operasional, melakukan demiliterisasi, menghancurkan infrastruktur pemerintahan Hamas, serta mengelola dan memobilisasi penduduk sipil. Sementara itu, “memastikan pembebasan tawanan” berada di posisi terakhir dalam daftar prioritas.

Otoritas militer Israel menyatakan bahwa operasi ini dirancang untuk memungkinkan pasukan Israel tetap berada di Jalur Gaza tanpa batas waktu. Rencana ini juga bertujuan untuk membatasi seluruh penduduk Gaza ke area kecil di wilayah selatan.

Media Israel melaporkan bahwa distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza akan dilakukan hanya sekali seminggu. Seorang juru bicara militer menyebutkan, “Setiap perwakilan keluarga Gaza akan menerima jumlah yang cukup bagi keluarganya untuk mencegah situasi kelaparan.”

Kebijakan tersebut menuai kekhawatiran luas dari komunitas internasional, yang menilai tindakan ini bisa mengarah pada praktik pembersihan etnis atau bahkan genosida terhadap warga Palestina.

Menteri Keuangan Israel yang berasal dari sayap ekstrem kanan, Bezalel Smotrich, memperkuat kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa Gaza akan “dihancurkan total.”

Diperkirakan hanya tersisa 21 tawanan Israel yang masih hidup di Gaza. Tiga di antaranya dilaporkan telah meninggal setelah Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah tersebut, menyusul kegagalan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat pada bulan Maret lalu. (Bahry)

Sumber: TNA

Persediaan Bantuan Menipis, Dapur Umum World Central Kitchen Hentikan Operasi di Gaza

GAZA (jurnalislam.com) — Lembaga kemanusiaan asal Amerika Serikat, World Central Kitchen (WCK), secara resmi menghentikan seluruh aktivitas penyediaan makanan di Jalur Gaza karena kehabisan persediaan dan tidak diberi izin oleh Israel untuk mengirimkan bantuan.

“Setelah menyajikan lebih dari 130 juta makanan dan 26 juta roti selama 18 bulan terakhir, World Central Kitchen tidak lagi memiliki persediaan untuk memasak atau memanggang roti di Gaza,” tulis WCK dalam pernyataan resminya melalui platform X pada Rabu (7/5).

Keputusan ini diambil sebulan setelah tujuh relawan WCK tewas dalam serangan udara Israel terhadap konvoi bantuan mereka. Sejak saat itu, distribusi bantuan semakin terbatas akibat blokade ketat yang diterapkan Israel.

WCK mengatakan masih berupaya menyalurkan air minum bersih bagi warga Gaza, namun pendistribusian makanan pokok tidak bisa dilanjutkan hingga Israel kembali membuka akses bantuan.

“Truk-truk kami yang membawa makanan dan bahan bakar memasak telah tertahan di perbatasan Gaza sejak awal Maret. Bantuan tambahan dari Yordania dan Mesir juga masih menunggu izin masuk,” jelas WCK, lembaga yang didirikan oleh koki ternama Jose Andres.

Israel mendapat tekanan internasional yang meningkat agar mencabut blokade bantuan yang diberlakukan sejak Maret, usai kegagalan gencatan senjata yang sebelumnya sempat menghentikan pertempuran selama dua bulan.

Pemerintah Israel menuding beberapa lembaga, termasuk PBB, membiarkan bantuan jatuh ke tangan Hamas. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas, yang menuduh Israel secara sengaja menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.

Sementara itu, situasi di Gaza semakin memburuk. Aksi penjarahan terhadap dapur umum, toko warga, hingga gudang PBB dilaporkan meningkat. Aparat keamanan Hamas pun melakukan tindakan tegas terhadap geng-geng kriminal. Sedikitnya enam anggota geng dieksekusi pekan lalu, menurut sumber yang dekat dengan kelompok tersebut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan lebih dari 2 juta penduduk Gaza kini menghadapi krisis kelaparan ekstrem — dari total populasi sekitar 2,3 juta jiwa. (Bahry)

Sumber: TNA

Presiden Suriah: Israel Harus Hentikan Serangan dan Campur Tangan

PARIS (jurnalislam.com)– Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, mengonfirmasi bahwa pemerintahannya tengah melakukan perundingan tidak langsung dengan Israel melalui pihak ketiga, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Pernyataan ini disampaikan al-Sharaa saat melakukan kunjungan bersejarah ke Paris, Rabu (7/5/2025). Kunjungan tersebut merupakan perjalanan pertamanya ke Eropa sejak menggantikan Bashar al-Assad melalui serangan oposisi bersenjata yang berhasil menggulingkan rezim lama pada Desember lalu.

“Ada pembicaraan tidak langsung dengan Israel melalui mediator untuk menenangkan dan berupaya mengatasi situasi sehingga tidak mencapai tingkat yang membuat kedua belah pihak kehilangan kendali,” ujar al-Sharaa dalam konferensi pers di Paris. Ia juga menuding Israel sebagai pihak yang memicu konflik dengan serangan udara yang ia sebut sebagai “intervensi acak”.

Pernyataan ini muncul setelah serangan udara Israel menghantam wilayah dekat istana presiden di Damaskus pada Jumat pekan lalu, hanya berjarak sekitar 500 meter. Israel menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap ancaman terhadap komunitas minoritas Druze.

Al-Sharaa menambahkan bahwa Damaskus kini sedang menjalin komunikasi dengan negara-negara yang memiliki hubungan dengan Israel untuk menekan Tel Aviv agar menghentikan serangan udara terhadap infrastruktur Suriah.

Kunjungan al-Sharaa ke Prancis sendiri memerlukan pengecualian khusus dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengingat dirinya masih tercatat dalam daftar sanksi internasional atas peran masa lalunya sebagai pemimpin kelompok bersenjata Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang sebelumnya berafiliasi dengan al-Qaeda. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serangan Udara Israel Lumpuhkan Bandara Sanaa, Yaman Rugi Rp8 Triliun

SANAA (jurnalislam.com)– Serangan udara Israel menghantam Bandara Internasional Sanaa pada Selasa (6/5/2025), menyebabkan seluruh aktivitas penerbangan dihentikan tanpa batas waktu dan menimbulkan kerugian sekitar USD 500 juta atau setara Rp8 triliun. Hal ini disampaikan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Yaman pada Rabu (6/5/2025).

Direktur Jenderal Bandara Sanaa, Khaled Al-Shaif, mengatakan kepada saluran televisi Al-Masirah bahwa serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur bandara.

“Karena agresi Zionis di Bandara Internasional Sanaa dan kerusakan besar yang ditimbulkan, seluruh penerbangan dari dan ke bandara ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” ungkapnya.

Penilaian awal menunjukkan bahwa bangunan terminal, peralatan penting, dan fasilitas katering rusak parah. Enam pesawat terkena dampak, termasuk tiga unit milik Yemenia Airways, yang kini hanya memiliki satu pesawat aktif yang berada di Amman, Yordania. Pesawat-pesawat tersebut sebelumnya digunakan untuk evakuasi pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri.

Selain bandara, serangan udara juga menargetkan pembangkit listrik utama di ibu kota dan wilayah sekitarnya, serta pabrik semen di Provinsi Amran.

Militer Israel mengonfirmasi serangan tersebut sebagai balasan atas tembakan rudal kelompok Houthi ke Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, pada awal pekan ini. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyatakan bahwa serangan itu berhasil membuat Bandara Sanaa tidak lagi beroperasi.

Kerusakan ini semakin memperparah kondisi sektor penerbangan sipil Yaman yang telah menurun tajam akibat konflik berkepanjangan. Dari 14 bandara yang beroperasi sebelum perang, hanya sebagian kecil yang masih berfungsi. Jumlah penumpang menurun drastis dari 2,7 juta pada 2014 menjadi hanya 653.000 pada akhir 2022.

Sebelumnya, Bandara Sanaa sempat dibuka kembali secara terbatas melalui gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022, memungkinkan penerbangan mingguan ke Amman. Namun, perluasan rute penerbangan terhambat oleh berbagai kendala politik dan logistik.

Kini, Yemenia Airways kembali menghentikan seluruh penerbangannya dari dan ke Sanaa, menghapus capaian kecil yang sempat diraih pasca pembukaan bandara.

Krisis Bahan Bakar Melumpuhkan Kehidupan di Yaman

Di sisi lain, wilayah Yaman yang dikuasai Houthi menghadapi krisis bahan bakar parah setelah serangan udara AS menghantam terminal minyak Ras Issa di Yaman barat pada 17 dan 25 April lalu. Serangan itu menghancurkan semua fasilitas pemuatan dan jaringan pipa bahan bakar, serta merusak kapal tanker Seven Pearls dan melukai tiga awak kapal berkewarganegaraan Rusia.

Perusahaan Minyak Yaman yang dikelola Houthi menyatakan telah menerapkan rencana darurat untuk mengatur pasokan bahan bakar yang semakin menipis. Kondisi ini telah melumpuhkan aktivitas masyarakat di Sanaa dan kota-kota lain, dengan jalanan yang kosong dari kendaraan dan kekhawatiran publik terhadap potensi kelangkaan bahan bakar seperti yang terjadi enam tahun lalu. (Bahry)

Sumber: TNA

India vs Pakistan: Rudal, Jet Tempur, dan Hujan Peluru di Garis Depan

ISLAMABAD (jurnalislam.com)— Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas setelah kedua negara bersenjata nuklir itu terlibat baku tembak artileri berat di sepanjang perbatasan Kashmir yang disengketakan pada Rabu (7/5). Insiden ini terjadi setelah New Delhi meluncurkan serangan rudal mematikan ke wilayah yang dikuasai Pakistan, sebagai respons atas serangan terhadap wisatawan di Kashmir dua pekan lalu.

Setidaknya 38 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut. Pihak Pakistan menyatakan 26 warga sipil, termasuk empat anak-anak, menjadi korban jiwa akibat serangan dan tembakan dari pihak India. Sementara India menyebut sedikitnya 12 orang tewas akibat penembakan yang dilakukan pasukan Pakistan.

Kekerasan ini merupakan yang terburuk sejak konflik serupa pada 2019, ketika India melancarkan serangan udara terhadap “kamp militan” di Pakistan setelah serangan bom bunuh diri menewaskan 40 pasukan keamanan India di Kashmir.

Tentara India menyatakan bahwa “keadilan telah ditegakkan”, dengan mengklaim telah menghancurkan sembilan kamp teroris di wilayah Pakistan. Pemerintah India menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan secara “terfokus, terukur, dan tidak bertujuan untuk memperbesar konflik”.

Namun, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menuduh Perdana Menteri India, Narendra Modi, menggunakan serangan ini untuk mendongkrak popularitas politik di dalam negeri menjelang pemilu.

“Balasan sudah dimulai. Kami tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Asif kepada AFP.

Juru bicara militer Pakistan, Mayjen Ahmed Sharif Chaudhry, menyatakan bahwa lima jet tempur India berhasil dijatuhkan. Sementara sumber keamanan India mengakui bahwa tiga pesawat mereka jatuh di wilayah dalam negeri.

Di Muzaffarabad, ibu kota Kashmir yang dikuasai Pakistan, suasana mencekam menyelimuti kota. Warga melaporkan adanya suara ledakan keras di malam hari.

“Kami ketakutan dan pindah ke tempat yang lebih aman. Sekarang kami kehilangan rumah,” ungkap Tariq Mir (24), korban luka yang terkena pecahan peluru.

Sementara itu, di kota Poonch, wilayah Kashmir yang dikuasai India, seorang warga bernama Farooq menggambarkan kondisi saat terjadi serangan.

“Kami terbangun karena suara tembakan. Saya melihat hujan peluru,” katanya dari ranjang rumah sakit dengan kepala dibalut perban.

Menurut pejabat lokal Azhar Majid, sedikitnya 12 orang tewas dan 29 lainnya terluka di Poonch akibat serangan tersebut.

India diperkirakan membalas secara militer atas serangan pada 22 April lalu di Pahalgam, kawasan wisata di Kashmir, yang menewaskan 26 wisatawan Hindu. New Delhi menyalahkan kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan atas serangan itu dan menuding Islamabad berada di balik aksi teror tersebut.

Pakistan membantah tuduhan itu dan menyerukan investigasi independen. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut serangan India sebagai “tindakan agresi keji” yang menurutnya “tidak akan dibiarkan tanpa hukuman”.

Sejak 24 April, kedua negara disebut telah terlibat baku tembak hampir setiap malam di sepanjang Garis Kontrol (LoC). Pakistan juga mengklaim telah melakukan dua uji coba rudal dalam beberapa hari terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Trump Umumkan AS Hentikan Pemboman di Yaman, Houthi Sepakat Akhiri Serangan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya akan segera menghentikan pemboman di Yaman, menyusul kesepakatan dengan kelompok Houthi yang menyatakan keinginan mereka untuk mengakhiri perang. Pengumuman ini disampaikan Trump secara mengejutkan di Gedung Putih pada Selasa (6/5/2025), dan disambut dengan keterkejutan oleh banyak pejabat AS.

“Kelompok Houthi memberi tahu kami tadi malam bahwa mereka tidak ingin berperang lagi. Mereka hanya ingin kedamaian,” ujar Trump.

“Kami akan menghormati itu. Kami akan menghentikan pemboman.” imbuhnya.

Keputusan Trump ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang menyebut bahwa Houthi telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal, termasuk kapal Amerika, di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Ia juga mengonfirmasi bahwa Oman telah memainkan peran sebagai mediator antara AS dan Houthi.

“Ke depan, tidak ada pihak yang akan menyerang pihak lain. Kebebasan navigasi dan kelancaran arus pengiriman global akan dijaga,” tulis Busaidi melalui akun resminya di platform X.

Namun, pengumuman tersebut dilaporkan mengejutkan para diplomat dan pejabat pertahanan AS yang bertugas menangani konflik di Yaman. Tiga pejabat yang berbicara kepada Middle East Eye menyatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai keputusan itu.

Dalam pengumuman tersebut, Trump juga terlihat memberitahu Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Keamanan Nasional AS, Marco Rubio, secara langsung.

“Marco, kamu akan beri tahu semua orang. Ini pengumuman besar,” kata Trump dari Ruang Oval.

Meskipun tidak menyebutkan Israel, pengumuman ini datang beberapa hari setelah serangan rudal balistik Houthi menghantam area parkir dekat Terminal 3 Bandara Ben Gurion, Tel Aviv. Serangan tersebut memicu kekhawatiran di Israel, yang saat ini terlibat konflik sengit dengan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan kelompok Houthi di Laut Merah sebelumnya ditujukan kepada kapal-kapal yang memiliki kaitan dengan Israel, dan kemudian meluas ke kapal-kapal Barat secara umum.

Diketahui, Houthi didukung oleh Iran, namun laporan terbaru menyebut bahwa Rusia juga telah mengirim penasihat militer untuk membantu mereka dalam peningkatan kemampuan serangan. China dilaporkan ikut memberikan dukungan intelijen kepada kelompok tersebut.

Trump menutup pernyataannya dengan mengatakan, “Mereka (Houthi) sudah berjanji akan berhenti meledakkan kapal. Saya percaya pada kata-kata mereka.” (Bahry)

Sumber: MEE