Berita Terkini

Hamas Kecam Keputusan Kabinet Israel Perluas Operasi Militer di Gaza, Sebut Netanyahu Korbankan Tahanan Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras keputusan kabinet Israel yang menyetujui perluasan operasi militer darat di Jalur Gaza. Hamas menilai langkah ini merupakan keputusan terang-terangan untuk mengorbankan para tahanan Israel yang masih berada di wilayah Gaza dan merupakan pengulangan dari siklus kegagalan yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun terakhir.

Dalam pernyataan resminya melalui saluran Telegram pada Selasa (6/5/2025), Hamas menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai “teroris” yang saat ini menjadi buron Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Mereka juga menuduh Netanyahu terus mendorong terjadinya kejahatan perang terhadap warga sipil Palestina di Gaza, dengan dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat.

“Rakyat kami dan para pejuang perlawanan yang teguh tidak akan mundur di hadapan ancaman atau rencana agresi. Kami adalah pemilik sah tanah ini dan akan tetap bertahan meski agresi pendudukan terus berlangsung,” demikian pernyataan Hamas.

Lebih lanjut, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata dalam menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintahan Israel. Mereka juga meminta agar para pemimpin Israel diadili di pengadilan internasional atas kejahatan yang telah dilakukan terhadap rakyat Palestina.

Di akhir pernyataan, Hamas menyerukan solidaritas dari masyarakat Arab, umat Islam, dan seluruh pendukung keadilan di dunia untuk mengintensifkan tekanan rakyat demi menghentikan agresi di Jalur Gaza dan mendukung hak rakyat Palestina atas kebebasan, kemerdekaan, serta penentuan nasib sendiri. (Bahry)

Zionis Israel Bombardir Pelabuhan Hodeidah Yaman Usai Serangan Houthi di Bandara Tel Aviv

KAIRO (jurnalislam.com)– Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara ke Pelabuhan Hodeidah di Yaman pada Senin (5/5/2025), sebagai balasan atas serangan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi sehari sebelumnya dan menghantam dekat Bandara Internasional Ben Gurion, Israel.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “target teroris” milik Houthi di Hodeidah dan sekitarnya.

Menurut kantor berita Saba yang dikelola oleh Houthi, sedikitnya satu orang tewas dan 35 orang lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Beberapa sumber menyebut Houthi menutup akses ke area sekitar pelabuhan dan pabrik semen setelah serangan terjadi.

Meski tingkat kerusakan secara keseluruhan belum diketahui secara pasti, laporan warga dan pekerja pelabuhan menyebut bahwa kebakaran besar dan ledakan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas pelabuhan, termasuk dermaga dan gudang. Diperkirakan sekitar 70 persen dari lima dermaga, gudang, dan area bea cukai mengalami kerusakan. Saat serangan terjadi, dua kapal tengah membongkar muatannya, sehingga aktivitas pelabuhan lumpuh total.

Pelabuhan Hodeidah merupakan pelabuhan utama kedua di Laut Merah setelah Aden, dan menjadi titik masuk vital bagi sekitar 80 persen impor pangan ke Yaman.

Setidaknya 10 serangan dilaporkan menghantam kawasan pelabuhan Hodeidah serta lingkungan Al Salakhanah dan Al Hawak. Sementara empat serangan lainnya dilaporkan menyasar pabrik semen di wilayah timur kota tersebut.

“Serangan ini merupakan respons terhadap serangan berulang oleh rezim teroris Houthi terhadap Israel, di mana mereka meluncurkan rudal dan drone ke wilayah serta warga Israel,” kata militer Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah berjanji akan membalas serangan rudal Houthi yang berhasil lolos dari sistem pertahanan udara Israel pada Ahad (4/5), menjadikannya serangan pertama yang mencapai wilayah Israel dalam serangkaian serangan sejak Maret lalu.

Menanggapi serangan balasan Israel, pejabat Houthi Abdul Qader al-Mortada menulis di platform X bahwa Israel harus “menunggu hal yang tak terbayangkan”.

Houthi terus melakukan serangan terhadap Israel dan jalur pelayaran di Laut Merah, khususnya sejak meletusnya perang antara Israel dan Hamas di Gaza. Meskipun sempat ada penangguhan serangan saat gencatan senjata, Houthi kembali melanjutkan aksinya setelah gencatan berakhir.

Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa pasukan AS tidak terlibat langsung dalam serangan Israel ke Hodeidah, namun mengonfirmasi adanya koordinasi umum antara kedua negara.

Di sisi lain, sebuah perusahaan minyak yang dikelola Houthi mengumumkan pengoperasian sistem darurat untuk distribusi bahan bakar ke kendaraan, menyusul kesulitan pembongkaran muatan di pelabuhan minyak Ras Isa. Perusahaan itu mengaitkan kondisi tersebut dengan serangan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah yang dikuasai Houthi. (Bahry)

Sumber: Reuters

Israel Kerahkan Puluhan Ribu Tentara Cadangan untuk Perluas Perang, Banyak yang Menolak Bertugas

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengumumkan akan mengerahkan puluhan ribu tentara cadangan guna memperluas serangan ke Jalur Gaza. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyampaikan hal tersebut pada Ahad (5/5/2025), beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan akan melanjutkan agresi militer meski ada desakan damai dari masyarakat Israel terus menguat.

“Minggu ini kami mengirimkan puluhan ribu surat wajib militer kepada pasukan cadangan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas, mengembalikan para tawanan, dan memperluas operasi militer kami di Gaza,” kata Zamir saat mengunjungi pangkalan angkatan laut Atlit di pantai utara Israel.

Zamir menegaskan, militer Israel akan bergerak di lebih banyak wilayah Gaza dan menghancurkan seluruh infrastruktur Hamas, baik di atas maupun bawah tanah.

Pernyataan ini disampaikan menjelang rapat kabinet keamanan yang dipimpin Netanyahu untuk membahas rencana eskalasi militer di Gaza. Sejak perang dimulai Oktober 2023, serangan Israel telah meluluhlantakkan wilayah Gaza, menyebabkan lebih dari 52.000 warga Palestina terbunuh dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya terusir dari tempat tinggal mereka.

Gerakan sipil di Israel sendiri semakin gencar mendesak diakhirinya perang dan menuntut pembebasan para tawanan melalui jalur diplomatik. Bahkan, banyak tentara cadangan menolak panggilan untuk kembali bertugas.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam wawancara radio militer menyatakan ingin melihat perang diperluas secara “keras” namun ia tidak merinci lebih lanjut. Ia bahkan menyerukan serangan terhadap sumber daya penting di Gaza seperti makanan dan listrik.

Israel berdalih perluasan operasi militer bertujuan menekan Hamas agar membebaskan 59 tawanan yang tersisa. Namun para pengamat menilai langkah tersebut justru membahayakan nyawa para tawanan dan menutup jalan damai. Sebelumnya, upaya pertukaran tawanan sempat terjadi dalam gencatan senjata singkat hingga 18 Maret, namun tidak membuahkan hasil lanjutan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kantor Media Gaza: Rumah Sakit di Gaza Terancam Lumpuh Total dalam 48 Jam

GAZA (jurnalislam.com)— Kantor Media Pemerintah di Gaza mengeluarkan peringatan serius bahwa seluruh rumah sakit di Jalur Gaza akan berada di ambang kehancuran dalam 48 jam ke depan jika pasokan bahan bakar tidak segera disalurkan.

Pihaknya menyalahkan Israel atas krisis ini, karena dianggap menghalangi akses Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya ke lokasi penyimpanan bahan bakar di wilayah Gaza.

“Kami memperingatkan dengan tegas tentang bencana yang akan segera terjadi yang mengancam nyawa ribuan orang sakit dan terluka di Jalur Gaza,” kata pernyataan dari Kantor Media Gaza, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Selasa (6/5/2025)

Koordinator Bantuan Darurat PBB sebelumnya juga menyampaikan bahwa upaya para pekerja kemanusiaan untuk mengambil bahan bakar kerap diblokir, terutama di area-area yang dikategorikan sebagai “terlarang” oleh militer Israel.

“Kami mengutuk dengan keras kejahatan sistematis pendudukan Israel di Gaza dengan terus mencegah distribusi bahan bakar ke rumah sakit,” lanjut pernyataan itu.

Kantor Media Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa, serta memperburuk krisis kesehatan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kelaparan dan Kekurangan Gizi Ancam Gaza: Akibat Blokade

GAZA (jurnalislam.com)- Jalur Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan sangat parah akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Di tengah sulitnya bantuan masuk ke wilayah tersebut, kondisi gizi anak-anak semakin memprihatinkan.

Dr. Osama Qudeih, Dokter Pediatri di Klinik Al Aqsa B di Al-Mawassi, Gaza Selatan, yang dikelola MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina (MoH), melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ia tangani adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), baik pada tahap awal maupun dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Dari sekitar 200 kasus yang ditanganinya, 40 hingga 50 di antaranya merupakan kasus malnutrisi serius.

“Kasus malnutrisi terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia dua tahun dengan penyebab utama berupa melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya (defisiensi) berbagai ketersediaan jenis makanan,” ujarnya.

Ia mengatakan kelangkaan dan tidak adanya susu formula bayi di pasaran berdampak sangat signifikan.

“Beberapa gejala yang muncul antara lain adalah penurunan berat badan, di mana dalam banyak kasus dapat menjadi sangat berbahaya,” ungkap dr. Osama.

Jumana Abu Arab menambahkan, untuk menangani kondisi ini sebelumnya Kementerian Kesehatan memberikan suplemen gizi secara rutin ke Klinik tersebut. Namun, stok yang tersedia mulai menipis karena kebutuhan terus meningkat dan pasokan di pasaran semakin terbatas.

Kelaparan dan Malnutrisi juga Terjadi di Gaza Utara

Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.

Selain serangan udara yang menyasar lembaga masyarakat, tempat tinggal warga sipil, dan gudang penyimpanan makanan, blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis. Dampak sangat negatifnya bisa dirasakan oleh penduduk Gaza, khususnya para pencari nafkah.

“Sebagai pencari nafkah bagi keluarga, saya menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok anak-anak saya, karena kurangnya sumber pendapatan. Bahkan kalaupun saya mampu membeli kebutuhan mereka, saya merasa kesulitan berinteraksi dengan anak-anak saya, terutama anak-anak saya yang masih kecil, karena saya merasa tidak dapat menyediakan makanan yang cukup layak bagi mereka,” katanya.

Keluarganya kini hanya mampu makan sekali sehari. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya.

semua kebutuhan rumah tangga masyarakat seperti persediaan bahan makanan dan makanan kaleng telah habis. Dari situlah tanda-tanda kekurangan gizi mulai tampak, khususnya di kalangan anak-anak. Berat badan mereka mengalami penurunan antara 5 hingga 10 kilogram.

Sebagai dokter ortopedi yang banyak menangani korban serangan Israel, ia mengamati bahwa kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal.

“Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula. Dulu, luka-luka seperti itu dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi sekarang memerlukan waktu dua kali lipat atau lebih lama untuk pulih,” kata dr. Basel.

Ia juga menyampaikan banyak pasien kini mengalami kulit pucat (pallor), kelemahan umum (general weakness), dan anemia, yang menyebar hampir ke seluruh pasien. Sistem kekebalan tubuh yang lemah menyebabkan penyebaran infeksi dan epidemi makin sulit dicegah.

Kondisi yang Terus Memburuk juga Berdampak kepada Tenaga Medis

“Kami bahkan hampir tidak dapat menjalankan tugas kami secara menyeluruh akibat rasa lelah yang sudah akut,” katanya.

Ia mengaku telah kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan, dan rekan-rekannya mengalami kondisi yang sama karena kurangnya makanan, terutama daging.

“Keputusasaan dan rasa tidak ada harapan mulai menguasai kehidupan profesional kami, yang berdampak negatif, khususnya pada pasien yang sedang terluka, dan masyarakat pada umumnya,” tutur dr. Basel.

Dari Yogya ke Solo: Konvoi Ambulans Tegakkan Kemanusiaan untuk Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Hampir 100 mobil ambulans berkonvoi rapi membelah jalanan Yogyakarta menuju Kota Solo, Ahad (4/5/2025). Mengenakan atribut Palestina para driver berharap aksi kemanusiaan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas genosida yang terjadi di bumi Palestina.

Lampu rotator yang dinyalakan tajam menyorot serta raungan sirine yang dinyalakan bebarengan membahana memenuhi langit siang itu seakan ingin berteriak kepada dunia agar tragedi kemanusiaan yang ada di Palestina harus segera dihentikan.

“Kami driver ambulans hanya bisa bersuara dengan suara sirine, semoga aksi ini menjadi inspirasi atau pelecut di aksi yang diadakan di kota lain,”ungkap Lutfi Hidayat, Koordinator Aksi dari Yogyakarta, Ahad (4/5/2025).

Selain itu, mengapa gerakan ini dilakukan diantaranya untuk terus menghangatkan terus isu Palestina agar masyarakat paham akan kekejaman zionis Israel.

Banyaknya tenaga medis yang gugur di Palestina juga menjadi keprihatinan kita semua.

“Kita punya ide untuk mengadakan konvoi ambulans, karena kita mempunyai kaitan erat di mana kalangan medis di Palestina banyak menjadi saran korban bahkan sampai saat ini tercatat kurang lebih 1000 tenaga medis yang menjadi korban kekejaman zionis israel,” tambahnya.

Relawan driver ambulans yang ikut berasal dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta, Magetan, Ngawi, Klaten, Solo, Semarang serta Purwakarta.

Beberapa relawan ambulans yang ikut diantaranya adalah LazizMu, Baznas, Mer-C Yogyakarta, Masjid Jogokaryan, Hamka Hajar Aswad, Laskar Sedekah, Surya Grop, Laznah Dewan Dakwah, Lumbung Zakat, FKAM, WM 2000 Solo dan lain sebagainya.

“Total ada kurang lebih 100 ambulans yang ikut dapat misi kemanusiaan ini. Rute yang dilalui dari Yogyakarta berhenti sejenak di Masjid Al Aqsha Klaten untuk melakukan orasi dan menyalakan sirine selama 1 menit terus berjalan. Berhenti di Goro Asssalam kemudian finis di Taman Sri Wedari Solo,” pungkasnya.

Brigade Al Qassam Klaim Habisi Tentara Israel Lewat Serangan di Lorong Terowongan Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengklaim telah menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel dalam serangan terencana di wilayah Rafah, Gaza selatan, pada Sabtu (3/5/2025).

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di Telegram, Brigade Al-Qassam menyebut para pejuangnya berhasil memancing pasukan Israel masuk ke sebuah lorong terowongan yang sebelumnya telah dipasangi bom.

“Begitu sejumlah tentara maju ke lorong terowongan, terowongan itu diledakkan, menewaskan dan melukai mereka,” demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut.

Selain itu, Brigade Al-Qassam juga mengklaim telah menargetkan dua tank milik militer Israel dengan roket al-Yassin 105 di kawasan yang sama.

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pidato video yang disiarkan hari ini, mengonfirmasi bahwa dua tentara Israel tewas di Rafah pada pagi hari.

Rafah saat ini menjadi lokasi bentrokan paling sengit dalam invasi darat Israel ke Jalur Gaza, menyusul serangkaian perlawanan dari pejuang Palestina yang terus mempersulit pergerakan militer Israel di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: MEE

Pengamat: Israel Ingin Mencaplok Suriah Lewat Dalih Lindungi Druze

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Direktur Asosiasi Suriah untuk Martabat Warga, Labib Nahhas, menyebut serangan militer Israel ke wilayah Suriah bukan semata untuk melindungi komunitas Druze, melainkan bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk menguasai dan melemahkan negara-negara di kawasan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Ahad (4/5/2025), Nahhas menyatakan bahwa alasan perlindungan terhadap komunitas Druze yang disampaikan Israel hanyalah “dalih palsu”.

Israel mengklaim melindungi komunitas Druze, padahal di dalam negerinya sendiri mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Jadi sangat tidak logis bila mereka benar-benar ingin melindungi Druze di Suriah, kata Nahhas.

Ia menambahkan bahwa sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh kelompok pejuang Palestina yang dipimpin Hamas, Israel menunjukkan wajah baru yang lebih agresif dan ekspansionis.

Yang kita lihat saat ini adalah Israel baru, yang paling ekspansionis, agresif, dan bermusuhan sejak 1967. Mereka menyatakan tidak akan menghentikan perang sampai Suriah terpecah dan membangun zona penyangga mereka sendiri tanpa keterlibatan militer Suriah, tegasnya.

Nahhas menyebut langkah-langkah militer tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk membentuk ulang peta geopolitik regional sesuai kepentingannya.

Israel ingin Suriah tetap lemah, terdesentralisasi, dan tidak berdaya. Semua ini dilakukan demi kepentingan strategis Israel dalam membangun dominasi baru di Timur Tengah, pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Rudal Hantam Bandara Ben Gurion Israel, Enam Orang Terluka

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Sebuah rudal dilaporkan menghantam kawasan Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, pada Ahad pagi (4/5), menyebabkan sedikitnya enam orang terluka dan sempat mengganggu aktivitas penerbangan. Serangan ini diklaim oleh kelompok Houthi Yaman sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Militer Israel menyatakan telah melakukan beberapa upaya pencegatan terhadap rudal yang diluncurkan dari Yaman. Namun, rudal tersebut berhasil menembus sistem pertahanan dan menciptakan kawah besar di area dekat Terminal 3, sekitar satu kilometer dari landasan pacu utama.

Rekaman video yang dirilis kepolisian Israel memperlihatkan kawah besar di area parkir bandara, dengan latar belakang menara kontrol terlihat dari kejauhan. Meskipun demikian, tidak ada kerusakan yang dilaporkan pada landasan atau bangunan utama bandara.

Pasukan rudal angkatan bersenjata Yaman telah melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Ben Gurion menggunakan rudal balistik hipersonik, demikian pernyataan resmi kelompok Houthi.

Layanan medis darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan enam korban luka dengan kondisi ringan hingga sedang. Sementara itu, ratusan penumpang di dalam bandara dievakuasi ke tempat perlindungan darurat setelah terdengar ledakan keras sekitar pukul 09.35 pagi waktu setempat.

Akibat insiden tersebut, sejumlah penerbangan sempat dialihkan, termasuk pesawat Air India yang menuju Tel Aviv dan terpaksa mendarat di Abu Dhabi. Namun beberapa jam kemudian, otoritas bandara menyatakan bahwa seluruh aktivitas keberangkatan dan kedatangan telah kembali normal.

Menanggapi serangan ini, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan akan memberikan respons keras. Siapa pun yang menyerang kami, akan kami balas tujuh kali lebih kuat, tegasnya.

Kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman telah berulang kali meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta jalur pelayaran Laut Merah sejak konflik Gaza pecah. Serangan pada Ahad ini menjadi salah satu dari tiga serangan rudal yang diklaim Houthi dalam dua hari terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Turki Ganggu Jet Tempur Israel di Langit Suriah, Tegaskan Penolakan Serangan

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Ketegangan di langit Suriah meningkat setelah jet tempur Turki dilaporkan mengacaukan sistem elektronik pesawat-pesawat tempur Israel pada Jumat malam (2/5). Tindakan langka ini disebut sebagai upaya nyata Ankara untuk menghalangi operasi militer Israel di wilayah udara Suriah.

Menurut laporan media pemerintah Suriah, SANA, Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke berbagai wilayah, termasuk Hama dan Damaskus. Serangan tersebut menewaskan seorang warga sipil dan melukai beberapa lainnya, terutama di pinggiran Harasta dan kota al-Tall dekat ibu kota.

Otoritas Penyiaran Israel mengonfirmasi keterlibatan Turki dalam operasi tersebut. Disebutkan bahwa pesawat-pesawat Turki mengirimkan sinyal elektronik yang mengganggu sistem jet tempur Israel, memaksa mereka untuk meninggalkan wilayah udara Suriah.

Langkah tersebut muncul hanya dua hari setelah Kementerian Luar Negeri Turki secara resmi meminta Israel menghentikan serangan udara di Suriah. Ankara menegaskan bahwa saat ini Suriah berada dalam tahap sensitif dan membutuhkan dukungan internasional untuk mencapai stabilitas serta menjaga keutuhan wilayahnya.

Dalam konteks ini, Israel harus mengakhiri serangan udaranya, yang merusak upaya untuk mencapai persatuan dan integritas teritorial Suriah, tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Turki juga disebut tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan dan sistem pertahanan udara ke beberapa lokasi strategis di Suriah, termasuk pangkalan udara T4 dan wilayah Hama yang sebelumnya menjadi target serangan Israel.

Bagi Israel, kehadiran militer Turki di Suriah dipandang sebagai tantangan langsung terhadap ambisinya untuk mempertahankan pengaruh dan kontrol atas wilayah-wilayah strategis di Suriah pasca tumbangnya rezim Bashar al-Assad. (Bahry)

Sumber: TNA