Berita Terkini

Negara Abai, Pejuang Wabah Minim Proteksi

Oleh : Oktarina Mahardiani*

Dalam menghadapi pandemi covid-19 yang mempunyai resiko tinggi untuk tertular adalah para tenaga medis mulai dari dokter spesialis, dokter umum, petugas kebersihan hingga seluruh pihak-pihak yang terlibat dan bekerja di rumah sakit.

 

Hal ini dikarenakan pekerjaan mereka yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan para pasien.

 

Mereka berkewajiban membekali diri dengan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mencegah tertular atau menularkan pandemi kepada para pasien yang lain atau kepada orang sehat di sekitar mereka.

 

Dalam menjalankan tugas, resiko kematian selalu membayangi. Apalagi fakta yang terjadi banyak sekali tenaga medis yang meninggal ketika bertugas mengurus pasien covid-19.

 

Sehingga sebagai garda terdepan dalam pandemi seharusnya seluruh kebutuhan mereka baik dari sisi kesehatan maupun daya dukung hidup harus menjadi perhatian paling utama untuk dipenuhi dengan segera oleh pemerintah.

 

Tetapi pada kenyataannya, perhatian utama yang seharusnya diberikan kepada para tenaga medis ini belum sepenuhnya terwujud. Hal ini terlihat ketika ternyata pemerintah malah melakukan kebijakan-kebijakan baru seperti adanya seruan kepada masyarakat untuk berdamai dengan virus covid-19 dengan pelan-pelan dimulainya kehidupan normal seperti sebelum ada pandemi tetapi dengan protokol kesehatan yang lebih diperketat (new normal life).

 

Hal ini dilakukan sebagai cara agar perekonomian negara yang beberapa bulan ini terkena dampak pandemi bisa bangkit. Ajakan atau seruan oleh pemerintah ini bahkan sudah mulai terealisasi dengan dibukanya salah satu mall di Bekasi yang sebelumnya telah ditutup sementara. (kompas.com 27/5/2020).

 

Padahal faktanya pemerintah sendiri belum mampu mengkontrol jumlah pasien positif covid-19. Pada akhir Ramadhan bahkan mencapai jumlah tertinggi sebanyak 949 orang (kompas.com 23/5/2020). Dari data Gugus Tugas Covid-19 sampai dengan kemarin jumlah pasien positif masih di atas 500 orang, yaitu sebanyak 684 orang menjadi 28.233 orang. (kompas.com 3/6/2020).

 

Langkah kebijakan kontradiktif dari pemerintah yang terburu-buru ini malah justru semakin menambah beban kerja bagi para tenaga medis. Mereka meluapkan ekspresi kekecewaan dan rasa lelah karena bertambahnya beban kerja dengan tagar Indonesia Terserah yang sempat menjadi trending beberapa minggu yang lalu.

 

Hal ini dikarenakan lalainya pemerintah dari sisi kesehatan masyarakat termasuk sisi kesehatan para tenaga medis yang sebenarnya masih terancam oleh pandemi yang belum ditangani dengan baik, tetapi sudah mengambil langkah kebijakan-kebijakan baru yang justru membuat jumlah pasien positif bertambah setiap harinya. Sungguh sebuah ironi bagi para tenaga medis.

 

Ketika di satu sisi sebagai tenaga medis harus berkomitmen penuh pada pekerjaannya untuk menangani pasien meskipun rasa lelah dan takut selalu membayangi. Sedangkan di sisi lain jaminan kesehatan mereka pun harus mereka perjuangkan sendiri akibat kebijakan pemerintah yang tidak terintegrasi.

 

Ternyata tidak hanya proteksi kesehatan para tenaga medis saja yang terabaikan, untuk kebutuhan atau daya dukung hidup mereka pun seperti proteksi finansial juga belum maksimal terpenuhi.

 

Sebagian dari para tenaga medis belum mendapatkan tunjangan atau insentif seperti yang dijanjikan oleh pemerintah. Sebelumnya pemerintah menjanjikan pemberian insentif sebesar 15 juta untuk dokter spesialis, 10 juta untuk dokter umum dan gigi, 7,5 juta untuk bidan dan perawat, serta 5 juta untuk para tenaga medis lain (merdeka.com 25/5/2020).

 

Realisasinya belum sepenuhnya terwujud. Seperti yang disampaikan salah seorang perawat di RSPI Sulianti Saroso di Solo yang menyatakan belum menerima tunjangan tersebut hingga saat ini dengan alasan yang belum diketahui. Padahal insentif tersebut sangat diperlukan oleh para tenaga medis yg bekerja di rumah sakit swasta karena tahun ini mereka mendapatkan pemotongan THR Idul Fitri. (tempo.co 25/5/2020).

 

Bahkan kemudian karena keterbatasan dana dari pihak RS di daerah Ogan Ilir Sumatera Selatan sampai harus merumahkan ratusan para tenaga medis. Sebagian adalah perawat honorer yang hanya mendapatkan gaji 750 ribu sebulan (kompas.com 22/5/2020).

 

Tentu hal yang sangat menyedihkan jika para tenaga medis yang merupakan pejuang paling depan dalam menghadapi pandemi ternyata masih belum maksimal kebutuhannya terpenuhi oleh pemerintah.

 

Sementara masyarakat sendiri masih bergantung terhadap tenaga medis sebagai pelayan kesehatan. Prioritas untuk tenaga medis dan jasa pelayanan kesehatan terutama fasilitas RS yang mendukung kinerja mereka seharusnya sangat diutamakan.

 

Apalagi ketika menghadapi situasi pandemi seperti ini ketika banyak masyarakat yang terpapar kemudian sakit dan harus dirawat di RS dengan tempat perawatan yang penuh akan merepotkan tenaga medis seperti dokter dan perawat.

 

Fakta yang ada ternyata jumlah tenaga medis di Indonesia masih terbatas, terutama dokter spesialis paru yang hanya berjumlah 1.976 orang. Mengutip pernyataan Doni Monardo, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyatakan “Artinya satu dokter akan menangani 245 ribu WNI. Sehingga apabila kehilangan dokter misalnya, karena meninggal terpapar covid akan menjadi kerugian yang besar bagi bangsa Indonesia.” (wartakota.tribunenews.com 21/5/2020).

 

Dari sini terlihat bahwa tenaga medis dapat disamakan seperti pasukan yang berdiri di garis paling depan ketika berperang dalam medan pertempuran. Kebutuhan dan jaminan hidup bagi mereka harus diutamakan karena mereka yang pertama kali mendapat serangan musuh dan sekaligus yang mengalami resiko paling tinggi untuk meninggal atau gugur.

 

Perjuangan pasukan tenaga medis ini adalah komitmen mereka terhadap pekerjaan yang harus mereka jalankan meskipun ancaman nyawa sebagai taruhan mereka ketika bekerja.

 

Maka sudah sewajarnya sebagai garda atau pasukan terdepan harus dilengkapi sarana dan fasilitas yang menunjang dalam pekerjaan mereka. Tidak hanya dari sisi kesehatan tapi juga dari seluruh kebutuhan mereka termasuk finansial. Karena apalah artinya pasukan jika tidak dilengkapi dengan perbekalan yang mencukupi. Tentu hanya akan menjadi pasukan bunuh diri.

 

Maka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan jaminan dari sisi kesehatan para tenaga medis ini harus diupayakan sepenuhnya oleh pemerintah. Bahkan menjadi prioritas utama. Pemerintah tidak boleh abai.

 

Tetapi ketika kenyataannya banyak kebijakan pemerintah yang tidak terintegrasi sudah dapat dipastikan bahwa kebutuhan hidup para tenaga medis ini bukan menjadi hal utama. Langkah kebijakan yang diambil pemerintah justru lebih mengutamakan untuk menyelamatkan perekonomian negara dibandingkan dengan menyelesaikan kasus pandemi ini hingga ke akarnya.

 

Banyaknya kebijakan yang membingungkan dari pemerintah juga membuat sebagian masyarakat pada akhirnya mengabaikan aturan kesehatan pada saat pandemi untuk tidak berkumpul dan menjaga jarak. Mereka merasa bahwa virus ini bukan hal yang harus ditakuti.

 

Di samping juga dikarenakan tuntutan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga membuat mereka tetap mencari nafkah di luar rumah. Seluruh upaya kesehatan pada akhirnya hanya diupayakan oleh individu masyarakat.

 

Inilah yang terjadi jika sebuah negara mengemban ideologi kapitalisme. Kepentingan individu terutama dalam hal ini adalah kepentingan ekonomi lebih menonjol.

 

Berbeda halnya jika Islam yang dijadikan ideologi dalam bernegara. Dalam Islam kesehatan disamakan dengan kebutuhan pokok, sehingga negara bertanggung jawab secara langsung dalam memenuhinya. Negara dalam hal ini bertanggung jawab menyediakan segala sarana dan prasarana kebutuhan publik dengan taraf terbaik, tanpa menarik biaya sedikit pun dari masyarakat. Sebab negara dan pemerintah adalah raa’in, pelayan umat penyelenggara urusan publik.

 

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan, dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya.” (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

 

Dalam hadis ini, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.

 

Gambaran ini terlihat ketika Islam diterapkan secara sempurna sebagai aturan hidup seperti pada masa Rasulullah, delapan orang dari Urainah datang ke Madinah menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan limpa.

 

Nabi SAW kemudian memerintahkan mereka dirawat di tempat perawatan, yaitu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Maal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Maal yang digembalakan di sana. Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga sehat dan pulih.

 

Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi SAW. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum muslim secara gratis.

 

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Maal.

 

Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.

 

Dari beberapa gambaran di atas telah jelas bahwa Islam menetapkan jaminan kesehatan merupakan tugas dan tanggung jawab negara juga pemerintah.

 

Ketersediaan tenaga medis berikut sarana dan pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat secara maksimal dan tanpa pungutan biaya.

 

aik tenaga medis maupun sarana dan pelayanan kesehatan seluruhnya digaji oleh pemerintah dengan mengambil dana dari Baitul Maal.

 

Sehingga ketika menjalankan tugasnya dalam kesehatan para tenaga medis tidak lagi mengkhawatirkan kebutuhan hidupnya karena seluruhnya telah tercukupi oleh negara. Apalagi ketika menghadapi situasi pandemi. Negara akan lebih mengutamakan tercukupinya kebutuhan hidup tenaga medis sebagai garda terdepan.  Wallahu ‘Alam[]

* Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

 

Otonomi Bangsamoro Dinilai Untungkan Muslim Mindanao

ANKARA(Jurnalislam.com) – Wilayah Otonomi Bangsamoro bagi kalangan Muslim Mindanao memberikan banyak keuntungan signifikan dari kesepakatan damai kawasan mayoritas Muslim dengan pemerintah Filipina.

Hal ini disampaikan Wakil Kepala Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH), Huseyin Oruc dilansir, dari Anadolu Agency, Senin (8/6).

Dia mengatakan dalam sebuah konferensi video bahwa pemerintah daerah telah menunjukkan keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mendapatkan dukungan luar biasa dari masyarakat setempat.

IHH telah membantu orang-orang di kawasan ini sejak 1997 dan menjadi salah satu anggota Tim Pemantau Pihak Ketiga Independen untuk menilai pelaksanaan prasyarat perjanjian damai yang ditandatangani antara pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF).

Oruc dalam kesempatan itu menjelaskan perjuangan Muslim Moro untuk tanah merdeka selama beberapa dekade. Dia menambahkan, Front Pembebasan Islam Moro telah mengambil keputusan bijak untuk menerima otonomi.

Wilayah Bangsamoro telah lama dirampas kebebasannya di bawah Spanyol, AS, Jepang, dan negara Filipina. Kini wilayah tersebut diberikan otonomi setelah referendum bersejarah diadakan pada 21 Januari dan 6 Februari tahun lalu di Mindanao selatan.

“(Dengan perjanjian damai tersebut) Bangsamoro menjadi otonomi yang lebih kuat yang dapat melindungi dirinya dengan lebih baik,” kata Oruc.

Oruc melanjutkan, orang-orang di wilayah itu telah mendapatkan identitas mereka yang diakui oleh pemerintah pusat. Mereka akan berbagi sumber daya di wilayah tersebut dengan pemerintah pusat secara 50-50.

“Mereka juga akan membangun keamanan mereka sendiri melalui pasukan polisi setempat. Mereka membangun sistem Hukum Islam di sana,” katanya menjelaskan beberapa keuntungan.

Pemerintah daerah otonom Bangsamoro di bawah Ketua Menteri Al-Hajj Murad Ebrahim, ungkap Oruc, sejauh ini telah melakukan pekerjaan luar biasa untuk memenuhi permintaan penduduk setempat. “Pemerintahannya lebih berhasil dalam memerangi pandemi virus corona daripada pemerintah pusat, menurut media setempat,” kata Oruc.  Wilayah ini sejauh ini mengkonfirmasi sekitar 25 kasus Covid-19 dengan 11 kematian. Bangsamoro juga membuka pusat isolasi dengan 100 tempat tidur bulan lalu yang dibangun dalam 40 hari.

Perdamaian dan ketenangan permanen adalah tujuan akhir pemerintah otonom. Kerukunan antaragama di antara umat Islam, Kristen, dan minoritas lain di kawasan ini telah menjadi contoh bagi bagian lain dunia.

Sumber: republika.co.id

Anies Berbagi Penanganan Covid di Depan 40 Pimpinan Seluruh Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dianggap berhasil dalam penanganan pandemi Covid-19. Karena itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diundang untuk menghadiri virtual meeting ‘The Mayoral Meeting Cities Against Covid-19 (CAC) Global Summit 2020‘ pada 2 Juni lalu.

Dengan mengusung tema ‘Together We Stand‘, Anies berbicara di depan 40 gubernur dan wali kota di seluruh dunia. Video tersebut diunggah akun Youtube Pemprov DKI pada Ahad (7/6).

Dikutip dari prnewswire.comglobal summit atau konferensi tingkat tinggi (KTT) yang mencakup 15 sesi ini berlangsung pada 1-5 Juni 2020.

Di mana para ahli global di bidang perawatan kesehatan, pendidikan, teknologi informasi, dan lingkungan, berbagi informasi mendalam tentang tanggapan dan solusi untuk penanganan Covid-19. Semua program yang dipaparkan pemateri dilengkapi dengan interpretasi simultan dalam bahasa Inggris.

Adapun Anies kebagian sesi presentasi pada 2 Juni, yang diawali dengan pidato pembukaan Wali Kota Seul Park Won-Soon selaku tuan rumah. Acara tersebut diikuti Gubernur Maryland (AS) Larry Hogan, Wali Kota Moskow (Rusia) Sergei Sobyanin, Wali Kota London (Inggris) Sadiq Khan, dan Wali Kota Budapest (Hungaria) Gergely Karácsony.

Selain itu, wali kota Istanbul (Turki), wali kota Teheran (Iran), Tel Aviv (Israel), Buenos Aires (Argentina), Vancouver (Kanada), Chongqing (China), dan New Delhi (India) ikut berbagi penanganan Covid-19 di masing-masing wilayahnya. Kemudian setelah diskusi, dilanjutkan ‘Deklarasi Seoul’ yang diikuti seluruh peserta.

Sebelum menyilakan Anies berbicara, dalam video di akun Youtube Pemprov DKI, moderator mengatakan, contoh dari Gubernur Anies Baswedan pada Mei dapat dikatakan sebagai bulan terberat untuk provinsi terbesar keempat di Asia Tenggara dalam menangani pandemi Covid-19.

“Namun Jakarta tampaknya telah berhasil mengubah keadaan dengan jumlah kasus yang terus menurun setelah melewati puncaknya pada pertengahan Mei. Bapak Gubernur tampaknya Anda memiliki bahan paparan yang telah dipersiapkan, jika sudah siap saya akan memberikan kesempatan kepada Anda untuk berbicara sekarang.”

Gubernur Anies pun mengucapkan terima kasih atas undangan yang diberikan untuk mengikuti pertemuan penting para pemimpin di seluruh dunia, khususnya teman baik Wali Kota Park.

Menurut Anies, Park adalah salah satu panutan pemimpin kota. Dia juga menyampaikan salam kepada gubernur dan wali kota yang mengikuti pertemuan tersebut.

Anies mengatakan, Pemprov DKI ingin membagikan penanganan Covid-19 kepada seluruh peserta. Hanya saja, ia menekankan, materi yang disampaikan ingin mengajak gubernur dan wali kota seluruh dunia untuk melihat ke depan.

“Maksud saya kita semua berpengalaman menghadapi pandemi ini, tapi saya pikir penting bagi kita semua untuk melihat hal-hal di balik pandemi ini,” ucap mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) tersebut.

sumber: republika.co.id

Pelonggaran PSBB, PKL Bandung Diizinkan Beroperasi

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Bandung memperbolehkan para pedagang kaki lima (PKL) untuk beroperasi selama masa pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, para pedagang harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan tidak boleh berjualan di zona merah PKL.

“Relaksasi PKL dalam rangka PSBB sudah diizinkan tapi mengacu kepada perwal 32 nomor 2020 di sana tidak ada (dijelaskan) PKL seperti apa,” ujar Kepala Dinas KUMKM Kota Bandung, Atet Dedi Handiman saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (8/6).

Ia mengungkapkan, para PKL yang beroperasi tetap harus menjalankan protokol kesehatan diantaranya tidak boleh mengundang kerumunan saat berjualan. Menurutnya, aturan yang tengah dibuat tidak secara eksplisit membahas PKL akan tetapi UMKM.

“Kalau PKL dianggap sama (dengan) warung maka ada pembatasan waktu (operasi), protokol kesehatan dan (jaminan) kebersihan produk,” ungkapnya.

Ia mencontohkan tidak semua yang berjalan di trotoar yang dijadikan tempat usaha di 16 titik lokasi penataan PKL di Cicadas akan membeli barang. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau agar para PKL di Cicadas wajib menjalankan protokol kesehatan saat konsumen datang.

“(PKL) di Cibadak (beroperasi) jam 20.00 sampai 10 malam tapi di peraturan (dibatasi) sampai jam 6. Sementara ini, mengimbau mengacu kepada Perwal no 32 dengan pembatasan,” katanya.

Atet menambahkan, pihaknya saat ini akan melakukan rapat untuk membahas pelaksanaan usaha para PKL di Cicadas dan Cikapundung dengan menerapkan protokol kesehatan. Dia mengatakan, dinas sendiri fokus kepada pembinaan tetapi di dalam Satgasus PKL memiliki kewenangan untuk menertibkan, penataan, dan pembinaan PKL.

Pasien positif Covid-19 di Kota Bandung mengalami kenaikan empat hari terakhir saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proposional masih berlangsung sejak diumumkan Jumat (29/5) hingga Jumat (12/6). Dari jumlah positif Covid-19 sebanyak 307 orang pada Kamis (4/6) sore, hingga Ahad (7/6) malam jumlahnya naik signifikan menjadi 329 orang.

Sumber: republika.co.id

 

Yogyakarta Tetap Waspada, Siapkan Tahapan Pemulihan Pascapandemi

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) — Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan tahapan pemulihan pascapandemi Covid-19, yang mencakup upaya penanggulangan penyakit dan penerapan protokol kesehatan dalam pemulihan aktivitas ekonomi.

Setidaknya ada lima tahapan bakal diterapkan, diawali dengan penyelesaian masalah atau kasus positif Covid-19.

Menurut Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta kesehatan masyarakat merupakan bagian paling penting dalam pelaksanaan tahapan pemulihan dan kebangkitan pascapandemi Covid-19.

“Yang sulit adalah menentukan kerangka waktu untuk pelaksanaan setiap tahapan saat kondisi kasus di Yogyakarta belum bisa dipastikan meskipun dalam beberapa pekan tidak ada kasus baru. Yang positif berasal dari pasien dalam pengawasan (PDP),” katanya Senin (8/6).

Pemerintah Kota berhati-hati dalam menentukan kebijakan dalam upaya menghindari lonjakan kasus Covid-19 usai pelonggaran kebijakan sebagaimana yang terjadi di negara lain. “Saat ini, protokol baru untuk berbagai aktivitas sedang disusun karena masyarakat mulai aktif kembali melakukan berbagai kegiatan di luar rumah,” kata Heroe.

Pemerintah kota, menurut dia, akan menggelar uji coba protokol baru secara terbatas untuk memastikan tidak ada celah dan kelemahan dalam pelaksanaannya.

“Kalau pun nanti ada pembukaan aktivitas di masyarakat, maka akan dilakukan bertahap. Karena jika muncul masalah maka bisa langsung dilokalisir, tidak meluas kemana-mana,”katanya.

Setelah penanganan kasus, penyusunan protokol, dan uji coba penerapan protokol, ia menjelaskan, tahapan berikutnya adalah menjalankan gerakan “Jogja untuk Jogja” untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berdasarkan prinsip saling menghidupi antar sesama warga Kota Yogyakarta.

“Misalnya membeli produk lokal dari Yogyakarta. Tujuannya, supaya kehidupan ekonomi berkembang. Namun protokol baru yang sudah ditetapkan juga harus dilanjutkan,”katanya.

Tahapan pemulihan berikutnya adalah menjalankan “Jogja untuk Semua”, memulihkan berbagai aktivitas di Yogyakarta secara lebih luas namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Kami sudah melakukan berbagai pertemuan dengan pelaku usaha, mulai dari Kadin dan PHRI. Dimungkinkan ada promosi bersama, bahkan pemberian insentif yang berimplikasi pada produktivitas,”kata Heroe.

Mengenai pendanaan, Heroe mengatakan, pemerintah kota masih terus memutar otak untuk membiayai pewujudan berbagai rencana pemulihan tersebut, khususnya di bidang ekonomi, karena pendapatan asli daerah Kota Yogyakarta juga menurun cukup banyak.

“Dari hitungan kami, potensi pendapatan hilang sekitar Rp 300 miliar sampai Juni. Kalau kondisi seperti ini berlangsung lebih lama misalnya sampai Juli, Agustus, atau September maka ada potensi pendapatan yang hilang sekitar Rp 100 miliar lagi,”katanya.

Sumber: republika.co.id

Ojek Online Mulai Beroperasi, Ini Prosedurnya

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Layanan antar penumpang perusahaan ojek daring Gojek mulai kembali aktif di Jakarta hari ini, Senin (8/6). Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita mengatakan, layanan Goride kembali beroperasi di Ibu Kota dengan menerapkan aturan tertentu bagi pengemudi dan penumpang.

Nila mengatakan, Gojek memiliki prosedur yang mengedepankan aspek kesehatan dan kebersihan. Ketentuan tersebut sesuai dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 51 Tahun 2020 dan Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Nomor 105 Tahun 2020 tentang Pengendalian Sektor Transportasi untuk Pencegahan Covid-19 pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat, Aman, dan Produktif.

“Kami mewajibkan mitra (pengemudi) menggunakan masker dan sarung tangan, sedangkan penumpang menggunakan masker,” kata Nila, Senin (8/6).

Dia juga mengimbau penumpang dapat membawa helm SNI pribadi. Selain itu, penumpang dan pengemudi diminta untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mitra serta penumpang.

Nila menyebut Gojek saat ini memiliki 130 posko aman di kota-kota besar termasuk Jakarta. Posko tersebut dapat digunakan bagi pengemudi melakukan pengecekan suhu tubuh, mendapatkan alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer, serta tempat untuk dikakukannya penyemprotan disinfektan terhadap motor ataupun mobil yang digunakan oleh mitra.

Dia menambahkan, Gojek juga memiliki fitur informasi kesehatan pengemudi di aplikasi. ”Pelanggan dapat mengetahui suhu tubuh mitra driver dan status disinfeksi kendaraan mitra driver,” tutur Nila.

Dengan begitu, Nila menilai fitur tersebut dapat membantu pengguna layanan Gojek untuk merasa aman. Selain itu, hal ini dapat membantu memastikan layanan memenuhi standar kesehatan dan higienis sehingga pengemudi dapat bekerja dengan tenang.

Meskipun sudah kembali beroperasi di Jakarta, Nila mengatakan, sesuai SK Dishub Nomor 105/2020, Gojek memastikan tidak beroperasi di wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat berskala lokal. Hal tersebut dilakukan dengan menerapkan pengaturan geofencing atau pembatasan berbasis wilayah.

Sumber: republika.co.id

Pemerintah: 80 Persen Positif Covid Tidak Bergejala

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut 80 persen kasus positif corona ditemukan pada orang yang tak menunjukkan gejala sama sekali. Orang tanpa gejala ini dapat menularkan virus kepada orang lain yang lebih rentan.

Karena itu, Yurianto meminta agar masyarakat disiplin menjalankan protokol kesehatan, baik dengan melakukan jaga jarak, mengenakan masker, maupun mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. “Kita harus melindungi diri kita juga dengan cara menggunakan masker,” kata dia.

“Kita tidak akan pernah tahu siapa orang di luar yang membawa virus ini. Karena, dari catatan data, kita bisa melihat bahwa 80 persen mungkin kita menemukan kasus positif pada orang-orang yang tanpa gejala sama sekali,” ujar Yurianto saat konferensi pers, Ahad (7/6).

Ia menjelaskan, kebanyakan orang tanpa gejala ini tidak menyadari bahwa dirinya membawa penyakit dan tidak tampak sakit dari luar. “Kita juga tidak menyadari bahwa orang tersebut berpenyakit. Inilah sebabnya kenapa menjaga jarak dan menggunakan masker menjadi sesuatu yang penting,” ujarnya.

Yurianto menilai, jika penerapan protokol kesehatan ini telah dipahami oleh masyarakat dengan baik, kerumunan pun tak akan terjadi. Pasalnya, masyarakat akan mulai menerapkan jaga jarak minimal.

“Kemudian, semuanya akan bisa menjadi lebih tertib karena masing-masing berusaha saling melindungi,” kata dia menambahkan.

Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat menghindari penularan tidak langsung melalui droplet, misalnya tak menyentuh langsung susuran tangga atau tombol lift. Untuk menghindari penularan cara tidak langsung melalui droplet yang mencemari benda-benda, mencuci tangan menggunakan sabun menjadi unsur protokol kesehatan yang harus dilakukan.

“Apabila kemudian kita tidak rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir maka akan terjadi pemindahan virus ini ke tangan kita. Apalagi, kalau kita menyentuh mulut, mata, hidung, tanpa cuci tangan maka akan terjadi transfer dari virus ini,” katanya.

Adaptasi kebiasaan baru ini harus terus dilakukan dengan edukasi terus-menerus. “Oleh karena itu, menjaga jarak, menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan haruslah menjadi norma baru yang mewarnai kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

 

Nyaris 2 Juta, Kasus Harian Corona AS Naik Dua Kali Lipat

AMERIKA SERIKAT (Jurnalislam.com) — Amerika Serikat melaporkan 41.927 kasus virus corona pada Sabtu (7/6), dua kali lipat lebih banyak dari satu hari sebelumnya.

Menurut Worldometer, total kasus di negara itu sudah mencapai 1,96 juta kasus.  AS adalah negara yang paling terdampak pandemi virus corona. Sedikitnya 1.200 orang meninggal dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah korban tewas bertambah jadi 111.408 jiwa.

Sementara itu, lebih dari 738.700 orang telah dinyatakan pulih. Virus corona, yang dikenal secara resmi sebagai Covid-19, pertama kali diidentifikasi di China pada Desember 2019, dan telah menyebar ke 188 negara dan wilayah.

Berdasarkan data yang dihimpun Johns Hopkins University, ada lebih dari 6,77 juta orang yang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Sekitar 395.800 di antaranya meninggal, sedangkan 2,77 juta lainnya dinyatakan sembuh.

Sumber: anadolu agency

PM Muhyiddin: Malaysia Sukses Kendalikan Penyebaran Covid-19

MALAYSIA(Jurnalislam.com)- Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin mengatakan bahwa perintah kontrol pergerakan Malaysia (MCO) akan memasuki fase pemulihan pada pekan depan. Fase ini akan dimulai pada Rabu mendatang.

MCO, yang pertama kali diberlakukan pada 18 Maret untuk mengendalikan penyebaran Covid-19  sebelumnya diperpanjang empat kali hingga 9 Juni. Muhyiddin mengatakan, fase pemulihan adalah bagian dari strategi untuk keluar dari MCO, mengikuti tren penurunan infeksi.

“Malaysia telah berhasil menahan penyebaran pandemi dan sekarang akan memasuki tahap pemulihan. Di bawah pemulihan MCO, “hampir semua” kegiatan sosial, pendidikan, agama dan bisnis, serta sektor ekonomi akan dibuka kembali secara bertahap, dengan prosedur operasi standar yang harus dipatuhi,” ucapnya.

“Perjalanan antar negara akan diizinkan, kecuali untuk daerah-daerah yang ditempatkan di bawah MCO yang ditingkatkan, sementara perbatasan negara akan tetap ditutup,” sambungnya, seperti dilansir Channel News Asia pada Minggu (7/6/2020).

Hingga Sabtu, Malaysia melaporkan total 8.303 kasus infeksi Covid-19, dengan 117 kematian. Hampir 80 persen pasien telah pulih.

MCO awalnya diberlakukan ketika jumlah kasus baru setiap hari mengalami lonjakan yang mengkhawatirkan. Di bawah MCO, perjalanan domestik dan internasional dilarang, dan orang-orang didorong untuk tinggal di rumah untuk memutus rantai infeksi.

Setelah enam minggu tidak aktif secara ekonomi, Malaysia mengubah statusnya menjadi “MCO bersyarat” mulai 4 Mei, yang memungkinkan hampir semua sektor ekonomi dibuka kembali.

Selanjutnya, kontrol terus dilonggarkan dari waktu ke waktu. Pusat penitipan anak, salon rambut, salon kecantikan, pasar terbuka dan pasar malam telah diberi lampu hijau untuk dibuka kembali.

Mulai 10 Juni, orang Malaysia yang pulang di luar negeri akan diizinkan pulang ke rumah untuk menjalani karantina selama 14 hari, alih-alih dikirim ke pusat karantina, jika hasil tesnya negatif untuk Covid-19.

Industri Perhotelan Merugi Rp 70 Triliun Karena Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat pariwisata dan perhotelan merupakan sektor yang paling terpukul akibat adanya pandemi Covid-19. Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, pandemi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 hotel dan 8.000 restoran tutup.

Adapun penutupan tersebut, potensi hilang pendapatan selama Januari hingga April 2020 sebesar Rp 70 triliun, di mana untuk sektor hotel sekitar Rp30 triliun dan restoran Rp40 triliun.

“Akibat pandemi Covid-19, potensi devisa yang hilang dari sektor perhotelan dan pariwisata selama Januari hingga April 2020 sebesar USD4 miliar,” kata Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani dalam acara diskusi yang digelar Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) di Jakarta.

Dia merinci untuk kerugian maskapai penerbangan mencapai USD812 juta, dan kerugian operator tur atau perjalanan Rp4 triliun. Sedangkan untuk pekerja sektor pariwisata, sebanyak 90% telah dirumahkan atau unpaid leave.

“Karena ada jumlah pekerja sektor pariwisata mencapai sekitar 13 juta orang,” ungkapnya.

Hariyadi juga menilai, stimulus ekonomi yang saat ini telah disiapkan pemerintah tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, di mana mayoritasnya untuk insentif pajak dan BUMN. Sedangkan untuk sektoral, misalnya pariwisata hanya Rp3,8 triliun.

“Sektor pariwisata ini sebetulnya yang paling terdampak, tetapi insentifnya Rp3,8 triliun dan ini larinya ke diskon tiket pesawat ke destinasi wisata dan insentif pajak atau restoran yang lebih ke Pemerintah Daerah,” pungkasnya.

sumber: sindonews