Berita Terkini

PKS: Rakyat Butuh Solusi Pemerintah, Bukan Keluhan Jokowi

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pipin Sopian menilai arahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi kepada anggota Kabinet Indonesia Maju terkait penanganan Covid-19 saat Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Kamis (18/6/2020) menunjukan lemahnya kepemimpinan Jokowi dalam menangani krisis corona.

 

Pipin menyebut, apa yang disampaikan Jokowi lebih banyak keluhan.

“Arahan Presisen Jokowi tersebut lebih banyak berkeluh kesah atas masalah di internal kabinet yang hanya membebani psikologi masyarakat Indonesia.” Kata Pipin kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/6).

Menurutnya, sebagai kepala pemerintahan seharusnya Jokowi memantau langsung setiap hari kebijakan menterinya dalam menangani krisis. Ia meragukan Jokowi melakukan pengawasan terhadap kinerja para menterinya.

“Jika presiden memiliki sense of crisis seharusnya beliau fokus mengawal day by day kinerja menteri-menterinya yang ditugasi khusus menangani Covid-19. Bukan malah berkeluh kesah setelah berbulan-bulan di berikan arahan. Jadi apa yang dikerjakan Presiden Jokowi kemarin-kemarin?” ujarnya.

Ketua Departemen Politik DPP PKS ini menuturkan, beban masyarakat di tengah krisis wabah corona semakin tinggi. Ekonomi masyarakat semakin sulit, banyak yang jadi korban PHK dan kehilangan penghasilan. Sehingga dibutuhkan solusi konkrit dalam mengatasi masalah yang dialami masyarakat, khususnya di kalangan menengah ke bawah.

“Masyarakat butuh solusi konkrit dan progress positif penanganan pandemi dan dampaknya, bukan cerita keluh kesah yang justru akan menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena hanya menunjukkan sebuah pemerintahan yang lemah,” ujarnya.

Pipin juga menilai dari arahan Jokowi tersebut tergambar rapuhnya soliditas Kabinet Indonesia Maju. Bahkan sampai menyatakan misalnya dalam belanja kementerian bidang kesehatan, dari 75 Triliun yang dianggarkan, baru 1,53 persen yang dikeluarkan.

sumber: suara.com

Pembuktian Ucapan dan Leadership, Jokowi Ditantang Reshuffle Luhut

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat kabinet paripurna pada Kamis (18/6) menuai banyak sorotan.

Pasalnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam pidatonya mengancam akan membubarkan lembaga dan tak segan melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Maju.

Analis sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubeidillah Badrun menyebut, kemarahan Jokowi pada pidatonya tersebut merupakan gambaran ekspresi emosional dan kegagalannya dalam menangani virus korona atau Covid-19. Karena sebelumnya, Jokowi menganggap remeh pandemi Covid-19.

Karena kekacauan tersebut, lanjut Ubeidillah, Presiden Jokowi harus mengganti menteri yang menjadi beban dan akan menambah kekacauan kedepannya

Selain itu, ada juga dua Menteri Koordiantor (Menko) yang menjadi beban Jokowi untuk dievaluasi dan reshuffle yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Manivest) serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

“Argumenya karena sudah ada Perpu Nomor 1 tahun 2020 yang sudah jadi undang-undang tetapi tidak efektif digunakan oleh dua Menko tersebut. Bahkan justru membuat kegaduhan saja, dari kegaduhan TKA, kegaduhan debat terbuka yang gagal dan juga kegagalan Kartu Prakerja yang dihandle langsung oleh Menko perekonomian,” beber Ubeidillah.

“Tinggal terserah Jokowi mau Menteri mana yang menjadi skala prioritas di reshuflle,” sambungnya.

Kendati demikian, reshuffle dua Menko tersebut menjadi ujian leadership Jokowi. Menurutnya, jika Jokowi berani mencopot dua Menko tersebut artinya lulus dan memiliki kekuatan dalam memimpin negara.

“Kalau tidak berani reshuffle dua Menko tersebut itu artinya membenarkan tesis bahwa Jokowi dikendalikan oleh oligarki ekonomi dan oligarki politik,” ujar Ubeidillah.

Sumber: jawapos.com

Masyarakat Abai Protokol, Muhammadiyah Ingatkan Pandemi Belum Berakhir

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)– Belakangan masyarakat terus bersiap-siap menjalani new normal. Padahal, Indonesia sendiri masih belum terbebas dari Coronavirus Disease 2019, dan angka kasus Covid-19 masih jauh dari penurunan signifikan.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dr Agus Taufiqurrohman mengatakan, rencana penerapan new normal membuat masyarakat sedikit abai. Termasuk, atas protokol-protokol pencegahan penyebaran utama.

“Yang harus kita pahami dan jelaskan ke masyarakat, saat ini wabah ini belum berakhir, pandemi ini belum terkendali, artinya kita masih berada di suasana wabah Corona,” kata Agus, Ahad (28/6).

Dia menuturkan, kondisi itu bisa dibuktikan dengan data dunia dan Indonesia, yang angka kasus Covid-19-nya terus beranjak naik. Karenanya, kewaspadaan protokol kesehatan pencegahan penularan tetap harus diutamakan masyarakat.

“Sebab, ketika masyarakat lupa jika saat ini kita masih berada dalam suasana pandemi Covid-19 dan lengah, apalagi tidak disiplin, kita takut justru muncul gelombang lanjutan, ini yang harus kita jaga dan waspadai serius,” ujar Agus.

Agus mengingatkan, ada protokol kesehatan utama seperti senantiasa memakai masker. Ia menerangkan, penggunaan masker tidak cuma melindungi diri kita sendiri, tapi justru melindungi orang lain dari resiko penularan virus.

Lalu, harus selalu menjaga jarak minimal 1-2 meter, sehingga potensi untuk penyebaran virus corona bisa dikendalikan. Kemudian, hindari kerumunan karena terbukti kerumunan yang tidak terkendali menjadi potensi penularan serius.

Sumber: republika.co.id

Persis: Aneksasi Israel Picu Konflik Berkepanjangan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mengecam dan mengutuk keras tindakan Israel yang akan menganeksasi wilayah Tepi Barat di Palestina. Aneksasi Israel atas wilayah Palestina ini akan memutus harapan perdamaian dan solusi perdamaian kedua belah pihak.


“Ini (aneksasi Israel atas Tepi Barat) akan memicu perang berkelanjutan dan berkepanjangan,” kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP Persis, Ustaz Yusuf Burhanuddin, Jumat (26/6).

Ustaz Yusuf mengatakan, masalah yang akan timbul akibat aneksasi ini akan melibatkan pihak-pihak di kawasan dan di luar kawasan. Karena aneksasi yang dilakukan Israel atas Tepi Barat adalah sikap pelanggaran hukum internasional.

Ia mengatakan, kalau tindakan Israel aneksasi Tepi Barat Palestina dibenarkan akan mengakibatkan konflik-konflik di dalam kawasan dan di luar kawasan, terutama konflik di negara-negara Arab.

 

Ustaz Yusuf mengingatkan, aneksasi Israel terhadap Tepi Barat juga akan semakin membangkitkan perlawanan para Muslim militan di berbagai negara di Timur Tengah. “Sehingga mereka memperunyam konflik di dalam kawasan mereka,” ujarnya.


Menurutnya, isu Palestina dan Israel sangat banyak mempengaruhi negara-negara terutama negara di kawasan Timur Tengah. Sehingga aneksasi Israel terhadap Tepi Barat akan memicu konflik di berbagai kawasan.

 

Sumber: republika.co.id

Hasto Akhirnya Mengaku PDIP Inisiator RUU HIP

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengaku Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) diusulkan oleh fraksi partainya di DPR.

Belakangan usulan RUU HIP ini mengundang pro dan kontra di masyarakat. Sehingga, Hasto menyebut pihaknya membuka dialog dengan siapapun. Menurutnya, RUU HIP saat ini masih berupa rancangan, sehingga bisa diubah.

“Maka dengan adanya rancangan undang-undang yang kami usulkan, PDI Perjuangan tentu saja membuka dialog,” kata dia dalam webinar berjudul “Jas Merah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Ciptakan Sejarah Positif Bagi Bangsa” dalam Rangka Peringatan Bulan Bung Karno 2020, Minggu malam (28/6)

Pernyataan Hasto ini menjawab teka-teki soal fraksi pengusul RUU HIP. Selama ini fraksi-fraksi di DPR RI, terutama di Badan Legislasi (Baleg), enggan mengungkap fraksi yang mengusulkan aturan itu. Mereka hanya menyebut RUU HIP adalah inisiatif DPR.

Sumber: cnnindonesia.com

Menkes Akui Kesempatan AS Tahan Corona Sudah Tertutup

WASHINGTON(Jurnalislam.com) — Menteri Kesehatan dan Layanan Manusia Amerika Serikat (AS) Alex Azar memperingatkan ‘jendela sudah tertutup’ bagi AS untuk mengambil langkah efektif menahan laju penyebaran Covid-19. Hal ini ia sampaikan di stasiun televisi NBC dan CNN pada Ahad (28/6).


Azar menyinggung tentang naiknya angka kasus infeksi virus corona baru-baru ini, terutama di bagian selatan. Ia mengatakan masyarakat harus ‘bertindak dengan bertanggung jawab’ dengan mematuhi pembatasan sosial dan mengenakan masker terutama ‘di pusat-pusat wabah’.

Azar berpendapat dua bulan yang lalu AS memiliki posisi yang lebih baik dalam menanggulangi penyebaran virus karena melakukan banyak pemeriksaan dan menyediakan perawatan Covid-19. Namun ia mengakui beberapa pekan ke depan semakin banyak pasien yang di rawat inap dan meninggal dunia sebab hanya itu indikator yang tersia.

Jumlah kasus infeksi di Texas dan Florida meningkat setelah mereka mulai membuka kembali aktivitas ekonomi. Angka kasus infeksi harian di AS mencapai titik tertingginya dengan 40 ribu kasus lebih per hari.

Sementara jumlah kasus infeksi di seluruh dunia sudah mencapai 10 juta. Di beberapa tempat muncul beberapa pusat wabah baru. Seperti klub malam di Zurich, Swiss dan Leicester, Inggris yang menandakan virus corona masih menyebar luas di Eropa.

Amerika Latin dan India juga mengalami peningkatan jumlah kasus infeksi. Sementara itu China memperluas rencana pemeriksaan Covid-19 usai mengizinkan salon dibuka kembali. Jumlah kasus infeksi virus corona di Negeri Tirai Bambu kian menurun.

Sumber: republika.co.id

Jatim Tertinggi Penambahan Kasus Baru Covid, Disusul Sulses dan Jateng

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah pada Ahad (28/6) merilis penambahan kasus positif covid-19sebanyak 1.198 orang dalam 24 jam terakhir.

Dari angka tersebut, Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan penambahan kasus harian tertinggi yakni 330 kasus baru.

Kemudian disusul Sulawesi Selatan dengan 192 kasus baru, Jawa Tengah dengan 188 kasus baru, DKI Jakarta dengan 125 kasus baru, dan Kalimantan Selatan dengan 73 kasus baru.

Penambahan kasus hari ini juga semakin mengukuhkan posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan angka kumulatif kasus positif terbanyak nasional. Jawa Timur saat ini mencatatkan total akumulasi kasus Covid-19 sebanyak 11.508 orang. Sedangkan DKI Jakarta menduduki posisi kedua dengan angka kumulatif kasus 11.114 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan, angka penambahan kasus hari ini didapat dari pengujian terhadap 17.230 spesimen. Angka ini menurun dibanding kapasitas uji pada Sabtu (28/6) kemarin sebanyak 21.589 spesimen. Yurianto menjelaskan, menurunnya kapasitas uji spesimen disebabkan sejumlah laboratorium yang libur pada akhir pekan.

“Kita maklumi setiap hari libur beberapa lab khususnya di RS dan beberapa lab di luar jejaring Kemenkes, mereka tidak operasional sehingga hasil yang didapat sebagian besar oleh lab jejaring Kemenkes dan beberapa lab lagi yang tetap operasional selama akhir pekan,” jelas Yurianto dalam keterangan pers, Ahad (28/6).

Indonesia memang mulai konsisten mencatatkan penambahan kasus harian di kisaran 800 sampai 1.300 orang per hari selama nyaris sebulan terakhir. Pemerintah mengklaim, penambahan kasus yang cukup tinggi disebabkan kapasitas uji spesimen yang terus meningkat.

Selama satu hari terakhir, tercatat juga ada 20 provinsi yang melaporkan penambahan kasus positif di bawah 10 orang. Bahkan 9 provinsi di antaranya mencatatkan penambahan nol kasus harian. Kalimantan Barat misalnya, mencatatkan nol kasus baru dan 8 pasien sembuh. Kemudian ada Lampung yang juga melaporkan nol kasus baru dan 7 orang sembuh.

Kasus pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh memang terus meningkat tajam. Per hari ini, tercatat ada 1.027 pasien yang sembuh sehingga totalnya mencapai 22.936 orang. Sementara itu, ada tambahan 34 pasien yang meninggal dunia dengan status positif Covid-19. Sehingga total pasien meninggal dunia ada 2.754 orang.

Sumber: republika.co.id

Sistem Pendidikan Luar Biasa dalam Hadapi  Bencana

Oleh : Kurnia Agustini, S.Pd.

Pemerintah menerapkan kebijakan New Normal Life saat ini, meski grafik COVID belum turun. Alasan yang dikemukakan adalah keterpurukan bidang ekonomi harus segera dihindari, maka kegiatan ekonomi dan pariwisata harus segera dibuka kembali,. Sejumlah daerah dan kota yang dianggap aman, dapat melakukan kegiatan eknomi dan lain sebagainya, secara bertahap, serta tetap mematuhi aturan protokol kesehatan. Kebijakan ini menunjukkan , bahwa pemerintah tidak mampu menjamin kebutuhan ekonomi warga negara, jika kebijakan isolasi yang dipilih. Hal ini menunjukkan pula, bahwa kepentingan ekonomi yang kemudian lebih mendominasi.

Di sisi lain, New Normal atau lebih dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru, memunculkan masalah baru. Kebijakan setengah ‘mentah’ ini akhirnya malah dipahami masyarakat  sebagai hilangnya bahaya COVID dan masyarakat bebas melakukan aktivitas apapun, tanpa takut ataupun khawatir. Timbullah euforia masyarakat, dengan menyerbu sejumlah tempat makan, nongkrong, atau wisata. Baik untuk sekadar melepas kerinduan berkumpul ataupun meluapkan bahagia karena terbebas dari bencana. Lalu protokol kesehatan pun tak diindahkan lagi. Bahkan munculsebuah  pendapat  bahwa generasi Z sulit taat pada aturan protokol kesehatan.

Masalah di dunia pendidikan saat penerapan kebijakan AKB ini pun tak kalah peliknya. Apakah sekolah perlu dibuka kembali dengan pengaturan waktu dan protokol kesehatan,  ataukah belajar di rumah saja?  Dua pilihan ini telah mebuat resah, karena dua-duanya memiliki konsekuensi kesulitan dan akibat tertentu. Walaupun memang pada akhirnya pembukaan sekolah diserahkan pada pertimbangan dan analisis dari daerah masing-masing. Tentunya, pilihan yang diambil seharusnya dengan dasar pertimbangan pendidikan generasi dan keselamatannya tidak terabaikan. Menjadi persoalan sesungguhnyanya adalah, apakah terletak pada tempat belajar, ( baca : rumah atau sekolah) ataukah pada  sistem pendidikan yang dibenahi ?Seperti apa seharunya sistem pendidikan  yang aman dan tangguh menghadapi bencana, dengan berbagai karakteristik kesulitan di berbagai situasi juga menghasilkan genersi cemerlang? Mari kita telaah sistem berikut ini.

Sistem Pendidikan Islam dibangun atas tujuan yang jelas, kuat, dan menyeluruh. Kebudayaan dan corak kehidupan yang dihasilkan unik, berbeda, dank has. Peradaban yang dibangun lebih maju dibanding peradaban yang dihasilkan sistem pendidikan yang lain.

Generasi yang dilahirkan pun adalah generasi cemerlang, disiplin, bertanggungjawab, pekerja keras, jujur.  Generasi yang tangguh dan matang menghadapi berbagai situasi dan tantangan zaman, yang tidak akan gamang menghadapi bencana. Generasi yang memiliki visi misi yang tegas. Mencari kehidupan dunia setingi-tingginya  dengan menomorsatukan akhirat.

Salah satu keunggulan tujuan sistem pendidikan Islam adalah kepribadian Islam yang tangguh. Dengan kepribadian Islam yang kuat, siswa menyadari bahwa menuntut ilmu bukan ditujukan hanya untuk menjadikan siswa pintar, atau mengejar nilai rapot semata. Akan tetapi, sebagai sebuah kewajiban yang berkaitan pahala dan dosa. Dengan demikian, dalam kondisi apapun, belajar adalah sebuah keharusan yang menghasilkan pahala bagi yang melaksanakannya

Keunggulan lain dari sistem pendidikan Islam adalah metode pengajaran yang bertumpu pada pemikiran. Akal atau pemikiran adalah aset manusia. Akal yang menjadikan manusia makhluk mulia sekaligus instrumen utama dalam proses belajar.  Akal adalah alat dan berpikir itu sendiri. Metode pengajran yang mebuat siswa berpikir/berakal.

Pemikiran yang ditransfer dari pengajar ke pelajar, harus membuat pelajar berpikir, bukan hanya membuat mereka belajar. Artinya, pemikiran itu harus dihubungkan dengan fakta, atau lingkungan yang dapat dicerap atau dirasakan siswa. Jadi berpikir tanpa mengaitkan dengan situasi dan masalah yang sedang terjadi, dengan lingkungan sekitar ( Baca : agama, politik sosial, kesehatan, ekonimi,dsb), adalah mustahil. Jika seperti itu, yang terjadi hanya transfer informasi saja. Bukan berpikir yang melahirkan pemahaman.

Ketika mentransfer pemikiran, seorang pengajar harus mendekatkan apa yang termuat dalam pemikiran tersebut dengan makna-makna yang dapat  dengan mudah dipahami oleh anak. Dengan cara bagaimana? Yaitu dengan menghubungkan antara pemikiran dengan fakta yang dekat dan akrab dengan anak. Jadi pemikiran itu tidak mengawang-awang, tetapi benar-benar nyata dan terindera. Siswa selalu dibiasakan berpikir dan paham dalam proses  belajar.

Selain itu, pemikiran yang telah  menjadi pemahaman itu, akan senantiasa mendorong anak untuk peka terhadap masalah apapun di lingkungannya. Termasuk peka terhadap masalah pandemi COVID 19. Anak yang sudah berpikir dengan berpemahaman, akan selalu peduli terhadap setiap permasalahan di sekitarnya.  Jadi, anak dikatakan sudah belajar dan berpikir tentang COVID dari gurunya, adalah anak yang sudah paham apa persoalannya dengan benar dan bagaimana solusinya yang tepat. Kemudian siswa taat dengan solusi yang telah dipahaminya. Kalau solusi pandemi yang dia pahami dan yakini diambil dari Islam, maka akan dilaksanakannya dengan penuh rasa tanggungjawab. Oleh karena pemahaman  secara alami akan membentuk pola pikir dan pola sikapnya. Sehingga tidak ada lagi  generasi yang tidak taat dan tidak bertanggungjawab, karena dia akan bersikap sesuai pemikirannya.

Adapun untuk penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, sistem pendidikan Islam menyerahkan tanggungjawab pendanaannya pada pemerintah, sepenuhnya. Pemerintah wajib, tidak bisa ditawar, untuk memenuhi, mendanai, mencukupi seluruh biaya pendidikan, tanpa kecuali, untuk seluruh warga masyarakat. Sarana dan prasarana yang layak, tepat, bahkan canggih. Sehingga tidak ada lagi persoalan teknis, terkait sarana belajar di sekolah ataupun di rumah. Guru dan murid bisa belajar dimanapun, sekolah ataupun rumah, kapanpun dengan lancar dan nyaman. Apalagi dengan kemajuan teknologi setiap saat, maka pembelajaran dimanapun dan kapanpun akan terasa menyenangngkan.

Syahdan, sebuah sistem pendidikan yang menyeluruh,  dengan metode yang tepat,  disertai motivasi yang tinggi, didukung peralatan memadai dan modern, adalah sistem pendidikan yang andal menghadapi kondisi apapun.                                                                                                                                                  Sungguh, sistem pendidikan seperti inilah yang tangguh menghadapi bencana. Sistem pendidikan luarbiasa yang dinanti dan diminta. Sistem pendidikan yang memberi solusi mengakar, sehingga mampu menuntaskan setiap masalah secara tuntas. Itulah sistem pendidikan Islam yang sempurna memanusiakan manusia.

 

 

 

 

Serbu Senyum, Dompet Quran, dan MCI Berdayakan Mualaf Blitar-Kediri

KEDIRI(Jurnalislam.com)–Menjadi mualaf menurut pembina Mualaf Center Indonesia (MCI) Cabang Kediri Ustadz Rifky Ja’far Thalib merupakan perjalanan hidup yang menegangkan. Di dalamnya terdapat banyak cerita duka dan bahagia.

Dibutuhkan kesabaran, dukungan orang lain, dan doa yang terus-menerus untuk tetap istiqomah dalam berislam. Tanpa ketiga hal itu, akan sangat sulit bagi seorang mualaf untuk tetap tegar menjalani ujian aqidah.

MCI Provinsi Jawa Timur hadir di tengah-tengah komunitas mualaf berbagai kota di Jawa Timur untuk membersamai perjalanan kehidupan spiritual para mualaf.

Bentuk aktualnya adalah pendampingan masalah, pemberdayaan, dan pemandirian para mualaf secara rutin dan reguler. Di MCI, khususnya MCI Jawa Timur, permasalahan-permasalahan yang dialami mualaf dibahas dan dicarikan jalan keluar. Para pengurus dan pembina MCI selalu terbuka pada para mualaf yang membutuhkan bantuan keluar dari masalahnya.

MCI Cabang Kediri dan Blitar adalah beberapa cabang MCI yang aktif melakukan pendampingan para mualaf. Para mualaf dibina dengan pengajian-pengajian rutin dan kegiatan-kegiatan kerohanian. Selain itu, bantuan-bantuan yang bersifat ekonomi juga selalu diupayakan untuk membantu kehidupan para mualaf.

Bantuan ekonomi terbaru diberikan pada para mualaf di MCI Kediri dan Blitar berbentuk paket sembako pada Sabtu 27/5/2020. Bantuan itu merupakan hasil Kerjasama  Dompet Al-Qur’an Indonesia (DQ), Yayasan Seribu Senyum, kitabisa, dan MCI Provinsi Jawa Timur.

 

Bantuan itu adalah bentuk kepedulian keempat lembaga sosial itu pada permasalahan-permasalahan yang dihadapi mualaf.

Dian Nurlia, Purnama Sari, salah satu mualaf asal Banten yang kini berdomisili di Blitar merasa senang dengan eksistensi dan kehadiran MCI di kota Blitar. Ia merasa mendapatkan saudara-saudara baru yang bisa diajak berbagi dan mendalami agama Islam. Apalagi ia masih awam dalam pemahaman agama Islam.

“Alhamdulilah saya sangat senang dengan adanya MCI cabang Blitar. Disini saya bisa berkumpul, berjamaah, dan mendapatkan banyak saudara. Saya juga merasa diperhatikan karena ada kegiatan-kegiatan positif bagi mualaf. Salah satunya kegiatan sambung tali silaturahmi dan pembagian paket sembako yang diadakan hari ini,” ungkap Dian

Hal Senada juga dirasakan oleh Philip, Mualaf dari Pare kediri. Ia merasa bahagia dengan tersambungnya tali ukhuwah antara MCI Provinsi Jawa Timur, MCI cabang Kediri, DQ, dan Yayasan Seribu Senyum di acara kajian dan pembagian sembako untuk para mualaf. Ia berharap tali silaturahmi yang sudah terbentuk bisa selalu terjaga. “Semoga tali silaturahmi yang dilandaskan agama Islam ini selalu terjaga sepanjang waktu,” kata Philip.

Agung Heru Setiawan selaku Ketua MCI Provinsi Jawa Timur berpesan pada para mualaf agar tetap semangat dan istiqomah dalam berislam. Sebab menurutnya, nikmat iman dan islam adalah nikmat terbesar yang harus dijaga.

“Mudah-mudahan kita bisa selalu bisa bersama dalam nikmat iman dan Islam. Semoga saudara-saudara saya yang mualaf bisa terus istiqomah dalam menjalani kehidupan di atas agama islam dan dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah,” pungkas Agung.

54 Ribu Kasus Corona RI, Pemerintah: Masyarakat Tak Patuh Protokol

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Pemerintah Penanganan virus Corona (COVID-19), Achmad Yurianto melaporkan penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 1.198 orang. Sehingga akumulasi kasus positif Covid-19 di Tanah Air hingga 28 Juni 2020 sebanyak 54.010 orang.

“Mari kita pahami bersama bahwa penambahan kasus ini menggambarkan sekali lagi menggambarkan bahwa disiplin kepatuhan untuk melaksanakan protokol kesehatan masih belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik,” ujarnya di Media Center Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Minggu (28/6/2020).

Artinya, kata Yuri, masih ada orang yang sakit yang terkonfirmasi positif tetapi tidak melaksanakan isolasi diri dengan baik.

 

“Masih ada kontak tracing dari kasus konfirmasi positif yang kita rawat belum bisa diperiksa laboratoriumnya dan kemudian belum bisa melaksanakan isolasi dengan baik. Masih ada kelompok yang rentan untuk tertular karena tidak patuh untuk menjaga jarak, tidak menggunakan masker dan tidak rajin mencuci tangan,” paparnya.

Sumber: sindonews.com