Sistem Pendidikan Luar Biasa dalam Hadapi  Bencana

Sistem Pendidikan Luar Biasa dalam Hadapi  Bencana

Oleh : Kurnia Agustini, S.Pd.

Pemerintah menerapkan kebijakan New Normal Life saat ini, meski grafik COVID belum turun. Alasan yang dikemukakan adalah keterpurukan bidang ekonomi harus segera dihindari, maka kegiatan ekonomi dan pariwisata harus segera dibuka kembali,. Sejumlah daerah dan kota yang dianggap aman, dapat melakukan kegiatan eknomi dan lain sebagainya, secara bertahap, serta tetap mematuhi aturan protokol kesehatan. Kebijakan ini menunjukkan , bahwa pemerintah tidak mampu menjamin kebutuhan ekonomi warga negara, jika kebijakan isolasi yang dipilih. Hal ini menunjukkan pula, bahwa kepentingan ekonomi yang kemudian lebih mendominasi.

Di sisi lain, New Normal atau lebih dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru, memunculkan masalah baru. Kebijakan setengah ‘mentah’ ini akhirnya malah dipahami masyarakat  sebagai hilangnya bahaya COVID dan masyarakat bebas melakukan aktivitas apapun, tanpa takut ataupun khawatir. Timbullah euforia masyarakat, dengan menyerbu sejumlah tempat makan, nongkrong, atau wisata. Baik untuk sekadar melepas kerinduan berkumpul ataupun meluapkan bahagia karena terbebas dari bencana. Lalu protokol kesehatan pun tak diindahkan lagi. Bahkan munculsebuah  pendapat  bahwa generasi Z sulit taat pada aturan protokol kesehatan.

Masalah di dunia pendidikan saat penerapan kebijakan AKB ini pun tak kalah peliknya. Apakah sekolah perlu dibuka kembali dengan pengaturan waktu dan protokol kesehatan,  ataukah belajar di rumah saja?  Dua pilihan ini telah mebuat resah, karena dua-duanya memiliki konsekuensi kesulitan dan akibat tertentu. Walaupun memang pada akhirnya pembukaan sekolah diserahkan pada pertimbangan dan analisis dari daerah masing-masing. Tentunya, pilihan yang diambil seharusnya dengan dasar pertimbangan pendidikan generasi dan keselamatannya tidak terabaikan. Menjadi persoalan sesungguhnyanya adalah, apakah terletak pada tempat belajar, ( baca : rumah atau sekolah) ataukah pada  sistem pendidikan yang dibenahi ?Seperti apa seharunya sistem pendidikan  yang aman dan tangguh menghadapi bencana, dengan berbagai karakteristik kesulitan di berbagai situasi juga menghasilkan genersi cemerlang? Mari kita telaah sistem berikut ini.

Sistem Pendidikan Islam dibangun atas tujuan yang jelas, kuat, dan menyeluruh. Kebudayaan dan corak kehidupan yang dihasilkan unik, berbeda, dank has. Peradaban yang dibangun lebih maju dibanding peradaban yang dihasilkan sistem pendidikan yang lain.

Generasi yang dilahirkan pun adalah generasi cemerlang, disiplin, bertanggungjawab, pekerja keras, jujur.  Generasi yang tangguh dan matang menghadapi berbagai situasi dan tantangan zaman, yang tidak akan gamang menghadapi bencana. Generasi yang memiliki visi misi yang tegas. Mencari kehidupan dunia setingi-tingginya  dengan menomorsatukan akhirat.

Salah satu keunggulan tujuan sistem pendidikan Islam adalah kepribadian Islam yang tangguh. Dengan kepribadian Islam yang kuat, siswa menyadari bahwa menuntut ilmu bukan ditujukan hanya untuk menjadikan siswa pintar, atau mengejar nilai rapot semata. Akan tetapi, sebagai sebuah kewajiban yang berkaitan pahala dan dosa. Dengan demikian, dalam kondisi apapun, belajar adalah sebuah keharusan yang menghasilkan pahala bagi yang melaksanakannya

Keunggulan lain dari sistem pendidikan Islam adalah metode pengajaran yang bertumpu pada pemikiran. Akal atau pemikiran adalah aset manusia. Akal yang menjadikan manusia makhluk mulia sekaligus instrumen utama dalam proses belajar.  Akal adalah alat dan berpikir itu sendiri. Metode pengajran yang mebuat siswa berpikir/berakal.

Pemikiran yang ditransfer dari pengajar ke pelajar, harus membuat pelajar berpikir, bukan hanya membuat mereka belajar. Artinya, pemikiran itu harus dihubungkan dengan fakta, atau lingkungan yang dapat dicerap atau dirasakan siswa. Jadi berpikir tanpa mengaitkan dengan situasi dan masalah yang sedang terjadi, dengan lingkungan sekitar ( Baca : agama, politik sosial, kesehatan, ekonimi,dsb), adalah mustahil. Jika seperti itu, yang terjadi hanya transfer informasi saja. Bukan berpikir yang melahirkan pemahaman.

Ketika mentransfer pemikiran, seorang pengajar harus mendekatkan apa yang termuat dalam pemikiran tersebut dengan makna-makna yang dapat  dengan mudah dipahami oleh anak. Dengan cara bagaimana? Yaitu dengan menghubungkan antara pemikiran dengan fakta yang dekat dan akrab dengan anak. Jadi pemikiran itu tidak mengawang-awang, tetapi benar-benar nyata dan terindera. Siswa selalu dibiasakan berpikir dan paham dalam proses  belajar.

Selain itu, pemikiran yang telah  menjadi pemahaman itu, akan senantiasa mendorong anak untuk peka terhadap masalah apapun di lingkungannya. Termasuk peka terhadap masalah pandemi COVID 19. Anak yang sudah berpikir dengan berpemahaman, akan selalu peduli terhadap setiap permasalahan di sekitarnya.  Jadi, anak dikatakan sudah belajar dan berpikir tentang COVID dari gurunya, adalah anak yang sudah paham apa persoalannya dengan benar dan bagaimana solusinya yang tepat. Kemudian siswa taat dengan solusi yang telah dipahaminya. Kalau solusi pandemi yang dia pahami dan yakini diambil dari Islam, maka akan dilaksanakannya dengan penuh rasa tanggungjawab. Oleh karena pemahaman  secara alami akan membentuk pola pikir dan pola sikapnya. Sehingga tidak ada lagi  generasi yang tidak taat dan tidak bertanggungjawab, karena dia akan bersikap sesuai pemikirannya.

Adapun untuk penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, sistem pendidikan Islam menyerahkan tanggungjawab pendanaannya pada pemerintah, sepenuhnya. Pemerintah wajib, tidak bisa ditawar, untuk memenuhi, mendanai, mencukupi seluruh biaya pendidikan, tanpa kecuali, untuk seluruh warga masyarakat. Sarana dan prasarana yang layak, tepat, bahkan canggih. Sehingga tidak ada lagi persoalan teknis, terkait sarana belajar di sekolah ataupun di rumah. Guru dan murid bisa belajar dimanapun, sekolah ataupun rumah, kapanpun dengan lancar dan nyaman. Apalagi dengan kemajuan teknologi setiap saat, maka pembelajaran dimanapun dan kapanpun akan terasa menyenangngkan.

Syahdan, sebuah sistem pendidikan yang menyeluruh,  dengan metode yang tepat,  disertai motivasi yang tinggi, didukung peralatan memadai dan modern, adalah sistem pendidikan yang andal menghadapi kondisi apapun.                                                                                                                                                  Sungguh, sistem pendidikan seperti inilah yang tangguh menghadapi bencana. Sistem pendidikan luarbiasa yang dinanti dan diminta. Sistem pendidikan yang memberi solusi mengakar, sehingga mampu menuntaskan setiap masalah secara tuntas. Itulah sistem pendidikan Islam yang sempurna memanusiakan manusia.

 

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X