Berita Terkini

Ba’da Shalat Jumat di Hagia Sophia, Erdogan Ziarahi Makam Sultan Al Fatih

INSTANBUL(Jurnalislam.com)- Wajah Presiden Turki Tayyip Erdogan tampak semringah saat bergabung dengan ratusan ribu jamaah salat Jumat di Hagia Sophia yang memenuhi bagian dalam dan luar masjid.


Salat Jumat ini menjadi yang pertama kali digelar di Hagia Sophia dalam sembilan dekade terakhir. Salat ini pun menjadi segel atas ambisinya mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai tempat ibadah Muslim.

Hagia Sophia adalah katedral terbesar di dunia selama 900 tahun hingga dikuasai oleh Sultan Ottoman Muhammad Al Fatih pada 1453. Sang sultan yang dijuluki sebagai Mehmet Sang Penakhluk di dunia barat itu mengubah bangunan itu menjadi masjid hingga 500 tahun kemudian.

Namun pendiri Turki sekuler Mustafa Kemal Ataturk menjadikan masjid itu sebagai museum pada 1934. Kini Erdogan mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai pemimpin yang mengembalikan fungsi masjid di Hagia Sophia.


Setelah meninggalkan Hagia Sophia, Erdogan langsung menuju masjid Fatih yang dinamakan dari nama Sultan Muhammad yang merebut kota Istanbul untuk kesultanan Ottoman.

“Hagia Sophia akan terus melayani semua pemeluk keyakinan sebagai masjid dan akan tetap menjadi tempat warisan budaya untuk semua manusia,” papar Erdogan di makam Sultan Muhammad Al Fatih.


“Kami katakan ‘mari’ kunjungi makam Sultan Muhammad Sang Penakhluk, pemilik sebenarnya,” pungkas Erdogan.

Sumber: sindonews.com

Masyarakat Muslim Antusias Shalat Jum’at di Hagia Sophia

INSTANBUL(Jurnalislam.com) – Difungsikannya kembali Hagia Sophia di Istanbul, Turki, sebagai masjid setelah 86 tahun menjadi museum mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat setempat. Ini terlihat dari antusiasme masyarakat yang hadir untuk melaksanakan salat Jumat perdana kemarin.

Saking antusiasnya, sejak Kamis (23/7/2020) malam banyak masyarakat berdatangan ke kompleks bangunan bersejarah yang dibangun di era Bizantium pada 537 Masehi itu. Mereka pun ramai-ramai menggelar sajadah.

Lansir Sindonews.com, Savran Billahi yang berada di Istanbul, melaporkan, musim panas yang saat ini sedang berlangsung di Turki turut mendukung masyarakat sekitar keluar rumah dan beraktivitas di sekitar Kompleks Hagia Sophia.

Padatnya jamaah yang memadati kompleks yang dibangun di era Kaisar Bizantium, Justinian I, itu memang sudah diprediksi sebelumnya oleh Pemerintah Turki. Karena itu, otoritas setempat telah mengondisikan wilayah sekitar Hagia Sophia.

Sumber: sindonews.com

Antusias, Lautan Manusia Penuhi Masjid Hagia Sophia

ANKARA(Jurnalislam.com) — Ibadah sholat Jumat digelar di Masjid Hagia Sophia pada Jumat (24/7) waktu Turki. Umat Muslim di Turki tampak memadati bagian dalam dan area sekitar masjid, berdasarkan tayangan yang disiarkan secara langsung oleh akun Youtube Eman Channel.

Kedatangan umat Muslim ke Hagia Sophia jelang pelaksanaaan sholat Jumat ini seakan tak ada habisnya. Ruas-ruas jalan yang berada di sekitar Hagia Sophia pun turut dibanjiri masyarakat Muslim hingga seperti menjadi lautan manusia. Mereka berduyun-duyun mendatangi bangunan bersejarah yang dibangun selama lima tahun dari 532 hingga 537 Masehi itu.

Di bagian dalam masjid, terlihat shaf-shaf diatur dengan memberi jarak sekitar satu meter pada setiap baris shaf sebagai bentuk pencegahan penularan virus Covid-19. Sebagian besar jamaah sholat Jumat juga menggunakan masker untuk melindungi dirinya dari penularan Covid-19. Menjelang pelaksanaan sholat Jumat, juga dikumandangkan bacaan-bacaan ayat suci Alquran oleh beberapa qari.

Pada Kamis (23/7), Erdogan melakukan kunjungan mendadak, memeriksa persiapan akhir pada struktur bangunan Hagia Sophia. Termasuk juga tanda di pintu masuk yang bertuliskan, “Masjid Agung Hagia Sophia”.

Di hari yang sama, Kamis (23/7), Turki juga telah menunjuk tiga imam untuk Hagia Sophia. Salah satunya seorang profesor studi agama. Mengingat, Turki pada Jumat 24 Juli ini akan menggelar sholat Jumat yang tentunya secara berjamaah. Sholat Jumat ini menjadi yang pertama selama 86 tahun sejak diubah menjadi museum.

Kepala otoritas agama Turki, Ali Erbas, menyampaikan, pengangkatan tiga imam yang akan memimpin sholat di masjid yang diubah, yaitu Mehmet Boynukalin, seorang profesor hukum Islam di Universitas Marmara Istanbul, Ferruh Mustuer, dan Bunjamin Topcuoglu. Lima orang menjadi muazin di Hagia Sophia. Dua di antaranya ditarik dari Masjid Biru Istanbul.

Otoritas setempat telah menetapkan area terpisah di luar Hagia Sophia untuk pria dan wanita yang ingin bergabung dengan sholat Jumat perdana. Beberapa jalan menuju gedung terhalang. Sebanyak 17 ribu personel keamanan akan bertugas.

Hagia Sophia, dulunya adalah katedral Bizantium, lalu diubah menjadi masjid pada 1453 setelah penaklukan Ottoman di Istanbul, kemudian dialihkan menjadi museum pada 1934 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.

Sumber: republika.co.id

 

Jamaah Membludak, Masjid Hagia Sophia Dibuka Lebih Awal

TURKI(Jurnalislam.com)- Masjid Hagia Sophia direncanakan buka pada pukul 10.00 TRT (waktu Tukri) atau sekitar pukul 14.00 WIB. Namun karena jamaah membeludak, pihak pengaman membukanya sejak pukul 09.00 TRT.

ShalatJumat perdana di Hagia Sophia akan dilaksanakan terbuka untuk laki-laki dan perempuan.

Lansir sindonews yang berada di lokasi melihat masyarakat telah menunggu sejak subuh untuk masuk Hagia Sophia. Bahkan mereka menginap di jalan dan menumpuk di pintu masuk lapangan Hagia Sophia yang dibatasi ketat pagar pembatas.

Mereka mengucapkan takbir dan shalawat berjamaah. Untuk mencegah kerumunan lebih besar, pihak penyenggara membuka pintu lapangan Hagia Sophia lebih awal 1 jam dari rencana.

Berdasarkan pantauan langsung, lapangan Hagia Sophia sudah penuh oleh jamaah, sehingga area lain dibuka. Para jamaah duduk di lapangan dengan physical distancing sesuai protokol yang berlaku. Sesekali mereka berdiri mengumandangkan takbir dan berteriak, “dengan zikir, Hagia Sophia kami dibuka”.

Sumber: sindonews.com

Kabar Gembira, Tingkat Kesembuhan Covid-19 Meningkat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19Prof Wiku Adisasmito menyampaikan persentase kesembuhan pasien positif covid-19 secara nasional semakin meningkat.

Berdasarkan analisis dari data yang dikumpulkan Satuan Tugas, tingkat persentase kesembuhan pada Maret-Juli meningkat dari rata-rata 3,84 persen menjadi 9,79 persen pada April.

“Mei meningkat 21,97 persen, Juni 37,19 persen, dan Juli ini mencapai rata-rata saat ini 47,08 persen di mana pada tanggal 23 Juli atau kemarin persentase kesembuhan 55,7 persen,” jelas Wiku saat konferensi pers, Jumat (24/7).

Ia mendetailkan, kasus sembuh pada 23 Juli tercatat sebanyak 1.909 orang. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan jumlah kasus sembuh pada 19 Juli yang mencapai 2.133 orang. Kendati demikian, lanjut Wiku, jika dilihat dari grafik maka akan terlihat sejak 10 Juli angka kesembuhan semakin meningkat.

“Tapi kalau kita lihat dari grafik ini terlihat mulai dari Juli tanggal 10 sebesar 878 orang dan terus meningkat jumlah sembuhnya menjadi 1.909. Ini adalah kabar baik tetapi kita harus tetap mendorong kesembuhan ini menjadi lebih baik lagi. Dan ini terjadi dalam 13 hari terakhir,” kata dia.

Meskipun tingkat kesembuhan pasien positif kasus covid semakin meningkat,  ia meminta masyarakat agar tetap waspada. Masyarakat juga tetap harus disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

“Dan ternyata di beberapa tempat di Indonesia masih ada masyarakat yang belum patuh terhadap protokol kesehatan. Mari kita saling ingatkan untuk pakai masker, jaga jarak, cuci tangan,” imbuh dia.

Sumber: republika.co.id

 

Pemerintah Klaim Tak Berniat Tutup-tutupi Data Terbaru Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, pemerintah mendorong adanya transparansi data kasus Covid-19 agar publik dapat mengakses data tersebut dengan benar.

Ia juga menegaskan, pemerintah tak memiliki niat untuk menutup-nutupi data perkembangan kasus covid-19 setelah Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 tak lagi mengumumkan secara langsung perkembangan data terkini.

“Tidak ada maksud untuk menutup-nutupi data. Mari kita dorong transparansi publik dan silakan masyarakat ikut mengontrol apabila ada kondisi yang tidak sesuai dengan sebenarnya,” ujar Wiku saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (24/7).

Wiku menjelaskan, meskipun data harian Covid-19 tak lagi diumumkan secara langsung melalui konferensi pers, masyarakat dapat mengakses perkembangan data harian melalui portal yang disediakan yakni www.covid19.go.id.

“Di situ kami menyampaikan perkembangan kasus yang bisa diakses oleh masyarakat, oleh media tentang keadaan terkininya,” tambah dia.

Perkembangan data terkini akan rutin diinput atau diumumkan setiap hari pukul 16:00 WIB. Menurutnya, hal ini juga tergantung pada pengiriman data dari Kementerian Kesehatan yang melakukan verifikasi seluruh data nasional yang dilaporkan.

Wiku berharap, nantinya data yang ditampilkan melalui portal tersebut dapat diakses oleh masyarakat secara realtime. Ia mengaku saat ini pihaknya masih berupaya agar data kasus Covid-19 dapat terinput dan diakses secara realtime oleh masyarakat.

“Kami sedang berusaha keras agar betul-betul data ini bisa diakses dengan realtime. Dan datanya tidak berbeda antara data nasional dengan data di daerah,” ucap Wiku.

Sumber: republika.co.id

4 Juta Kasus Corona AS, 43 Kasus Baru Per Menit

WASHINGTON(Jurnalislam.com) – Pandemi virus corona tipe baru atau Covid-19 di Amerika Serikat (AS) semakin meningkat dari hari ke hari. Hingga Kamis (23/7) waktu setempat, AS mencatat rekor adanya 43 kasus baru infeksi Covid-19 dalam setiap menit.

Berdasarkan penghitungan Reuters, kasus infeksi positif Covid-19 di seluruh negara bagian AS menembus angka 4 juta kasus. Sekurangnya 2.600 kasus baru dilaporkan setiap jam.

Menurut Reuters, AS hanya membutuhkan 98 hari setelah kasus Covid-19 pertamanya terdeteksi pada 21 Januari untuk mencapai satu juta kasus. Hanya butuh 184 hari bagi AS untuk mencapai ambang empat juta kasus. Sebanyak 1 juta kasus terakhir telah ditambahkan selama 16 hari pada tingkat 43 kasus per menit.

Dilansir laman Sputnik, AS juga memiliki tingkat infeksi per kapita tertinggi kedua, setelah Cile, dengan 120 infeksi per 10 ribu orang. Selain itu, AS menempati urutan keenam secara global dalam hal kematian per kapita dengan 4,4 kematian per 10 ribu orang. Angka kematian per kapita AS hanya dilampaui oleh orang-orang dari Inggris, Spanyol, Italia, Cile, dan Prancis.

Data statistik worldometers menunjukkan bahwa jumlah kasus Covid-19 yang tercatat sejauh ini di AS adalah 4.129.405. Sementara 146.665 orang telah meninggal di negara itu karena penyakit tersebut.

Data terbaru oleh worldometers juga menunjukkan bahwa lebih dari 15 juta kasus virus telah dikonfirmasi di seluruh dunia. Sedangkan lebih dari 632 ribu kematian telah terjadi di 213 wilayah dan negara di seluruh dunia.

Dalam jumpa pers pada Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump mengubah retorikanya tentang ancaman Covid-19. Dia mendesak orang Amerika untuk mengenakan masker setelah menolak melakukannya sendiri selama berbulan-bulan.

Selain itu, ia mengakui bahwa pandemi akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Pada Senin, presiden juga mencicitkan unggahan foto dirinya mengenakan masker. “Memakai satu masker wajah sebagai (tindakan) “patriotik” ketika Anda tidak bisa menjaga jarak secara sosial,” cicitnya.

sumber: republika.co.id

 

Presiden Erdogan Akan Shalat Jumat Perdana di Hagia Sophia

ANKARA(Jurnalislam.com) — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan bergabung dengan ratusan jamaah sholat Jumat di dalam Hagia Sophia pada Jumat 24 Juli ini. Hal ini sebagaimana laporan yang disampaikan dalam Hindustan Times, Jumat (24/7).

Pada Kamis kemarin, Erdogan bergabung dengan rombongan untuk melakukan kunjungan mendadak, memeriksa persiapan akhir pada struktur bangunan Hagia Sophia. Termasuk juga tanda di pintu masuk yang bertuliskan, “Masjid Agung Hagia Sophia”.

Di hari yang sama, Kamis (23/7), Turki juga telah menunjuk tiga imam untuk Hagia Sophia. Salah satunya seorang profesor studi agama. Mengingat, Turki pada Jumat 24 Juli ini akan menggelar sholat Jumat yang tentunya secara berjamaah. Sholat Jumat ini menjadi yang pertama selama 86 tahun sejak diubah menjadi museum.

Erdogan mengeluarkan dekrit untuk memulihkan bangunan ikon abad keenam sebagai masjid pada bulan ini setelah pengadilan tinggi Turki memutuskan bahwa Hagia Sophia telah secara ilegal dijadikan museum lebih dari delapan dekade lalu. Langkah itu disambut dengan cemas di Yunani dan Amerika Serikat dan para pemimpin gereja Kristen.

Kepala otoritas agama Turki, Ali Erbas, menyampaikan, pengangkatan tiga imam yang akan memimpin sholat di masjid yang diubah, yaitu Mehmet Boynukalin, seorang profesor hukum Islam di Universitas Marmara Istanbul, Ferruh Mustuer, dan Bunjamin Topcuoglu. Erbas juga menyebutkan lima orang yang menjadi muazin di Hagia Sophia. Dua di antaranya ditarik dari Masjid Biru Istanbul.

Pihak berwenang telah menetapkan area terpisah di luar Hagia Sophia untuk pria dan wanita yang ingin bergabung dengan sholat Jumat perdana. Beberapa jalan menuju gedung terhalang. Sebanyak 17.000 personel keamanan akan bertugas.

Hagia Sophia, dulunya adalah katedral Bizantium, lalu diubah menjadi masjid pada 1453 setelah penaklukan Ottoman di Istanbul, kemudian dialihkan menjadi museum pada 1934 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.

Sumber: republika.co.id

 

Hari Bersejarah, Shalat Jumat Pertama di Hagia Sophia Setelah 86 Tahun

TURKI(Jurnalislam.com)–Hari ini, Jumat (24/7/2020) menjadi momen bersejarah bagi umat Islam di Turki. Ya, kaum muslimin di sana akan menunaikan Sholat Jumat perdana di Hagia Sophia, sebuah bangunan bersejarah yang telah kembali beralihfungsi menjadi masjid setelah sebelumnya berfungsi sebagai museum di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan lah tokoh yang memelopori perubahan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Ia sebelumnya mengatakan mosaik-mosaik Kristen tersebut akan ditutup tirai atau penerangan selama pelaksanaan Sholat Jumat.

Dalam beberapa hari setelah Pengadilan Istanbul mencabut status museum Hagia Sophia –membuka jalan untuk berubah menjadi masjid–.

Melansir dari laman VOA Indonesia, Pemerintah Turki telah mengundang sejumlah pemimpin dari berbagai negara untuk hadir dalam Sholat Jumat perdana di Hagia Sophia besok. Diperkirakan 1.000 hingga 1.500 orang hadir dalam Sholat Jumat hari ini.

 

Kepala Direktorat Agama Turki, Ali Erba akan didapuk sebagai imam Sholat Jumat perdana di Hagia Sophia. Sholat Jumat akan digelar dengan protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan virus corona (Covid-19). Para jamaah diwajibkan memakai masker, hand sanitizer, serta sajadah akan dibagikan kepada seluruh jamaah saat tiba untuk Sholat Jumat di Hagia Sophia.

Sumber: okezone.com

Dompet Dhuafa-Pemkab Magetan, Gelar Rapid Test Gratis bagi Kaum Marginal

MAGETAN (Jurnalislam.com)–Pemeriksaan Covid Test Mobile (CTM) secara gratis dilakukan (Rabu, 22/07) berlokasi di Stadion Yosonegoro Magetan.

Sinergi Dompet Dhuafa bersama Pemerintah Kabupaten Magetan merupakan bagian aksi bersama rapid test untuk kalangan marjinal maupun kelompok rentan.

Selain itu kegiatan ini sebagai pencegahan untuk memutus penyebaran Covid-19 di wilayah Jawa Timur maupun Magetan khususnya.

Suprawoto, selaku Bupati Magetan saat meninjau langsung kegiatan CTM di Stadion Yosonegoro, mengatakan bahwa peluncuran program Covid Test Mobile (CTM) di Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Magetan sebagai program yang sangat bermanfaat.

Terlihat masyarakat antusias dalam TCM dalam rangka keperluan untuk sekolah maupun bepergian, sehingga dengan adanya kegiatan ini memudahkan bagi masyarakat Magetan untuk menjalankan rutinitas.

“Terima kasih kepada Dompet Dhuafa yang telah mempercayakan kepada kami di Magetan,” kata dia.

“Dompet Dhuafa bersama mitra-relawan, donatur dan cabang kantor di seluruh Indonesia, terdorong untuk membantu masyarakat terdampak langsung maupun tidak langsung akibat wabah tersebut. Dompet Dhuafa dalam fase awal penanggulangan pandemi Corona membuka Crisis Center Cegah dan Tangkal (Cekal) Corona. Kemudian memproduksi Disinfection Chamber (bilik sterilisasi) yang didistribusikan ke 1.000 titik fasilitas umum yang sering diakses masyarakat. Tim Gerai Sehat atau Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa juga membagi-bagikan secara gratis APD dan hygiene kit, logistik pangan juga menjadi fokus pelayanan Dompet Dhuafa. Di garda terakhir, turut menyediakan mobil ambulance maupun layanan barzah Dompet Dhuafa untuk mengantarkan pasien terduga Corona menuju rumah sakit rujukan pemerintah dan juga penanganan korban meninggal di seluruh Indonesia,” ujar Ahmad Shonhaji, selaku Direktur Dakwah, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Dompet Dhuafa.