Berita Terkini

Polemik Logo Salib dan Ketidakmampuan Pemerintah Atasi Krisis

Oleh : Jumi Yanti Sutisna*

Misalkan, dikeluarga Anda sedang tertimpa musibah, salah satu saudara kandung Anda terkena penyakit serius dan diharuskan mendapat perawatan khusus di rumah sakit, tentu butuh biaya yang tidak sedikit, bukan hanya itu, dibutuhkan juga waktu keluarga untuk bolak-balik rumah sakit mengurus dan memberi support bagi yang sakit.

Namun rupanya dalam situasi kesedihan keluarga yang sedang dialami, keluarga Anda mendapat kabar ayah Anda selingkuh, bermain perempuan ditengah musibah yang sedang melanda. Belum lagi selesai tuntas masalah perselingkuhan. Keluarga Anda mendapat kabar lagi, ayah Anda tertangkap polisi karena didapati bermain judi.

Tentu rasa geram Anda pada sang ayah bukan? Ya, saya pun tak jauh berbeda. Kita akan menilai sang ayah tidak berempati pada musibah keluarga yang terjadi, kita pun akan menilai sang ayah telah kehilangan akal sehat sehingga melakukan tindakan bodoh yang malah menambah masalah dan beban keluarga.

Tak jauh berbeda, ini pun yang sedang terjadi pada negara kita Indonesia. Setengah tahun sudah negara kita sedang dilanda pandemi, berbagai kesulitan akibat pandemi pun dirasakan oleh masyarakat Indonesia, dari dikuranginya waktu operasi perusahaan bahkan hingga berhenti beroperasi, beberapa usaha ditutup demi mematuhi Pembatasan Sosial Berskala Besar mengakibatkan pengangguran besar-besaran dan hilanglah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukan saja berdampak pada pekerja, pengusaha kecil dan pedagang keliling pun ikut terdampak pula. Di daerah tempat tinggal saya yang terbilang zona hijau, saat musim PSBB di beberapa kota besar penghasilan pedagang keliling merosot hingga 40-60 %, data ini saya dapati saat wawancara mereka sambil membagikan sembako dari berbagai donatur.

Usaha kecil pun yang saya jalani dan usaha-usaha kecil milik teman-teman di daerah saya selama 3 bulan pandemi bulan Maret – Mei merosot hingga 40-60 %, pasca iedul Fitri mulai membaik meski belum normal 20-30%. Saya membayangkan bagaimana kesulitannya masyarakat di kota-kota yang diberlakukan PSBB, tentu lebih sulit dari yang kami alami di daerah zona hijau.

Dari kondisi seperti ini, tak bisa ditepis lagi kebutuhan sehari-hari tak bisa dipenuhi. Dilingkungan tempat tinggal saya, Ibu-ibu komplek yang suaminya di PHK terdampak pandemi mereka bergerilya mencari kerja demi mendapatkan penghasilan untuk keluarga.

Ibu-ibu komplek itu rela menjadi pembantu rumah tangga ditetangganya sendiri yang perekonomiannya masih baik-baik saja.

Berita kelaparan akibat pandemi dinegeri ini pun tidak sedikit. Keluarga Ujang Soleh di Bandung yang makan nasi aking akibat sulit ekonomi kala pandemi.

Keluarga Nurhidayat di Sulawesi Barat, ditemukan warga lemas kelaparan di tengah kebun. Keluarga Yuli di Serang Banten, yang hanya minum air galon karena tak mampu membeli bahan makanan saat pandemi. Nenek Bidur di Serang Banten yang juga kelaparan dan tentu masih banyak lagi dari yang terekspose media hingga yang tidak terekspose.

Musibah ini memang terjadi global, hampir di seluruh negara terdampak pandemi mengalami kesulitan. Meski ada beberapa negara yang mampu mengatasi permasalahan ini dengan baik karena kematangan berpikir dari penanggung jawab negara.

Dalam kondisi sulit seperti ini, alangkah bijaknya jika penanggung jawab negara fokus pada bagaimana menyelesaikan masalah atau paling tidak berfikir fokus untuk meringankan masalah.

Sebuah tindakan bijak juga, jika penanggung jawab negara mau belajar dari negara-negara yang berhasil menanggulangi masalah yang sama. Jika alasannya adalah kultur dan masyarakat yang berbeda, tentu ada point yang bisa diambil meski kultur dan masyarakat yang berbeda.

Bukankah sebuah tindakan kekanak-kanakkan atau bisa disebut sebuah kebodohan melakukan tindakan yang tidak penting yang malahan memicu kericuhan ditengah musibah yang sedang melanda.

Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) adalah bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, bahkan kandungannya sudah jelas terlarang secara tertulis pada dasar hukum sebelumnya yang berlaku di Indonesia.

Namun pemerintah seolah tidak berfikir panjang atau kehilangan akal sehat, memunculkan RUU HIP ditengah pandemi dimana masyarakat butuh tindakan pemerintah yang meringankan kesulitan mereka, bukan menambah masalah.

Belum selesai lagi RUU HIP, kini muncul kembali tindakan yang sangat tidak penting yang malahan memicu keresahan mayoritas masyarakat Indonesia.

Logo resmi HUT RI ke-75 yang terdapat simbol keagamaan minoritas yaitu salib. Apa tujuan dari semua ini? Tidak adakah tindakan yang lebih penting yang bermanfaat untuk menyelesaikan masalah besar yang tengah terjadi? Bukan tindakan kurang penting yang malah menambah masalah baru.

Memanglah betul apa yang dikabarkan Rasulullah :

“Jika sebuah urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari)

*Penulis adalah jurnalis Jurnalislam.com

Kondisi Serius, IDI Minta Pemerintah Tambah RS Rujukan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai pelayanan rumah sakit (RS), terutama di Jakarta, kondisinya serius lantaran terus bertambahnya pasien positif virus corona (Covid-19). IDI pun menyarankan pemerintah menambah jumlah RS Rujukan pasien covid-19.

“Saya masih merasakan bahwa kondisi seminggu ini berat sekali [untuk rumah sakit] karena kenaikan kasus Covid-19, antisipasinya RS rujukan ditambah, dari 59 jadi 100,” kata Ketua Satuan Tugas Kesiapsiagaan Covid-19 IDI Zubairi Djoerban melalui sambungan telepon, Jumat (14/8).

Ia menekankan rumah sakit rujukan saat ini hanya merawat pasien dengan gejala sedang-berat, atau dengan gejala berat. Dengan dua kriteria itu pun, menurut Zubairi, rumah sakit sudah kewalahan.

“Bagaimana kalau ke depannya orang tanpa gejala tapi positif Covid-19 juga harus mendapatkan perawatan? sekarang untuk gejala berat saja sudah penuh, makanya saya sebut ini kondisinya serius,” ucap dia.

Gubernur DKI Anies Baswedan sebelumnya telah mengakui terjadi peningkatan keterisian tempat tidur atau bed occupancy rumah sakit Jakarta. Dia bilang, saat ini bed occupancy RS di Jakarta sudah mencapai 65 persen.

“Selama 2 pekan terakhir terjadi tren peningkatan ruang isolasi dan ICU di Jakarta. Dari 4.456 tempat tidur isolasi, 65% sudah terisi saat ini,” kata Anies dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8).

Selain itu, menurut Anies, kapasitas ruang ICU juga meningkat. Dari 483 tempat tidur di ICU, saat ini 67 persen sudah terisi dengan pasien Covid.

Salah satu rumah sakit yang kapasitasnya telah penuh akibat Covid adalah RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Wakil Kepala RSPAD Gatot Subroto, Brigadir Jenderal TNI Budi Sulistya mengatakan ruang ICU untuk perawatan pasien Covid-19 di RSPAD sedang penuh. Diharapkan pasien dengan gejala ringan dapat isolasi mandiri, sementara untuk gejala berat dapat mencari RS rujukan lain.

Sumber: cnnindonesia.com

 

 

Indonesia Catat 76 Ribu Suspek Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada 76.327 orang yang masuk dalam kategori suspek virus corona hingga Sabtu (15/8/2020).

Data tersebut bersumber dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang diunggah oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Jumlah kasus suspek Covid-19 sampai kemarin, Jumat 14 Agustus 2020 adalah sebanyak 75.527. Artinya, dalam satu hari telah terjadi penambahan kasus suspek sebanyak 800 orang.

Sementara itu, pemerintah mencatat ada penambahan kasus konfirmasi positif corona sebanyak 2.345 orang per hari ini. Dengan demikian akumulasi kasus positif mencapai 137.468.

Satgas Covid-19 juga melaporkan ada penambahan kesembuhan sebanyak 1.703 orang hari ini. Dengan demikian akumulasi kesembuhan mencapai 91.321. Adapun jumlah kematian bertambah 50 orang hari ini sehingga totalnya 6.071 orang.

Sumber: okezone.com

Ujian Kepemimpinan Hadapi Krisis dan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan jiwa kepemimpinan tiap kepala daerah diuji dalam menghadapi pandemi corona. Pasalnya, wabah ini telah menyebabkan krisis ekonomi di samping krisis kesehatan.

Hal tersebut dikatakan Tito saat membuka acara Launching Gerakan Sejuta Masker dan Pengarahan Kepada Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Kuningan, sebagaimana keterangan tertulis Pusat Penerangan (Puspen) Kemendagri.

“Tidak gampang, ini betul-betul leadership tiap-tiap kepala daerah diuji di masa krisis seperti ini, kapan harus mengegas ekonominya, keuangannya, kapan harus mengeremnya, harus betul,” ujarnya, Sabtu (15/8/2020).

“Maka nanti sangat wajar kalau ada istilah nge-gas ekonomi eh terjadi peningkatan ngerem dulu. Remnya sudah agak pakem landai ekonominya dikencangkan lagi, begitulah kira-kira nge-gas dan remnya. Tapi tidak semua pengemudi memiliki rumus yang sama,” tambah dia.

Tito menuturkan, kerja keras dalam menanggulangi virus corona harus tetap berjalan namun sektor perekonomian jangan sampai mati. Dalam bahasa Presiden Joko Widodo, kata dia, istilahnya ialah gas dan rem harus seimbang.

“Dalam bahasa Bapak Presiden Pak Jokowi itu istilahnya dengan gas dan rem. Gas itu maksudnya adalah ekonomi. Tapi sebaliknya juga hati-hati dengan rem. Keika ekonomi dipulihkan, digas, harus tetap pada protokol- protokol untuk pencegahan Covid agar terjadi rem tingkat kesehatan tidak memburuk. Itulah yang disebut dengan nge-gas ekonomi, ngerem penularan,” jelasnya.

Acara launching gerakan sejuta masker yang digelar di Pendopo Kabupaten Kuningan ini dihadiri langsung Bupati Kuningan, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan dan Forkopimda Kabupaten Kuningan. Ikut hadir juga Bupati Cirebon beserta Forkopimda Kabupaten Cirebon, Bupati Majalengka dan jajaran Forkopimdanya. Kepala daerah yang juga hadir di acara itu adalah Walikota Cirebon dan jajaran Forkopimda Kota Cirebon.

Hadir pula para tokoh agama, tokoh masyarakat, Camat se-Kabupaten Kuningan. Sementara dari Kementerian Dalam Negeri, pejabat yang hadir antara lain, Dirjen Otda Akmal Malik, Dirjen Politik dan PUM Bahtiar, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Syafrizal dan Dirjen Bina Keuangan Daerah Moch. Ardian Noervianto. Dalam kesempatan itu juga, nampak hadir ahli virus Moh. Indro Cahyono.

Sumber: okezone.com

 

Klaster Covid Perkantoran Karena Karyawan Abai Protokol

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Dokter spesialis okupasi dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), dr Nuri Purwito Adi mengatakan, penularan Covid-19 di lingkungan kantor terjadi karena para pegawai abai terhadap protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Padahal, pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 328 tahun 2020 sebagai protokol kesehatan di tempat-tempat umum, termasuk di tempat kerja.

“Abai terhadap protokol kesehatan itu dampaknya bisa terjadi penularan,” kata Nuri saat diskusi daring yang disiarkan melalui Youtube BNPB yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Pada saat ini, menurut Nuri, ada beberapa sektor bisnis yang memang harus bergerak di tengah situasi pandemi. Oleh karena itu, bagi perusahaan perlu memerhatikan apa saja risiko penularan yang bisa terjadi pada karyawan.

Nuri mengingatkan agar perusahaan memerhatikan kedisiplinan para pekerja dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker selama bekerja. Perusahaan juga harus mengatur jarak fisik pencegahan penularan virus corona antarkaryawannya di dalam ruangan kerja.

“Mungkin ada beberapa aspek lagi, seperti sering cuci tangan, itu tidak hanya perlu untuk disosialisasikan, tetapi juga diajarkan cara yang betul seperti apa, sarana disediakan,” kata Nuri.

Sumber: republika.co.id

Disiplin Jadi Kunci Putus Mata Rantai Penularan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo mengatakan perila disiplin penerapan protokol kesehatan masih menjadi kunci memutus mata rantai penyebaran Covid-19 karena hingga kini vaksin penyembuhan virus tersebut belum ditemukan.

“Hanya kalau kita bisa melakukan perubahan perilaku dengan disiplin, disiplin dan disiplin serta patuh protokol kesehatan maka kita akan mampu memutus mata rantai penularan,” kata dia saat menjadi pemateri pada diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Sabtu (15/8).

Perilaku disiplin dan menerapkan protokol kesehatan menjadi alat atau kekuatan utama yang dimiliki masyarakat Indonesia karena sampai saat ini obat Covid-19 belum ada. “Vaksin pun baru bisa efektif beberapa bulan ke depan,” katanya.

Menjelang vaksin benar-benar ditemukan dan dapat diproduksi massal, maka akan ada sejumlah kemungkinan yang masih bisa terjadi. Ia menjelaskan perubahan perilaku yang diminta untuk diterapkan masyarakat tadi juga merujuk pada kesadaran kolektif dan peran dari seluruh komponen bangsa.

“Ada 63 persen keberhasilan kita dalam menangani Covid-19 adalah di bidang sosialisasi,” ujar dia.

Oleh karena itu, peran komunikasi publik adalah hal yang mendasar dan memiliki peranan besar dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Mengacu pada pentingnya komunikasi publik tersebut, Doni mengingatkan sebuah kalimat “kenali dirimu, kenali musuhmu. Seribu kali kau akan menang, seribu kali kau berperang, seribu kali kau akan menang”.

Sumber: republika.co.id

 

Setelah Dirobohkan, Masjid di Xinjiang Dijadikan Toilet

URUMAI (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat setempat di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR) barat laut China, menyebut di bekas bangunan masjid yang telah dihancurkan di kota Atush (di China, Atushi), telah dibangun sebuah toilet umum.

Oleh beberapa pengamat, hal ini dinilai sebagai bagian dari kampanye dengan tujuan menghancurkan semangat Muslim Uighur yang ada di sana.

Dilansir di Radio Free Asia, Sabtu (15/8), Laporan pembangunan kamar kecil di bekas situs Masjid Tokul, Desa Suntagh Atush ini, datang beberapa hari setelah Layanan Uyghur RFA mengetahui pihak berwenang merobohkan dua dari tiga masjid di sana.

Tindakan ini dilakukan guna melaksanakan arahan menghancurkan tempat ibadah Muslim secara massal yang diluncurkan pada akhir 2016, dikenal sebagai “Perbaikan Masjid”.

Upaya ini merupakan bagian dari serangkaian kebijakan garis keras di bawah pemimpin tertinggi Xi Jinping. Sebelumnya, mereka melakukan penahanan massal sebanyak 1,8 juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan luas kamp interniran XUAR, yang dimulai pada April 2017.

RFA juga baru-baru ini melakukan wawancara telepon dengan Ketua Komite Lingkungan Uyghur dari desa Suntagh di Atush. Kota setingkat kabupaten ini berpenduduk sekitar 270 ribu orang di bawah administrasi prefektur Kashgar, wilayah penghasil kapas dan anggur di barat daya XUAR.

Dalam wawancara tersebut, ketua komite meminta agar namanya dibuat anonim dengan alasan keamanan. Ia juga menyebut toilet telah dibangun sebagai ganti bangunan lama oleh rekan-rekan Han (China). “Ini toilet umum … mereka belum membukanya, tapi sudah dibangun,” katanya.

Saat ditanya apakah memang ada kebutuhan WC umum di masyarakat sekitar, ia menyebut warga punya WC di rumah masing-masing. Sehingga tidak ada masalah terkait keberadaan toilet.

Ketua komite juga mengatakan, Suntagh terletak sekitar tiga kilometer di luar pusat Atush. Area itu hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali wisatawan yang sekiranya memerlukan akses ke kamar kecil.

Dia mengakui, pembangunan toilet tersebut kemungkinan besar untuk menutupi reruntuhan masjid Tokul yang hancur. Selain itu untuk keperluan pemeriksaan kelompok atau kader yang berkunjung ke daerah tersebut.

Kepala desa mengatakan tidak jelas berapa banyak orang yang bisa ditampung oleh kamar kecil itu. “Itu masih tutup, jadi aku bahkan belum masuk,” katanya.

Warga Suntagh lainnya, yang juga menolak disebutkan namanya, mengatakan salah satu dari dua masjid yang baru-baru ini diketahui dirobohkan sekitar musim gugur 2019, Masjid Azna, telah diganti dengan “toko serba ada”. Toko ini menjual alkohol dan rokok yang penggunaannya tidak disukai dalam Islam.

Sebelumnya, seorang petugas keamanan publik di Suntagh membenarkan jika Masjid Azna dan Masjid Bastaggam telah dihancurkan. Sementara masjid yang berdiri sendiri, Masjid Teres, adalah yang terkecil dan dalam kondisi paling buruk dari ketiganya.

Dinasti Tang Tiongkok pertama kali mengenal Islam pada abad ketujuh. Masa ini lebih dari 1.000 tahun sebelum Dinasti Qing menetap di tempat yang sekarang disebut Xinjiang.

Sumber: republika.co.id

 

 

Presiden Jokowi Klaim Serius Berantas Korupsi, ICW Kaget: Tidak Terbukti!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Indonesia Corruption Watch (ICW) mengaku kaget mendengar  Presiden Joko Widodo saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD Tahun 2020 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (14/8).

Jokowi menyebut pemerintah tidak pernah main-main dengan pemberantasan korupsi. Peneliti ICW Kurnia menilai, sejak Jokowi berkuasa, tidak pernah terbukti berpihak pada sektor pemberantasan korupsi.

“ICW cukup tercengang dan kaget mendengar pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di DPR yang mengatakan bahwa ‘Pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi’. Sebab, sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak pernah terbukti berpihak pada sektor pemberantasan korupsi,” ujar Kurnia saat dihubungi, Jumat (14/8).

Bahkan, sambung Kurnia, pemerintahlah yang bertanggung jawab penuh atas situasi suram dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari memilih pimpinan KPK yang bermasalah, memberikan grasi kepada koruptor, ketidakjelasan penuntasan kasus air keras Novel Baswedan, hingga revisi UU KPK.

“Narasi janji yang sempat diucapkan oleh Presiden terkait dengan Perppu KPK pun faktanya hanya omong kosong belaka,” katanya.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan komitmen pemerintah dalam hal pemberantasan tindak pidana korupsi. Menurut dia, pemerintah tak pernah bermain-main dengan upaya pemberantasan korupsi. Ia mengatakan, upaya pencegahan korupsi harus ditingkatkan melalui tata kelola yang sederhana, transparan, dan efisien. Selain itu, penegakan hukum pun harus dilakukan tanpa pandang bulu.

“Pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi. Upaya pencegahan harus ditingkatkan melalui tata kelola yang sederhana, transparan, dan efisien,” ucap dia.

Sumber: republika.co.id

BPKH dan MES Gelar Kompetisi Karya Tulis Inovasi Investasi Keuangan Haji

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) bekerja sama dengan BPKH menggelar Kompetisi Penelitian dan Karya Tulis Inovasi Investasi Keuangan ( Manasik Haji).

Kompetisi ini  bertujuan untuk menampung aspirasi umat berupa ide dan gagasan terbaik tentang inovasi strategi investasi dalam pengelolaan keuangan haji.

“Selain itu juga untuk mendorong kajiankajian ilmiah, teoritis, dan akademik seputar potensi investasi keuangan haji multisektoral di dalam maupun luar negeri,” kata panitia Manasik Haji MES, Karil Maulita dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (15/8/2020).

Kompetisi ini diselenggarakan oleh. Manasik Haji digelar sejak pembukaan pendaftaran dan pengiriman karya tulis pada 22 Juli 2020 hingga 19 Agustus 2020 dengan tema utama “Inovasi Investasi Keuangan Haji” dan 2 (dua) kategori kepesertaan, yaitu mahasiswa dan masyarakat umum.

Peserta dibebaskan dari biaya pendaftaran dengan harapan dapat menjaring sebanyak mungkin gagasan dengan total hadiah mencapai Rp32,5 juta rupiah.

Tema utama kompetisi ini dapat dielaborasi lebih lanjut melalui 4 (empat) subtema, yaitu: (1) Strategi Investasi Keuangan Haji Dalam Negeri; (2) Potensi Investasi Keuangan Haji Luar Negeri; (3) Inovasi Sektor Non-Keuangan sebagai Alternatif Investasi dan Efisiensi Haji; dan (4) Optimalisasi Manajemen Keuangan Haji di Indonesia.

Setelah mengumpulkan karya tulisnya, peserta terpilih akan mengikuti tahapan selanjutnya mulai dari seleksi administratif, penjurian, hingga pengumuman finalis pada 30 Agustus 2020.

Para finalis kemudian akan diminta untuk mempresentasikan karyanya di hadapan para juri. Nama pemenang kompetisi ini akan diumumkan pada 4 September 2020.

Penyelenggaraan Manasik Haji diharapkan dapat menjadi langkah awal sinergi antar lembaga pemerintah, civitas akademika, dan masyarakat umum dalam rangka mewujudkan sistem dan strategi pengelolaan keuangan haji yang optimal di Indonesia.

Mengurai Insiden Penyerangan Solo hingga Provokasi Aliran Syiah

SOLO (jurnalislam.com)- Forum Anti Syiah Surakarta (FASS) mendatangi Polsek Pasar Kliwon Surakarta pada jum’at, (14/8/2020) guna melakukan audensi paska adanya insiden di rumah mendiang Syegaf bin Husain al Jufri Metrodranan, Pasar Kliwon beberapa waktu yang lalu.

Rombongan umat Islam diterima langsung oleh Kapolsek Pasar Kliwon AKP Adis Dani Gatra.

Dalam audensi tersebut ketua FASS ustaz Mas’ud Izzul Mujahid bahwa pemerintah          harus responsif     terhadap     aspirasi      umat  Islam di Indonesia         yang          mayoritas menganut      paham       Ahlu  Sunnah      Wal Jamaah (Sunni)     .

 

“Dan antisipatif terhadap perayaan hari besar aliran syiah seperti Idul Ghodir   dan Asyura        di       Indonesia,” ungkapnya.

Ustaz Mas’ud mengatakan bahwa para ulama zaman dulu hingga sekarang telah memfatwakan bahwa aliran syiah menyimpang, dan termasuk kelompok sesat.

“Seperti       Imam al-Ghozali,  Imam Asy-Syafiiy, Imam Malik, Imam Ahmad,       dan          ulama         Kontemporer        seperti        Syaikh Soleh        Al-Utsaimin,          Hadhratus   Syaikh        Hasyim       al-‘As’aryi,   dan masih banyak lagi   ulama yang menfatwakan kesesatan serta  bahaya Syi’ah,” ujarnya.

 

Ia juga mendukung        pihak          kepolisian,  serta  yang terkait untuk         melakukan  penyelidikan         yang objektif,        terbuka,      jujur, adil     dan akurat.

 

“Menyesalkan adanya   provokasi   terhadap     massa        yang  yang  menolak          kegiatan      tersebut      yang berdampak pada  reaksi          spontan massa,” paparnya.

 

Lakukan Investigasi Mandiri

 

Ustaz Mas’ud menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi terkait insiden yang terjadi di rumah mendiang Syegaf bin Husain Al Jufri Jufri pada Sabtu, (10/8/2020).

 

Pihaknya mengaku menemukan fakta bahwa massa   berkumpul  atas informasi      warga         yang  mencurigai  adanya       perayaan hari Ghodir    Khum,

sekte yang  bertentangan       dengan       ajaran mayoritas penduduk setempat.

 

“Apalagi      tempat tersebut   sering atau pernah        digunakan   untuk perayaan          acara yang  sama pada  tahun tahun lalu yang juga mengakibatkan konflik antara warga dan laskar dengan pihak

penyelenggara,” ungkapnya.

 

“Meminta    Polri, TNI    dan    MUI   untuk mencermati akun  Twitter        Hisam          Sulaiman    yang  menulis       :         Iedul  Ghodir        di       Solo  diserang          Wahabi       serta  Iedul  Ghodir        di       rumah         Habib Segaf diserang          wahabi,” imbuhnya.

 

Ustaz Mas’ud melanjutkan berdasarkan investigasi      langsung team     FASS,          kegiatan yang dilakukan di Metrodranan   tidak ada izin dan pemberitahuan    ke          pengurus    RT     maupun ke RW   setempat.

 

“Apalagi      berkumpul massa         dalam jumlah banyak    ditengah pandemi          yang mengharuskan      untuk melapor ke gugus Covid-19,” sebutnya.

 

Ia melanjutkan negosiasi        telah  dilakukan    oleh   pihak warga, laskar       dan          kepolisian   dengan       pihak penyelenggara.    Dimana       ini      bukti  bahwa kehadiran   laskar         &       umat  Islam di       tempat        acara,        tidak  diniatkan melakukan  tindakan kekerasan.

 

Terjadinya  tindakan      kekerasan,  karena        ada sebagian peserta    aksi yang   tersulut       emosinya, karena tindakan provokasi       dari   pihak keluarga yang diduga mengikuti    sekte          Syiah yang berbahaya  di atas.

 

Menurutnya, ketua         RT     setempat juga telah memberikan    saran         agar  kegiatan tersebut sebaiknya dibubarkan. Dan warga telah   memberikan         informasi          kepada       Polresta      Surakarta    sebelum      keributan    terjadi.

 

“Personal    Polri saat    mediasi       antara         massa         dengan       keluarga          dipandang  kurang        mencukupi

sebagaimana       dijelaskan oleh pengacara terdakwa,” paparnya.

 

Tak Ada Perayaan Asyura

 

Sementara itu, Kapolsek Pasar Kliwon AKP Adis Gani Gatra menegaskan bahwa tidak akan ada kegiatan perayaan Syiah di rumah Syegaf bin Husain Al Jufri.

 

“Untuk menjelang kegiatan asyura, ini kami berkomunikasi kepada mereka agar jangan ada kegiatan kegiatan yang memicu, mengangkat kembali konflik konflik, dan dari pihak mereka sudah diiyakan dan mengatakan perayaan asyura insyaallah tidak akan dilaksanakan, tapi dari kami akan terus kami penekanan terus agar itu tidak terjadi,” ujarnya.

 

“Kami juga Islam, kami juga paham apa itu syiah, apa itu sunni, kami juga paham bagaimana syiah membantai saudara kita di sana, Irak, Suriah dan Yaman, kami juga paham asal mula syiah itu seperti apa, dari Abdullah saba seorang Yahudi yang memplokamirkan diri jadi mualaf,” pungkasnya.

 

Perlu diketahui, pada tahun 2018 yang lalu rumah almarhum Syegaf bin Husain Al Jufri juga digunakan untuk perayaan ritual Asyura namun dibubarkan oleh warga setempat.