Berita Terkini

Sebut Lindungi Warga, Pemerintah Minta Maaf Karena Larang Mudik

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Satgas Covid-19 menegaskan peniadaan mudik menjadi opsi yang diputuskan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus.

Sama halnya dengan momentum liburan sebelumnya, aktivitas mudik juga dinilai berpotensi menimbulkan adanya mobilitas manusia yang sangat berisiko menjadi pemicu terjadinya penularan. Oleh sebab itu, Doni meminta kepada masyarakat untuk memahami dan bersabar atas keputusan politik yang diambil Pemerintah demi melindungi segenap masyarakat di Tanah Air.

“Jadi mohon maaf yang punya niat mudik tidak bisa terlaksana pada tahun ini. Mohon bersabar, karena ini keputusan politik negara dan ini juga tidak mudah. Tetapi ini berdasarkan data yang dikumpulkan setahun terakhir dan kita mengacu kepada bagaimana upaya bangsa kita melindungi masyarakatnya,” kata Doni dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/5/2021).

Adapun keputusan pemerintah tersebut adalah sebagaimana yang menjadi arahan Presiden Joko Widodo, bahwa keselamatan masyarakat menjadi hukum yang tertinggi. “Solus Populi Suprema Lex, Keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi,” jelas Doni.

Kemudian, Doni juga menyampaikan apa yang telah diputuskan pemerintah terkait peniadaan mudik juga merupakan cerminan dan implementasi dari apa yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang 1945, bahwa negara wajib untuk memberikan perlindungan kepada warga negara. “Negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,” kata Doni.

Sumber: sindonews.com

MUI Serukan Bayar Zakat ke Lembaga Resmi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga resmi sehingga ketika proses distribusi ke mustahik (penerima) dapat dipertanggungjawabkan.

“MUI mengimbau agar dalam pembagian zakat, infak, sedekah dilakukan dengan menyalurkannya melalui lembaga yang resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat lainnya,” bunyi tausiyah MUI Nomor: Kep-880/DP-MUI/V/2021 yang terbit pada Kamis (6/5).

Tausiyah MUI dalam menyambut Idul Fitri 1442 Hijriah itu ditandatangani Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar dan Sekretaris Amirsyah Tambunan.

MUI menyatakan apabila penyaluran zakat lewat lembaga resmi maka dana yang terhimpun dalam jumlah besar dapat dialokasikan secara proporsional. Selain itu, penyalurannya bisa tersampaikan secara tepat sasaran.

Namun apabila tidak memungkinkan melalui lembaga resmi, masyarakat bisa menyalurkannya secara langsung ke mustahik asal dengan catatan lewat perencanaan yang matang.

“Dengan perencanaan yang baik dan benar, dikoordinasikan dengan aparat keamanan terkait, supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan,” tulis MUI.

Jelang Idul Fitri, MUI juga menyerukan agar masyarakat berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena pada Ramadhan, nilai kebaikan dari setiap aktivitas yang bernilai ibadah menjadi lebih tinggi dari bulan-bulan lain.

Bahkan, amal kebaikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.”Setelah menjalani serangkaian ibadah selama bulan Ramadhan dapat lebih meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam dan kepeduliannya terhadap sesama, terutama kepada kaum dhuafa, fakir-miskin, dan anak yatim-piatu terdampak Covid-19, dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat harta, infaq, sedekah dan wakaf,” bunyi tausiyah itu.

Dalam Tausiyah itu juga MUI meminta masyarakat tak melakukan mudik lebaran demi memutus rantai penularan Covid-19. MUI tak ingin kasus meledaknya angka penularan dan kematian di India terjadi di Indonesia.

“Tidak melakukan kegiatan mudik lebaran demi menjaga keselamatan jiwa diri sendiri, keluarga dan warga sekeliling,” kata dia.

Pun demikian dengan masyarakat yang akan melaksanakan ibadah Idul Fitri di zona hijau dan kuning agar tetap mematuhi protokol kesehatan seperti pembatasan kapasitas ruangan, memakai masker, rutin mencuci tangan, hingga tidak berkerumun.

MUI juga mendorong pemerintah mengambil langkah tegas dalam setiap upaya menekan angka penularan Covid-19. “Mengimbau kepada Pemerintah agar tidak ragu mengambil langkah tegas dan bijaksana untuk melindungi keselamatan seluruh warga melalui pembatasan mobilitas warga masyarakat,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

Satgas Ingatkan Agar Indonesia Jangan Seperti India

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Satgas Covid-19 mengingatkan semua pihak untuk belajar fenomena lonjakan kasus Covid-19 dari India.

Menurut data dan informasi terkini bahwa India tengah mengalami ledakan kasus Covid-19 yang dipicu dari adanya upacara keagamaan dan festival masyarakat yang dilakukan tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

 

Akibatnya, kasus Covid-19 di India saat ini telah mencapai 3.493.655 dan Indonesia berada sangat jauh di bawahnya yakni 98.217.

 

Padahal pada awal 2021, kasus di India telah melandai bahkan berada di bawah Indonesia.

Menurut Doni, angka kasus di Indonesia tersebut merupakan yang terendah sejak menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan, kasus aktif terus turun dalam beberapa hari terakhir.

 

“Kita lihat kasus India, per hari ini kasus aktif di India mencapai 3.493.665 dan Indonesia 98.217. Ini adalah kasus terendah kita, sejak kita menghadapi pandemi COVID-19. Dalam beberapa hari terakhir kasus aktif kita turun terus,” jelas Doni dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/5/2021).

 

Atas prestasi tersebut, Doni mengatakan Presiden telah memberi arahan bahwa segala upaya yang telah dilakukan dalam rangka penanganan dan pengendalian Covid-19 di Tanah Air agar tidak diubah dan ditingkatkan performanya.

 

Oleh sebab itu, dalam rangka mengantisipasi lonjakan kasus dengan membuat aturan peniadaan mudik menjadi langkah yang tepat.

 

Sekali lagi bahwa hal itu semata-mata untuk melindungi segenap warga negara. “Ini sudah sangat baik dan Presiden mengatakan setelannya jangan diubah. Oleh karenanya kebijakan larangan mudik ini semata-mata untuk melindungi warga negara kita,” tandasnya.

Sumber: sindonews.com

Survei Kemenag: Mayoritas Ibadah Seusai Surat Edaran Taat Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag menggelar survei tentang “Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan 1442 H/2021 M”. Penelitian diselenggarakan secara online dengan penyebaran angket pada periode 26-30 April 2021.

Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan M. Adlin Sila mengatakan, survei bertujuan memberikan gambaran mengenai kepatuhan masyarakat terhadap Surat Edaran Menag RI No SE 04 Tahun 2021 tentang panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M. Kepatuhan ini terutama dalam melaksanakan ibadah dengan penerapan disiplin prokes.

“Survei ini pun diharapkan dapat mengevaluasi kebijakan yang menjadi panduan umat Islam dalam ibadah Ramadan dan Idulfitri tahun 2021. Apakah regulasi berdampak positif atau negatif terhadap penanggulangan penyebaran covid-19. Tentu saja harapannya masyarakat dapat tetap beribadah dengan disiplin menerapkan prokes sebagai upata mengurangi penularan dan penyebaran penyakit,” ujar Adlin Sila saat membuka Majelis Reboan secara daring dengan tema Diskusi Kebijakan Ber-Ramadan di Masa Pandemi, Rabu (5/5/2021).

Acara ini sekaligus mendiskusikan hasil survei Puslitbang BImas Agama dan Layanan Keagamaan. Hadir sebagai pembahas, Sekretaris Ditjen Bimas Islam M. Fuad Nasar dan Juru Bicara Vaksinasi Satgas Penanganan Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Hasil survei dipaparkan oleh Peneliti Madya pada Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Akmal Salim. Menurutnya, hasil survei menggambarkan bahwa secara umum responden berupaya mematuhi prokes dan ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE.04/2021. Pandemi tidak menghalangi mayoritas responden (97,09%) untuk berpuasa. Sementara itu, 62,59% responden memilih tarawih di rumah.

“Saat ke masjid, umumnya (88,6%) mengaku taati prokes. Khusus responden laki-laki, 93,93%-nya melaksanakan Jumatan di masjid dengan prokes. Ada 4,02% responden yang mengaku mengganti Salat Jumatnya dengan shalat Dzuhur, dan hanya 0,08% yang ikut Jumatan Online,” papar Akmal Salim.

Hasil survei juga menggambarkan bahwa mayoritas responden (92,64%) berzakat dengan menitipkan pada BAZNAS/LAZ, dan 91,28% setuju jika ZIS didayagunakan untuk masyarakat terdampak pandemi. Terkait Idulfitri, lanjut Akmal, 94,18% responden mengaku akan ikut shalat Ied di masjid atau lapangan, dan hanya 18,63% yang berencana akan mudik. “Sementara itu, silaturahmi via VideoCall jadi pilihan 85,54% responden,” ujar Akmal.

Jika dibandingkan dengan temuan tiga (3) survei sebelumnya, ada tren responden (umat) semakin saat ini lebih sering ibadat dan beracara-bersama di rumah ibadat, sementara acara daring menurun intensitasnya. Secara umum, responden mematuhi 5M, hanya saja agak kurang dalam “(M)enjauhi kerumunan” dan “(M)embatasi mobilitas.” “Ada tren mereka semakin sering keluar dari rumah dan kurang menjaga jarak,” lanjut Akmal.

Menurut Akmal, teknik pengambilan sampel dalam survei ini menggunakan accidental sampling (non-inferensial). Survei berhasil menjaring 2.012 responden yang tersebar di 34 provinsi. Kondisi ini sebangun dengan komposisi muslim Indonesia. Sebanyak 48% responden berusia 26-55 tahun dan 34% usia 40-55 tahun, umumnya pengguna medsos.

“Responden yang 56%-nya laki-laki, umumnya berpendidikan baik dan telah bekerja. Sebanyak 50,65% mengaku bagian atau dekat dengan ormas NU, 18,64% Muhammadiyah, 5,37% ormas lainnya, dan 25,35% mengaku tak berormas. Sebanyak 23,76% responden adalah pengurus masjid, dan lainnya umat biasa,” ungkapnya.

Dari hasil analisis-silang, diketahui semakin muda usia responden, semakin abai prokes 5M. Selain itu, penerapan prokes semakin longgar pada responden di zona hijau.

Berdasarkan temuan-temuan di atas, lanjut Akmal, Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan merekomendasikan beberapa hal. Pertama, Surat Edaran 04/2021 perlu lebih masif disosialisasikan. “Penyuluh agama Islam dapat dioptimalkan menyosialisasikannya dan mengawal pelaksanaannya,” kata peneliti madya Akmal.

Kedua, masjid-masjid perlu difasilitasi perangkat prokesnya, seperti: thermogun dan disinfektasi, terutama masjid di ruang publik atau masjid transit. Ketiga, pengurus masjid agar mengangkat petugas khusus untuk mengawal penerapan prokes di masjid.

Keempat, ormas Islam agar secara sinergis membantu sosialisasi dan pelaksanaan kebijakan penanganan Covid-19. Terakhir, umat perlu terus diingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan di manapun, dalam konteks ini, saat ibadat-bersama di masjid.

“Singkat kata, kalau tidak bisa taati prokes, ibadat di rumah saja! Itu aman bagi Anda dan orang di lain di masa pandemi Covid-19 ini,” tandasnya.

Untuk melihat paparan hasil survei, sila klik Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan 1442 H/2021 M

Menag: Silaturahim Idul Fitri Sunnah, Menjaga Kesehatan Wajib

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat mendahulukan yang wajib sebelum menjalankan sunah. Silahturahmi, Salat Idul Fitri adalah sunah dan menjaga kesehatan adalah wajib.

Hal itu dikatakan Gus Yaqut panggilan Yaqut Cholil Qoumas melalui cuitannya di media sosial twitter @YaqutCQoumas, Rabu (5/5/2021). Menurutnya, Salat Idul Fitri secara hukum adalah sunah. Sementara menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan adalah wajib.

 

Dengan demikian, masyarakat hendaknya mendahulukan yang wajib ketimbang sunah. “Dahulukan yang utama demi kesehatan kita, demi keluarga tercinta, demi masyarakat sekitar kita, demi Indonesia,” seperti dikutip Rabu (5/5/2021).

Selain itu, kata Gus Yaqut, hukum mudik juga sunah. Sementara kesehatan adalah wajib. Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak mudik dan patuhi kritik 5 M. Di antaranya Mencuci Tangan; Memakai Masker; Menjaga Jarak; Menghindari Kerumunan; Mengurangi Mobilitas.

Kemudian, lanjut Yaqut, halal bihalal atau silahturahmi Lebaran saat pandemi bisa dilakukan secara virtual tanpa mengurangi makna. Dia meminta masyarakat jangan pernah lelah saling mengingatkan agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

 

“Negara tetangga mengalami kenaikan angka yang terpapar Covid-19, meningkatnya jumlah korban meninggal dunia, dan juga merebaknya cluster penular besar atau super spreader. Adalah alarm bagi kita semua untuk tingkatkan disiplin diri. Jangan lengah!,” pungkasnya.

Sumber: sindonews.com

Sukses Dunia Akhirat Dengan Al-Quran Lahirkan Generasi Muda Berakhlak Mulia

BOGOR(Jurnalislam.com) – Insan Cendekia Boarding School merupakan sekolah berbasis asrama dan merupakan tempat yang sangat menantang dalam menempa diri menjadi sosok yang cerdas dan mandiri, di bawah bimbingan pendidik yang professional.

SMP dan SMA Insan Cendekia Boarding School menekankan pada sinergi keunggulan dibidang IMTAQ (Iman dan Taqwa) dengan IPTEK (Imu Pengetahuan dan Teknologi) yang diharapkan menjadi Energi Luar Biasa bagi perkembangan siswanya saat ini maupun di masa yang akan datang.

Sistem pendidikan di Insan Cendekia, tidak hanya menekankan pada aspek prestasi akademik semata, akan tetapi juga mendidik generasi muda untuk berakhlak mulia, saling menghargai dan saling berbagi terhadap sesama yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini Sekolah Islam Cedekia Boarding School berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa dalam penyaluran Zakat, Infak, Sedekah & Wakaf selama bulan Ramadhan dan Insyaallah akan berkelanjutan, sehingga diharapkan nilai donasi yang berhasil terhimpun secara keseluruhan dapat menjadi pengurang beban bagi para mustahik yang membutuhkan.

Kolaborasi pertama yaitu  dengan dilaksanakannya acara Parenting dan Motivation yang telah terlaksana di hari Jumat, 23 April 2021 dengan Tema ” Sukses Dunia Akhirat dengan Al-Quran” oleh Ust. Ahmad Pranggono ( Da’i Ambassador Dompet Dhuafa), dilakukan Via Zoom, YT Channel nya Insan Cendikia Boarding School Sentul. dan juga dengan dihadiri santri dan wali santri yang mana pada hari tersebut di pulangkannya santri yang bermukim  (libur Ramadan).

Ust. Sundito selaku Kepala Kampus Insan Cendikia Boarding School Sentul mengatakan, “Harapan dari kolaborasi dengan Dompet Dhuafa ini adalah semoga dapat bersinergi dengan baik karena potensi dari penghimpunan ZIS ini insyaAllah bisa membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, dan tentunya harapannya juga dengan Dompet Dhuafa dapat tepat sasaran”.

“Semoga kolaborasi yang dijalin oleh Insan Cendikia Boarding School dan Dompet Dhuafa dapat berjalan dengan lancar dan menginspirasi bagi sekolah-sekolah dan masyarakat yang lain untuk saling berbagi, saling bersinergi dalam menebar kebaikan,” tambah Ust. Sundito.

Di sisi lain Yudha Andilla selaku Manager Retail Dompet Dhuafa juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan tentunya ungkapan rasa terima kasih kepada Ust Sundito dan manajemen yayasan Insan Cendikia, “insyaAllah sinergi kebaikan ini bisa menjadi wasilah kebaikan dan keberkahan bagi kita semua khususnya manajemen Insan Cendikia Boarding School Sentul, orang tua, para guru dan tentunya bagi para siswa. Tentunya saya berharap sinergi kebaikan ini bisa terus berjalan bersama pada masa-masa yang akan datang.”

Baitul Maal Salimah dan Relawan Sukoharjo Bantu Anak Yatim

SUKOHARJO-(jurnalislam.com)- Baitul maal Salimah bersama Relawan Rosok Barokah dan Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Ansharu Syariah Sukoharjo mengadakan kegiatan sosial dengan memberikan santunan kepada 50 anak yatim di Gedung Dakwah Salimah pada Ahad, (25/4/2021).

Pembina Yayasan Dakwah Salimah Lentera Umat (YDSLU) yang merupakan yayasan yang menaungi Baitul Maal Salimah Ustadz Surawijaya menyebut bahwa kegiatan tersebut dalam rangka mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah yang memerintahkan untuk memuliakan anak yatim.

“Mari luruskan niat bahwa kegiatan ini hanya untuk mencari ridho Allah semata bukan karena yang lain, dengan menyayangi anak yatim, sebagai bukti keimanan kita kepada Allah,” katanya saat memberikan sambutan.

Sementara itu, ketua Baitul maal Salimah Ustadz Marsono berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu harta, tenaga dan pikiran, untuk terlaksanaya kegiatan tersebut.

“kami selaku penggurus Baitul Maal Salimah mengucapkan jazakallahu khairan kepada seluruh donatur dan semua pihak yang membantu terlaksananya program santunan ini, semoga Allah memberi pahala yang berlipat, apalagi ini bulan Ramadhan,” jelasnya

Selain program santunan anak yatim, Baiitul Maal Salimah juga mempunyai program rutin tiap bulan yakni membagikan puluhan paket sembako kepada warga yang membutuhkan.

Reporter: Ridho.A

Menghormati Eksistensi Tradisi Mudik Lebaran

Oleh: Budi Eko Prasetiya
Manager Griya Quran Al Hafidz Jember

Terlepas adanya kebijakan pemerintah yang melarang Mudik Lebaran karena untuk mencegah penyebaran virus Covid 19 dan melindungi kesehatan masyarakat. Menarik kiranya diulas eksistensi Mudik yang menjadi tradisi Muslim yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini.

Mudik sebuah istilah unik yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kembali ke kampung halaman pada saat Idul Fitri.

Mengutip dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), definisi kata mudik adalah “berlayar” atau “pergi ke udik” atau secara bahasa bisa diartikan “pulang ke kampung.”

Ada juga yang mengatakan kata mudik merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko yakni ‘mulih dilik’  yang artinya adalah pulang sebentar. Yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan momen lebaran.

Istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an.
Saat itu, Jakarta sebagai ibukota Indonesia merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Bagi penduduk lain yang berdomisili di daerah, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan untuk mengubah nasib. Lebih dari 80% orang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Oleh karena itu, momen lebaran menjadi hal yang sangat ditunggu bagi warga pendatang untuk pulang ke kampungnya.

Fenomena mudik bukan hanya milik masyarakat Muslim Indonesia. Bahkan bila dicermati muslim negara juga melakukannya. Berapa banyak TKI-TKW dan mahasiswa yang kembali ke Indonesia pada masa-masa jelang lebaran. Begitu juga dengan orang-orang Maghrib (Marokko), Tunisia dan Al Jazair yang bekerja di negara-negara lain di Eropa, Amerika dan di negara-negara Timur Tengah sendiri, mereka juga pulang kampung atau mudik pada hari-hari baik, khususnya pada menjelang lebaran Idul Fitri.

Pertanyaannya, bagaimana perspektif syariat Islam dalam hal mudik? Adakah anjuran atau larangan soal pulang kampung tersebut?

Jika mencermati salah satu firman Allah ta’ala berikut:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu persekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu Sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Dalam ayat tersebut di atas, Allah Subhanahu wa ta’ala dengan jelas dan tegas memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua, karib kerabat, tetangga, teman sejawat dan seterusnya. Hal ini menjadi satu kewajiban bagi semua hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Mudik adalah salah contoh merealisasikan perbuatan baik dalam ayat di atas. Dengan saling bertemu, bersalaman dan saling memaafkan serta bersilaturahim melepas kerinduan dengan sanak kerabat.
Bahkan para pemudik pun biasanya membawa pulang sejumlah uang dan barang sebagai hasil jerih payahnya selama di perantauan untuk berbagi kepada saudara, tetangga dan teman sejawat dan masyarakat sekitarnya. Semua itu menjadi rasa syukur dan kebanggaan sendiri bagi pemudik, keluarga dan lingkungannya.

Dari perspektif sosial, mudik merupakan upaya menyambung dan mempererat hubungan silaturrahim. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, tidak berkumpul dan tidak melakukan tukar informasi, maka dengan mudik tali silaturrahim akan tersambung. Terlebih lagi bagi mereka yang memahami akan pentingnya fadhilah bersilaturrahim. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkaan umurnya, maka hendaklah ia suka bersilaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mudik merupakan tradisi baik yang memiliki eksistensi dalam kehidupan umat islam di Indonesia. Dalam perpektif syari’at, Mudik memiliki hubungan yang erat dengan prinsip ukhuwah dan berbuat kebaikan yang dianjurkan dalam syariat Islam. Dengan mudik seseorang dapat mengaplikasi bentuk pengabdian dan berbuat baik kepada orang tua, anggota keluarga, dan kerabat lainnya. Dengan mudik pula, hubungan silaturrahmi yang pernah renggang atau terputus, dapat terajut kembali dengan baik. Wallahu A’lam bish-shawab

MUI Desak OKI dan Pemerintah Tekan Israel Tak Intervensi Pemilu Palestina

 JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan dukungan penuh kepada rakyat dan bangsa Palestina untuk bersatu padu memperjuangkan hak-hak kemerdekaan mereka. P

“Pemilu adalah salah satu langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita perjuangan ini dan karena itu harus mendapatkan dukungan dan perlindungan secara maksimal,” kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri KH Dr. Sudarnoto Abdul Hakim dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Kamis (6/5/2021).

Menurut MUI, apa yang dilakukan oleh pemerintah zionis Israel dan kelompok Yahudi ekstrim selain merusak kedaulatan sosial dan agama warga, juga jelas menunjukkan bahwa pemerintah Israel tidak menunjukkan ittikad baik untuk menciptakan perdamaian.

“Sikap arogansi Israel ini harus dihentikan dan karena itu MUI mengecam keras terhadap tindakan-tindakan tersebut. MUI menyerukan agar dilakukan berbagai tekanan internasional kepada Israel baik melalui PBB maupun OKI,” tambahnya.

Juga kepada negara lain, seperti Uni Eropa, misalnya, juga mempunyai posisi dan peran yang sangat penting disamping untuk ikut serta meyakinkan dan menekan Israel menghentikan provokasi dan tindakan-tindakan brutal juga mengamankan pelaksanaan Pemilu di Palestina.

“Secara khusus kepada pemerintah Indonesia yang selama ini secara terus menerus dan konsisten membela perjuangan rakyat dan bangsa Palestina, MUI memberikan apresiasi dan mendorong untuk terus melakukan langkah-langkah penting dan menentukan melalui berbagai forum internasional bagi pelaksanaan Pemilu yang damai di Palestina,” pungkasnya.

 

Apresiasi Pemilu Palestina, MUI: Konsolidasi Bebaskan dari Imperialis Israel

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyambut gembira dan menyampaikan apresiasi atas kesepakatan berbagai elemen masyarakat Palestina untuk menyelenggarakan Pemilu.

“MUI memandang ini adalah langkah maju karena Pemilu menjadi momentum politik yang sangat penting bagi upaya rakyat Palestina melakukan perubahan mendasar dan strategis ke depan,” kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri KH Dr. Sudarnoto Abdul Hakim dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Kamis (6/5/2021).

Menurut MUI, pemilu juga merupakan instrument untuk konsolidasi politik mewujudkan Palestina yang merdeka, berdaulat, bebas dari kekuasaan imperialis Israel dan membangun perdamaian yang sejati.

“Semua elemen bangsa Palestina, termasuk warga al-Quds, haruslah memperoleh jaminan keamanan untuk berpartisipasi dalam pemilu tersebut,” tambahnya.

Menurunya, pemilu harus dijamin bisa berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, terbebas dari tekanan dan intervensi dari pihak manapun.

“MUI menangkap sinyal kuat bahwa pemerintahan Zionis Isreal tidak rela dan akan berusaha kuat menghalangi kebebasan rakyat Palestina khususnya di al-Quds untuk mengikuti pemilu tersebut. Dengan berbagai cara, otoritas Israel mengintervensi dan bahkan berusaha menggagalkan pemilu khususnya di al-Quds,” tambah KH Sudarnoto.